Senin, 24 September 2007

Joke #1

Seorang gadis akhirnya marah-marah karena sudah lebih dari tiga bulan setiap datang pacarnya langsung menemui ayahnya dan asyik bermain poker hingga larut malam.
"Apakah kamu memang sudah bosan melihat wajah saya?" tanya gadis itu
Pacarnya menjawab , "Lho, bukankah untuk perkawinan kita nanti kita perlu mengumpulkan uang yang banyak?"

Togie : Emang bener bang. Itulah kendala utama yang dihadapi oleh kita, sebagai kaum pria. Tapi abang salah, kalo nanti calon mertuanya kalah, duitnya habis, kita gak bisa nebeng hidup di tempat beliau. Kalaupun bisa, pasti rasanya gak nyaman.

*****

Para ahli efisiensi tentu akan mengatakan pada kita, bahwa jika seorang pemuda tani bisa memetik tujuh keranjang jagung dalam satu jam, dan yang pemudi bisa memetik empat keranjang, maka kedua-duanya akan memetik sebelas keranjang dalam satu jam. Tapi kita semua tahu, bahwa mereka tak akan memetik satu keranjang pun.

Togie : Hahaha…, ada benarnya juga sih. Mending pacaran saja, lupakan kerja.

*****

"Wah, jengkel sekali saya tadi malam. Ketika berkenalan saya menanyakan apa kabar dan dia menceritakan kabarnya"
"Ah, itu kan biasa..."
"Yang luar biasa, dia menceritakan kabarnya itu tanpa henti selama hampir setengah jam"

Togie : Terkadang kita ingin melampiaskan perasaan kita. Tapi harap lihat dulu, apakah dia mau dijadikan sebagai ajang pelampiasan..?

******

Mandor: "Pak, buruh-buruh menuntut jam kerja yang lebih pendek"
Manajer: "Ide yang baik sekali. Potong saja jam istirahat mereka dari setengah jam menjadi sepuluh menit. Dan kemudian persingkat jam makan siang mereka dari sejam menjadi lima belas menit"

Togie : Kata Tarmo, di korea sana, jam kerjanya adalah dari jam delapan pagi sampai jam sembilan malam. Istirahatnya cuma dua kali. Sepuluh menit di jam sepuluh pagi dan setengah jam saat makan siang.

******

Seorang pria ditodong pistol di sebuah jalan yang gelap dan sepi.
"Saya tidak main-main" Kata pria bersenjata itu mengancam. "Serahkan uangmu; atau otakmu saya buat bertaburan"
"Silahkan tembak dan buat otak saya bertaburan" sahut lelaki yang ditodong itu dengan tenang. "Sebab jaman sekarang ini , orang bisa hidup tanpa otak; tapi tidak tanpa uang"

Togie : Sebenarnya sih pingin membantah. Tapi mo gimana lagi, kenyataannya memang seperti itu. Buktinya..? Lihat saja di sekitar kita

Cerita Minggu Pagi - Antara Mercon dan Multiply


Alkisah di minggu pagi terlihat seorang pemuda yang berjalan menyongsong mentari, ditemani beberapa anak kecil, beberapa anak besar, serta si gadis manis dari RT sebelah. Di tangan kanan pemuda tersebut tergenggam sebatang korek api, di tangan kirinya sekantong mercon. Dengan bijak dia memberi nasehat pada anak-anak kecil yang berjalan di sampingnya.

"Dik.., sekarang bulan puasa. Saat dimana kita tidak boleh mengganggu orang lain, termasuk menabuh mercon sembarangan. Ingat dik, kita sudah terlalu banyak berbuat dosa, atau minimal ya.., bengal dikit lah. Karena itu, sebisa mungkin, di bulan ini, kita harus mengendalikan tinggah laku kita. Bukan begitu dik..?"

Dengan polosnya, beberapa anak kecil tersebut mengangguk setuju. Anak yang rada besar masih asyik berjalan di depan, ngobrol dengan si gadis manis dari RT sebelah.

"Dik.., kakak tahu, kalian pasti sudah sering dinasehati seperti ini. Tapi apa yang kakak katakan ini memang benar. Sekarang bayangkan saja, bagaimana jika saat kita berjalan-jalan seperti ini, tiba-tiba ada yang menabuh mercon di depan kita..? Kita pasti marah. Dan kalau yang menyalakan mercon ternyata masih kecil, ingusan, beleran, kurus, kerempeng, pasti dia bakal kita gebuki. Iya kan..? Makanya dik.., kalau kita tidak mau dibikin marah, kita jangan membuat orang lain marah. Singkatnya, tahan mercon kalian.”

Tak berapa lama kemudian, saat angin sepoi mulai berhembus menerpa rerumputan, saat burung pipit berkejaran di pucuk tanaman padi, saat sinar mentari mulai menghangatkan kulit, nasehat tersebut diakhiri dengan kata-kata yang tak kalah bijaknya.

"Karena itulah dik, berhubung kita tidak boleh menyalakan mercon di depan orang lain, jadi nyalainnya dari samping aja, ato dilempar dari belakang, Okeh...? Bentar, daku kasih contoh ya..!!"

Sang pemuda menyalakan mercon seukuran pentol korek yang tlah lama dia genggam, lalu melemparkannya tepat di samping gadis manis dari RT sebelah.

Mercon : DOORR..!!!!
Gadis manis dari RT sebelah : KYAAAAAA..!!!!
Togie : HAHAHA...!!! Senangnyaaa…, Hahahaha…!!!



*********************


Dari cerita diatas (yang sayangnya, nyata) bisa kita lihat kesalahan, kerancuan, kengawuran, dan kebengalan sang pemuda. Kata-kata bijak yang tadinya terlontar dengan anggun ternyata ditutup dengan perbuatan yang sebenarnya tidak patut ditiru oleh anak kecil di belahan bumi manapun.

Kita akui, pemuda tersebut memang salah, tapi andai kita mau memalingkan mata barang sejenak untuk mengamati ribuan tulisan (termasuk reply) yang berserakan di belantara multiply ini, niscaya akan kita lihat keanehan dan kengawuran yang kualitasnya sama.

Ok, mari kita buka-bukaan saja. Pernah ada yang menulis bahwa sebagai muslim kita harus bersikap sopan, bertutur kata lembut, konsisten, menghormati orang lain, tidak menghina, mencaci, atau yang lainnya. Namun pernah pula orang tersebut secara tidak sadar (atau sadar ya..?) mengumpat dan mencacimaki pihak lain, beradu ngeyel dengan kasarnya lewat reply, saling menuduh tanpa bukti, dan entah apalagi

Ada yang menulis bahwa kita harus berpikir dan bertindak realistis, tanpa terlalu berkutat di teori. Namun kok suatu saat dia bicara tentang sesuatu yang entah bisa diaplikasikan atau tidak, saking membingungkannya.

Adapula yang sudah jelas ketahuan bahwa reply atau tulisan-tulisannya amat bertolak belakang bila dibandingkan dengan berbagai nasehat dan kata-kata indah yang pernah dia post namun dia tetap saja mencari berbagai pembenaran dan pengeyelan agar tidak dianggap salah

Bah..!!

Entahlah. Memang terkadang sang pemuda menyesali perbuatan ngawur tersebut. Walau sebenarnya tidak menyesal amat sih. Kenapa..? Sebab paling tidak, apa yang dia lakukan masih mending. Dia hanya melakukannya di hari minggu, di bulan puasa. Tidak tiap hari, tiap posting atau tiap nulis reply. Apalagi perbuatan itu dilakukan dengan terpaksa :

"Karena adiknya yang walaupun usianya baru lima tahun tapi bengalnya gak ketulungan itu rajin beli mercon. Anak kecil usia lima tahun tidak boleh bermain mercon, bahaya. Tapi mercon pun tidak boleh dibuang, sayang duitnya. Jadi mau tidak mau, di sabtu malam, dia harus bergerilnya ngumpetin semua mercon adiknya, lalu dihabiskan semua di minggu pagi. Dan berhubung seorang mahasiswa tidak pantas kalo ikut-ikutan berpesta mercon, maka dia harus mencari berbagai pembenaran untuk mendukung tindakannya. kalau toh tidak betul-betul benar, ya di benar-benarkan sajalah"

Dan pertanyaannya adalah : Siapa gerangan pemuda tersebut..?

Kirimkan jawaban dan pulsa anda (minimal yang sepuluh ribu) ke no HP saya. Pemenangnya akan mendapat ucapan terimakasih

Kita Hidup Untuk Apa..?

Setiap orang harus punya tujuan. Kenapa..? Karena pada dasarnya manusia memang harus punya tujuan. Dan kalau seseorang sudah terlanjur hidup di dunia ini tapi kok tidak tahu tujuan hidupnya, lebih baik dia jadi hewan saja. Biar rada pantes.

Bicara tentang tujuan hidup. Sebenarnya, apa sih tujuan kita dihidupkan di dunia ini..? Jawabannya ada banyak, tergantung siapa yang menjawab pertanyaan tersebut. Bila bertanya pada sang raja bejat hina dina miskin cinta George Bush JR, mungkin dia akan menjawab bahwa tujuan hidupnya adalah untuk membantai rakyat irak dan afghanistan. Namun bila kita memposisikan diri sebagai muslim, lalu harus menjawab sesuai ajaran islam, maka ada satu jawaban yang patut kita berikan, yaitu "Untuk beribadah pada Allah". Kenapa harus kepada Allah..? Tentu karena kita adalah umat islam, dan tidaklah pantas kalau ibadah kita kok diniatkan untuk pohon mangga di depan rumah. Aneh

Ok, itulah teorinya. Tapi apakah hal itu sudah sesuai dengan realitas yang kita hadapi..? Rasanya belum.

Lho, kenapa..?

Bah, berhubung anda sudah bertanya, jadi lebih baik kita jadikan diri anda sebagai contoh.

Begini, mari kita kembali ke masa kecil. Dulu, saat ditanya tentang cita-cita yang dimiliki, jawaban apa yang anda beri..? Paling-paling berkisar antara jadi dokter, astronot, pramugari, orang kaya, atau yang sejenisnya. Yang pasti, tak mungkin ada yang bercita-cita untuk menikah dengan george W bush. Dari beragam cita-cita tersebut, sebenarnya hanya berorientasi pada materi semata. Pada "Jadi dokter itu enak, bisa nyuntik pasien". "Wuiih, pramugari bisa pergi ke luar negeri". "Astronot malah piknik ke bulan". Atau yang rada cerdas dikit "Mending jadi orang kaya saja. Dokter, pramugari, astronot, nanti bisa kita bayar semuanya, hahaha"

Nah, pasti begitu kan..? Ayolah jujur saja, jangan malu-malu. Buat apa anda malu, toh cita-cita seperti itu memang sudah ditanamkan secara sadar oleh lingkungan kita. Baik orang tua, keluarga, teman, tetangga, bahkan televisi. Jadi, dont ever mind bin anyminding lah. Itu wajar kok.., wajar..

Tapi masalahnya, kewajaran inilah yang patut dikoreksi. Sebagai muslim, seharusnya, cita-cita kita adalah agar bisa mencapai tujuan diciptakannya kita ke dunia, yaitu untuk beribadah. Titik. Sedangkan dokter, astronot, pramugari atau orang kaya, seharusnya hanya dijadikan alat untuk mencapai tujuan hidup kita, bukan cita-cita final. Namun sayangnya, kok jarang yang berpikir sampai kesitu.

Orang tua kita, sejak kecil selalu mendiktekan sekolah, belajar, matematika, berhitung, IPA, IPS, dan balatentaranya. Kenapa..? Alasannya amat standar. Agar kita pintar lalu bisa menjadi dokter, astronot dan lainnya. Titik. Amat jarang yang melanjutkannya dengan : "Agar dengan menjadi dokter saya bisa intens beribadah". Jarang...

Karena itu, mumpung anda sudah terlanjur membaca tulisan ini, mumpung saya baru saja memposting tulisan ini, mumpung kita masih dibiarkan hidup tidak dibikin mati, dan mumpung kita sedang menghadapi bulan ramadhan, alangkah baiknya kalau sejak saat ini kita merubah pola pikir yang terlanjur tertanam jauh di lubuk otak. Kalau sekarang anda sudah terlanjur mencapai cita-cita sebagai dokter, astronot, pramugari, orang kaya atau yang sejenisnya, maka pada cita-cita anda, tambahkanlah kata-kata sebagai berikut : "agar dengan profesi ini saya dapat mencapai tujuan hidup saya untuk senantiasa beribadah kepada Allah".

Akan tetapi kalau toh anda belum secuilpun mencapai cita-cita berorientasi materi semacam itu, jangan putus asa, tetaplah berusaha. Yang penting tak peduli berhasil atau gagal, asalkan kita bisa menunaikan tugas kita untuk beribadah, itu sudah cukup. Sedangkan rizki kita di dunia, itu urusan Allah. Nanti biar Dia saja yang menentukan pekerjaan apa yang baik untuk kita.

Kamis, 20 September 2007

[Curhat] Sesat, disesatkan, menyesatkan, sesat-sesatan

 

Sesat, bejat, tukang mabok, pintu hatinya tertutup. Kali ini, kudengar lagi kata-kata itu. Tapi bukan lagi ditujukan padaku, melainkan pada teman-teman yang doyan menenggak minuman berjenggot*.

Semalam, di emperan mushalla, beberapa remaja masjid dan seorang ustadz curhat dengan nada putus asa. Mereka mengajakku membuat ikatan remaja masjid. Konon katanya agar para remaja dapat mengisi waktu luangnya dengan kegiatan positif yang rada berguna. Entah mengaji, diskusi, curhat, atau apalah. Tapi sayangnya, sebelum melakukan apa-apa, mereka sudah nge-down duluan. Melihat kondisi remaja yang konon hidupnya jauh dari norma agama dan norma kesopanan. Konon lho.., konon..

Sejenak, angan ini melayang ke masa lalu, saat masih berkubang dalam lumpur abu-abu. Dulu, diri ini pun pernah menyandang predikat yang lumayan keren. Mahasiswa error tidak berguna yang hampir di DO oleh kampus tercinta. Yang biasa mengisi waktu luangnya dengan bermain game sehari suntuk, menghamburkan duit ratusan ribu di warnet. Lupa makan, lupa beribadah. Di bulan puasa pun, pernah dalam tiga hari daku berbuka dan sahur dengan segelas freshtea. Tak makan biar cuma sebutir nasi. Kenapa..? Agar bisa tetap ngendon di warnet, menguras isi dompet.

Tak ayal, saat ingin sedikit menghirup udara yang berbeda, berbagai penolakan muncul di depan mata. Unit Kerohanian Islam Teknik yang saat itu menjadi satu-satunya harapan, memberikan statement yang lumayan keras. “Togie seorang perokok, gak cocok masuk organisasi kita.” Dan dengan rasa putus asa, daku cuma bisa menerima penolakan tersebut dengan hati dongkol, plus garuk-garuk kepala. Untunglah, ada seorang teman yang mengancam para petinggi disana : "Kalau togie gak boleh gabung, aku pun gak bakal gabung. Bahkan teman-teman pun juga gak jadi gabung." Dan Alhamdulillah, ancaman tersebut dianggap serius sehingga daku diberi kesempatan kedua. Lho.., kok bisa..? Ceritanya begini.

Dulu, daku pernah bertanya pada sang ketua UKI : "Kenapa organisasi ini kok tidak berkembang..? Kenapa kegiatannya sedikit..? Kenapa yang lain gak diajak bergabung..?" Dan saat itu, sang ketua menjawab dengan bijaknya : "Tidak apa-apa gie. Yang penting kan kualitasnya. Anggota sedikit bukanlah masalah, asalkan yang sedikit itu punya komitmen tinggi dalam berislam." Hh, pertanyaan yang membuat daku mati kutu. Namun sayangnya menimbulkan masalah pelik di kemudian hari.

Suatu saat, UKI teknik tidak bisa melakukan re-organisasi. Alasannya..? Karena anggotanya tidak ada. Jadi dengan terpaksa, pengurus lama harus menjabat kembali. Dan saat itu, timbullah rasa keprihatinan di hati ini. Dengan modal nekat, daku mengajak beberapa teman untuk mendaftar jadi anggota, agar bisa menjadi pengurus lalu mati-matian merekrut anggota baru sebagai penerus. Tak aneh, saat teman-teman ditanya motivasi mereka ikut UKI, jawabannya hampir seragam : "Diajak togie". "Disuruh togie". "Dipaksa togie". Bahkan "Diancam togie".

Tapi tak apalah, sebab daku tahu, sebenarnya jauh dilubuk hati, mereka punya tujuan yang sama dengan daku. "Menghidupkan kembali UKI TEKNIK"

Dan berhubung nasib mereka lebih baik dari daku, tidak di black list oleh pengurus, tidak dianggap sebagai mahasiswa error, jadi mereka bisa diterima dengan tangan terbuka, tidak dipersulit.

Hh, memang daku ini error, makanya daku pingin ikut UKI, biar sifat daku bisa diperbaiki. Daku tidak bisa melakukannya sendiri, daku butuh bantuan, daku butuh teman. Daku harap, dengan ikut UKI, daku bisa lebih mudah memperbaiki diri. Dengan imbalan tenaga daku, untuk bekerja mati-matian mencari anggota baru. Namun kalau daku tidak boleh ikut, lalu daku harus pergi kemana..? Harus minta tolong pada siapa..?

Singkat cerita, akhirnya daku diterima juga jadi pengurus UKI. Namun berbeda dengan organisasi lain, hampir di setiap kegiatan yang kami lakukan, kami selalu dibantu oleh teman-teman satu geng yang notabene tidak terdaftar sebagai anggota UKI, apalagi pengurus. Mereka membantu di belakang layar, tanpa terlihat. Saat membuat spanduk, ada teman yang meminjamkan kamar kost, komputer berikut printer yang dia punya. Saat memasang spanduk dan merapikan ruangan, mereka pun datang membantu, berpeluh keringat. Saat pengajian yang kami adakan sepi peserta, mereka rela datang agar terlihat lebih ramai. Daku tahu, walaupun tidak pernah mengatakannya, mereka tulus melakukannya. Demi UKI, demi agama ini.

Walhasil, sekarang UKI Teknik sudah lebih maju, sudah punya anggota dan pengurus baru. Dan itu artinya, sudah saatnya bagi kami untuk pergi meninggalkan organisasi ini, karena kami sudah tidak dibutuhkan lagi. Dan juga karena daku sudah merasa bisa jalan sendiri, tanpa bergantung lagi pada UKI. Namun walaupun begitu, kita bisa tahu bahwa kami-kami ini pun, yang seringkali dipandang sebelah mata, ternyata bisa pula berbuat sesuatu yang sedikit berguna.

Kembali kepada para remaja masjid di mushalla RT sebelah. Sebenarnya, daku tidak terima saat mereka memberi titel sesat dengan seenaknya. Kenapa..? Karena barangkali yang mereka anggap sesat itu tidak benar-benar ditutup pintu hatinya. Barangkali pintu hati mereka memang belum saatnya terbuka. Atau minimal, belum tahu cara membukanya, seperti daku. Atau bisa pula nantinya mereka yang disesatkan itu ternyata memiliki keinginan yang sama seperti daku dulu, berbuat sesuatu demi kemajuan remaja di sekitar mushalla. Tanpa memiliki ambisi untuk menjadikan diri mereka sebagai “Pembuka hati” para remaja, tapi sebagai pondasi agar nantinya ada orang-orang yang lebih baik dari mereka, yang akan meneruskan usaha kami dengan lebih baik pula.

Hh, Padahal sebenarnya, yang namanya hidayah itu asalnya dari Allah, terserah Dia mau memberikannya pada siapa, kapan dan dimana. Bisa saja Dia sudah mengatur bahwa pintu hati mereka nantinya bukan dibuka oleh kami, tapi oleh orang lain. Jadi biarpun nantinya kami sudah berusaha mendirikan ikatan remaja masjid, lalu kok sifat mereka tetap begitu-begitu saja, ya tidak apa-apa. Siapa tahu yang menunjukkan jalan pada mereka bukan kami, tapi generasi setelah kami, atau siapalah. Tak ada yang tahu, hanya Dia yang tahu.


 


 


*Anggur kolesom cap orang tua yang ada jenggotnya. Yang kalau diperkirakan, mungkin usianya sudah lebih dari delapan puluh tahun. Sebab kakek daku yang berumur tujuh puluh pun, jenggotnya belum selebat itu.

Sajak Dianiya

 

Barusan, ada segerombol tentara yang mengepung rumahku. Beberapa diantaranya masuk secara paksa, setelah terlebih dulu mendobrak pintu. Dengan semena-mena, tubuh yang ringkih ini dibanting, diinjak-injak, lalu dipukul pake popor bedil. Entahlah, kejadiannya berlangsung begitu cepat. Aku tak sempat membela diri atau bertanya tentang ada tidaknya surat kuasa penyiksaan

Setelah puas pukul sana dan hantam sini, para tentara itu mendudukkanku diatas kursi. Istilah kerennya, aku diinterogasi. Mereka bertanya tentang status, alamat, KTP dan organisasi yang kuikuti. Sejenak aku heran. Kalau mereka tidak tahu nama, status dan alamatku, kenapa mereka bisa datang kesini..? Apa mereka memang diijinkan menghajar penduduk sipil walau tanpa bukti..?

Untunglah tak berapa lama kemudian, mereka bicara ke pokok persoalan. Mereka bertanya tentang dimana hatiku disembunyikan. Dan saat itu, secara sekilas, bisa kulihat mereka mulai menggeledah seisi rumah. Membolak-balik perabot, mengacak-acak lemari, naik eternit, bahkan ada pula yang nyemplung kedalam sumur.

Agar tidak berlarut-larut, langsung kutanya alasan mereka datang kemari. Mereka bilang, hatiku telah memikat hati tuan puteri, gadis cantik yang tinggal di istana bermenara tinggi. Dan sayangnya, kedua hati tersebut ternyata saling suka. Pantees.., makanya aku heran, kok beberapa minggu belakangan ini hatiku sering keluyuran, ngelayap entah kemana. Dasar, hati sialan. Dia yang bikin masalah, aku yang kena hajar.

Singkat cerita, tak berapa lama, hatiku pun berhasil diketemukan. Ternyata dia ngumpet di pojok kiri atas microsoft word, gemetar ketakutan, lalu berniat kabur ke multiply, agar bisa bersembunyi diantara jutaan kata yang bercampur aduk disana. Sayang, dia lupa, dia hanyalah sekeping hati milik mahasiswa pemalas, tanpa masa depan cerah, yang kuliahnya di teknik elektro tapi pinginnya kok jadi petani. Walhasil, tak aneh kalau cara ngumpetnya pun masih amatiran, kalah cerdas dibandingkan segerombol tentara yang memang sudah dilatih secara profesional.

Akhirnya, hatiku diborgol dan digelandang ke istana tanpa perlawanan. Sang komandan tentara, yang berkumis lebat, yang memakai seragam lengkap, secara perlahan berjalan menghampiriku, lalu meminta maaf. Dia bilang, dia hanya menuruti perintah. Dia bilang, mereka itu, tentara-tentara itu, bukan tentara asli negeri sini. Mereka hanyalah tentara bayaran yang disewa dari negeri konon. Mereka dikontrak agar nama baik tuan puteri tidak tercemar. Ck, pantesan. Tentara negeri ini kan bertugas melindungi rakyat, ramah tamah, baik hati, gemar bercanda dan tidak sombong. Mereka tidak mungkin menganiaya rakyat kecil sepertiku. Paling tidak, itulah teorinya.

Dan lihat, sekarang hatiku sudah berselonjor pasrah dihadapan sang puteri. Disana dia diultimatum : "Percuma saja kau lari, tak ada gunanya bersembunyi. Kamu sudah jadi milikku. Tinggalkan saja tuanmu, mahasiswa teknik tak berguna itu..!!"

Senin, 17 September 2007

hikayat sang mahasiswa tampan dan pohon keramat

 

Satu hal yang seharusnya membedakan mahasiswa teknik dengan mahasiswa lain adalah pada pola pikir. Di teknik, kita harus terbiasa untuk berpikir aplikatif. Teori serumit, secerdas dan seindah apapun, harus bisa kita aplikasikan. Amat disayangkan kalau ada mahasiswa yang mengaku belajar di fakultas teknik kok cuma berkutat di teori. Berdasarkan hal itu, maka saya, mahasiswa yang konon ngendon di teknik tapi bercita-cita jadi petani ini, pun ikut terbawa pola pikir yang aplikatif juga.

Begini, alkisah, di kampung saya yang dipenuhi hutan bambu itu, berdiri kokoh sebatang pohon kelapa sawit yang konon usianya sudah tua, dan konon ada jin penunggunya pula. Dengan modal konon itulah maka pohon tersebut bermasa depan sejahtera. Hampir setiap bulan puasa, ada saja manusia yang datang mempersembahkan sesajian. Mulai dari kemenyan, kembang, jajanan, serta buah-buahan. Konon katanya, dengan meminta tolong pada si pohon, maka hajat kita bisa terpenuhi. Walau konon pula, ada yang beralasan bahwa mereka melakukan hal itu hanya demi mendoakan dan menghormati sang ulama yang kebetulan sudah mati dan dikubur disamping pohon.

Konon, dahulu kala, ada seorang penyebar agama islam yang berdakwah di kampung saya. Konon katanya dia seorang ulama, bahkan ada yang menyebutnya sebagai wali. Dengan status seperti itu, maka wajar saja jika konon beliau memiliki karomah yang tetap ada walaupun jasadnya sudah mati. Dan karomah itulah yang dimanfaatkan oleh para manusia untuk dimintai tolong. Konon katanya cuma sekedar dijadikan perantara, minta tolongnya sih tetep pada Sang Pencipta.

Sayangnya, biarpun begitu, kok pada kenyataannya beredar desas-desus yang bikin miris kepala. Dulu, sering pohon tersebut mengganggu manusia. Ada orang yang melihat kuntilanak, tuyul, gondoruwo, wewe gombel, bahkan kampret seukuran raksasa. Minimalnya, mereka diresahkan oleh suara tangisan bayi atau rintihan wanita muda. Walau sebenarnya tak ada yang tahu pasti apakah suara rintihan tersebut berasal dari wanita yang bener-bener masih muda, remaja, sudah tua, atau cuma setengah baya.

Dan yang lebih disayangkan lagi, ada yang menganggap bahwa si pohon bisa mencelakakan manusia. Dulu ada yang nekat mencongkel bonggol pohon tua yang konon katanya teman karibnya si pohon keramat. Si pencongkel, yang tadinya bertubuh gemuk, subur, penuh gizi, akhirnya jadi sakit-sakitan lalu mati (Inna Lillahi wa inna illahi roji'un). Sialnya, masyarakat kampung saya kemudian menganggap bahwa orang tersebut mati karena kena kutuk.

Jadi, tak aneh kalau masyarakat akhirnya terlalu mengkultuskan sang pohon. Lebih kultus dari presiden George W Bush sekalipun. Termasuk para jomblo kurang kerjaan yang sering ngumpul menghabiskan waktu di warung samping rumah. Jomblo penakut yang sifat tidak jantannya sering bikin gerah. Dan karena saya ini, mahasiswa teknik pemalas ini, gak tahan dengan sifat penakut mereka, akhirnya saya pun ngomong panjang lebar, berbusa-busa, menjelaskan berbagai dalil dan argumen yang intinya adalah kita tak perlu takut pada sang pohon. Toh kalau memang disana ada kuburan wali, wali tersebut cuma boleh kita hormati, bukan ditakuti atau dikeramatkan. Dan toh kalau sebenarnya si pohon ditunggu jin, itu lebih tidak boleh ditakuti lagi. Buat apa takut kepada jin..?

Namun sayangnya, sifat penakut mereka sudah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan. Omongan saya cuma dianggap sebagai bualan. Dan berhubung saya ini orangnya gampang emosi, jadi biar tidak tambah marah akhirnya saya putuskan untuk langsung kasih bukti. Saat itu, ditemani adik saya dan temannya, saya mengajak dua orang jomblo penakut untuk adu nyali di sekitar pohon. Pukul sebelas malam, kami bergerak menuju ke rimbun hutan bambu, lalu nongkrong selama berjam-jam menunggu agar diganggu sang penguasa pohon. Bermodalkan sebungkus rokok hasil ngutang di warung sebelah, kami duduk diam disana. Tapi mulut kami tidak ikut diam. Berkali-kali kami menghina sang penguasa pohon. "Kalau benani, ayo nongol kesini..!!", "Cuih.., pohon kok ditakuti..?", "Kalau gak mau nongol, nanti kami kencingi..!!".

Haha, dan walhasil, beberapa saat kemudian, muncul angin besar yang anehnya hanya berputar di sekitar sang pohon, sedangkan rimbun pohon bambu yang ada disitu tetap diam. Tercium juga bau wangi kemenyan, bau kembang, bahkan bau bangkai. Seakan belum cukup, muncul pula sesosok musang yang bisa-bisanya mendekat dan memelototi kami, padahal biasanya kalau bertemu manusia si musang pasti lari. Tak aneh kalau kemudian ada seorang jomblo yang tiba-tiba mengambil ancang-ancang untuk kabur. Cuih, penakut.

"OK, silahkan kabur. Tapi ingat, sesampainya di rumah, kamu harus langsung pergi ke kamar mandi. Lepas tuh celana, ganti dengan rok, sekalian pake BH. Biar rada pantes. biar gak mirip laki-laki..!!"

Itulah kata-kata yang kemudian meloncat keluar dari mulut saya. Dan si jomblo penakut pun menunduk malu, batal meneruskan aksi kaburnya. Kami terus duduk disitu sampai jam setengah satu dinihari, dan hal-hal aneh yang tadi menghantui pun terhenti. Kami bosan, kami pun pulang.

Sayangnya, sayang selalu saja datang. Besoknya ada pria pemabuk yang mendongeng tentang kisah konyol dimana dari dongengan tersebut bisa disimpulkan bahwa mau tidak mau si pohon harus tetap dianggap keramat. Dan berhubung pria tersebut konon lumayan sakti, konon pasang susuk, konon tidak mempan dibacok, para jomblo yang saat itu berjumlah belasan pun cuma bisa mengangguk setuju, gak berani membantah. Namun saya, sang jomblo didikan teknik elektro Unsoed malah jadi gerah. Karena saat itu ada teman sesama mahasiswa unsoed, maka saya nekat mengajak teman saya dan belasan jomblo lainnya untuk uji nyali lagi ke pohon keramat. Hutan bambu yang biasanya sepi tiba-tiba ramai dipenuhi iring-iringan jomblo yang ingin langsung melihat bukti.

Dan saat itulah, sesampainya disana, teman saya menjelaskan bahwa pohon tersebut memang tidak ada sakti-saktinya. Dia juga berkata bahwa toh kalau memang disitu dikubur wali, maka wali tersebut sudah gak ada hubungannya lagi dengan alam nyata. Dia sudah mati, sudah sibuk dengan dunianya sendiri, gak bisa ikut campur urusan kita. Namun kalau ternyata yang bikin ulah adalah jin, maka lebih baik kalau jin tersebut nongol saja, agar bisa kami interogasi, lalu kalau terbukti bersalah bisa kami hajar ramai-ramai. Pasti dia kapok kalau sudah merasakan ngenesnya digebuki belasan jomblo yang hobi berkelahi. Dan para jomblo pun menunduk diam. Sebab setelah ditunggu sampai bosan pun, gak ada mahluk aneh yang berani mengganggu

Ah, lagi-lagi sayang, besoknya si pemabuk tetep berkoar-koar. Dia bercerita berbagai hal aneh tentang hantu, kutukan, kesaktian, jimat dan sebagainya. Bahkan dia bercerita bahwa saat ada penduduk hutan bambu yang meninggal, keris milik si penduduk tersebut tiba-tiba terbang perlahan ke arah sang pohon. Dan berhubung kejadian tersebut dilihat oleh para pelayat, maka bisa dibuktikan bahwa pohon tersebut memang sakti.

Tapi argumen seperti itu belum cukup untuk mematahkan kengeyelan saya. Dengan beraninya saya bilang bahwa : "Kalau pohon itu benar-benar sakti, kenapa saya masih belum kenapa-napa..? Padahal saya sudah menghina tuh pohon dengan habis-habisan. Lha wong ditantang berantem plus diancam mau dikencingi kok pohon tersebut gak marah..? gak menyakiti saya..? Lalu dimana saktinya..? Dan kalau memang ternyata pohon tersebut gak berani melawan saya karena saya berwajah ganteng, kenapa dia tidak menyakiti belasan jomblo yang lain..? Toh mereka masih kalah ganteng dengan saya..?" Dan para jomblo pun diam. Tak bisa membantah.

Terakhir, saat si pemabuk masih berkutat dengan kengeyelannya, adik saya pun berkata :

"Ck, pohon, susuk, kesaktian, itu semua gak perlu ditakuti. Kalau ada yang pasang susuk lalu mengaku sakti, gak mempan dibacok, aku malah pingin bukti. Kalau berani, ayo sini, biar tak bacok sekalian. Kita lihat, bisa berdarah atau tidak. Susuk..? Cuih. Paling-paling cuma bisa pasang susuk emas setengah gram kok bangga. Jangan-jangan khasiatnya masih kurang gede. Mending kalau susuknya emas sekilo sekalian, atau malah intan berlian. Kalau gak punya duit kan bisa dijual, lumayan."

Angin dingin berhembus masuk dari pintu warung, si pemabuk tiba-tiba diam, tak bergeming.

Minggu, 16 September 2007

Sajak Rindu


Mendekatlah padaku, mari berbincang dalam jarak ribuan mil. Bertukar cerita tentang keluh, asa, tangis, serta tawa. Tunjukkan wajahmu dari balik ilusi. Perdengarkan suaramu lewat celoteh peri. Lalu biarkan semua berlangsung dalam sunyi, terbungkus pekat malam.

 

de lonelie, togie