Kamis, 01 Desember 2011
Sabtu, 09 April 2011
tentangku, tentangmu, tentang kita
Malam itu...
Selalu saja, di waktu malam
Dia menampakkan diri
Muncul dari tebalnya kabut angan, melayang mendekat, memeluk sambil menepuk-nepuk punggungku..
Rasanya seperti selembar mimpi
Di setumpuk alam sadar kita
****
"Kau lemah..!!"
Ujarnya seusai memberiku waktu sejenak tuk duduk dan menghempaskan badan
"Hh..."
"Aku tidak lemah, aku justru terlalu kuat" Timpalku
"Tetap bisa melangkah walau kaki goyah"
"Bangkit walau terpuruk"
"Tak peduli berkali-kali hancur menjadi kepingan-kepingan kecil, aku selalu bisa pulih lagi. Walau perlu waktu sejenak tuk memulihkan diri"
Hening sejenak
Hanya ada kabut
Dan detak jam dinding
"Memulihkan diri sambil menangis...?"
Dia bertanya sambil menatapku, dengan tatap mata kosong..
"Apa salahnya..?"
Jawabku lagi..
"Aku sengaja menangis, tuk mengumpulkan airmataku menjadi sebuah danau di dada ini. Danau yang tak begitu luas namun cukup menentramkan hati. Dengan sebuah perahu yang mengapung di permukaannya, dengar ratusan ekor binatang air yang berenang di dalamnya, dengan lusinan burung bangau yang beterbangan diatasnya."
"Dengan luas padang rumput yang mengelilingi danau itu. Dan sebuah pohon rindang, dimana aku bisa duduk bersandar, melamun sambil menikmati indahnya danau buatanku"
"Menikmati rasa sakit maksudmu..?"
Dia terus bertanya, dengan mata yang perlahan-lahan mulai basah
"Apa artinya sakit..? Apa yang kau maksud dengan rasa sakit..? Apakah perasaan tersayat di hati ini..? Rasa hancur di dada ini..? Frustasi di kepala ini..? Apa..? Apa..? Apa..?"
"Orang hanya akan merasa sakit bila kehilangan sesuatu yang dia miliki. Yang dia ingini. Sedang kau tahu..? Sejak kehilanganmu, aku juga sudah kehilangan segalanya. Arti hidup, tujuan, cita-cita."
Dan kini dia terdiam..
"Aku tahu bahwa kelak aku hanya sendiri. Benar-benar sendiri. Hanya ditemani kau, yang entah nyata atau tidak. Tapi, apa peduliku..? Aku hanya perlu melakukan apa yang harus aku lakukan. Tetap berbuat baik walau disakiti, pasrah walau didzalimi, diam walau dihianati. Seperti yang aku bilang, apa peduliku..? Toh yang merasakan semua itu adalah aku. Bukan orang lain."
Dia terus diam
"Kau tak mungkin sanggup menghadapi semuanya. Terlalu bersih tuk hidup di alam yang busuk ini. Itulah kenapa kaulah yang harus pergi. Bukan aku."
Dia masih diam
"Sekarang aku memang kehilanganmu, tapi aku ingin kita bisa bertemu lagi. Bersama lagi. Ditempat yang lebih baik dari ini. Lalu melakukan semua yang kita ingin. Yang kita cita-citakan dulu. Aku, sedang berusaha mempersiapkan tempat itu. Untukku, untukmu, untuk kita. Itu, yang membuatku, tetap bisa bertahan sampai sekarang. Tetap melakukan semua hal yang tak mungkin bisa dicapai"
Dan dia tertunduk. Beberapa butir berlian merembes turun dari kedua sudut matanya. Berlian yang warnanya seterang mentari
"Kamu tenang sajalah."
Sekarang giliranku yang menepuk pundaknya..
"Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk semua orang. Mungkin, banyak yang memilih jalan yang salah saat menemui persimpangan. Tapi, bukankah aku masih bisa berharap, bahwa persimpangan itu tetap membawa mereka ke arah yang satu..? Walau mungkin lebih sulit dan berliku..?"
"Aku, hanya perlu melakukan yang dari dulu selalu aku lakukan. Mengalah, dan terus mengalah. Agar tak menyimpan dendam atau marah. Agar apapun yang telah dan akan aku alami, aku tetap bisa ikhlas berdoa. Agar semua orang mendapatkan apa yang paling baik untuk mereka."
****
Malam itu..
Selalu saja, di waktu malam
Dia datang dalam ilusi
Dan lalu pergi
Dibalik tebalnya kabut mimpi
Senin, 24 Januari 2011
Sebuah pesan sayang, untukmu
Menjelang pukul kosong-kosong dini hari, Pria itu masih memencet keyboard yg tak ada hurufnya. Menatap monitor yang redup warnanya. Menanti selesainya download yg minta ampun leletnya.
"Masih lamakah..?" Seseorang yg bertanya
"Sebentar lagi, sayaang.." Dan hanya dijawab singkat lewat HP
Ada perjalanan yang seolah terasa jauh
Padahal hanya kita lalui sambil duduk
Sepuntung rokok menyala
Membakar sepi
Mengusir galau
Dan pria itu masih saja terduduk
"Sedang melakukan perjalanan jauh" katanya
Padahal sedari tadi, dia hanya duduk berjam-jam disitu
"Apa yang kau cari..?"
"Mau dengan cara apa kau habiskan sisa hidup?"
Sepuntung rokok masih menyala
"Dengan caraku sendiri, sayaang.."
"Dengan cara yang mungkin takkan pernah kau pahami, sampai nanti kita berpisah"
Adakalanya, hal terbesar yg bisa kita beri, adalah rasa kehilangan
Saat bisu mulai bercerita tentang kenangan
Tentang segala hal yang tadinya sempat terlupakan
"Aku tak menginginkan banyak dalam hidup ini. Yang aku ingin cuma satu. Bisa tersenyum tenang sesaat sebelum aku mati"
Sebab semua pasti akan ditinggalkan.
Apa yang pernah kita kejar, apa yang pernah kita dapat, apa yang pernah kita miliki
Rumah kita ditinggali oleh orang lain
Anak yg kita besarkan sudah hidup bersama orang lain
Harta kita dihabiskan orang lain
Benar-benar tak ada yang tersisa, kecuali sekedar harapan
Pria itu masih terus mengetik
Memencet keyboard tanpa huruf
Tak ada yang lebih membahagiakan dalam hidup ini, selain melihat apa yg kita tinggalkan, memperoleh apa yg terbaik buat mereka. Dan tak ada yg lebih membahagiakan dari mati, selain bisa meninggalkan, bekal yang terbaik bagi mereka. Walau mungkin hal itu hanya bisa mereka dapat dari orang lain, bukan dari kita
Malam kian larut. Dan pria itu masih tetap menulis, tentang seseorang, yg pernah kehilangan segalanya. Teman, saudara, kekasih, sahabat, rasa takut.
"Dengan semua ini, semoga, andai aku tak diberi cukup waktu untuk membahagiakanmu.."
"Kau tak salah mengambil langkah, dalam menemukan orang yg lebih baik dariku.."
"Walau mungkin terasa aneh dan menyebalkan, tapi inilah cara yang aku pilih, untuk mencintaimu"
jan 010
lonelie, gie
Kamis, 13 Januari 2011
BlunderBeelll
Capek.., penat..
Putus asa
Seperti sedang melangkah letih menyusuri lorong panjang
Yang ujungnya buntu
Dan terpaksa harus berbalik
Apa aku harus menyerah..?
Tidak
Jari kelingkingku terluka dan hamil karena nanah
Detak jantungku detik demi detik terus saja melemah
Kepalan tanganku tak lagi kuat seperti dulu
Berat badan pun terus saja merosot
Mendekati angka empat puluh
******
Aku memang masih bisa melangkah maju
Atau justru berbalik dan mengambil arah baru
Tapi, apa gunanya,
Bila hasil yang aku peroleh nantinya berakhir sama..?
Putus asa..?
Tidak..., tak boleh
Saat semua gelap dan tak terlihat apa-apa
Kita harus yakin
Bahwa ada beberapa jenis cahaya
Yang hanya bisa dilihat dengan mata tertutup
Masalahnya, hanya ada pada waktu yang belum tepat
Atau kita yang belum mampu
Cuma itu..
