Sabtu, 07 Oktober 2006

Thriller : Misteri dibalik hilangnya pulsa saya

Hari jumat tanggal 29 september 2006
pukul setengah enam sore saya membeli voucher mentari senilai sepuluh
ribu rupiah. Bila ditambah dengan sisa isi ulang bulan kemarin maka
total pulsa yang saya punyai adalah Rp. 10.950,00. Nah, pulsa sebanyak
itu kemudian saya gunakan untuk menelpon bapak dan mengirim dua buah
sms pada teman saya. Salah satunya kepada saudari Zuni
yang isinya tidak lain adalah "Memamerkan" banyaknya pulsa yang saya
miliki. Saat itu pulsa yang tersisa seharusnya sekitar sembilan ribu
rupiah lebih sedikit.



Nah, pukul satu dini saya kembali memeriksa sisa pulsa karena
rencananya saya ingin pamer-pamer lagi dan saya butuh data pulsa yang
akurat. Tapi celakanya, tanpa disangka dan diduga-duga ternyata pulsa
yang dideteksi hanya sebesar Rp. 3.215,00. Tidak lebih.



Lah kok bisa...?



Ya mana saya tahu, pokoknya tiba-tiba sisa segitu lah.



Awalnya saya mengira bahwa saya sedang mengalami mimpi buruk. Lebih
buruk dari rona muka George W Bush saat harus menahan buang air besar
di sidang umum PBB. Namun ternyata perkiraan saya salah. Kehilangan ini
adalah sebuah realita, yang harus saya terima dengan lapang dada.



Karena itu pula pada saat makan sahur, saya menginterogasi seluruh
anggota keluarga. Baik yang berusia tua, muda, pria ataupun wanita.
Mereka saya tanya perihal kehilangan ini. Namun jawaban yang mereka
berikan ternyata sama.



"HP kamu kan di password Gie, mana bisa kami pakai..? Huh, sukurin"



Duh, akhirnya dengan rasa putus asa saya mencoba menghubungi operator
di nomor 222. Tapi seperti yang sudah saya duga, mbak operator yang
suaranya merdu itu tak kunjung menjawab panggilan saya. Number Busy
katanya.



Ah, jangan-jangan dia telah melupakan saya...



Dan akhirnya sampai sekarang inipun, saya belum mengetahui kemana pulsa
saya pergi. Dia hilang tanpa jejak, tanpa pamit, maupun tanpa permisi.
Andai saat itu saya sempat mengucapkan salam perpisahan padanya. Salam
perpisahan paling indah yang belum pernah tertulis di buku-buku sastra.
Perpisahan indah yang penuh kata-kata manis, gelak tawa, dan juga
airmata. Perpisahan indah yang.............



Ah.., andai saja kutahu kemana dirimu pergi. Pastilah kan slalu kucari.
Segunung harta kan kudaki, lautan wanita cantik kan kusebrangi. Demi
untuk mendapatkanmu lagi.



Selamat tinggal pulsaku, semoga kau temukan kebahagiaan disetiap jejak langkahmu.






Selasa, 03 Oktober 2006

Mahasiswa yang gemar membaca komik pasti tidak tahu banyak tentang agama...? Bah...!!!


Suatu hari saya berdiskusi dengan salah seorang penghuni multiply,
via YM . Saat itu saya ditanya "Gie, kamu tahu kan bahwa Ali ra dan
Fatimah ra baru mengetahui bahwa mereka saling jatuh cinta saat sudah
menikah..?" Dan kontan saja pertanyaan tersebut saya jawab dengan "Ya,
saya tahu" karena saya memang pernah membaca cerita tersebut.


Masalahnya adalah, saat itu ada pula seorang
mahasiswa teknik yang "bertamu" ke PC saya dan kebetulan dia membaca
dialog tersebut. Tanpa disangka, dengan polosnya kemudian dia bertanya
"Memang kamu tahu cerita itu Gie..? Lha wong kamu itu hobinya baca
komik kok..?"


JELEGAAARRRRR!!!


Suara petir pun bergema, menggetarkan tembok warnet dimana saya berada. Bising, terasa memekakkan telinga


Namun untunglah kebisingan itu bersifat sementara
karena saya tahu bahwa mahasiswa tersebut memang belum begitu mengenal
saya. Dia hanya bisa menilai kepribadian saya dari luarnya saja. Ya,
mungkin dia menganggap saya ini hanyalah seorang mahasiswa tampan yang
gemar membaca komik. Yang tak tahu banyak tentang sejarah atau agama.
Karena itu pula saya tidak bisa menyalahkan mahasiswa tersebut. Toh dia
bebas menilai diri saya. Seaneh apapun penilaiannya


Akan tetapi, menilai seseorang dengan cara seperti
itu tidaklah bijaksana. Kenapa..? sebab penampilan luar tidak selalu
menampakkan sifat asli dan kemampuan seseorang.


Misalnya saja saat melihat pengemis yang berpakaian
kumal, kotor dan amburadul masuk ke dalam masjid. Mungkin kita akan
berpikir seperti ini :


"Ih jorok. Masa dia mau shalat dengan baju sekotor itu...? Memang tidak ada najisnya..? Memang nanti shalatnya diterima..?"


Coba bandingkan bila yang kita lihat adalah pria tampan yang memakai baju gamis dan kopiah. Mungkin kita akan berpikir :


"Pasti orang alim nih.., pasti aktifis kampus nih..!!"


Seperti itulah penilaian kita. Padahal bila
diperkirakan lebih lanjut, bisa saja pengemis yang kita lihat tadi
membawa baju ganti. Satu-satunya baju bersih yang dia punya. Yang hanya
digunakan untuk shalat, menghadap Allah Sang Maha Pencipta. Dan bisa
pula pria berjubah yang tampan itu hanyalah seorang pencuri kotak amal
yang sedang mempraktekan modus operandi barunya.


Bisa saja toh...


Karena itulah, menurut saya yang namanya "kesan
pertama" tidaklah selalu tepat. Harus dilakukan pengamatan lebih
mendetail agar kita bisa mendapatkan kesan kedua, ketiga dan
seterusnya, yang biasanya lebih akurat. Memang sedikit ribet tapi
begitulah seharusnya, agar tidak terjadi salah paham. Dan itu pula yang
harus kita budayakan dalam bersosialisasi dengan manusia lain.


Jadi.., marilah kita berhati-hati dalam menilai
seseorang. Jangan sampai penilaian kita hanya menimbulkan setumpuk
prasangka buruk dan salah persepsi yang akut. Contohnya saja, menilai
bahwa mahasiswa tampan yang gemar membaca komik "PASTI" tidak tahu kisah antara Ali ra dan Fatimah ra.


Lalu bagaimana kalau mahasiswa tersebut tidak tampan Gie..?


Lha, kalau masalah ini ya saya tidak tahu. Sebaiknya tanyakan pada teman saya saja


Kamis, 28 September 2006

PSK, Dialektika dan Konspirasi Global (Gak Nyambung)



Sebenarnya semua hal di muka bumi ini bersifat dialektis. Dan kita diciptakan lengkap dengan naluri untuk memahami dialektika tersebut. Setiap mendengar kata pria maka tanpa sadar otak kita berpikir pula tentang wanita. Saat melihat warna hitam, secara refleks kita membayangkan pula warna putih. Dan jika kita teringat pada "Kanjeng Setan Laknat Tumraping Jagat - George Bush Jr" maka mau tidak mau kita teringat pula pada manusia biasa seperti bang Osama. Ya, semua bersifat dialektis.


Dialektika mencegah kita untuk selalu terfokus pada satu objek dan melupakan objek yang lain. Hal ini sangatlah bermanfaat karena manusia tidak boleh memandang sesuatu hanya dari satu sisi. Kita harus berusaha untuk menemukan dan melihat dari sisi yang lain. Itulah makna dari dialektika.


Akan tetapi makna tersebut seakan sirna tatkala saya melihat sebuah berita kriminal di salah satu stasiun televisi swasta negeri ini. Berita tersebut berbunyi :


"Pada razia minggu malam aparat berhasil mengamankan beberapa PSK dan tiga orang waria. Dan... Bla.. Bla.. Bla.."


Sebenarnya berita tersebut akan saya tanggapi dengan sikap biasa saja seandainya saat itu saya tidak berpikir bahwa waria yang ditangkap aparat itu pun termasuk PSK juga. Ya, mereka pun berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial. Sama seperti mereka yang berjenis kelamin wanita.


Jujur saja, istilah baru ini begitu menggelitik sel-sel kelabu di otak saya karena istilah PSK sendiri pun masih begitu rancu dalam penggunaannya. Agar lebih jelas mari kita tanya Wikipedia.


Menurut bang Wiki, PSK merupakan singkatan dari Pekerja Seks Komersial, yaitu sebuah layanan "Full Body Rent" yang mengenakan tarif per satuan waktu atau per satuan konsumsi. Sekarang coba anda lihat kata-kata yang saya beri cetak tebal. Nah, menurut anda seberapa eratkah hubungan antara Pekerja dan Komersial...? Ya, hubungan keduanya begitu erat. Karena pada umumnya jika seseorang bekerja maka motifnya ya komersial. Apalagi jika dihubungkan dengan dunia prostitusi, tidak ada yang namanya Pekerja Seks Sukarela kan...? Lalu kenapa nama yang digunakan tidak cukup hanya dengan pekerja seks saja. Kenapa harus ditambahi embel-embel komersial segala...?


OK, mari kita ingat lagi istilah yang digunakan beberapa tahun lalu. Para "penyedia jasa" tersebut diberi nama WTS (Wanita Tuna Susila) yang secara sederhana dapat diartikan sebagai wanita yang mem "Body-Rent" kan dirinya. Secara hukum dialektika, dari istilah tersebut dapat kita turunkan pula istilah lain. Diantaranya adalah PTS (Pria Tuna Susila) dan WadTS (Wadam Tuna Susila). Hal tersebut dilakukan karna pada dasarnya pekerjaan sewa-menyewa tubuh tidak hanya dimonopoli oleh kaum hawa.


Nah, anda lihat kan betapa bergesernya makna WTS dan PSK. Saat kita masih menggunakan istilah WTS, secara tidak langsung kita bisa mengasumsikan bahwa ada juga yang namanya PTS dan WadTS. Namun saat istilah PSK mulai digunakan, kita pada umumnya dan pers pada khususnya lebih sering mengasumsikan bahwa yang namanya PSK itu ya wanita. Buktinya terlihat pada berita yang telah saya sebutkan diatas bahwa Waria yg menjajakan diri ternyata tidak termasuk PSK.


Nah, hal ini menimbulkan sebersit kecurigaan di benak saya. Jangan-jangan ada sebuah konspirasi global berskala nasional yang menginginkan agar masyarakat menganggap bahwa hanya wanitalah yang boleh berprofesi sebagai PSK. Bahwa kalau ada operasi "PEKAT" (Penyakit Masyarakat) maka wanitalah yang dimaksud sebagai penyakit itu. Bahwa kalau ada operasi "Berantas Maksiat" maka wanitalah yang dianggap sebagai sumber maksiat. Buktinya, kalau ada razia di tempat hiburan malam maka yang dituduh sebagai PSK ya para wanita itu. Mana ada laki-laki normal yang ditangkap, dilecehkan dan digelandang ke kantor polisi karena dituduh sebagai PSK. Tidak ada!!!


Kalau begitu bagaimana cara untuk menggagalkan konspirasi ini...? Hm, mudah saja. Mari kita ubah istilah PSK menjadi PSP (Pekerja Seks Perempuan) agar kelak masyarakat bisa berasumsi bahwa kalau ada PSP berarti ada pula PSL (Pekerja Seks Laki-laki) Serta PSW (Pekerja Seks Wadam). Ya, hanya itu kok. Dan hasilnya persepsi kita tentang wanita akan kembali seperti dulu, seperti sebelum konspirasi ini membelenggu benak kita.










Sabtu, 23 September 2006

Berkumpulnya kembali teman2 SMA


Sesuai Janji saat di yogya, akhirnya foto ini daku upload juga. Semoga skripsinya cepet kelar zun... (ditunggu makan-makannya)




Gambar diambil pada saat syukuran wisudanya teman kami Ginting Tri Pamungkas . Selamat Think, semoga lekas memperoleh pekerjaan yang diinginkan. Tidak dihinggapi sindrom aneh yang biasa diidap para sarjana baru yang masih "Klangen" dengan kehidupan mahasiswa.

Ayo Gie.., Kapan dikau wisuda...?
WADEZIG....!!!!
DUAKKK...!!!

Anu.., Silahkan Klik Untuk Enlarge dan See The Comment That I Made With The Hard Dificculty In The Warnet
(bahasa inggrisnya udah bener kan yah...?)

Selasa, 05 September 2006

Download Gratis Artikel Islam, Buku Islam / ebook Islam, Ebook Kristologi, MP3 Ceramah Kristologi & Kumpulan website Harun Yahya berbahasa Indonesia

http://www.geocities.com/pakdenono/home.htm
Jika anda ingin memiliki buku-buku/artikel tentang keislaman.., tentang kristologi atau ingin mendengarkan file audio hasil capturing dari VCD ceramah Hj. Irene Handono dan DR. H. Sanihu Munir SKM, MPH namun keinginan tersebut terganjal oleh masalah biaya

Maka anda termasuk orang yang layak untuk mendownload file-file yang tersedia di situs ini.

File e-book tersedia dalam format CHM yang bisa dibaca secara offline. Dan situs ini menyediakan link dimana anda dapat mendownload program untuk membuat file chm sendiri.

File MP3 dipecah menjadi beberapa bagian yang lebih kecil agar dapat lebih mudah di download

Tersedia juga link menuju ke Alquran online, lengkap dengan terjemahannya (dan bisa di copy-paste)

Akan tetapi bila suatu saat anda diberi keluasan rejeki maka sudah selayaknya anda membeli buku tersebut karna setahu saya tidak semua file disini sudah memperoleh ijin untuk dijadikan e-book. Jadi anggap saja bahwa situs ini menyediakan semacam review superlengkap tentang buku yang ingin anda miliki

Dan asyiknya lagi bila suatu saat situs ini mengalami masalah, disediakan link menuju ke situs lain yg berisi materi yang sama. Jadi urusan download-mendownload dan irit-mengirit dapat jalan terus

Selamat mendownload

Selasa, 15 Agustus 2006

Puisi Mual

Sungguh, aku selalu merasa mual tiap kali melihatmu
Seperti ada yang meremas dan menusuk-nusuk lambungku
Sungguh, rasanya begitu mual
Hingga tak ingin lagi ku memikirkanmu


Tapi, .... Ugh ..... Gimana Yah...
Ghhk., Hoeeekkhhh
Grrhhhh
Hok..., Hoeeekkhh.. Uhuk,.....
Urrghh


Uhk.., Tolong deh
Tolong pergi dari otakku
Pergi aja deh, jangan lagi hantui aku
Aku...
Aku gak tahan lagi, .. Sungguh ....
Toloo..., Ghhk... Ugh ...
Grrhh ...  Hooeekkkhhhh ......


togie, mei 05
Di ruang kuliah

Rabu, 02 Agustus 2006

Mereka Sungguh Cantik...


Malam senin, 23 Juli 2006

D*** Mode, Purwokerto



Motor Jupiter-Z yang cicilannya tinggal lima bulan lagi itu terlihat
melaju kencang menuju kompleks pertokoan yang cukup terkenal di
Purwokerto. Dan seorang anak muda yang kurus, kumal, berjerawat (tapi
cukup tampan) terlihat bersungut-sungut memboncengkan dua adiknya. Ya,
dia dipaksa untuk menemani mereka berbelanja baju anak-anak. Tak peduli
walaupun saat itu dia sedang terkena flu, mual-mual dan menggigil.



Hawa dingin tak lagi dirasa, angin malampun terus diterjang, hingga tak
berapa lama kemudian mereka sampai ke tempat yang dituju. Sambil
mendongkol pemuda tersebut memarkir motor merahnya, menggendong adik,
dan berjalan masuk menuju ke tempat penitipan barang. Masih dengan
perasaan mendongkol pula, pemuda tersebut bergegas menuju ke tempat
dimana banyak baju anak tergantung rapi. Namun baru saja berjalan
beberapa langkah, tiba-tiba...



Apa coba...? Sebentar, saya ambil minum dulu. Nanti baru cerita lagi. Sebentar ya...



OK, mari kita lanjutkan. Anak muda tersebut tiba-tiba berhenti, dan
terdiam begitu saja. Dengan mulut setengah menganga, dan jantung
berdebar-debar, dia lalu berkata :



"OOOOOHHHH, INDAHNYAAAA..."



Ya.., di toko busana tersebut dia melihat banyak wanita yg mondar-mandir kesana kemari dengan manisnya. Mereka memakai baju biru, jilbab biru, dan celana biru.
Sungguh amat monoton. Namun anehnya, kemonotonan tersebut justru
semakin membuat mereka terlihat cantik, menarik, anggun dan ayu. Sosok
yang seharusnya sangat sulit dicari namun ternyata begitu mudah
ditemukan ditempat itu.



Hm, sebentar Gie. Kenapa kamu heran..? Toh di Purwokerto banyak wanita cantik kan..?



Ya memang, tapi yang ini beda. Mari saya jelaskan dimana perbedaannya.



Baik, pertama. Sebagian besar
wanita cantik di kota ini sesungguhnya tidak secantik seperti yang kita
lihat. Mereka terlihat cantik karena didukung oleh ramainya polesan
kosmetik serta canggihnya teknologi make-up. Ya, karena itulah mereka
terlihat cantik. Saya jamin, tanpa itu semua mereka akan terlihat
biasa-biasa saja. Jadi dapat dikatakan bahwa yang cantik itu kosmetik yang mereka kenakan, bukan orangnya.



Kedua, walaupun sebagian dari
mereka pada dasarnya tidak cantik, namun karena didukung oleh busana
yang minim, seksi, hmm, wahh, cihuii dan aduhai, maka kita sebagai kaum
lelaki tanpa sadar sering menganggap bahwa mereka itu cantik. Ya,
lagi-lagi bisa dikatakan bahwa kecantikan tersebut ditimbulkan oleh
busananya, bukan orangnya.
Buktinya sering kita temui wanita yang di suatu hari terlihat sangat
cantik (atau seksi...?) karena memakai gaun tertentu, akan tetapi di
lain waktu terlihat biasa saja saat sedang mengenakan kaos oblong.



Ketiga. ada juga wanita yang
sebenarnya biasa saja, namun dia terlihat lebih cantik karena pengaruh
dari lingkungan tempat dia berada. Contohnya seperti ini, ada seorang
wanita yang tidak begitu cantik namun dia mempunyai "gank" yang
anggotanya terdiri dari wanita-wanita supercantik. Nah, kalau kita
(sebagai laki-laki) melihat dia berada diantara teman-teman satu gank
nya, maka secara sekilas kita akan melihatnya sebagai wanita cantik
pula, secantik teman-temannya yang lain. Perbedaan itu hanya akan
tampak bila kita mengamatinya dengan lebih detail. Namun sayangnya,
kita jarang melakukan itu.



Dan terakhir, ada juga wanita yang memang pada dasarnya sangatlah cantik. Namun, karena "salah" dalam berbusana maka kecantikan tersebut jadi tidak terlihat.



Tunggu Gie, kok pendapat kamu makin ngawur saja..? Mana ada wanita
cantik yang terlihat tidak cantik..? Itu mah tayangan sinetron, tidak
riil.



Oh, benarkah..? Tidak juga kok. Baik, Mari kita lihat lagi.



Saya sedang tidak bercerita tentang tayangan sinetron, dimana banyak
artis cantik yang disuruh berperan sebagai orang jelek. Yang sayangnya
peran tersebut hanya didukung dengan peralatan seadanya. Sedikit debu
diwajah, pakaian yang compang-camping, dan model rambut yang "sedikit"
amburadul. Lalu kita sebagai penonton dipaksa untuk menganggap dia
tidak cantik. Oh, yang benar saja hai kawanku. Tentu bukan seperti itu.



Yang saya maksud adalah, seringkali saat kita melihat seorang wanita
yang kecantikannya jauh diatas standar baku di negeri ini, maka saat
itu pula kita melihat bahwa kecantikan tersebut dibalut pula dengan
busana yang terlalu sensual sehingga kita tidak sempat untuk
melihat  kecantikan yang ia punya. Kita tidak bisa melihat
kecantikan alaminya. Dan yang lebih parah lagi, kadang-kadang busana
tersebut malah membuat mata kita buta. Kita tidak bisa melihat lagi
kecantikan yang ia miliki karena mata, hati dan pikiran kita sudah
terobsesi oleh faktor eksternal yang ada. Dan kadang-kadang, berubah
menjadi perasaan untuk menjamah dan memiliki.



Yang namanya kecantikan itu seharusnya adalah "sesuatu yang membuat laki-laki memujanya", bukan merendahkan dan berpikir kotor tentangnya.



OK, sekarang ijinkan saya bercerita tentang apa yang si kurus lihat di
toko tersebut. Disana penuh dengan bidadari. Mereka cantik-cantik. Oh,
saat melihat mereka rasanya hati pun berubah menjadi begitu tenang,
begitu damai. Perasaan dongkol yang tadinya bergemuruh pun sirna begitu
saja. Tapi jangan salah sangka hai kawan, kecantikan mereka berbeda
dengan definisi cantik seperti yang kau pikir selama ini.



Sebenarnya, wajah mereka biasa saja. Tubuh mereka pun tidak tinggi
semampai atau berliuk-liuk seperti biola. Namun entah kenapa hanya
dengan melihat mereka saja bisa membuat kita langsung kagum dan
bergumam "duhai cantiknya".
Dan anehnya, otak  kita pun pasti masih tetap jernih, tak ada
pikiran kotor apa-apa. Tak seperti saat dulu kita duduk-duduk di kolam
renang dan dengan PEDE nya menganggap bahwa semua wanita disana itu cantik. Tak peduli bagaimana wajahnya, yang penting pakaiannya.Tentu bukan seperti itu



Oh, jadi keempat perbedaan itu terletak di busana dan faktor eksternal
lainnya ya Gie. Kalau begitu sama saja dong. Kenapa harus dipisah
menjadi tiga..?



#GUBRAK!!! TERSERAH SAYA DONG!!! HUH!!!



OK, kita kembali ke bidadari tersebut. Andai kamu juga melihat senyum
mereka hai kawanku. Saat melihat mereka tersenyum manis, entah kenapa
tanpa sadar si kurus jerawatan itu pun ikut tersenyum. Coba kamu pikir,
wanita secantik apa yang bisa membuat tersenyum seorang laki-laki yang
sedang berada di puncak amarah..?



Dan mari saya katakan satu hal kepadamu hai kawan. Andai saja di muka
bumi ini betul-betul ada mahluk yang bernama bidadari, saya berani
menjamin bahwa penampilan merekapun sederhana saja. Sama seperti apa
yang saya lihat di toko itu. Mereka tak perlu kaus singlet yang dipadu
dengan celana ketat atau rok mini, hanya agar mereka bisa tampil cantik
dan pantas untuk dipuji sebagai bidadari.



Duhai kecantikan, segeralah kau ber-maujud ke muka bumi. beritahukanlah
siapa dirimu sebenarnya. Agar mereka lagi salah  mengenalimu, agar
mereka tidak terus tertipu.



Dua jam kemudian, si kurus itupun berbaring santai di kamarnya. Dia tersenyum simpul sambil bergumam "Mereka Terlalu Cantik..."