Purwokerto
Jam 22.30 WIB
Saat negeri ini dilanda resesi
Kau tetap memberi devisa
Merekrut jutaan tenaga kerja, meminimalisir pengangguran
Serta mengisi perut lapar para karyawan
Saat olahraga di negeri ini lesu
Kau tetap bersedia menjadi sponsor
Memberikan beasiswa, membuat berbagai liga
Membangkitkan kembali jiwa sportivitas yang tlah lama surut
Duhai batang putih penghanyut jiwa
Beribu terimakasih kuhaturkan padamu
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rokok, benda kecil nan menggemaskan ini begitu menarik perhatian saya.
Bentuknya yang lucu dan imut, cara konsumsi yang user friendly,
harganya yang fantastis, dan resiko penyakit yang ditimbulkan
senantiasa menimbulkan kontradiksi yang menarik untuk kita cermati.
Jadi kali ini saya ingin sedikit menulis tentang "this sweety cancer"
Pertama kali saya berkenalan dengan rokok adalah saat saya masih dalam
kandungan. Ya, bapak saya seorang perokok, kakek saya perokok, eyang
buyut dan bapaknya eyang buyut saya juga perokok. Jadi bisa dikatakan
bahwa saya adalah salah satu anggota "klan perokok" yang selalu melestarikan budaya merokok kepada anak cucunya. Salah satu klan unggul dalam dunia perokokan.
Sewaktu masih kecil, saya sudah familiar dengan apa yang namanya rokok.
Saat duduk di kelas tiga SD, banyak teman-teman yang mulai mencoba
mengkonsumsi rokok generik (ranting
kering yg berlubang, lalu disulut dan dihisap seperti rokok). Saya
pernah mencoba rokok jenis ini namun kemudian berhenti karena ketahuan
orang tua dan dimarahi habis-habisan. Sebenarnya kenakalan seperti ini masih
dikatakan wajar karna saat itu satu-satunya kegiatan yang bisa
dilakukan sepulang sekolah hanya satu, yaitu bermain di kebun. Dan di
wahana bermain tersebut, main rokok-rokokan tidaklah lebih berbahaya
bila dibandingkan dengan bermain sarang lebah, menangkap ular, memanjat
pohon tinggi ataupun memakan nanas mentah.
Di bangku SLTP, rokok merupakan salah satu sumber rejeki dan tulang
punggung dunia "perjajanan" saya. Saat itu saya mulai menyadari betapa
pentingnya peran seorang tamu bagi ABG seumuran saya, apalagi kalau
tamunya itu adalah seorang perokok. Mungkin sudah jadi kesepakatan para
bapak se-desa bahwa kalau bertamu tidak boleh membawa rokok agar
nantinya bisa menyuruh anak si empunya rumah untuk membelikan rokok di
warung dan uang kembaliannya diberikan sebagai upah. Jumlahnya lumayan
banyak sehingga saya bisa sering-sering mentraktir tarmo di sekolah,
bisa beli mendoan double dan juga beli es serut.
Saat di SMU lah pertama kali saya benar-benar mengenal apa yang namanya
rokok. Pertama kali benar-benar merokok adalah saat kelas 3 SMU, itu
juga karena diajari dan sedikit "diprovokasi" oleh teman satu geng.
Namun seperti perokok pemula lainnya, saya masih belum bisa merokok
dengan baik dan benar, masih memerlukan banyak tutorial dan assistensi
dari para perokok senior. Bahkan sebenarnya saya masih belum bisa
menikmati rokok karna masih sering batuk-batuk.
Nah, ditempat yang bernama "perguruan tinggi" lah saya benar-benar
meemahami dan menghayati arti pentingnya sebatang rokok, baik untuk
diri sendiri, untuk orang lain maupun untuk negara indonesia tercinta
ini. Tempat ini penuh dengan berbagai jenis spesies, mulai dari
perokok, kutu buku, rohaniawan, ilmuwan, junkies ataupun orang udik
seperti saya. Mereka-mereka inilah yang secara langsung maupun tidak
langsung memberi input-input dan stimulus sehingga akhirnya saya bisa
mendapatkan status sebagai "the real smoker". Perkenankanlah saya menceritakan beberapa sebab yang menjadikan saya memperoleh gelar tersebut.
1. Banyaknya tugas kuliah terkadang membuat kita depresi, apalagi jika
tugas tersebut mengharuskan kita untuk sering-sering bergadang.
Menurut saya bergadang yang dipadukan dengan sedikit depresi akan
menstimulus otak kita untuk mencari "pelampiasan" agar kita bisa
rileks. Nah, kadangkala rokoklah yang jadi pilihan
2. Menjadi mahasiswa adalah saat dimana kita mulai membangun karakter,
mencoba berbagai hal baru serta bereksperimen dengan berbagai teori. Di
usia inilah kita mulai "direstui" orang tua untuk berbuat lebih bebas
dalam mencari jatidiri. Mulai dari jarang mandi, jarang ganti baju,
keluar malam, dan juga diperbolehkan merokok.
3. Putus cinta.
Tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Sudah bukan rahasia lagi bahwa
malapetaka yang satu ini sering menimbulkan efek negatif bagi
penderitanya.
4. Banyaknya acara-acara yang disponsori oleh produk rokok. contohnya:
pertandingan olah raga, festival musik, pameran, bahkan wayang kulit.
Acara-acara tersebut seringkali menjual tiket dengan sistem "beli tiket
gratis rokok". Taktik yang mendapatkan tiga keuntungan sekaligus. Ajang
promosi, jualan, sekaligus mencetak calon konsumen. Benar-benar
muslihat yang lihai.
Olahraga kok sponsornya rokok...
5. Banyaknya iklan dan film televisi yang mengasosiasikan bahwa perokok itu jantan, hebat, macho, dan keren
6. Mental kita yang patriotik, pantang menyerah dan tidak kenal rasa
takut. Sudah berulang kali dinasehati bahwa "Merokok mengakibatkan
impotensi, kanker, sakit jantung dan gangguan kehamilan dan janin" tapi
barang terkutuk tersebut masih saja kita konsumsi. Dengan sikap berani
mati ini, sudah sepantasnyalah bangsa lain gentar terhadap kita, bahkan
negara USA yang hebat itu.
7. Stok yang kontinyu. Rokok menyumbang devisa yang amat besar bagi
negeri ini, menghambat pertumbuhan rokok sama saja dengan mengurangi
devisa negara. Melarang peredaran rokok akan berdampak pada "tidak
mengebulnya" dapur para karyawan. Karna itu bisa dikatakan bahwa rokok
tidak akan pernah mati. Rokok akan semakin mudah kita jumpai, dengan
jenis yang semakin inovatif dan bervariasi.
8. Hukum alam
Perokok pasif akan terkena bahaya yang jauh lebih besar bila
dibandingkan dengan perokok aktif. Karna itu bila ada dua orang didalam
satu ruangan dimana yang satu adalah perokok sedangkan yang satunya
bukan maka bisa dipastikan bahwa orang yang tidak merokok akan lebih
beresiko terkena kanker paru-paru daripada orang yang merokok. Jadi
kesimpulannya, lebih baik kita menjadi seorang perokok saja. Logika
yang masuk akal bukan...?
NB : Tapi ada info menarik, ternyata merokok itu memperkecil terjadinya
kanker payudara walaupun juga memperbesar resiko terkena kanker
paru-paru.
9. Hanya orang kaya yang bisa merokok. Saya adalah seorang perokok jadi saya termasuk orang yang kaya Ha ha ha...
Logika ngawur diatas sebenarnya masuk akal juga. Sekarang bayangkan
saja, misalkan kita adalah seorang perokok yang menghabiskan satu
bungkus rokok setiap hari seharga lima ribu lima ratus rupiah. Maka
setiap bulan kita harus mengeluarkan uang sebesar 150.000 rupiah hanya
untuk membeli rokok. Setara dengan SPP sekolah SLTA negeri perbulan di
Purwokerto sini. Kalau ternyata kita juga mempunyai anak yang sama-sama
perokok dan belum bekerja, maka uang yang dikeluarkan akan lebih besar
lagi (sekitar 300.000) perbulan atau 1.800.000 per setengah tahun.
Sebagai perbandingan, uang SPP saya per semester Rp. 1.250.000,00.
Untuk yang reguler hanya 300.000. Jadi biaya yang dikeluarkan untuk
membeli rokok jauh melebihi biaya kuliah. Nah, jika ditambah dengan
uang untuk makan, transport, bayar rekening listrik dan lain-lain maka
total uang yang kita perlukan akan sangat besar. Dan hanya orang kaya
lah yang bisa punya penghasilan sebesar itu.
Saya tidak ingin sok pintar dengan menasehati dan memberi saran tentang
bagaimana cara agar kita terbebas dari rokok, silahkan anda cari
sendiri solusinya. Saya berhenti merokok karna memang sudah dilarang
keras oleh dokter, dan juga karna saya sudah kadung janji pada seorang
teman. Cuma itu.
Tapi kalau boleh, saya ingin mengingatkan bahwa :
Berhenti merokok itu sulit
Tapi kalau tidak berhenti, keadaan kita akan lebih sulit lagi
Marilah kita bersikap bijaksana dalam menyikapi masalah ini.
Wassalam
"Biarpun berwajah jelek, pria yang sedang jatuh cinta itu tidak boleh diremehkan"
School Rumble By Jin Kobayashi