Kamis, 12 Juni 2008

Cinta, cinta, cinta (bingung)


Sebagai seorang jomblo yang dikagumi banyak orang (kagum atas nasibnya yang entah kenapa terus saja menjomblo) tentu saya sering ditanya, diajak berdiskusi, bahkan diinterogasi banyak orang. Tema yang dibahas tidak jauh-jauh amat. Selalu berkutat diantara cinta dan pacar.

Mereka bertanya tentang cinta. Tentang apa yang sebenarnya disebut sebagai cinta dan yang harus dilakukan terhadap orang yang kita cinta.

Jujur saja, sebagai seorang jomblo (lebih sepesifik lagi, manusia yang dikutuk agar terus menjomblo), saya gak mudeng babar blas soal cinta. Jadi untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mengacu bukuTaman Orang-Orang Jatuh Cinta Dan Memendam Rindu” karangan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah. Kenapa harus mengacu kepada buku..? Sebab selain agar tidak ngawur saat berbicara tentang hal yang amat tidak saya pahami, mencontek perkataan buku juga bisa membuat diri saya terlihat lebih pintar. Satu hal yang konon didambakan oleh kaum hawa.

Begini. Ibnu Qayyim Al Jauzziyah mendefinisikan cinta sebagai… (berhubung definisinya dibagi menjadi limapuluh jenis lebih, mohon anda baca sendiri di buku beliau. Sebab kalau harus menuliskan semuanya, entah kenapa kok jadi malas).

Setelah mengetahui definisi cinta (atau anggap saja sudah tahu), maka selanjutnya kita harus memikirkan tentang apa yang sebaiknya dilakukan terhadap orang yang kita cinta.

Syaikh Ibnu Taimiyyah pernah berkata bahwa cinta terdiri dari tiga jenjang : Taraf permulaan, pertengahan, dan puncaknya.

Pada jenjang permulaan, ia harus menyembunyikan perasaan cintanya dan tidak perlu memberitahukannya pada orang lain. Jika cintanya semakin bertambah membara, tidak ada salahnya dia menyatakan perasaannya pada orang yang dia cinta. Jika cintanya semakin membara lagi dan keluar dari batasan yang ada, berarti dia termasuk orang gila dan terbujuk rayuan setan.1

Setelah mendengar hal ini, mungkin ada orang yang berkata :

"Tidak mungkin Allah menyiksa kami di neraka hanya karena berpegangan tangan, berpelukan, berciuman dan raba-rabaan. Dia tidak sekejam itu. Allah Maha Pengampun. Maha Pengasih. Maha Penyayang. ".

Dimana argumen tersebut bisa kita sanggah dengan :

"Surga dan neraka adalah urusan Allah. Yang pasti, kita hanya bisa menuruti apa yang diperintahkan serta menjauhi yang dilarang. Bila suatu perbuatan bisa menimbulkan dampak buruk pada hati kita, dan bila terus dilakoni bisa menambah buruk jiwa kita, maka sudah seyogyanya kita menjauhi perbuatan tersebut."

Nah, setelah itu, mungkin mereka masih memaparkan berbagai argumen yang bertujuan untuk membantah. Namun, biar bagaimanapun, sebenarnya argument-argumen itu hanya dilandasi oleh satu hal. Agar perbuatan mereka tetap dianggap benar. Tak peduli sesuai dengan ajaran islam atau tidak.

Belajar dari beberapa teman yang telah sukses melakukan perbuatan zina menggunakan bahan baku berupa sperma dan ovum yang diberi zat bio-kimia tubuh sehingga setelah dirakit berkali-kali didalam rahim akhirnya menghasilkan produk jadi yang diberi nama “Bayi”, saya dapat menyadari alasan kenapa Allah melarang kita mendekati perbuatan zina.

Intinya adalah sikap permisif.

Secara psikologis, jiwa kita mudah beradaptasi dengan berbagai macam kondisi. Baik positif maupun negatif. Saat pertama kali berpegangan tangan dengan yang bukan mahram (apalagi bila kita mencintainya), mungkin akan timbul desir-desir hebat di hati kita. Namun perlahan-lahan kita akan beradaptasi, terbiasa, tidak berdesir-desir lagi. Proses tersebut terus berulang ketika kita berbuat lebih jauh. Entah berpelukan, berciuman, atau saling raba. Saat itu, otak kita akan berpikir bahwa : “Selama tidak melakukan perbuatan zina kan tidak apa-apa..!!”

Lalu kita menghadapi dua pilihan. Terus bertahan sebatas raba-rabaan atau berani berbuat lebih jauh. Dimana andaipun kita nekat menjebloskan diri untuk berzina ria, maka perasaan bersalah yang tadinya melanda lambat laun akan menghilang. Tidak peduli lagi bahwa zina itu dilarang. Sebab kita berpikir bahwa zina masih lebih baik daripada merampok, membunuh atau memperkosa.  

Terakhir, anda lebih tahu tentang mana yang lebih baik. Bagi diri anda, maupun bagi orang yang anda cinta. Selanjutnya terserah. Mau sama-sama menghindarkan diri dari keburukan, atau terjun bareng kedalam lembah kehinaan.

 

 

1Ibnu Qayyim Al Jauziyyah : Taman orang-orang jatuh cinta dan memendam rindu. Hal 95. Penerbit : Darul Falah. Jakarta.

4 komentar:

  1. Sampe kapan mau menjomblo ?? salam buat Tarmo. Fotonya tarmo sekali2 dipajang dong, biar engga ngayalin wajahnya.

    BalasHapus
  2. Sampai batas waktu yang telah ditentukan oleh Tuhan
    (kata-kata yang ini juga nyontek)

    tarmo udah berangkat ke korea, kemaren
    jadi TKI
    ngumpulin duit buat beli sawah
    biar bisa jadi petani
    Menggapai cita-cita yang delapan tahun lalu kami ikrarkan dibawah pohon bambu

    kalo gak salah, fotonya udah tak pajang

    NB : maaf mbak, salamnya belum bisa disampaikan
    nunggu dia telpon dulu. soalnya, dia bilang, disana
    hp harganya mahal

    BalasHapus
  3. gie... mendingan buruan kawin aja, raba-merabanya jadi sah :p

    BalasHapus
  4. Belum bisa bang
    Belum ketemu jodoh

    :)

    BalasHapus