Rabu, 08 November 2006

Cerita tentang pohon mangga milik saya


Pagi ini, saya lihat lagi buah mangga yang tergantung rimbun pada pohonnya. Jumlahnya sekitar 80 buah. Ya, cukup banyak memang. Sehingga saat panen tiba diperlukan tiga karung besar untuk menampung semuanya.

Ah, saya jadi teringat peristiwa sebulan lalu dimana saya melihat pohon-pohon ini juga, dengan perasaan gembira. Ada tiga buah pohon mangga ditempat saya yang alhamdulillah sudah berbuah semuanya. Masing-masing mempunyai buah lebih dari 50 butir. Saat itu saya membayangkan bahwa kelak buah ini akan saya petik semuanya, saya simpan hingga matang dan sebagian akan saya bagikan pada teman-teman di kampus. Mereka pasti senang. Maklum saja, namanya juga anak kost. Jadi lebih baik buah mangga itu saya barter kan dengan catatan statistika yang mereka punya. Hm, lagipula kalau hanya diberikan pada empat atau lima anak pasti cukuplah, dirumah pasti masih ada sisa.


Sayangnya, peristiwa itu terjadi sebulan yang lalu. Sekarang buah mangga yang tersisa paling tinggal separuhnya. Ya, di kampung saya memang banyak superhero musiman, banyak BATMAN (Manusia Kelelawar) yang doyan mangga. Yang kalau siang sekolah atau bekerja tapi malamnya suka nangkring entah dipohon mana. Jadi wajar saja kalau saya pun jadi salah satu korbannya,


Apalagi bulan ramadhan kemarin beberapa anak kecil yang suka nongkrong di masjid secara baik-baik meminta buah mangga pada saya, dan dengan bijaksana saya jawab dengan berkata "Nanti ya, kalau sudah matang saja". Mereka pun menurut walaupun ada sebagian anak yang menunjukkan wajah cemberut.


Kemudian ada lagi, ternyata banyak juga laporan yang masuk pada saya. Katanya si A suka mencuri mangga. Jadi dengan garang saya labrak dia. Tapi coba bayangkan apa yang terjadi..? Dia berkata seperti ini : "Lho mas, wong si B aja juga ikut ngambil kok...!". OK, jadi selanjutnya saya temui si B tapi dia pun mengadukan perbuatan si C. Saat saya marahi si C dia melaporkan aksi kriminalnya si D. Dan saat saya ancam si D dia malah memberikan informasi tentang si E. AARRGGHHH...!!!!


Pada akhirnya saya menggunakan opsi terakhir yang saya punya. Buah mangga yang hilang itu saya ikhlaskan saja, toh musim depan insya Allah saya masih bisa menikmati mangga ini lagi. Dan yang pasti, saat itu pohon mangga milik saya pasti sudah lebih besar, buahnya lebih banyak, rasanya lebih manis dan enak.


Lagi pula mungkin saja para superhero itu, para BATMAN, BATCHILD dan BATADULT itu memang tidak berniat untuk mencuri mangga. Mungkin mereka malu kalau harus berbicara secara langsung dengan pria setampan saya. Jadi wajar kalau mereka minta ijin secara diam-diam, dari hati ke hati, lewat telepati. Walaupun pasti permintaan tersebut tidak sampai pada saya. Lha wong saya ini bukan orang sakti. Tapi berpikir positif saja lah. Yang baik-baik saja.


Tapi apakah tindakan saya ini bijaksana..? Saya rasa sih iya. Coba kalau saya bersikeras untuk tidak memaafkan mereka, hati ini pasti dongkol jadinya. Marah, mangkel, kesuh dan misuh-misuh yang tak tentu rimbanya. Benar-benar mengganggu kegiatan saya. Jangankan saat sedang kuliah di kampus, lha wong saat shalat saja terkadang yang saya ingat cuma buah mangga kok..., kurang khusyu rasanya.


Jadi ya itu tadi, semoga saja mereka tahu bahwa kalau masing-masing orang hanya mengambil satu atau dua buah saja sih tidak apa-apa. Saya ijinkan. Agar nanti mereka tidak dikategorikan berbuat dosa soalnya kalau sudah dapat ijin ya bukan mencuri lagi namanya.



Purwokerto, 07 nov 2006


Togie de Lonelie


 

Tribute to Tarmo : Pertengkaran Kita Saat Itu


Seperti yang sudah diketahui oleh sebagian besar penduduk kampung ini bahwa saya dan Tarmo adalah sepasang sahabat yang tak terpisahkan. Semenjak SMP, SMA bahkan hingga hari kelulusan tiba kami selalu berbagi suka dan duka. Main, nongkrong, ngopi atau merokok bersama. Latihan silatpun berangkatnya berdua. Bahkan pernah suatu kali di Stadion Mini, di depan bioskop Rajawali kami sama-sama dikejar waria, yang mungkin merasa marah dan tidak terima karena Tarmo berbuat usil sambil memperlihatkan giginya. Ya, seperti itulah kami, selalu bersahabat tanpa pernah bertengkar sekalipun.

Tunggu Gie.., tidak pernah sekalipun..? Eh, sebenarnya pernah ding, tapi cuma satu kali. Itu pun hanya seminggu lamanya. Dengan alasan yang sama sekali tak bisa dicerna Logika. Tapi biarpun begitu, pertengkaran tersebut tidak bisa dianggap remeh. Sebab saking marahnya kami jadi saling menghina. Tak lagi bertegur sapa, selalu menghindar jika bertatap muka.


Sebenarnya penyebab pertengkaran itu amatlah sederhana. Dulu kami pernah berjanji untuk berkelahi. Saling baku hantam dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki. Kegiatan yang sudah beberapa kali dilakukan namun hasilnya tetap saja seri. Tak ada yang menang, tak ada yang kalah. Nah, tetapi secara sepihak saya batalkan rencana itu. Jadi wajar kalau dia marah.


Begitulah. Singkat cerita, pertengkaran itu kami isi dengan saling mencaci maki secara sembunyi-sembunyi. Entah kenapa saya merasa amat bahagia melihat dia menderita, dan akan bermuram durja jika melihat dia sedang puas tertawa. Kami berlomba untuk saling membeberkan aib lawan. Saya mengadukan perbuatan dia yang dulu saat SMP selalu mengajak membolos les komputer dan latihan pramuka. Dia juga balik bercerita tentang kelakuan saya yang hanya mau ditraktir tanpa pernah membalasnya. Disaat sibukpun terkadang kami masih menyempatkan diri untuk saling membenci, memikirkan cara untuk saling menjatuhkan. Terkadang saya berdoa agar dia ditimpa kemalangan. Entah itu salah potong rambut, salah makan, ban kempes di jalan, atau kemalangan yang lain. Intinya, penderitaan dia adalah kebahagiaan buat saya.


Lho, benarkah segawat itu..? Saya kira iya. Sebab para penduduk kampung pun dibuat heran oleh kami. Mereka seakan tak percaya pada apa yang sedang terjadi. Sepasang sahabat yang berjenis kelamin laki-laki, yang dari dulu telihat akrab sekali, hingga ada yang berkata bahwa andai saja kami ini berlawanan jenis pasti sudah dijodohkan menjadi suami istri tiba-tiba saja terlibat dalam perang dingin yang hebat. Dua RT yang bertetangga, yaitu RT saya dan RT nya dia diliputi suasana mencekam, seakan sedang menghadapi teror dalam pekatnya malam.


Untunglah seminggu kemudian perang dingin tersebut mencair dengan mudahnya. Mas Tarsan, seorang ustadz sekaligus pengurus mushalla berusaha untuk mendamaikan kami. "Seorang laki-laki tidak boleh bermusuhan dengan saudaranya selama lebih tiga hari" begitu kata beliau. Lalu...


DEG..!!!!!


Tiba-tiba saya tersadar bahwa ternyata kami terlalu kekanak-kanakan. Menghabiskan begitu banyak waktu untuk saling bermusuhan, yang bahkan penyebabnya pun sudah hampir kami lupakan. Duh Gusti..., betapa khilafnya diri ini.


Akhirnya dengan sedikit canggung dan jaga gengsi kami saling mengulurkan tangan, saling memaafkan, berbaikan dan mengakhiri segala pertengkaran. Rasa kesal yang selama beberapa hari terakumulasi dalam hati pun seakan sirna dengan sendirinya. Rasa was-was berganti dengan ketenangan yang amat menentramkan. Rasanya plong, damai, bebas, lepas, dan.. Ah, entah kata apa lagi yang pas untuk menggambarkan perasaan yang saya alami.


Sebenarnya sampai sekarang pun saya masih menyesali pertengkaran tersebut. Tapi saya juga bersyukur, karena ternyata cukup dengan membuka hati untuk saling memaafkan maka rasa permusuhan yang ada dapat sirna dengan mudahnya.


Purwokerto, 7 Nop 2006


Togie de Lonelie

Alasan untuk tidak meminta maaf


1. Dia lebih muda dari saya. Dia harus menghormati saya. Karena itu seharusnya dialah yang meminta maaf pada saya.

Saya rasa yang paling tepat justru sebaliknya. Anda sebagai pihak yang lebih tua harus memberi contoh pada mereka yang lebih muda. Sebab kalau yang tua saja tidak bisa dijadikan teladan, tidak mau meminta maaf, siapa nanti yang jadi panutan anak-anak kita.


2. Dia kan lebih tua, jadi seharusnya dia mau memberi contoh, mau berbesar hati meminta maaf pada saya.



Lho bukankah sudah jadi tradisi bahwa kita harus menghormati orang yang lebih tua. Tidak pantas rasanya jika mereka yang terlebih dahulu meminta maaf pada kita. Pamali namanya. Buktinya saat lebaran tiba para anak mudalah yang sungkem pada orang tuanya. Bukan malah sebaliknya.


3. Dia yang salah, karena itu dia yang harus meminta maaf


Nah itulah masalahnya. Karena sudah berbuat salah dia pasti merasa canggung dan gengsi kalau disuruh meminta maaf. Pasti malu kalau harus terang-terangan mengaku. Karena itu pula sebaiknya kita lah yang terlebih dahulu memulai untuk meminta maaf. Agar kelak kecanggungan itu berkurang hingga dia bisa berkata "Maafkan aku juga ya.., sebenarnya aku yang salah.."


4. Yang salah itu saya, karena itu saya malu mengakuinya


Wah kalau begitu anda bersiap-siap saja masuk neraka. Tuhan maha pengampun, mau memaafkan dosa kita. Tapi kesalahan yang dilakukan pada orang lain, harus terlebih dahulu mendapat maaf darinya. Kalau tidak ya tanggung saja resikonya.


5. Dia kan pria sedangkan saya wanita. Sudah sepantasnya dia meminta maaf pada saya.



Oo, begitu. Asal tahu saja ya bahwa dalam hidup berumah tangga seringkali istri menjadi pihak yang harus terus mengalah. Harus mau mengurus rumah, membimbing anak, memasak, tanpa punya banyak kesempatan untuk protes pada suami. Jadi lebih baik sekarang minta maaf saja sana. Hitung-hitung latihan melapangkan dada agar saat nanti berumah tangga tidak kaget.


6. Saya ini laki-laki. Jantan, tampan, rupawan. Masa harus meminta maaf pada wanita..? Gengsi lah ya...


Bah kalau begitu anda ini laki-laki tak tahu diri namanya. Anda ini kan laki-laki, kelak akan jadi suami yang memimpin anak istri. Kalau tidak bisa berbesar hati, lebih mementingkan ego dan gengsi, bagaimana bisa anda menjadi suami yang baik..? Yang dapat mengayomi keluarga..?

Senin, 06 November 2006

Love at the first sight, Hm...?

Love at the first sight atau cinta pada pandangan pertama sangatlah tidak masuk akal, itu yang sering saya dengar dari orang dewasa. Di berbagai ceramah, selebaran, mading, surat kabar, mailling-lits maupun blog, banyak dibahas teori dan alasan yang mendasari mustahilnya cinta jenis ini. Ada alasan yang masuk akal & realistis ada pula alasan yang jauh dari logika dan akal sehat. Semuanya ada, lengkap dengan pro dan kontranya. Namun sayang, berhubung daya ingat yang mengenaskan karena malas menghafal maka kalau disuruh menyebutkan teorinya satu-persatu saya menyerah saja. Lebih baik angkat tangan sambil menundukkan kepala daripada harus mengobrak-abrik memori yang bertumpuk tak beraturan diotak saya.


Salah satu alasan yang ajaibnya masih bisa saya ingat adalah bahwa love at the first sight itu merupakan cintanya anak ABG yang sama sekali tidak dewasa. Yang belum bisa membedakan antara cinta, nafsu, kagum, ataupun sekedar rasa suka. Yang bahkan akan bingung tak karuan jika ditanya tentang komitmen, tanggung jawab, toleransi, cara menghargai, sikap saling mengerti, dan hal rumit lain yang terkandung dalam cinta. Sehingga bisa disimpulkan bahwa kalau ditanya hal mendasar saja dia tidak bisa, maka bagaimana mungkin dia mengaplikasikan cinta pada kehidupan selanjutnya. Bagaimana mungkin cintanya anak ABG itu bisa tahan terhadap berbagai gelombang dan kemelut yang dihadapi orang dewasa. Bagaimana bisa disebut cinta jika tidak bisa diaplikasikan dalam kehidupan berumah tangga.


Adapula yang berkata bahwa love at the first sight itu hanyalah segumpal nafsu, yang timbul karena ketertarikan fisik semata. Cinta tanpa memandang sifat, sikap dan kepribadian kita. Sebuah cinta ilusi yang sebenarnya hanya berupa keinginan untuk memiliki.  Contohnya saja, Rasa suka terhadap HP bagus membuat kita ingin memiliki HP tersebut. Rasa cinta terhadap harta membuat kita ingin menjadi orang kaya. Begitu pula cinta terhadap bentuk fisik, yang ternyata hanya berupa nafsu untuk menguasai. Jika suatu saat tubuh rusak karena kecelakaan, penyakit atau usia maka kita sudah tidak perlu lagi untuk mencintai. Begitu teorinya. Lain halnya jika cinta tersebut didasari ketertarikan pada sifat, sikap dan pribadi. Itu lebih tertuju pada keinginan untuk saling memberi, bukan sekedar memiliki. Separah apapun fisik kita, jika sifat dan kepribadian yang dimiliki tetap sama, mungkin cinta itu akan tetap ada.


Namun ternyata ada sebagian orang tetap kukuh berpendapat bahwa love at the first sight itu nyata. Biasanya manusia jenis ini  telah mengalami sendiri apa yang dinamakan cinta pd pandangan pertama. Mereka tipe orang yang dalam waktu sekilas, bisa langsung berucap bahwa dia sedang jatuh cinta. Yang walaupun tanpa ribut-ribut mendiskusikan masalah komitmen dan tanggung jawab tapi bisa berumah tangga dengan bahagia. Hingga mempunyai beberapa anak serta cucu yang berjumlah dua puluh tiga. Jadi walaupun sulit untuk dijelaskan secara teori, namun mereka sudah memiliki bukti. Tak perlulah kita berteori panjang lebar untuk memberi bukti bahwa mata memang berfungsi untuk melihat. Begitu pula manusia dalam kelompok ini, mereka tak perlu lagi memikirkan hal-hal rumit hanya untuk membuktikan apa yang mereka alami.


Untuk mengkompromikan dua pendapat yang berbeda ini, saya punya sebuah solusi. Kalau memang anda berpendapat bahwa love at the first sight itu hanya omong kosong belaka ya silahkan saja. Asal jangan menghina perasaan yang dimiliki oleh kakek-kakek tua, yang enam dasawarsa lalu jatuh cinta pada pandangan pertama, terhadap seorang wanita, yang sampai sekarang masih tetap menjadi istrinya. Tapi kalau anda adalah cowok SMA yang kurus, berjerawat, kumal namun rupawan, yang secara spontan langsung mengklaim telah jatuh cinta pada adik kelas berbadan besar, bermata tajam, ber-aura sangar, serta menjadi anggota perguruan beladiri yang tak pernah kalah melawan seniornya, anda jangan nekat menyimpulkan bahwa itu hanya nafsu fisik semata. Karena siapa tahu saja si do'i marah, sehingga hanya dengan sekali pukul nyawa anda bisa diantar dengan selamat ke alam baka.


Purwokerto, 30-Oktober-2006


Togie de Lonelie

Jumat, 03 November 2006

Puisi : Sebuah Pencarian






Pernah daku bimbang dalam melangkah, layaknya musafir yang kehilangan arah
Kaki ini hanya bisa berjalan mengikuti laju angin
Yang setelah berputar-putar entah kemana, akhirnya kembali lagi ketempat semula
Hh, tak ada kemajuan sama sekali
Tak ada perubahan yang berarti


Pernah pula daku berdoa
Berharap akan datangnya angkutan kota
Yang membawa daku ke kantor polisi, atau kementerian informasi
Hingga bisa bertanya kemana sebenarnya diri harus pergi
Kemana harus pinjam uang untuk beli air minum dan sikat gigi
Dimana bisa numpang mandi, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan lagi


Yang lebih sering adalah, daku menyerah dan putus asa
Marah, protes dan mengeluh tidak terima
Karena tampaknya Tuhan begitu tega, tak mau mengabulkan doa hambanya
Padahal apa sih susahnya bagi Tuhan untuk berkata Kun...
Fayakun
Agar diri ini tak lagi tersesat diruang hampa?


Tapi ternyata daku salah
Tuhan tak memberikan burger atau pizza langsung dari langit saat kita lapar
Tak pula memberi contekan saat kita kalut karena tak bisa mengerjakan soal ujian
Dia memberi pertolongan dengan cara-Nya sendiri, bukan dengan cara kita
Agar kita tidak menjadi manja, agar kita mau berusaha
Untuk meraih keinginan yang terucap dalam setiap doa
Setelah ditunjuki-Nya jalan yang tersedia bagi kita


Ternyata daku lupa
Bahwa Dia selalu memberi petunjuk menurut kemampuan hamba-Nya
Tukang batu, pemulung dan pengemis, profesor, bahkan gembong kriminal sekalipun
Tidak diberi petunjuk dengan cara yang sama
Ada yang rumit, ada pula yang serba sederhana
Pokoknya semua serba berbeda


Ah, tapi terkadang Dia menjawab doa yang sama
Oleh orang yang sama, dengan cara yang sama pula
Seakan ada papan yang bertuliskan rambu-rambu diotak kita
Hingga dengan jelas bisa kita baca tulisan yang ada
"Kamu seharusnya seperti ini lho..., seperti yang dulu itu"
"Ayo.., sekarang berusaha sana"
"Agar tercapai segala doamu..."


Alhamdulillah ...
Akhirnya kegalauan yang selama ini melanda
Bimbang, resah, putus asa, kalut, bingung, tangis, akan satu hal yang sama
Ternyata terjawab dengan cara yang teramat sangat sederhana
Hanya perlu waktu tak lebih dari satu detik, serta beberapa menit sesudahnya
Agar daku tersenyum seketika, dilanjutkan dengan nyengir bahagia
Dan selanjutnya berucap "Ah, ini dia"


Purwokerto, Sabtu 28 Okt 2006


Togie de Lonelie


Keterangan Gambar : Dinding, lukisan, eternit, lampu dan pintu kamar saya. Hihi, bagus ya...?

Senin, 30 Oktober 2006

Survey Dadakan : Kriteria Pasangan Ideal Yang Diinginkan Oleh Pria dan Wanita, Dimana Perbedaannya...?

Selepas hari raya idul fitri, saya dan teman-teman SMA mengadakan silaturahmi sekaligus reuni di Purwokerto. Namun berbeda dengan reuni sebelumnya, sembari berbagi informasi tentang beberapa teman kami yang sudah menikah, para peserta yang masih melajang semuanya ini sepakat untuk mendiskusikan satu topik lagi. Yaitu tentang kriteria suami/istri yang ideal. Diskusipun dimulai dengan sebuah pertanyaan yang ditujukan pada kaum hawa.


"Menurut anda, suami yang ideal itu seperti apa...?"


Dan hasilnya dari empat orang wanita, tiga diantaranya memberikan jawaban yang hampir sama. Wanita pertama ingin mempunyai suami yang sudah mapan dalam bekerja. Wanita kedua menginginkan suami yang sudah memiliki penghasilan tetap. Sedangkan wanita ketiga malah ingin bersuamikan seorang ekportir/importir, entah apa alasannya.


Hanya satu orang yang memberi jawaban berbeda. Dia berkata bahwa yang harus dilihat dari seorang pria adalah dien-nya, sedangkan materi, status dan pekerjaan itu nomor dua. Menurutnya jika seorang pria sudah berani untuk membina rumahtangga, berarti dia sudah mempunyai persiapan yang matang dalam bekerja. Atau paling tidak dia sudah merencanakan dengan baik bagaimana cara untuk menafkahi keluarga. Lagipula bukankah Allah sudah menjanjikan bahwa Dia akan mencukupi rizki umat-Nya yang sudah menikah...?


Dari keempat jawaban diatas perkenankanlah saya menyimpulkan bahwa pada umumnya yang wanita lihat dari seorang pria adalah materinya. Soal tampang, pendidikan dan lain-lain itu nomor dua. Para pria tahu itu. Karena itulah kaum Adam hobi memamerkan harta yang dia punya. Contoh kecil yang bisa kita lihat adalah betapa sukanya mereka memakai mobil mewah, motor bagus, HP keren, dan barang mahal lainnya. Agar para wanita dapat melihat materi yang mereka punya. Maka tidak heran jika istilah cewe matre begitu familiar ditelinga kita, karena memang begitulah kenyataannya. Bagi sebagian besar wanita.


Lain halnya dengan laki-laki. Berawal dari hobi bertanya tidak jelas kesana-sini saya berhasil mengorek jawaban tentang kriteria istri ideal bagi kaum pria. Secara naluri, hal pertama yang dilihat pria dari seorang wanita adalah fisiknya. Berkisar tentang seberapa cantik wajahnya, seberapa langsing tubuhnya atau seberapa manis senyumnya. Setelah itu baru dilihat sifat dan kepribadiannya. Para wanita tahu itu. Karena itulah mereka rela menghabiskan waktu sekian lama untuk berdandan, mengeluarkan begitu banyak uang untuk membeli kosmetik atau melakukan diet habis-habisan. Agar para pria bisa melihat bahwa mereka itu istimewa.


Mungkin pendapat saya terkesan ngawur, lha wong cuma mengambil sample dari empat orang saja kok sudah berani menyimpulkan macam-macam. Anda pasti berpikir seperti itu kan..? Tapi percayalah, bukan saat reuni saja saya mengajukan pertanyaan ini. Di kampus, di MIRC, di YM atau dimanapun juga saya selalu menyempatkan diri untuk bertanya. Dan hasilnya tidak jauh berbeda. Walaupun memang saya akui ada beberapa wanita/pria istimewa yang memberikan jawaban istimewa pula. Misalnya saja saat via YM ada teman yang berkata "Kalau kamu suka daku tapi belum punya persiapan apa-apa, berarti dikau harus sering-sering berpuasa" GUBRAK...!!!. Juga saat Tarmo dengan garang membentak saya "Keterlaluan, penampilan itu bukan yang nomor satu Gie...!!!". Tapi jujur saja, hanya sedikit yang seperti itu. 


Jadi kesimpulannya : Janganlah tersinggung kalau anda dicap sebagai wanita yang matre, karena memang begitulah kenyataannya. Jangan pula marah bila anda dicap sebagai pria mata keranjang, karena itu sesuatu yang normal-normal saja. Namun harap dicatat pula bahwa semua ada aturannya. Matre boleh saja, asal jangan berlebihan. Lirik sana-sini juga sah asal tidak melanggar batas yang ada.


Note : Sayang ada seorang MP-er beserta beberapa temannya yang datang terlambat, jadi tidak sempat mengikusi diskusi aneh ini. Tapi ada untungnya juga ding, soalnya kalau peserta wanitanya bertambah bisa-bisa kesimpulan yang saya ambil nanti berbeda. Dan tulisan inipun tidak akan pernah tercipta.


Gambar diambil dari sini


Purwokerto, 29 Oktober 2006

Togie de Lonelie

Minggu, 29 Oktober 2006

Sepenggal Perjalanan


Togie, adalah seorang mahasiswa yang waktu kecil bercita-cita menjadi seorang petani Saat beranjak dewasa dia mulai gemar membaca berbagai jenis karya sastra. Begitu lulus SMU sangat ingin kuliah di teknik sipil namun ternyata malah diterima di jurusan teknik elektro. Dengan latar belakang yang tidak jelas itulah maka bisa dimaklumi jika tanpa alasan logis mahasiswa yang satu ini tiba-tiba saja jatuh cinta pada dunia blog.

Maka, sambil cengar-cengir dan garuk-garuk kepala dia mulai belajar menulis di multiply. Bukan membuat tulisan indah dan ilmiah, bukan pula mencipta karya sastra yang menggugah jiwa. Ibarat anak kecil yang baru belajar membaca, disini dia layaknya balita yang baru bisa belajar mengeja "ini bapak saya" ataupun baru belajar menulis alif, ba dan ta.

Karena itulah hingga saat ini disamping sibuk membuat berbagai alasan tak masuk akal tentang kenapa setelah kuliah selama empat tahun lebih mahasiswa ini kok belum lulus-lulus juga, dia juga sedang berusaha untuk mencari pembenaran terhadap tulisan-tulisannya yang terkesan amburadul dan tak bertanggung jawab. Rupanya dia tidak tahan terhadap celaan teman-temannya yang ternyata tak satupun suka membaca novel, cerpen maupun karya sastra lainnya.

Dan akhirnya, setelah mengalami berbagai macam peristiwa manusia yang satu ini berhasil menyimpulkan bahwa :

Sehancur apapun tulisan kita, janganlah berhenti untuk terus menorehkan pena. Agar kita bisa terus belajar dan memperbaiki diri. Kalaupun memang nantinya apa yang kita hasilkan tetap begitu-begitu saja, anda jangan putus asa. Toh tulisan kita masih tetap bermanfaat. Karena siapa tahu setelah membaca dengan setengah depresi, akan ada orang yang berkata

"saya harus lebih giat belajar biar nanti tulisan saya tidak sehancur ini. Hii, ngeri...!!!"

Jadi, keep writing & keep learning…!!!

Purwokerto, 26-okt-2006
Ditulis setelah menghadiri silaturahmi/reuni SMA yang membingungkan


Gambar diambil dari sini