Tampilkan postingan dengan label kampuskusayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kampuskusayang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Juli 2007

Surat Dari Ibu Mahasiswa yang Malang yang Anaknya Ditendang-Tendang oleh Pihak Universitas Hingga ke Kebun Binatang di Padang Ilalang di Waktu Siang

Nak, hari ini kamu telah setahun menempuh hidup baru. Bukan lagi anak SMA yang berseragam putih abu-abu. Bukan anak manja yang bisa terus nggelayut di pangkuan ibu. Kau telah dewasa nak, karena kamu adalah mahasiswa.

Tak terhitung berapa liter keringat yang ibumu keluarkan agar kamu bisa kuliah. Ibu telah bekerja keras nak, hingga siang dan malam sudah tak bisa lagi dibedakan. Ibu hanya bisa beristirahat jika tubuh ini tertidur, dan jika mata ibu terbuka, ibu sudah harus kembali bekerja. Berat memang, tapi mau apalagi. Ibumu ini hanya seorang TKI yang tenaganya diperas di pabrik sang majikan. Kuliah yang rajin ya nak, jangan malas. Agar kerja keras ibu tidak terbuang sia-sia.

Kemarin ibu dengar berita, katanya kampusmu ditimpa masalah lagi. Kamu jangan bertanya darimana ibu tahu cerita ini. Ibumu adalah seorang perempuan nak, yang bekerja dan berkumpul dengan puluhan perempuan lain. Kamu tahu sendiri kan..? Sistem intelejen via ngerumpi yang terjalin diantara sesama kaum hawa bisa terjalin dengan lebih bermutu dibanding sistemnya CIA Amerika. Apalagi dulu ibumu juga pernah menjadi mahasiswa, walaupun tidak sampai lulus dan jadi sarjana.

Nak, katanya kampusmu sekarang sudah berganti nama ya..? Kampus..., mmm, kalau tidak salah, KAMPUS SAINS dan TEKNOLOGI kan..? Waah, nama yang hebat. Walaupun konon pergantian nama itu penuh dengan kontropersi.

Kata teman ibu, kalian tidak setuju digabung dengan kampus MIPA. Katanya karena penggabungannya tidak dipikirkan dengan masak. Apa benar nak..? Kenapa..? Bukankah para petinggi di unipersitas tidak mungkin tidak berpikir matang..?

Ah, ibu ingat. Di suratmu yang dulu, kamu berkata bahwa mereka menggabungkan kampusmu agar perkuliahan berjalan dengan lebih mudah. Agar bisa mengirit dana. Sebab laboratnya bisa barengan, praktikumnya gantian. Benar begitu nak..? Tapi teman-teman ibu disini pada bingung. Nanti barengan seperti apa..? Bukankah peralatan praktikum kalian berbeda satu sama lain? Kok bisa barengan..? Kok aneh..?

Katamu lagi, kampusmu digabung biar kaum birokratnya bisa ditekan seminimal mungkin. Biar dana yang sedianya digunakan untuk menggaji mereka bisa dialihkan kepada hal lain. Tapi yang ini kok aneh juga. Padahal dulu, dengan tenaga kerja yang banyak pun, kampusmu tidak bisa berjalan optimal. Padahal mereka bisa kerja bareng, rame-rame, saling bantu. Katanya sih karena pekerjaannya terlalu banyak dan terlalu rumit. Maka dari itu nak, nanti bagaimana kalau mereka yang disedikitkan itu disuruh menyelesaikan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih rumit lagi..? Hasilnya bakal sekacau apa..?

Ah, tentang dana. Dulu kan kamu pernah mengadakan diskusi dengan pihak berkuasa ya..? Lalu kamu bertanya tentang ruang kuliah yang tidak cukup, alat praktikum yang minim, sistem penggunaan uang SPP yang antara Teknik dan Mipa jumlahnya jauh berbeda, dan lainnya. Terus apa kata mereka..? Bahwa mereka sudah memikirkan semuanya dengan matang..? Bahwa mereka tidak mungkin berniat menggabungkan kalian jika mereka tidak merencanakannya dengan matang..? Ah, tapi ibu bingung nak. Kenapa saat kamu bertanya bagaimana nanti sistem penggunaan uang per-program studi, mereka bilang itu dipikirkan nanti. Dan saat kamu bertanya yang lain lagi, jawaban mereka tetap nanti, nanti dan nanti..? Apa yang mereka maksud dengan perencanaan yang matang itu adalah dengan tidak membuat perencanaan sama sekali..?

Lalu kabarnya kampusmu bakal dipindah ke Purbalingga..? Kok jauh..? Bukannya kamu bilang disana cuma ada empat atau enam ruang kelas..? Tanpa ruang bapendik..? tanpa ruang laborat..? tanpa warnet teknik yang tarifnya seribu perak per jam..? 

Padahal saat ini, di purwokerto saja, nasib kalian tidak begitu diperhatikan oleh pejabat berwenang ya..? Apalagi kalau sudah disana..? Ah, tapi tenang saja nak. Bukankah ada pepatah yang berbunyi jauh dimata dekat dihati..? Yang artinya adalah, agar hati para pejabat itu dekat dengan kalian, maka kalian harus diusir jauh-jauh dulu..? Hingga kemudian kalian akan lebih diperhatikan..?

Lalu tentang fasilitas. Ibu tidak berani membayangkan bagaimana jadinya kampus teknik yang tidak ada ruang bapendik dan ruang dosen, tidak ada warnet, apalagi tidak ada laborat. Nanti kalian praktikumnya seperti apa..? Memang, dulu pejabat kampusmu bilang bahwa bapendik dan yang lainnya tetap di purwokerto. Tapi bukankah itu akan menyulitkan..? Jam, delapan kuliah di purbalingga, jam sepuluh praktikum di purwokerto, jam sebelas kuliah lagi, jam satu harus ngurus surat ijin ke bapendik. Agh, nanti gimana ya nak..? Entahlah. Untung rumahmu di purwokerto. Tidak seperti teman-temanmu yang dari luar kota yang sudah terlanjur memperpanjang sewa kost tapi kemudian diusir untuk pindah ke purbalingga yang akibatnya uang kost itu hanya bisa diminta lagi sebanyak separuh dari uang yang telah dibayarkan.

Tapi ya nak, sebenarnya ada satu hal lagi yang bikin ibu bingung. Konon katanya kampusmu digabung dengan MIPA karena ilmu yang kalian pelajari lumayan berdekatan. Tapi kenapa kalian yang harus digabung..? Kenapa bukan MIPA dengan kampus biologi..? Bukankah mereka masih satu cabang..? Ah, tapi sayang, para pejabat disana tidak mau memberi jawaban ya nak..? Tapi itu belum cukup aneh. Kamu tahu sendiri kan, akhirnya seperti apa KAMPUS SAINS dan TEKNOLOGI itu..? Gabungan dari kampus teknik, MIPA plus tambahan satu lagi, PSPK (Perikanan dan kelautan).

Haha, nanti barengan alat praktikumnya seperti apa ya..? Apa mahasiswa perikanan itu mau minjam alatnya teknik elektro buat praktikum nyetrum ikan, untuk membuktikan bahwa ternyata ikan pun bisa mati kena setrum..? Kerjasama dengan mahasiswa Geologi dalam beternak ikan dalam perut bumi? atau bareng-bareng anak kimia membuat bom berbahan kotoran ikan..? Haha, apalagi katanya PSPK bakal diusir jauh ke cilacap. Mau praktikum gabungan via telepati..? Kalau begitu kampus gabunganmu harus dibonusi satu lagi, kampus Sains, Teknologi, Perikanan dan Psikologi Bidang Telepati, hahaha

Ah, masa bodo lah. Ibu bingung. Bener-bener bingung nak. Ibu bekerja membanting tulang agar kamu bisa kuliah di kampus teknik dan bisa mendapat ilmu berguna dengan belajar sungguh-sungguh. Tapi bagaimana bisa belajar kalau kampusnya saja seperti ini..? Ck, sudahlah nak. Kamu giat-giat belajar sajalah. Jangan memikirkan nasib kampusmu. Lha wong tidak memikirkannya saja kamu lulusnya lama kok, gimana kalau kamu ikut-ikutan bingung..? Jangan-jangan nanti sistem kuliah di kampusmu adalah "Agar tidak bingung lebih baik tidak berpikir sama sekali?". Entahlah nak.

Kamis, 26 Juli 2007

Simbiosis Catetanisme

Simbiosis adalah hubungan antara dua mahluk hidup yang memiliki ketergantungan. Simbiosis ada tiga macam, yaitu :

a. Mutualisme : Dimana keduanya saling menguntungkan
b. Komensalisme : Dimana yang satu merasa untung sedang yang lain tidak dirugikan
c. Parasitisme : Yang satu untung, yang satu lagi menderita

Dan dalam kehidupan sebagai mahasiswa, hubungan ini ternyata dapat saya temui juga. Contoh nyatanya bisa kita lihat menjelang ujian.

Begini, beberapa hari menjelang ujian biasanya para mahasiswa terlihat amat sibuk. Bukan sibuk belajar, tapi sibuk mencari catatan. Dari sini, bisa kita lihat berlakunya simbiosis, baik mutualisme, komensalisme, maupun parasistisme.

Simbiosis mutualisme berlaku jika dua mahasiswa saling bertukar catatan yang mereka punya, saling melengkapi. Hal ini terjadi tatkala catatan yang mereka punya sama-sama tidak lengkap sehingga mereka merasa saling membutuhkan. Dalam kasus ini, kedua pihak merasa diuntungkan.

Simbiosis Komensalisme berlaku jika salah seorang mahasiswa memiliki catatan yang kurang lengkap sedangkan mahasiswa yang satunya memiliki catatan komplit. Dalam kasus ini, mahasiswa ber-catatan-lengkap sama sekali tidak membutuhkan catatan mahasiswa lain yang kurang lengkap. Dan tidak apa-apa jika dia meminjamkan catatannya. Maka proses pinjam meminjam ini hanya menguntungkan satu pihak tanpa merugikan pihak yang lain

Parasitisme terjadi dalam kasus khusus. Yaitu dimana seorang mahasiswa bercatatan tidak lengkap meminjam catatan mahasiswa lain yang lebih lengkap akan tetapi mahasiswa ber-catatan-lengkap akhirnya dirugikan. Kasus ini terjadi jika catatan tersebut tidak dikembalikan sampai saat ujian berlangsung sehingga mahasiswa bercatatan lengkap merasa kerepotan. Saat ujian berlangsung, simbiosis ini pun sering terjadi. Yaitu saat dimana salah seorang mahasiswa-pintar-baik hati memberikan contekan pada beberapa mahasiswa lain tapi kemudian contekan tersebut ditahan oleh salah satu mahasiswa kurang pintar agar mahasiswa kurang pintar yang lain tidak bisa mengerjakan soal ujian.

Sebenarnya ada satu kasus lagi yang tidak dapat daku golongkan kedalam simbiosis manapun. Yaitu saat kemaren daku berputar-putar meminjam catatan akan tetapi mahasiswa yang daku pinjam catatannya ternyata tidak selengkap catatan punya daku sehingga dengan terpaksa daku pergi ke kost adik kelas. Nah, disitu si adik kelas dengan seenaknya berkata bahwa DIA TIDAK PUNYA CATATAN. Yang padahal setelah diusut-usut diketahui bahwa catatan si mahasiswa tersebut ternyata amat lengkap dimana catatan itu didapat dari mahasiswa lain yang dengan baik hati rela meminjamkan catatan lengkapnya yang walaupun setelah dipinjami catatan, si mahasiswa-pelit-peminjam-terkutuk tersebut tidak mau ikut berbaik hati untuk meminjamkan catatannya pada mahasiswa lain yang membutuhkan catatan.

Bah, sialan. Untung ujiannya bisa daku kerjakan.

Purwokerto, setelah menempuh ujian akhir semester yang melelahkan

Mencontek, amatir vs profesional

 

Sebagai mahasiswa, mau tidak mau kita tetap harus mau untuk ikut ujian. Dimana ujian tersebut mempunyai dua cabang yaitu : Bisa dikerjakan atau tidak bisa dikerjakan.

Jika kita bisa mengerjakan ujian, tentu tidak masalah. Kita tinggal bersyukur sambil berpuas diri untuk melihat IP yang tinggi sekali. Namun jika ternyata saat itu kita tidak bisa mengerjakan soal ujian yang terpampang di depan mata, maka beribu beban pikiran akan memenuhi batok kepala. Dan biasanya, ada satu solusi praktis untuk menghilangkan beban tersebut, yaitu dengan mencontek.

Sebenarnya pada kasus ini, bisa kita lihat layak-tidaknya mahasiswa tersebut dalam menyandang statusnya sebagai mahasiswa. Seseorang pantas disebut mahasiswa jika cara yang digunakan dalam mencontek adalah cara profesional yang kehandalannya tidak diragukan. Sedangkan mahasiswa yang tidak pantas disebut sebagai mahasiswa adalah mereka yang mencontek menggunakan cara amatir yang biasa dilakukan oleh anak SMA.

Cara seperti apa..? Diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Amatir : Menyembunyikan contekan di kantong/saku dimana saat ingin mencontek kita harus mengeluarkan contekan tersebut lalu mencari tulisan yang ditanyakan oleh soal dan berhubung tulisan di contekan tersebut kecil-kecil maka kita perlu waktu lama untuk mencarinya yang berakibat resiko ketahuan pun semakin besar.

Profesional : Menyembunyikan contekan di kantong/sakucelana/kalkulator/HP yang telah disobek dan di bagi-bagi per pokok bahasan sehingga saat mencontek kita hanya perlu mengeluarkan contekan yang jelas-jelas tercantum apa yang ditanyakan oleh soal. Saat ditanyakan tentang bab A, maka kita perlu berpikir bahwa Bab A disembunyikan di saku celana sedangkan bab B di balik kemeja jadi kita hanya perlu merogoh saku celana dan melihat contekan yang akurasinya tidak diragukan sehingga waktu yang diperlukan semakin singkat dan resiko ketahuan bisa ditekan seminimal mungkin.

b. Amatir : Bertanya pada teman dan melihat apa yang dia tulis di lembar jawaban secara kata per kata dan kalimat per kalimat sehingga beresiko besar untuk ketahuan

Profesional : Melihat jawaban teman secara sekilas lalu memperkirakan apa yang dia tulis lalu perkiraan tersebut kita tuliskan secara sedikit demi sedikit di kertas buram. Dan setelah melihat berkali-kali, sekilas demi sekilas, tulisan teman tersebut bisa kita salin secara keseluruhan

c. Amatir : Membuka buku catatan didalam kelas

Profesional : Menyembunyikan buku/catatan di kamar kecil atau menaruhnya di kantong celana/di balik kemeja dimana saat ujian berlangsung dan soal sudah dibagikan kita tinggal mencari tahu soal mana yang bisa kita kerjakan dan mana yang tidak sehingga setelah diketahui soal-soal yang menyulitkan kita tinggal minta ijin untuk pergi ke WC, melihat jawabannya, menghilangkan barang bukti, lalu kembali ke kelas dan mengerjakan soal dengan hati puas

Itu adalah tiga teknik mencontek yang sering dilakukan dan sayangnya juga sering berhasil. Sebenarnya untuk teknik pertama dan kedua resiko ketahuannya lumayan besar, tapi untuk yang terakhir, jarang sekali ketahuan. Karena itulah, bagi para pengawas ujian, sebaiknya perhatikanlah para peserta secara cermat. Apalagi untuk mereka yang pergi ke kamar kecil. Sedangkan bagi mahasiswa, kreatiflah sedikit, jangan menggunakan tekniknya anak SMA yang menurut aturan yang berlaku kemampuan menconteknya seharusnya dibawah kita

 

Note : Dari analisa berbagai kasus mencontek

Keterus-terangan, TEKNIK VS TEMPAT LAIN

Dimana bumi dipijak, disitu pula langit harus dijunjung. Arti dari peribahasa ini adalah, jika kita berada di lingkungan tertentu, kita harus mengikuti aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Kalau tidak, kita akan merasa terasing atau gagal beradaptasi.

Hal ini dapat saya amati dengan jelas saat melihat sendiri perbedaan diantara lingkungan kampus teknik unsoed yang penuh laki-laki dengan lingkungan lain yang banyak wanitanya.

Di kampus teknik, kita harus bersikap terus terang dan apa adanya. Kita harus berani, kalau perlu bahkan nekat. Kenapa..? Karena dengan bersikap seperti itu pun belum tentu aspirasi atau keinginan kita dapat tersalurkan, apalagi kalau kita hanya diam seribu bahasa. Untungnya, keadaan ini didukung oleh fakta bahwa sebagian besar penghuni kampus teknik adalah laki-laki, dimana telah diketahui bahwa jika seorang laki-laki berkumpul dengan laki-laki lain, komunikasi yang terjalin diantara mereka bisa lancar, bebas bahkan seringkali tanpa batas. Tak perlu ada basa-basi tidak perlu. Mereka boleh langsung bicara ke pokok persoalan. Tak usah ragu atau malu.

Contoh riilnya adalah apa yang pernah terjadi diantara saya dan pipin. Dulu, saat di kampus berlangsung acara donor darah, dengan semena-mena saya menghina pipin. Kenapa..? Karena dia, yang badannya lumayan besar, tidak mau ikut donor darah dengan alasan kalau kekurangan darah dia bisa pusing atau pingsan. Sebenarnya alasan ini cukup masuk akal, andai saja saya tidak terus menerus bertanya sehingga bisa diketahui bahwa alasan kenapa dia tidak mendonorkan darahnya adalah karena takut jarum suntik. Hal ini bisa dilihat dengan ditolaknya usul saya agar dia berkonsultasi dulu dengan dokter lalu bertanya apakah dia boleh ikut donor atau tidak.

Marahkah pipin..? Tentu saja. Di akhir obrolan bahkan dia sempat menantang saya berkelahi yang dengan entengnya saya tanggapi dengan berkata bahwa setiap tindak-tanduk seseorang selalu didasarkan atas motif tertentu dan orang tersebut tidak akan mau berbuat sesuatu yang melenceng jauh dari motif semula. Yang artinya adalah, motif saya berkata sesadis itu hanyalah untuk menghina, bukan untuk berkelahi. Jadi tantangan pipin terpaksa saya tolak karena tidak sesuai dengan motif dan tujuan yang saya punya.

Mungkin contoh ini terlalu ekstrim, tapi tidak apa-apa. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa seperti itulah suasana di kampus teknik. Terus terang, jujur, terbuka, dan langsung ke inti persoalan. Tanpa perlu teori dan basa-basi yang panjang lebar.

Sayangnya, ternyata hal ini tidak berlaku di semua tempat. Suatu sore, Tarmo tiba-tiba main ke rumah saya dan mengajak saya pergi ke pasar malam. Alasannya..? Karena dia sudah janjian dengan seorang wanita dimana dia merasa grogi dan tidak berani pergi sendiri. Dia membutuhkan kehadiran saya untuk menemaninya pergi.

Nah, disinilah masalahnya. Sesampainya di pasar malam, dia memaksa saya untuk menjadi perintis jalan. Saya disuruh menemui gadis tersebut (yang datang bersama temannya). Sialnya lagi, Tarmo bahkan tidak tahu nama mereka. Karena itulah dengan berjiwa kesatria saya melangkahkan kaki menyusuri tiap petak pasar malam dan langsung mengajak mereka berbincang-bincang.

Namun ternyata saya melakukan kesalahan. Saat itu jiwa teknik yang saya miliki terbawa sampai ke pasar malam. Saat mengobrol, saya langsung menanyakan identitas mereka secara lengkap. Berkisar tentang nama, alamat, umur, sekolah, nomor HP, status dan lain-lainnya. Bahkan sebenarnya saya ingin meminta KTP mereka agar mendapatkan data selengkap dan se-valid mungkin. Mereka pun salah tingkah, lalu sebentar kemudian minta ijin untuk pulang ke rumah. Walhasil Tarmo pun mencak-mencak dan memprotes sikap saya.

Saya akui saya memang salah. Tapi ada benarnya juga. Saat berkenalan, buat apa kita melakukan percakapan basa-basi yang tidak perlu..? Bukankah akan lebih menghemat waktu jika perkenalan tersebut dilakukan langsung ke intinya saja. Langsung memperkenalkan identitas yang dimiliki seperti yang tertulis di KTP, SIM, KTM, maupun kartu pelajar..? Agar waktu yang kita miliki dapat digunakan untuk membicarakan hal lain yang lebih penting. Seperti peluang bisnis, hobi, atau hal lain yang sebenarnya lebih pantas untuk menyita waktu.

Ah, entahlah. Yang pasti, saya tidak mau disalahkan karena ternyata Tarmo pun memperkenalkan diri kepada mereka dengan identitas palsu. Namanya menggunakan nama baru, dan tempat tinggalnya dirubah menjadi entah di kota apa.

Dimana bumi dipijak, disitu pula langit dijunjung. Sayangnya, dimanapun tempatnya, saya lebih suka hidup dengan kepraktisan kampus teknik. Yang terus terang, langsung ke pokok persoalan. Tak ada basa-basi, tak ada embel-embel yang tidak perlu.

Minggu, 15 Juli 2007

Terulang lagi - Masalah dengan BAPENDIK



Lagi-lagi saya harus beradu mulut dengan BAPENDIK Program Sarjana Teknik Unsoed, Sebuah Program Sarjana (belum diijinkan jadi fakultas) yang kemunculannya saja menuai protes dari berbagai pihak. Yang konon tetap ngotot untuk terus eksis dengan alasan bahwa para "petinggi" disini dapat bertindak profesional untuk memberikan yang terbaik bagi mahasiswa, universitas, masyarakat, bangsa dan negara. Seperti apakah profesionalisme mereka..? Terlalu panjang kalau harus ditulis. Karena itulah agar bisa lebih singkat, saya ingin menyoroti profesionalisme salah satu komponen diantaranya, yaitu BAPENDIK di Program Sarjana Teknik Unsoed

Bapendik disini punya tugas yang hampir sama dengan Bapendik-bapendik lain. Namun ada satu yang berbeda, yaitu cara mereka menafsirkan arti profesionalisme. Menurut mereka, yang dinamakan profesional adalah :

1. Telat membagi KHS.
Disini, paling cepat KHS dibagikan seminggu lebih telat dari jadwal yang seharusnya

2. Menggunakan telepon kampus untuk berpacaran
Laporan dari teman saya. Suatu hari dia harus mengurus sesuatu ke bapendik dan disuruh menunggu sambil duduk di kursi. Saat itulah dia melihat dan mendengar salah satu pegawai bicara di telepon sambil bermesra-mesraan dengan berkata "Ayo dong sayang, jangan gitu ah" serta kata-kata mesra lainnya

2. Tidak teliti dalam menempel jadwal ujian
Dulu pernah ada banyak mahasiswa yang hampir tidak berangkat ujian. Gara-garanya, Bapendik salah menempel urutan jadwal. Dari hari sabtu dilanjutkan dengan hari kamis, lalu rabu, lalu senen dan seterusnya. Sehingga mahasiswa salah mencatat jadwal ujian yang seharusnya mereka ikuti. Untunglah salah seorang pegawai bapendik iseng-iseng menelpon salah seorang mahasiswa, dan secara iseng pula mahasiswa tersebut bercerita tentang ujian yang dijalani. Dari situ, mahasiswa dan pegawai tersebut baru tahu bahwa pengumuman yang ditempel urutannya salah. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terpaksa sang mahasiswa mengirim sms dan menelpon kawan-kawannya untuk memberitahukan jadwal yang seharusnya.

Hanya sampai sini..? Tentu tidak. Ada beberapa mahasiswa yang tidak punya HP yang akhirnya tidak sempat diberitahu dan tidak berangkat ujian. Saat mahasiswa tersebut mengadu ke bapendik, dengan entengnya dia ditanya :

"Kenapa tidak ikut ujian..?"

"Salah nyatet jadwal"

"Kenapa bisa salah catat..?"

"Sebab Bapendik salah nempel"

"Kok yang lain tidak salah mencatat jadwal..?"

"Sebab ada mahasiswa yang diberitahu bapendik, dan meng-sms teman-temannya"

"Kenapa kamu tidak diberitahu..?"

"Sebab tidak punya HP"

"Kenapa tidak tanya Bapendik biar jadwalnya jelas"

"Saya tidak tahu kalo jadwalnya salah"

"Nah, itulah kesalahan anda. Anda tidak bertanya dulu pada kami sebelum ujian. Padahal seharusnya anda bertanya. Kalau perlu setiap hari anda datang kesini dan bertanya pada kami"

#Gubrak..!! Profesionalisme yang aneh

3. Tidak mau mengupdate absen
Hal yang tadi baru saja saya alami adalah tentang absen. Saya pernah sakit dua hari, dan berhubung menurut aturan kalau sakit saya harus memberikan surat ijin ke Bapendik agar tidak dicatat membolos, maka saya berikan surat keterangan dokter. Namun anehnya, di papan pengumuman nama saya tercatat sebagai mahasiswa yang tidak boleh mengikuti ujian karena absensinya kurang karena kurang dari 75%. Padahal seharusnya lebih dari itu. Solusinya, saya pun komplain ke Bapendik. Tapi apa kata mereka..?

"Maaf mas, surat ijinnya tidak ada"

"Lho, kemaren kan sudah saya kasih pak"

"Saya tidak tahu mas. Yang jelas, surat ijin dari anda tidak ada"

"Coba dicari pak, mungkin nyelip di tumpukan kertas. Lha wong sudah saya kasihkan kok"

"Ck, sudahlah. Mending mas sakitnya sekarang aja, bikin surat ijin, terus kasihkan ke saya, biar tidak hilang. Sekarang anda pergi ke koordinator ujian saja sana."

"Hah..? gak bisa begitu pak. Sekarang coba bapak cari lagi. Kali aja ketemu"

Dan setelah dicari, ternyata kurang dari sepuluh detik surat dari saya sudah ditemukan. Ini berarti, sebelumnya si bapak bapendik memang tidak berniat mencari dan merevisi absen. Padahal itu adalah tugas dia. Untuk itulah dia digaji setiap bulan. Anehnya, kalau dia ogah-ogahan melaksanakan tugas, mahasiswalah yang disalahkan. JBuktinya dia tetap tidak mau mengurus masalah absen saya dengan cara menyuruh saya menemui koordinator ujian agar dia bisa enak-enakan ongkang-ongkang kaki. Jangan-jangan nanti kalau saya meninggal saat masih kuliah, dan orang tua saya sudah memberikan surat kematian, tapi mereka butuh surat keterangan juga dari pihak kampus sedangkan surat tersebut tidak diurus, mereka akan berkata pada orang tua saya :

"Makanya pak, bu, anak anda matinya sekarang saja. Jangan kemaren-kemaren. Begini, sekarang tolong anak anda yang sudah mati itu dibangunkan dulu dari kubur, lalu disuruh mati lagi agar kalian bisa membuat surat kematian dan setelah itu baru boleh mengurus kesini lagi"

Ck, profesionalisme yang benar-benar-benar-benar aneh.