Kamis, 11 Januari 2007

Kuliah yang Aneh : Seks Bebas, Jodoh dan Capability



Jono bingung, dia sudah lama berpacaran dengan Tuti, dia sudah sering mengajak Tuti makan malam bersama keluarga namun dia selalu menolak. Malu katanya. Padahal Jono ingin menjalin ikatan yang lebih serius. Dia ingin menikah. Ya, dia ingin melamar Tuti. Karena itulah Jono ingin mempertemukan Tuti dengan kedua orang tuanya, ingin tahu pendapat mereka.

Jono pun mengadu pada bapaknya. Untunglah beliau orangnya pintar dan bijaksana. "Silahkan kalian makan malam di suatu tempat yang romantis, entah di kafe atau restoran mahal. Nanti bapak ikut. Tapi, bapak tidak makan bersama kalian. Bapak makan di meja yang lain saja, agar bisa mengawasi kalian. Agar bisa mendengar pembicaraan kalian. Dengan begitu bapak bisa tahu wajah calon mantu, sekaligus bisa mengetahui kepribadiannya. Bukankah sifat seseorang bisa dinilai dari apa yang dia katakan...? Dengan begini dia tidak akan merasa malu. Bagaimana menurutmu nak..?"

Ah, usul yang bagus. Benar-benar jenius. Tapi Jono masih tetap bingung. "Makan malam yang romantis kok harus diawasi, aneh amat..?" Begitu gumamnya. Tapi tak apalah, namanya juga cinta.

Maka rencana pun dilaksanakan. Malam itu terasa begitu istimewa, mereka berkencan di restoran dekat alun-alun kota. Tuti berbusana bak Cinderella. Dia mengenakan gaun putih dipadu dengan tas cantik yang begitu serasi. Bibirnya merah, merekah, bak bunga mawar, yang baru saja mekar. Sayang dia tidak memakai sepatu kaca, takut pecah katanya.

Tuti membuat semua pengunjung restoran terpana. Lihat saja bapak-bapak di pojok sana, dia tak berkedip menatap sang dewi tanpa menyadari bahwa istri yang duduk disebelahnya terlihat bermuram durja sambil memegang sebilah pisau komando. Oh, andai mereka juga bisa mendengar kata-kata yang Tuti ucapkan. Begitu santun, begitu lembut. Pasti si bapak rela mengobarkan genderang perang dengan istrinya, tanpa peduli bahwa hanya Amerikalah satu-satunya negara yang diijinkan untuk menyerang pihak lain tanpa perlu meminta restu PBB. Ya, semua pengunjung memang terpesona. Kecuali satu orang. Dia adalah bapak Jono. Beliau begitu terkejut hingga berkali-kali menepuk dahi.

Selesai makan malam Jono bingung lagi. Kenapa..? karena sang Bapak tidak setuju dengan wanita pilihannya. Anehnya, si Bapak tidak mau memberitahukan alasannya. "Pokoknya kamu tidak boleh menikahi dia, titik". Cuma itu yang beliau ucapkan.

Jono marah, Jono mangkel, Jono ngamuk. Bolos kerja, tidur di atas meja, itupun sambil bertelanjang dada. Beberapa hari berlalu tanpa perubahan apa-apa. Akhirnya Bapak mengalah. Beliau mengajak Jono keluar, jalan-jalan menikmati suasana malam. "Kita akan bicara sebagai sesama lelaki dewasa". Begitu katanya.

Di warung tenda, dekat lampu merah, mereka pun saling jujur dan terbuka. "Nak, Tuti cantik, Tuti baik, Tuti anggun, Tuti santun. Jujur saja, menurut bapak dia tak ada kekurangannya"

"Lalu kenapa bapak tidak setuju kalau saya memperistri dia..?"

Si bapak diam. Matanya menerawang, bagaikan seorang filsuf yang berkontemplasi untuk menemukan rahasia di balik alam ini. Tampaknya bapak masih ragu untuk menjawab pertanyaan tersebut.

"Lho katanya mau jujur-jujuran, ingin buka-bukaan..? Kok bapak malah diam sih..? Bapak ini serius nggak sih..? Sekarang ngomong dong pak.., kalau tidak saya akan teriak-teriak di atas meja sambil pipis di celana. Serius nih pak, saya tidak bercanda"

"Begini nak.., tapi tolong rahasiakan hal ini dari ibu kamu. Bapak tidak ingin ada huru-hara di rumah kita"

Akhirnya Bapak pun merinding juga, ngeri mendengar ancaman yang keluar dari mulut anaknya.

"Sebenarnya dua puluh tahun lalu, saat ibumu mengandung, dia rewelnya minta ampun. Bapak sering dimarahi, ditendang, dicakar dan dipukuli. Bapak marah nak, bapak pun minggat. Nah, saat itulah bapak bertemu dengan seorang wanita ayu nak. Dia cantik, dia baik, dia sempurna, bak bidadari yang baru turun dari surga. Bapak suka dia dan dia pun juga suka sama bapak. Begitulah nak, hubungan kami terus berlanjut hingga Tuti pun lahir, begitu pula kamu. Namun setahun kemudian setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya bapak memutuskan untuk kembali ke ibu kamu dan berpisah dengan Tuti, anak bapak yang satu lagi. Itulah alasannya nak. Kalian ini saudara kandung. Jadi..."


Gubrak...!!! Jono ambruk, Jono pingsan.

Jono dan Tuti. Sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk kasih. Tapi tidak seperti kisah cinta Siti Nurbaya, yang hanya roman biasa. Tidak pula seperti kisah klasik lainnya yang berjalan dengan apa adanya. Sekarang jaman modern, bukan jaman batu. Tidak ada lagi yang berpacaran sambil malu-malu. Tidak ada lagi ucapan gombal yang diucapkan dengan wajah tersipu. Berpelukan, berciuman, sudah jadi hal biasa. Begitupun perbuatan seram lainnya. Ya, Jono dan Tuti. Walaupun berstatus sebagai pacar, tapi secara fisik hubungan mereka sudah seperti suami istri.

Jono kalut. "Dosa..., dosa..." Begitu katanya. Ya, mereka memang tinggal di Indonesia. Negara agamis yang berpaham pancasila. Yang sila pertamanya berbunyi "Ketuhanan yang Maha Esa". Tapi itu sama sekali tak ada artinya karena walaupun sebagian besar penduduknya beragama islam toh seks bebas begitu merajalela. Apalagi Jono bukan muslim. Dia memang percaya Tuhan, tapi Tuhan yang seperti apa..? Dia sendiripun tidak tahu.

Jono kembali bolos kerja, tidur diatas meja, itupun dengan bertelanjang dada. Untunglah ibu Jono yang terkadang lebih bijak dari sang bapak terusik hatinya. "Pasti ada yang tidak beres dengan anak saya". Ah, firasat seorang ibu memang sakti. Tak pernah salah. Tidak seperti paranormal yang mengklaim bisa menyantet BUSH, tapi sampai sekarang masih saja tak terbukti.

Sang ibu bertanya "Ada apa nak...? ceritakanlah masalahmu, Mungkin saja ibu bisa membantu..." Ah, hangatnya. Kata-kata yang keluar dari mulut ibu memang selalu sejuk hingga tanpa sadar Jono pun mulai bercerita, tanpa peduli lagi bahwa apa yang dia katakan seharusnya menjadi rahasia.

"Ohh, begitu toh. Ya sudah, teruskan saja hubunganmu dengan Tuti. kalau memang cinta, nikahi saja dia. Barangkali Tuti memang jodoh kamu" Begitu saran sang ibu.

"LHO..., KOK...? Kok bisa bu..? Itu kan dosa, haram hukumnya. Itu tidak boleh bu...?"

"Haram..? Dosa..? Haha.., jangan bercanda nak.." Sang ibu pun tertawa.

Purwokerto, tanggal satu desember tahun dua ribu enam, tepat pukul delapan pagi. Ruang kelas mendadak hening. Pak dosen duduk diatas meja, memandang tajam pada mahasiswanya. Di depan beliau, para mahasiswa duduk bengong. Benak mereka penuh dengan tanda tanya.

"Menurut kalian kenapa sang ibu bicara seperti itu...?"
Mahasiswa bengong lalu geleng-geleng kepala.

"Lho, masa tidak tahu...?"
Mahasiswa masih bengong juga.

"Baiklah, kalau begitu saya beritahukan alasannya. Ternyata sebelum sang ibu menikah dengan bapak.."
Mahasiswa mulai tertarik

"Ternyata.."
Mahasiswa saling melirik

"Ternyata sang ibu.."
Mahasiswa tersenyum nakal, sang dosen menahan tawa

"Ya.., benar. Ternyata sang ibu berkata bahwa sebelum menikah dia sudah hamil duluan dengan orang lain. Jadi, biarpun si bapak menanam benih ke kemana-mana, ya tidak apa-apa. Toh Tuti dan Jono bukan saudara kandung. Hebat kan...? Hahaha...!!"

Bapak dosen tertawa, mahasiswa juga. Suasana yang tadinya mencekam jadi riuh seketika.

"Nah itulah yang namanya Capabilily atau kemampuan. Pada kasus ini, Keharmonisan rumah tangga dapat tetap terjaga karena suami dan istri mampu untuk menjaga rahasia. Andai rahasia ini tidak tersimpan rapat selama dua puluh tahun, ingat lho ya.. DUA PULUH TAHUN.., mungkin mereka sudah lama bercerai. Begitu pula dalam ilmu manajemen, Capability sangat mempengaruhi kesuksesan kita. Kalian tahu kenapa seorang sarjana bisa menjadi pengangguran dan kalah bersaing dari mereka yang hanya lulus SMA..?"

"Tidak pak.."

"Karena mereka tidak mempunyai capability, tidak punya kemampuan. Coba kalau mereka punya sesuatu yang bisa diandalkan, mereka pasti akan dicari oleh perusahaan, tidak perlu repot-repot mencari pekerjaan. Contohnya siapa coba..? Ya, tepat. Contohnya adalah saya. Dulu, saat baru kembali dari bekerja di luar negeri, saya ini..."


Kuliahpun berlangsung dengan lancar. Bak air bah, Ilmu mengalir melimpah ruah. Memenuhi seisi kelas. Namun ada seorang mahasiswa tampan yang masih bengong, masih garuk-garuk kepala, lalu berkata :

"He.. he.., kok bisa ya...?"




Purwokerto, 1 Des 06
Togie de Lonelie

“Terinspirasi dari kisah nyata, namun banyak tambahannya”

Minggu, 07 Januari 2007

Biogenesis VS Abiogenesis VS Teori Evolusi VS Pancasila VS Agama Di Indonesia


 

Manusia tercipta menurut teori biogenesis atau abiogenesis…? Itu adalah pertanyaan yang muncul saat saya membaca buku berisi perdebatan tentang Teori Evolusi Darwin. Abiogenesis1 berarti mahluk hidup tercipta dari benda mati dan Biogenesis berarti  mahluk hidup tercipta dari mahluk hidup sebelumnya.

 

Sebagian kalangan setuju dengan teori pertama dan yang lain sependapat dengan teori kedua. Masing-masing memaparkan argumen yang memperkuat pendapatnya. Saya jadi teringat pada VCD Harun Yahya dimana dia mengkritik habis-habisan teori evolusi. Disana dikatakan bahwa saat ini belum ada satu orang pun yang bisa membuat mahluk hidup dari benda mati. Jadi teori Abiogenesis hanyalah khayalan kosong belaka yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Tampaknya Harun Yahya lebih sependapat dengan teori Biogenesis.

 

Kemudian muncul pertanyaan di benak saya “Kalau begitu jika mahluk hidup hanya tercipta dari mahluk hidup sebelumnya maka mahluk hidup pertama terbuat dari apa…?”.

 

Sejurus kemudian saya ingat buku pelajaran Agama di SMA. Disana tertulis bahwa bahwa Nabi Adam diciptakan dari tanah, Jin dari Api dan Malaikat dari cahaya. Pertanyaannya adalah ; tanah, cahaya dan api itu benda hidup atau benda mati..? Jawabannya benda mati. Kalau begitu manusia sebagai mahluk hidup tercipta dari benda mati dong? Yup. Kok bertentangan dengan pendapatnya Harun Yahya..? Lho, iya juga ya.

 

Lalu, bagaimana dengan teori evolusi..? Ada umat muslim yang berpendapat bahwa teori ini ada benarnya. Bahwa Nabi Adam diciptakan dari tanah tapi tidak langsung jadi. Penciptaan tersebut melalui proses yang sangat lama. Mulai dari segumpal tanah, berubah menjadi mahluk hidup yang mirip kera, berevolusi menjadi manusia purba lalu jadilah nabi Adam yang berupa manusia sempurna.

 

Tapi tampaknya pendapat tersebut perlu dikaji lebih dalam lagi. Jika proses penciptaan Adam seperti itu, lalu bagaimana dengan Siti Hawa…? Bukankah Hawa tercipta dari tulang rusuknya Adam..?2 Kalau kita sebagai umat islam membenarkan teori evolusi, maka bagaimana dengan pendapat Darwin sendiri..? Apakah dia akan diam saja saat mendengar bahwa ada homosapiens yang tercipta dari tulang rusuk homosapiens lain..?

 

Bagaimana dengan sikap pemerintah terhadap teori evolusi..? Saya tidak tahu. Tampaknya para pejabat masih sibuk mengurusi polemik poligami. Padahal sudah jelas-jelas negara kita berpaham pancasila. Yang sila pertamanya berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan setahu saya tidak ada satu pun agama di Indonesia yang mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan cara meng-evolusi-kannya dari kera. Jadi secara tidak langsung teori evolusi sangatlah bertentangan dengan sila pertama.

 

Lho, bukankah teori itu hanya sekedar referensi..? Sekedar dipercayai..? Tidak untuk diikuti..? Memang benar. Tapi ingatlah kembali pelajaran pancasila yang pernah kita ikuti. Disana diajarkan bahwa sila pertama mendasari sila kedua, ketiga, keempat dan kelima. Dalam arti, mencakup seluruh ruang lingkup kehidupan kita sebagai warga Negara Indonesia. Termasuk dalam bidang pendidikan. Jadi seharusnya buku pelajaran yang membahas teori evolusi mencantumkan catatan kaki bahwa teori ini tidak sesuai dengan dasar negara kita. Dan siapa pun yang membenarkan teori ini dianggap menolak azas tunggal pancasila. Harus di tahan dengan dakwaan makar atau di cabut kewarganegaraannya. Lha wong Abubakar Ba’asyir saja pernah kabur dari Indonesia karena tidak setuju dengan azas tunggal pancasila kok.

 

Karena itulah, jika anda berprofesi sebagai guru yang bertugas mengajarkan teori evolusi, sebaiknya anda berhati-hati. Jangan sekalipun membenarkan teori ini. Ingat..!! Intel selalu siap mengawasi.

 

 

Note :

1 Teori abiogenesis yang lengkap berpendapat bahwa mahluk hidup pertama masih bersel satu, kemudian berevolusi, salah satunya menjadi manusia. Tapi yang dimaksud abiogenesis disini tidaklah selengkap itu. Hanya sekedar mahluk hidup tercipta dari benda mati. Yang lainnya dikesampingkan saja. (Sumber : Buku Biologi SMA tahun 1998-2001, Cetakan Erlangga dan Yudhistira).

 

2 Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An Nisaa' : 1)

 

[263]. Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.

 

 

Kamis, 04 Januari 2007

Aku dan Puisi Cinta






Kuingin merangkai kata jadi sebait puisi cinta
Namun sebelum sempat menggoreskan pena, belasan kata tlah datang dengan sendirinya
Berjejer rapi pada selembar kertas kosong dihadapanku
Membentuk syair indah yang tak pernah terpikirkan olehku


Perlahan kubaca tulisan tersebut dan aku pun terkejut
Ternyata isinya hanya omong kosong belaka
Dia bidadari, kamu manusia biasa. Tidak pantas mendapatkannya. Kenapa tidak menyerah saja..?”
Bah.., dasar sial.., kurang ajar…

Aku marah, aku mangkel, aku pun pergi
Ambil sebotol bensin & korek api
Kalau tidak membentuk kalimat lain, kalian kubakar”. Begitu ancamku
Dan lihat, mereka ketakutan lalu mengangguk setuju


Sejurus kemudian tlah terangkai sebait puisi baru
Membuatku gembira sekaligus tersipu malu
Dia bidadari, kamu tampan sekali. Semoga hidup bahagia, selama yang kalian suka”
Haha.., bagus. Memang begitulah seharusnya



Purwokerto, entah hari apa
togie de lonelie

Senin, 25 Desember 2006

Kuliah yang Aneh : Cara Mudah Berpoligami dengan Mengakal-akali Istri yang Lugu Sekali

 


Kali ini saya ingin turut menulis tentang poligami, mungkin sedikit terlambat tapi tak apalah. Saya tahu bahwa sudah banyak MPer’s yang membahas tema ini. Ada yang meninjau dari sudut agama, moral, kelemahan, kelebihan, serta berbagai pro dan kontranya. Jadi agar tidak membosankan saya mencoba berbagi pengalaman saja, tentang cara mudah agar diijinkan berpoligami.


 


Kebetulan, minggu lalu pak dosen manajemen membagikan pengalamannya, beliau bercerita tentang temannya sesama pengusaha yang sukses berpoligami dengan empat istri tanpa menimbulkan konflik yang berarti. Padahal keempatnya tinggal dalam satu rumah.


 


Dalam berpoligami paling tidak ada beberapa syarat yang harus kita penuhi diantaranya adalah : Bisa berlaku adil, mempunyai kecukupan rizki, tidak dilakukan dengan niat menyakiti, dan lain sebagainya. Tapi masalahnya walaupun syarat tersebut dirasa bisa dipenuhi, terkadang masih ada yang menghalangi yaitu sulitnya mendapat ijin dari istri.


 


Dalam manajemen pemasaran ada satu hal yang harus kita perhatikan dalam menjaring konsumen yaitu “segmentasi”. Artinya harus tahu segmen kita seperti apa. Contohnya saat membuka sebuah restoran mie yang mewah yang harganya cukup mahal, paling tidak konsumen kita adalah mereka yang tergolong kaya. Apakah hanya itu..? Ternyata tidak. Orang kaya tersebut haruslah suka makan mie. Lalu..? Dia juga harus berdomisili di kota dimana restoran tersebut berdiri. Kemudian..? Masih banyak lagi, silahkan anda cari sendiri.


 


Sebenarnya teori segmentasi cukup mudah dipahami, sayangnya hanya sedikit orang yang berusaha untuk mengembangkan teori tersebut kedalam ruang lingkup yang lebih luas. Contohnya adalah pengusaha yang akan saya ceritakan.


 


Alkisah ada seorang pengusaha besar yang ingin berpoligami. Masalah bisa adil atau tidak itu urusan nanti yang penting dia harus mendapat ijin dari istri. Kenapa..? Karena perusahaan yang dia pimpin adalah warisan dari mertua, jika sang istri tidak setuju dan minta cerai kemungkinan besar dia akan kehilangan beberapa perusahaannya. Karena itulah dia mencari trik-trik berdasarkan teori manajemen.


 


Triknya sederhana, dia mengkondisikan seolah-olah perusahaan sedang berada di ambang kebangkrutan. Lalu dia berkata kepada istrinya bahwa setelah bertanya ke orang pintar, satu-satunya cara untuk menyelamatkan perusahaan adalah dengan menikah lagi. Itu adalah syarat yang tidak bisa diganggu gugat. Alasannya…? Sama sekali tidak ada karena biasanya berita dari dunia ghaib seringkali datang tanpa disertai alasan. Akhirnya dengan berat hati si istri pun mengijinkan.


 


Tak berapa lama ternyata si pengusaha mulai ketagihan. Lagi-lagi dia ingin menambah istri. Trik yang digunakan masih sama. Perusahaan dibuat mengalami sedikit peningkatan tapi masih berada dalam situasi yang rawan. Kemudian dia berkata bahwa agar perusahaan lebih cepat pulih maka istrinya harus ditambah satu lagi. Bagaimana reaksi istri pertama..? Tentu kaget. Tapi dia terlanjur mempercayai ucapan sang suami sebab sudah terbukti bahwa setelah menikah lagi perusahaan mulai membaik. Ijin dikeluarkan. Istri kedua pun setali tiga uang.


 


Cukupkah..? Ternyata tidak. Karena bosan menikah dengan perempuan paruh baya dia pun ingin mempunyai istri yang lebih muda. Sayangnya dia masih menggunakan trik yang sama sehingga ketiga istrinya mulai curiga. Untunglah istri pertama dan kedua tidak banyak mengeluh karena mereka sudah terbiasa merasakan pahitnya dimadu, tapi tidak begitu dengan istri ketiga yang ternyata mempunyai kecerdasan diatas rata-rata. Apalagi sang suami sudah keterlaluan karena calon istrinya ini ternyata masih berusia 17 tahun sehingga lebih pantas dijadikan cucu.


 


Masalah pun mulai timbul, istri ketiga mau memberi ijin tapi dengan satu syarat bahwa setelah menikah selama tiga bulan istri muda ini harus diceraikan. Bukankah sang orang pintar hanya berkata bahwa satu-satunya solusi untuk memulihkan perusahaan adalah dengan menikah lagi..? Jadi kalau syarat orang pintar tersebut sudah dipenuhi, tidak jadi masalah kalau istri tersebut langsung diceraikan. Yang penting kan sudah menikah. Sang pengusaha menerima syarat tersebut. Cerai atau tidaknya urusan nanti, bisa di akal-akali. 


 


Sayangnya istri ketiga tidak menyangka bahwa sang suami ternyata lebih pintar, namanya juga pengusaha besar. Tiga bulan setelah menikah ketiga istrinya menuntut agar istri keempat segera diceraikan. Tapi dengan entengnya si suami menjawab :


 


“Diceraikan..? Kok tega sih..? Dia kan sedang hamil muda, apa kalian tidak punya rasa kasihan sedikitpun..? Bagaimana jika kalian yang hamil muda, lalu saya ceraikan begitu saja..? Bagaimana perasaan kalian..?”


 


Glek.., ketiga istri pun diam. Tanpa bisa berargumen apa-apa. Sang suami tersenyum puas. Dia sudah berusia lanjut, hanya mampu untuk mempunyai empat istri jadi tidak perlu mencari trik baru untuk menikah lagi.


 


Lalu apa hubungannya dengan segmentasi..? Sangat erat. Dalam kasus ini sang suami mempertimbangkan bahwa :




  • Istri pertama (yang dibesarkan dalam buaian harta) tidak akan mampu bertahan hidup tanpa kekayaannya. Dia lebih memilih untuk dimadu daripada hidup miskin.


  • Istri kedua merasa bahwa dia telah menyakiti istri pertama. Jadi paling tidak dia juga harus rela jika dirinya dimadu.


  • Istri ketiga pun sama namun dia tidak terima jika sang suami seenaknya memperistri daun muda yang masih bau kencur. Itu keterlaluan namanya. Jadi dia hanya mau memberikan ijin dengan satu syarat yang harus dipenuhi.


  • Sang suami sadar bahwa dia harus mempertimbangkan perbedaan antara istri ketiga dengan dua istri lainnya. Dia pun mencari solusi untuk mengatasi permasalahan ini.


  • Untungnya istri keempat sedang dalam masa subur, jadi bisa diperkirakan bahwa beberapa saat setelah menikah dia akan hamil. Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh suami. Dijadikan alasan agar tidak bisa bercerai.

Begitulah, teori segmentasi harus bisa kita aplikasikan pada berbagai bidang kehidupan. Bukan hanya untuk sukses berpoligami, tapi juga sukses dalam segala hal.


 


 


Togie de lonelie


Purwokerto, Desember 2006


Dinihari

Rabu, 20 Desember 2006

Sebenarnya Aku Seorang Pembunuh



Kuambil golok yang tergeletak diatas meja, sudah berkarat tapi masih terlihat tajam. Lalu kubawa ke dapur dan kuasah disana. Srek.. srek.., begitu bunyinya. Terdengar begitu ritmis, bak penyanyi muda yang melantunkan lagu melankolis. Selesai kuasah, kugoreskan mata golok ke ujung jari untuk memastikan bahwa senjata ini sudah cukup tajam. Tapi akibatnya...

"SRAAKKK…!!!"

Uhh, jariku tergores. darah mengalir deras. Perih, sakit, tapi kutahan. "Mangsamu kali ini akan lebih sakit Gie, paling tidak kamu harus tahu apa yang mereka rasakan". Ku coba tuk pejamkan mata. Terbayang tubuh mereka yang terbacok berlumur darah. Menggeliat menahan sakit. Berusaha lari agar tetap hidup dan akhirnya mati. Untuk sesaat muncul rasa kasihan, lalu kutepis. Mereka harus mati oleh tanganku sendiri. Sadis..? Memang. Tapi itulah aku, Togie.

Perlahan-lahan darah hanya tinggal tetesan, dan golok pun kusimpan. Kuhabiskan hari di beranda rumah, merenung, menguatkan hati. Paling tidak ada puluhan nyawa yang harus melayang malam ini, dan itu cukup membebani. Bagi seorang pembunuh sekalipun.

Malam menjelang, gerimis turun tidak begitu deras lalu berhenti. Kuambil golok, senter, penutup kepala dan peralatan lainnya. Setelah kegelapan menyelimuti bumi aku berkumpul dengan rekan-rekan yang lain, rekan yang akan bermandi darah sama sepertiku.

Dari jembatan di perbatasan desa kami berangkat, menyusuri pematang sawah, menerobos kebun, menyeberang sungai, lalu mendaki gundukan tanah yang cukup tinggi. Tibalah kami ditempat pembantaian. Sawah yang begitu luas membentang dihadapan kami. Dalam kegelapan terlihat puluhan korban yang sedang bersenda gurau, tanpa sadar bahwa ajal sedang menanti. Kami pun membagi tugas. Mereka dibawah sana jumlahnya jauh lebih banyak, jika kami menyerang sekaligus banyak diantara mereka yang dapat menyelamatkan diri. Karena itu kami harus berpencar, menghadang, membacok, membinasakan, dan mencabut nyawa siapa pun yang berusaha lari. Ha..ha.., mahluk tak berdaya seperti mereka bisa apa..? Tak mungkin dapat menghadapi kami. Selanjutnya kami pun berpencar.

Tiga puluh menit kemudian golok yang diasah tajam sejak pagi sudah berwarna merah oleh darah, amis, anyir. Seperti yang telah diduga, para mahluk tak berdaya ini hanya bisa meratap, tanpa sedikitpun memberikan perlawanan. Karena itulah tugasku jadi semakin mudah, hanya tinggal mencari mangsa yang sedang bersembunyi, mengendap-endap lalu "CROOTTT" nyawa pun melayang.

Akan tetapi lambat laun mulai timbul keanehan, mangsa yang tadinya begitu banyak seakan-akan menghilang. Sepertinya mereka telah mempersiapkan tempat persembunyian atau markas rahasia dan menunggu kesempatan untuk melawan kami. Ah, ini tak boleh terjadi. Mereka harus dibinasakan sebelum sempat mempersiapkan perlawanan. Akupun berjalan dengan tergesa-gesa, menyeruak lumpur sedalam lutut sambil mengamati keadaan sekeliling. Hingga kulihat sosok itu, sosok yang hampir membuatku berteriak terkejut.

Kulihat satu mangsa yang akan kembali meregang nyawa. dan dia sedang bersembunyi, Membenamkan dirinya dalam lumpur, berhadap agar tak pernah ditemukan oleh kami. Tapi harapan itu sia-sia belaka. Pelan-pelan kudekati dia, kugenggam golok dengan erat, kuangkat tinggi-tinggi lalu kuayunkan sekuat-kuatnya, seakan-akan baju zirahpun pasti akan terbelah oleh ayunan ini. Ya, dia pasti mati, hingga kemudian :

“HAII, SEDANG APA KAMU...?"

Sial, pak tani. Aku kaget, ayunanku melenceng. Mangsa yang tadi bersembunyi pun tersadar, dan lari menyelamatkan diri. Sialnya lagi, pak tani berjalan menghampiri lalu bertanya :

"Kamu sedang apa malam-malam begini, pake bawa golok segala. Mau macam-macam hah..? Punya niatan tidak baik..?”

GRRHHH, gawat dia mulai curiga. jangan-jangan perbuatan kami diketahui.

Golok pun kugenggam semakin erat. Jarak kami hanya satu langkah. Dengan satu ayunan saja, golok ini pasti mengenai tubuhnya. Tapi, ah.. bukankah seorang pembunuh profesional hanya boleh menghabisi sasarannya, tanpa melibatkan pihak yang tak berdosa.

"Ma.. maaf pak.. tadi anu.., itu.. mm.."

"Ya sudah. pergi sana. besok sawah ini mau saya tanami, jadi jangan diinjak-injak"

Akupun pergi. Untung para korban sudah kami amankan, kami masukkan kedalam kantung-kantung yang telah disiapkan. kalau tidak...?

Menjelang subuh, kami, para pembunuh ini beranjak pulang. Melangkah lunglai, badan penuh lumpur, tangan berlumuran darah. Kami berjalan melewati rute yang tadi dilalui. Sesampainya dirumah, kuletakkan golok di tepi sumur, golok yang sudah berwarna merah. Besok saja aku cuci, aku capek, ingin istirahat. Tapi sebenarnya jiwaku lebih capek. Aku merasa berdosa.

Beberapa menit kemudian, saat masih merenung sambil menatap langit-langit dapur bapak datang menemui, menepuk bahu, menatapku dengan pandangan berwibawa. Ah, seorang bapak memang selalu mengerti apa yang dirasakan anak lelakinya. Dan tampaknya dugaan itu tepat. Terlebih lagi saat beliau bertanya :

“Istirahat dulu nak. mungkin kamu capek. Gimana ngobornya..? Dapat..? Seharusnya di musim seperti ini belut lagi banyak-banyaknya. Bapak denger di sawah deket terminal ada banyak.”

“Iya pak, tadi juga saya ngobor disana. Tuh dapet satu kantong kain. Ada dua kilo kali ya? Harusnya sih dapat lebih banyak lagi pak. Sayang tadi dimarahi pak tani. Katanya sawahnya mau ditanami jadi tidak boleh diinjak-injak.”

“Haha.., gak ada hubungannya gie. Sawah disitu memang banyak belutnya, kali aja pak tani pingin ngobor juga.”


Ah.., iya. Tapi tak apalah, cuekin saja. Apalagi sudah terbayang harumnya aroma belut goreng yang akan kusantap besok pagi. Gurihnya, renyahnya, KRIUUKKK... Hmm.., SEDAAAPPP...!!! Seorang pembunuh pun pasti pernah ingin makan belut goreng. Betul kan..?



*Cerita ini hanya fiksi belaka, sama sekali tidak bisa dipercaya

Purwokerto, 18 Desember 2006
Togie de Lonelie





Senin, 18 Desember 2006

Pring Pethuk (Bambu Silang)

Category:   Furniture

Dicari bambu dengan ranting yang menyilang (di ruas yang satu mengarah ke atas dan ruas satunya lagi kebawah). Bagi yang punya silahkan hubungi saya, ada yang bersedia membeli dengan harga lumayan.

Terimakasih


Minggu, 17 Desember 2006

Kuliah yang Aneh - VIRGIN DETECTOR



 

Bumi selalu berotasi sehingga siang dan malam datang silih berganti. Bumi pun mengalami revolusi, senantiasa berputar mengelilingi matahari. Bumi kan selalu bergerak dari satu titik, menuju ke titik itu lagi. Sebuah siklus yang tak pernah berhenti hingga nanti, saat kiamat terjadi. Seperti halnya bumi, siklus ini pun terjadi pula pada apa yang akan kita bicarakan nanti, yaitu penilaian kita terhadap “virginitas”


Seperti yang telah diketahui bahwa pada jaman dahulu keperawanan mempunyai arti yang sangat penting. Kehormatan seorang wanita dapat dilihat dari utuh tidaknya mahkota yang harus dia jaga. Jadi tidaklah aneh jika seorang gadis kehilangan keperawanannya sebelum menikah, dia akan dikucilkan dan dianggap rendah.


Bangsa yang pertama kali melanggar nilai ini adalah Amerika dan Eropa (Ameropa). Dengan mengacu pada azas kebebasan hakiki, secara perlahan mereka mulai meremehkan nilai keperawanan. Memang pada mulanya “hubungan” diluar nikah dilakukan secara sembunyi-sembunyi namun lama-kelamaan hal ini dilakukan secara terang-terangan, tanpa perlu merasa malu lagi. Akhirnya seks bebas bisa begitu mudah dilakukan, begitu gampang ditemui. Tak ada lagi tabu, persetan dengan harga diri.


Saat bangsa Asia masih menjunjung tinggi nilai keperawanan, Ameropa sudah tak lagi ambil peduli. Dan berkat kerjasama internasional yang begitu erat, serta infiltrasi kebudayaan yang berlangsung secara terus menerus, akhirnya bangsa Asia pun ikut tertular juga. Sekarang seks bebas sudah jadi hobi yang amat digandrungi oleh masyarakat kita. Tua, muda, miskin, kaya, remaja, mahasiswa, anak SD atau SMA. Mereka sudah tak asing lagi dengan freeseks.


Namun seperti halnya bumi yang selalu berotasi dan berevolusi, Ameropa pun mulai kembali pada tradisi lama. Sekarang nilai virginitas mulai diungkit-ungkit lagi. Perlahan-lahan anak-anak muda disana mulai menghormati arti dari keperawanan. Para wanita mulai belajar untuk menjaga diri. Dan hebatnya hal ini ditularkan pada anak gadis mereka sehingga makin banyaklah wanita yang menjunjung tinggi nilai keperawanan.


Purwokerto, entah bulan apa, entah tanggal berapa. Yang pasti saat itu hari jumat sekitar pukul delapan pagi.


“Nah anak-anak, sebagai calon manager yang baik kalian punya ide apa untuk memanfaatkan situasi seperti ini?”


Para mahasiswa (begitu pula mahasiswinya) tampak bingung. Mereka kuliah di teknik elektro, bukan di jurusan manajemen. Jadi wajar kalau mereka tidak terbiasa untuk mengambil ide dari hal semacam ini.


“Ayo dong, masa kalian tidak tahu sih..? Coba kalian lihat diagram yang bapak gambar di whiteboard ini. Yang di kanan itu Ameropa, dari sana ditarik garis lengkung kekiri yang disebut Asia. Nah, lalu dari sini ditarik garis lengkung kembali ke Ameropa. Yang namanya revolusi berarti dari Ameropa paham virginitas akan melanda Asia lagi, tapi entah kapan. Sebagai mahasiswa elektro sekaligus juga sebagai calon manajer, seharusnya kalian melihat peluang emas yang bisa kita manfaatkan. Peluang apa coba..?”


Mahasiswa pun berpikir keras. Hm, membuat kondom..? Ah, itu kan tidak ada hubungannya dengan virginitas. Operasi..? Sekarang itu sudah ada, bukan hal baru lagi. Lalu, yang dimaksud bapak dosen sih apa ya..?


“Ah, kalian ini bagaimana..? Masa tidak bisa..? Baiklah akan bapak beritahukan. Sebagai mahasiswa elektro seharusnya kalian berpikir untuk membuat alat. Alat apa..? Ya alat yang ada hubungannya dengan keperawanan. Yang bisa dipastikan akan laku keras di pasaran. Ya.., kita bisa membuat alat pendeteksi keperawanan. “VIRGIN DETECTOR..!!”


GUBRAK…!! Benar juga ya…?


“Nah, cara kerja alat ini bisa bervariasi, tergantung pada kreativitas kita. Misalkan di bandara, kan ada tuh scanner yang bisa digunakan untuk mendeteksi senjata tajam, senjata api, narkoba, atau benda berbahaya lainnya. Alat ini bisa kita desain seperti itu. Misalkan ada wanita yang lewat tapi alat ini tidak bereaksi apa-apa, maka sebaiknya kita juga diam saja. Tapi kalau alat ini berbunyi tulit.. tulit.. tulit…” maka kita harus curiga. Jangan-jangan sudah tidak virgin lagi nih…, Ha.. ha.. ha..!!!


“Alat ini juga bisa kita desain menyerupai kacamata. Kalau scanner di bandara kan gede, tidak praktis, tidak bisa dijual secara massal, tidak bagus untuk bisnis. Nanti sistem kerjanya kita gunakan metode pelacak aura. Kita teliti aura wanita yang masih virgin itu seperti apa, yang tidak virgin itu seperti apa. Kemudian kita aplikasikan ke alat ini, kita patenkan, dan kita jual ke Ameropa, pasti laku keras.”


“Kalau fenomena virginitas sudah kembali merambah Asia, alat ini kita jual juga kesana. Memang, nantinya pasti banyak perusahaan yang berusaha untuk meniru dan membuat alat yang lebih baik dan lebih canggih, tapi jangan kuatir alat ini kan sudah kita patenkan. Jadi sebagus apapun alat buatan mereka, kita masih bisa mendapat uang lisensinya. Gimana..? Hebat kan..?”


“Begitulah nak, sebagai mahasiswa kalian harus pandai menangkap peluang. Apalagi tujuan kalian kuliah disini kan agar bisa menjadi manajer, bukan bawahan. Manajer itu harus jeli, harus kreatif, harus berani, jangan cuma ingin terima jadi. Yang bapak berikan ini cuma satu contoh kecil lho, peluang yang akan kalian hadapi nanti pasti lebih banyak lagi. Itu yang harus kalian manfaatkan dengan baik saat lulus nanti.”


Kuliah pun berlanjut, sebagian mahasiswa bingung, sebagian lagi mengerti.




togie de lonelie