Purwokerto, entah hari apa.., entah tanggal berapa
Seperti biasa, pertunjukan musik 'tek-tek' atau lebih dikenal dengan
nama 'kentongan' berakhir dengan rusuh. Tawuran antar penonton pun
terjadi, bahkan ada beberapa penabuh kentong yang ikut terjun kedalam
'kancah pertempuran'. Hanya ada beberapa orang dari grup kami yang
tidak ikut berkelahi yaitu para wanita, beberapa pria bertubuh
kerempeng, dan tentu saja saya dan Tarmo. Kami berdua langsung lari
pulang begitu baku hantam terjadi.
Sambil berselonjor kaki karna kelelahan dan menghisap beberapa batang
rokok yang kami curi dari panitia, kami mulai membuka obrolan. Dialog
tanpa mutu yang biasa kami lakukan setiap malam dan sering berakhir
dengan pertengkaran.
"Gie coba pikir, kenapa setiap pertunjukan yang kita adakan selalu
berakhir rusuh? dan itupun selalu di babak terakhir, disaat kita mulai
membawakan lagu-lagu dangdut dan campur sari, disaat satu-satunya
penyanyi cantik yang kita miliki mulai bergoyang, disaat tangan dan
mata penonton mulai "menelanjangi" lekukan tubuh yang
berlenggak-lenggok...? coba jawab Gie...?"
"Itu karena kita sedang mementaskan apa yang dinamakan 'seni' Gie. Kamu
tahu khan...? seni itu identik dengan keindahan, dan hal terindah yang
Tuhan ciptakan bagi lelaki adalah kaum hawa. Karna itulah mereka-mereka
yang sedang berkelahi disana itu begitu histeris, mereka kehilangan
kendali begitu melihat keindahan yang bagaikan surga itu Gie. Jadi
wajar saja kalau mereka jadi bersemangat dan saling adu pukul untuk
menyalurkan ekspresi dan perasaan. Andai saat ini ada orang kaya yang
tiba-tiba memberi kita uang ratusan juta rupiah, kitapun akan
kehilangan kendali juga khan...? ya kurang lebih seperti itu Gie.."
"Saya heran terhadap orang-orang yang tidak suka dengan pertunjukan
kita. Mungkin saja mereka mempunyai pikiran kotor yang sudah mendarah
daging sehingga setiap ada sesuatu yang bernilai seni, otak mereka
langsung ngeres dan berpikiran jorok. Atau jangan-jangan mereka telah
kehilangan hormon testosteron secara drastis sehingga mengalami
penurunan libido kronis dan kita dijadikan kambing hitamnya. Mereka itu
perlu kita kasihani Gie. Mereka tidak bisa menerima konsep dasar dari
seni, tidak memiliki sense of the Art. Mereka akan membuat seni dan
budaya bangsa kita hancur Gie. Definisi seni itu luas, dan mau coba di
re-definisi dengan otak mereka yang dangkal dan mesum itu..? Terlalu
lucu untuk diungkapkan Gie, Benar-benar tidak masuk akal"
"Ralat Mo, saya ingin tanya. Apa gerakan memutar pinggul naik turun
selama 15 menit tanpa henti itu juga bisa disebut seni...? Bukan Mo,
itu bukan seni, itu namanya Pornoaksi. Sebenarnya saya heran, kenapa
harus dengan goyangan seperti itu, kenapa tidak seperti artis pop atau
rock yang di televisi itu. Toh mereka tetap bagus kok, tanpa harus
mempermalukan diri dan memancing nafsu penonton. Jangan-jangan kalau
nanti ada Blue Film dalam bentuk reality show yang disiarkan secara
LIVE oleh televisi swasta di negeri ini, akan kamu katakan juga bahwa
itu bukan pornografi? Toh adegan itu alami, indah, bernilai seni
tinggi. Saya baru tahu kalau otak kamu ternyata begitu kacaunya Mo,
keterlaluan"
"Lagipula, kalau memang para wanita itu ingin dianggap cantik atau
dikagumi kenapa harus dengan cara itu Mo. Toh si Nurlela saja yang
notabene berjilbab juga cantik kok, pengagumnya juga banyak. Kamu sudah
berkali-kali dia tolak kan Mo? Nah itu buktinya. Apa kita harus selalu
menelan ludah sambil sekali-kali beristighfar setiap melihat hal-hal
seronok yang 'katanya' sih wajar dan biasa itu Mo? Mereka, para wanita
itu sebenarnya beruntung karna mereka tidak pernah merasakan apa yang
namanya 'badai testosteron' (Produksi hormon berlebih yang sering
melanda laki-laki). Apa mereka belum mengerti bahwa senyum kaum hawa
saja bisa membuat kita panas-dingin Mo. Apalagi jika ditambah dengan
busana minim, gerekan-gerakan erotis dan.. ehm.. tahu sendiri lah. Tapi
bukan berarti kita ini mahluk berotak ngeres Mo, hormon kita masih
normal, masih mudah mengalami 'over produksi' hanya dengan sedikit
pemicu. Bukannya ngeres, ingat itu"
"Satu lagi Mo, ada hadits yang menyebutkan bahwa tanda-tanda hari akhir
itu adalah munculnya kaum yang berpakaian namun sebenarnya mereka
telanjang, dan akan ada saat dimana perzinahan merajalela dan dianggap
biasa. Mungkin hanya di kota besar saja perzinahan sudah tidak tabu
lagi, bahkan mungkin di legalkan, dan di kota ini masih jarang. Tapi
masalah pakaian itu lho, saya yakin suatu saat nanti akan tiba masanya
dimana banyak ibu-ibu gembrot berbelanja ke pasar dengan hanya
menggunakan pakaian renang atau bikini dan masih tetap dianggap sebagai
hal biasa dan wajar".
"Tunggu saja, Kalau nanti kita sudah
dilanda kehancuran akhlak, dimana
acara televisi di negeri ini sudah dipenuhi dengan tayangan semacam
Akademi Sex Indonesia, Konser Sex Indonesia, atau bahkan Sex Idol,
namun masih banyak juga kalangan yang meneriakan slogan "Ini bukan
pornografi, ini adalah seni" sambil mengusung label demokrasi dan
libelarisasi, saat itu pula kita harus pergi menyepi Mo, kalau perlu
kita tinggal di puncak himalaya sekalian. Huh, menyebalkan"
Selanjutnya saya hanya bisa menanggapi kata-kata tersebut dengan
diam. Walaupun terkadang Tarmo suka bicara ngawur namun untuk kali ini
saya tahu bahwa apa yang dia katakan benar-benar berasal dari hati
kecilnya yang paling dalam. Sudah belasan tahun kami berjalan
beriringan, berbagi suka dan duka, jadi tidak sulit bagi saya untuk
melihat apa yang terpancar dari matanya. Ya, saya bisa melihat betapa
trenyuh jiwanya saat menanggapi masalah ini. Rasa trenyuh yang sama
seperti yang saya rasakan.
Regards, Togie
banyak orang yg bilang begitu, juga dikatakan "porno atau enggak tergantung dari yg ngeliat" gue pernah menjadi bagian dari dunia seni terutama panggung dangdut. salahkah kaum laki2 yg jadi berotak ngeres kalo didepan matanya ada penyanyi menggoyang2kan bokong turun naik, muter2 bokong maju mundur secara erotis ? jadi tergantung yg melihat, apa tergantung yg beraksi ? sudah saatnya memang goyang dangdut dibenahi.
BalasHapustogie...
BalasHapusIni fiksi or nonfiksi?
itu pengalaman pribadi saya & tarmo
BalasHapustapi ada fiksi-fiksinya juga sih
sebagai bumbu
Setuju
BalasHapusboleh, bagi bagi ceritanya gak ... ?
BalasHapusIya mbak...
BalasHapusMari berbagi cerita
sorry nih telat ngeliatnya, skg emang udah jarang buka2 MP. Btw, bagian yg mana yg perlu diceritain ? goyangan, dangdutannya, pasukan joged, penyanyi, pengiring, MC, lokasi atau apa ?
BalasHapusSemuanyaaa.....
BalasHapus