Selasa, 06 November 2007

Dont Go.., Dont Go..., no no no




Ah, bosan. Hanya ada kegelapan. Malam tak memberiku apa-apa, sekedar selaput hitam yang membayang di lensa mata. Aku tak bisa melihatmu, wajahmu, senyummu, tubuhmu

"Gila..!!" Kau berteriak dari ujung sana
"Kenapa kau pejamkan mata..?"

Tidak, aku tidak gila. Ada tembok yang membatasi kamarku dan kamarmu, rumahku dan rumahmu. Walau menggunakan kacamata tiga dimensi, aku tetap takkan bisa melihatmu. Terakhir kali, kulihat kau tertawa dalam hatiku, karena itulah kucari kau disana, siapa tahu masih ada.

"Gila.., benar kataku, kau sudah gila..!!"

Stop..!! Sudah kubilang, aku tidak gila. Ada banyak wajah di luar sana, mereka bisa kulihat dengan mudah asal mau membuka mata. Tapi saat ini, di kamar ini, tak ada seorangpun. Hanya satu unit komputer, kasur, bantal, selimut, rak buku, meja, kursi serta dinding bata. Tak ada dia, mereka, ataupun kau.

"Lalu, kamu ingin tahu siapa saja yang bisa kamu lihat dengan menutup mata..?"

Ya, tentu. Orang tuaku, sedang tertidur di lubuk hati. Maklum, mereka lelah. Setelah bersusah payah merawatku sedari kecil. Adik-adikku, mereka sedang menangis. Dulu aku selalu merebut permen yang mereka punya dan mereka menangis. Sekarangpun, di hatiku, mereka masih menangis. Tapi kenapa saat kucoba melihatmu, hanya gelap yang ada? Padahal kemarin, kau masih disana.

"Kenapa aku menghilang..?"

Justru itu yang ingin kutanyakan. Padahal tumben-tumbennya kamu minggat. Biasanya kau rajin nongkrong disitu. Duduk selonjor sambil baca puisi, tersenyum, tertawa, lalu bernyanyi. Jadi, pertanyaannya adalah, kenapa kamu pergi..?

"Mungkin karena aku bosan..?"

Bah.., Bosan..? Rasanya bukan. Tiap kali ada yang mencoba mengambil tempatmu, kau selalu datang. Membawa pisau, celurit, bahkan parang. Kau usir dia, kau ancam agar tak kembali. Apa itu  tidak bertolak belakang dengan teorema kebosanan..?

"Lebih baik kau usir aku dari hatimu..?"

Yah, memang sebaiknya begitu. Tapi tidakkah kau ingat, terakhir kali aku menyuruhmu pergi, aku dilarikan ke rumah sakit selama belasan hari

"Gara-gara aku hajar..?"

Bukan. Gara-gara menderita tekanan mental.

"Ooo..."

Jangan cuma bilang "Ooo...". Tolong jelaskan, kenapa kamu pergi..? Kenapa pula harus kembali..?

Dan sudah kuduga, kau hanya menjawabnya dengan senyum, lalu membisu.

Suatu ketika di kala lebaran - gadis manis dari RT sebelah.3gp




Video yang didapat dengan menggunakan teknik spionase tingkat tinggi sehingga tidak disadari oleh korban. Teknisnya, dengan memperalat beberapa anak kecil dan si bisu yang dengan rela menemani sang togie saat melepaskan penat di serambi kecil dekat mushalla hutan bambu.

Tentang si bisu, Mereka Adalah Guru Saya



Kita.., sama
Bisu, tuli, buta, kita manusia
Punya otak, punya hati, punya tubuh
Lalu, dimana bedanya..?

Iblis, telah demikian jauh merasuki hati manusia
Menanamkan nilai-nilai ngawur di benak mereka
Membedakan semua menurut pandangan mata
Tinggi-rendah, mulia-hina, kaya-papa, tak jelas lagi kriterianya

Dulu, iblis pernah berkata :
"Aku dibuat dari api, dia dari tanah"
"Aku mulia, Adam lebih hina"
"Kalau dilihat dari situ, harusnya dialah yang bersujud pada saya"

Cuih.., gila
Kegilaan yang diikuti sekian banyak manusia
Yang sukarela melepas status kemanusiaannya
Dan beralih ke jabatan baru : “Manusia berpola pikir iblis”

 

********

 

Sahibul hikayat, di sebuah negeri yang kaya raya akan tetapi banyak hutangnya, hiduplah seorang mahasiswa berwajah purnama, berjiwa ksatria, berotak MBA, dan sebentar lagi beli motor vespa. Dia mempunyai beberapa sahabat karib, dua diantaranya mengidap penyakit bisu.

Sebagaimana layaknya orang bisu, mereka sering dilecehkan oleh manusia normal bergolongan darah I (Iblis)*. Golongan ini sering menilai manusia menurut kesempurnaan fisiknya saja, lupa bahwa sebelum lahir wujud manusia sebenarnya sama, yaitu ruh (yang tidak bisu). Kalau toh mati, jasad mereka pun sama-sama jadi bangkai. Lalu, kenapa harus dibeda-bedakan..?

Acapkali, mereka menganggap bahwa si bisu hanyalah manusia kelas dua. Lebih rendah dari manusia normal yang berkedudukan mulia, setingkat lebih tinggi diatas orang idiot. Pernah, saat kehabisan ide untuk bercanda, dengan entengnya mereka bertanya  : “Eh, kamu goblok ya..?”. Dan si bisu, yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menganggukan kepala, mengikuti mereka yang bertanya dengan menganggukkan kepala juga. Mereka tertawa senang : “Hahaha..!!”. Si bisu pun ikut tertawa : “Hahaha..!!!”. Ah, ingin rasanya memberitahu apa yang sebenarnya terjadi, namun niat itu selalu diurungkan. Tak apa tertawa untuk menghina, yang penting si bisu menganggapnya sebagai tawa bahagia : “Hahaha..!!”. Biar semua bahagia : “Hahaha...!!!”. Dan menangislah.

Atau, jika sedang putus cinta. Mereka kerap berpaling pada si bisu. Bukan untuk meminta nasehat, melainkan untuk menghina. Agar dapat merubah kesedihan menjadi canda. Sering mereka berkata :

“Aku tidak sedih, toh semua orang pernah putus cinta. Dan akan mendapatkan kembali cinta mereka. Aku masih mending. Lihatlah si bisu. Mereka tak pernah diputus oleh pacar mereka, sebab mereka tak pernah punya pacar. Tidak ada yang mau. Satu-satunya kesempatan agar mereka dapat merasakan putus cinta adalah saat ditolak. Dan kamu tahu kan, mereka selalu saja ditolak oleh wanita yang mereka suka..? Bahkan kalau menggunakan ilmu pelet paling mutakhir pun, belum tentu cinta mereka diterima. Lho, gak percaya..? Berani taruhan..? Ayo..!! Hahaha..!! Gwahahaha..!!”

BLETAK...!!!

Ah, aneh. Padahal sebenarnya, walaupun memang di satu sisi kedua bisu tersebut punya banyak kekurangan, namun jika dilihat dari sisi lain mereka punya kelebihan yang jarang dimiliki oleh manusia lain. Yaitu KEBESARAN HATI

 

******

Alkisah, suatu hari, saat shalat tarawih di mushalla, sang mahasiswa berdiri tepat dibawah kipas angin yang berputar kencang. Karena tubuhnya yang kurus, ringkih dan penyakitan, para jamaah pasti bisa menebak bahwa sepulangnya nanti sang mahasiswa langsung masuk angin akibat kedinginan. Namun sayang, para jamaah tetap diam, tenggelam dalam kekhusyu’annya masing-masing, tanpa mempedulikan nasib sang mahasiswa. Untunglah tak berapa lama kemudian, sayup-sayup terdengar suara lenguhan dari arah kiri. Di pojok sana, terlihat si bisu melambai-lambaikan tangannya, menawarkan diri untuk bertukar tempat. Walau sebenarnya, dia sendiri pun tak kalah kurusnya. Subhanallah..!!!

Kali yang lain, sang mahasiswa mengidap penyakit error. Ketika adzan maghrib berkumandang dia tetap asyik mencangkul tanah di depan rumah, ingin cuti dari shalat. Saat itulah si bisu lewat. Langkahnya terhenti begitu melihat sang mahasiswa. Dengan gerak isyarat yang sulit dimengerti, si bisu mengajak ke mushalla. Jari telunjuknya mengarah ke langit sambil berucap “Allo...!! Allo..!!” (Allah). Dia mengangkat telapak tangannya seperti sedang takbir lalu menyedekapkannya di dada. Dia menatap sang mahasiswa. Mata bertemu mata, jiwa bertemu jiwa. Walau tanpa suara, sang mahasiwa seolah-olah bisa mendengar dia berkata “Gie, shalat maghrib yuk..!! Bareng-bareng lagi kayak dulu..”

Atau saat lebaran kemarin. Saat sang mahasiswa ingin bersilaturahmi ke tetangga sekitar tapi tak ada teman. Dengan inisiatif sendiri, si bisu menggandeng tangan sang mahasiswa. Layaknya seorang pemimpin, dia mengetuk setiap pintu rumah warga lalu mengajak penghuninya bersalaman. Bagaimana dengan sang mahasiswa..? Dia cukup cengar-cengir dan garuk-garuk kepala lalu ikut bersalaman juga, sambil berucap “minal aidzin wal faidzin.”

Bahkan saat sang mahasiswa merasa capek dan ngos-ngosan setelah bersilaturahmi ke pelosok hutan bambu sehingga terpaksa beristirahat di dekat mushalla, si gadis manis dari RT sebelah lewat. Katanya mau beli es batu. Rasa lelah sang mahasiswa mendadak hilang, senyum pisang pun terkembang. Saat itu, walaupun mungkin di dalam hatinya si bisu bertanya "Kenapa mahasiswa yang tadinya capek tiba-tiba jadi semangat seperti ini..?" tapi dia tetap rela menemani. Termasuk ketika sang mahasiswa mengajak si gadis manis ngobrol dan secara diam-diam memfotonya sebanyak empat kali plus rekaman video dua kali, si bisu tetap tidak protes (Alhamdulillah).

Terakhir, saat si bisu belajar IQRO pada Tarmo. Dengan lancarnya dia bisa mengeja "Alif (AIP), Ba, Ta" dan seterusnya, namun terbentur kendala saat menghadapi huruf "Ha". Tarmo, dengan kengeyelannya yang mendekati taraf sempurna, berusaha keras menyuruh si bisu mengucap kata "Ha". Dengan susah payah, si bisu cuma bisa bersuara "..AA.. ..AA.. ..AA..". Walaupun Tarmo tahu bahwa si bisu mengalami gangguan di lidah dan tenggorokannya sehingga tidak bisa mengucap "Ha", tapi dia tetap ngotot. Walaupun dia tahu bahwa Allah telah memberi keringanan pada orang-orang seperti si bisu, dia masih ngotot. Dan walaupun sang mahasiswa berkali-kali berkata "Sudahlah Mo, dia memang tidak bisa. Makanya dia bisu. Kalau nggak gitu, dia gak bakal bisu", tapi Tarmo tetaplah Tarmo.

Apa reaksi si bisu..? Subhanallah. Dengan mati-matian dia menekan tenggorokannya agar bisa bersuara "HA". Bahkan sampai pulang pun, dia masih memegang tenggorokannya, masih tetap berusaha, masih mengucap "..AA.. ..AA.. ..AA.."

Entahlah. Di mata orang lain, kedua bisu tersebut mungkin terlihat rendah. Tapi di mata saya, mereka adalah teman yang berjiwa mulia. Jauh di lubuk hati, saya menganggap mereka lebih dari sekedar teman. Mereka adalah guru. Yang mengajari saya tentang bagaimana harus bersikap, tentang pentingnya berusaha, tentang solidaritas, tentang mengasihi orang lain. Ya.., mereka adalah guru saya. Sayang saya bukan murid yang baik, belum bisa seperti mereka.

Keterangan gambar : Si bisu kakak, si bisu adik, Mahasiswa berwajah purnama, gadis manis dari RT sebelah


*QS. 17 - Al Israa' : 61. Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?"

 

Togie de lonelie
Sehabis silaturahmi


 

Berpikir bebas, nikmati sensasinya

Kebebasan berpikir bukan berarti kita boleh berpikir sebebas-bebasnya. Sebab dalam berpikir terdapat kerangka yang membatasi pengembaraan kita. Kerangka tersebut berfungsi untuk menjaga agar proses berpikir kita tetap berada pada koridor yang benar, sehingga hasil pemikiran kita pun bisa benar pula. Jika kita keluar dari kerangka tersebut, kemungkinan besar hasil yang kita peroleh akan melenceng jauh dari yang seharusnya. Oleh sebab itu, dalam setiap bidang ilmu selalu ada peraturan yang harus dipatuhi.

Namun, sebagian orang cenderung salah kaprah dalam mengartikan kebebasan berpikir. Salah satunya adalah almarhum Ahmad Wahib dalam bukunya yang berjudul "Pergolakan dan pemikiran islam". Di buku ini, dia menyarankan agar kita berpikir sebebas mungkin, jangan mau dibatasi. Kemampuan otak manusia memang terbatas, tak bisa menjangkau "kebenaran" sempurna. Karena itulah kita harus memikirkan segalanya agar dapat sampai pada "batas" yang mampu dijangkau oleh otak kita. 

Dengan metode kebebasan berpikir tersebut, dia telah menghasilkan beberapa pemikiran “spektakuler”. Beberapa diantaranya adalah :

1. Dia meremehkan mereka yang mencoba berpegang teguh pada syariat islam. Menurut dia, syariat islam hanya pantas diberlakukan pada masa Rasulullah SAW, itu pun terbatas pada masyarakat arab kuno. Di masa sekarang, dimana penduduk, teknologi, serta budayanya sudah jauh berbeda, syariat islam sudah tidak pantas diberlakukan lagi.

2. Dia berkata bahwa seharusnya Allah kembali menurunkan Nabi atau Rasul yang menjelaskan pada manusia tentang islam yang "sesungguhnya", sebab Islam yang sekarang kita anut sudah berbeda jauh dengan islam di masa rasulullah. Jika Allah menurunkan Muhammad SAW untuk menggantikan Isa AS padahal budaya dan teknologi di masa keduanya belum jauh berbeda, lalu kenapa saat perbedaan tersebut demikian mencolok (bila masa sekarang dibandingkan dengan masa rasulullah), Allah tidak kembali mengutus nabi-Nya..?

3. Hadits, menurut dia, sebenarnya hanya pantas disebut sebagai "hasil budaya" arab jaman brahola saja. Sebatas kata-kata dan tindakan rasulullah yang memang layak diterapkan pada masyarakat arab pada jamannya. Tidak untuk digunakan di masa kini.

4. Dan terakhir, dia mengecam mereka yang melarang manusia untuk memikirkan "adanya" Allah. Padahal seperti yang sudah kita tahu, bahwa Allah bersifat “wujud”.

Nah, disini terlihat jelas kerancuan dalam kebebasan berpikir yang dikemukakan oleh almarhum Ahmad Wahib.

Seperti yang telah disebutkan bahwa setiap bidang ilmu punya aturannya sendiri. Dalam teknik elektro misalnya. Jika menggunakan metode kebebasan berpikir, maka kita bebas-bebas saja berpendapat bahwa resistor dapat melakukan hubungan seks sehingga bila dinikahkan dengan kambing akan menghasilkan keturunan berupa kulkas dan televisi. Kita boleh berpikir seperti itu. Tapi, apa manfaatnya..? Hampir tidak ada. Hanya menghasilkan pemikiran ngawur yang tidak pernah terlintas di benak jin sekalipun. Karena itulah, di teknik elektro ada aturan bahwa resistor berfungsi sebagai tahanan. Bila diberi tegangan V akan menghasilkan arus i, bila dilewati arus menghasilkan tegangan V, dan bila diinjak gajah niscaya remuk. Tak sedikitpun disebutkan bahwa resistor mempunyai alat kelamin agar dapat melakukan hubungan seks.

Lebih jauh lagi, mari kita bahas buah dari pohon bernama "kebebasan berpikir".

1. Tentang Syariat Islam. Ustadz Abu Bakar Ba'asyir, saat menjadi pembicara pada "Islamic Book Fair" di GOR Satria Purwokerto berkata bahwa islam bukan sekedar agama, islam adalah dien. Kita harus mengetahui perbedaan antara agama dan dien. Agama hanya berkisar pada kepercayaan terhadap Tuhan. Asalkan kita percaya, walaupun tidak mematuhi aturan atau syariat-Nya, kita sudah bisa disebut sebagai umat "beragama".

Tapi islam berbeda. Rasulullah diutus bukan hanya untuk mengabarkan bahwa Allah itu ada, tapi juga untuk mengajarkan syariat-syariatNya. Baik yang mengatur hubungan antara manusia dengan Allah, sesama manusia, maupun alam semesta. Itulah yang tertera dalam Alquran dan hadits. Namun karena Almarhum ahmad wahib menganggap hadits (terkadang juga Alquran) hanya sebagai produk budaya, maka keduanya harus disesuaikan dulu dengan kondisi dan situasi di suatu tempat.

Mungkin menurut dia, kalau di arab sana ada hukum rajam, cambuk, potong tangan, shalat dan haji, sesampainya di indonesia harus ditransformasikan menjadi pemberian trophy, peluk sayang, beasiswa, dugem dan korupsi. Agar sesuai dengan budaya yang kita miliki.

2. Tentang diutusnya kembali nabi dan rasul. Almarhum (andai sekarang masih hidup) pasti gembira terhadap fenomena Lia Eden dan Mossadeq. Tak peduli seaneh apa logika yang digunakan sebagai dalil bahwa mereka benar-benar "berpangkat" sebagai utusan Tuhan. Almarhum kiranya merasa legowo karena dapat belajar islam langsung kepada jibril (yang konon merasuk kedalam raga sang Lia Eden). Lalu dilanjutkan dengan diskusi dimana jibril dapat melaporkan hasil diskusinya kepada Tuhan sehingga nantinya Tuhan akan menetapkan syariat baru yang benar-benar sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Ah, pemikiran bebas yang aneh. Kenapa harus diturunkan nabi baru jika budaya yang berlaku di suatu bangsa dapat menyesuaikan diri dengan islam. Toh wanita jawa jaman brahola, yang konon kalau pergi kemana-mana sambil bertelanjang dada, sekarang banyak yang berkenan untuk menutup auratnya. Yah, walaupun banyak yang masih setengah-setengah sih. Masih telanjang setengah dada-setengah paha.

3. Tentang Hadits. Ada ilmu tafsir yang membahas tentang hadits. Ada cara tertentu dalam menginterpretasi suatu hadits. Jika Ahmad Wahib berpikir terlalu bebas dan tidak mematuhi kaidah yang berlaku dalam ilmu hadits, pantas saja dia menganggap bahwa hadits hanyalah produk budaya.

Tata cara shalat (yang tidak secara lengkap dijelaskan dalam Alquran) nantinya bisa dirubah semau kita. Jika hadits menjelaskan bahwa shalat harus mempergunakan bahasa arab, membaca ayat Alquran dalam bahasa arab, maka boleh-boleh saja bila shalat kita “Indonesiakan”. Bahasa arab diganti dengan bahasa indonesia. Ayat Alquran diganti dengan lagu-lagu populer.

Nantinya, shalat kita pasti lebih menyenangkan. Saat sedang jatuh cinta, kita shalat sambil bernyanyi "Pelangi di matamu" Jamrud. Saat patah hati, bolehlah diganti dengan "Menangis Semalam" milik Audy. Dan kalau sedang stress, monggo mendangdutkan diri dengan lagu "Kucing Garong". Tak  apa, toh tata cara shalat yang terkandung dalam hadits cuma dianggap sebagai produk budaya, jadi boleh dong kalau budayanya menggunakan budaya bangsa kita.

4. Lalu tentang Allah. Kalau yang dimaksud oleh almarhum adalah membolehkan kita untuk berpikir tentang "dzat" Allah, maka lebih baik kita angkat tangan saja. Bersiaplah untuk merasa heran jika nantinya ada pertanyaan yang berbunyi "Menurut Tuhan, siapakah ciptaanNya yang lebih seksi, Paris Hilton atau Pamella Anderson..?". Anda jangan protes terhadap pertanyaan seperti ini, sebab menurut asas kebebasan berpikir, pertanyaan sengawur apapun niscaya dianggap sah-sah saja. Sebab "kebebasan" telah disalah artikan sebagai "bebas sebebas-bebasnya".

 

Togie de lonelie
Saat sedang kuliah tapi malah bikin tulisan seperti ini

Senin, 05 November 2007

Jejakmu (untuk masalalu)


 

Kucari jejakmu, mengikuti rembesan air liur yang menganak sungai membanjiri ingatan. Kuendus baumu, lewat kecutnya aroma keringat yang dulu kau tinggalkan. Namun tetap saja, hanya dapat kutemui samarnya bekas langkah diatas beceknya mimpi.

Sesekali, pernah kupergoki bayangmu mengintip dari dalam kakus, berpijak diatas reotnya ember, bergelantungan di lubang ventilasi. Namun saat kudobrak pintu, bayangmu langsung lari. Kabur lewat pipa toilet, terbawa hanyut ke kali.

Pernah pula kudengar isak tangismu dari balik jendela kamar, disela cericit kampret. Namun saat kupasang telinga, suaramu mendadak sirna. Terusir oleh bisingnya tanya yang mendadak ngumpul di batok kepala.

Tapi kemarin. Ya.., kemarin malam, kulihat lagi sosokmu secara utuh. Masih seperti dulu, dengan senyum manis kau berusaha menggodaku, agar ikut pesiar ke masalalu.

Sayang, otakku sedang normal. Aku sadar bahwa kau hanyalah sekeping kisah yang tertinggal di pusaran waktu. Bayangmu cuma boleh nampak di alam mimpi, tanpa perlu diwujudkan ke realita. Sekarang, biarlah kusandarkan semuanya pada sang waktu. Menunggu sampai dia membawa kembali sosokmu padaku. Sosok yang berinkarnasi ke bentuk lain, bukan dirimu.


togie de lonelie
dinihari

Joke : 4

 

Ayah sheilla sebenarnya tidak terlalu gembira melihat putrinya itu demikian mencintai brian karena ia tak puas dengan kemampuan keuangan brian.

Untuk puluhan kalinya ia bertanya pada pacar putrinya itu

"Brian, benarkah kau sanggup menghidupi rumahtanggamu dengan baik..?"

Dengan agak kesal brian menjawab : "Percayalah pak. Sheilla tidak akan mati kelaparan. Saya pasti sanggup memberinya makan"

Ayah sheilla masih belum puas. Ia bertanya lagi, "Tapi sudah tahukah kau bahwa sheilla hanya bernafsu makan kalau nasinya diletakkan diatas panci dan piring emas..?"

*****

Henri : "Apakah isterimu sukar untuk diajak berunding?"

Daud : "Entahlah. Selama dua puluh lima tahun menikah saya belum pernah mencoba hal itu"

*****

Seorang produser TV jerman yang bermaksud mengambil adegan kegiatan kerja para pekerja Indonesia untuk melengkapi salah satu filmnya pergi ke perpustakaan film. Kebetulan di perpustakaan itu tak tersedia koleksi adegan yang dibutuhkannya.

Akhirnya ia menemukan jalan keluar yang tetap hemat biaya. Ia mengambil adegan kegiatan kerja para pekerja Jerman dengan gerak yang diperlambat.

 

Minggu, 04 November 2007

Lonelie Memorie


Di pojok kamar ini, aku sering melihat diriku di masalalu sedang menatap aneh pada diriku yang sekarang. Dia merasa heran melihat diriku yang sekarang ternyata jauh berbeda dengan apa yang selalu dia bayangkan. Diriku yang sekarang pun merasa trenyuh, lalu terdiam. Di pojok yang lain, diriku di masa depan terlihat sedang menatapku. Terheran-heran, lalu ikut merenung, sepertiku.

Saat ini, di kamar ini, ada tiga diri. Mereka saling melihat, mengamati, lalu bersama-sama tenggelam dalam renungan.

togie de lonelie