Kamis, 29 Juni 2006

Millis Alumni SMA 2 Purwokerto

http://groups.yahoo.com/group/alumni-smadha
Buat Para Alumnus SMU N 2 Purwokerto, silahkan gabung disini. Mari berbagi informasi dengan rekan-rekan yang lain

Rabu, 14 Juni 2006

Suatu malam di Jawa Barat - Keteladanan


Malam itu disebuah daerah di jawa barat yang terkenal dengan udaranya yang dingin kami berkumpul membentuk sebuah lingkaran mengelilingi seseorang yang sangat kami hormati. Dengan khusyu kami mendengarkan nasehat yang beliau sampaikan. Salah satu nasehat yang begitu membekas di hati adalah tentang pentingnya sebuah keteladanan, tentang betapa pentingnya sebuah aksi nyata, bukan hanya sekedar kata-kata.

Beliau berkata bahwa salah satu cara untuk sukses adalah dengan belajar menulis dan berbicara. Boleh saja anda berargumen hingga mulut ber busa-busa, namun jika tidak seorangpun mempercayai apa yang anda katakan maka apalah artinya. Begitupun sebaliknya, silahkan paparkan sebuah teori aneh yang tidak bisa dilogika, atau buatlah sebuah kebohongan yang mendekati sempurna. Jika anda bisa membuat orang lain percaya maka perkataan anda tersebut bisa dianggap benar, tak peduli seberapapun ngawurnya. Karna itulah, kalau ingin meraih keberhasilan di dunia maka latihlah lidah anda.

Saya masih ingat peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu, saat pertama kali merasakan bangku perkuliahan. Saat itu saya diberi berbagai pemahaman oleh seseorang tentang pentingnya quantum learning dalam pelaksanaan pembelajaran. Saya diajari bahwa bangku kuliah itu beda dengan bangku SMA (walaupun sebenarnya bangku tersebut sama-sama terbuat dari kayu, tidak ada bedanya) sehingga cara belajarpun akan berbeda. Hebatnya, beliau juga memberikan landasan berupa dalil yang diambil dari Alqur'an atau Al-hadits untuk mendukung perkataannya. Ya, saat itu saat itu saya benar-benar bersemangat untuk melakukan Quantum learning dalam belajar. Saya kagum dengan perkataan beliau, dan sayapun memberikan kepercayaan penuh pada beliau.

Namun yang terjadi kemudian adalah, tak satupun perkataan tersebut yang bisa beliau laksanakan. Dan yang paling parah adalah beliau sama sekali tidak menyadarinya. Saat para mahasiswa disuruh untuk mengisi angket tentang perkuliahan yang diampu beliau berkata :

"Isilah dengan jujur, saya tidak akan tersinggung walaupun kalian mengkritik saya. Bukankah kita harus saling nasehat-menasehati, harus saling mengingatkan."

Dan kamipun berusaha untuk menuliskan berbagai kendala yang selama ini dihadapi, kemudian mengembalikan angket tersebut. Namun setelah seluruh angket beliau baca, beliau marah dan mengancam kami.

"Siapa yang sudah berani menulis hal-hal buruk tentang saya..? Memang di angket ini tidak tertulis siapa namanya, tapi awas kalau ketahuan. Saya bisa menyamakan tulisan tangan di angket ini, dengan tulisan kalian. tunggu saja"

Dan yang membuat saya trenyuh adalah, akibat yang ditimbulkan oleh sikap beliau ini. Selesai kuliah ada beberapa mahasiswa non-muslim yang mengeluh :

"Kenapa orang islam itu munafik ya gie, kalau bicara sih indah banget tapi perbuatannya berbeda 180 derajat"

Saya ingin membantah perkataan tesebut namun apa daya, saya benar-benar sudah kehilangan semangat untuk berbicara.

Contoh diatas terjadi didalam ruang lingkup kampus, dan contoh yang lebih ekstrim bisa kita lihat saat kampanye pemilu. Berbagai macam janji kosong, kata-kata manis, propaganda dan tipu muslihat licik bermain disana. Asal masyarakat percaya janji yang diucapkan maka cukuplah sudah. Soal janji tersebut bisa dilaksanakan atau tidak itu bukan masalah, kita hanya tinggal menyiapkan beberapa alasan yang dianggap masuk akal. Sungguh, sudah terlalu banyak orang di negeri ini yang "pandai" merangkai kata-kata mutiara namun terlalu sedikit orang yang bisa mengaplikasikannya.

Itulah yang membuat saya begitu menjunjung tinggi arti dari "keteladanan". Saya berpendapat bahwa jika anda adalah seorang praktisi beladiri yang ingin mengajari murid anda cara mematahkan benda keras, maka coba patahkan benda tersebut di depan mereka. Jika anda adalah seorang da'i yang ingin mengajak masyarakat untuk menjalin ukhuwah dan silaturahmi, berilah contoh terlebih dahulu. Coba untuk selalu bermurah senyum dan mengucapkan salam. Memang kita tidak selalu bisa untuk memberikan contoh pada semua yang ingin kita sampaikan, namun kalau ada sesuatu yang bisa kita lakukan maka tidak ada salahnya untuk mencoba.

Saya masih ingat bahwa dulu Tarmo pernah berkata:

"Jangan terlalu banyak bicara tentang sesuatu hal yang tidak kita kuasai. Giat-giatlah belajar agar kita mengusai topik yang ingin disampaikan. Sayap burung elang akan bertambah kuat hanya bila digunakan untuk terbang. Begitu pula dengan kita."

Dia juga berkata seperti ini:

"Jangan memberi nasehat yang kita tahu bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan karna seringkali kita berbicara hanya karena ingin dianggap pandai oleh orang lain. Dalam kasus ini, bisa tidaknya kata-kata tersebut dilakukan tidaklah penting. Asal kita dianggap hebat, maka itupun sudah cukup."

Ternyata dibalik sifat spontanitasnya, dia memiliki kebijaksanaan yang tak bisa diduga. Semoga dia cepat pulang kembali ke Indonesia agar dapat saya dengarkan lagi untaian kata bijaknya.

Malam itu disebuah daerah di jawa barat yang terkenal dengan udaranya yang dingin kami berkumpul membentuk sebuah lingkaran mengelilingi seseorang yang sangat kami hormati. Dengan khusyu kami mendengarkan nasehat yang beliau sampaikan.

Gambar diambil dari : Hp nokia 3660 milik adik, yang digunakan saat uji coba untuk memfoto tangan-lampu di kamar saya.

Sebuah cerita tentang jilbab



Untuk kesekian kalinya obrolan yang
awalnya kami isi dengan acara 'saling menasehati' berubah menjadi ajang
'saling kritik' dan kemudian berakhir dengan pertengkaran. Setelah puas
mencela sikap kekanak-kanakan serta ketidak-konsistenan yang saya
miliki, akhirnya tibalah giliran saya untuk memberi beberapa kritikan.
Tentu saja, saya harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Maka
dengan suara berat dan berwibawa saya bertanya :



"Lalu bagaimana dengan kamu sendiri, kenapa sampai saat ini kamu belum
juga mengenakan jilbab? bukankah berjilbab itu hukumnya wajib?"




Dan dengan mimik serius dia menjawab :



"Sebenarnya saya ingin Gie tapi saya merasa belum siap. Setelah
mengenakan jilbab, ada berbagai konsekuensi yang harus dihadapi, dan
saya belum bisa untuk itu. OK, sekarang bisa saja saya mengenakan
jilbab. Namun siapa yang bisa menjamin bahwa sebulan lagi jilbab
tersebut belum saya lepas? Kalau sudah begitu, bagaimana dengan
tanggapan orang? Jujur saja, saat kita memutuskan untuk berjilbab,
pasti banyak yang akan memuji. Tapi kalau memutuskan untuk melepas
jilbab, pasti akan ada yang berbicara jelek tentang kita. Hal ini akan
menjadi beban Gie, dan walaupun bisa dilalui tapi mungkin saja saya
akan menjalaninya dengan perasaan terpaksa. Karna itulah, saya ingin
merasa siap terlebih dahulu. Saya tidak ingin membohongi diri sendiri.
tolong doakan agar saya dapat segera memenuhi kewajiban ini".




Dan seperti biasa, sayapun turut berdoa agar Allah mengabulkan keinginannya. Amiin.



Sebenarnya saya merasa sedikit ragu dengan jawaban yang dia berikan.
Pertama kali saya bertanya seperti ini adalah saat kami berada di
semester pertama bangku perkuliahan, kurang lebih pada akhir tahun
2001. Dan anehnya, sampai sekarang jawaban yang saya dapat masih tetap
sama, tidak berubah satu hurufpun. Hingga seringkali saya bertanya pada
diri sendiri, apakah dia benar-benar ingin berjilbab? bukankah
ada kemungkinan bahwa jawaban yang dia berikan itu hanya digunakan
sebagai kedok untuk menutupi keengganannya? Ada berbagai alasan yang
membuat perempuan enggan untuk berjilbab. Perempuan ingin tampil
cantik, saya tahu itu. Dan saya juga tahu bahwa jilbab sering dianggap
"menghambat" perempuan untuk bisa tampil lebih cantik. Namun
alhamdulillah keraguan itu hanya bersifat sementara. Saya tahu
kejujuran yang dia miliki, dan saya tahu bahwa dia tidak akan berbohong
bila menyangkut masalah yang prinsipil semacam ini. Bukankah selama ini
dia hanya beberapa kali berbohong pada saya.



Diantaranya saat dia
berkata bahwa orang tuanya sedang membuat beberapa bunker bawah tanah
dihalaman belakang sembari menunjukkan timbunan tanah merah yang
menggunung disamping rumah. Juga saat dengan liciknya dia meyakinkan
saya bahwa di rumahnya akan ada "hajatan besar" sembari menunjukkan
cincin emas yang melingkar dengan indah di jari manisnya. Ya,
kebohongan yang aneh yang mungkin tidak bisa menipu anak TK, namun
entah kenapa dapat membuat saya percaya begitu saja tanpa sedikitpun
rasa curiga.



Hari mulai malam, dan sayapun harus pamit pulang. Sembari mengendarai
motor Jupiter-Z generasi kedua yang cicilannya masih belum lunas, saya
berpikir untuk memberikan sesuatu sebagai tanda bahwa saya mendukung
keinginannya (walaupun akhirnya tidak jadi saya berikan). Maka
sesampainya dirumah, didepan monitor 17 inch yang belum lama ini saya
beli, mulailah saya menulis sebuah cerita untuknya :



Alkisah disebuah halte bus terdapatlah seorang muslimah dengan jilbab
lebarnya, yang sedang bermandi keringat menahan panasnya udara ibukota.
Diantara belasan orang yang sedang berdesakan menunggu bus, ada seorang
laki-laki yang tiba-tiba menghampiri muslimah tersebut dan setelah
berbasa-basi sejenak kemudian dia bertanya :




"Di cuaca yang panas seperti ini kenapa anda masih menggunakan jilbab?
untuk apa anda menyiksa diri seperti ini? padahal katanya Tuhan maha
pemurah. Dia tidak akan mempersulit hambanya".




Kemudian wanita tersebut balas bertanya :




"Lalu bagaimana dengan anda sendiri? anda hendak pergi bekerja bukan?
kenapa anda tidak duduk santai dirumah dan bersenda gurau bersama
anak-istri? bukankah hal tersebut lebih menyenangkan daripada
menghabiskan waktu dan tenaga untuk bekerja dan berdesak-desakan di
tempat seperti ini?"




Pria tersebut menjawab :




"Tidak bisa begitu. Saya adalah seorang kepala rumah tangga, saya harus
bekerja demi keluarga. Saya menyayangi mereka. Saya mempunyai kewajiban
untuk membahagiakan mereka. Kalau tidak, maka saya bisa disebut
sebagai suami dan ayah yang tidak bertanggung jawab"




Akhirnya pembicaraan tersebut ditutup dengan kata-kata bijaksana dari sang muslimah :




"Begitu pula dengan saya. Kalau anda rela untuk bekerja keras hingga
bermandikan keringat untuk memenuhi kewajiban anda terhadap keluarga,
kenapa saya harus berkeberatan untuk menggunakan jilbab demi memenuhi
kewajiban terhadap "Dia", Zat yang menciptakan saya dengan penuh kasih
sayang...?"




Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah yang telah menganugerahkan
kekuatan pada mereka yang senantiasa ber'istiqamah', dalam memenuhi
kewajiban. Semoga Allah memudahkan jalan bagi mereka yang sedang
mencari petunjuk, amiin.




Gambar diambil dari sini





Kamis, 08 Juni 2006

Perkuliahan Yang Aneh


Purwokerto, 31 - Mei - 2006


Alkisah di ruang seminar sebuah Program Studi (belum menjadi fakultas) suatu perguruan tinggi di Purwokerto, terdapat beberapa mahasiswa yang sedang mengikuti kuliah Teknologi Basis Data. Kuliah ini diampu oleh seorang doktor yang merupakan alumni sebuah perguruan tinggi terkenal di Inggris Raya. Beliau baru saja pulang ke Indonesia setelah beberapa lamanya menghabiskan waktu untuk mengajar di berbagai negara, diantaranya Inggris dan Malaysia.


Kuliah berlangsung dengan kondusif, aman dan terkendali sampai akhirnya terjadilah sebuah sesi tanya-jawab yang berkedok sebagai quiz.


Pada quiz tersebut, bapak dosen yang saya hormati bertanya pada seorang mahasiswa kurus, pendek, berjerawat namun mempunyai wajah yang luar biasa tampan laksana bulan purnama.


Ya.., mahasiswa tersebut adalah saya.


- Hm, pada quiz kali ini saya ingin bertanya pada kalian. Coba berikan contoh sebuah database relasional yang sederhana. Togie, coba kamu jawab..!
+ Baik pak. Contoh database relasional adalah database yang dimiliki oleh sebuah minimarket. Disitu terdapat relasi antara database produk/barang yang mempunyai atribut nama, kode, jenis dan jumlah dengan database penjualan yang mempunyai atribut no_kode, tanggal penjualan, harga serta kuantitas.
- Lalu, relasi apa saja yang ada disana? apa saja yang bisa anda dapatkan dari database tersebut? coba jelaskan!
+ kita dapat mengecek stok barang yang terjual dan membandingkannya dengan database di gudang. Dan dengan cara tersebut kita bisa mengetahui apakah ada "pengutil" yang beraksi di minimarket. Bahkan kalaupun ada, maka kita bisa memperkirakan apakah ada orang dalam yang terlibat pak.
- caranya..?
+ Dengan membandingkan dengan hasil pengecekan yang biasa dilakukan beberapa saat sebelum minimarket tersebut tutup pak.
- Apa..? tidak realistis, coba kamu pikirkan lagi.  Untuk sementara saya beri kamu nilai 5.


Kemudian beliau mengajukan pertanyaan yang sama kepada mahasiswa yang lain. Pertanyaan tersebut berhasil dijawab dengan baik oleh mereka. Namun apa daya, jawaban tersebut masih belum dapat memuaskan beliau hingga dengan terpaksa ada mahasiswa yang berkata


+ Tapi di buku tertulis seperti itu pak, jadi hanya inilah jawaban yang kami anggap paling tepat
- Lho, tapi kan belum tentu pengarang buku tersebut lebih pintar dari saya. Anda boleh saja mengambil jawaban dari buku, tapi lihat dulu siapa pengarangnya
  *HALLAH*


Setelah menemui jalan buntu, beliaupun melemparkan kembali pertanyaan tersebut kepada saya. Kali ini saya dapat membuktikan bahwa jawaban yang tadi saya ajukan adalah realistis, bahkan saya beritahukan alamat minimarket yang menggunakan metoda tersebut agar beliau dapat membuktikannya sendiri. Walhasil beliaupun berkenan membenarkan pendapat saya dan menambah nilai saya menjadi 7. Lho, kenapa hanya 7..? Karna menurut beliau konteks database yang saya ajukan terlalu sempit. Beliau berkata bahwa sebuah database tidak boleh dibatasi oleh konteks tertentu.


Saya bingung karna seingat saya dulu beliau pernah berkata bahwa dalam mendesain sebuah sistem database kita harus membuat batasan-batasan atau konteks sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh client. Tetapi kenapa sekarang beliau berkata lain? Akhirnya adu argumenpun  terjadi dan beliau mau mengalah. Beliau mengakui bahwa contoh yang saya kemukakan sudah tepat dan sudah sesuai dengan konteks. Namun nilai yang diberikan tetap tujuh. Kenapa..? Karna contoh tersebut dinilai terlalu sederhana.


Beliau mau memberikan nilai sepuluh bila jawaban/contoh tersebut diberikan oleh mahasiswa D3, bukan mahasiswa S1. Apalagi kalau mahasiswa tersebut sangat murah senyum seperti saya (Apa hubungannya coba..?)


Lagi-lagi saya teringat akan peristiwa yang terjadi sebulan yang lalu. Saat itu ada seorang mahasiswa yang 'terancam' mendapat nilai nol dalam tugas karna memberikan contoh database yang dianggap terlalu "tinggi" dan terlalu "luas". Beliau memberi nasehat agar lain kali kami memberikan contoh yang sederhana saja, dan saya kira contoh yang tadi saya berikan sudah cukup sederhana. Saya ingatkan beliau akan hal ini, dan akhirnya beliau berkenan memberikan nilai 10 pada saya. Namun apa yang terjadi selanjutnya..? Beliau berkata bahwa nilai tersebut diberikan dengan syarat bahwa beliau akan menganggap saya sebagai mahasiswa D3 yang sama sekali tidak pantas untuk kuliah di S1. Dilain pihak, saya juga diberi kesempatan untuk tetap beliau anggap sebagai mahasiswa Strata satu dengan syarat bahwa nilai yang saya dapatkan tetap tujuh.


Uh, dengan lapang dada (bohong ding) akhirnya saya terima opsi kedua. Toh saya tidak terlalu dirugikan karna teman saya yang lain diberi nilai 3. Jadi.., yaaahhh!!!


Duh Gusti.., semoga Engkau senantiasa memberi kebaikan pada kami. Saya yakin beliau mempunyai alasan-alasan tertentu dalam bersikap seperti ini, yang mengandung kebaikan, yang tidak kami ketahui.

Sabtu, 13 Mei 2006

silat indonesia dot com

http://silatindonesia.com/
Website ini dikembangkan oleh para pencinta olahraga beladiri, bersifat umum untuk masyarakat yang membutuhkan berbagai informasi seputar kegiatan Beladiri Pencak Silat.


Rabu, 12 April 2006

Kisah Antara Rokok dan Saya





Purwokerto


Jam 22.30 WIB






Saat negeri ini dilanda resesi



Kau tetap memberi devisa


Merekrut jutaan tenaga kerja, meminimalisir pengangguran


Serta mengisi perut lapar para karyawan





Saat olahraga di negeri ini lesu


Kau tetap bersedia menjadi sponsor


Memberikan beasiswa, membuat berbagai liga


Membangkitkan kembali jiwa sportivitas yang tlah lama surut





Duhai batang putih penghanyut jiwa


Beribu terimakasih kuhaturkan padamu


--------------------------------------------------------------------------------------------------------




Rokok, benda kecil nan menggemaskan ini begitu menarik perhatian saya.
Bentuknya yang lucu dan imut, cara konsumsi yang user friendly,
harganya yang fantastis, dan resiko penyakit yang ditimbulkan
senantiasa menimbulkan kontradiksi yang menarik untuk kita cermati.


Jadi kali ini saya ingin sedikit menulis tentang "this sweety cancer"





Pertama kali saya berkenalan dengan rokok adalah saat saya masih dalam
kandungan. Ya, bapak saya seorang perokok, kakek saya perokok, eyang
buyut dan bapaknya eyang buyut saya juga perokok. Jadi bisa dikatakan
bahwa saya adalah salah satu anggota "klan perokok" yang selalu melestarikan budaya merokok kepada anak cucunya. Salah satu klan unggul dalam dunia perokokan.





Sewaktu masih kecil, saya sudah familiar dengan apa yang namanya rokok.
Saat duduk di kelas tiga SD, banyak teman-teman yang mulai mencoba
mengkonsumsi rokok generik (ranting
kering yg berlubang, lalu disulut dan dihisap seperti rokok). Saya
pernah mencoba rokok jenis ini namun kemudian berhenti karena ketahuan
orang tua dan dimarahi habis-habisan. Sebenarnya kenakalan seperti ini masih
dikatakan wajar karna saat itu satu-satunya kegiatan yang bisa
dilakukan sepulang sekolah hanya satu, yaitu bermain di kebun. Dan di
wahana bermain tersebut, main rokok-rokokan tidaklah lebih berbahaya
bila dibandingkan dengan bermain sarang lebah, menangkap ular, memanjat
pohon tinggi ataupun memakan nanas mentah.





Di bangku SLTP, rokok merupakan salah satu sumber rejeki dan tulang
punggung dunia "perjajanan" saya. Saat itu saya mulai menyadari betapa
pentingnya peran seorang tamu bagi ABG seumuran saya, apalagi kalau
tamunya itu adalah seorang perokok. Mungkin sudah jadi kesepakatan para
bapak se-desa bahwa kalau bertamu tidak boleh membawa rokok agar
nantinya bisa menyuruh anak si empunya rumah untuk membelikan rokok di
warung dan uang kembaliannya diberikan sebagai upah. Jumlahnya lumayan
banyak sehingga saya bisa sering-sering mentraktir tarmo di sekolah,
bisa beli mendoan double dan juga beli es serut.





Saat di SMU lah pertama kali saya benar-benar mengenal apa yang namanya
rokok. Pertama kali benar-benar merokok adalah saat kelas 3 SMU, itu
juga karena diajari dan sedikit "diprovokasi" oleh teman satu geng.
Namun seperti perokok pemula lainnya, saya masih belum bisa merokok
dengan baik dan benar, masih memerlukan banyak tutorial dan assistensi
dari para perokok senior. Bahkan sebenarnya saya masih belum bisa
menikmati rokok karna masih sering batuk-batuk.





Nah, ditempat yang bernama "perguruan tinggi" lah saya benar-benar
meemahami dan menghayati arti pentingnya sebatang rokok, baik untuk
diri sendiri, untuk orang lain maupun untuk negara indonesia tercinta
ini. Tempat ini penuh dengan berbagai jenis spesies, mulai dari
perokok, kutu buku, rohaniawan, ilmuwan, junkies ataupun orang udik
seperti saya. Mereka-mereka inilah yang secara langsung maupun tidak
langsung memberi input-input dan stimulus sehingga akhirnya saya bisa
mendapatkan status sebagai "the real smoker". Perkenankanlah saya menceritakan beberapa sebab yang menjadikan saya memperoleh gelar tersebut.





1. Banyaknya tugas kuliah terkadang membuat kita depresi, apalagi jika
tugas tersebut mengharuskan kita untuk sering-sering bergadang.
Menurut saya bergadang yang dipadukan dengan sedikit depresi akan
menstimulus otak kita untuk mencari "pelampiasan" agar kita bisa
rileks. Nah, kadangkala rokoklah yang jadi pilihan





2. Menjadi mahasiswa adalah saat dimana kita mulai membangun karakter,
mencoba berbagai hal baru serta bereksperimen dengan berbagai teori. Di
usia inilah kita mulai "direstui" orang tua untuk berbuat lebih bebas
dalam mencari jatidiri. Mulai dari jarang mandi, jarang ganti baju,
keluar malam, dan juga diperbolehkan merokok.





3. Putus cinta.


Tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Sudah bukan rahasia lagi bahwa
malapetaka yang satu ini sering menimbulkan efek negatif bagi
penderitanya.





4. Banyaknya acara-acara yang disponsori oleh produk rokok. contohnya:
pertandingan olah raga, festival musik, pameran, bahkan wayang kulit.
Acara-acara tersebut seringkali menjual tiket dengan sistem "beli tiket
gratis rokok". Taktik yang mendapatkan tiga keuntungan sekaligus. Ajang
promosi, jualan, sekaligus mencetak calon konsumen. Benar-benar
muslihat yang lihai.


Olahraga kok sponsornya rokok...





5. Banyaknya iklan dan film televisi yang mengasosiasikan bahwa perokok itu jantan, hebat, macho, dan keren





6. Mental kita yang patriotik, pantang menyerah dan tidak kenal rasa
takut. Sudah berulang kali dinasehati bahwa "Merokok mengakibatkan
impotensi, kanker, sakit jantung dan gangguan kehamilan dan janin" tapi
barang terkutuk tersebut masih saja kita konsumsi. Dengan sikap berani
mati ini, sudah sepantasnyalah bangsa lain gentar terhadap kita, bahkan
negara USA yang hebat itu.





7. Stok yang kontinyu. Rokok menyumbang devisa yang amat besar bagi
negeri ini, menghambat pertumbuhan rokok sama saja dengan mengurangi
devisa negara. Melarang peredaran rokok akan berdampak pada "tidak
mengebulnya" dapur para karyawan. Karna itu bisa dikatakan bahwa rokok
tidak akan pernah mati. Rokok akan semakin mudah kita jumpai, dengan
jenis yang semakin inovatif dan bervariasi.





8. Hukum alam


Perokok pasif akan terkena bahaya yang jauh lebih besar bila
dibandingkan dengan perokok aktif. Karna itu bila ada dua orang didalam
satu ruangan dimana yang satu adalah perokok sedangkan yang satunya
bukan maka bisa dipastikan bahwa orang yang tidak merokok akan lebih
beresiko terkena kanker paru-paru daripada orang yang merokok. Jadi
kesimpulannya, lebih baik kita menjadi seorang perokok saja. Logika
yang masuk akal bukan...?


NB : Tapi ada info menarik, ternyata merokok itu memperkecil terjadinya
kanker payudara walaupun juga memperbesar resiko terkena kanker
paru-paru.





9. Hanya orang kaya yang bisa merokok. Saya adalah seorang perokok jadi saya termasuk orang yang kaya Ha ha ha...


Logika ngawur diatas sebenarnya masuk akal juga. Sekarang bayangkan
saja, misalkan kita adalah seorang perokok yang menghabiskan satu
bungkus rokok setiap hari seharga lima ribu lima ratus rupiah. Maka
setiap bulan kita harus mengeluarkan uang sebesar 150.000 rupiah hanya
untuk membeli rokok. Setara dengan SPP sekolah SLTA negeri perbulan di
Purwokerto sini. Kalau ternyata kita juga mempunyai anak yang sama-sama
perokok dan belum bekerja, maka uang yang dikeluarkan akan lebih besar
lagi (sekitar 300.000) perbulan atau 1.800.000 per setengah tahun.
Sebagai perbandingan, uang SPP saya per semester Rp. 1.250.000,00.
Untuk yang reguler hanya 300.000. Jadi biaya yang dikeluarkan untuk
membeli rokok jauh melebihi biaya kuliah. Nah, jika ditambah dengan
uang untuk makan, transport, bayar rekening listrik dan lain-lain maka
total uang yang kita perlukan akan sangat besar. Dan hanya orang kaya
lah yang bisa punya penghasilan sebesar itu.





Saya tidak ingin sok pintar dengan menasehati dan memberi saran tentang
bagaimana cara agar kita terbebas dari rokok, silahkan anda cari
sendiri solusinya. Saya berhenti merokok karna memang sudah dilarang
keras oleh dokter, dan juga karna saya sudah kadung janji pada seorang
teman. Cuma itu.


Tapi kalau boleh, saya ingin mengingatkan bahwa :





Berhenti merokok itu sulit


Tapi kalau tidak berhenti, keadaan kita akan lebih sulit lagi





Marilah kita bersikap bijaksana dalam menyikapi masalah ini.


Wassalam





"Biarpun berwajah jelek, pria yang sedang jatuh cinta itu tidak boleh diremehkan"


School Rumble By Jin Kobayashi









Jumat, 07 April 2006

Cinta dan Definisinya



Sebenarnya saat ini saya belum dapat menemukan definisi "cinta" secara
tepat. Maksud saya adalah definisi cinta yang bersifat objektif,
yang bisa ditinjau secara empiris, dapat diteliti, di ujicoba hingga
akhirnya dapat dibuktikan secara ilmiah. Sampai saat ini, satu-satunya
referensi yang saya gunakan hanya berupa perasaan, baik perasaan
pribadi maupun perasaan orang lain yang tentu saja sangat subjektif dan
kadangkala tidak dapat dijelaskan secara logis.



Namun ternyata bila kita pelajari lebih jauh, akan kita dapatkan bahwa
cinta memang diciptakan lengkap dengan sifat subjektifnya, tergantung
pada usia, jenis kelamin, pekerjaan dan lain sebagainya. Jadi tidak
mengherankan bila dari seribu kepala akan lahir pula seribu definisi
cinta yang berbeda. Oleh karena itu sebenarnya hampir mustahil untuk
menghasilkan sebuah definisi dari kata cinta yang kelak dapat diakui
secara internasional.



Belum lagi kalau kita harus mempartisi cinta itu menjadi beberapa
bagian. Misalnya saja cinta terhadap orang tua, cinta terhadap saudara,
cinta terhadap lawan jenis, atau bahkan cinta terhadap alam (maksudnya
pecinta alam, hahaha). Coba pikir, keterangan seperti apa yang
seharusnya tertulis dalam kamus bahasa indonesia agar dapat
mendefinisikan satu kata ini...?



Setiap kesulitan selalu diikuti dengan kemudahan (QS 94 : 5-6), itulah
yang dijanjikan oleh Allah SWT. Saat mulai putus asa tiba-tiba saja
saya teringat pada pelajaran agama islam yang pernah saya dapatkan di
bangku SMA bahwa yang namanya mahluk itu hanya mempunyai dua bentuk
relasi yaitu hubungan antara manusia dengan Allah, dan juga antara
mahluk dengan mahluk lainnya. Begitu pula yang namanya cinta, hanya ada
dua bentuk yaitu cinta kepada Allah dan cinta kepada mahluk.



Cinta kepada Allah berupa penyerahan diri secara total dengan
melaksanakan perintah serta menjauhi laranganNya. Inilah bentuk cinta
yang tertinggi yang dimiliki manusia. Mencintai Allah adalah mencintai
zat yang kekal, karna itulah kita dapat selalu mencintaiNya. Cinta
terhadap sesama sifatnya sementara, coba jawab dengan jujur "apakah
anda masih mencintai mantan kekasih anda, sama seperti dulu sebelum
anda berpisah...?"



Akan tetapi, seringkali kita terlalu sibuk untuk mencintai sesama
mahluk Allah dan hanya menyisakan sedikit ruang di hati kita untuk
mencintaiNya.



Nah, jadi definisi cinta itu apa coba...?





Yang namanya laki-laki itu

Harus terus berusaha

Biarpun kesempatannya hanya tinggal 1%



School Rumble

By Jin Kobayashi