“Gie katakan kau mencintaiku”
“Maaf, aku tidak bisa”
“Kenapa?”
Karena aku tidak yakin bahwa aku benar-benar mencintaimu”
“Jadi, kamu sama sekali tidak mencintaiku”
“Hm, belum tentu’
“Lho, kok begitu..?”
“Begini, sebenarnya aku memang menyukaimu. Tapi aku tidak tahu apakah itu sekedar perasaan suka, atau benar-benar cinta.”
“Tapi aku mencintaimu gie”
“Oh ya..? Tahu darimana?”
“Karena perasaanku kepadamu berbeda dengan perasaanku terhadap laki-laki lain”
“Memangnya apa yang kau rasakan..?”
“Entahlah”
“Lho..?”
“Aku juga tak tahu. Sudah berulang kali ku coba menuliskan rasa ini, tapi kata-kata yang kususun jadi seperti buih saja. Tak mampu mewakili perasaanku””
“Ya sudah, tidak apa-apa. Coba kau jelaskan padaku”
“Biarpun tidak mewakili seratus persen gie..?”
“Yup”
“Baiklah. Bila bertemu denganmu, hatiku serasa terbang ke angkasa, begitu ringan. Hatiku serasa pelangi, dibelai lembutnya awan. Hatiku serasa laut, yang tenang, memercikkan ombak. Hatiku serasa gunung, anggun, kokoh, tak tergoyahkan. Hatiku serasa kanvas putih, lalu kau beri lukisan penuh warna-warni. Bersamamu aku merasa damai. Beban yang menggelayuti pikiranku terasa lepas sehingga masalah seberat apapun tak lagi menghantui. Bersamamu, rasanya aku bisa terus maju menghadapi kerasnya hidup ini.”
“Oh.., kalau begitu berarti aku juga mencintaimu. Sebab aku juga memiliki perasaan yang sama”
“Benarkah...? Lalu sekarang bagaimana..?”
“Maksud kamu..?”
“Gie.., apa kamu tak ingin punya pacar..?”
“Kalau punya wanita yang dicintai, aku ingin. Kalau punya istri, aku ingin. Tapi kalau pacar.., rasanya tidak”
“Kenapa..?”
“Ya.., males aja”
“Kok males..?”
“Duh, jadi wanita kok banyak nanya sih..? Begini ya. Aku ingin bebas. Untuk kuliah, bersantai, nongkrong, kerja sambilan, ngaji dikit-dikit, latihan berantem, dan lainnya. Sedangkan kalau punya pacar, rasanya keinginanku tersebut sulit untuk dinikmati. Aku harus membagi waktu untuk berdua denganmu, harus mengantar dan menjemputmu, harus main ke tempatmu, harus ini, harus itu. Lama-lama waktu yang kusediakan untukmu lebih banyak daripada yang kusediakan untukku sendiri.”
“Ah tidak juga.”
“Lho siapa bilang..? Memang secara fisik, kita jarang bertemu tapi secara psikis kita akan berjumpa rata-rata dua puluh delapan jam sehari. Kita bertemu saat sedang makan, saat kuliah, saat nonton TV, saat bekerja, saat tidur, bahkan saat sedang mandi. Ya, aku akan selalu melihatmu sedang enak-enak nongkrong di otakku. Kau takkan mau pergi dari situ. Lalu, berapa waktu yang tersisa untuk memikirkan diriku sendiri..? Sangat sedikit.”
“Lho, bukankah kalau punya istri kaupun akan mengalami hal yang sama..?”
“Nah, begini ya. Kalau sebagian besar waktuku tersita untuk mengurus keluarga sih tidak apa-apa. Aku rela-rela saja. Toh memang sudah jadi kewajiban suami untuk membahagiakan anak istrinya. Dan suami mana yang tidak tersenyum puas saat bisa melihat istrinya bahagia..? Kalau ada tolong tunjukkan padaku, biar aku interogasi dia. Dan kau tahu tidak, kalau kita bisa membina rumah tangga yang bahagia, kita dapat pahala. Kalau kita menikah, Allah berjanji untuk mencukupi rejeki kita. Nah, kita bisa dua kali untung
“Jadi kau tak mau jadi pacarku..?”
“Ogah”
“OK Gie, kalau memang kau tak mau waktumu tersita, aku rela tidak ditemui selama belasan hari. Kalau memang kau tidak mau bayanganku terus menghantui, aku rela kau usir dari otakmu. Asal aku bisa jadi pacarmu Gie, aku ingin merasa bahwa kau benar-benar mencintaiku.”
“Duh gimana ya..? sebenarnya aku tidak enak untuk mengatakan ini, tapi apa boleh buat. Jujur saja, sebenarnya bukan itu yang jadi alasan utamaku. Kau tahu
“Lho, kamu menghinaku Gie..? Kau pikir aku ini begitu rendah sehingga mau kau apa-apakan..?”
“Tidak. Aku yakin kamu bisa menjaga diri. Tapi yang namanya iman ada pasang surutnya. Mungkin kalau iman kita sedang tinggi-tingginya, kita akan terbentengi dari perbuatan tidak baik. Tapi bagaimana kalau iman kita sedang turun padahal saat itu kita berdua punya kesempatan untuk berbuat macam-macam..? Apa kita bisa memastikan bahwa kita mampu menahan diri..? Apalagi si syetan, mahluk jahanam yang selalu menguntit kita itu, pasti tak akan melewatkan kesempatan yang terbentang di depan mata. Kalau momen itu bisa dia manfaatkan dengan baik, benteng yang kita bangun bisa jebol. Kita manusia biasa, bukan nabi, bukan wali. Sudah seharusnya kita meminimalkan resiko.”
“Jadi..?”
“Ya itu tadi. Maaf. Aku sudah memutuskan, aku sudah membuat komitmen. Aku tidak ingin melanggarnya. Demi kebaikanmu, demi kebaikan kita.”
Alarm pun berdentang, sudah pukul
Sialan, makin hari mimpiku kok makin aneh saja...!!!
Purwokerto, januari 06
Fiksi, asli deh cuma fiksi
XDXDXDXDXDXDXD....pengen cepet nikah kaleee...
BalasHapustapi keren ih, mimpi aja kuat =P
hahahaha...hahahahaha....itu...hahahhhaa....teh tiwiw >:D< ketemu lagiiii??? heheheh....om togie...napa gak di nikahin aja tuh orang??
BalasHapus??????
BalasHapus??????
*GakMudheng.Com
Susah mbak.., soalnya saya belum nikah
BalasHapusMasak orang yang belum nikah menikahkan orang yang belum nikah juga..
Rasanya gimanaaaa gitu..
:P
gimana? gimana? uwennaaaakkkkk ...hahahhaha
BalasHapusjadi, pacaran itu setelah nikah ya Gie? ;;)
BalasHapushahahahahaha......!! ...makin edan.....
BalasHapuswhoalaaah ruwet amat siy mimpinya..:D
BalasHapusampe basah gak mimpinya??? hehehe
BalasHapusOoOoOo..., Gitu ya...? Terus gimana..? Terus gimana..? Cerita dong...
BalasHapus*Penasaran
- Yups.., menurut saya mungkin sebaiknya seperti itu
BalasHapus+ Lho.., nggak bisa gitu gie. Soalnya kan begini, begitu dan ber anu-anu
- Makanya saya bilang "MENURUT SAYA" seperti itu. Kalau pendapat anda beda ya gak papa.
+ Ooo, ternyata selain ganteng, kamu juga bijaksana ya Gie..
- Yups.., seperti itulah.
Lha.., apa iya sih mbak..?
BalasHapusBukannya makin bijak..?
Saya sendiri saja bingung mbak.., pinginnya sih mimpi yang biasa saja. Jangan yang terlalu rumit, seperti rumus-rumus pada mata kuliah elektronika.
BalasHapusSaya sendiri saja bingung mbak.., pinginnya sih mimpi yang biasa saja. Jangan yang terlalu rumit, seperti rumus-rumus pada mata kuliah elektronika.
BalasHapusBoro-boro mbak..
BalasHapusLha wong mimpinya saja penuh muatan filosofis, akademis dan metalurgis seperti itu kok
penuh pelajaran.... tanpa kesan menggurui
BalasHapussering-sering aja deh mimpi seperti ini ^_^
oalah...
BalasHapusternyata mimpi toh...:DD
hidupp togie
BalasHapusTapi mungkin jangan terlalu sering mbak
BalasHapusDulu pernah mimpi main ket4 anak MP di banyumas naik truk diatas rel kereta api
Trs mimpi mbak amarilis, mas nikhsan sama bang droppingzone dimakan hiu
Trs mimpi di omelin ibu2 MP
Masa mau ditambah lagi...?
eh, mas droppingzone dimakan tikus pemakan manusia ding
Kalo beneran, daku mana berani ngomong seperti itu mbak
BalasHapusDah keburu grogi duluan
DagDigDug... DagDigDug... gitu
Horee.., Togie Is The Best...!!!
BalasHapusIt's Simply Me, Simply Gie, Simply Togie
*Maap, numpang tiru-tiru
Subhanallah... Mimpi??? Mmm... Atau khayalan/renungan?
BalasHapusKok bisa mimpi sepanjang itu, ya? Biasanya aku kalo mimpi cuman sepotong-sepotong dan bahasa yang dalam mimpiku pun singkat-singkat... Jadi iri, nih... pingin mimpi yang panjaaang...
astaghfirullah...ckckckckckc... :D ***geleng2 kepala mode on***
BalasHapusAda satu perbedaan mencolok antara mimpi dan khayalan
BalasHapusMimpi adalah khayalan saat kita tidur, sedangkan khayalan terjadi saat kita terbangun
Tapi keduanya bermuara pada satu hal yang sama
Pada apa yang ada di alam bawah sadar kita
Btw, kalau ga terbiasa bermimpi yang panjang-panjang nanti jadi bingung
Jadi saat bangun harus langsung diingat-ingat atau dicatat
soalnya beberapa menit setelah terbangun, sebagian besar mimpi tersebut akan kita lupakan
Entahlah...
BalasHapusTerkadang kita belum bisa menerima kenyataan yang diketahui dengan begitu mendadak
Dan butuh hati yang lapang, jiwa yang besar, dan kemauan yang keras agar kita bisa bersikap objektif dalam mengapresiasi fakta yang ada di depan mata
*Jangan terlalu dipikirkan, daku sendiri gak mudeng kok tentang apa yang daku katakan
hahaha...saya juga ga mudheng kamu ngomong apaan, Gie ^_*
BalasHapustapi menurut saya, bersikap objektif itu bisa didasari fakta yang memang sudah diuji dan diakui kebenarannya, dan bisa juga fakta yang sedang diteliti melalui kajian ilmiah dan basis literatur
Peace Gie! :)
Nah, sayangnya saya baru memenuhi kriteria ini mbak
BalasHapusKalo cara yang satu lagi katanya terlalu ribet. Menghabiskan biaya yang begitu besar. Bahkan konon, terlalu besar hingga dapat digunakan untuk melunasi hutang luar negeri
*Bahkan untuk mengungkap fakta pun, kita harus melalui jurang yang begitu terjal
Hiks
kekekekek...basis literatur mah ga mahal atuh Gie, kamu cukup googling aja dr internet ato kalo perpus di kampus kamu langganan Jurnal Online, gampang bgt dapetin literatur yg kamu mau hehehehehe....instead of kamu melakukan empirical study, makan biaya buat survey :P
BalasHapus***sorry nih, Jaka Sembung lagi ON***
ya ampun... indahan dikit kek mimpinya...
BalasHapusBTW Gie, seNdu kemana ya? apa rumahnye kebanjiran?
Nah itulah...
BalasHapusMimpi terhadi saat kita tidur/tidak sadar.
Khayalan terjadi saat kita bangun/sadar.
Biar terbiasa mimpi yang panjang, harus dilatih, ya?
Gimana melatihnya, ya??? --> sambil garuk-garuk kepala juga...
hehehe... just kidding... Ok, "Selamat Bermimpi Lagi, Togie.."
Nah itulah...
BalasHapusMimpi terjadi saat kita tidur/tidak sadar.
Khayalan terjadi saat kita bangun/sadar.
Biar terbiasa mimpi yang panjang, harus dilatih, ya?
Gimana melatihnya, ya??? --> sambil garuk-garuk kepala juga...
hehehe... just kidding... Ok, "Selamat Bermimpi Lagi, Togie.."
Hm, yup. Patut dicoba
BalasHapusSemoga saja ada profesor yang melakukan studi analisis kegantengan kaum adam ditinjau dari segi fisik dan non fisik dengan sample random dan tingkat ketelitian tinggi.
Mari kita cari sama-sama
Entahlah mbak.., kata indah tempat dia gak kebanjiran kok, bahkan masih bisa ke kampus. Tapi knp sendu belum muncul ya..?
BalasHapusApa dia sudah wisuda, dan sekarang sudah pulang ke kampung halaman..?
Sebenarnya tidak perlu dilatih mbak, asal pas tidur lagi banyak beban atau pikiran, biasanya terbawa mimpi, dan mimpinya lama plus membingungkan.
BalasHapusTapi kalo teknik untuk merencanakan mimpi, bisa dipelajari di buku ttg astral travel yang berjudul.., duh apa ya...? (pengarang dan penerbitnya lupa, soalnya nama orang bule susah diinget)
aku disiniiiiiiiiiii.......................!!!
BalasHapusternyata banyak yang merindukan aku...
*_*
halah
memang tempat aku gak kebanjiran, cuma mati lampu...
untuuuungggg ....aku gak dimimpiin sama kamu. slamet...slamet...slamet....slamet...
BalasHapus*Lalu bersujud syukur kepadaNya, karena selamat dari bencana*
ternyata togie bisa bikin bencana juga ya?
BalasHapusYaaa......, iya juga sih
BalasHapusWalau tidak sebesar rasa rindumu padaku
*_*
Gak papa lah ndu, toh dikau sudah sering mimpiin daku
BalasHapusjadi kalau daku mimpiin dikau juga, nanti mimpinya bentrok, crash, dan nge-hang
padahal terkadang, bermimpi adalah tempat pelarian yang paling baik untuk melepaskan diri sejenak, dari kerasnya hidup ini
yaa, sekali-kali bikin variasi kan gpp pin
BalasHapusMasa bikin bahagia terus
lama-lama kan bosen
Gie...sory lama gak nengokin kamu....pa khabar gie....
BalasHapusBaik mbak..,
BalasHapusIya sih, sebenernya kangen juga
Ngomong-ngomong, apa kabar mbak..?
Sedang sibuk apa?