Kamis, 25 September 2008

sajak putus asa

 

Cita-cita, keinginan, harapan
Terkadang, tak harus ditinggikan melampaui langit
Tak pula dikubur dalam-dalam ke perut bumi

 

togie, saat bekerja bakti
sambil menatap mushalla yang gak jadi-jadi

Senin, 08 September 2008

Menikmati Derita

Malam ini, kami kembali berkumpul

Dengan raut muka kusut, rambut semrawut, kantong tak berisi

Mata kami tertuju pada setumpuk roti bungkus, cemilan, minuman ringan, dan berbagai hidangan lain yang semuanya dijual, tak mampu kami beli

Sedang rokok yang kami hisap didapat dari bapak-bapak yang kebetulan duduk didekat kami

Itupun dikasih setelah beliau kami tatap dengan sinar mata penuh hasrat yang tak bisa digoyahkan oleh artis cantik di layar televisi sekalipun

 

 

Malam ini, anggota klub jomblo sudah jauh berkurang

Akibat ketidak-matangan kami dalam membuat prinsip

 

 

Sejak pertama

Kami ingin bisa tegar menghadapi kemelaratan, ketakutan, kelaparan, serta penolakan para wanita.

Bisa tersenyum menghadapi hidup

Merubah keluh kesah menjadi harap dan doa

Merubah tangis menjadi tawa

Dengan cara yang benar dan tak bertentangan dengan ajaran agama

Tanpa alkohol, cimeng, gadis murahan yang bisa didapat tanpa harus keluar duit (cukup dengan kata-kata gombal semata), atau yang sejenisnya

 

 

Kami telah melakukan berbagai hal untuk mewujudkan keinginan itu

 

 

Saat nasi di rumah habis sedangkan kami tak punya uang untuk membeli makanan, kami mengadakan acara bakar singkong

Untuk membina diri bahwa hanya Allah yang boleh ditakuti, kami nekat melakukan uji nyali ke pohon keramat, kuburan angker, maupun tempat-tempat wingit

Agar tidak grogi menghadapi lawan jenis, kami selalu ber "say hello" kepada tiap gadis manis - walau selalu diacuhkan

Dan untuk membuktikan sampai dimana batas ketahanan tubuh dan mental kami pernah nekat membabat kebun yang penuh pohon liar dan semak belukar agar bisa ditanami - TANPA DIBAYAR


 

Akhirnya, kami berhasil merubah penderitaan menjadi hal yang patut dinikmati

Sebab kami menganggap, penderitaan adalah layaknya baju yang selalu melekat di tubuh kami

Harus ada dan tak bisa dihilangkan

Hanya bisa diterima, dijalani, atau disyukuri

Kempesnya kantong celana tak lagi membuat kami sedih

Tiadanya pekerjaan tak membuat putus asa

Menjauhnya kaum hawa tak perlu lagi dipikirkan

Alkohol tak pernah menjadi ajang pelarian

 

 

Tiap berkumpul, selalu ada yang mengutarakan cita-citanya

Keinginan yang ingin dicapai, harapan terhadap hari esok, dan usaha untuk meraihnya

Itulah yang menyebabkan hubungan diantara kami menjadi begitu erat

Apalagi saat itu masih ada Tarmo yang menjadi ikon pemersatu

 

 

Sayang, ada satu hal yang kami lewatkan

Yang beberapa diantara kami tidak siap menghadapinya

Yaitu - KEBERHASILAN DAN KELIMPAHAN RIZKI

 

 

Ya, walaupun kami bisa bertahan saat dicobai dengan berbagai kesulitan

Namun belum tentu terjadi hal yang sama bila dihadapkan pada kesenangan dunia

 

 

Seiring berjalannya waktu, satu persatu,

Beberapa diantara kami berhasil memperoleh pendapatan tetap

Punya gaji berlebih

 

 

Satu persatu pula, mereka menggunakan uang yang didapat untuk menikmati berbagai kesenangan

Buang-buang pulsa, mendekati banyak gadis sekaligus, bahkan mabuk-mabukan dengan sebegitu seringnya

Bila uangnya habis, mereka kembali bergabung bersama kami agar bisa mendapat rokok, makanan, dan minuman gratis lalu saat sudah punya uang mereka pergi lagi

Bahkan, adapula yang karena sebegitu terikatnya pada pola hidup hedonis - terutama alkohol, jadi nekat menipu dan mencuri

 

 

Sungguh, mereka seolah lupa

 

Betapa dulu, mereka pernah menghabiskan waktu untuk membakar singkong karena tak punya uang untuk beli makanan

Uji nyali ketempat keramat agar hanya Allah semata yang boleh ditakuti

Membabat kebun angker penuh hantu dan semak berduri demi meneguhkan hati

Terkapar kelelahan dengan peluh kosong sambil berbagi cerita tentang harapan dan cita-cita bila sukses kelak

Melakukan apa yang boleh dan menjauhi yang tidak

 

 

MEREKA MELUPAKAN SEMUA ITU

 

 

Kini, hanya kami lah yang tersisa

Tetap dengan berbagai atribut kegagalan yang melekat pada kami

Kekurangan uang, pulsa selalu limit, jauh pula dari wanita

Tapi, dengan segala kondisi hina ini, kami justru bersyukur

Sebab mungkin saja, kami dibuat menderita karena Allah masih menyayangi kami

 

 

Dia tahu bahwa kami tidak siap dengan kesuksesan mendadak

Tidak ingin kami bernasib seperti mereka, yang telah mengawurkan diri mendahului kami

 

 

 

 

Reuni para jomblo

Usai tarawih

Cinta itu, aneh

Cinta adalah misteri. Tak peduli bagaimana kita mendefinisikan misteri itu.

Entah mau diartikan sebagai indah, sedih, aneh, nyleneh, atau apapun

Pokoknya, terserah kita


***


Usai subuh, di kompleks mushalla


"Gie, kamu lagi pacaran sama si manis itu ya..?"

Entah kenapa, akibat hobi memamerkan pulsa yang hanya 112 perak, daku harus menghadapi sebuah pertanyaan yang mengagetkan isi kepala.


***


Pacar..? Sebenarnya, apa itu pacar..?

Jujur, daku gak betul-betul mudeng.


Setahu daku, yang namanya pacar itu adalah bila seseorang berkata : "Mau jadi pacarku..?" terus dijawab dengan "Iya" - maka saat itulah orang tersebut bisa dianggap sudah mempunyai pacar.


Sedangkan pacaran..?

Ini lebih gak memudengkan lagi.


Daku sendiri sampai sekarang masih suka bingung bila ditanya ; “Yang disebut pacaran itu sebenarnya yang seperti apa.”


Lha wong daku belum pernah pacaran. Tidak punya pengalaman yang bisa dijadikan dalil untuk memberi penjelasan.


Kalau toh memaksakan diri agar bisa disebut pernah pacaran

Maka hal itu hanyalah sekedar lirak-lirik dan mesam-mesem doang, gak lebih. Mengobrolpun jarang.


Tetap saja tidak memenuhi syarat


Jadi, alangkah wajarnya kalau tiba-tiba daku mendadak kaget mendapat pertanyaan seperti itu


Kekagetan yang membawa ingatan ini menjelajah menuju keanehan-keanehan yang terjadi sebelumnya.


***


Terkenang peristiwa beberapa bulan yang lalu.

Saat baru bangun dari tidur siang dan merasa malas untuk mandi.

Daripada mengambil handuk lalu membasahi tubuh dengan air dingin, daku lebih suka beranjak kedepan rumah dan duduk bengong disana.

Memasang pose paling keren yang bisa ditampilkan oleh kaum pria :

CENGAR-CENGIR SAMBIL GARUK-GARUK KEPALA.


"Psst, itu yang namanya togie..? Pacar kamu..?"

Suara itu muncul dari serombongan anak SD yang baru pulang sekolah. Yang baru saja melintas di depan daku.


Anak-anak itu, daku tak tahu anak darimana.

Entah bersekolah di SD mana

Yang pasti, salah satu diantaranya terlihat menengokkan kepala, tersenyum, lalu berlari-lari kecil seperti tokoh wanita yang sedang bermain kejar-kejaran di film india.

Membuat daku, secara perlahan-lahan, melangkahkan kaki kedalam rumah lalu tidur lagi

Berharap agar kejadian aneh ini hanyalah mimpi


Tapi

Sebelum terbebas dari keanehan itu

Daku harus menghadapi hal yang sama anehnya

Saat telapak kaki tertusuk paku

Telunjuk kaki kanan bengkak kejatuhan batu

Dan lutut kiri menghantam tembok dengan keras

Membuat daku menjadi manusia tak berguna

Yang hanya bisa duduk bengong melihat para warga yang bekerja bakti memperbaiki mushalla di sore hari


"Mas"


Ucap salah seorang teman yang sama-sama tidak bisa bekerja bakti.

Dihadapan kami, duduk anak kecil yang entah kenapa dari tadi kok duduk terus disitu

Menatap kami


"Dia lagi fall in love"

Teman tersebut menunjuk anak kecil itu


"Fall in love..?" Tanyaku

"Sama siapa..?"


Dan..


Anak itu kemudian menatapku sambil menyunggingkan senyum yang...


Fyuhh...

Begitulah


***


"Gie.."


Ah, iya

Kembali menuju peristiwa usai subuh di kompleks mushalla


Saat itu, daku tak menjawab apa-apa

Lebih baik beranjak pulang dan langsung tidur

Melampiaskan rasa kantuk

Rabu, 27 Agustus 2008

MatiRasa

 

Semoga kali ini, rasa itu benar-benar mati
Tak seperti sebelum-sebelumnya
Dimana dia bisa hidup lagi
Walau sudah kubunuh berkali-kali

togie

monster jalan sehat


 

Pagi ini, aku berjalan kaki dengan penuh semangat.
Ya, aku sedang mengikuti acara jalan sehat.
Berhadiah alat-alat makan, payung cantik, tas imut, radio, dispenser, televisi, dan sebagai hadiah utamanya

“Motor Supercup.”

Bukan motor model baru sih.
Tapi, aku suka motor klasik :
Vespa, Acepe, CB, Binter Mercy, dan semacamnya.
Disamping itu, ada satu hal lagi yang membuatku lebih bersemangat.
Sebab ternyata, gadis manis dari RT sebelah juga ikut jalan sehat.


Hahaha..!!


Coba anda bayangkan, apalagi yang lebih bikin semangat dibanding berjalan-jalan dengan gadis semanis itu..?

Sayang, saat ini dia berada jauh di belakangku. Tadi, aku melangkah terlalu bersemangat. Terlalu cepat. Bodoh.


Toplak-toplak-toplak


“Kok lari..?”
Tanyaku pada si manis yang tiba-tiba sudah berjalan disampingku

“Ada yang ganggu”
Jawabnya


Kutengok kearah belakang. Disana, kulihat sesosok mahluk langka yang pantasnya dipelihara di Suaka Marga Satwa. Dia berambut semrawut mirip singa, kulit kering bersisik mirip naga, wajah penuh jerawat bagai kadal Afrika. Satu-satunya yang membuatnya rada mirip manusia hanyalah jaket kuning dan celana kucel yang dia kenakan.


Kugeleng-gelengkan kepala.

Jangankan gadis manis, kambing betinapun pasti kabur kalau digoda mahluk macam dia.


“Mendekatlah padaku, jalan disampingku, agar tak ada yang berani mengganggumu”


Ujarku pada si manis itu. Sambil kudekatkan diri pada pemuda entah siapa yang tubuhnya lumayan besar. Agar aku terlihat lebih sangar sehingga si jaket kuning menjadi gentar.


**


Menunggu, adalah satu hal yang amat membosankan. Apalagi bila diselimuti ketidak-pastian. Tapi walau begitu, masih ada cara agar kita bisa menunggu dengan amat menyenangkan. Itulah yang sekarang sedang kulakukan.

  • Duduk santai beralaskan sandal jepit.
  • Kupon undian kulipat dan kuderet-deretkan diatas tanah. Membentuk kuburan.
  • Kusobek dedaunan dan kugunakan layaknya kembang diatas makam
  • Diujungnya, kutaruh foto Che Guevara-sang pahlawan kuba, sebagai nisan.
  • Dilengkapi uang seratus perak yang kutempelkan di dada Che. Hanya sebanyak itulah uang yang kupunya.
  • Selanjutnya kukenakan kacamata berwarna orange, mengenakan jaket hijau lumut, mengacungkan kedua tangan ke udara, tertawa, lalu berteriak : “Sesajen telah disiapkan. Pembacaan mantra siap dilakukan. Demi memenangkan kupon undian”
  • Hahaha..


**


“Mas, kok kuponnya dijadiin kuburan.” Tiba-tiba sebuah suara mengusik pose kerenku.

Ah, iya. Aku hampir lupa. Ada satu hal lagi yang membuatku tidak merasa bosan ; Si manis ternyata sudi untuk duduk disampingku. Mengobrol denganku, mengamati segala kelakuanku.


“Itu foto siapa..? Kalau dilihat dari kucelnya, mirip mas togie deh..?” Tanyanya.

“Foto Che Guevara, pahlawan Kuba. Kekucelan kami, sama-sama menyiratkan kharisma, wibawa, dan jiwa kesatria. Makanya kami mirip”

Kujawab dengan tersenyum bangga. Dia menatapku sambil menggelengkan kepala. Tak berapa lama, dia ikut menyobek dedaunan dan menaruhnya diatas makam yang kubuat.


“Kok ikut-ikutan naruh kembang..?” Tanyaku
“Iya, ketularan anehnya mas togie”
“Hm, kamu meniru kelakuanku karena kamu kagum. Dan rasa kagum itu, lama-lama bisa berubah menjadi rasa cinta. Paling tidak, begitulah kata para pendahulu kita”

Dia tersenyum, aku tertawa


“Mas, kok undiannya gak dapet-dapet..?” Ucapnya setelah hadiah sudah banyak dibagi tapi kuponku tak ada yang tembus sama sekali. Tak satupun.

“Mungkin foto ini harus diganti dengan fotoku agar keberuntungan sudi mendekat kepadaku. Tak ada yang tak ingin berdekatan dengan pria ganteng. Salah satu contohnya adalah, kamu”

Dia tertawa, hatiku berbunga-bunga


“Mas, kalau biarpun fotonya udah diganti tapi undiannya tetep gak keluar juga, gimana..?” Dia terus bertanya sambil melihatku. Matanya bertemu mataku. Kami berpandangan cukup lama. Tak bersuara. Membiarkan mata kami saling berbicara. Membuatku secara tanpa sadar, penuh spontan, berani berkata :

“Berarti foto itu, perlu diganti dengan foto kita berdua”


Kyaaaa…!!
Alangkah kerennyaa…!!!!


**


“Pssttt…!!”
Tiba-tiba terdengar suara bisikan di depanku.

“Siapa pemuda yang selalu cengar-cengir itu..?”
Disusul sebuah suara lagi. Suara sinis.


Tunggu, pemuda cengar-cengir..?
Yang dia maksud pasti aku.


Hampir seluruh peserta jalan sehat mengisi waktunya untuk berdag-dig-dug cemas mengharap nomornya keluar. Hanya aku dan si gadis manis yang setia untuk bercengar-cengir serta tertawa-tawa. Bagiku, bisa cengar-cengir bersama dia lebih berharga dibanding seluruh hadiah yang ditumpuk diatas panggung panitia. Peduli amat dengan undian.


Tapi,
Siapa pula yang menyelidik tentangku..? Apa urusan dia denganku..?


Pelan-pelan, kucari dan kulihat sosok yang tadi berbisik. Sosok yang selanjutnya membuatku terlonjak kaget dan hampir berteriak :


“Monster..!!”


Benar.
Si jaket kuning itu.
Dia melihatku dengan bola mata menyala api
Api permusuhan
Api pertempuran


Bagiku, sekarang dia bukan hanya tampak sebagai mahluk langka, tapi sebagai monster perusak. Bagaimana tidak..? Apalagi yang bisa kulihat dari sosoknya selain sebentuk monster..?


Rambut acak-acakan, jerawat berjumlah ratusan, tampang mengenaskan, seolah-olah tak pernah mandi terhitung semenjak dia lahirkan. Bila ditambah dengan ekspresinya yang penuh rasa sinis, iri, dan dengki itu, dia betul-betul telah berhasil merusak ketentraman dan mengganggu keindahan. Mirip monster.


Rasanya, ingin segera kukenakan lagi kacamata orange, jaket hijau lumut, memakai topi pet, berdiri tegap, berjalan congkak, berkacak pinggang tepat didepan mukanya, lalu berkata dengan penuh gaya :


“Rapikan rambutmu, amplas mukamu, mandilah dahulu, baru kau boleh dekati gadis manis itu”.


Fyuhh, aku pasti akan merasa puas. Satu kepuasan yang lama tak pernah kurasakan.



Jumat, 01 Agustus 2008

Fishing Sea




Sendiri
Dengarkan celoteh sepi
Resapi tiap debur ombak yang berlari
Membentur karang
Lalu nyiprat, basahi telapak kaki

Sendiri
Hanya ada aku
Laut
Joran dan kail
Ikan dan umpan
Lalu..,

Sial

Ternyata, aku tak benar-benar sendiri
Sebab tetap ada kau
Yang menjelma sebagai sepi

Dari.. ku


Pssttt..!!!
Jangan ganggu
Aku sedang membuat sepasang sayap..,
Untukmu


Teluk penyu, akhir juli