Jumat, 07 Maret 2008

Tips menghilangkan duka

Mungkin anda merasa tertekan saat harus membuat alasan. Terutama ketika ditanya tentang kekurangan yang anda miliki. Misalnya saat tidak punya uang sehingga harus makan singkong yang didapat dari kebun tetangga tetapi tiba-tiba ada teman bertanya "Kok makan siangnya cuma singkong..?". Atau saat putus dengan pacar dan malam minggu anda ditanya "Kok nggak ngapel mas..?". Mungkin anda merasa sedih, mangkel, bahkan marah. Tapi jangan khawatir, ada cara efektif untuk mengatasi hal ini.

Jika anda tidak ingin atau tidak bisa mengungkapkan alasan yang logis, salah satu solusinya adalah dengan memberikan alasan yang tidak masuk akal. Dengan begini, biasanya si penanya akan bertekuk lutut dan tidak berani bertanya-tanya lagi.

Dulu, saat baru datang ke warnet teknik setelah melewati guyuran hujan, dinginnya malam, dan basahnya baju yang bikin gatal, saya ditanya oleh operator warnet : "Mas, darimana..? Kok hujan-hujanan..?". Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada beratnya perjalanan yang baru di tempuh. Maka agar tidak sedih saya jawab :"Baru muter-muter keliling kota. Siapa tahu ketemu dengan mereka yang butuh bantuan. Bukankah kita harus saling membantu..?". Dan operator warnet langsung diam.

Saat duit di kantong tinggal beberapa ratus perak sedangkan saya harus mencari materi kuliah di warnet teknik yang tarifnya seribu perak per jam, saya ditanya: "Ck, mahasiswa kok hobinya ke warnet, apa tidak ada kegiatan lain..?". Padahal sebenarnya saat itu saya pergi ke warnet dengan terpaksa karena tidak rela kehilangan uang receh tercinta di kantong celana. Sedih. Makanya, dengan pura-pura bangga saya tanggapi dengan : "Daku mau ngabisin receh di kantong celana. Daku alergi receh. Kalo pegang receh sebentar saja, badan daku bisa gatal. Makanya, kalau nanti sampai rumah, celana yang daku pakai harus segera dicuci biar alerginya hilang. Kalau tidak, pantat daku bisa bengkak kemerah-merahan"

Atau saat operator warnet tiba-tiba mampir ke komputer yang saya tempati. Saat itu diatas meja ada uang receh seribu perak dan di kantong celana seribu limaratus. Dengan spontan dia berkata : "Wuih, mas Togie keren, lagi banyak duit ya..?". Dan sebagai bentuk pelampiasan, saat selesai online, sambil mengeluarkan uang receh saya berkata : " Yo'i, daku emang lagi banyak duit. Nih ada lima belas keping (pecahan seratus perak, dua ratus dan lima ratusan). Sebenarnya kalo ditukar dengan uang limapuluhan bisa lebih banyak lagi. Ada tiga puluh keping lebih. Tapi ah, daku lagi pingin hidup sederhana. Yang duitnya pas-pasan saja”.

Saat zuni menghina buruknya jalan di kampung saya. Yang aspalnya sudah bolong-bolong dan susah dilewati, yang warganya tidak mau patungan untuk memperbaiki jalan, yang saya tidak bisa memacu motor kalau bangun kesiangan, dan saya tidak punya alasan logis apapun sebagai jawaban dimana saya tidak kehilangan muka oleh jawaban tersebut, tiba-tiba muncul jawaban jenius di otak saya : "Jalan disini memang sengaja dibuat berlubang zun, biar kendaraan yang lewat gak bisa ngebut. Kamu tau sendiri kalau disini banyak anak kecil, bisa bahaya kalau para pengendara memacu motor semaunya. Karena itulah, andai pun pemerintah memberi bantuan untuk pengaspalan jalan, mungkin warga tidak pada mau. Sebab mereka lebih mementingkan keselamatan anak-anaknya dibanding kelancaran transportasi".

Terakhir, saat si jutek dengan kejamnya menghina status saya sebagai mahasiswa teknik yang belum bekerja. Yang walaupun kadang mendapat uang alakadarnya dari kerja sambilan tapi dia dengan kukuhnya tetap menganggap bahwa saya belum bekerja. Tidak bisa dibandingkan dengan dia yang sudah berstatus sebagai seorang guru honorer di sebuah SMP swasta. Dan sialnya, kakaknya (yang sama-sama guru) ikut-ikutan memojokkan saya. Akhirnya saya pun harus mengeluarkan jurus terakhir yang tersisa : "Daku belum bekerja karena bingung. Terlalu banyak yang menawari pekerjaan, padahal daku tidak bisa menerima semuanya. Bila daku menerima salah satu dan menolak yang lain, pasti yang daku tolak merasa sedih. Daku tidak mau membuat orang lain sedih. Makanya untuk menghindari hal tersebut, daku tolak semuanya saja. Daku hebat ya..? Hahaha" Dan sang kakak pun ngeloyor pergi meninggalkan ruang tamu.

Begitulah, bahkan si pipin yang cuek itupun kerapkali harus geleng-geleng kepala demi mendengarkan jawaban saya. Apalagi si Tarmo. Dia tergolek lemas tak berdaya.


Antara aku, kau, kenthong, dan maling


“Gie, aku pulang dulu”

“Ya, hati-hati”

Ah, Tarmo. Lagi-lagi, kali ini, aku bisa nonton kentong dengan aman berkat dia. Tadi, beberapa pemabuk memalak para penonton, bergiliran, satu persatu. Mirip kondektur  meminta karcis pada penumpang kereta api. Untunglah, ketika tiba giliranku, mereka melihat tatap sangarnya Tarmo dulu. Untungnya pula, entah karena takut atau apa, mereka tersenyum aneh pada kami, melewati kami, lalu kembali meminta uang pada orang yang duduk disebelah kami. Alhamdulillah, uangku utuh. Hingga akhirnya, setelah mengantar tarmo sampai pertigaan, uang itu bisa kugunakan untuk ke warnet.

“Gie..”
Beberapa hari kemudian, di hutan bambu, Tarmo bercerita

“Kemaren, dari pertigaan, aku langsung pulang kerumah. Saat itu gelap, ada hujan rintik-rintik.”
 
Ah, prolog yang puitis. Bila ada prolog seperti ini, pasti dia akan bercerita tentang hal yang tidak biasa.

“Anehnya warung sayur punyaku juga ikut gelap. Padahal setiap malam lampunya pasti kunyalakan. Kamu kan tahu sendiri, kalau aku mengetuk pintu rumah jam segitu, ibuku bisa marah. Makanya aku lebih suka tidur di warung, sekalian nungguin sayur atau ikan asin.”

Yup, benar dugaanku. Ceritanya tidak biasa

“Tapi biarpun gelap, samar-samar aku bisa melihat ada tiga orang di depan warung. Yang satu berjaga-jaga sambil tengok kiri-kanan, yang dua lagi sedang mencongkel pintu. Aku yakin bahwa mereka maling. Mereka mematikan lampu agar bisa beraksi dalam gelap.”

Tuh.., tidak biasa kan..?

“Aku takut Gie. Aku gak bawa senjata apa-apa. Tapi aku memberanikan diri. Kudekati mereka, selangkah demi selangkah, makin lama makin dekat hingga bisa kulihat mereka dengan lebih jelas. Mereka pun bisa melihatku. Mereka kaget Gie. Makanya mereka langsung aku bentak : Hei, lagi apa ya..?”

Wah, keberanian yang patut dipuji

“Sayangnya, mereka hanya kaget sebentar. Sesaat setelah itu, orang yang tadi berjaga langsung mengeluarkan golok. Goloknya bisa kulihat jelas Gie, sebab jarak antara kami hanya beberapa meter. Dua orang sisanya ikut mengeluarkan golok. Aku takut. Bulu kudukku merinding. Aku berani berkelahi tangan kosong, dengan siapapun, dengan musuh sebanyak apapun. Tapi lain halnya kalau melawan orang bersenjata. Resikonya fatal”

Lho.., kok..?

“Saking takutnya, aku tak bisa lagi berpikir. Aku tak tahu harus berbuat apa. Sedangkan tampaknya mereka sudah nekat, kepalang tanggung, tak ingin ada saksi. Mereka mengejarku sambil mengacung-acungkan golok. Aku langsung lari. Aku gak ingat kalau saat itu aku bisa berteriak minta tolong. Aku tak ingat apa-apa. Yang ada dikepalaku cuma satu hal : Lari secepatnya, mbok mati dibacok”

Lalu..?

“Seharusnya aku lari ke pos ronda sebab disana pasti banyak orang, disana aku bisa minta tolong. Tapi aku sedang tidak bisa berpikir. Aku tak tahu sedang lari kemana. Pokoknya, aku lari secepat-cepatnya, tak mempedulikan arah. Aku tak sempat menengok kebelakang. Tahu-tahu, aku sudah sampai di depan rumahmu, dan mereka tidak lagi mengejarku.”

Terus..?

“Aku gak berani pulang Gie. Sampai pagi.”

“Bentar Mo.., tunggu sebentar”
Akhirnya aku angkat bicara

“Kenapa larinya kerumahku..? Kenapa gak ketempat lain..? Lagipula aku udah bilang mau pergi kewarnet, jadi aku jelas gak ada dirumah. Kalau toh ada, memangnya aku bisa apa..? Kalau sempet berteriak sih aku bisa membantu kamu teriakan kamu. Tapi coba pikir, gimana kalo seandainya sebelum berteriak mereka sudah main bacok duluan..? Apa gak repot..? Apa kamu mau ngajak aku mati bareng..? Gitu Mo..?”

Aneh, pikirku. Tapi kemudian aku berpikir lebih jauh lagi
“Kalau jarak kalian hanya beberapa meter, kalau kamu bisa melihat senjata mereka, berarti kamu bisa melihat wajah mereka juga. Kamu gak bilang kalau mereka pake topeng kan..? Mereka siapa Mo..? Anak mana..?”

Tarmo langsung diam. Tak mau memberitahuku. Yah, bisa aku maklumi. Tetangganya Tarmo juga ada yang pernah memergoki maling tapi malingnya bukannya takut, malah menghampiri si pemergok. Dia diancam akan dibunuh bila membocorkan identitas si maling. Dia pernah bercerita kepada kami. Dan ekspresi yang dia tunjukkan saat itu sama persis seperti ekspresinya Tarmo saat ini.

“Gie”

Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi berusaha untuk memendamnya. Aku tahu, bila ada orang yang Tarmo takuti, berarti orang itu memang pantas ditakuti, bukan orang biasa.

“Sudahlah Mo, sabar aja. Yang penting kamu selamat, tidak kenapa-napa”

Benar, tak apa. Aku tak ingin Tarmo membahayakan diri. Aku tak ingin kehilangan Tarmo. Seperti yang aku bilang, malingnya pasti bukan maling biasa. Di kampung ini, tak ada seorangpun yang Tarmo takuti. Berarti malingnya orang kampung mana..? Siapa yang bisa membuat Tarmo setakut itu..? Entahlah. Yang penting dia selamat. Sementara itu, cukup.


Pic : Togie & Tarmo

Rabu, 05 Maret 2008

Sabar, Pasrah, ikhlas didzalimi. Itulah kami


Sekedar unek-unek
Untuk meringankan beban emosi
Yang menumpuk di kepala


Hutan Bambu, jam 12 Siang
Daku datang di acara pernikahan teman, Tarmo juga disitu. Daku diminta menjadi manggoloyudo (atau apalah namanya), didandani bak pangeran keraton. Dikasih bedak, lipstik & pemerah pipi. Daku menolak. Entah apa alasannya tapi seolah ada suara yang menyuruh untuk menolak tawaran tersebut.
Adzan berkumandang, Tarmo pamit pulang, begitu pula daku

Kamar Sunyi, 12.45
Hp berbunyi, seorang teman menelpon dari kampus. Katanya hari ini KRS harus sudah dikumpulkan. Daku kaget, minta uang ke mama, mengambil KRS kosong lalu ngeloyor menuju kampus.

Kampus Teknik 13.00
Benar juga, kampus sudah dipenuhi ratusan mahasiswa. Wajah mereka seperti kambing dicium gorila, kulit wajah memerah, raut muka cemas, duduk pun tak tenang. Daku mahfum sebab kondisi daku juga sama.

Sejarah
Sejak libur akademik, loket BAPENDIK tak pernah dibuka. Kami tak bisa mengambil KRS, mengumpulkan KHS, atau bertanya apapun. Kemarin, pipin dari kampus, KHS juga belum keluar. Akhirnya daku berpikir, mungkin KHS baru keluar hari sabtu atau senin. Dan KRS dikumpulkan hari selanjutnya. Karena itu daku memberanikan diri datang di resepsi pernikahan teman. Mungkin mahasiswa lain pun punya rencana selain menanti ketidak-jelasan bapendik. Itu juga sebabnya kenapa kami panik begitu mendengar pengumuman bahwa semua administrasi akademik harus dituntaskan hari ini. Dalam waktu beberapa jam ini.

Permasalahan
Lalu daku berpikir, untung tadi ada teman baik hati yang mengabari lewat HP. Tapi bagaimana dengan mahasiswa yang tidak dikabari..? Padahal kata bapendik, bila hari ini KRS belum di clearkan, maka mahasiswa tersebut dianggap tidak mengikuti semua mata kuliah.

Penyebab
Selalu, dari dulu sampai sekarang, penyebabnya adalah kelalaian mahasiswa. Walaupun sejak minggu kemarin kami rajin ke kampus, menunggu loket buka, menunggu adanya staf bapendik yang bisa kami tanyai, lalu harus menghadapi fakta bahwa loket mereka selalu ditutup, tetap kami yang salah. Biarpun ketidak-tahuan ini disebabkan oleh ketidak-becusan kerja mereka, harus kami yang salah

Benar begitu..?
Ya, banyak mahasiswa yang beradu mulut dengan bapendik (untung bukan adu bibir). Perkaranya biasa, masalah jadwal yang bentrok, mata kuliah yang ada di jadwal tapi tidak ada di KRS online, website akademik yang tidak bisa diakses, nilai yang tidak keluar, KHS yang salah, dan beribu kesemrawutan lain. Tapi, sehebat apapun mahasiswa memaparkan argumennya, mahasiswa tetap salah, bapendik benar

Lalu..?
Akhirnya beginilah, kami hanya bisa menggerutu. Sedari dulu, sejak kampus ini didirikan, masalah yang kami hadapi selalu sama, bahkan makin bertambah. Kami sudah protes, mengajukan keluhan, memberikan solusi dan saran, tapi tak pernah ditanggapi. Bapendik tetap hanyut dalam ketidak-becusannya sendiri.

Kata Penutup
Sabar, Pasrah, harus ikhlas didzalimi. Itulah kami