Minggu, 10 Februari 2008

Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan

Pada dasarnya, apabila menemui suatu masalah, kita harus mencari penyebab masalah tersebut lalu menemukan solusinya. Namun sayangnya, kita terbiasa (atau lebih suka) untuk mencari siapa pelakunya. Dan terkadang (lebih tepat bila disebut "sering"), yang salah bukan kita, tapi orang lain. Atau biarpun bisa diketahui dengan jelas bahwa yang salah adalah kita, orang lain harus tetap dianggap salah pula. Kalau bisa, orang tersebut malah HARUS lebih salah dari kita. Hobi menyalah-nyalahkan inilah yang kerap menimbulkan kejadian tidak sedap pada diri saya.

Begini. Dulu ada orang yang memberi vonis bahwa saya adalah PECANDU NARKOBA. Alasannya gara-gara tubuh saya kurus kering, sering melamun, lalu cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Kata dia, para PECANDU biasanya bertubuh kurus. Lalu, karena pengaruh zat psikotropika, saya jadi sering melamun. Konon katanya saat melamun itu saya sedang "nge-fly". Setelah puas menjelajah alam langit dan kembali ke alam nyata, saya langsung cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Alangkah tidak nyambungnya.

Padahal dalam kasus ini, alur logika yang kita gunakan seharusnya sebagai berikut :
  • Permasalahan : Badan saya kurus, hobi melamun, suka cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala
  • Penyebab : Macam-macam. Bisa Narkoba, kurang gizi, kurang makan, badan tidak sehat, atau semacamnya
  • Fakta :
  1. Pola makan saya tidak teratur. Kadang dua kali sehari, kadang sekali, kadang seharian gak makan nasi.
  2. Kalau kurang makan, seseorang (atau saya) jadi sering melamun
  3. Dulu rambut saya gondrong. Kalau jarang keramas sering gatal
  4. Saya mudah grogi. Manusia peng-grogi suka cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala
  5. Saya jarang punya uang. Gak mungkin bisa beli NARKOBA
Nah, sekarang bisa anda lihat bahwa bila dia mau menggunakan otaknya dengan sedikit lebih bijak, seharusnya dia bisa menyimpulkan bahwa tubuh dan tingkah laku saya yang mengenaskan ini disebabkan oleh kurang makan, rambut gondrong, dan mudah grogi. Bukan oleh NARKOBA. Jadi bila mau mencari siapa yang salah, maka yang salah bukan saya. Tapi otak dia.

Kasus lain terjadi ketika bapaknya si gadis manis dari RT sebelah meninggal. Saat melayat, ada remaja putri yang melihat saya dengan penuh rasa takut. Dia bilang tatap mata saya mennyeramkan, seperti ngajak berantem. Lalu dia menyimpulkan bahwa saya sudah beralih profesi dari mahasiswa tampan menjadi PREMAN.

Disinipun terjadi alur pikir yang salah pula. Seharusnya logikanya begini :
  • Permasalahan : Saya disangka preman
  • Penyebab : Ada yang meninggal
  • Fakta :
  1. Dulu almarhum pernah menolong saya waktu dikejar-kejar sapi gara-gara sapinya tak kasih makan lombok sampai kesetanan
  2. Saya merasa berhutang budi
  3. Beliau juga pernah mengajak saya menggembala bebek dimana menggembala bebek itu ternyata amat menyenangkan
  4. Saya tidak menjenguk beliau saat sakit
  5. Saat meninggalpun, saya hanya bisa berbuat dua hal. Ikut mengambil keranda mayat di kuburan lalu mendoakan beliau
  6. Hal itu menyebabkan saya merasa menjadi manusia tidak berguna
  7. Saya jadi marah campur sedih. Dan pas diwaktu marah itu ada remaja putri yang senyam-senyum tapi saat saya meminjam HP untuk nitip absen ke teman kampus agar besok bisa mbolos kuliah dan ikut ke kuburan lalu tidak dikasih padahal pulsa yang nanti dipakai adalah pulsa milik saya dimana hal tersebut menyebabkan saya bertambah marah
  8. Sebagian orang, kalau marah, tatap matanya jadi tidak ramah
  9. Almarhum adalah orang tua si gadis manis dari RT sebelah

So, silahkan anda cari dimana salahnya. Padahal bila mau berpikir lebih bijak, mungkin dia tidak akan mengambil kesimpulan seperti itu. Misal seperti kasus di yogya.

Di tulisan yang ini, tergambar dengan jelas betapa berat tingkat depresi yang saya alami ketika nyasar. Belum lagi bila ditambah fakta bahwa sejak sehari sebelumnya saya sudah dilanda sakit kepala yang amat menyiksa. Sulit tidur semalaman. Saat bangun pun, badan ini tidak bisa digerakkan. Saking pusingnya, kepala saya tidak bisa diangkat dari nyamannya bantal. Dengan kondisi seperti itu, maka wajar bila di warung kebab, saya menunggu mbak mona dengan raut muka abstak, dihorrorkan asap rokok djarum black yang mengepul tiada henti. Tak terbayangkan betapa semrawutnya wajah ini. Mungkin hampir se-seram saat melayat di RT sebelah.

Namun untungnya, mbak mona ternyata bersikap berbeda dengan orang-orang yang tadi saya sebut. Saat datang, tanpa BA BI BU beliau langsung tersenyum sambil menyapa : "Togie ya..?". Lalu mengajak ngobrol dalam suasana yang menyenangkan. Hingga wajah saya yang tadinya horror pun jadi normal kembali gara-gara ikut tersenyum. Bahkan karena senyam-senyum dengan senang, sakit kepala saya pun jadi hilang, tidak kerasa. Bahkan saat itu tak sebatangpun rokok djarum black yang saya sulut. Menakjubkan.

Nah, dari sini bisa kita simpulkan bahwa bila menghadapi sesuatu yang dianggap "bermasalah", maka terlebih dahulu, kita harus mengumpulkan informasi yang cukup untuk mencari penyebabnya. Kalau toh tidak bisa, maka lebih baik jangan menyimpulkan atau menyalahkan siapa-siapa. Mending senyam-senyum saja. Sebab ternyata, senyum itu bisa menghilangkan sakit kepala.

Note : Tapi sesampainya di rumah pakde, sakit kepalanya kambuh lagi. Sulit tidur lagi. Baru bisa pergi ke alam mimpi kira-kira jam setengah satu dinihari.


Sabtu, 02 Februari 2008

Tingkah Laku Orang Jenius

 

Beda antara jenius dan normal terletak pada pola pikir. Manusia jenius selalu berpikir jauh melampaui apa yang terbersit oleh otak manusia biasa. Contoh mudahnya adalah dalam permainan petak umpet.

Dalam permainan ini, anak-anak sering mencari tempat persembunyian yang dianggap strategis. Misalnya dibalik tembok, diatas pohon, atau ditempat biasa lainnya. Itulah yang terlintas di benak orang biasa.

Namun belasan tahun lalu, di kota purwokerto, ada satu anak jenius yang sudah berpikir jauh melampaui anak-anak lain. Dia sudah mampu memahami makna dibalik permainan petak umpet. Yaitu, kita harus bersembunyi, jangan sampai tempat persembunyian kita diketahui. Dan berdasarkan pemikiran tersebut, disaat anak-anak lain sibuk mencari tempat persembunyian (entah itu dibalik tembok atau diatas pohon mangga), dia memilih untuk pulang ke rumah, masuk kamar, mengunci pintu, lalu tidur. Jadi biarpun siang sudah berganti malam dan malam berganti pagi, dia tidak kunjung diketemukan oleh anak-anak lain. Itulah sebabnya si jenius tersebut kemudian menjadi maestro dalam permainan petak umpet.

Contoh lain adalah saat membumihanguskan sarang tawon. Sebagai pemula dalam permainan memberantas sarang tawon, dia belum punya cukup ilmu, harus belajar dulu. Jadi, sebagai seorang jenius, dia tidak boleh bersikap gegabah. Harus membuat atau menciptakan situasi dimana dia bisa khusyuk mengamati dan mempelajari tingkah-laku tawon bila sarangnya diganggu. Oleh karena itulah, pada suatu ketika, dia mengajak beberapa orang kawan untuk mencoba menyerang satu sarang tawon yang berukuran besar. Dia menyuruh kawan-kawannya untuk memanjat pohon dan membakar sarang tawon menggunakan obor. Dia cukup melihat dari jauh lalu mengamati segala sesuatu yang bisa diamati, yang bisa dipelajari. Hingga akhirnya, saat teman-temannya lari pontang-panting karena disengat tawon, si jenius tinggal menyimpulkan bahwa berurusan dengan serangga semacam itu amat berbahaya. Sebab kita bisa terluka.

Atau kemarin, saat belanja di kompleks "shopping", yogyakarta. Setelah berputar-putar tak tentu arah, dia melihat seorang gadis berjilbab yang cukup manis sedang menunggui toko buku. Dia ingin mengunjungi toko tersebut namun disana sudah dijejali oleh calon pembeli yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Jadi, sebagai seorang jenius, dia pun membuat taktik yang amat mencengangkan.

Teknisnya begini. Dia mengajak temannya (yang bernama pipin) untuk berputar-putar lagi. Nanti, setelah tokonya sepi, baru dia datang dan bertanya macam-macam tentang segala jenis buku. Lalu, dia akan berkata bahwa buku yang dia cari tidak ada. Nah, setelah itu, dia tinggal bertanya nomor telepon toko tersebut, dengan alasan agar dia bisa mengkonfirmasi apakah buku yang dia cari sudah ada atau belum. Kalau bisa, jangan hanya nomor telepon tokonya saja, namun no hp si gadis sekalian. Biar nanti dia bisa mengirim sms, dan smsnya bukan hanya berkisar soal buku, tapi juga tentang hal lain. Misalnya, “Hallo mbak.., apa kabar..?” Hahaha..!!! Lihatlah, betapa jeniusnya.

Sayang, biarpun sudah berputar-putar cukup lama, entah kenapa toko tersebut selalu dijejali oleh calon pembeli. Dan lagi-lagi, entah kenapa, semua calon pembelinya berjenis kelamin laki-laki. Sehingga taktik yang super jenius itu tidak berhasil diterapkan. Ck, sial.

Itulah beberapa contoh yang niscaya terbersit di otak seorang jenius. Dan bila anda pun berpikir dan bertingkah laku seperti itu, maka kemungkinan besar, anda pun termasuk orang jenius pula.

Abang Tukang Becak : Pahlawan di Kala Nyasar

 

Tuhan telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna. Berbekal kesempurnaan itulah maka manusia diangkat sebagai khalifah di muka bumi. Sebab mereka bisa mengatur dan menguasai alam raya ini. Dengan hati, mereka bisa bertindak sesuai dengan apa yang Dia perintahkan. Dengan otak, mereka bisa menembus sampai dasar bumi, menyelami kedalaman laut, serta menjelajah angkasa raya. Sayang, tak semua manusia mampu (atau sedikitnya, berusaha agar mampu) memegang amanah yang super-berat itu. Dua orang diantaranya adalah saya dan pipin.

Telah dikatakan bahwa manusia sanggup menjelajahi seisi bumi atau terbang melintasi cakrawala. Namun jangankan melakukan semua itu, untuk mengetahui seluk-beluk jalanan kota jogja pun kami tak mampu. Seperti bukan khalifah, kami dihinggapi oleh kebingungan, melintasi berbagai kenyasaran, hingga secara terus-menerus tanpa henti dilanda ketersesatan.

Memang, kami tak menemui masalah saat berangkat dari Purwokerto menuju Jogja. Bahkan kami enjoy-enjoy saja saat mencari palang penunjuk arah menuju keraton. Agar dari situ kami tak mengalami kesulitan untuk pergi ke krapyak, rumah pakde saya. Namun, pagi harinya, saat kami harus pergi mencari komponen elektronik, belanja buku, main ke kost temannya pipin, serta ke warung kebab (buat ketemu sama mbak mona), barulah kami dilanda sindrom "mbingunginus nyasarensis" (penyakit bingung berakibat nyasar).

Ceritanya begini, Kami berangkat jam sepuluh menuju Jalan Mangkubumi (dekat malioboro) untuk membeli IC dan LCD-nya pipin, tapi nyasar dan baru sampai jam sebelas. Dari situ kami berangkat menuju Kota Gede (ke kost temennya pipin), nyasar lagi, tiba jam setengah satu. Pukul dua siang kami ke shopping (untuk beli buku), nyasar sebentar, tiba jam setengah tiga. Kemudian cabut ke warung kebab di perempatan kentungan (ringroad utara), nyasar selama hampir dua jam. Sebab yang kami cari adalah perempatan yang ditengahnya ada tulisan “INI KENTUNGAN”, betapa tololnya. Dan sepulangnya, lagi-lagi kami tersesat hingga baru tiba di kraprak pukul lima sore.

Sialnya, biarpun kami sudah puas tersesat, dikenyangkan oleh bingung, namun saat malamnya kembali menuju perempatan kentungan untuk makan kebab dan ketemuan sama mbak mona, lagi-lagi kami nyasar. Untung saja nyasarnya tidak lama, sebab sebentar kemudian kami sudah tiba disana. Berdiri, duduk menunggu, lalu makan kebab bersama.

Lalu, kalau memang nyasar, kenapa tidak bertanya pada orang lain..?

Lho, siapa bilang kami tidak nanya..? Tapi sebelumnya, alangkah baiknya saya bercerita tentang kejadian bertahun lalu, saat kami juga tersesat di jogja.

Dulu saat nyasar, kami pernah bertanya ke berbagai orang, dengan bermacam pekerjaannya masing-masing. Namun sebagian besar diantara mereka hanya membuat kami bertambah bingung. Ada pria kaya berpakaian necis yang walaupun belum sempat kami tanya namun sudah langsung ngeloyor pergi. Ada mahasiswa bertampang pintar yang merasa terganggu oleh ke-tersesat-an kami. Ada mbak-mbak cantik yang, walaupun memberitahu arah dengan tersenyum manis, namun ada rasa terpaksa dibalik senyumnya itu. Ada orang yang seenaknya menunjukkan arah hingga membuat kami tambah tersesat. Bahkan ada pengendara sepeda motor di perempatan kota-gede yang berlagak tahu jalan lalu berpikir dan ikut bingung hingga lampu merah berganti hijau, berganti merah, berganti hijau lagi, lalu masih tetap berpikir sampai akhirnya dia kami tinggal pergi. Saat itu hanya ada satu yang menjawab dengan memuaskan, yaitu para tukang becak.

Oleh sebab itu, kali ini, kami lebih suka bertanya pada abang tukang becak. Sebab mereka berbeda. Sebagai tukang becak yang bertugas mengantar penumpang, biasanya mereka lebih tahu jalan. Dan sebagai orang kecil dimana orang kecil biasanya ramah, mereka memberi tahu arah dengan ramah pula. Ibarat pelita dalam gelapnya malam, merekalah sang penunjuk jalan tatkala kami tersesat di ruwetnya jogja. Dengan jelas, tegas, dan lugas, mereka memberitahu arah mana yang harus kami tempuh untuk sampai ke tujuan. Dengan ramah dan penuh perhatian, mereka menatap mata kami, mengamati wajah bingung kami, dan terus memberi penjelasan sampai wajah kami tidak bingung lagi. Dengan itu, kami hampir tidak perlu takut tersesat lagi. Sebab bagi kami yang hobinya tersesat ini, nyasar kapanpun, atau dimanapun, selama masih ada tukang becak di muka bumi, kami masih punya harapan. Masih bisa bertanya pada abang tukang becak-sang penunjuk jalan.

Bentar Gie, kalau bisa bertanya pada abang tukang becak yang ramah dan tahu arah, kok masih tetep nyasar..?

Oo, itu ada sebabnya. Mereka adalah harapan terakhir kami. Ibarat senjata pamungkas yang hanya digunakan saat tidak ada lagi yang bisa digunakan. Oleh sebab itu, walaupun kami nyasar entah dimana sehingga seolah-olah tak ada bedanya kami berada di yogya, eropa, cina, afrika atau amerika sebab bagi kami, sama-sama sama-sama membingungkannya, namun selama belum patah harapan, kami belum akan bertanya pada abang tukang becak. Jadi wajar kalau akhirnya kami tetap nyasar, wajar pula kalau nyasarnya pun lama.

Rabu, 23 Januari 2008

Tunggulah sayang, aku datang (Sajak untuk jogja)

Insya Allah, lusa
Berbekal duit seadanya
Air minum secukupnya
Snack sekadarnya
Plus cengar-cengir sekenanya
Daku kan bermotor menyusur jalan
Melintas waktu
Tuk melihat lagi, wajah manismu

Entah.., mungkin polusi tlah membuatmu berubah
Tak lagi indah
Tak lagi nyaman, tak lagi segar
Namun daku harap, masih bisa kujumpai kenangan itu
Rasa itu,
Seperti ketika dulu berputar-putar-nyasar di semrawutnya jalanmu
Nyaris mati kejatuhan tembok pondok pesantren kotamu
Senyam-senyum gak mutu ke para santriwati
Dikejar anjing
Mengejar anjing
Sok PeDe ikut-ikut ngaji
Atau, sedihnya mengubur jasad kakek-nenekku

Ah, jogja
Terakhir kali kudatangi kau
Malioboro sudah terlalu sesak
Prambanan porak-poranda
Tembok keraton banyak yang jebol
Parangtritis makin kotor
Tambah banyak pula pemudi berbaju bahenol
Bikin mata sepet

Maaf, bila kali ini daku tak lagi bergairah tuk menikmati budaya mu
Juga objek wisata yang kau miliki
Sebab ada banyak hal lain yang lebih penting untuk ku kunjungi

Nyari bahan skripsi nya pipin
Belanja buku
Hunting makanan enak
Senyam-senyum ke santriwati (*Teteeeepp)
Tidak lupa pula.., makan kebab bareng

Tapi, biar bagaimanapun
Kau, hai jogja
Tetaplah kota yang daku cinta
Walau tak sebesar cintaku kepada Purwokerto-Kota para Ksatria


Note :
Akhirnya, daku gak jadi pake vespa
Gara-gara si pipin lebih milih honda kharisma
Hiks






Sabtu, 19 Januari 2008

Baik & Buruk

 

Manusia tidak bisa disebut sebagai 100% baik atau buruk1. Sebab kedua sifat tersebut sudah tercetak secara manunggal dalam diri manusia. Tak bisa dipisahkan, tak saling menihilkan

Kita bisa disebut baik bilamana kadar kebaikan yang kita miliki lebih besar dari keburukan. Begitu pula sebaliknya.

Karena itu, kurang tepatlah apa yang dikatakan rumi, bahwa dia dan para darwis adalah orang-orang suci. Yang karena selalu mensucikan diri maka mereka sudah terhindar dari sifat-sifat jahat, terbebas dari dosa.

Kurang tepat pula ajaran tentang manunggaling kawula gusti. Sebab biarpun pada saat-saat tertentu kita merasa menyatu dengan Allah2 meleburkan diri dalam sifat-sifat Allah, namun sifat buruk yang kita miliki sebenarnya masih ada. Jauh tersembunyi di relung hati. Biarpun kita tidak merasakannya, kita tetap masih punya sifat-sifat buruk. Yang suatu saat bisa muncul ke permukaan.

Mahasuci Allah dari sifat-sifat semacam itu.


Note :

1Segala sesuatu memiliki kecenderungan pada kebaikan atau kejahatan, sebab hal itu menjadi bagian dari dirinya. (Jalaluddin Rumi : Kisah Keajaiban Cinta)
2Siapakah “kami” manakala engkau mengatakan “Aku?” Apalah arti tembaga kita dihadapan “zat mukjizat?” Dihadapan matahari, dapatkah segenggam salju berbuat sesuatu, kecuali sirna di dalam pancaran dan cahaya? (Jalaluddin Rumi : Kisah Keajaiban Cinta).


Jumat, 04 Januari 2008

Bias gender : kelemahan pria & wanita?

 

Wanita lebih bebas mengekspresikan kelemahannya. Wanita boleh menangis di depan umum. Boleh mengeluh. Boleh putus asa. Tak seorangpun mempermasalahkan hal ini 

Namun lain dengan pria. Biarpun kami juga punya hak untuk bersedih namun kami tak memiliki kebebasan untuk mengekspresikan kesedihan hati. Kami selalu dibebani dengan gengsi, dengan harga diri. Kalau kami menangis di depan umum, kami akan dihina, dianggap lemah. Naasnya, bisa-bisa kami dianggap tidak pantas menjadi pria. Disarankan untuk melepas celana. Lalu menggantinya dengan rok serta BH. Seolah-olah, kami diharuskan untuk selalu tegar. Selalu tersenyum. Selalu sanggup menanggung beban, menerjang berbagai rintangan.

Padahal, seperti halnya batu karang. Sekeras apapun batu karang, pasti akan keropos terkikis ombak. Begitu pula pria. Walau berhati baja, suatu saat pasti putus asa. Terutama bila menghadapi masalah yang tak mampu diatasi. Saat itu, ingin rasanya kami menangis. Berkeluh kesah. Tentang betapa hancurnya hati kami. Agar nanti ada yang menghibur kami. Memberi saran atau solusi.

Hingga terkadang kami menganggap bahwa dibalik beribu kekurangannya. Wanita jauh lebih beruntung dari pria. Kesedihan, tangisan, dan keputus-asaan mereka, bebas-bebas saja untuk diperlihatkan. Tanpa perlu disembunyikan.

Gombalizionato Crime - Sekelumit Kisah Dari Masalalu

Judul : Tindak Pidana Penggombalan

Pelaku : Tarmo & Togie

Jabatan, status, harta dan penampilan sering dianggap penting oleh masyarakat. Orang bilang, fenomena ini hukumnya wajar-wajar saja, tak perlu di permasalahkan. Oleh karena itulah, daku dan Tarmo pernah menjadikan kewajaran ini sebagai senjata dalam berbagai tindak pidana penggombalan. Yang sering berlangsung dengan suksesnya. Padahal modus operandi yang kami gunakan selalu sama.

Alkisah, jaman dahulu kala, kami selalu mencari calon korban di tempat strategis. Yaitu tempat yang banyak wanitanya. Biasanya di alun-alun kota. Nah, ditempat itu, kami memilah mana yang bisa dijadikan mangsa dan mana yang tidak. Yang kami cari adalah para wanita (kalau bisa anak SMA) yang duduk berbincang-bincang tanpa didampingi pria. Tak pernah kami mendekati wanita yang sedang bermesraan dengan pasangannya. Sebab bisa bahaya.

Teknisnya, Tarmo yang super nekat itu mengajak berkenalan. Lalu mengajak ngobrol. Nah, daku, yang pemalu dan mudah grogi ini cukup diam saja. Nanti, bila korban tidak memberikan respon berarti pada tarmo (yang cuma sales permen), itulah saatnya daku ikut bicara. Dimana pembicaraan tersebut selalu berpusat pada satu hal saja. Sok pamer dan sok gaya.

Daku bercerita tentang status yang daku sandang sebagai mahasiswa teknik elektro. Dilanjutkan dengan berbagai omong-kosong yang terlihat keren. Seputar teori njlimetnya teknik elektro yang disambung-sambungkan dengan ilmu politik, ekonomi, sosial atau budaya. Tak usah mempedulikan benar-tidaknya teori tersebut, sebab korban gak bakal tahu. Teori ngawur ini akan membuat daku terlihat sebagai mahasiswa tampan berotak jenius. Sehingga korban merasa terkesan.

Nah, setelah itu, setelah daku berhasil menanamkan kesan tertentu di hati korban, maka kendali kembali dipegang oleh Tarmo. Dia akan mengalihkan pembicaraan ke hal-hal ringan. Si korban akan dijejali dengan lusinan canda dan lelucon, biar lebih akrab. Dilanjutkan dengan pembicaraan pribadi. Misalnya sudah punya pacar atau belum, lalu tipe pacar yang diinginkan.

Dan saat si korban menjawab belum, maka teknik gombalisme versinya tarmo pun diterapkan. Daku gak inget betul detailnya. Yang jelas, biasanya si korban akan tertawa. Gemas. Lalu memberi harapan pada kami berdua. Sebab kami terlihat sebagai mahasiswa pintar bermasa-depan cerah yang pandai menyenangkan hati wanita.

Hasilnya, ibarat sedang memancing. Kail yang kami lemparkan sudah dimakan, terserah kami mau mengangkatnya atau tidak. Dan biasanya sih tidak. Daku disitu cuma menemani Tarmo. Tarmo cuma iseng. Makanya, bila si korban minta diantar pulang, mengajak main ke rumah atau apa, dengan kompak dan penuh sikap optimis kami selalu berkata TIDAK.

Itulah sekelumit kisah yang bisa dijadikan contoh bahwa terkadang, suatu kewajaran bisa dimanfaatkan untuk berbuat jahat. Makanya kita harus berhati-hati terhadap berbagai kewajaran lain yang sering ditemui. Mbok kita dijahati.