Sabtu, 09 April 2011

tentangku, tentangmu, tentang kita


Malam itu...


Selalu saja, di waktu malam

Dia menampakkan diri



Muncul dari tebalnya kabut angan, melayang mendekat, memeluk sambil menepuk-nepuk punggungku..



Rasanya seperti selembar mimpi

Di setumpuk alam sadar kita



****



"Kau lemah..!!"

Ujarnya seusai memberiku waktu sejenak tuk duduk dan menghempaskan badan



"Hh..."

"Aku tidak lemah, aku justru terlalu kuat" Timpalku

"Tetap bisa melangkah walau kaki goyah"

"Bangkit walau terpuruk"

"Tak peduli berkali-kali hancur menjadi kepingan-kepingan kecil, aku selalu bisa pulih lagi. Walau perlu waktu sejenak tuk memulihkan diri"



Hening sejenak

Hanya ada kabut

Dan detak jam dinding



"Memulihkan diri sambil menangis...?"

Dia bertanya sambil menatapku, dengan tatap mata kosong..



"Apa salahnya..?"

Jawabku lagi..



"Aku sengaja menangis, tuk mengumpulkan airmataku menjadi sebuah danau di dada ini. Danau yang tak begitu luas namun cukup menentramkan hati. Dengan sebuah perahu yang mengapung di permukaannya, dengar ratusan ekor binatang air yang berenang di dalamnya, dengan lusinan burung bangau yang beterbangan diatasnya."

"Dengan luas padang rumput yang mengelilingi danau itu. Dan sebuah pohon rindang, dimana aku bisa duduk bersandar, melamun sambil menikmati indahnya danau buatanku"



"Menikmati rasa sakit maksudmu..?"

Dia terus bertanya, dengan mata yang perlahan-lahan mulai basah



"Apa artinya sakit..? Apa yang kau maksud dengan rasa sakit..? Apakah perasaan tersayat di hati ini..? Rasa hancur di dada ini..? Frustasi di kepala ini..? Apa..? Apa..? Apa..?"

"Orang hanya akan merasa sakit bila kehilangan sesuatu yang dia miliki. Yang dia ingini. Sedang kau tahu..? Sejak kehilanganmu, aku juga sudah kehilangan segalanya. Arti hidup, tujuan, cita-cita."



Dan kini dia terdiam..



"Aku tahu bahwa kelak aku hanya sendiri. Benar-benar sendiri. Hanya ditemani kau, yang entah nyata atau tidak. Tapi, apa peduliku..? Aku hanya perlu melakukan apa yang harus aku lakukan. Tetap berbuat baik walau disakiti, pasrah walau didzalimi, diam walau dihianati. Seperti yang aku bilang, apa peduliku..? Toh yang merasakan semua itu adalah aku. Bukan orang lain."



Dia terus diam



"Kau tak mungkin sanggup menghadapi semuanya. Terlalu bersih tuk hidup di alam yang busuk ini. Itulah kenapa kaulah yang harus pergi. Bukan aku."



Dia masih diam



"Sekarang aku memang kehilanganmu, tapi aku ingin kita bisa bertemu lagi. Bersama lagi. Ditempat yang lebih baik dari ini. Lalu melakukan semua yang kita ingin. Yang kita cita-citakan dulu. Aku, sedang berusaha mempersiapkan tempat itu. Untukku, untukmu, untuk kita. Itu, yang membuatku, tetap bisa bertahan sampai sekarang. Tetap melakukan semua hal yang tak mungkin bisa dicapai"



Dan dia tertunduk. Beberapa butir berlian merembes turun dari kedua sudut matanya. Berlian yang warnanya seterang mentari



"Kamu tenang sajalah."

Sekarang giliranku yang menepuk pundaknya..



"Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk semua orang. Mungkin, banyak yang memilih jalan yang salah saat menemui persimpangan. Tapi, bukankah aku masih bisa berharap, bahwa persimpangan itu tetap membawa mereka ke arah yang satu..? Walau mungkin lebih sulit dan berliku..?"

"Aku, hanya perlu melakukan yang dari dulu selalu aku lakukan. Mengalah, dan terus mengalah. Agar tak menyimpan dendam atau marah. Agar apapun yang telah dan akan aku alami, aku tetap bisa ikhlas berdoa. Agar semua orang mendapatkan apa yang paling baik untuk mereka."





****



Malam itu..

Selalu saja, di waktu malam

Dia datang dalam ilusi

Dan lalu pergi

Dibalik tebalnya kabut mimpi

rata2, yg namanya wanita y kaya gitu. bangga kl bnyk yg ngerubutin. bangga kl bs ngejual dirinya semurah mungkin. rata2, yg namanya wanita y kaya gitu. bangga kl bnyk yg ngerubutin. bangga kl bs ngejual dirinya semurah mungkin. hh, aneh

Senin, 24 Januari 2011

Sebuah pesan sayang, untukmu

Menjelang pukul kosong-kosong dini hari, Pria itu masih memencet keyboard yg tak ada hurufnya. Menatap monitor yang redup warnanya. Menanti selesainya download yg minta ampun leletnya.

 

"Masih lamakah..?" Seseorang yg bertanya

"Sebentar lagi, sayaang.." Dan hanya dijawab singkat  lewat HP

 

Ada perjalanan yang seolah terasa jauh

Padahal hanya kita lalui sambil duduk

 

 

Sepuntung rokok menyala

Membakar sepi

Mengusir galau

Dan pria itu masih saja terduduk


"Sedang melakukan perjalanan jauh" katanya

Padahal sedari tadi, dia hanya duduk berjam-jam disitu

 

"Apa yang kau cari..?"

"Mau dengan cara apa kau habiskan sisa hidup?"

 

 

Sepuntung rokok masih menyala

 

"Dengan caraku sendiri, sayaang.."

"Dengan cara yang mungkin takkan pernah kau pahami, sampai nanti kita berpisah"

 

Adakalanya, hal terbesar yg bisa kita beri, adalah rasa kehilangan

Saat bisu mulai bercerita tentang kenangan

Tentang segala hal yang tadinya sempat terlupakan

 

"Aku tak menginginkan banyak dalam hidup ini. Yang aku ingin cuma satu. Bisa tersenyum tenang sesaat sebelum aku mati"

 

Sebab  semua pasti akan ditinggalkan.

Apa yang pernah kita kejar, apa yang pernah kita dapat, apa yang pernah kita miliki

Rumah kita ditinggali oleh orang lain

Anak yg kita besarkan sudah hidup bersama orang lain

Harta kita dihabiskan orang lain

Benar-benar tak ada yang tersisa, kecuali sekedar harapan

 

 

Pria itu masih terus mengetik

Memencet keyboard tanpa huruf

 

Tak ada yang lebih membahagiakan dalam hidup ini, selain melihat apa yg kita tinggalkan, memperoleh apa yg terbaik buat mereka. Dan tak ada yg lebih membahagiakan dari mati, selain bisa meninggalkan, bekal yang terbaik bagi mereka. Walau  mungkin hal itu hanya bisa mereka dapat dari orang lain, bukan dari kita

 

Malam kian larut. Dan pria itu masih tetap menulis, tentang seseorang, yg pernah kehilangan segalanya. Teman, saudara, kekasih, sahabat, rasa takut.

 

"Dengan semua ini, semoga, andai aku tak diberi cukup waktu untuk membahagiakanmu.."

"Kau tak salah mengambil langkah, dalam menemukan orang yg lebih baik dariku.."

 

"Walau  mungkin terasa aneh dan menyebalkan, tapi inilah cara yang aku pilih, untuk mencintaimu"

 

jan 010

lonelie, gie

Kamis, 13 Januari 2011

BlunderBeelll

Capek.., penat..
Putus asa
Seperti sedang melangkah letih menyusuri lorong panjang
Yang ujungnya buntu
Dan terpaksa harus berbalik

Apa aku harus menyerah..?
Tidak

Jari kelingkingku terluka dan hamil karena nanah
Detak jantungku detik demi detik terus saja melemah
Kepalan tanganku tak lagi kuat seperti dulu
Berat badan pun terus saja merosot
Mendekati angka empat puluh

******


Aku memang masih bisa melangkah maju
Atau justru berbalik dan mengambil arah baru
Tapi, apa gunanya,
Bila hasil yang aku peroleh nantinya berakhir sama..?

Putus asa..?
Tidak..., tak boleh

Saat semua gelap dan tak terlihat apa-apa
Kita harus yakin
Bahwa ada beberapa jenis cahaya
Yang hanya bisa dilihat dengan mata tertutup

Masalahnya, hanya ada pada waktu yang belum tepat

Atau kita yang belum mampu

Cuma itu..