Sesat, bejat, tukang mabok, pintu hatinya tertutup. Kali ini, kudengar lagi kata-kata itu. Tapi bukan lagi ditujukan padaku, melainkan pada teman-teman yang doyan menenggak minuman berjenggot*.
Semalam, di emperan mushalla, beberapa remaja masjid dan seorang ustadz curhat dengan nada putus asa. Mereka mengajakku membuat ikatan remaja masjid. Konon katanya agar para remaja dapat mengisi waktu luangnya dengan kegiatan positif yang rada berguna. Entah mengaji, diskusi, curhat, atau apalah. Tapi sayangnya, sebelum melakukan apa-apa, mereka sudah nge-down duluan. Melihat kondisi remaja yang konon hidupnya jauh dari norma agama dan norma kesopanan. Konon lho.., konon..
Sejenak, angan ini melayang ke masa lalu, saat masih berkubang dalam lumpur abu-abu. Dulu, diri ini pun pernah menyandang predikat yang lumayan keren. Mahasiswa error tidak berguna yang hampir di DO oleh kampus tercinta. Yang biasa mengisi waktu luangnya dengan bermain game sehari suntuk, menghamburkan duit ratusan ribu di warnet. Lupa makan, lupa beribadah. Di bulan puasa pun, pernah dalam tiga hari daku berbuka dan sahur dengan segelas freshtea. Tak makan biar cuma sebutir nasi. Kenapa..? Agar bisa tetap ngendon di warnet, menguras isi dompet.
Tak ayal, saat ingin sedikit menghirup udara yang berbeda, berbagai penolakan muncul di depan mata. Unit Kerohanian Islam Teknik yang saat itu menjadi satu-satunya harapan, memberikan statement yang lumayan keras. “Togie seorang perokok, gak cocok masuk organisasi kita.” Dan dengan rasa putus asa, daku cuma bisa menerima penolakan tersebut dengan hati dongkol, plus garuk-garuk kepala. Untunglah, ada seorang teman yang mengancam para petinggi disana : "Kalau togie gak boleh gabung, aku pun gak bakal gabung. Bahkan teman-teman pun juga gak jadi gabung." Dan Alhamdulillah, ancaman tersebut dianggap serius sehingga daku diberi kesempatan kedua. Lho.., kok bisa..? Ceritanya begini.
Dulu, daku pernah bertanya pada sang ketua UKI : "Kenapa organisasi ini kok tidak berkembang..? Kenapa kegiatannya sedikit..? Kenapa yang lain gak diajak bergabung..?" Dan saat itu, sang ketua menjawab dengan bijaknya : "Tidak apa-apa gie. Yang penting kan kualitasnya. Anggota sedikit bukanlah masalah, asalkan yang sedikit itu punya komitmen tinggi dalam berislam." Hh, pertanyaan yang membuat daku mati kutu. Namun sayangnya menimbulkan masalah pelik di kemudian hari.
Suatu saat, UKI teknik tidak bisa melakukan re-organisasi. Alasannya..? Karena anggotanya tidak ada. Jadi dengan terpaksa, pengurus lama harus menjabat kembali. Dan saat itu, timbullah rasa keprihatinan di hati ini. Dengan modal nekat, daku mengajak beberapa teman untuk mendaftar jadi anggota, agar bisa menjadi pengurus lalu mati-matian merekrut anggota baru sebagai penerus. Tak aneh, saat teman-teman ditanya motivasi mereka ikut UKI, jawabannya hampir seragam : "Diajak togie". "Disuruh togie". "Dipaksa togie". Bahkan "Diancam togie".
Tapi tak apalah, sebab daku tahu, sebenarnya jauh dilubuk hati, mereka punya tujuan yang sama dengan daku. "Menghidupkan kembali UKI TEKNIK"
Dan berhubung nasib mereka lebih baik dari daku, tidak di black list oleh pengurus, tidak dianggap sebagai mahasiswa error, jadi mereka bisa diterima dengan tangan terbuka, tidak dipersulit.
Hh, memang daku ini error, makanya daku pingin ikut UKI, biar sifat daku bisa diperbaiki. Daku tidak bisa melakukannya sendiri, daku butuh bantuan, daku butuh teman. Daku harap, dengan ikut UKI, daku bisa lebih mudah memperbaiki diri. Dengan imbalan tenaga daku, untuk bekerja mati-matian mencari anggota baru. Namun kalau daku tidak boleh ikut, lalu daku harus pergi kemana..? Harus minta tolong pada siapa..?
Singkat cerita, akhirnya daku diterima juga jadi pengurus UKI. Namun berbeda dengan organisasi lain, hampir di setiap kegiatan yang kami lakukan, kami selalu dibantu oleh teman-teman satu geng yang notabene tidak terdaftar sebagai anggota UKI, apalagi pengurus. Mereka membantu di belakang layar, tanpa terlihat. Saat membuat spanduk, ada teman yang meminjamkan kamar kost, komputer berikut printer yang dia punya. Saat memasang spanduk dan merapikan ruangan, mereka pun datang membantu, berpeluh keringat. Saat pengajian yang kami adakan sepi peserta, mereka rela datang agar terlihat lebih ramai. Daku tahu, walaupun tidak pernah mengatakannya, mereka tulus melakukannya. Demi UKI, demi agama ini.
Walhasil, sekarang UKI Teknik sudah lebih maju, sudah punya anggota dan pengurus baru. Dan itu artinya, sudah saatnya bagi kami untuk pergi meninggalkan organisasi ini, karena kami sudah tidak dibutuhkan lagi. Dan juga karena daku sudah merasa bisa jalan sendiri, tanpa bergantung lagi pada UKI. Namun walaupun begitu, kita bisa tahu bahwa kami-kami ini pun, yang seringkali dipandang sebelah mata, ternyata bisa pula berbuat sesuatu yang sedikit berguna.
Kembali kepada para remaja masjid di mushalla RT sebelah. Sebenarnya, daku tidak terima saat mereka memberi titel sesat dengan seenaknya. Kenapa..? Karena barangkali yang mereka anggap sesat itu tidak benar-benar ditutup pintu hatinya. Barangkali pintu hati mereka memang belum saatnya terbuka. Atau minimal, belum tahu cara membukanya, seperti daku. Atau bisa pula nantinya mereka yang disesatkan itu ternyata memiliki keinginan yang sama seperti daku dulu, berbuat sesuatu demi kemajuan remaja di sekitar mushalla. Tanpa memiliki ambisi untuk menjadikan diri mereka sebagai “Pembuka hati” para remaja, tapi sebagai pondasi agar nantinya ada orang-orang yang lebih baik dari mereka, yang akan meneruskan usaha kami dengan lebih baik pula.
Hh, Padahal sebenarnya, yang namanya hidayah itu asalnya dari Allah, terserah Dia mau memberikannya pada siapa, kapan dan dimana. Bisa saja Dia sudah mengatur bahwa pintu hati mereka nantinya bukan dibuka oleh kami, tapi oleh orang lain. Jadi biarpun nantinya kami sudah berusaha mendirikan ikatan remaja masjid, lalu kok sifat mereka tetap begitu-begitu saja, ya tidak apa-apa. Siapa tahu yang menunjukkan jalan pada mereka bukan kami, tapi generasi setelah kami, atau siapalah. Tak ada yang tahu, hanya Dia yang tahu.
*Anggur kolesom cap orang tua yang ada jenggotnya. Yang kalau diperkirakan, mungkin usianya sudah lebih dari delapan puluh tahun. Sebab kakek daku yang berumur tujuh puluh pun, jenggotnya belum selebat itu.