Jumat, 18 Mei 2007

Sajak Tamu Entah Siapa - Emha Ainun Nadjib

Rating:★★★★
Category:Other
Tamu itu datang dan kuketahui tiba-tiba ia sudah berada di ruang tengah rumahku. Siapa dia..?
Ketika kami ngomong, ia sudah tahu semuanya tentang diriku, seluk beluk rumahku, kebunku, kolam ikanku,
Bahkan ia tahu persis
Setiap kata-kata dalam batinku. Dan lebih dari itu, dengar, ia berkata: "Dibawah tanah rumahmu ini terdapat barang yang amat berharga. Aku akan mengambilnya dan kau akan menjadi kaya raya, cuma ada beberapa syarat yang kuminta....." Aku tersenyum saja dan menganggukkan kepala. Tergiur aku rasanya. Ah, entah kenapa, ingin aku menyembah tamuku yang mulia. Tapi tidak. Aku punya sesembahan sesendiri. Kukira cukuplah aku menghormati alakadarnya saja.
Lihatlah rambutku sudah kupotong persis
Seperti rambutnya. Ia memberiku pakaian seperti yang dimilikinya. Entah bagaimana tapi akhirnya aku bergerak seperti geraknya, berjalan seperti jalannya, berkelakuan seperti kelakuannya, kubangun rumahku seperti sarannya, kulakukan segala sesuatu yang dianjurkannya, dan - ah! Hasrat-hasratku pun kini mirip seperti hasrat-hasratnya.

Hari-hari berikutnya aku melihat dia berhasil menggali barang-barang berharga itu dan ia bawa pulang sebagian besarnya. Aku tak apa-apa, aku ini penyabar, dan toh aku sudah kaya raya. Dan yang penting, aku sudah bagaikan dia. Hati kecilku bilang aku ini sedang tertidur lelap dalam bangunku, tapi semua orang tahu hati kecilku ini tolol dan sia-sia.

Diambil dari :
"Sesobek Buku Harian Indonesia"
Penerbit Bentang
Harga Lima Belas Ribu Perak

Sabtu, 12 Mei 2007

Hikayat Tarmo - Aksi Kanibalisme


 


Malam itu Tarmo bingung. Sekarang sudah bukan musim durian lagi tapi Kaji Taslim tetap saja menyuruhnya untuk menjaga kebun. Padahal menurut kontrak kerja, Tarmo hanya bertugas untuk menjaga buah durian agar tidak digondol maling, tapi kalau buahnya saja tidak ada, lalu apa yang harus dia jaga..? Ck, perintah yang aneh. Tapi sebagai pekerja yang penurut (walau terpaksa) dia pun patuh juga. Malam begitu sunyi, Tarmo merenung seorang diri. Lama-lama dia bete juga, tak enak hidup sendiri, tanpa lawan bicara.


Untuk mengurangi kebosananan, dia memutuskan untuk berjalan-jalan ke sekeliling kebun. Sekalian meronda. Walaupun sebenarnya tak ada yang perlu dia rondai. Tapi untunglah, tak berapa lama kemudian dia menemukan lawan bicara. Di pucuk pohon duren, dia melihat sesosok wanita sedang asyik ongkang-ongkang kaki sambil bernyanyi lagu "Padamu Negeri". Wanita itu memakai daster putih panjang, berambut panjang, dan menggendong anak kecil. Mungkin dia adalah seorang ibu yang sedang mengasuh anaknya.


Tapi tunggu sebentar.., ibu..? Rasanya bukan. Karena perlahan wanita tersebut mengambil palu dari balik daster lalu memukul batok kepala anaknya sampai pecah. Perlahan dia mulai memakan otak si anak dengan rakus. Nyam.. Nyam.., darah pun berleleran membasahi bibir. Sungguh menyeramkan. Tapi anehnya si anak tenang-tenang saja. Dia malah tertawa sambil berucap


"Mama.., Mama..!!!"


Tarmo jadi heran, lalu bertanya :


"Hai mbak, sedang apa..?"

"Lagi makan otak sambil ngasuh anak"

"Apa..? Gila, kejam, tidak berperikemanusiaan"

"Lha, saya ini kan hantu mas. Jadi tidak punya perikemanusiaan"

"Oo, gitu ya..? Tapi apa nggak kasihan ke si anak mbak..? Mbok dia mati..?"

"Ck, mas ini gimana sih. Masak hantu kok bisa mati"

"Gak bisa ya mbak..? Tapi apa perlu sampai makan otak segala..? Seperti kanibal saja..!!"

"Begini ya mas. Di dunia hantu, saling makan sesama itu hal biasa, mirip seperti di dunia manusia"

"Lho, mbak memang hantu, tapi jangan bicara ngawur. Memang di dunia kami ada Sumanto, ada suku primitif yang suka makan daging manusia, tapi mereka tidak merefleksikan manusia pada umumnya"

"Siapa bilang mas..? Coba deh besok pagi mas nonton TV"

"Memang apa hubungannya mbak..?"

"Udah, pokoknya besok nonton aja. Maap saya harus pergi, gak bisa ngobrol lama-lama. Ada arisan"


Buusshhh...!!!!! Dan mbak hantu pun menghilang, ditelan asap putih yang entah muncul darimana.


Singkat cerita, malam pun berlalu. Berganti dengan pagi yang cerah. Burung berkicau merdu, sinar mentari menelusup kedalam gubug lewat lubang jendela. Tarmo membuka mata lalu bergegas menuju dapur. Menyiapkan sarapan dan segelas kopi lalu menyalakan televisi. Tapi dia langsung kaget. Saat itu sebuah stasiun TV menayangkan acara infotainment dimana seorang artis sedang asyik memakan artis lain. Sang presenter pun dengan lahap mengunyah paha presenter acara lain. Bahkan sesekali dimunculkan pula orang biasa yang memakan orang biasa lain dengan sekali telan.


Tarmo tidak percaya pada apa yang dia lihat, karena itulah dia mengganti channel ke stasiun TV lain. Namun disitu dia lihat pula aksi kanibalisme. Kali ini si presenter memotong kepala seorang pejabat lalu merebusnya dalam air mendidih, menambah rempah-rempah dan sedikit kecap asin, lalu...


Grauk.., Grauk..!!!!


"Arrgghhh, gilaa..!!! Aku harus segera lapor polisi" Begitu batin Tarmo. Dalam sekejap, tanpa mandi dan gosok gigi, dia langsung lari ke pangkalan ojek, minta diantar ke kantor polisi.


"Tolong mas, saya harus ke kantor polisi. Saya ingin lapor. Gara-gara acara SMACKDOWN dihentikan, sekarang stasiun TV jadi menayangkan acara yang lebih sadis lagi. Aksi kanibalisme." Kata Tarmo dengan nada bergetar


"Ah, jangan bercanda mas. Tapi gak papa ding, ayo saya antar" Tukang ojek menyalakan mesin motor, lalu melaju pelan.


Ternyata di sepanjang perjalanan Tarmo melihat aksi kanibalisme lain. Ada murid yang memotong-motong tubuh gurunya, ada guru yang mencincang daging muridnya. Penjual yang menggigit punggung pembeli, pembeli yang menyantap paha penjual. Hoekksss..., Gilaa...!!!!


Untung saja jarak kantor polisi tidak begitu jauh, jadi dalam sekejap Tarmo pun sampai. Setelah membayar ongkos ojek dia berjalan masuk ke kantor polisi. Tapi baru sampai pintu gerbang langkahnya berhenti. Ternyata para polisi pun telah menjadi kanibal. Mereka saling menyantap daging rekan seprofesinya. Grauk.., Grauk..!!!


Gilaaa...!!! dunia makin menggilaaaa....


"Psikiater. Ya, psikiater. Aku harus pergi ke psikiater" Begitu batin Tarmo. Dia pun segera lari kesana-kemari. Setelah berulang kali menabrak tong sampah, motor butut, metro mini dan gerbong kereta api, sampai juga dia di kantor psikiater ternama. Bruak...!!! Tanpa permisi dia langsung menerobos masuk, menemui sang psikiater.


"Silahkan duduk mas, ada masalah apa..? Kok kelihatannya panik amat..?. Tanya psikiater

"Maaf bu, saya kira semua orang di kota ini sudah gila. Mereka jadi doyan makan daging sesama. Mirip orang primitif" Jawab Tarmo dengan lugu

"Hah..? Yang benar mas..? Padahal tadi saya beli es cendol diluar loh. Tapi gak ada yang aneh tuh..?"

"Bener kok bu, saya melihat dengan mata kepala sendiri. Ada guru yang memakan murid, murid mengkanibal guru, anak menyantap ibu, ibu merebus sang anak, pokoknya semua orang menggila bu" Kata Tarmo berapi-api

"Hm, tunggu sebentar. Mas ini pekerjaannya apa..? Pasti di bidang yang berat-berat ya..? Ilmuwan atau politisi mungkin..? Yaa, saya kira mas terlalu capek sehingga rentan mengalami halusinasi, mirip seperti yang dialami para pejabat kita. Mas tau sendiri kan gimana tingkah polah mereka..? Serba aneh mas. Itu karena mereka terlalu capek memikirkan kepentingan rakyat."


Dan perlahan-lahan sang psikiater membuka rak meja lalu mengeluarkan kepala masing-masing pejabat yang tadi disebut, dan menghidangkannya diatas meja. Dengan penuh penghayatan, dia mengiris telinga seorang pejabat, menusuknya dengan garpu lalu menyantapnya. Hm, sedaaappp...!!!


Glek..!!!


Tarmo tersentak kaget, terlempar dari kursi, lalu langsung lari keluar.



"Aku harus kembali ke kebun duren, menyepi, menunggu semua kegilaan ini berakhir. Aku tidak mau ikut-ikutan gila".


Dalam sepi, dikepung sunyi, tarmo menyendiri di gubuknya. Lagi-lagi tanpa teman, tanpa lawan bicara. Hingga tak terasa waktu tlah lama berlalu dan malam pun tiba.



Pukul setengah delapan lebih sedikit, mbak hantu yang kemarin ditemui di pucuk pohon duren datang berkunjung. Ditemani sesosok Gondoruwo, tiga Pocong dan enam Wewe Gombel. Mereka menghampiri Tarmo lalu berkata :


"Mas, mau ikut arisan..?"


 


 



Note :
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
QS Al Hujurat : 12


 







Selasa, 08 Mei 2007

Ganti Nama, Ubah nasib kita






Sebagian orang jawa percaya pada mitos bahwa nama dapat mempengaruhi karakter dan nasib seseorang. Dahulu kala kalau ada orang yang sakit, atau nakalnya gak ketulungan, biasanya disarankan untuk ganti nama. Agar nasib mereka pun berganti pula, jadi lebih baik. Yang sakit jadi sembuh, yang nakal jadi alim, dan yang miskin jadi kaya.

Di jaman sekarang pun masih banyak orang yang percaya pada mitos tersebut. Contohnya di kampung saya. Ada gadis cilik yang nakalnya minta ampun. Dia hobi berantem, bahkan berani melawan anak lelaki yang bertubuh lebih besar. Orang tua si gadis merasa prihatin. Jadi mereka membuat bubur merah, bubur putih, tumpengan dan ubarampe lainnya lalu mengadakan upacara pergantian nama. Hasilnya..? Sungguh menakjubkan. Gadis cilik yang tadinya galak tiba-tiba jadi lemah lembut. Yang tadinya nakal berubah jadi penurut. Pokoknya ajaib.

Ada pula pemuda yang menderita sakit menahun. Dia sudah berobat ke dokter tapi tak kunjung sembuh. Akhirnya dia mencari cara alternatif, yaitu dengan mengganti nama. Hasilnya..? Hanya bermodalkan bubur merah, bubur putih, tumpeng dan ubarampe lainnya, penyakitnya perlahan sembuh. Ternyata nama bisa jadi obat yang lebih manjur daripada obat rujukan dokter.

Mungkin anda menganggap bahwa hal ini tidak masuk akal, dan harus dihapus dari pola pikir masyarakat kita. Tapi saya kira pendapat anda itu keliru. Buktinya, mitos tersebut diakui sebagai kebenaran berskala nasional, didukung pula oleh negara. Contoh : ada kampus "bengal" dan "penyakitan" yang ingin merubah nasib dengan cara berganti nama. Tanpa mau merubah sistem yang berlaku, yang merupakan biangnya penyakit. Kenapa..? Karena kampus tersebut merupakan tempat mendidik kader pejabat yang akan menentukan jalannya pemerintahan, dan rasanya tidak etis kalau calon pejabat kok suka bunuh-bunuhan atau menyiksa juniornya. Jadi kalau sistem yang selama ini berlaku harus diganti, maka masyarakat pasti menganggap bahwa para pejabat hasil didikan sistem lama tentu tidak layak menempati posisinya sekarang ini. Karena pejabat tersebut dididik dengan sistem lama yang tidak layak pakai. Itulah alasan kenapa kampus tersebut tidak boleh merubah sistem. Agar dapat mengkambinghitamkan nama.

 

Sayangnya, walaupun sudah berganti nama tapi penyakit yang diderita kampus tersebut makin parah saja. Tidak sembuh-sembuh juga. Bahkan para penghuninya pun, makin bengal, mirip berandal. Banyak yang masih suka berantem, hobi menyiksa, dan tega membunuh.


Karena itulah banyak pihak yang memberi saran.

"Tidak mungkin penyakit bisa disembuhkan kalau sumber penyakitnya saja tidak dihilangkan. Cobalah ganti sistem yang berlaku dengan sistem baru".

Tapi si kampus membantah :

"Lha wong gadis cilik tetangganya Togie saja bisa sembuh tanpa harus merubah sistem kok.., cukup dengan berganti nama..? Iya toh..? Jadi buat apa repot-repot membuat sistem baru..? Buang-buang tenaga saja"

Ah.., tampaknya anggapan kampus tersebut salah kaprah.

Dalam kasus tertentu (terutama lembaga pendidikan), tidak cukup jika hanya merubah nama kampus. Harusnya nama seluruh mahasiswa di kampus tersebut dirubah pula. Agar terjadi perubahan total. Itulah rahasia dari "Ilmu Malih Nama" yang diwariskan para leluhur kita.

Misalkan saja kalau ingin punya mahasiswa berbudi luhur, baik, rajin, pintar, bersahaja serta tampan tak terkira, gantilah nama seluruh mahasiswa dengan "Togie". Entah itu TogieAceh1, TogiePapua2, TogieJawaTengah3 dan seterusnya.

Bagaimana dengan mahasiswinya..? Gampang, ganti saja dengan "TogieWatiSatu, TogieWatiDua, atau apa kek".


Tuh, gampang kan..? Kenapa tidak dicoba..?



 


Kejujuran di Kebun Duren





Kaji Taslim membuka lowongan bagi penduduk desa. Dia punya kebun duren yang luas, dia butuh orang untuk mengurus kebun tersebut. Kebetulan, sekarang adalah musim durian, musim yang tepat untuk menyeleksi para pelamar kerja.

Hari ini, pagi-pagi sekali, Kaji Taslim pergi ke kebun duren. Dia mendata secara lengkap seluruh pohon yang ada, sampai ke buah-buahnya. Sore nya para pelamar dikumpulkan di kebun duren, tiap orang disuruh membuat gubuk di lokasi yang telah ditentukan. Mereka tidak diberi tahu alasannya. Setelah gubuk selesai didirikan, para pelamar disuruh pulang.

Besoknya, mereka kembali datang. Kaji Taslim menjelaskan aturan seleksi. Mulai hari ini para pelamar disuruh tinggal di gubug yang telah mereka dirikan. Selama sebulan mereka tidak boleh kemana-mana. Soal makanan, harus masak sendiri, berasnya silahkan ambil di rumah masing-masing.

Berhubung saya males ngetik, anggap saja bahwa satu bulan telah berlalu, bertepatan dengan panen durian. Para peserta di karantina di aula desa, dan para penebas disuruh mendata jumlah durian di tiap pohon. Sore harinya, data durian sudah ada di tangan, dan hasil seleksi pun diumumkan. Setelah terlebih dahulu mengucapkan salam, berpidato, merokok dan menyisir rambut di hadapan pelamar, Kaji Taslim menyebut nama yang diterima bekerja. Dan dia adalah "Tarmo".

Kontan saja pendaftar yang lain pada ribut, mereka memprotes hasil seleksi. Tarmo hanyalah lulusan STM jurusan Listrik, tidak tahu banyak tentang cara bertani. Lagipula, ada beberapa pendaftar yang berstatus sebagai Sarjana Pertanian. Dari segi kualitas, merekalah yang harus dipilih, bukan Tarmo.

Dengan lagak berwibawa, Kaji Taslim menyuruh para pelamar untuk diam. Lalu dia bertanya :

"Saya ingin tahu, apakah kalian ini, yang mengaku lebih baik dari Tarmo, telah menjaga amanat yang saya percayakan..?"

"Tentu Pak"

"Betul..? Kalian benar-benar menjaga amanat saya..?"

Mereka saling pandang satu sama lain. Kemudian menjawab :

"I.., iya pak.."

"OK. Kalau begitu kenapa seluruh pohon durian di kebun saya kehilangan buah walau cuma satu butir..?"

Para pelamar langsung kaget. Memang mereka nyolong durian di pohon, memang mereka bersalah, tapi mereka  tidak mau disalahkan. Mereka pun membela diri :

"Lho, tidak apa-apa kan pak..? kami cuma mengambil satu kok.., yang sudah jatuh dari pohon"

"Jatuh gimana..? Wong semuanya sudah saya ikat pake tali rafia"

"Nah, itu dia pak. Talinya putus, jadi duriannya kami ambil"

"Hm, baiklah kalau begitu. Sekarang saya bacakan data durian yang saya punya. Pohon A duriannya hilang dua, pohon B tiga, pohon C lima, pohon D malah tiga belas. Tidak ada satu pohon pun yang kehilangan durian satu buah. Paling sedikit dua"

"Lha, kan cuma dua pak. Itu pun sudah jatuh"

"Tapi kenapa kalian bilang cuma ngambil satu..?"


Hening pun tercipta


"OK, menurut data, hanya ada satu pohon yang masih utuh, yang dijaga oleh Tarmo. Makanya dia saya terima karena mampu menjaga amanah. Bukan begitu Mo..?"

"Iya kali pak.." jawab Tarmo

"Lho, amanat apaan" Peserta yang lain protes

"Asal tahu saja ya pak, kemaren Tarmo itu mengadakan razia, berkeliling ke tiap gubuk. Minta ijin buat metik durian, tapi gak kami perbolehkan."

"Apa..? Bener itu Mo..?" Tanya Kaji Taslim

"Bener Pak" Jawab Tarmo dengan enteng

"Brak.., jadi kamu tidak jujur Mo..? Kamu berniat mencuri durian di pohon lain agar durian yang kamu jaga tetap utuh..? Begitu Mo..?" Hardik Kaji Taslim

"Bukan begitu pak"

"Lalu apa..?"

"Begini. Sebenernya, dulu, hampir seluruh pohon durian di kebun bapak pernah saya colong, termasuk pohon yang saya jaga. Dan asal tahu saja ya pak.., pohon itu buahnya gak enak. Adem, gak ada rasanya. Jadi buat apa dicolong..? Lha wong saya tidak doyan kok..?"

"Kenapa tidak nyolong pohon lain..?"

"Saya gak berani pak, takut digebuki"

Gubrak...!!

Kaji Taslim mendadak bingung. Dia tidak pernah menghadapi kasus semacam ini. Dia butuh waktu sejenak untuk berpikir, lalu pergi keluar ruangan. Meninggalkan para pelamar, yang berharap Kaji Taslim merubah keputusannya. Tak berapa lama Kaji Taslim pun kembali. Sekarang wajahnya terlihat berseri.

"OK, sudah saya putuskan. Setelah dipertimbangkan masak-masak, Tarmo tetap saya terima bekerja"

"Lho kenapa..? Dia kan tidak bisa menjaga amanat pak, sama seperti kami. Jadi kalau dia diterima, kami harus diterima pula"

"Memang dia tidak menjaga amanah, tapi paling tidak dia sudah jujur, dia mengakui salah tanpa banyak cingcong, tidak seperti kalian. Karena itulah dia saya terima. Kalau tidak bisa mendapat orang yang berjiwa amanah, cukuplah kalau saya mendapatkan orang yang jujur".




Genre : Betul-betul fiktif






Senin, 07 Mei 2007

Hadiah berkesan tapi harganya gak bikin pingsan






Biarpun ganteng, sebenarnya saya mahasiswa teknik yang jarang punya uang. Untuk NgemPi pun harus dari warnet teknik yang tarifnya seribu perak per jam. Oleh sebab itu, saya sangat sensitif pada hal-hal yang berbau uang. Contohnya dalam memberi kado/hadiah/cinderamata.

Untuk membeli kado yang berkesan, tapi harganya tidak bikin pingsan, terpaksa saya harus main akal-akalan. Tidak mungkin saya beli yang mahal-mahal karena duitnya tidak ada. Kalau menabung pun berarti harus memotong jatah uang saku saya, yang sebenarnya sudah terlalu sedikit untuk dipotong.

Untunglah di buku "Bagaimana Memikat Gadis Secara Efektif" yang ditulis oleh Don Pedros dan diterbitkan CATA BOOKS, ada bab yang berjudul "Pemberian yang efektif bagi si dia tapi tidak mahal bagi kantong anda". Saya bersyukur karena ternyata walaupun buku ini menyebutkan bermacam hadiah berharga ekonomis, tapi kalo kita akal-akali bisa jadi gratis.

1. Bunga
Biarpun dianggap gombal, memberi bunga ternyata cukup efektif, kalau situasinya mendukung. Biasanya kalau ingin membeli bunga, kita harus pergi ke toko bunga. Sayangnya, harga bunga disana cukup mahal. Tidak sehat untuk kantong kita. Alternatif lain, kita beli bunga plastik saja. Di toko kertas atau minimarket. Harganya murah, cuma 1500 rupiah. Tapi kalo anda benar-benar gak punya uang (seperti yang sering saya alami), cukuplah petik bunga tetangga, berikan pada sahabat anda. Kalau dia bertanya :

"Kok bunganya kayak gini...?"

Anda jawab saja :

"Aku ingin memberi bunga, yang kupetik dengan tanganku sendiri, untukmu..."

HOEEKKSSS...., gombal memang, tapi kan gratis, gak perlu duit

2. Berikan Kalender Pribadi yang baru
Lingkari tanggal lahirnya dan tanggal-tanggal lain yang penting bagi dia. Lingkari juga tanggal lahir anda dan tanggal yang punya arti khusus buat anda berdua. Kalau dia lupa makna tanggal tersebut, anda bisa menjelaskan padanya, sekaligus memberitahu bahwa setiap detik yang anda lalui bersamanya, kan selalu terpateri dalam hati anda, takkan terlupakan. HOOEEKKSSSSSS....!!!!!!!!!!

Soal harga, mari kita akal-akali. Seperti yang kita tahu, kalender yang imut dan lucu harganya mahal. Karena itu, buat kalender sendiri saja. Beli kertas foto ukuran A4 (2000 perak), kasih desain yang cantik dan berkesan, lalu print. Kalau anda tidak punya printer, nebeng saja di tempat teman. Gak usah malu, yang penting irit.

3. Kumpulkan foto-foto dia, cari yang paling manis, lalu cetak dengan ukuran kecil-kecil (biar ngirit kertas dan tinta). Setiap kali anda mengirim surat, tempelkan foto tersebut.

4. Buatlah kartu undangan yang cantik. Kirimkan undangan tersebut untuk mengajaknya nonton, makan malam atau belajar bareng. Kalau mau irit, pake cara di nomor dua.

5. Sekali-kali kirimkan cemilan, kue, atau makanan lain ke kantor, rumah atau kost dia. Sertakan kartu cantik bertuliskan "From Your Best Friend". Tapi jangan sering-sering, mbok boros. Tapi kalau anda bisa ikut makan sih gak papa.

6. Daftarkan dia sebagai langganan majalah yang disukai (tapi pake duit anda sendiri) selama satu tahun. Kabarkan padanya pada saat yang tepat. Hal ini sangat efektif karena selama satu tahun dia akan rajin membaca majalah kesukaannya, dan tiap kali membaca dia akan ingat bahwa majalah itu hadiah dari anda, sebagai bentuk perhatian anda padanya. Tapi..., duitnya itu lho. Dia senang, kita meriang.

7. Pinjam bukunya (Cocok buat mahasiswa yang males nulis). Setiap kali mengembalikan, selipkan sesuatu yang "surprise" seperti stiker lucu, humor pendek yang anda gunting dari majalah, atau lainnya. Dia pasti senang. Lumayan lho, sudah gratis, eh bisa pinjem catetan pula. Asyik ya..

8. Kalau dia SMS menanyakan anda sedang apa, balas saja dengan :

"Lagi bikin puisi buat kamu"

Kalau dia ingin tahu, silahkan ketik puisi anda, lalu kirimkan padanya. Tapi kalau ternyata anda tidak bisa membuat puisi, tinggal nyontek di buku saja. Toh nanti dia gak sempat berpikir ttg orisinalitas puisi yang anda kirim. Bagaimana biayanya..? Lumayan murah. Anda cuma butuh 2 kali SMS (2 x 350 = 700 Perak). Kalau sesama kartu AS malah cuma 200 perak.

9. Terakhir, hadiah yang paling murah tapi juga paling efektif adalah pujian.

Cari saat yang tepat untuk memujinya (agar terlihat wajar, tidak dibuat-buat). Contoh : Saat main ke rumahnya dikala hujan, berkatalah bahwa anda merasa kedinginan. Biasanya tuan rumah akan berinisiatif membuatkan teh hangat. Nah setelah anda meminum teh tersebut katakan bahwa anda sudah merasa baikan, tidak lagi kedinginan. Lalu ucapkan terimakasih. Ingat, setiap orang akan merasa bahagia saat tahu bahwa ternyata dirinya begitu berharga.

Kalau dia juga menghidangkan roti/cemilan lain malah lebih bagus lagi. Pujilah betapa enaknya roti tersebut. Katakan pula bahwa keluarga anda pun pasti suka roti itu. Yaa..., siapa tahu kalau pulang anda dibekali roti. Atau tiap kali datang berkunjung dikasih roti yang lebih enak lagi. Lumayan, bisa makan gratis.

Yup, itulah kiranya bermacam hadiah yang berkesan tapi tidak membikin sekarat kantong anda. Tapi maap kalau rada gak nyambung, soalnya buku yang saya jadikan referensi adalah buku ttg teknik-teknik mencari pacar. Tapi tak apalah, toh tulisan ini sudah saya tambah-tambahi, lalu di sambung-sambungkan semau saya. Jadi gak persis seperti di buku. Sudah jauh berbeda.








Sabtu, 05 Mei 2007

Hantu, Dimanakah Dirimu...? - (Part Dua - Tamat)





Hikmah yang saya dapat saat menuntun motor adalah : Ternyata tubuh kerempeng ini sudah bertambah lemah, tidak sekuat dulu. Baru saja sampai perempatan selatan terminal, nafas saya sudah tersengal-sengal. Dan sesampainya di perumahan teluk, sudah sangat ngos-ngosan, padahal saya masih harus melewati tiga buah tanjakan. Di Perumahan Teluk, di Kelurahan Teluk, dan di Desa Karangnanas. Duh..

Setelah menuntun motor sekian lama, sampailah saya di dekat gang berhantu. Tubuh hampir pingsan, capeknya tak tertahankan, rasa takut yang tadi hinggap sirna secara perlahan. Tiba-tiba saya jadi marah. Tahu begini, mending duit yang 2000 perak tadi, dipake buat beli bensin saja, atau mie goreng biar punya tenaga, bukan malah buat ngopi-susu. Lagipula, kenapa si abang tukang mie pake ngajak ngobrol ngalor-ngidul segala..? Mengkritik seluruh mahasiswi yang hilir mudik di depan warung..? Toh mahasiswi-mahasiswi tersebut tidak salah apa-apa..? Dan lihatlah sekarang, saat capek begini saya masih harus berjalan melewati gang gelap yang ada kakek-kakeknya, juga warung bakso yang dihuni hantu wanita berjidat Louhan. Sialan.

Pokoknya saya capek, gak mau diganggu, gak mau dibikin tambah marah. Pokoknya kalo ada yang coba bikin marah, bakal tak pukul, tak ajak berantem, tak hajar, tak bantai, tak...

AARRGGHH..
.

Awas saja kalau nanti si kakek berani nongol, bakal tak lempar batu, tak gebuk pake kayu. Biar kapok, gak ganggu manusia lagi. Bayangin aja, udah capek nuntun motor, hampir pingsan, kehausan, perut keroncongan, duit kehabisan, eh, kok masih dijahili hantu pula.., apa gak kebangetan tuh..? Pokoknya awas..

Nah, tuh, lihat di depan sana, gang gelapnya sudah di depan mata. Tapi mana si kakek..? kok belum datang..? Ah, mungkin sebentar lagi dia muncul. Berarti saya harus siap-siap, begitu dia nongol, langsung pukul. Gak papa, jangan liat kalo dia udah tua, lha wong daku lagi marah kok, dia yang salah kok..

Akhirnya sampai juga saya di depan gang. Si kakek tetap tidak kelihatan. Jangan-jangan dia mau ngaget-ngagetin dari belakang. Wah, kalau begitu saya tetap harus waspada. Nanti kalau dia muncul, langsung balikkan badan, lalu hajar. Ha.. ha..

Tapi apa nyana, setelah jauh melangkah, si kakek tak kunjung memperlihatkan diri. Hm, mungkin dia benar-benar tidak datang. Mungkin sedang ikut arisan, kumpulan RT, atau kongkow-kongkow di kuburan. Ck, masa bodo.

Berarti sekarang tinggal menghadapi hantu wanita berkepala Louhan di warung bakso. Tapi kan gak etis ya kalo harus memukuli wanita..? Biarpun dia hantu..? Sangat tidak jantan..? Berarti nanti saya teriak saja. Yup betul, teriak saja :

"Tolooonnggg..., ada hantu wanita berjidat Louhaaann...!!!" Kurang lebih begitu ya..?

Tapi kok rasanya nanti teriakan saya terlalu panjang, tidak efektif, jauh dari efisien. Kalau begitu lebih baik disingkat saja.

"Toloonggg, ada hantu jidat Louhaaann...!!!" Nah, begitu kan lebih simple.

Tapi apa benar..? Jangan-jangan nanti penduduk yang mendengar teriakan saya jadi salah sangka. Dikiranya hantu itu berwujud ikan Louhan, bukan hantu wanita. Terus nanti saya diprotes habis-habisan.

"Mas, kalau minta tolong yang bener dong. Masak hantu wanita kok dibilang hantu Louhan..?"

"Soalnya biar ringkes mas. Toh jidatnya kan sama-sama mancung, mirip Louhan"

"Iya, tapi akibatnya kami-kami ini jadi salah sangka. Tadi kami lari kemari sambil membayangkan sesosok hantu berwujud ikan"

"Gak papa deh mas.., damai deh.., damai"

"Lho, gak bisa dong. Sudah jelas anda ini salah"


Trus, jangan-jangan nanti hantu wanita berjidat Louhan jadi bingung, lalu menyela :

"Mas, hantunya kan saya. Kok saya gak diapa-apain..?"

"Nanti dulu mbak. Urusan yang satu ini harus diberesin dulu. Yang bener yang mana..? Hantu wanita atau hantu ikan Louhan..? Lebih baik mbak duduk-duduk dulu di pojok sana. Kalau urusan ini sudah beres, mbak baru kami tangkap"

GUBRAK..!!!


Tuh, bingung kan..? Pusing. Mau minta tolong kok susah amat..? Ah, masa bodo nanti mau teriak apa, yang penting saya harus segera sampai rumah, lewat depan warung.

Dengan hati dag-dig-dug saya ayunkan langkah. Warung bakso sudah di depan mata. Jaraknya sepuluh meter lagi...
Sembilan meter...
Delapan meter...
Empat meter...
Dua meter...
Satu meter...

Dan ah..., inilah saatnya, saya sudah berada di depan warung, saya harus bersiap-siap teriak minta tolong. Tapi saya harus lihat kedalam dulu, mbok hantunya ganti, atau jidat benjolnya sudah sembuh. Lalu saya longokkan kepala kedalam warung,

dan...,
Lalu...

"Lho.., Kok hantunya gak ada...?"

Saya jadi bingung, garuk-garuk kepala. Saya longokkan kepala lagi, tapi si hantu tetap gak kelihatan. Duh, sialan. Kalo begini, buat apa tadi saya berpikir keras untuk mencari teriakan yang cocok, efektif, dan efisien agar tidak menimbulkan kesalahpahaman penduduk saat saya minta tolong dari gangguan hantu wanita berjidat Louhan..? Buat apa saya teriak kalau hantu nya saja tidak ada..? Buat apa sa...

Bah, kali aja tuh hantu lagi arisan, dugem, atau malah grogi gara-gara jidatnya diejek oleh saya dan adik saya. Ah, mana saya tahu.

Lima menit kemudian saya sudah sampai rumah. Setelah memasukkan motor ke garasi, menaruh helm, melempar tas dan melepas jaket, saya pun ambruk di depan TV. Mata berkunang-kunang. Badan serasa meriang.

Ibu saya, yang mulanya ingin marah, akhirnya merasa kasihan. Melihat anaknya yang kurus kering ini terkapar tak berdaya, kelelahan. Ngos-ngosan. Dan setelah beliau tahu bahwa saya habis menuntun motor dari terminal purwokerto sampai desa karangnanas, dengan lembut beliau pun berkata :

"Ibu buatkan teh hangat ya Gie.., kasihan kamu ini.."

Alhamdulillah, surga memang berada dibawah telapak kaki ibu.

Sedangkan dilantai atas mungkin adik saya sedang melihat saya dengan perasaan iri. "Kenapa kemarin aku diomeli..?"

"Ah, sebaiknya tubuh bongsor mu kau kuruskan juga dik.., HA.. Ha.. Ha..!!"





The End - No Continued



Jumat, 04 Mei 2007

Hantu.., Dimanakah Dirimu...? - (Part I)



Malam itu adik saya ngomel-ngomel. Dia baru saja dimarahi oleh ibu. Kenapa..? Karena dia pulang terlalu malam. Padahal dia hanya pamit untuk pergi sebentar, ke rumah tetangga, teman baik adik saya. Dan ibu, seperti ibu-ibu lainnya, langsung memberikan ceramah panjang lebar, tentang betapa pentingnya belajar sebelum tidur. Ceramah tersebut berlangsung lebih dari setengah jam, tanpa jeda.

Seusai mendengarkan ceramah yang isinya itu-itu saja, adik pun langsung meluncur ke lantai atas, menemui sang kakak berwajah tampan yang sedang asyik main game warcraft di dalam kamar. Dengan mulut berbusa-busa dia menceritakan kronologis keterlambatannya, yang kurang lebih seperti ini :



  1. Jam sembilan dia pergi ke tetangga lain RT naik motor

  2. Tuan rumah minta ijin untuk meminjam motor. Katanya mau beli mendoan buat sang tamu.

  3. Sang tamu (adik saya) mengijinkan. Walaupun dia harus ikut iuran beli mendoan.

  4. Setelah ditinggal begitu lama, tuan rumah kok belum balik-balik juga

  5. Pintu depan di dobrak, tuan rumah masuk dengan nafas ngos-ngosan

  6. Adik saya bertanya kenapa tuan rumah kok ngos-ngosan..? Dia juga bertanya, kok pulangnya gak bawa motor..? Ditinggal dimana..? Tapi tuan rumah diam seribu bahasa.

  7. Adik saya marah. Badannya yang segede gondoruwo bengkak itu langsung bertambah besar, terlihat begitu garang.

  8. Tuan rumah ketakutan lalu bercerita bahwa motor adik saya macet gara-gara kehabisan bensin di terminal Purwokerto. Terpaksa motor dia tuntun. Setelah berjalan cukup jauh sampailah dia di gang sempit yang begitu gelap, dikelilingi kebun bambu, dekat kuburan. Disana dia melihat kakek tua sedang berdiri bengong di pinggir jalan. Tuan rumah diam saja, dia berjalan melewati kakek tersebut sambil berkata "Permisi kek..."
  9. Tapi kemudian dia curiga. Di daerah situ tidak ada kakek-kakek berambut putih panjang, berjenggot putih panjang, berbaju putih panjang, semuanya serba panjang. Dia menengok melihat sang kakek, sang kakek menatap tajam padanya, tanpa ekspresi.

  10. Tuan rumah langsung lari ketakutan sambil tetap menuntun motor sampai depan warung bakso. Dia berhenti, beristirahat, lalu menarik nafas panjang sambil berkata "Fyuuhh..., selamaatt.., selamaatt..!!"

  11. Dengan iseng dia melihat ke dalam warung bakso. Ternyata ada seorang wanita yang sedang jongkok di lantai, arahnya menyamping mirip wayang kulit. Bajunya seperti gaun tidur, warnanya putih panjang, ramputnya hitam panjang, jidatnya benjol ke depan, seperti habis di ketok palu berbobot satu ton, mirip ikan louhan.

  12. Tuan rumah langsung lari lagi, lintang pukang, tanpa sempat berteriak minta tolong. Meninggalkan sepeda motor yang macet kehabisan bensin, tergeletak di pinggir jalan.

Nah, begitulah ceritanya. Adik saya langsung mangkel, masak cuma begitu saja kok takut. Secara sepihak dia meminta tuan rumah untuk pergi lagi, mengambil motor. tapi tuan rumah tidak mau, dia terlalu takut. Lalu adik saya menawarkan untuk pergi bareng, tapi tuan rumah tetap tidak mau.

"Lebih baik babak belur dipukuli kamu daripada harus ketemu hantu lagi". Begitu katanya.

Terpaksa adik saya pergi sendiri ke warung bakso, mengambil motor yang ditelantarkan dipinggir jalan, tanpa tuan. Untunglah, sesampainya disana, si hantu wanita sudah tidak ada.

Setelah bercerita seperti itu, adik lalu menatap tajam pada saya, saya menatap tajam pada layar komputer. Undead yang saya mainkan hampir habis dibantai oleh segerombol Human, saya nyaris kalah. Jadi tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan cerita adik. Karena merasa dicueki, adik saya tambah jengkel, lalu ngeloyor pergi.

Tapi ternyata nasib memang begitu unik. Seminggu setelah itu, tepat malam jumat, saya pulang larut malam. Tadi di warung mie, abang pemilik warung mengajak ngobrol panjang lebar, jam 11 malam baru selesai, itu pun karena warung mau tutup. Sambil menembus dinginnya malam dan menikmati sepotong bulan di langit, saya melajukan motor jupiter merah melewati syahdu nya remang lampu di terminal Purwokerto. Hingga akhirnya, motor yang awalnya berbunyi...

"Ngung.., ngung.., MBERM..!!"

Tiba-tiba berubah menjadi...

"Jegluk.., Ceklek.., Jegluk.., Ceklek..!!".

Wah, jangan-jangan kehabisan bensin. Begitu batin saya. Dan benar saja..

"Ceker..., Glek.., Glek,," Mesin motor langsung mati.

Urgh.., sial. Kok bisa mati..? Huh, terpaksa saya harus menuntun motor menuju rumah.

Tapi tiba-tiba, begitu tiba-tiba, langsung terlintas di benak saya : "Kok mirip kasusnya teman adik saya...?" Motor mati di terminal baru, kehabisan bensin, harus dituntun. Lalu pulangnya harus melewati gang gelap dekat kuburan, dan warung bakso yang menyeramkan. Jangan-jangan....

Ah, positif thinking sajalah





To Be Continued to PART II