Jumat, 13 Oktober 2006

Arjuna Mencari Mati

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Redi Panuju
Diambil dari :
Kata pengantar Penerbit
Pustaka Pelajar Yogya




Jika Buta Cakil atau Gendir Penjalin diceritakan sebagai tokoh yang jahat keliwat batas sampai publik muak mendengarnya, itu sudah biasa. Tapi bagi Redi Panuju, Cakil adalah sosok yang luas biasa. Redi menceritakan cakil sebagai sosok yang sangat altruisme, lebih dahsyat ketimbang Yudhistira yang dianggap sementara orang sebagai individu yang sangat ikhlas dalam hidup sampai darahnya digambarkan berwarna putih. Tapi bagi Redi Panuju, Cakil menjadi sosok pahlawan sejati. Cakil adalah sosok yang rela tampil dalam kekalahan demi menyenangkan dalang dan penonton. Cakil adalah sosok yang lugu sepenuh jiwa sampai wajahnya yang buruk dibiarkan menganga. Sementara pada peradaban modern muka kita selalu menyembunyikan apa adanya; disapu dengan bedak, didempul dengan salep bahkan bila perlu dioperasi plastik biar keren. Sulit ditemukan dalam realitasnya orang mau dicakilkan seperti itu.

Bukan hanya cakil yang dibuat irono oleh Redi dalam novel ini. Arjuna yang selama ini diyakini sebagai tokoh bajik yang membuat mabuk para dara cantik, di tangan Redi, Arjuna dibuat frustasi karena kelaminnya dihabisi Banowati. Sampai akhirnya bersama dengan hilangnya kelamin yang dibanggakan, hilang pula rasa hidupnya. Arjuna mencari mati dengan bunuh diri. Perjalanan arjuna mencari mati ini menjadi parodi yang lucu sekaligus pilu.

Dan ternyata Duryudana yang dianggap sebagai simbol kejahatan, justru diteropong Redi sebagai sosok yang penuh welas asih. Duryudana menyerahkan tahta hastina secara ikhlas karena keinginannya untuk menjadi pertapa. Tetapi Yudhistira yang memperoleh limpahan itu tetap mencurigai dan membuat ulah terhadapnya.

Dalam novel ini juga muncul sosok manusia bumi bernama Tegar, yang tersesat dalam rimba pewayangan hingga sembilan bulan lamanya. Ketika kembali lagi ke bumi pacarnya hampir melahirkan. Anak Tegar atas hubungan gelapnya dengan gadis bernama Ratna ternyata dilahirkan dengan sosok mengerikan. Bertaring dan cerdas bukan kepalang. Begitu lahir si bayi sudah mampu berkata, "Papa, I love you, Papa!". Kenyataan tersebut membuat Tegar pingsan kembali untuk kedua kalinya, entah untuk berapa lama. Novel ini meskipun ceritanya terkesan absurd, tetapi banyak pemikiran-pemikiran baru yang dilesakkan Redi melalui dialog maupun cerita.

Boleh dibilang inilah novel yang membongkar keyakinan yang oleh masyarakat dianggap pakem. Redi mendekonstruksi bangunan nilai itu dengan berani sekaligus nyentrik.

Selamat menikmati

Soto Sufi dari Madura

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:D. Zamawi Imron
Prolog :
Oleh, K.H.A. Mustofa Bisri


Meski punya rumah yang apik dan teduh, D. Zamawi Imron adalah seorang yang suka - atau dipaksa - berkelana. Karenanya dia banyak bertemu dan berkenalan dengan orang dengan berbagai ragam perilakunya. Dia bertemu dan berkenalan dengan berbagai kalangan dan lapisan; mulai dari kyai, seniman, penyanyi, artis, pengusaha, hingga tukang ngarit dan pemetik daun tembakau. Kelebihan dan sekaligus keuntungan penyair alam ini ialah: dia dianugerahi Tuhan tabiat suka bergaul dan semangat untuk belajar kepada dan dari siapa dan apa saja. Itulah barangkali sebabnya dia tidak pernah merasa rendah diri atau sebaliknya sombong dan tinggi hati. Maka diapun 'kaya' tanpa orang mengetahui darimana dia 'memperoleh' kekayaannya. Min haitsu la yahtasib istilah santrinya.

Kebiasaan lain penyair pemegang rekor pencipta puisi termahal ini, ialah membagi kekayaannya kepada orang lain. Salah satu kekayaannya yang dibagikan kepada kita sekarang ini adalah hasil 'pengelanaannya'. Cerita-cerita sangat pendek tentang manusia, tentang kita.

Dari yang sederhana, Zamawi pun menyuguhkan secara sederhana, nilai-nilai yang tidak sederhana. Misalnya harga diri yang disuguhkan melalui kisah Lurah Sukma (kehormatan semu) dan tukang becak (Jam Bersejarah); keikhlasan yang disuguhkan lewat cerita orang sederhana macam Cong Mat (Memudahkan Jalan). Meskipun ada juga yang boleh disebut tidak sederhana seperti dalam Hakikat Bunga dan Tabligh.

Seperti diketahui, D. Zamawi Imron aslinya adalah penyair. Penyair alam yang hidup dan akrab - kalau tidak menyatu - dengan alam. Rata-rata puisinya, jika lukisan, ibarat lukisan-lukisan Picasso. Terlalu dalam untuk orang awam. Namun seperti diketahui pula, Zamawi sangat akrab - kalau tidak menyatu - dengan orang-orang awam. Maka saya menduga, dia ingin membagi 'kekayaan'nya tidak hanya kepada dirinya sendiri dan orang-orang khas semisalnya, tapi juga 'orang-orang awam'. Maka sebagai penyair, dia hanya bersyair. Selebihnya, dia adalah da'i; baik secara lisan maupun tulisan seperti melalui buku soto sufi-nya ini. Hematnya dalam kata, tidak terlepas dari pengaruh kebiasaannya bersyair. Dan ini tentu menguntungkan para pembaca zaman akhir yang 'sibuk' dan hampir tak mempunyai waktu untuk membaca.

Mengingat kebiasaan Zamawi berkelana dan bergaul serta keahliannya menulis dan bertutur, saya menduga buku soto sufi dari madura ini akan terus disusul dengan buku soto sufi dari madura II, II, IV, dan seterusnya. Semogalah demikian.

Kamis, 12 Oktober 2006

Rabu, 11 Oktober 2006

Sudahlah terima saja parsel itu, tapi...

Sekali lagi, pemerintah mengeluarkan statement yang sebegitu anehnya. Entah karena mendapat wangsit atau entah karena apa, tiba-tiba saja pemerintah menghimbau kepada para pejabat untuk tidak menerima parsel dari para pengusaha maupun dari bawahannya. Hal tersebut dimaksudkan untuk memperkecil peluang terjadinya KKN di negara kita. Begitulah kata berita di televisi swasta.

Dan seperti yang sudah saya duga, gelombang protes pun akhirnya datang dari para pebisnis parsel di ibukota. Wajar saja, karena mereka adalah pihak yang merasa dirugikan oleh kebijakan ini. Kabarnya jumlah pesanan parsel yang mereka terima turun hingga beberapa puluh persen dari biasanya. Jadi wajar kalau mereka kecewa.

Ya, dilematis memang. Bila para pejabat masih saja menerima parsel, maka kolusi antara pengusaha hitam dan pejabat yang biasanya berkedok silaturahmi akan tetap lestari. Namun jika dilarang, pebisnis parsel akan rugi. Para bawahan pun begitu. Karena saya yakin bahwa diantara beribu pejabat di ibukota, pasti ada beberapa yang mempunyai akhlak mulia sehingga dihormati bawahannya. Jadi wajar saja jika di hari lebaran, para bawahan ingin mengekspresikan rasa cinta, sayang dan hormat pada atasan mereka lewat parsel.

Lalu tak adakah solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini...? Hm, sebenarnya ada. Dan itupun sangatlah sederhana. Namun untuk melaksanakannya diperlukan kelapangan dada dari para pejabat, pengusaha maupun para bawahannya.

Solusinya mungkin seperti ini, bagaimana kalau para pejabat itu membuat pengumuman bahwa mereka bersedia menerima bingkisan parsel, uang, perhiasan, dan barang mewah lainnya. Namun mohon diumumkan juga bahwa bingkisan tersebut harus dialamatkan ke panti asuhan, panti jompo, kampung pemulung, atau ke tempat lain yang sebelumnya telah ditentukan oleh pemerintah. Intinya, salurkan parsel tersebut pada mereka yang membutuhkan.

Kalau para pengusaha memang ingin mengirim bingkisan, silahkan dikirim saja. Kalau para bawahan ingin memberi tanda mata pada atasannya, silahkan berikan saja. Para pejabatpun tidak akan dituduh KKN, lha wong mereka tidak menerima apa-apa kok. Kalaupun nanti ternyata jumlah pesanan parsel tetap berkurang, ya tinggal salahkan saja para pengusaha. Kenapa mereka rela mengirim parsel pada pejabat tapi tak mau mengirim parsel pada kaum dhuafa. Bukankah secara tidak langsung ini membuktikan bahwa parsel yang mereka kirimkan pada para pejabat itu memang disertai dengan maksud-maksud tertentu. Memang, boleh jadi para pembuat parsel akan rugi tapi mereka pasti takkan terlalu kecewa karena telah mengetahui bahwa selama ini parsel yang mereka buat dengan sepenuh hati hanya dijadikan kedok untuk menutupi kegiatan busuk pengusaha, pejabat dan bawahannya.

Simple kan...? Jadi tidak usahlah berdebat kusir lagi tentang masalah parsel.

Tetapi, efektifkah solusi ini? Saya kira ya. Sekarang bayangkan saja, Misalnya jumlah pejabat di ibukota adalah seribu orang dan seorang pejabat biasa dikirimi tiga buah parsel. Maka total parsel diterima sebanyak 3 x 1000 = 3000 buah. Jumlah yang cukup banyak untuk dibagikan kepada anak-anak yatim yang menghuni 30 panti asuhan berkapasitas seratus orang. Ah padahal jumlah pejabat di Jakarta pasti lebih dari seribu orang.

Link :
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2006/10/061009_lebarangifts.shtml
http://www.antara.co.id/seenws/?id=44083

NB : Catatan dari mahasiswa yang belum pernah sekalipun mendapat kiriman parsel

Sabtu, 07 Oktober 2006

linux.or.id | Media Online Komunitas Linux Indonesia

http://www.linux.or.id/
Linux merupakan OS yang lumayan handal, namun juga lumayan sulit untuk dipelajari. Sayangnya, informasi tentang OS ini sebagian besar ditulis dalam bahasa inggris yang bagi orang awam terasa lebih menyeramkan bila dibandingkan dengan tampang garang anggota "Komisi Disiplin" di Ospek kampus

Nah, website ini menyediakan informasi bagi kita yang ingin tahu lebih banyak tentang linux tanpa harus bersusah payah membuka kamus atau mengaktifkan transtool.

Jadi, selamat belajar

Thriller : Misteri dibalik hilangnya pulsa saya

Hari jumat tanggal 29 september 2006
pukul setengah enam sore saya membeli voucher mentari senilai sepuluh
ribu rupiah. Bila ditambah dengan sisa isi ulang bulan kemarin maka
total pulsa yang saya punyai adalah Rp. 10.950,00. Nah, pulsa sebanyak
itu kemudian saya gunakan untuk menelpon bapak dan mengirim dua buah
sms pada teman saya. Salah satunya kepada saudari Zuni
yang isinya tidak lain adalah "Memamerkan" banyaknya pulsa yang saya
miliki. Saat itu pulsa yang tersisa seharusnya sekitar sembilan ribu
rupiah lebih sedikit.



Nah, pukul satu dini saya kembali memeriksa sisa pulsa karena
rencananya saya ingin pamer-pamer lagi dan saya butuh data pulsa yang
akurat. Tapi celakanya, tanpa disangka dan diduga-duga ternyata pulsa
yang dideteksi hanya sebesar Rp. 3.215,00. Tidak lebih.



Lah kok bisa...?



Ya mana saya tahu, pokoknya tiba-tiba sisa segitu lah.



Awalnya saya mengira bahwa saya sedang mengalami mimpi buruk. Lebih
buruk dari rona muka George W Bush saat harus menahan buang air besar
di sidang umum PBB. Namun ternyata perkiraan saya salah. Kehilangan ini
adalah sebuah realita, yang harus saya terima dengan lapang dada.



Karena itu pula pada saat makan sahur, saya menginterogasi seluruh
anggota keluarga. Baik yang berusia tua, muda, pria ataupun wanita.
Mereka saya tanya perihal kehilangan ini. Namun jawaban yang mereka
berikan ternyata sama.



"HP kamu kan di password Gie, mana bisa kami pakai..? Huh, sukurin"



Duh, akhirnya dengan rasa putus asa saya mencoba menghubungi operator
di nomor 222. Tapi seperti yang sudah saya duga, mbak operator yang
suaranya merdu itu tak kunjung menjawab panggilan saya. Number Busy
katanya.



Ah, jangan-jangan dia telah melupakan saya...



Dan akhirnya sampai sekarang inipun, saya belum mengetahui kemana pulsa
saya pergi. Dia hilang tanpa jejak, tanpa pamit, maupun tanpa permisi.
Andai saat itu saya sempat mengucapkan salam perpisahan padanya. Salam
perpisahan paling indah yang belum pernah tertulis di buku-buku sastra.
Perpisahan indah yang penuh kata-kata manis, gelak tawa, dan juga
airmata. Perpisahan indah yang.............



Ah.., andai saja kutahu kemana dirimu pergi. Pastilah kan slalu kucari.
Segunung harta kan kudaki, lautan wanita cantik kan kusebrangi. Demi
untuk mendapatkanmu lagi.



Selamat tinggal pulsaku, semoga kau temukan kebahagiaan disetiap jejak langkahmu.