Lemahjaya, 13 Februari 2007
Prolog
KKN yang tadinya ditujukan untuk memperlancar program PBA (Pemberantasan Buta Aksara) ternyata dalam pelaksanaannya mulai ricuh. DIKNAS yang tadinya menjanjikan sarana dan prasarana mengajar ternyata sampai hari ini belum mengirimkannya pada kami selaku mahasiswa, padahal kegiatan PBA harus dimulai senin depan, lima hari lagi.
Masalah bertambah gawat saat kami membaca berita dari TEMPO INTERAKTIF bahwa Kepala Seksi Pendidikan Luar Sekolah Jawa Tengah, Sukirno, mengatakan :
“Mahasiswa yang tengah KKN akan dijadikan tutor dan mendapatkan uang saku sebesar 500 ribu.”
Wah, senangnya...!!! Mungkin itulah yang terbersit di benak anda, tapi sayang hal tersebut bertentangan dengan realitas yang ada karena sampai sekarang uang tersebut belum sampai pada kami, satu rupiah pun.
Sebenarnya kami tidak begitu mempermasalahkan imbalan, toh dari pertama kali pembekalan kami sudah diberi tahu bahwa konon tugas kami untuk memberantas buta aksara tidak berunsur komersil tapi untuk pengabdian. Jadi imbalan yang kami dapatkan hanyalah nilai, bukan uang. Namun masalahnya, jika pihak DIKNAS saja sudah mengalokasikan dana sebesar itu dan dana tersebut tidak diberikan pada kami, lalu uangnya dilarikan kemana..? Apakah digunakan untuk membangun masjid..? Membangun gereja..? Memberi makan fakir miskin dan anak-anak terlantar yang dipelihara oleh negara..? Atau apa..? Tapi saya yakin bahwa uang tersebut tidak dikorupsi lho, ya walaupun tidak yakin-yakin amat sih..
Permasalahan
Nah, begini. Jika pihak DIKNAS tidak mengirimkan alat-alat mengajar, pihak kecamatan tidak memberi bantuan, dan satu-satunya sumber pemasukan dana hanya berasal dari para donatur, bagaimana mungkin kegiatan PBA bisa kami laksanakan dengan baik..?
Asal tahu saja, di Lemahjaya sini jumlah peserta PBA produktif berjumlah sekitar 90 orang dan untuk mengajar mereka kami membutuhkan dana guna membeli berbagai alat tulis, alat model, uang transport, cetak sertifikat dan lain sebagainya. Belum lagi biaya untuk mengajukan proposal dan tetek mbengek lainnya. Apalagi, ternyata masyarakat yang tidak termasuk kedalam kategori buta aksara juga menginginkan program sosial baik berupa fisik maupun non fisik seperti memperlancar proposal perbaikan jalan, pemberantasan demam berdarah dan malaria1, pencegahan flu burung, turnamen olahraga dan kegiatan lainnya.
So.., pertanyaan-nya adalah.., darimana kami dapat dana untuk merealisasikan program tersebut..? Apakah kami harus patungan2..? Yup, sebenarnya boleh-boleh saja. Tapi jika KKN ini diadakan sebelum uang kami habis untuk membayar registrasi akademik yang berlangsung beberapa hari sebelumnya. Uang di kantong kami hampir habis, proposal banyak yang macet, beban bertumpuk, lalu kami harus bagaimana..?
Epilog
Tapi Alhamdulillah, saat teman-teman dari desa lain berusaha untuk bersepakat memboikot PBA, kami tidak ikut-ikutan. Kami tetap konsisten untuk melaksanakan tugas ini. Biarlah urusan sarana dan prasarana mengajar nanti kami akal-akali. Tak perlu buku tulis, toh kami bisa memakai kertas buram saja, yang dipotong kecil-kecil, dijilid, di steples, dikasih tanda, lalu dibagikan ke peserta. Tak perlu beli whiteboard atau papan tulis, biar kami pinjam alat dan tempat milik sekolahan saja. Bahkan sertifikat pun, andai pihak DIKNAS tidak mau memberikan pengesahan, kami tetap akan membuatnya. Walaupun nanti hanya di stempel dan ditandatangani oleh bapak kepala desa.
Kenapa..? Karena sejak pertama kali datang kesini kami sudah mengatakan bahwa prioritas utama kami adalah program PBA, akibatnya bapak kepala desa, pak sekdes, pak kadus, pak RT, pak polisi desa, bahkan bapak-bapak yang entah siapa namanya rela mengantar kami berkeliling ke seluruh pelosok desa untuk mendata siapa saja yang masih buta aksara. Saat itu kami juga menerangkan program PBA pada mereka, menjanjikan sertifikat dan berbagai janji yang lainnya. Dan banyak yang tertarik, bersimpati dan mendukung program ini. Sekarang, andai saja PBA kami batalkan, apakah kami tidak membuat mereka kecewa..?
Memang, soal dana tutor dan sarana prasarana akan tetap kami perjuangkan. Bukan karena kami bersikap komersil, tapi karena kami butuh transparansi. Kenapa uang yang sudah dialokasikan tersebut kok tidak jadi dibagi..? Apa benar karena akan dikorupsi..?
Ya, akan kami tuntut, kami perjuangkan. Bukan untuk kepentingan kami, tapi untuk warga. Biarlah semua uang tersebut kami gunakan untuk mensukseskan program yang ada. Biarlah kami bersikap total dalam mengabdi untuk desa. Jangankan hanya PBA, pengaspalan jalan pun mungkin bisa kami laksanakan. Jika ada dana.
Itu janji kami, itu harapan kami, itu doa kami, semoga saja bisa terjadi.
Insya Allah
Note :
Mohon masukan dan saran dari teman-teman semua. Informasi sekecil apapun mungkin akan berguna bagi kami, dan bagi kelompok di desa lain. Semoga kali ini kami tidak lagi dikibuli. Bilangnya untuk mensukseskan PBA, tapi nyatanya untuk mensukseskan di ACC nya hutang luar negeri. Terimakasih.
1Lemahjaya merupakan daerah endemik malaria dan demam berdarah. Sebelumnya Lemahjaya menduduki peringkat pertama di Banjarnegara dalam hal lomba penderita terbanyak.
2Uang patungan tersebut digunakan sebagai dana cadangan andai kami benar-benar kekurangan dana saat bantuan dari DIKNAS tidak jadi turun
3Sendu.., kali ini kita damai saja ya..? Daku menyerah. Tolong ya Ndu..? Damai ya..? Daku kan lagi KKN..? Kasihan...
4. Ditulis sehabis kekenyangan dan kepusingan gara-gara kebanyakan makan durian yang harganya tujuh ribu lima ratusan.