Minggu, 28 Januari 2007

Pagi ini aku melihat kupu-kupu



Pagi ini aku melihat kupu-kupu
Beterbangan melintasi hari

Pagi ini aku melihat kupu-kupu
Diterpa hangat mentari

Pagi ini aku melihat kupu-kupu
Bergerombol di sekeliling pelangi

Pagi ini aku melihat kupu-kupu
Di kamar, di ruang tamu, di halaman, di jalan-jalan, di rimbun pepohonan, di kompleks pertokoan, di gedung-gedung megah, di angkasa raya, di semua tempat

Ya, pagi ini aku melihat kupu-kupu
Saat menatap dua bola matamu, di layar monitorku



Jika tidak siap mental, tidak  ingin patah hati, atau tidak ingin kecewa, sebaiknya jangan klik link diatas.

Purwokerto, Januari 2007
Setelah ujian Rekayasa perangkat Lunak yang kelewat susah


Benarkah Kita Tidak Boleh Berbohong...?




Bagi anda yang tidak mau memberi ampun pada kebohongan sekecil apapun


Alkisah, suatu hari anda bertemu dengan seorang wanita cantik kemudian saling berkenalan. Dari perkenalan tersebut anda mengetahui bahwa dia bernama Rina, pelajar dari Banjarnegara. Dia datang ke kota anda untuk mencari informasi tentang sekolah-sekolah yang ada karena dia akan pindah sekolah mengikuti perpindahan dinas kedua orang tuanya. Setelah bercakap-cakap cukup lama anda merasa bahwa dia adalah wanita yang baik, berbudi luhur, pintar, santun, penyayang dan suka makan donat mentah. Karena itulah, anda merasa nyaman mengobrol dengannya.

Akan tetapi, tiba-tiba saja datang seorang preman bertubuh jerangkong yang sakti mandraguna, mengganggu obrolan anda. Preman tersebut lalu bercerita bahwa saat sedang bersin tiba-tiba dia jadi ingin membunuh seorang wanita. Dan wanita tersebut haruslah bernama Rina, asli Banjarnegara yang hobi makan donat mentah. Sialnya, preman tersebut kemudian bertanya apakah anda kenal dengan wanita seperti itu, jika kenal dia minta ditunjukkan orangnya agar bisa langsung dibunuh dan mayatnya di cat dengan warna biru*.

Anda pun bingung, sebenarnya anda ingin melawan tapi apa daya preman tersebut ternyata benar-benar sakti. Dia menjilat anjing yang kebetulan lewat dan anjing tersebut langsung mati keracunan. Dia menatap pria botak yang sedang bengong di perempatan dan pria tersebut langsung hamil. Jadi kalau anda melawan, sudah pasti anda kalah.

Apalagi dia mengancam bahwa kalau anda tidak mau menjawab atau jawaban yang anda berikan terlalu berbelit-belit anda akan di pelet lalu diajak bermain gila berkali-kali, sebelum akhirnya dihipnotis, diinterogasi dan dibunuh. Dia pun akan melakukan hal yang sama pada seluruh keluarga anda.

Nah, pertanyaannya adalah :
Jika anda menentang segala jenis kebohongan
Jika anda muak terhadap kebohongan
Jika anda mengaku tidak pernah melakukan kebohongan
Jika anda bersumpah untuk tidak akan berbohong satu kalipun
Jika anda berniat untuk menghukum setiap pembohong dalam hal sekecil apapun
Apa jawaban yang akan anda berikan...?


Note :
Dibuat gara-gara :
Saat antri di warung mendoan ada pria kurang tampan yang berkata : “Percaya sama saya deh, saya kan tidak pernah berbohong”. “HOEKKSSS...!!!!!!!!”
Saat menjajah india, kolonial ingris mengecam dan melarang peredaran Gulestan-e Sa’di karena didalamnya ada kisah yang memperbolehkan kita melakukan bohong putih**. “HOEKKSSS......!!!!!!!!”
* Akibat terlalu sering buka MP-nya Sendu, tiap kali teringat hal yang tragis, benak saya langsung membayangkan warna biru. Hiks
** Mutiara Wahyu, Halaman 25: Muthahhari. Penerjemah, Syech Ali al-Hamid; Penyunting, Ali Asghar Ard. Bogor: Cahaya, 2004.


Kamis, 25 Januari 2007

Ceramah Sang Ustadz Mahasiswa

 


 


Ustadz mahasiswa melajukan mobilnya dengan cukup kencang, dia akan memberikan ceramah di kampung yang terletak jauh di pedalaman hutan. Setumpuk catatan tergenggam erat di tangannya, berisi materi yang akan dia sampaikan. Yup, materi khas mahasiswa, dosen dan kaum terpelajar lainnya. Mengenai Fiqh Kontemporer, Tafsir Hermenutika Modern, Teori Konspirasi, dan Ambiguitas Konsep Liberal.


 


"Masyarakat pedalaman harus berpikiran terbuka dan berwawasan luas, agar dapat lebih mengenal dunia". Itulah pikiran yang tertanam di kepalanya.


 


Detik berlalu, menit berganti. Walaupun mobil sedan tidak mungkin dapat menjangkau daerah pedalaman, tapi kita anggap saja bahwa ceramah sudah dimulai. Surau kecil yang biasanya penuh semakin bertambah sesak saja. Kaum muda dan bapak-bapak duduk di barisan depan, kagum atas kefasihan bertutur sang mahasiswa. Para gadis duduk berjejer tepat dibelakang barisan bapak, entah karena alasan apa. Mungkin tertarik pada isi ceramah, ataukah pada si pemberi ceramah itu sendiri. Dan kaum yang lain terpaksa terpinggirkan di halaman surau karena kapasitas tempat yang tidak mencukupi.


 


Ditengah suasana khidmat, untaian kata mutiara mengalun dengan indah. Sayangnya, mutiara tersebut diimpor dari luar negeri, dikemas dalam kemasan berlabel english serta berbau western. Yang lebih parah lagi, mutiara tersebut ternyata belum sempat di nasionalisasi sehingga ceramah tersebut seakan-akan berlangsung di negeri seberang, bukan di tanah sendiri.


 


Dua jam kemudian, ceramah pun usai. Para bapak yang masih punya waktu senggang menyempatkan diri untuk berkumpul di warung kopi. Mengobrol ngalor-ngidul tentang materi ceramah yang baru saja diikuti.


 


"Jadi kesimpulannya kita harus bersikap kontemporer, jangan semi-otoriter, mbok nanti di cap sebagai in-disipliner". Bapak berjenggot lebat angkat bicara.


 


"Yup, betul itu. Apalagi di jaman protokoler ini, sistem egaliter harus dijunjung tinggi, agar kehidupan semi-permanen dan post-modernisme dapat berkembang dan terejawantahkan dalam sistem birokrasi". Bapak berkumis lebat menimpali.


 


"Memang, saya juga setuju. Apalagi kapitalisme global sedang deras-derasnya melaju. Tapi ngomong-ngomong, kontemporer sih apa ya...?" Bapak berkepala botak lalu bertanya.


 


""Hush, jangan tanya macam-macam, itu namanya kontra-revolusioner. Nanti kamu masuk kedalam kategori hermenutika lho.." Bapak berkaos oblong memberikan solusi.


 


Dan obrolan pun bertambah hangat, seiring bertambah kuatnya penantian akan kembalinya sang ustadz mahasiswa yang berceramah dengan penuh semangat.


 


Ditempat lain sang mahasiswa telah selesai mengoreksi materi yang baru disampaikan. Dia tersenyum puas dan kemudian berkata :


 


"Saya telah memberi pencerahan kepada kaum pedalaman".


 


 


Hikmah : Jangan nulis-nulis sehabis ujian Sistem Komunikasi



Edisi : Fiktif, tapi serius


 

Sabtu, 20 Januari 2007

Tips Praktis Saat Harus Berhadapan dengan Wanita di Medan Laga yang Membara Oleh Api Asmara yang Menyala-nyala dengan Begitu Dahsyatnya

 

 

Masih berkaitan dengan tulisan sebelumnya, kali ini saya ingin membagi sebuah tips yang sangat berguna dalam ber-sparring dengan wanita. Tidak perlu pemanasan, tidak perlu mengaktifkan tenaga dalam, tidak perlu berlatih habis-habisan. Asal anda berjenis kelamin laki-laki, sedikit nekat, dan menomorsepuluhkan rasa malu, tips ini pasti bisa anda praktekkan :

 

Pertama : Sebelum sparring usahakan agar anda terlihat gagah, macho dan jantan. Tegakkan badan, renggangkan bahu dan tajamkan mata.

 

Kedua : Saat wasit berkata “MULAI”, saat itu juga anda tatap mata lawan lalu dekati pelan-pelan.

 

Ketiga : Saat sudah masuk dalam jarak serang anda harus mempersiapkan diri untuk bergerak cepat. Jika lawan lengah, dekati dengan segera. Jika lawan menyerang duluan, sebaiknya jangan ditangkis. Gunakan momen ini untuk merapatkan diri dengan efektif.

 

Keempat : Pepet lawan anda, usahakan agar tubuh anda dan tubuh lawan hanya berjarak beberapa mili, lalu tatap matanya dengan tatapan menggoda. Kalau bisa diiringi dengan senyum genit secukupnya.

 

Kelima : Biasanya pada tahap ini lawan sudah salah tingkah. Jarak yang ada terlalu dekat untuk menyerang, dia hanya bisa menghindar. Jadi kalau dia mundur anda harus maju tapi kalau dia maju sebaiknya anda diam saja, terimalah dengan lapang dada, sambut dengan tangan terbuka. Hihi, asik, lumayan, bisa berpelukan.

 

Keenam : Selanjutnya terserah anda. Mau dibikin draw boleh, maju terus juga boleh. Biarpun dia mundur juga percuma toh melangkah mundur lebih lambat daripada maju, pasti bisa kita kejar. Tapi harap ingat satu hal; pertahankan senyum genit anda karena kegenitanlah yang menjadi kunci suksesnya tips ini

 

Note : Berhubung saya hanya pernah belajar silat jadi saya tidak tahu apakah tips ini juga efektif pada beladiri mancanegara. Saya juga belum pernah sparring dengan wanita macho yang nekat untuk maju dan menyeruduk saya, jadi efektifitasnya masih perlu dikaji kembali. Apalagi tips ini hanya bisa digunakan pada pertarungan TANPA Body Protector (biasanya di perguruan non IPSI)

 

Prinsip Dasar :

Dimanapun sifat dasar wanita selalu sama, grogi kalau berhadapan dengan pria. Jadi kenapa tidak kita manfaatkan saja..? Iya toh..?

 

 

Sekian dan terimakasih.

Purwokerto, 20 Desember 2006

Dinihari

Selasa, 16 Januari 2007

Tips Praktis Untuk Membela Diri ala Togie


 

 

 

Malam itu siganteng lagi tidak ada kerjaan. Untuk mengurangi rasa suntuk dia menyalakan TV. Kebetulan derap hukum menayangkan berita tentang seorang pembantu rumah tangga yang nekat memutilasi bayi yang baru dilahirkannya lalu potongan tubuh tersebut dibuang ke kloset.

 

“BIADAB..!!” itu kata-kata yang muncul di benak siganteng. Namun kata-kata tersebut dia tarik kembali saat tahu bahwa si pembantu hamil karena diperkosa empat pemuda tak bertanggung jawab. Ironisnya. dia harus dihukum dan dicemooh oleh masyarakat tapi para pemuda tersebut masih berkeliaran dengan bebas.

 

“BIADAB…!!” kata-kata itupun terlontar kembali, kali ini ditujukan kepada para pemuda laknat tersebut. Bah, keterlaluan. Mungkin hanya ada satu macam hukuman yang pantas untuk mereka yaitu “DIKEBIRI..!!”.  

 

Untuk beberapa lama siganteng masih tertegun, hatinya penuh emosi. Dia membayangkan bagaimana jika si korban adalah teman-teman wanitanya pas SMA. Bukankah sebagian besar dari mereka bertubuh lemah dan jarang olahraga. Jangankan untuk membela diri, lha wong untuk sekedar lari beberapa ratus meter saja mereka kecapekan, itupun sudah diiringi dengan istirahat, ngobrol dan ngerumpi tanpa henti. Karena itulah dia kemudian berucap :

 

“Pokoknya sebelum bisa menemukan teknik yang bisa digunakan untuk menghadapi situasi seperti ini, saya tidak akan belajar beladiri. Apa gunanya belajar sekian tahun di perguruan ini, sekian tahun di perguruan itu, lalu pindah lagi ke perguruan yang baru jika tidak bisa membagi ilmu...? Minimal saya harus menemukan tiga teknik sederhana agar jika yang satu tidak bisa diterapkan bisa dipakai teknik yang lain”

 

Dan selanjutnya dia pun vakum dari belajar beladiri, jarang pula berolah raga. Dua atau tiga tahun dia habiskan untuk mencari teknik yang tepat. Mulai dari membaca berbagai buku, menggali berbagai situs di internet, bertanya kesana-sini, ataupun memodifikasi teknik-teknik yang dulu dipelajari. Tapi itu percuma. Apa yang diajarkan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang bertubuh kuat, atau minimal mereka yang pernah latihan beladiri. Teknik itupun tidak bisa langsung diaplikasikan, harus dilatih dulu berulang kali.

 

Tapi alhamdulillah setelah berusaha keras akhirnya dia dapat menemukan dua teknik yang cukup mudah dan satu yang sedikit sulit, yaitu :

 

Pengenalan Situasi

Bayangkan jika anda adalah seorang wanita lemah yang sedang dipepet oleh pria. Apa yang bisa anda lakukan..? Hampir tidak ada. Lari..? Dikejar. Teriak..? Pasti dibekap. Melawan? Kalah tenaga. Jadi bagaimana..? Hmm, lebih baik anda pasrah saja. Lho, kok pasrah..? Jangan protes, silahkan baca tulisan selanjutnya.

 

Tips Pertama : Mencolok Mata

Ingat satu hal, jika anda terlihat akan melawan maka si pria pasti mengantipasi perlawanan anda. Jadi lebih baik anda bersikap seolah-olah pasrah saja. Biarkan dia berbuat semaunya (untuk sementara) setelah itu tempelkan tangan ke wajahnya. Persiapkan telunjuk dan jari tengah anda, tempatkan ke mata, lalu tekan sekuatnya. CROTT..!! Selesai.

 

Tips Kedua : Menyerang Kemaluan

Mirip teknik yang pertama. Suatu saat lawan pasti lengah, nah itu bisa anda manfaatkan. Saat berdempetan anda hanya bisa membuat sedikit gerakan, salah satunya adalah menggerakkan tangan untuk meremas. Kenapa..? Karena kalau menendang atau memukul rasanya tidak mungkin, bisa diantisipasi. Maka sebaiknya anda sabar, siapkan hati, cari sasaran, pastikan, remas, lalu tarik sekuatnya. Ingat “SEKUATNYA”.

 

Tips Ketiga : Mencekik Tenggorokan

Pada dasarnya sama. Tapi yang ini lebih sulit. Coba pegang leher anda, disekitar jakun. Disana bisa ditemukan celah yang pas untuk beberapa jari. Lalu coba anda cekik leher anda sendiri, cari disebelah mana anda merasa sesak dan kehilangan tenaga. Kalau sudah ketemu, kuatkan cekikan anda, setelah itu silahkan berhenti. Lho kok cuma itu..? Kan tidak efektif. Memang tidak cukup segitu, ada lanjutannya. Saat mencekik kumpulkan tenaga di jari anda, remas, kokohkan pegangan, lalu tarik sekuatnya sampai berbunyi KREKKK..!!! Kemungkinan, mati. Makanya jangan dicoba ke leher sendiri.

 

Untuk latihan silahkan anda praktekkan ke tubuh sendiri. Cari teknik yang paling fatal itu seperti apa, insya Allah bisa. Tenaga tidak terlalu berperan disini, yang penting adalah kekuatan jari. Itupun bisa dilatih dengan meremas-remas meja kerja, kursi atau perkakas lainnya.

 

 

Note :

Sebenarnya ketiga tips diatas hanyalah tahap pertama, kalau berhenti sampai disitu dalam waktu singkat si pria pasti pulih lagi dan akan melaksanakan aksinya dengan lebih waspada. Karena itulah saat dia terkejut dan kesakitan, lekas cari benda keras atau senjata tajam disekitar anda (seperti gunting, tiang lampu, tongkat, meja, kursi, pecahan kaca, atau yang lainnya) kemudian pukulkan ke belakang kepala atau tusukkan ke perut. Setelah lawan KO anda baru boleh lari.

 

Kelemahan :

Sayangnya saya hanya berjanji untuk mencari teknik yang bisa digunakan oleh wanita yang bertubuh lemah “TANPA” mempedulikan sisi psikologis yang dia punya. Padahal pada kenyataannya, dalam situasi tertentu wanita akan panik dan kehilangan kendali. Gemetar ketakutan tanpa bisa berpikir lagi. Contohnya seperti  kasus yang dialami pembantu tersebut. Lagipula teknik ini hanya efektif jika lawan anda berjumlah satu orang. Kalau lebih dari itu, sangat sulit.

 

 

 

Purwokerto

Togie de Lonelie

 

Edisi Serius

Kamis, 11 Januari 2007

Kuliah yang Aneh : Seks Bebas, Jodoh dan Capability



Jono bingung, dia sudah lama berpacaran dengan Tuti, dia sudah sering mengajak Tuti makan malam bersama keluarga namun dia selalu menolak. Malu katanya. Padahal Jono ingin menjalin ikatan yang lebih serius. Dia ingin menikah. Ya, dia ingin melamar Tuti. Karena itulah Jono ingin mempertemukan Tuti dengan kedua orang tuanya, ingin tahu pendapat mereka.

Jono pun mengadu pada bapaknya. Untunglah beliau orangnya pintar dan bijaksana. "Silahkan kalian makan malam di suatu tempat yang romantis, entah di kafe atau restoran mahal. Nanti bapak ikut. Tapi, bapak tidak makan bersama kalian. Bapak makan di meja yang lain saja, agar bisa mengawasi kalian. Agar bisa mendengar pembicaraan kalian. Dengan begitu bapak bisa tahu wajah calon mantu, sekaligus bisa mengetahui kepribadiannya. Bukankah sifat seseorang bisa dinilai dari apa yang dia katakan...? Dengan begini dia tidak akan merasa malu. Bagaimana menurutmu nak..?"

Ah, usul yang bagus. Benar-benar jenius. Tapi Jono masih tetap bingung. "Makan malam yang romantis kok harus diawasi, aneh amat..?" Begitu gumamnya. Tapi tak apalah, namanya juga cinta.

Maka rencana pun dilaksanakan. Malam itu terasa begitu istimewa, mereka berkencan di restoran dekat alun-alun kota. Tuti berbusana bak Cinderella. Dia mengenakan gaun putih dipadu dengan tas cantik yang begitu serasi. Bibirnya merah, merekah, bak bunga mawar, yang baru saja mekar. Sayang dia tidak memakai sepatu kaca, takut pecah katanya.

Tuti membuat semua pengunjung restoran terpana. Lihat saja bapak-bapak di pojok sana, dia tak berkedip menatap sang dewi tanpa menyadari bahwa istri yang duduk disebelahnya terlihat bermuram durja sambil memegang sebilah pisau komando. Oh, andai mereka juga bisa mendengar kata-kata yang Tuti ucapkan. Begitu santun, begitu lembut. Pasti si bapak rela mengobarkan genderang perang dengan istrinya, tanpa peduli bahwa hanya Amerikalah satu-satunya negara yang diijinkan untuk menyerang pihak lain tanpa perlu meminta restu PBB. Ya, semua pengunjung memang terpesona. Kecuali satu orang. Dia adalah bapak Jono. Beliau begitu terkejut hingga berkali-kali menepuk dahi.

Selesai makan malam Jono bingung lagi. Kenapa..? karena sang Bapak tidak setuju dengan wanita pilihannya. Anehnya, si Bapak tidak mau memberitahukan alasannya. "Pokoknya kamu tidak boleh menikahi dia, titik". Cuma itu yang beliau ucapkan.

Jono marah, Jono mangkel, Jono ngamuk. Bolos kerja, tidur di atas meja, itupun sambil bertelanjang dada. Beberapa hari berlalu tanpa perubahan apa-apa. Akhirnya Bapak mengalah. Beliau mengajak Jono keluar, jalan-jalan menikmati suasana malam. "Kita akan bicara sebagai sesama lelaki dewasa". Begitu katanya.

Di warung tenda, dekat lampu merah, mereka pun saling jujur dan terbuka. "Nak, Tuti cantik, Tuti baik, Tuti anggun, Tuti santun. Jujur saja, menurut bapak dia tak ada kekurangannya"

"Lalu kenapa bapak tidak setuju kalau saya memperistri dia..?"

Si bapak diam. Matanya menerawang, bagaikan seorang filsuf yang berkontemplasi untuk menemukan rahasia di balik alam ini. Tampaknya bapak masih ragu untuk menjawab pertanyaan tersebut.

"Lho katanya mau jujur-jujuran, ingin buka-bukaan..? Kok bapak malah diam sih..? Bapak ini serius nggak sih..? Sekarang ngomong dong pak.., kalau tidak saya akan teriak-teriak di atas meja sambil pipis di celana. Serius nih pak, saya tidak bercanda"

"Begini nak.., tapi tolong rahasiakan hal ini dari ibu kamu. Bapak tidak ingin ada huru-hara di rumah kita"

Akhirnya Bapak pun merinding juga, ngeri mendengar ancaman yang keluar dari mulut anaknya.

"Sebenarnya dua puluh tahun lalu, saat ibumu mengandung, dia rewelnya minta ampun. Bapak sering dimarahi, ditendang, dicakar dan dipukuli. Bapak marah nak, bapak pun minggat. Nah, saat itulah bapak bertemu dengan seorang wanita ayu nak. Dia cantik, dia baik, dia sempurna, bak bidadari yang baru turun dari surga. Bapak suka dia dan dia pun juga suka sama bapak. Begitulah nak, hubungan kami terus berlanjut hingga Tuti pun lahir, begitu pula kamu. Namun setahun kemudian setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya bapak memutuskan untuk kembali ke ibu kamu dan berpisah dengan Tuti, anak bapak yang satu lagi. Itulah alasannya nak. Kalian ini saudara kandung. Jadi..."


Gubrak...!!! Jono ambruk, Jono pingsan.

Jono dan Tuti. Sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk kasih. Tapi tidak seperti kisah cinta Siti Nurbaya, yang hanya roman biasa. Tidak pula seperti kisah klasik lainnya yang berjalan dengan apa adanya. Sekarang jaman modern, bukan jaman batu. Tidak ada lagi yang berpacaran sambil malu-malu. Tidak ada lagi ucapan gombal yang diucapkan dengan wajah tersipu. Berpelukan, berciuman, sudah jadi hal biasa. Begitupun perbuatan seram lainnya. Ya, Jono dan Tuti. Walaupun berstatus sebagai pacar, tapi secara fisik hubungan mereka sudah seperti suami istri.

Jono kalut. "Dosa..., dosa..." Begitu katanya. Ya, mereka memang tinggal di Indonesia. Negara agamis yang berpaham pancasila. Yang sila pertamanya berbunyi "Ketuhanan yang Maha Esa". Tapi itu sama sekali tak ada artinya karena walaupun sebagian besar penduduknya beragama islam toh seks bebas begitu merajalela. Apalagi Jono bukan muslim. Dia memang percaya Tuhan, tapi Tuhan yang seperti apa..? Dia sendiripun tidak tahu.

Jono kembali bolos kerja, tidur diatas meja, itupun dengan bertelanjang dada. Untunglah ibu Jono yang terkadang lebih bijak dari sang bapak terusik hatinya. "Pasti ada yang tidak beres dengan anak saya". Ah, firasat seorang ibu memang sakti. Tak pernah salah. Tidak seperti paranormal yang mengklaim bisa menyantet BUSH, tapi sampai sekarang masih saja tak terbukti.

Sang ibu bertanya "Ada apa nak...? ceritakanlah masalahmu, Mungkin saja ibu bisa membantu..." Ah, hangatnya. Kata-kata yang keluar dari mulut ibu memang selalu sejuk hingga tanpa sadar Jono pun mulai bercerita, tanpa peduli lagi bahwa apa yang dia katakan seharusnya menjadi rahasia.

"Ohh, begitu toh. Ya sudah, teruskan saja hubunganmu dengan Tuti. kalau memang cinta, nikahi saja dia. Barangkali Tuti memang jodoh kamu" Begitu saran sang ibu.

"LHO..., KOK...? Kok bisa bu..? Itu kan dosa, haram hukumnya. Itu tidak boleh bu...?"

"Haram..? Dosa..? Haha.., jangan bercanda nak.." Sang ibu pun tertawa.

Purwokerto, tanggal satu desember tahun dua ribu enam, tepat pukul delapan pagi. Ruang kelas mendadak hening. Pak dosen duduk diatas meja, memandang tajam pada mahasiswanya. Di depan beliau, para mahasiswa duduk bengong. Benak mereka penuh dengan tanda tanya.

"Menurut kalian kenapa sang ibu bicara seperti itu...?"
Mahasiswa bengong lalu geleng-geleng kepala.

"Lho, masa tidak tahu...?"
Mahasiswa masih bengong juga.

"Baiklah, kalau begitu saya beritahukan alasannya. Ternyata sebelum sang ibu menikah dengan bapak.."
Mahasiswa mulai tertarik

"Ternyata.."
Mahasiswa saling melirik

"Ternyata sang ibu.."
Mahasiswa tersenyum nakal, sang dosen menahan tawa

"Ya.., benar. Ternyata sang ibu berkata bahwa sebelum menikah dia sudah hamil duluan dengan orang lain. Jadi, biarpun si bapak menanam benih ke kemana-mana, ya tidak apa-apa. Toh Tuti dan Jono bukan saudara kandung. Hebat kan...? Hahaha...!!"

Bapak dosen tertawa, mahasiswa juga. Suasana yang tadinya mencekam jadi riuh seketika.

"Nah itulah yang namanya Capabilily atau kemampuan. Pada kasus ini, Keharmonisan rumah tangga dapat tetap terjaga karena suami dan istri mampu untuk menjaga rahasia. Andai rahasia ini tidak tersimpan rapat selama dua puluh tahun, ingat lho ya.. DUA PULUH TAHUN.., mungkin mereka sudah lama bercerai. Begitu pula dalam ilmu manajemen, Capability sangat mempengaruhi kesuksesan kita. Kalian tahu kenapa seorang sarjana bisa menjadi pengangguran dan kalah bersaing dari mereka yang hanya lulus SMA..?"

"Tidak pak.."

"Karena mereka tidak mempunyai capability, tidak punya kemampuan. Coba kalau mereka punya sesuatu yang bisa diandalkan, mereka pasti akan dicari oleh perusahaan, tidak perlu repot-repot mencari pekerjaan. Contohnya siapa coba..? Ya, tepat. Contohnya adalah saya. Dulu, saat baru kembali dari bekerja di luar negeri, saya ini..."


Kuliahpun berlangsung dengan lancar. Bak air bah, Ilmu mengalir melimpah ruah. Memenuhi seisi kelas. Namun ada seorang mahasiswa tampan yang masih bengong, masih garuk-garuk kepala, lalu berkata :

"He.. he.., kok bisa ya...?"




Purwokerto, 1 Des 06
Togie de Lonelie

“Terinspirasi dari kisah nyata, namun banyak tambahannya”

Minggu, 07 Januari 2007

Biogenesis VS Abiogenesis VS Teori Evolusi VS Pancasila VS Agama Di Indonesia


 

Manusia tercipta menurut teori biogenesis atau abiogenesis…? Itu adalah pertanyaan yang muncul saat saya membaca buku berisi perdebatan tentang Teori Evolusi Darwin. Abiogenesis1 berarti mahluk hidup tercipta dari benda mati dan Biogenesis berarti  mahluk hidup tercipta dari mahluk hidup sebelumnya.

 

Sebagian kalangan setuju dengan teori pertama dan yang lain sependapat dengan teori kedua. Masing-masing memaparkan argumen yang memperkuat pendapatnya. Saya jadi teringat pada VCD Harun Yahya dimana dia mengkritik habis-habisan teori evolusi. Disana dikatakan bahwa saat ini belum ada satu orang pun yang bisa membuat mahluk hidup dari benda mati. Jadi teori Abiogenesis hanyalah khayalan kosong belaka yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Tampaknya Harun Yahya lebih sependapat dengan teori Biogenesis.

 

Kemudian muncul pertanyaan di benak saya “Kalau begitu jika mahluk hidup hanya tercipta dari mahluk hidup sebelumnya maka mahluk hidup pertama terbuat dari apa…?”.

 

Sejurus kemudian saya ingat buku pelajaran Agama di SMA. Disana tertulis bahwa bahwa Nabi Adam diciptakan dari tanah, Jin dari Api dan Malaikat dari cahaya. Pertanyaannya adalah ; tanah, cahaya dan api itu benda hidup atau benda mati..? Jawabannya benda mati. Kalau begitu manusia sebagai mahluk hidup tercipta dari benda mati dong? Yup. Kok bertentangan dengan pendapatnya Harun Yahya..? Lho, iya juga ya.

 

Lalu, bagaimana dengan teori evolusi..? Ada umat muslim yang berpendapat bahwa teori ini ada benarnya. Bahwa Nabi Adam diciptakan dari tanah tapi tidak langsung jadi. Penciptaan tersebut melalui proses yang sangat lama. Mulai dari segumpal tanah, berubah menjadi mahluk hidup yang mirip kera, berevolusi menjadi manusia purba lalu jadilah nabi Adam yang berupa manusia sempurna.

 

Tapi tampaknya pendapat tersebut perlu dikaji lebih dalam lagi. Jika proses penciptaan Adam seperti itu, lalu bagaimana dengan Siti Hawa…? Bukankah Hawa tercipta dari tulang rusuknya Adam..?2 Kalau kita sebagai umat islam membenarkan teori evolusi, maka bagaimana dengan pendapat Darwin sendiri..? Apakah dia akan diam saja saat mendengar bahwa ada homosapiens yang tercipta dari tulang rusuk homosapiens lain..?

 

Bagaimana dengan sikap pemerintah terhadap teori evolusi..? Saya tidak tahu. Tampaknya para pejabat masih sibuk mengurusi polemik poligami. Padahal sudah jelas-jelas negara kita berpaham pancasila. Yang sila pertamanya berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan setahu saya tidak ada satu pun agama di Indonesia yang mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan cara meng-evolusi-kannya dari kera. Jadi secara tidak langsung teori evolusi sangatlah bertentangan dengan sila pertama.

 

Lho, bukankah teori itu hanya sekedar referensi..? Sekedar dipercayai..? Tidak untuk diikuti..? Memang benar. Tapi ingatlah kembali pelajaran pancasila yang pernah kita ikuti. Disana diajarkan bahwa sila pertama mendasari sila kedua, ketiga, keempat dan kelima. Dalam arti, mencakup seluruh ruang lingkup kehidupan kita sebagai warga Negara Indonesia. Termasuk dalam bidang pendidikan. Jadi seharusnya buku pelajaran yang membahas teori evolusi mencantumkan catatan kaki bahwa teori ini tidak sesuai dengan dasar negara kita. Dan siapa pun yang membenarkan teori ini dianggap menolak azas tunggal pancasila. Harus di tahan dengan dakwaan makar atau di cabut kewarganegaraannya. Lha wong Abubakar Ba’asyir saja pernah kabur dari Indonesia karena tidak setuju dengan azas tunggal pancasila kok.

 

Karena itulah, jika anda berprofesi sebagai guru yang bertugas mengajarkan teori evolusi, sebaiknya anda berhati-hati. Jangan sekalipun membenarkan teori ini. Ingat..!! Intel selalu siap mengawasi.

 

 

Note :

1 Teori abiogenesis yang lengkap berpendapat bahwa mahluk hidup pertama masih bersel satu, kemudian berevolusi, salah satunya menjadi manusia. Tapi yang dimaksud abiogenesis disini tidaklah selengkap itu. Hanya sekedar mahluk hidup tercipta dari benda mati. Yang lainnya dikesampingkan saja. (Sumber : Buku Biologi SMA tahun 1998-2001, Cetakan Erlangga dan Yudhistira).

 

2 Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An Nisaa' : 1)

 

[263]. Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.

 

 

Kamis, 04 Januari 2007

Aku dan Puisi Cinta






Kuingin merangkai kata jadi sebait puisi cinta
Namun sebelum sempat menggoreskan pena, belasan kata tlah datang dengan sendirinya
Berjejer rapi pada selembar kertas kosong dihadapanku
Membentuk syair indah yang tak pernah terpikirkan olehku


Perlahan kubaca tulisan tersebut dan aku pun terkejut
Ternyata isinya hanya omong kosong belaka
Dia bidadari, kamu manusia biasa. Tidak pantas mendapatkannya. Kenapa tidak menyerah saja..?”
Bah.., dasar sial.., kurang ajar…

Aku marah, aku mangkel, aku pun pergi
Ambil sebotol bensin & korek api
Kalau tidak membentuk kalimat lain, kalian kubakar”. Begitu ancamku
Dan lihat, mereka ketakutan lalu mengangguk setuju


Sejurus kemudian tlah terangkai sebait puisi baru
Membuatku gembira sekaligus tersipu malu
Dia bidadari, kamu tampan sekali. Semoga hidup bahagia, selama yang kalian suka”
Haha.., bagus. Memang begitulah seharusnya



Purwokerto, entah hari apa
togie de lonelie