Tumben. Malam minggu, warung sebelah yang biasanya dijejali berlusin jomblo tidak laku kali ini kedatangan tamu penting - seorang pria mesum yang baru saja mendapatkan pacar. Saya tidak tahu dia nemu pacar dimana tapi menurut analisa saya, mungkin dia menemukannya di dalam kandang. Sedang memakan rumput dan menyundul-nyundulkan tanduknya pada tiang kayu sambil mengembik : “Mbeeekk…!!!”
Kalau sebelumnya warung ini biasa diisi adegan mengenaskan (contoh : Upacara penyematan medali kehormatan kepada seorang jomblo yang berhasil mencapai prestasi tertinggi - ditolak cintanya untuk kesekian ribu kali maka saat tamu tersebut datang, adegan yang terjadi mirip seperti sandiwara Babad Tanah Leluhur. Penuh dengan petuah tiada nyambung yang bisa membuat kita geleng-geleng kepala.
“Hai.., dengar..!!” Dia memulai petuahnya
“Kalian ini laki-laki. Sudah dewasa, sudah waktunya berpacaran. Tapi kenapa kalian malah berkumpul di warung..? Kenapa gak ngapel ke rumah pacar masing-masing..? Apa kalian sebegitu tidak lakunya sehingga tak juga berhasil mendapat pacar..? Benar-benar tidak laku biarpun sudah diobral..?”
“Contohlah saya. Sempat ngapel dulu sebelum mampir kesini. Saya sudah berkali-kali berpacaran, berkali-kali putus. Tapi saya puas. Sebab mereka, mantan pacar saya itu, sudah pada tak renggut kehormatannya. Sebagai laki-laki, saya bangga karena bisa merenggut kehormatan banyak wanita”
“Hm, ternyata ada Togie juga toh..?” Akhirnya dia menyadari kehadiranku
“Kapan kamu punya pacar Gie..? Kapan mau mencari..? Jangan menyia-nyiakan barang berharga yang bergelantungan dibalik celana kamu. Dia pingin hiburan, pingin kesenangan. Percuma kamu disunat kalau yang disunat itu tidak pernah dipake. Mubazir”
“Ok.., ok..!! Gara-gara kamu saya harus berkata jujur. Sebenarnya saya hanya pernah merenggut kegadisan orang sebanyak satu kali. Sisanya sudah tidak gadis lagi. Sebab mereka adalah penghuni gang sadar sana, cuma tak jadikan pacar sementara, cuma beberapa menit. Tapi tak apa. Yang penting saya sudah pernah mereguk surganya dunia. Tak seperti kamu”
“Haha, Togiee.., Togie..!! Betapa mengenaskan nasib yang kau alami. Jadi, biar semangat, sini tak kasih tau”
Dia mendekatkan mulutnya ke telingaku. Membisikkan kata-kata yang membuatku mual :
“Kalau begituan pertamanya emang pegel. Tapi pegel-pegel enak. Nah, saat keluar rasanya rada linu, tapi juga enak. Jadi, biar enaknya maksimal, kamu harus bla.. bla.. bla… (sensored)”
Hh, begitulah ucap si mesum. Dia bukan tokoh di bulshitt of love, dia orang lain, jadi berani keterlaluan. Mungkin gara-gara dia belum kenal Tarmo. Mungkin gara-gara dia tinggal di kampung yang tidak ada Tarmonya. Tapi tak apa. Aku tak boleh terus bergantung pada Tarmo. Aku harus berani. Aku tak mau para jomblo menuruti kata-katanya.
Samar-samar bisa kuendus aroma alkohol dari mulutnya. Mungkin dia mabok. Orang mabok tak mempan dinasehati. Harus dihina, dicaci-maki, dikasar-kasari.
“Gini bung..!!” Ujarku sambil mencari tempat strategis biar mudah kalau nanti harus kabur
“Daku bukannya tidak bisa, tapi belum kepingin. Daku ini manusia. Dibatasi oleh aturan, etika dan tatakrama. Daku bukan hewan yang bisa bertindak semaunya, yang bisa membuang sperma dimana saja. Terus terang, daku gak begitu mengenal kamu. Gak tau apakah kamu benar-benar manusia atau kambing yang sedang memakai baju.”
“Daku gak mencari pacar, tapi calon istri. Yang namanya istri harus bisa diajak hidup bersama, melewati suka dan duka, tangis serta tawa. Daku belum menemukan wanita yang memenuhi syarat untuk itu. Dan kalau belum nemu, daku tidak perlu bingung. Yang jelas, lebih baik waktuku digunakan untuk hal yang lebih terhormat dibanding membuang-buang sperma.”
“Kalau memang daku pingin begituan, sebenernya gampang saja. Daku cukup pergi ke “gang sadar” lalu menikmati pelacur paling cantik disana. Soal biaya..? Tak usah kuatir. Asal berhenti merokok, daku bisa mengumpulkan banyak duit. Uang saku daku selama seminggu jauh lebih besar dibanding gaji kamu dalam sebulan. Jadi kalo dibanding-bandingkan, andai duit daku cukup buat menyewa pelacur berwajah jelita, mungkin duit kamu cuma cukup untuk nyewa kambing berjenis kelamin betina.”
“Sadarlah bung, jangan membuat daku geleng-geleng kepala. Jangan ada manusia yang sedemikian gobloknya memamerkan sesuatu yang kualitasnya jauh dibawah daku. Lagipula, kalo pamer harusnya ya mikir dulu. Apa hal itu patut dipamerkan..? apa merusak anak gadis orang lain bisa disebut sebagai sebuah prestasi..?”
“Jika seseorang merasa takjub ketika berhasil memperoleh sesuatu yang sedikit, itu berarti dia sama sekali belum pernah mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Dengan kata lain, sebenarnya kamu patut dikasihani. Sebab menurut daku, mungkin prestasi tertinggi yang berhasil kamu capai hanyalah merusak kegadisan orang. Tidak lebih.”
“Entahlah. Bila sedang berkaca didepan cermin, daku bisa melihat kharisma kedewasaan dibalik usia muda. Sedangkan bila melihat kamu..? Ah, mirip kambing bermuka manusia.”
Seketika, muncul setumpuk amarah di wajah pemuda kambing. Aku berpikir bahwa sekarang sudah saatnya untuk kabur, melarikan diri, masuk kedalam rumah lalu mengunci pintu. Tapi tampaknya itu tak perlu. Dia hanya marah tanpa berani melampiaskan kemarahannya. Dia hanya menatapku, ragu untuk berbuat macam-macam kepadaku.
Bukan, aku salah. Ternyata dia sedang menatap para jomblo yang sedang berdiri di belakangku. Mereka terlihat jauh lebih marah dibanding si pemuda. Aku tahu alasan dibalik rasa marah tersebut. Yaitu karena kredibilitas dan harga diri mereka sebagai seorang jomblo telah direndahkan dan dihina sehina-hinanya.
Yah, si kambing yang salah. Sejak dulu aku tak pernah memprotes kejombloan mereka. Aku selalu mendukung mereka, membuat mereka bisa menikmati hidup dalam kesendirian. Sembari menunggu waktu dimana Tuhan mempertemukan mereka dengan belahan jiwa masing-masing. Bukan malah menghina mereka, membuat mereka putus asa saat digelayuti pertanyaan : “Apakah kami memang sebegitu tidak lakunya..?”
Mungkin itulah sebabnya mereka berada di pihakku, membuatku berani biarpun tanpa kehadiran Tarmo. Ah, Tarmo. Dia sedang asyik menjajah negeri atas kasur, jarang keluar rumah.
tulisan kamu yg ini bener2 kocak.......... ditunggu lagi tulisan2 kamu. salam.
BalasHapus*_*
BalasHapuswahahha..baguus gie, orng kyk gt kudu dikasihpelajaran..go..goo
BalasHapusheuheu.. ini teh kisah nyata, Mas Togie? :)
BalasHapusngomong2 Tarmo tuh sapa ya... perasaan pernah denger di jurnal2 ente sebelumnya?
ini bagian yang paling lucu, love this part... tulisan bang togie emang selalu kocak
BalasHapuskalau aku pernah dibilang "jangan cuma buat kencing aja" hehehe...
Hehe..
BalasHapusBang, ada yg bilang bhw rukyah berasal dari nama salah seorang sahabat rasul. katanya, dulu ada yg sakit, rasulullah diminta menyembuhkan, lalu beliau minta tolong pada salah seorang sahabat yg bernama rukyah lalu didoakan lalu sembuh. sejak itulah istilah rukyah muncul.
katanya lagi, dia tahu riwayat ini dari perpusnya al azhar mesir, tulisannya arab gundul. konon dia alumnus al azhar.
anu, riwayat itu bener gak..?
Yaah, tapi kalo waktu itu dia ngamuk..
BalasHapusDaku gak yakin bisa kabur
Coz sebenernya, badan dia lebih gede dari Tarmo
Bahkan sejak jaman SD sampai SMP, gak ada yang berani macem2 dengan dia
SEREEM..!!!
Nyata bang..
BalasHapusTapi berhubung kejadiannya udah lama, jadi kata2 yang digunakan sebenernya dah gak sama persis seperti yang tertulis disini.
Anu, Tarmo tuh teman, sahabat, rival, sekaligus musuh daku sejak jaman SMP.
Yang selalu melindungi daku,
yang kalau turun hujan dia memberikan mantelnya pada daku sedangkan dia rela hujan-hujanan,
yang kalau nonton dangdut dia selalu berada disisi daku biar daku gak diganggu preman,
yang kalau lagi kerja bakti di mushalla dia rela mengangkat yang berat2 sedangkan yang ringan2 diserahkan pada daku,
yang rela daku omeli tanpa membalas satu kalipun,
yang selalu mentraktir daku tanpa pernah mau daku traktir
yang kalau diomelin guru dia bilang "baru dinasehati".
Disuruh push up oleh guru dibilangnya "sedang olahraga".
Dan gara2 gak punya duit buat jadi petani maka dia nekat jadi TKI ke korea agar duitnya bisa buat beli sawah.
Dan sepulangnya, saat daku bilang sawahnya kurang luas, dia mo pergi ke korea lagi, buat ngumpulin duit lagi, beli sawah lagi.
Yah, seperti itulah Tarmo
Yah, tapi biar bagaimapun, kencing lebih berkah daripada buang2 sperma seenaknya
BalasHapusTerimakasih banyak mbak
BalasHapusMohon doanya biar Tarmo sudi buat sering2 keluar rumah trus mau diajak nyari dana buat merenovasi mushalla
Biar mushallanya cepet jadi
iya, didoain Gie.
BalasHapussalam ya buat Tarmo......
thanks
BalasHapus^_^