Jumat, 07 Maret 2008

Antara aku, kau, kenthong, dan maling


“Gie, aku pulang dulu”

“Ya, hati-hati”

Ah, Tarmo. Lagi-lagi, kali ini, aku bisa nonton kentong dengan aman berkat dia. Tadi, beberapa pemabuk memalak para penonton, bergiliran, satu persatu. Mirip kondektur  meminta karcis pada penumpang kereta api. Untunglah, ketika tiba giliranku, mereka melihat tatap sangarnya Tarmo dulu. Untungnya pula, entah karena takut atau apa, mereka tersenyum aneh pada kami, melewati kami, lalu kembali meminta uang pada orang yang duduk disebelah kami. Alhamdulillah, uangku utuh. Hingga akhirnya, setelah mengantar tarmo sampai pertigaan, uang itu bisa kugunakan untuk ke warnet.

“Gie..”
Beberapa hari kemudian, di hutan bambu, Tarmo bercerita

“Kemaren, dari pertigaan, aku langsung pulang kerumah. Saat itu gelap, ada hujan rintik-rintik.”
 
Ah, prolog yang puitis. Bila ada prolog seperti ini, pasti dia akan bercerita tentang hal yang tidak biasa.

“Anehnya warung sayur punyaku juga ikut gelap. Padahal setiap malam lampunya pasti kunyalakan. Kamu kan tahu sendiri, kalau aku mengetuk pintu rumah jam segitu, ibuku bisa marah. Makanya aku lebih suka tidur di warung, sekalian nungguin sayur atau ikan asin.”

Yup, benar dugaanku. Ceritanya tidak biasa

“Tapi biarpun gelap, samar-samar aku bisa melihat ada tiga orang di depan warung. Yang satu berjaga-jaga sambil tengok kiri-kanan, yang dua lagi sedang mencongkel pintu. Aku yakin bahwa mereka maling. Mereka mematikan lampu agar bisa beraksi dalam gelap.”

Tuh.., tidak biasa kan..?

“Aku takut Gie. Aku gak bawa senjata apa-apa. Tapi aku memberanikan diri. Kudekati mereka, selangkah demi selangkah, makin lama makin dekat hingga bisa kulihat mereka dengan lebih jelas. Mereka pun bisa melihatku. Mereka kaget Gie. Makanya mereka langsung aku bentak : Hei, lagi apa ya..?”

Wah, keberanian yang patut dipuji

“Sayangnya, mereka hanya kaget sebentar. Sesaat setelah itu, orang yang tadi berjaga langsung mengeluarkan golok. Goloknya bisa kulihat jelas Gie, sebab jarak antara kami hanya beberapa meter. Dua orang sisanya ikut mengeluarkan golok. Aku takut. Bulu kudukku merinding. Aku berani berkelahi tangan kosong, dengan siapapun, dengan musuh sebanyak apapun. Tapi lain halnya kalau melawan orang bersenjata. Resikonya fatal”

Lho.., kok..?

“Saking takutnya, aku tak bisa lagi berpikir. Aku tak tahu harus berbuat apa. Sedangkan tampaknya mereka sudah nekat, kepalang tanggung, tak ingin ada saksi. Mereka mengejarku sambil mengacung-acungkan golok. Aku langsung lari. Aku gak ingat kalau saat itu aku bisa berteriak minta tolong. Aku tak ingat apa-apa. Yang ada dikepalaku cuma satu hal : Lari secepatnya, mbok mati dibacok”

Lalu..?

“Seharusnya aku lari ke pos ronda sebab disana pasti banyak orang, disana aku bisa minta tolong. Tapi aku sedang tidak bisa berpikir. Aku tak tahu sedang lari kemana. Pokoknya, aku lari secepat-cepatnya, tak mempedulikan arah. Aku tak sempat menengok kebelakang. Tahu-tahu, aku sudah sampai di depan rumahmu, dan mereka tidak lagi mengejarku.”

Terus..?

“Aku gak berani pulang Gie. Sampai pagi.”

“Bentar Mo.., tunggu sebentar”
Akhirnya aku angkat bicara

“Kenapa larinya kerumahku..? Kenapa gak ketempat lain..? Lagipula aku udah bilang mau pergi kewarnet, jadi aku jelas gak ada dirumah. Kalau toh ada, memangnya aku bisa apa..? Kalau sempet berteriak sih aku bisa membantu kamu teriakan kamu. Tapi coba pikir, gimana kalo seandainya sebelum berteriak mereka sudah main bacok duluan..? Apa gak repot..? Apa kamu mau ngajak aku mati bareng..? Gitu Mo..?”

Aneh, pikirku. Tapi kemudian aku berpikir lebih jauh lagi
“Kalau jarak kalian hanya beberapa meter, kalau kamu bisa melihat senjata mereka, berarti kamu bisa melihat wajah mereka juga. Kamu gak bilang kalau mereka pake topeng kan..? Mereka siapa Mo..? Anak mana..?”

Tarmo langsung diam. Tak mau memberitahuku. Yah, bisa aku maklumi. Tetangganya Tarmo juga ada yang pernah memergoki maling tapi malingnya bukannya takut, malah menghampiri si pemergok. Dia diancam akan dibunuh bila membocorkan identitas si maling. Dia pernah bercerita kepada kami. Dan ekspresi yang dia tunjukkan saat itu sama persis seperti ekspresinya Tarmo saat ini.

“Gie”

Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi berusaha untuk memendamnya. Aku tahu, bila ada orang yang Tarmo takuti, berarti orang itu memang pantas ditakuti, bukan orang biasa.

“Sudahlah Mo, sabar aja. Yang penting kamu selamat, tidak kenapa-napa”

Benar, tak apa. Aku tak ingin Tarmo membahayakan diri. Aku tak ingin kehilangan Tarmo. Seperti yang aku bilang, malingnya pasti bukan maling biasa. Di kampung ini, tak ada seorangpun yang Tarmo takuti. Berarti malingnya orang kampung mana..? Siapa yang bisa membuat Tarmo setakut itu..? Entahlah. Yang penting dia selamat. Sementara itu, cukup.


Pic : Togie & Tarmo

4 komentar:

  1. :-)) Gie, gw seneng baca tulisan2 kamu, bagus.

    BalasHapus
  2. togie....tulisannya dibukuin...bakal meledak kayak tetralogi laskar pelangi dehhh...

    *serius mode*

    BalasHapus
  3. Terimakasih mbak..

    *Biarpun akhir2 ini tulisan daku penuh dengan kemangkelan

    BalasHapus
  4. Sebenere daku juga lagi nulis buku mbak, tepatnya novel. Ikut club TEN
    Tapi setelah berbulan-bulan, bab satunya saja belum jadi. Baru satu lembar A4 kurang sedikit.

    Pingin ngajuin yg pernah ditulis di blog ini, tapi secara kualitas masih kurang. Temanya gak seragam. Bingung

    *Ada saran..?

    BalasHapus