Sabtu, 06 Oktober 2007

Ayo Memperbaiki Mushalla.., Hahaha


 

 

Hari ini saya sangat bahagia. Bukan karena ada duit tujuh puluh empat ribu perak di kantong saya. Tapi karena tadi, di warung sebelah, saya ketemu dengan dua orang teman. Yang satu hobi mabuk, yang satunya doyan berzina.

 

Lho kok senang..?

 

Iya. Karena katanya, mereka barusan pergi ke mushalla, pingin ikut tarawih. Walaupun sayang, sesampainya disana, mushalla sudah penuh. Mereka gak kebagian tempat. Akhirnya, dengan putus asa mereka kembali pulang, membenamkan diri di gelapnya hutan bambu.

 

Saya jadi teringat peristiwa beberapa hari yang lalu, saat saya berdiskusi panjang lebar dengan pak ustadz, temennya pak ustadz, juga Tarmo. Saat itu, saya mengeluhkan kapasitas mushalla yang sudah tidak bisa lagi menampung para jamaah. Dimana akhirnya banyak yang harus shalat di emper mushalla, bahkan menggelar tabag1 bambu disamping sumur. Melihat kondisi tersebut, saya mengusulkan agar mushalla itu dirombak saja, di perluas.

 

Mulanya, pendapat saya didukung penuh oleh pak ustadz. Atap mushalla RT sebelah memang sudah saatnya dirombak. Banyak kayu yang sudah lapuk dimakan usia, genteng pun sudah pada bocor, gak kuat menadah air hujan. Namun masalahnya, duit yang tersedia hanya cukup untuk merehabilitasi atap

 

Terus terang saja, urusan atap, paling-paling cuma membutuhkan duit 6 juta. Duit kas diperkirakan ada 1,3 juta. Dan kekurangannya, bisa ditutup oleh infaq bulan ramadhan serta sumbangan warga. Kalau mushalla itu harus diperluas juga, diperkirakan biaya totalnya membengkak jadi 48 juta rupiah (plus lantai keramik). Nah, darimana kami mendapat duit sebanyak itu..?

 

Akhirnya, daku harus berusaha mati-matian untuk meyakinkan sang ustadz bahwa dana bukanlah masalah. Nanti, mushallanya kami bangun bertahap saja. Pertama, kami cukup membangun pondasinya dulu, tiga meter dari dinding selatan mushalla. Kalau ada duit lagi, tinggal pasang pondasi sebelah utara. Setelah itu, kami bergotong-royong membuat batu bata (kira-kira 3000 buah), nanti bikinnya di pabrik batu bata milik salah seorang warga, biar gratis. Nah, selanjutnya batu bata tersebut kami pakai untuk mendirikan dinding luar. Kalau sudah jadi, baru atapnya kami rombak. Lalu, terakhir, tinggal mengurus lantai keramik. Insya Allah, dalam satu tahun mushalla sudah selesai diperluas dan bisa digunakan untuk menampung luapan jamaah.

 

Tapi sayangnya, setelah kami hitung-hitung lagi, duit yang ada masih kurang. Selepas ramadhan, kami tak bisa lagi mengandalkan infaq para jamaah sebab uang tersebut biasanya habis untuk membayar listrik. Ditambah lagi dengan resiko bahwa andai sampai ramadhan tahun depan mushalla belum rampung kami perbaiki, kami harus shalat tarawih dimana..?

 

Akhirnya kami kembali ke realita. Melihat kondisi keuangan saat ini, kami tak sanggup memperluas mushalla. Kami hanya bisa memperbaiki atap saja. Dengan resiko tahun depan akan ada jamaah yang terlantar lagi, termasuk kedua teman yang saya sebutkan tadi. Padahal, kalau atap sudah diperbaiki, kami tidak bisa memperluas mushalla, sebab nanti atapnya harus diganti, dirombak. Solusinya, mending nanti kami bikin serambi saja, di kanan dan kiri mushalla. Tapi kendalanya, mushalla kami ada di hutan bambu. Kalau ada angin kencang, nanti banyak lugut2 yang berserakan di serambi, bikin gatal.

 

Pernah terpikir ide cemerlang di otak ini, meminta bantuan pada rekan-rekan di multiply. Tapi pak ustadz tidak setuju. Kata beliau, mbok malah merepotkan para MPer's. Ide untuk menggunakan bambu yang ditebang di kebun warga pun mental begitu saja. Bambu di kebun kami mudah lapuk. Gak tahan lama. Jadi kami harus membeli bambu dari daerah lain. Dan lagi-lagi, itu butuh biaya. Yang gratis paling-paling cuma glugu.

 

Satu-satunya ide yang rada bisa diterima adalah ketika tarmo berkata bahwa tahun depan dia sudah berangkat ke korea. Disana, dia akan meminta teman-temannya membantu biaya pembangunan masjid. Sayang, ide ini pun belum pasti lancar. Sebab sebagai calon TKI, tidak bisa diperkirakan kapan dia akan dikirim ke korea. Itu tergantung pada keberuntungan yang dia punya. Bisa tahun depan, tahun depannya lagi, lagi, lagi, gak tentu.

 

Untungnya saya hobi menghasut. Saya berhasil memanas-manasi bapak agar bersedia menggambar dan merinci biaya perbaikan mushalla. Beliau saya hasut agar membuat rancangan yang minim biaya. Beliau kerja di proyek, biasa membangun ruko. Dalam ruko, ada biaya tenaga kerja, juga ada biaya kerja kerasnya bapak, agar kami sekeluarga bisa makan. Nah, berhubung ini adalah proyek amal dimana tenaga kerjanya banyak yang gratisan (kecuali kuli) dan bapak tidak boleh mengambil untung, mungkin biayanya bisa ditekan. Alhamdulillah beliau setuju.

 

Entahlah. Padahal saya cuma ingin memperluas mushalla agar muat menampung jamaah. Saya ingin memperluas mushalla agar orang-orang seperti kedua teman saya itu bisa ikut shalat tarawih. Memang, saya jago ngakal-ngakali duit biar irit. Tapi kalo duitnya sampai jutaan seperti itu..?? Ah, semoga bisa.., semoga

 

 

1Anyaman bambu yang digunakan sebagai dinding

2Bulu-bulu halus yang terdapat di pelepah pohon bambu

Keterangan lebih lengkap ada disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar