Kamis, 09 Agustus 2007

Catur dan Peluang

Tiga puluh dua biji catur diatas petak-petak berwarna hitam putih terpampang di depanku. Deretan pion berdiri susul menyusul, tak bisa ditembus lawan. Kalaupun dia mau mengorbankan pionnya untuk membuka jalan, petak bagian belakang akan terbuka, dan menteri yang kuletakkan di depan sudah siap mengancam raja. Didukung oleh benteng dan gajah yang akan bergerak bebas. Kulihat keringat dingin membasahi dahi, dia tampak bingung memikirkan langkah yang harus diambil. Aku duduk dengan tenang, kemenanganku sudah bisa dipastikan. Namun, tak terlihat sorot putus asa di matanya, dia tetap berusaha melawan. Ck, usaha yang tampaknya sia-sia saja.

Amat jarang kutemukan lawan yang bersemangat seperti dia. Lawanku sebelumnya pasti sudah panik dan tak bisa berpikir jernih. Disusul oleh langkah-langkah konyol yang hanya mendekatkan mereka pada kekalahan. Dan biasanya, tak kubiarkan mereka kalah dengan mudah. Terlebih dahulu, akan kugerogoti menteri, gajah, kuda dan benteng yang mereka punya. Setelah itu, barulah aku incar rajanya. Haha, kekalahan yang menyedihkan. Aku tahu betapa tersiksanya kalau harus melihat biji catur andalan kita terambil satu-persatu. Akan lebih baik bila kita langsung di skak-mat. Namun, aku tak mau memberikan kekalahan senyaman itu. Aku ingin melihat lawanku putus asa terlebih dulu. Begitu pula lawanku kali ini. Akan kugerogoti biji catur miliknya. Bukankah dia sudah tak bisa menyerangku..?

Sebagian pemain catur terlalu mengandalkan menteri. Mereka akan melakukan apapun untuk menyelamatkan menterinya, dan lupa bahwa yang paling harus dijaga dalam permainan catur adalah sang raja. Ironis memang. Menteri adalah senjata yang amat ampuh, bisa digunakan untuk menyerang atau bertahan. Namun sayangnya, hal itu menyebabkan para pemain terlalu menyayangi sang menteri. Mereka tak berdaya bila menterinya bisa kita ambil. Lalu menganggap bahwa biji catur lainnya amat tak berguna. Dengan kata lain, walaupun masih melakukan perlawanan, sebenarnya mereka sudah menyerah. Sudah optimis untuk kalah. Dan, sebentar lagi menteri miliknya akan kukirim ke alam baka. Hahaha

Terlepas dari permainan catur, banyak dari kita yang terlalu bergantung pada "senjata andalan" kita. Kita menggantungkan diri pada harta, pada jabatan, pada kepintaran, pada teman dan yang lainnya. Sering kita lihat, betapa mereka yang sebelumnya hidup nyaman dibawah buaian harta, menjadi frustasi tatkala jatuh miskin. Dilanjutkan dengan sederet keputus-asaan. Banyak pula pasangan yang depresi jika putus cinta, lalu bunuh diri. Mereka lupa, bahwa cinta dan harta yang mereka miliki sebenarnya hanya merupakan alat untuk mencapai kebahagiaan. Baik di dunia maupun di alam selanjutnya. Kebahagiaanlah yang seharusnya menjadi raja yang terus dimiliki, bukan harta atau pasangan.

Keringat dingin di dahi lawanku sudah menetes, beberapa langkah lagi aku pasti menang. Biji catur miliknya menjadi tak berguna. Namun dia masih berusaha menempatkan mereka di petak yang dianggap paling stategis. Tak tampak adanya rasa putus asa.

Banyak pula manusia yang tidak menyerah sampai akhir. Seperti lawan saya itu. Kalah-tidak nya permainan catur, ditentukan jika raja kita terambil oleh lawan. Kalah-tidaknya perjuangan dalam menapaki hidup, ditentukan oleh terambilnya nyawa dari tubuh kita. Sebelum hal itu ditemui, berarti kita masih harus berjuang, melakukan apapun yang bisa kita lakukan, dengan pikiran jernih, dengan sebaik mungkin.

Akhirnya, aku kena skak-mat. Deretan pion yang kugunakan sebagai pertahanan ternyata bisa dijebol. Menteriku terjebak di petak milik lawan. Kedua benteng punyaku sudah diambil. Gajahku tinggal satu. Dan kuda milikku tinggal menunggu waktu sebelum dihabisi pion lawan. Itulah keajaiban sebuah perjuangan. Jika kita menghadapi jalan buntu, dan kita sudah tidak bisa berbalik lagi, bukan berarti kita harus berhenti berusaha. Kita harus terus mencari peluang. Kalau tidak ada, berarti kita harus membuatnya. Kalau tetap tidak bisa, kita harus menunggu peluang itu dimunculkan oleh Tuhan. Dengan prinsip itulah lawanku bisa menang. Saat dia sudah menemui jalan buntu, dia berusaha mencari jalan. Saat jalan tak ditemui, dia berusaha membuatnya. Saat itupun tak berhasil, dia menunggu sambil terus berusaha. Hingga peluang itupun muncul, saat aku melakukan sebuah langkah konyol yang berakibat fatal.

 

Purwokerto, Togie de lonelie

kalah dua kali, remis 0 kali, tidak menang sekalipun.

18 komentar:

  1. catur adalah olah raga paling berat karena bisa memindahkan benteng

    BalasHapus
  2. haha, juga olah raga paling rakus karena bisa memakan gajah dan kuda

    *error

    BalasHapus
  3. hehe kalo aku ga bisa maen catur...

    BalasHapus
  4. Kalo daku baru belajar mbak (tapi sudah sering menang, sebab jenius)
    Juga sering kalah (sebab jeniusnya gak selalu kambuh)
    Kecuali kalo lawan komputer (NatWarlal)
    Daku gak pernah bertahan lebih dari lima menit

    BalasHapus
  5. hehehe.. jadi jeniusnya itu sejenis penyakit gitu ya Gie???

    BalasHapus
  6. yo'i
    makanya kalo terkadang kasih reply yg ngalor ngidul gak karuan
    harap dimaklumi mbak
    itu berarti kejeniusan daku lagi dihantam antibodi
    gak bisa kambuh

    BalasHapus
  7. oalah gitu to... hehehe... satu lagi manusia aneh di dunia...

    BalasHapus
  8. ^_^

    btw, "ketukan dinihari" nya dah jadi
    tapi daku gak punya flashdisk, jd blm bisa di posting
    kasihan ya..

    gak flashdisk gak punya
    hp pun gak ada

    BalasHapus
  9. tabahkanlah hatimu, anak muda... !!!
    FD ga ada bisa nyari pinjeman.... hehehe

    BalasHapus
  10. Hahaha, tapi santai saja mbak
    daku baru beli flasdisk yg 1 GB
    itu pun masih ada sisa duit 10rb
    hahaha
    senangnya
    hahaha

    BalasHapus
  11. wah selamat punya FD baru... !!! dijaga baik2 Gie.... ben ga raib

    BalasHapus
  12. terimakasih banyak mbak
    pasti daku jaga baik-baik
    btw, sayang tuh flashdisk gak ada cantelannya
    jadi gak bisa ditaroh dompet

    BalasHapus
  13. dibeliin kan ada Gie.. 3000 dapet

    BalasHapus
  14. nah, itu dia masalahnya mbak
    di flashdisk itu gak ada t4 buat naruh cantelan
    nah, ribet kan..?
    kan nanti bisa jatoh
    hiks

    BalasHapus
  15. ^_^, takut jatoh mbak
    Mbok ilang lagi

    BalasHapus
  16. kalo takut mah ga usah dipake... nha lo... trs buat apa dibeli kalo ga dipake?? ya dijaga baek2 lah Gie... moga ttp awet ditangamu.. ga pindah jdi rejekinya orang... hehe...

    BalasHapus
  17. Hahaha, iya juga sih..
    thanks ya mbak

    ^_^

    BalasHapus