Rabu, 19 Juli 2006

Surat Cinta



Kemarin daku buka friendster dan disana daku temukan puisi ini, di posting di blog milik seseorang. Saat membaca kata demi kata yang tertulis, hati daku terasa berdebar-debar, entah apa sebabnya.



Untunglah tak berapa lama kemudian, indah
Online di Yahoo messenger. Dengan perasaan bangga, daku tunjukkan puisi
ini. Dan benarlah, diapun berkata bahwa puisi ini sangat bagus. Haha,
ternyata selera daku boleh juga.



Nah, kemudian daku berkata bahwa entah kenapa daku sangat suka pada puisi ini, dan ingin tahu siapa penulisnya.



Namun tanpa disangka dan tanpa diduga tiba-tiba dia berkata seperti ini :



SEBAB MIRIP KAMU YA GIE...???



#GUBRAK!!!!!#



Oh My God.., akhirnya sekarang daku tahu penyebabnya. Sungguh, sudah
lama daku ingin menulis puisi seperti ini, namun tak pernah bisa. Dan
alhamdulillah sekarang sudah ada yang berhasil menuliskannya.



Terimakasih duhai dikau.., entah siapa. Karena entah sengaja atau
tidak, dikau telah berhasil menuliskan perasaan daku, serta beberapa
pria lain yg ada di muka bumi ini.





Genre : Puisi

Judul : Surat Cinta (#Mungkin)





Wanita suci,

Mungkin aku memang tak romantis, tapi siapa peduli, karena toh kau tak mengenalku.

Bagiku kau bukan bunga, tak mampu aku samakan kamu dengan bunga-bunga terindah dan terharum sekalipun.

Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna, tertinggi, karenanya kau tak membutuhkan persamaan.



Wanita suci,

Jangan pernah engkau biarkan aku menatapmu penuh, karena itu akan membuatku mengingatmu.

Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.

Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.

Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.

Kasihani dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh lumpur.

Dirimu terlalu suci.



Wanita suci,

Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung, ada ingin tapi tak ada henti.

Menyentuhmu merupakan ingin diri berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.

Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku, karena sucimu, indahmu, kau pertaruhkan.

Mungkin kau tak peduli tapi kau hanya akan menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah, tak lebih dari wanita biasa.



Wanita suci,

Jangan pernah kau tatapku penuh, bahkan kau tak perlu lirikan matamu untuk melihatku.

Bukan karena aku terlalu indah, tetapi karena aku seorang manipulator.

Aku biasa memakaikan topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan
pakaian sutra, meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari
kubangan lumpur.

Kau memang suci tapi sangat mungkin kau termanipulasi.

Karena toh kau hanya manusia, hanya wanita, meski kau wanita suci.



Wanita suci,

Beri sepenuh diri pada dia sebagai lelaki suci yang dengan sepenuh diri bawamu kepada Tuhan.

Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu fikir lagi.

Tunggu sang lelaki suci menjemputmu dalam rangkaian khitbah dan akad.

Atau kejar sang lelaki suci itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah.

Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.



Wanita suci,

Bariskan harapmu pada istikharah sepenuh arti ikhlash.

Relakan Tuhan pilihkan lelaki suci bagimu, mungkin sekarang atau nanti bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.

Mungkin itu dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di permainan ini.

Mungkin lelaki itu menanti di istana kekalmu yang kau bangun dengan seluruh kekhusyu’an ibadah.



Wanita suci,

Pilihan Tuhan tak selalu seindah inginmu.

Tapi itulah pilihanNya.

Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki terpilih itu, melainkan pada jalan yang kau pilih.

Seperti kisah seorang wanita suci di masa lalu yang meminta keislaman sebagai mahar pernikahan.

Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Kekasih tertinggi.

Kekasih tempat kita (seharusnya) memberikan semua cinta dan menerima cinta yang tak terhingga dalam tiap detik hidup kita.




Senin, 17 Juli 2006

Gie.., kenapa kamu belum punya pacar..?




"Gie kenapa belum punya pacar?"





Itu adalah pertanyaan yang seringkali diajukan pada saya, dan biasanya
akan saya jawab dengan satu sikap tegas yang mempunyai beribu arti.
Ya, saya jawab pertanyaan tersebut dengan "DIAM". Tidak berkata apa-apa.





OK, mungkin anda anggap sikap saya tersebut kurang bijaksana karena
menurut norma kesopanan yang berlaku di negeri ini, jika ditanya oleh
seseorang, maka kita harus memberikan jawaban yang baik dan masuk akal.
Ya, memang seharusnya seperti itu. Akan tetapi menurut saya, dalam
kasus ini diam juga termasuk jawaban, bahkan merupakan jawaban yang
paling tepat yang dapat saya berikan.





Baiklah, perkenankan saya untuk menjelaskan alasan dibalik sikap diam
tersebut. Saya akan memberikan dialog yang mungkin terjadi jika kita
bersikeras untuk menjawab pertanyaan tersebut. Silahkan baca baik-baik.








A : Kenapa belum punya pacar?



B : Saya belum menemukan orang yang cocok



C : Hallah, BASI. Ngasih jawaban kok standar banget. Kamu cowo
normal kan...?
Masa nggak ada orang yg kamu sukai? Memangnya umur
kamu sudah berapa..?
Tidak adakah alasan lain yang lebih masuk
akal dari ini...?






A : Kenapa belum punya pacar?



B : Hm, memang sekarang saya belum punya. Tapi tunggulah sebentar lagi. Sekarang masih dalam proses pendekatan.



C : Oh gitu yah. Kalau kamu pernah berpacaran sih mungkin saya bisa
memaklumi alasan ini. Tapi masalahnya, kamu belum pernah sekalipun
berpacaran kan? Masa dari kecil sampai segede gini kok
pendekatan-pendekatan terus..? Jangan-jangan kamu ditolak terus yah..?
Makanya berkali-kali melakukan pendekatan tapi tidak satupun yang
diterima. Ck, jadi cowo kok tidak laku.






A : Kenapa belum punya pacar?



B : Dilarang agama



A : Oohh, kalau kamu itu ikhwan yg rajin shalat, puasa, ngaji, saya
pasti percaya omongan kamu deh. Tapi, lha wong shalat aja masing
bolong-bolong kok kalo ngomong sok kayak kyai, dasar munafik.






A : Kenapa belum punya pacar?



B : Saya ingin konsentrasi kuliah (atau kerja)



A : Apa..? jangan bikin saya tertawa deh. Konsentrasi kuliah..?
Memangnya kalau berpacaran bisa merusak konsentrasi? Lihat lingkungan
sekitar dong. Banyak yg sudah punya pacar tapi kuliahnya baik-baik saja
tuh, bahkan ada yang berprestasi. Tapi, coba lihat diri kamu, katanya
pingin konsentrasi kuliah tapi nge-game dan kongkow2 jalan terus. Ya,
daripada nge-game kan mending pacaran sekalian. Huh..






Tuh, bisa anda lihat sendiri kan..? Itulah akibatnya kalau kita tidak
berpikir matang dalam menjawab pertanyaan yang "menjebak" ini. Sebenarnya masih
banyak alasan lain yang ingin saya paparkan, namun untuk menghormati
perasaan para jomblowan dan jomblowati yang mungkin membaca tulisan
ini, saya kira cukup segini dulu. Kalau ada masukan lain, silahkan tulis di
bagian reply.





Untunglah sekarang saya tidak perlu lagi berdiam diri. Saya sudah
berhasil menemukan jawaban yang dapat membuat si penanya duduk tak
berkutik sambil bengong dengan mulut menganga. Dengan sedikit bersikap
PEDE, disertai gaya bicara yang berkesan SOMBONG, saya cukup berkata
seperti ini :



"Pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia secara berpasang-pasangan.
Seperti ion positif dengan ion negatif, seperti kampak dengan kayu,
atau seperti kerupuk dengan sambal. Setiap orang mempunyai pasangan
yang memang didesain agar dapat "serasi" dengannya. Dia bisa saja
berpasangan dengan orang lain yang dirasa lebih cantik, lebih tampan,
dan lebih perhatian. Namun percayalah, dia akan merasa kurang sreg,
kurang afdhal dan kurang nyaman. Mungkin rasanya sama seperti kalau
kita harus memakai jas mahal yang penuh kutu busuk. Hanya kelihatannya
saja nyaman, namun gatalnya minta ampun."




"Namun, ada beberapa orang yang mempunyai sifat "istimewa". Mereka
adalah manusia spesial yang bersifat unik, berbeda dengan manusia yang
lain. Karena itulah pasangan merekapun haruslah "istimewa" pula. Orang
biasa tidak pantas menjadi pendamping mereka. Ibarat emas yang tidak
bisa disepuh menggunakan sprite atau coca-cola dan ibarat berlian yang
tidak dapat dipotong menggunakan pisau dapur. Bahkan saking uniknya,
terkadang sulit bagi mereka untuk menemukan pasangan mereka
masing-masing. Karena itu benarlah pepatah yang berbunyi "semakin
tinggi gunung, semakin sulit pula untuk di daki".




"Nah, kebetulah saya termasuk kedalam kategori "manusia spesial"
tersebut. Saya diciptakan dengan memiliki karakter yang unik, yang
berbeda dengan orang lain. Lalu, diantara berjuta manusia di muka bumi
ini, hanya ada satu orang yang "pantas" untuk mendampingi saya. Jadi
wajar saja kalau saya belum menemukan orang tersebut. Bagaimana? itulah
saya, dengan segala keunikan dan keistimewaan yang saya miliki."




"Anda mungkin heran dengan jawaban ini, namun itu masih bisa saya
maklumi. Kenapa? Karena mungkin anda hanyalah "orang biasa" yang
terlalu banyak bergaul dengan jutaan orang biasa lainnya. Itulah
sebabnya anda mengalami kesulitan untuk memahami keunikan yang golongan
kami miliki. Ingatlah, burung pipit tak akan mengerti perasaan elang
yang terbang tinggi."






Ya, itulah jawaban yang akan saya berikan. Dan kalau anda merasa bahwa
ini kurang tepat, coba tawarkan solusi yang lebih jitu dari ini. Tapi
harap dicatat, bahwa Tarmo yang tersohor itupun berteriak histeris,
kaget hingga akhirnya berkali-kali membenturkan kepalanya ke tembok
saat mendengar jawaban seperti ini.








Artikel ini fiksi belaka, Namun kalau ada nama, tokoh atau cerita yang
menyinggung perasaan saudara maka itu pasti disengaja. Jadi harap
dimaklumi.










Kamis, 13 Juli 2006

Bapak, Daku, RAB dan Kesurupan



Sudah hampir jam setengah delapan
malam, namun bapak belum juga pulang. Padahal tadi beliau hanya pamit
untuk pergi sebentar dan berjanji akan pulang sebelum maghrib. Dengan
penuh kebingungan, daku lihat lagi berlembar-lembar RAB yang menumpuk
diatas meja kerja. Ya, tadi sebelum pergi bapak sempat berpesan agar
RAB tersebut dirubah lagi karena "Bos Besar" kurang
setuju dengan harga borongan yang ditawarkan. Beliau pergi begitu saja
setelah ditelpon adik daku, tanpa meninggalkan catatan atau keterangan
tentang mana yang harus diubah dan mana yang tidak. Daku ini mahasiswa
elektro, mana paham jika disuruh menghitung rincian biaya seperti ini,
apalagi hanya dibekali denah ruko dan setumpuk RAB. Dan beginilah
akhirnya, daku hanya bisa bengong dan tak tahu harus berbuat apa.



Tik-tok-tik-tok.....



Bunyi jarum jam terdengar begitu jelas ditengah kerasnya suara musik
dari vcd player. Dan di depan televisi, dua adik daku yg masih kecil
asyik bernyanyi dan berteriak-teriak dengan suara nyaring. Duh, daku
semakin heran saja. Balita yang baru berusia dua dan tiga tahun
seharusnya lebih suka mendengarkan lagu anak-anak, bukan lagu pop-rock
atau bahkan dreamtheater. Dan yang lebih mengherankan lagi, dua adik
daku ini mempunyai satu kebiasaan yang mirip. Biarpun selera musiknya
aneh, namun mereka akan diam dan duduk tenang jika mendengar suara
adzan. Subhanallah.



Ah, bahagianya menjadi anak kecil. Saat ini daku seharusnya juga
bersenang-senang seperti mereka. Kongkow2 di warnet kampus, makan nasi
kucing rame-rame, atau nonton film komedi romantis di kost teman,
bukannya tertahan di rumah seperti ini. Pokoknya nanti jam delapan,
daku mau pergi. Daku ingin refreshing.



Sekali lagi, daku lirik HP Nokia type 1100 yang tegeletak diatas kursi.
Sejak tadi daku ingin mengirim sms atau menelpon bapak. Pulsa daku
masih ada 3000 perak, masih bisa buat sms atau telpon selama dua menit.



Namun keinginan tersebut urung daku laksanakan karna tepat disamping HP
daku, tergeletak pula HP Nokia 8250 milik bapak. Jadi ditelpon
berkali-kali pun, paling-paling daku sendiri yang mengangkat.



Hhh, pokoknya nanti daku mau protes. Daku mau berunjuk rasa. Bahkan
kalau perlu, daku bakalan mogok nonton Gelar Tinju Profesional
Indosiar, biar bapak nonton tinju sendiri saja. Toh, si Crishjohn sudah
jarang bertanding. Andrian Kaspari pun sudah lama tidak tampil.
Pokoknya...



Bla.. Bla.. Bla..




Tik-tok-tik-tok...




Dan akhirnya...




Treteteteteteteteteteeettttt.... Tretetetetetettttttt......




Ah suara itu.., suara motor Yamaha Sigma yang sudah enam tahun ini
setia menemani daku kemanapun daku pergi, yang bahkan teman-teman
dikampus pun bisa mengetahui kedatangan daku hanya dengan mendengarkan
suara motor ini. Satu-satunya sepeda motor yang diberi julukan
"the-fourthy-kilometer-motorcycle" di kampus teknik, dan tak ada motor
lain yang mendapat julukan se-keren ini.



Akhirnya bapak pulang juga. Apakah beliau pergi begitu lama karna harus
mampir dulu untuk membeli oleh-oleh? Ataukah membeli lauk yang enak
untuk makan malam..? Daku ingin segera memulai unjuk rasa, daku sudah
mempersiapkan diri. Dan lihatlah, beliau datang dan melangkah ke ruang
keluarga, dan berjalan ke kursi di depan daku. Ah, akhirnya beliau
duduk dan kemudian mengambil handphone. Hm, sebentar lagi daku akan
mulai bicara..



Tapi, sebelum daku sempat berbuat apa-apa beliau sudah keburu berkata :



"Jangan marah dulu Gie, tadi Bagus (adik daku) telpon. Kamu tahu A** kan..? dia kesurupan saat sedang main di Karang Asri. Padahal disana hanya ada ibu-ibu dan teman-teman SMA nya
Bagus. Bapak di telpon, dan bapak disuruh kesana. Dia bilang
jin-nya rada aneh. Kelihatannya dia panik Gie, ya kamu tahu sendiri lah
bagaimana reaksi anak berusia enam belas tahun kalau harus menghadapi
temannya yang kesurupan. Makanya tadi bapak buru-buru pergi kesana,
bahkan sampai tidak sempat membawa HP."



"Tapi masalahnya bukan hanya itu Gie. Setelah bisa diajak ngobrol, si jin itu bilang bahwa dia tinggal di Jakarta. Jinnya perempuan. Nah dia bilang kalau disana dia dibunuh oleh pacarnya. Dia ingin agar ibunya yang tinggal di perumahan "Griya Satria" diberitahu
bahwa dia sudah meninggal. Dan dia ingin agar kasusnya diusut tuntas
lalu pembunuhnya ditangkap. Makanya bapak bingung Gie, biasanya kan
kalau ada orang kesurupan mintanya kembang, kopi atau kelapa muda, tapi
yang ini lain. Lah iya kalau jinnya ngomong bener, coba kalau sudah
dicari ke Griya Satria tapi ternyata orangnya tidak ada..? Atau kalau ternyata ada orang yang dibunuh beneran..? Kan kasihan.."



"Untunglah tadi ada ibu-ibu yang bilang bahwa dia ada kenalan di Griya Satriya, jadi biar dia saja yang nanti mencari tahu. Bapak tidak perlu ikut-ikutan"

"Oh iya Gie. RAB nya bagaimana..? Sudah dirubah..? Pasti belum ya..?"

"Ya sudahlah, lagipula ini kan malam minggu. Kalau kamu ingin pergi
main ya pergi saja. Tapi nanti, setelah RAB nya dirubah. Yo, sekarang
kita ke kamar kamu di atas. Komputernya bisa dipakai kan..? Nanti di
print di rental milik teman kamu saja, soalnya bapak belum ada uang
buat beli cartridge."





Keterangan Gambar : Yuzak Vs Bagus. Suatu sore di pinggir sawah









Senin, 10 Juli 2006

Printer Untuk Kertas Ukuran A3

Category:   Computers

Purwokerto, Minggu 09 Juli 2006
Jam sebelas malam

Bapak : Gie, tolong carikan printer yang bisa untuk mencetak gambar di kertas ukuran A3.
Togie : Loh, buat apa pak..? Mau beli lagi..? Lha wong pingin beli cartridge hitam-putih buat printer canon aja belum bisa kok..
Bapak : Udah, itu bukan urusan kamu. Pokoknya tolong dicari dulu, belinya nanti saja kalau sudah ada dana. Sekalian sama harganya ya.
Togie : Iya pak, besok saya cari.

Purwokerto, Senin 10 Juli 2006
Ternyata setelah bertanya kesana-kemari saya belum juga menemukan printer yang cocok. Karna itulah bagi yang mempunyai informasi ttg barang seperti ini, dimohon bantuannya.

Terimakasih

Kamis, 29 Juni 2006

Millis Alumni SMA 2 Purwokerto

http://groups.yahoo.com/group/alumni-smadha
Buat Para Alumnus SMU N 2 Purwokerto, silahkan gabung disini. Mari berbagi informasi dengan rekan-rekan yang lain

Rabu, 14 Juni 2006

Suatu malam di Jawa Barat - Keteladanan


Malam itu disebuah daerah di jawa barat yang terkenal dengan udaranya yang dingin kami berkumpul membentuk sebuah lingkaran mengelilingi seseorang yang sangat kami hormati. Dengan khusyu kami mendengarkan nasehat yang beliau sampaikan. Salah satu nasehat yang begitu membekas di hati adalah tentang pentingnya sebuah keteladanan, tentang betapa pentingnya sebuah aksi nyata, bukan hanya sekedar kata-kata.

Beliau berkata bahwa salah satu cara untuk sukses adalah dengan belajar menulis dan berbicara. Boleh saja anda berargumen hingga mulut ber busa-busa, namun jika tidak seorangpun mempercayai apa yang anda katakan maka apalah artinya. Begitupun sebaliknya, silahkan paparkan sebuah teori aneh yang tidak bisa dilogika, atau buatlah sebuah kebohongan yang mendekati sempurna. Jika anda bisa membuat orang lain percaya maka perkataan anda tersebut bisa dianggap benar, tak peduli seberapapun ngawurnya. Karna itulah, kalau ingin meraih keberhasilan di dunia maka latihlah lidah anda.

Saya masih ingat peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu, saat pertama kali merasakan bangku perkuliahan. Saat itu saya diberi berbagai pemahaman oleh seseorang tentang pentingnya quantum learning dalam pelaksanaan pembelajaran. Saya diajari bahwa bangku kuliah itu beda dengan bangku SMA (walaupun sebenarnya bangku tersebut sama-sama terbuat dari kayu, tidak ada bedanya) sehingga cara belajarpun akan berbeda. Hebatnya, beliau juga memberikan landasan berupa dalil yang diambil dari Alqur'an atau Al-hadits untuk mendukung perkataannya. Ya, saat itu saat itu saya benar-benar bersemangat untuk melakukan Quantum learning dalam belajar. Saya kagum dengan perkataan beliau, dan sayapun memberikan kepercayaan penuh pada beliau.

Namun yang terjadi kemudian adalah, tak satupun perkataan tersebut yang bisa beliau laksanakan. Dan yang paling parah adalah beliau sama sekali tidak menyadarinya. Saat para mahasiswa disuruh untuk mengisi angket tentang perkuliahan yang diampu beliau berkata :

"Isilah dengan jujur, saya tidak akan tersinggung walaupun kalian mengkritik saya. Bukankah kita harus saling nasehat-menasehati, harus saling mengingatkan."

Dan kamipun berusaha untuk menuliskan berbagai kendala yang selama ini dihadapi, kemudian mengembalikan angket tersebut. Namun setelah seluruh angket beliau baca, beliau marah dan mengancam kami.

"Siapa yang sudah berani menulis hal-hal buruk tentang saya..? Memang di angket ini tidak tertulis siapa namanya, tapi awas kalau ketahuan. Saya bisa menyamakan tulisan tangan di angket ini, dengan tulisan kalian. tunggu saja"

Dan yang membuat saya trenyuh adalah, akibat yang ditimbulkan oleh sikap beliau ini. Selesai kuliah ada beberapa mahasiswa non-muslim yang mengeluh :

"Kenapa orang islam itu munafik ya gie, kalau bicara sih indah banget tapi perbuatannya berbeda 180 derajat"

Saya ingin membantah perkataan tesebut namun apa daya, saya benar-benar sudah kehilangan semangat untuk berbicara.

Contoh diatas terjadi didalam ruang lingkup kampus, dan contoh yang lebih ekstrim bisa kita lihat saat kampanye pemilu. Berbagai macam janji kosong, kata-kata manis, propaganda dan tipu muslihat licik bermain disana. Asal masyarakat percaya janji yang diucapkan maka cukuplah sudah. Soal janji tersebut bisa dilaksanakan atau tidak itu bukan masalah, kita hanya tinggal menyiapkan beberapa alasan yang dianggap masuk akal. Sungguh, sudah terlalu banyak orang di negeri ini yang "pandai" merangkai kata-kata mutiara namun terlalu sedikit orang yang bisa mengaplikasikannya.

Itulah yang membuat saya begitu menjunjung tinggi arti dari "keteladanan". Saya berpendapat bahwa jika anda adalah seorang praktisi beladiri yang ingin mengajari murid anda cara mematahkan benda keras, maka coba patahkan benda tersebut di depan mereka. Jika anda adalah seorang da'i yang ingin mengajak masyarakat untuk menjalin ukhuwah dan silaturahmi, berilah contoh terlebih dahulu. Coba untuk selalu bermurah senyum dan mengucapkan salam. Memang kita tidak selalu bisa untuk memberikan contoh pada semua yang ingin kita sampaikan, namun kalau ada sesuatu yang bisa kita lakukan maka tidak ada salahnya untuk mencoba.

Saya masih ingat bahwa dulu Tarmo pernah berkata:

"Jangan terlalu banyak bicara tentang sesuatu hal yang tidak kita kuasai. Giat-giatlah belajar agar kita mengusai topik yang ingin disampaikan. Sayap burung elang akan bertambah kuat hanya bila digunakan untuk terbang. Begitu pula dengan kita."

Dia juga berkata seperti ini:

"Jangan memberi nasehat yang kita tahu bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan karna seringkali kita berbicara hanya karena ingin dianggap pandai oleh orang lain. Dalam kasus ini, bisa tidaknya kata-kata tersebut dilakukan tidaklah penting. Asal kita dianggap hebat, maka itupun sudah cukup."

Ternyata dibalik sifat spontanitasnya, dia memiliki kebijaksanaan yang tak bisa diduga. Semoga dia cepat pulang kembali ke Indonesia agar dapat saya dengarkan lagi untaian kata bijaknya.

Malam itu disebuah daerah di jawa barat yang terkenal dengan udaranya yang dingin kami berkumpul membentuk sebuah lingkaran mengelilingi seseorang yang sangat kami hormati. Dengan khusyu kami mendengarkan nasehat yang beliau sampaikan.

Gambar diambil dari : Hp nokia 3660 milik adik, yang digunakan saat uji coba untuk memfoto tangan-lampu di kamar saya.

Sebuah cerita tentang jilbab



Untuk kesekian kalinya obrolan yang
awalnya kami isi dengan acara 'saling menasehati' berubah menjadi ajang
'saling kritik' dan kemudian berakhir dengan pertengkaran. Setelah puas
mencela sikap kekanak-kanakan serta ketidak-konsistenan yang saya
miliki, akhirnya tibalah giliran saya untuk memberi beberapa kritikan.
Tentu saja, saya harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Maka
dengan suara berat dan berwibawa saya bertanya :



"Lalu bagaimana dengan kamu sendiri, kenapa sampai saat ini kamu belum
juga mengenakan jilbab? bukankah berjilbab itu hukumnya wajib?"




Dan dengan mimik serius dia menjawab :



"Sebenarnya saya ingin Gie tapi saya merasa belum siap. Setelah
mengenakan jilbab, ada berbagai konsekuensi yang harus dihadapi, dan
saya belum bisa untuk itu. OK, sekarang bisa saja saya mengenakan
jilbab. Namun siapa yang bisa menjamin bahwa sebulan lagi jilbab
tersebut belum saya lepas? Kalau sudah begitu, bagaimana dengan
tanggapan orang? Jujur saja, saat kita memutuskan untuk berjilbab,
pasti banyak yang akan memuji. Tapi kalau memutuskan untuk melepas
jilbab, pasti akan ada yang berbicara jelek tentang kita. Hal ini akan
menjadi beban Gie, dan walaupun bisa dilalui tapi mungkin saja saya
akan menjalaninya dengan perasaan terpaksa. Karna itulah, saya ingin
merasa siap terlebih dahulu. Saya tidak ingin membohongi diri sendiri.
tolong doakan agar saya dapat segera memenuhi kewajiban ini".




Dan seperti biasa, sayapun turut berdoa agar Allah mengabulkan keinginannya. Amiin.



Sebenarnya saya merasa sedikit ragu dengan jawaban yang dia berikan.
Pertama kali saya bertanya seperti ini adalah saat kami berada di
semester pertama bangku perkuliahan, kurang lebih pada akhir tahun
2001. Dan anehnya, sampai sekarang jawaban yang saya dapat masih tetap
sama, tidak berubah satu hurufpun. Hingga seringkali saya bertanya pada
diri sendiri, apakah dia benar-benar ingin berjilbab? bukankah
ada kemungkinan bahwa jawaban yang dia berikan itu hanya digunakan
sebagai kedok untuk menutupi keengganannya? Ada berbagai alasan yang
membuat perempuan enggan untuk berjilbab. Perempuan ingin tampil
cantik, saya tahu itu. Dan saya juga tahu bahwa jilbab sering dianggap
"menghambat" perempuan untuk bisa tampil lebih cantik. Namun
alhamdulillah keraguan itu hanya bersifat sementara. Saya tahu
kejujuran yang dia miliki, dan saya tahu bahwa dia tidak akan berbohong
bila menyangkut masalah yang prinsipil semacam ini. Bukankah selama ini
dia hanya beberapa kali berbohong pada saya.



Diantaranya saat dia
berkata bahwa orang tuanya sedang membuat beberapa bunker bawah tanah
dihalaman belakang sembari menunjukkan timbunan tanah merah yang
menggunung disamping rumah. Juga saat dengan liciknya dia meyakinkan
saya bahwa di rumahnya akan ada "hajatan besar" sembari menunjukkan
cincin emas yang melingkar dengan indah di jari manisnya. Ya,
kebohongan yang aneh yang mungkin tidak bisa menipu anak TK, namun
entah kenapa dapat membuat saya percaya begitu saja tanpa sedikitpun
rasa curiga.



Hari mulai malam, dan sayapun harus pamit pulang. Sembari mengendarai
motor Jupiter-Z generasi kedua yang cicilannya masih belum lunas, saya
berpikir untuk memberikan sesuatu sebagai tanda bahwa saya mendukung
keinginannya (walaupun akhirnya tidak jadi saya berikan). Maka
sesampainya dirumah, didepan monitor 17 inch yang belum lama ini saya
beli, mulailah saya menulis sebuah cerita untuknya :



Alkisah disebuah halte bus terdapatlah seorang muslimah dengan jilbab
lebarnya, yang sedang bermandi keringat menahan panasnya udara ibukota.
Diantara belasan orang yang sedang berdesakan menunggu bus, ada seorang
laki-laki yang tiba-tiba menghampiri muslimah tersebut dan setelah
berbasa-basi sejenak kemudian dia bertanya :




"Di cuaca yang panas seperti ini kenapa anda masih menggunakan jilbab?
untuk apa anda menyiksa diri seperti ini? padahal katanya Tuhan maha
pemurah. Dia tidak akan mempersulit hambanya".




Kemudian wanita tersebut balas bertanya :




"Lalu bagaimana dengan anda sendiri? anda hendak pergi bekerja bukan?
kenapa anda tidak duduk santai dirumah dan bersenda gurau bersama
anak-istri? bukankah hal tersebut lebih menyenangkan daripada
menghabiskan waktu dan tenaga untuk bekerja dan berdesak-desakan di
tempat seperti ini?"




Pria tersebut menjawab :




"Tidak bisa begitu. Saya adalah seorang kepala rumah tangga, saya harus
bekerja demi keluarga. Saya menyayangi mereka. Saya mempunyai kewajiban
untuk membahagiakan mereka. Kalau tidak, maka saya bisa disebut
sebagai suami dan ayah yang tidak bertanggung jawab"




Akhirnya pembicaraan tersebut ditutup dengan kata-kata bijaksana dari sang muslimah :




"Begitu pula dengan saya. Kalau anda rela untuk bekerja keras hingga
bermandikan keringat untuk memenuhi kewajiban anda terhadap keluarga,
kenapa saya harus berkeberatan untuk menggunakan jilbab demi memenuhi
kewajiban terhadap "Dia", Zat yang menciptakan saya dengan penuh kasih
sayang...?"




Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah yang telah menganugerahkan
kekuatan pada mereka yang senantiasa ber'istiqamah', dalam memenuhi
kewajiban. Semoga Allah memudahkan jalan bagi mereka yang sedang
mencari petunjuk, amiin.




Gambar diambil dari sini