Jumat, 02 Februari 2007

Entah...





Entah..., aku tak ingin mengucapkan cinta
Saat wajahmu terbayang di kelopak mataku
Dan tawamu menggetarkan gendang telingaku

Entah..., aku pun tak ingin berkata suka
Saat kau terus datang dalam mimpiku
Lalu bermain seenaknya dalam anganku

Entah..., aku merasa belum pantas untuk mengucapkan cinta
Jika itu dapat mengotori benakku yang rapuh
Atau menghambatmu dalam menapaki hidup

Entah..., aku pun merasa belum pantas sekedar berkata suka
Jika kata itu terucap dari jiwa yang masih kekanakan
Dan sama sekali belum dewasa

Mungkin nanti, suatu saat
Dalam suasana berbeda, dengan pribadi yang berbeda pula
Aku akan berkata bahwa aku suka, aku cinta

Bahwa dari ratusan juta pria di negeri ini
Dari yang berwajah biasa, mempesona, bahkan yang tampan sekali
Hanya akulah yang benar-benar pantas untuk memilikimu

Entah...,
Aku, akan berusaha


Purwokerto, Januari 2006

Gie, katakan kau mencintaiku





 


“Gie katakan kau mencintaiku”


 


“Maaf, aku tidak bisa”


 


“Kenapa?”


 


Karena aku tidak yakin bahwa aku benar-benar mencintaimu”


 


“Jadi, kamu sama sekali tidak mencintaiku”


 


“Hm, belum tentu’


 


“Lho, kok begitu..?”


 


“Begini, sebenarnya aku memang menyukaimu. Tapi aku tidak tahu apakah itu sekedar perasaan suka, atau benar-benar cinta.”


 


“Tapi aku mencintaimu gie”


 


“Oh ya..? Tahu darimana?”


 


“Karena perasaanku kepadamu berbeda dengan perasaanku terhadap laki-laki lain”


 


“Memangnya apa yang kau rasakan..?”


 


“Entahlah”


 


“Lho..?”


 


“Aku juga tak tahu. Sudah berulang kali ku coba menuliskan rasa ini, tapi kata-kata yang kususun jadi seperti buih saja. Tak mampu mewakili perasaanku””


 


“Ya sudah, tidak apa-apa. Coba kau jelaskan padaku”


 


“Biarpun tidak mewakili seratus persen gie..?”


 


“Yup”


 


“Baiklah. Bila bertemu denganmu, hatiku serasa terbang ke angkasa, begitu ringan. Hatiku serasa pelangi, dibelai lembutnya awan.  Hatiku serasa laut, yang tenang, memercikkan ombak. Hatiku serasa gunung, anggun, kokoh, tak tergoyahkan. Hatiku serasa kanvas putih, lalu kau beri lukisan penuh warna-warni. Bersamamu aku merasa damai. Beban yang menggelayuti pikiranku terasa lepas sehingga masalah seberat apapun tak lagi menghantui. Bersamamu, rasanya aku bisa terus maju menghadapi kerasnya hidup ini.”


 


“Oh.., kalau begitu berarti aku juga mencintaimu. Sebab aku juga memiliki perasaan yang sama”


 


“Benarkah...? Lalu sekarang bagaimana..?”


 


“Maksud kamu..?”


 


“Gie.., apa kamu tak ingin punya pacar..?”


 


“Kalau punya wanita yang dicintai, aku ingin. Kalau punya istri, aku ingin. Tapi kalau pacar.., rasanya tidak”


 


“Kenapa..?”


 


“Ya.., males aja”


 


“Kok males..?”


 


“Duh, jadi wanita kok banyak nanya sih..? Begini ya. Aku ingin bebas. Untuk kuliah, bersantai, nongkrong, kerja sambilan, ngaji dikit-dikit, latihan berantem, dan lainnya. Sedangkan kalau punya pacar, rasanya keinginanku tersebut sulit untuk dinikmati. Aku harus membagi waktu untuk berdua denganmu, harus mengantar dan menjemputmu, harus main ke tempatmu, harus ini, harus itu. Lama-lama waktu yang kusediakan untukmu lebih banyak daripada yang kusediakan untukku sendiri.”


 


“Ah tidak juga.”


 


“Lho siapa bilang..? Memang secara fisik, kita jarang bertemu tapi secara psikis kita akan berjumpa rata-rata dua puluh delapan jam sehari. Kita bertemu saat sedang makan, saat kuliah, saat nonton TV, saat bekerja, saat tidur, bahkan saat sedang mandi. Ya, aku akan selalu melihatmu sedang enak-enak nongkrong di otakku. Kau takkan mau pergi dari situ. Lalu, berapa waktu yang tersisa untuk memikirkan diriku sendiri..? Sangat sedikit.”


 


“Lho, bukankah kalau punya istri kaupun akan mengalami hal yang sama..?”


 


“Nah, begini ya. Kalau sebagian besar waktuku tersita untuk mengurus keluarga sih tidak apa-apa. Aku rela-rela saja. Toh memang sudah jadi kewajiban suami untuk membahagiakan anak istrinya. Dan suami mana yang tidak tersenyum puas saat bisa melihat istrinya bahagia..? Kalau ada tolong tunjukkan padaku, biar aku interogasi dia. Dan kau tahu tidak, kalau kita bisa membina rumah tangga yang bahagia, kita dapat pahala. Kalau kita menikah, Allah berjanji untuk mencukupi rejeki kita. Nah, kita bisa dua kali untung kan..? Tapi, Dia tidak menjanjikan hal yang sama kalau kita mempunyai pacar. Berkorban pun ada hitung-hitungannya, ada untung-ruginya. Baik keuntungan materi, maupun ukhrawi. Terserah kita pilih yang mana. Dan aku tidak mau berkorban banyak hanya untuk mendapatkan keuntungan yang sedikit. Huh.., maaf saja ya..”


 


“Jadi kau tak mau jadi pacarku..?”


 


“Ogah”


 


“OK Gie, kalau memang kau tak mau waktumu tersita, aku rela tidak ditemui selama belasan hari. Kalau memang kau tidak mau bayanganku terus menghantui, aku rela kau usir dari otakmu. Asal aku bisa jadi pacarmu Gie, aku ingin merasa bahwa kau benar-benar mencintaiku.”


 


“Duh gimana ya..? sebenarnya aku tidak enak untuk mengatakan ini, tapi apa boleh buat. Jujur saja, sebenarnya bukan itu yang jadi alasan utamaku. Kau tahu kan..? laki-laki berumur dua puluhan seperti aku ini sedang sehat-sehatnya, dari segi psikispun pasti sangatlah bergelora. Juga dalam segi (maaf) Nafsu. Nah, bagi kaum lelaki nafsu bisa datang begitu saja, tanpa ada sebabnya. Dan kami (laki-laki) bisa terpancing untuk berbuat yang tidak-tidak hanya dengan melihat hal seronok walaupun sekejap. Bagi mereka yang sudah berpacaran, dorongan untuk melakukan "sesuatu" mungkin lebih besar daripada mereka yang masih jomblo. Kenapa..? Karena mereka bisa berkilah "Ah, dia kan pacarku. Toh nanti kami akan menikah, jadi kalau macam-macam sedikit kan tidak apa-apa, itung-itung bayar uang muka". Nah, aku sering berpikir seperti itu. Makanya untuk menghindarinya aku memilih untuk sendiri dulu.”


 


“Lho, kamu menghinaku Gie..? Kau pikir aku ini begitu rendah sehingga mau kau apa-apakan..?”


 


“Tidak. Aku yakin kamu bisa menjaga diri. Tapi yang namanya iman ada pasang surutnya. Mungkin kalau iman kita sedang tinggi-tingginya, kita akan terbentengi dari perbuatan tidak baik. Tapi bagaimana kalau iman kita sedang turun padahal saat itu kita berdua punya kesempatan untuk berbuat macam-macam..? Apa kita bisa memastikan bahwa kita mampu menahan diri..? Apalagi si syetan, mahluk jahanam yang selalu menguntit kita itu, pasti tak akan melewatkan kesempatan yang terbentang di depan mata. Kalau momen itu bisa dia manfaatkan dengan baik, benteng yang kita bangun bisa jebol. Kita manusia biasa, bukan nabi, bukan wali. Sudah seharusnya kita meminimalkan resiko.”


 


“Jadi..?”


 


“Ya itu tadi. Maaf. Aku sudah memutuskan, aku sudah membuat komitmen. Aku tidak ingin melanggarnya. Demi kebaikanmu, demi kebaikan kita.”


 


Alarm pun berdentang, sudah pukul lima pagi. Aku terbangun, bengong, lalu garuk-garuk kepala.


 


Sialan, makin hari mimpiku kok makin aneh saja...!!!


 


 


 


Purwokerto, januari 06


Fiksi, asli deh cuma fiksi


 

Minggu, 28 Januari 2007

Pagi ini aku melihat kupu-kupu



Pagi ini aku melihat kupu-kupu
Beterbangan melintasi hari

Pagi ini aku melihat kupu-kupu
Diterpa hangat mentari

Pagi ini aku melihat kupu-kupu
Bergerombol di sekeliling pelangi

Pagi ini aku melihat kupu-kupu
Di kamar, di ruang tamu, di halaman, di jalan-jalan, di rimbun pepohonan, di kompleks pertokoan, di gedung-gedung megah, di angkasa raya, di semua tempat

Ya, pagi ini aku melihat kupu-kupu
Saat menatap dua bola matamu, di layar monitorku



Jika tidak siap mental, tidak  ingin patah hati, atau tidak ingin kecewa, sebaiknya jangan klik link diatas.

Purwokerto, Januari 2007
Setelah ujian Rekayasa perangkat Lunak yang kelewat susah


Benarkah Kita Tidak Boleh Berbohong...?




Bagi anda yang tidak mau memberi ampun pada kebohongan sekecil apapun


Alkisah, suatu hari anda bertemu dengan seorang wanita cantik kemudian saling berkenalan. Dari perkenalan tersebut anda mengetahui bahwa dia bernama Rina, pelajar dari Banjarnegara. Dia datang ke kota anda untuk mencari informasi tentang sekolah-sekolah yang ada karena dia akan pindah sekolah mengikuti perpindahan dinas kedua orang tuanya. Setelah bercakap-cakap cukup lama anda merasa bahwa dia adalah wanita yang baik, berbudi luhur, pintar, santun, penyayang dan suka makan donat mentah. Karena itulah, anda merasa nyaman mengobrol dengannya.

Akan tetapi, tiba-tiba saja datang seorang preman bertubuh jerangkong yang sakti mandraguna, mengganggu obrolan anda. Preman tersebut lalu bercerita bahwa saat sedang bersin tiba-tiba dia jadi ingin membunuh seorang wanita. Dan wanita tersebut haruslah bernama Rina, asli Banjarnegara yang hobi makan donat mentah. Sialnya, preman tersebut kemudian bertanya apakah anda kenal dengan wanita seperti itu, jika kenal dia minta ditunjukkan orangnya agar bisa langsung dibunuh dan mayatnya di cat dengan warna biru*.

Anda pun bingung, sebenarnya anda ingin melawan tapi apa daya preman tersebut ternyata benar-benar sakti. Dia menjilat anjing yang kebetulan lewat dan anjing tersebut langsung mati keracunan. Dia menatap pria botak yang sedang bengong di perempatan dan pria tersebut langsung hamil. Jadi kalau anda melawan, sudah pasti anda kalah.

Apalagi dia mengancam bahwa kalau anda tidak mau menjawab atau jawaban yang anda berikan terlalu berbelit-belit anda akan di pelet lalu diajak bermain gila berkali-kali, sebelum akhirnya dihipnotis, diinterogasi dan dibunuh. Dia pun akan melakukan hal yang sama pada seluruh keluarga anda.

Nah, pertanyaannya adalah :
Jika anda menentang segala jenis kebohongan
Jika anda muak terhadap kebohongan
Jika anda mengaku tidak pernah melakukan kebohongan
Jika anda bersumpah untuk tidak akan berbohong satu kalipun
Jika anda berniat untuk menghukum setiap pembohong dalam hal sekecil apapun
Apa jawaban yang akan anda berikan...?


Note :
Dibuat gara-gara :
Saat antri di warung mendoan ada pria kurang tampan yang berkata : “Percaya sama saya deh, saya kan tidak pernah berbohong”. “HOEKKSSS...!!!!!!!!”
Saat menjajah india, kolonial ingris mengecam dan melarang peredaran Gulestan-e Sa’di karena didalamnya ada kisah yang memperbolehkan kita melakukan bohong putih**. “HOEKKSSS......!!!!!!!!”
* Akibat terlalu sering buka MP-nya Sendu, tiap kali teringat hal yang tragis, benak saya langsung membayangkan warna biru. Hiks
** Mutiara Wahyu, Halaman 25: Muthahhari. Penerjemah, Syech Ali al-Hamid; Penyunting, Ali Asghar Ard. Bogor: Cahaya, 2004.


Kamis, 25 Januari 2007

Ceramah Sang Ustadz Mahasiswa

 


 


Ustadz mahasiswa melajukan mobilnya dengan cukup kencang, dia akan memberikan ceramah di kampung yang terletak jauh di pedalaman hutan. Setumpuk catatan tergenggam erat di tangannya, berisi materi yang akan dia sampaikan. Yup, materi khas mahasiswa, dosen dan kaum terpelajar lainnya. Mengenai Fiqh Kontemporer, Tafsir Hermenutika Modern, Teori Konspirasi, dan Ambiguitas Konsep Liberal.


 


"Masyarakat pedalaman harus berpikiran terbuka dan berwawasan luas, agar dapat lebih mengenal dunia". Itulah pikiran yang tertanam di kepalanya.


 


Detik berlalu, menit berganti. Walaupun mobil sedan tidak mungkin dapat menjangkau daerah pedalaman, tapi kita anggap saja bahwa ceramah sudah dimulai. Surau kecil yang biasanya penuh semakin bertambah sesak saja. Kaum muda dan bapak-bapak duduk di barisan depan, kagum atas kefasihan bertutur sang mahasiswa. Para gadis duduk berjejer tepat dibelakang barisan bapak, entah karena alasan apa. Mungkin tertarik pada isi ceramah, ataukah pada si pemberi ceramah itu sendiri. Dan kaum yang lain terpaksa terpinggirkan di halaman surau karena kapasitas tempat yang tidak mencukupi.


 


Ditengah suasana khidmat, untaian kata mutiara mengalun dengan indah. Sayangnya, mutiara tersebut diimpor dari luar negeri, dikemas dalam kemasan berlabel english serta berbau western. Yang lebih parah lagi, mutiara tersebut ternyata belum sempat di nasionalisasi sehingga ceramah tersebut seakan-akan berlangsung di negeri seberang, bukan di tanah sendiri.


 


Dua jam kemudian, ceramah pun usai. Para bapak yang masih punya waktu senggang menyempatkan diri untuk berkumpul di warung kopi. Mengobrol ngalor-ngidul tentang materi ceramah yang baru saja diikuti.


 


"Jadi kesimpulannya kita harus bersikap kontemporer, jangan semi-otoriter, mbok nanti di cap sebagai in-disipliner". Bapak berjenggot lebat angkat bicara.


 


"Yup, betul itu. Apalagi di jaman protokoler ini, sistem egaliter harus dijunjung tinggi, agar kehidupan semi-permanen dan post-modernisme dapat berkembang dan terejawantahkan dalam sistem birokrasi". Bapak berkumis lebat menimpali.


 


"Memang, saya juga setuju. Apalagi kapitalisme global sedang deras-derasnya melaju. Tapi ngomong-ngomong, kontemporer sih apa ya...?" Bapak berkepala botak lalu bertanya.


 


""Hush, jangan tanya macam-macam, itu namanya kontra-revolusioner. Nanti kamu masuk kedalam kategori hermenutika lho.." Bapak berkaos oblong memberikan solusi.


 


Dan obrolan pun bertambah hangat, seiring bertambah kuatnya penantian akan kembalinya sang ustadz mahasiswa yang berceramah dengan penuh semangat.


 


Ditempat lain sang mahasiswa telah selesai mengoreksi materi yang baru disampaikan. Dia tersenyum puas dan kemudian berkata :


 


"Saya telah memberi pencerahan kepada kaum pedalaman".


 


 


Hikmah : Jangan nulis-nulis sehabis ujian Sistem Komunikasi



Edisi : Fiktif, tapi serius


 

Sabtu, 20 Januari 2007

Tips Praktis Saat Harus Berhadapan dengan Wanita di Medan Laga yang Membara Oleh Api Asmara yang Menyala-nyala dengan Begitu Dahsyatnya

 

 

Masih berkaitan dengan tulisan sebelumnya, kali ini saya ingin membagi sebuah tips yang sangat berguna dalam ber-sparring dengan wanita. Tidak perlu pemanasan, tidak perlu mengaktifkan tenaga dalam, tidak perlu berlatih habis-habisan. Asal anda berjenis kelamin laki-laki, sedikit nekat, dan menomorsepuluhkan rasa malu, tips ini pasti bisa anda praktekkan :

 

Pertama : Sebelum sparring usahakan agar anda terlihat gagah, macho dan jantan. Tegakkan badan, renggangkan bahu dan tajamkan mata.

 

Kedua : Saat wasit berkata “MULAI”, saat itu juga anda tatap mata lawan lalu dekati pelan-pelan.

 

Ketiga : Saat sudah masuk dalam jarak serang anda harus mempersiapkan diri untuk bergerak cepat. Jika lawan lengah, dekati dengan segera. Jika lawan menyerang duluan, sebaiknya jangan ditangkis. Gunakan momen ini untuk merapatkan diri dengan efektif.

 

Keempat : Pepet lawan anda, usahakan agar tubuh anda dan tubuh lawan hanya berjarak beberapa mili, lalu tatap matanya dengan tatapan menggoda. Kalau bisa diiringi dengan senyum genit secukupnya.

 

Kelima : Biasanya pada tahap ini lawan sudah salah tingkah. Jarak yang ada terlalu dekat untuk menyerang, dia hanya bisa menghindar. Jadi kalau dia mundur anda harus maju tapi kalau dia maju sebaiknya anda diam saja, terimalah dengan lapang dada, sambut dengan tangan terbuka. Hihi, asik, lumayan, bisa berpelukan.

 

Keenam : Selanjutnya terserah anda. Mau dibikin draw boleh, maju terus juga boleh. Biarpun dia mundur juga percuma toh melangkah mundur lebih lambat daripada maju, pasti bisa kita kejar. Tapi harap ingat satu hal; pertahankan senyum genit anda karena kegenitanlah yang menjadi kunci suksesnya tips ini

 

Note : Berhubung saya hanya pernah belajar silat jadi saya tidak tahu apakah tips ini juga efektif pada beladiri mancanegara. Saya juga belum pernah sparring dengan wanita macho yang nekat untuk maju dan menyeruduk saya, jadi efektifitasnya masih perlu dikaji kembali. Apalagi tips ini hanya bisa digunakan pada pertarungan TANPA Body Protector (biasanya di perguruan non IPSI)

 

Prinsip Dasar :

Dimanapun sifat dasar wanita selalu sama, grogi kalau berhadapan dengan pria. Jadi kenapa tidak kita manfaatkan saja..? Iya toh..?

 

 

Sekian dan terimakasih.

Purwokerto, 20 Desember 2006

Dinihari

Selasa, 16 Januari 2007

Tips Praktis Untuk Membela Diri ala Togie


 

 

 

Malam itu siganteng lagi tidak ada kerjaan. Untuk mengurangi rasa suntuk dia menyalakan TV. Kebetulan derap hukum menayangkan berita tentang seorang pembantu rumah tangga yang nekat memutilasi bayi yang baru dilahirkannya lalu potongan tubuh tersebut dibuang ke kloset.

 

“BIADAB..!!” itu kata-kata yang muncul di benak siganteng. Namun kata-kata tersebut dia tarik kembali saat tahu bahwa si pembantu hamil karena diperkosa empat pemuda tak bertanggung jawab. Ironisnya. dia harus dihukum dan dicemooh oleh masyarakat tapi para pemuda tersebut masih berkeliaran dengan bebas.

 

“BIADAB…!!” kata-kata itupun terlontar kembali, kali ini ditujukan kepada para pemuda laknat tersebut. Bah, keterlaluan. Mungkin hanya ada satu macam hukuman yang pantas untuk mereka yaitu “DIKEBIRI..!!”.  

 

Untuk beberapa lama siganteng masih tertegun, hatinya penuh emosi. Dia membayangkan bagaimana jika si korban adalah teman-teman wanitanya pas SMA. Bukankah sebagian besar dari mereka bertubuh lemah dan jarang olahraga. Jangankan untuk membela diri, lha wong untuk sekedar lari beberapa ratus meter saja mereka kecapekan, itupun sudah diiringi dengan istirahat, ngobrol dan ngerumpi tanpa henti. Karena itulah dia kemudian berucap :

 

“Pokoknya sebelum bisa menemukan teknik yang bisa digunakan untuk menghadapi situasi seperti ini, saya tidak akan belajar beladiri. Apa gunanya belajar sekian tahun di perguruan ini, sekian tahun di perguruan itu, lalu pindah lagi ke perguruan yang baru jika tidak bisa membagi ilmu...? Minimal saya harus menemukan tiga teknik sederhana agar jika yang satu tidak bisa diterapkan bisa dipakai teknik yang lain”

 

Dan selanjutnya dia pun vakum dari belajar beladiri, jarang pula berolah raga. Dua atau tiga tahun dia habiskan untuk mencari teknik yang tepat. Mulai dari membaca berbagai buku, menggali berbagai situs di internet, bertanya kesana-sini, ataupun memodifikasi teknik-teknik yang dulu dipelajari. Tapi itu percuma. Apa yang diajarkan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang bertubuh kuat, atau minimal mereka yang pernah latihan beladiri. Teknik itupun tidak bisa langsung diaplikasikan, harus dilatih dulu berulang kali.

 

Tapi alhamdulillah setelah berusaha keras akhirnya dia dapat menemukan dua teknik yang cukup mudah dan satu yang sedikit sulit, yaitu :

 

Pengenalan Situasi

Bayangkan jika anda adalah seorang wanita lemah yang sedang dipepet oleh pria. Apa yang bisa anda lakukan..? Hampir tidak ada. Lari..? Dikejar. Teriak..? Pasti dibekap. Melawan? Kalah tenaga. Jadi bagaimana..? Hmm, lebih baik anda pasrah saja. Lho, kok pasrah..? Jangan protes, silahkan baca tulisan selanjutnya.

 

Tips Pertama : Mencolok Mata

Ingat satu hal, jika anda terlihat akan melawan maka si pria pasti mengantipasi perlawanan anda. Jadi lebih baik anda bersikap seolah-olah pasrah saja. Biarkan dia berbuat semaunya (untuk sementara) setelah itu tempelkan tangan ke wajahnya. Persiapkan telunjuk dan jari tengah anda, tempatkan ke mata, lalu tekan sekuatnya. CROTT..!! Selesai.

 

Tips Kedua : Menyerang Kemaluan

Mirip teknik yang pertama. Suatu saat lawan pasti lengah, nah itu bisa anda manfaatkan. Saat berdempetan anda hanya bisa membuat sedikit gerakan, salah satunya adalah menggerakkan tangan untuk meremas. Kenapa..? Karena kalau menendang atau memukul rasanya tidak mungkin, bisa diantisipasi. Maka sebaiknya anda sabar, siapkan hati, cari sasaran, pastikan, remas, lalu tarik sekuatnya. Ingat “SEKUATNYA”.

 

Tips Ketiga : Mencekik Tenggorokan

Pada dasarnya sama. Tapi yang ini lebih sulit. Coba pegang leher anda, disekitar jakun. Disana bisa ditemukan celah yang pas untuk beberapa jari. Lalu coba anda cekik leher anda sendiri, cari disebelah mana anda merasa sesak dan kehilangan tenaga. Kalau sudah ketemu, kuatkan cekikan anda, setelah itu silahkan berhenti. Lho kok cuma itu..? Kan tidak efektif. Memang tidak cukup segitu, ada lanjutannya. Saat mencekik kumpulkan tenaga di jari anda, remas, kokohkan pegangan, lalu tarik sekuatnya sampai berbunyi KREKKK..!!! Kemungkinan, mati. Makanya jangan dicoba ke leher sendiri.

 

Untuk latihan silahkan anda praktekkan ke tubuh sendiri. Cari teknik yang paling fatal itu seperti apa, insya Allah bisa. Tenaga tidak terlalu berperan disini, yang penting adalah kekuatan jari. Itupun bisa dilatih dengan meremas-remas meja kerja, kursi atau perkakas lainnya.

 

 

Note :

Sebenarnya ketiga tips diatas hanyalah tahap pertama, kalau berhenti sampai disitu dalam waktu singkat si pria pasti pulih lagi dan akan melaksanakan aksinya dengan lebih waspada. Karena itulah saat dia terkejut dan kesakitan, lekas cari benda keras atau senjata tajam disekitar anda (seperti gunting, tiang lampu, tongkat, meja, kursi, pecahan kaca, atau yang lainnya) kemudian pukulkan ke belakang kepala atau tusukkan ke perut. Setelah lawan KO anda baru boleh lari.

 

Kelemahan :

Sayangnya saya hanya berjanji untuk mencari teknik yang bisa digunakan oleh wanita yang bertubuh lemah “TANPA” mempedulikan sisi psikologis yang dia punya. Padahal pada kenyataannya, dalam situasi tertentu wanita akan panik dan kehilangan kendali. Gemetar ketakutan tanpa bisa berpikir lagi. Contohnya seperti  kasus yang dialami pembantu tersebut. Lagipula teknik ini hanya efektif jika lawan anda berjumlah satu orang. Kalau lebih dari itu, sangat sulit.

 

 

 

Purwokerto

Togie de Lonelie

 

Edisi Serius