Sabtu, 23 Februari 2008

Once Upon A Time - Kuburan Gunungwangi

 
“Mas.., kemaren pergi kemana..?”

Kemaren..? kapan..?

“Waktu naik motor sama tarmo, si bagus, sama temennya juga”

Ke Kuburan Gunung Wangi.

“Lho..? Ngapain..?”

Nyari taneman puring, sapa tau ada yang bagus

“Memangnya nggak dosa..?”

Dosa kenapa..? Itu kan kuburan milik warga, daku ini kan warga, jadi kuburan itu ya punyaku juga. Jadi gak papa kalo daku ngambil taneman barang sebiji dua biji. Lagipula puringnya kan mau tak stek, tak potes, bukan tak cabut. Secara hukum, daku ini bukan nyuri, tapi ngambil apa yang memang jadi hak milik.

“Maksudnya bukan itu maas...!! Gini lho, apa pergi ke kuburan itu gak dosa..? Gak musyrik..?”

Dosa..? Kata siapa..?

“Lha, kan banyak yang pergi ke Gunung Wangi bawa kemenyan atau dupa. Katanya minta pesugihan, jimat atau apalah namanya. Itu kan hukumnya musyrik. Kita gak boleh minta-minta kepada kuburan”

Iya juga sih. Daku juga heran pas sampai disana. Bekas bakaran kemenyannya banyak banget. Bertumpuk-tumpuk. Bahkan mungkin gara-gara mangkel sebab gak dapet jimat, ada orang yang nekat mencopot atep makam. Terus hiasan anak panah di pucuknya diambil. Sekarang atepnya masih rusak, belum dipasang lagi. Tapi daku gak minta apa-apa kok. Daku cuma ngambil taneman. Kalau toh minta puring, bukan kepada kuburan. Tapi ke penjaga makam. Sekalian nanya-nanya tempat yang paling nyaman itu dimana. Siapa tahu tempatnya bisa dipesen. Biar kalau mati gak usah nyari tempat lagi.

“Mas togie gak bawa apa-apa..?”

Jelas bawa dong. Makanya daku ngajak Tarmo. Dia pasti punya rokok, biar daku gak usah beli. Daku cukup bawa korek aja. Nanti rokoknya tinggal minta. Lumayanlah, gratis.

“Memangnya gak takut mas..?”

Takut apa..?

“Hantu”

Kenapa harus takut hantu..?”

“Soalnya mbok mereka ngganggu”

Kalau memang mereka pingin nganggu ya gak papa. Asal setelah itu mereka bantu-bantu nyari puring. Soalnya harganya mahal je. Dulu pernah beli yang masih kecil, enam puluh ribu perak. Padahal puringnya gak bagus-bagus amat. Ck, makanya daku nekat nyari disana. Sekalian ziarah.

“Mas togie gak diganggu..?”

Nggak.

“Padahal waktu pergi kesana aku sampai merinding lho mas”

Kenapa merinding..?

“Soalnya takut”

Kenapa takut..?

“Mbok nanti diganggu”

Diganggu siapa..?

“Hantu”

Kenapa harus takut diganggu hantu..? Kenapa gak bales gangguin si hantu..? Kenapa puring yang bagus harganya mahal..? Kenapa matahari harus bulet bukan kotak..? Kenapa rambut kamu gak digundul saja..? Kenapa setelah pontang-panting nyari dana kok kita belum bisa mbenerin atep mushalla..? Kenapa harus beli kopi di warung..? Kenapa ayam gak bisa melahirkan kerbau..? Kenapa..? Kenapa coba..?


Depan mushalla, saat gak punya uang
Februari, 08


Mbingungi Love Story



Semalam aku bermimpi menelpon dia, tepat di hari ulang tahunnya. Kami mengobrol banyak, mendiskusikan berbagai hal yang kami alami. Aku ingin merealisasikan mimpi itu. Aku akan mengumpulkan duit untuk membeli pulsa. Lalu mengajaknya ngobrol, yang lama.

Ngobrol..? Lama..? Apa manfaatnya..? Hal itu tidak menjamin bahwa kamu bisa mendapatkan hatinya. Sebab mungkin saja, saat itu, di mimpi itu, dia juga ditelepon oleh orang lain yang mengucapkan hal serupa. Ngobrol tentang masalah yang sama. Bila tebakanku benar, maka rencanamu takkan menghasilkan apa-apa. Kamu rugi. Rugi waktu, rugi pulsa.

Salah. Dalam kasus ini tidak ada untung rugi. Bila bisa mendengar suaranya, sebanyak apapun pulsa yang kuhabiskan, sesingkat apapun kami bicara, aku tetap bisa disebut untung. Kalau toh dia tidak mau mengangkat teleponku, aku harus bersyukur. Sebab paling tidak dia tahu bahwa aku masih memperhatikan dia. Ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.

Jangan begitu. Kenapa tak kau gunakan pulsa, waktu dan energimu untuk hal yang lebih berguna

Lho, menurutku inilah hal paling bermakna dalam seutas kisah yang oleh manusia disebut sebagai cinta. Tentang pengorbanan, usaha, harapan. Manusia masih bisa disebut sebagai manusia bila dia masih punya semangat untuk berusaha, bila belum menyerah. Itulah yang menyebabkan kita tetap survive menghadapi seleksi alam yang ekstra kejam. Yang telah memusnahkan dinosaurus, Pithecantrophus erectus, serta burung Dodo

Tapi untuk apa berusaha bila hanya menghasilkan kesia-siaan..?

Siapa bilang sia-sia..? Dengan menelponnya, paling tidak, aku bisa menanamkan sebibit benih cinta. Bila disiram, dipupuk, dan dirawat dengan baik, mungkin benih tersebut akan tumbuh, berkembang, membentuk sebuah pohon cinta, berdahan asa, berdaun suka, berbuah bahagia. Kalau toh benihnya harus mati, maka kita tidak bisa langsung mengklaim bahwa dia mati. Bisa saja hanya mati suri.

Ck, aku kasihan kepadamu

Justru kamu yang patut dikasihani. Sebab manusia tanpa semangat juang seperti kamu, kelak akan musnah digilas seleksi alam. Kamu akan bernasib sama seperti manusia purba yang telah habis dari muka bumi. Menyisakan tulang-kerangka yang diteliti oleh para ahli.

OK, taruhlah kamu bisa menelpon, anggap dia mau mengangkat telepon, tapi apa yang nanti kalian bicarakan..?

Tentu aku akan mengucapkan selamat ulang tahun, lalu dia akan berterimakasih dan minta didoakan

Ya, padahal doamu sendiri jarang dikabulkan

Tak apa. Toh tidak ada salahnya kalau aku berdoa..? Mungkin Tuhan tidak mau mengabulkan doaku karena keinginanku, seperti kamu tahu, terkadang nganeh-anehi. Makanya kali ini aku akan berdoa secara baik, mengharap kebaikan.

Setelah itu..? Apa cuma itu..?

Pasti tidak, kami akan membicarakan hal lain. Tapi justru disitulah masalahnya. Dari tadi aku sudah lupa, dalam mimpiku kami bicara apa saja. Kamu yang salah. Seharusnya saat aku sedang merenung, mengingat apa yang baru saja kuimpikan, kamu jangan mengganggu permenunganku.

Sebab aku adalah sisi waras dari otakmu yang harus hadir untuk menuntunmu kembali ke jalan lurus. Akulah yang membimbingmu tatkala errormu kambuh. Akulah yang selalu menasehatimu, mengingatkanmu, menyadarkanmu. Mengembalikan dirimu kepada kenyataan.

Tapi kamu jugalah yang menggangguku. Membuatku lupa terhadap apa yang seharusnya kuingat. Kamu memang waras, sadar, normal. Tapi bukankah sebagai manusia terkadang kita harus mencari alternatif lain yang jauh dari batas kenormalan..? Manusia bukan mahluk statis, tapi dinamis. Punya dua sisi, kanan dan kiri. Yin dan Yang. Kita saling melengkapi. Aku tak bisa hidup tanpamu, kamu tak bisa hidup tanpaku. Itu sudah jadi hukum alam.

Terserahlah

Lho, jangan bilang terserah..!! Aku sedang merencanakan sesuatu yang amat berarti bagi hidup kita. Seharusnya kamu mendukung rencanaku ini. Jangan membiarkanku berjalan sendiri. Kita adalah dua jiwa dalam satu tubuh. Bila tubuh ini berkehendak, kita harus sama-sama mendukungnya.

Aku tak mau mendukung rencana yang tidak jelas asal muasal serta jluntrungnya

Siapa bilang tidak jelas..? Rencanaku sudah sempurna. Bahwa aku akan menelponnya dimalam dia berulang tahun. Aku akan mengucapkan selamat, mendoakannya, mengamini doanya. Aku akan mengajaknya merenungi masalalu.

Hm, sempurna ya..? Kalau begitu boleh aku bertanya..? Kapan dia berulang tahun..?

Tentu awal bulan depan. Tepat tanggal empat maret. Haha, bagaimana mungkin aku bisa lupa. Hahaha..!!! Hahaha..!!! Eh, bentar. Apa bukan tanggal empat belas ya..? Tapi kok, kayaknya tanggal dua empat deh. Yang pasti sih, belakangnya angka empat. Bentar, kalau empat ditambah empat itu berapa..? Delapan ya..? Bukan, bukan delapan. Pokoknya belakangnya empat. Hm, kalau empat kuadrat..? Bukan juga. Ah, tapi tak apa. Kamu pasti masih ingat kan..? Hei.., kamu masih ingat kan..? Wooi, tolong beritahu aku, ulangtahunnya tanggal berapa..? Aduh, jangan pergi dulu dong. Bantu aku..!! Wooii…, Wooii…



Togie
Setelah mimpi telpon-telponan


Minggu, 10 Februari 2008

Suatu ketika di rumah sakit - perang monster.3gp




Jalan Cerita :

Alkisah, sebuah rumahsakit di Purwokerto diserang oleh monster-kurang-tampan ber-jumper abu-abu. Ketika itu, para petugas keamanan berhasil dilumpuhkan oleh sang monster-kurang-tampan. Penghuni rumah sakit pun panik. Mereka berlarian hilir mudik. Namun setelah kelamaan berlari akhirnya mereka capek. Dan memilih untuk kembali ke kamar lalu tidur. Lari-larinya dilanjutkan besok lagi.

Namun ternyata, seorang suster berwajah cantik menggunakan ponselnya untuk memanggil sang-pahlawan-tampan ber-sweater ijo. Kenapa menghubungi dia..? Sebab sang suster inginnya ditolong oleh pahlawan berwajah tampan. Kalau tidak tampan, susternya tidak mau. Jadi, singkat cerita, tanpa perlu basa-basi, monster dan sang pahlawan pun berkelahi memperebutkan wilayah rumah sakit. Mereka adu pukul dengan kerasnya, lalu adu tendang. Hingga dalam waktu singkat, salah satu pihak merasa terdesak

Lalu, bagaimanakan akhir dari pertarungan ini..? Siapakah yang menang dan siapa pula yang kalah..?

Note :
*Sebenernya tak buat waktu nungguin temen yang opname di rumah sakit. Tapi berhubung gak ada kerjaan ya bikin film-filman ajah
*Yang di shoot cuman fightnya. Sebab kalo minta bantuan suster agar nyuruh pasien agar lari-lari kan gak mungkin.

Tips : Agar tidak berbohong lewat Ngempi

Berbeda dengan penulis profesional yang sudah bisa mengaduk-aduk isi otaknya dengan lancar. Bagi kita yang baru belajar, untuk mengeluarkan isi kepala saja terkadang perlu tenaga ekstra, apalagi kalau harus menuangkannya menjadi sebuah tulisan yang layak baca. Oleh karena itu, mau tidak mau, kita harus membuat cara tersendiri dalam menulis.

Terkadang isi kepala kita tidak selalu sehat. Kadang bener, kadang jujur, kadang ngawur, kadang amburadul. Bahkan karena sebagai manusia kita sering dihinggapi penyakit lupa, maka seringkali apa yang kita tulis sudah tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Harus dikoreksi.

Mari kita lihat drive D di komputer saya. Disana ada folder berjudul blog, yang dibagi menjadi empat sub folder lagi. Yaitu : Masih Revisi, Past, Togie Multiply, dan Friend.

1. Folder masih revisi dibagi menjadi tiga :
a. Folder awal : Berisi ide mentah yang dengan susah payah berhasil saya keluarkan dari semrawutnya otak. Jadi harap dimaklumi kalau tulisan disini begitu ngawur dan tak tersruktur. Intinya, apa yang ingin saya tulis, langsung saya tuliskan di notepad. Sesuai tips nya bang roni yang ini dan ini deh. Bedanya, disini belum ada edit-editan. Makanya, folder ini pun akhirnya dibagi menjadi dua. Yaitu folder ed : Kalau masih perlu diperbaiki, serta folder past : Sudah dikirim ke editted.

b. Folder editted : Untuk melakukan koreksi. Contohnya, Bila menulis bahwa kita baru melihat seorang nenek yang kelaparan sehingga harus memakan botol aqua lalu kita merasa sedih sampai air mata menetes membasahi pipi, Maka tulisan itu harus kita koreksi dulu.

“Apa benar saat itu kita merasa sedih..?”,
“Apa benar air mata kita betul-betul menetes..?”,
“Apa benar menetesnya membasahi pipi..?”
“Apa yang dimakan betul-betul botol Aqua, bukan botol Mizone..?”

Kenapa harus seperti itu..? Sebab berbohong adalah dosa, bisa masuk neraka. Jadi, biarpun dirasa sepele, kita harus berusaha agar tulisan kita bebas dari unsur kebohongan. Sekecil apapun.

c. Folder siap post : Berisi semua tulisan yang telah melalui berbagai revisi. Namun bukan berarti tulisan disini sudah final. Sebab bisa saja nanti kita mendapat ide baru untuk melengkapi tulisan kita. Jadi intinya, kalau anda merasa bahwa tulisan tersebut masih bisa direvisi, lebih baik didiamkan dulu. Namun kalau ternyata setelah menunggu sekian lama kok tidak ada tambahan ide yang muncul, silahkan ada copy tulisan tersebut ke flashdisk, berangkat ke warnet lalu post di multiply.

2. Folder past : Cuma tulisan yang berhasil kita post di MP. Masih dalam Microsoft Word. Kalau ingin, tulisan disini pun bisa anda edit lagi. Buat latihan.

3. Folder togie multiply : Adalah copian dari MP kita berikut semua reply nya. Yaah, siapa tahu diantara mereka yang memberi reply ada yang memberi kesan tersendiri. Misal :

"Lho, kok si dia ngasih reply nya rada beda ya..? Seperti ngasih harapan ke saya..? seperti punya rasa..?"

Atau

"Dari gaya tulisannya kok keliatan kalo dia masih jomblo ya..? Padahal headshotnya manis. Wah lumayan nih..!!"

4. Folder friend : Berisi artikel dari MP'ers lain yang ingin atau perlu kita save. Sebenarnya banyak tulisan MP'ers yang lebih bagus dan lebih bermutu dari artikel di surat kabar, majalah, buletin atau yang lainnya. Dan sayang kalau tulisan tersebut tidak kita simpan. Apalagi, dengan membaca dan mempelajari tulisan mereka, kita bisa belajar untuk memperbaiki tulisan kita.

Yup, kurang lebih itulah yang ingin saya bagi. Tapi sayang, biarpun seperti itu, entah kenapa, tulisan di blog saya dari dulu sampai sekarang masih begini-begini saja. Tetap amburadul juga. Gak pernah beres.

NB : Sebenarnya hanya ingin mengembangkan tips nya bang roni saja sih. Yang namanya tips kan untuk dipelajari dan dilakukan, bukan cuma dibaca. Kecuali kalau tips nya nganeh-anehi.

Daku Gak Ingin Berbohong, Daku Gak Mau Berbohong, Pokoknya Jangan Sampai Daku Berbohong, Titik

Hari ini ada pukulan telak yang menghantam kepala daku. Menggoncang, menginjak-injak, lalu mendamparkannya ke masa lalu. Ya.., otak daku terasa seperti dipukul palu saat ada teman yang berkata : "Gie, sekarang aku jarang baca tulisanmu, sebab kata-katanya kasar"

Duarr..., Jelegaarr.., DRRTTTTT...!!!
(Terjemahan : Suara mercon, ledakan bom, disusul oleh sengatan listrik sebesar 20.000 volt)

Anehnya, saat itu daku gak marah. Kenapa..? Karena daku memang sengaja berkata kasar, daku sengaja menulis apa adanya, sesuai kenyataan. Biar klop dengan apa yang daku alami, yang daku rasakan.

Lho.., alasannya..?

Begini. Ada yang bilang bahwa apa yang kita tulis merupakan cermin dari kepribadian yang kita miliki. Hal ini ada benarnya. Namun sayang, tidak selalu se-benar itu.

Dulu, daku ingin menulis dengan sok agamis, sok moralis, agar tulisan daku dapat mencerahkan orang lain. Tapi akibatnya, banyak orang yang salah paham.

Daku pernah diprotes. Katanya sifat daku tidak sesuai dengan kesan yang ditangkap lewat apa yang daku tulis. Dan itu berarti, tulisan tersebut telah mengakibatkan orang lain salah menilai. Dan berhubung daku menulis dengan disengaja, maka bisa diartikan bahwa daku telah menimbulkan kesalahpahaman secara disengaja pula. Dengan kata lain, lewat kesengajaan itu, daku telah berbohong lewat tulisan.

Terlepas dari dunia tulis menulis, dengan modus operandi yang hampir sama, daku pernah berbohong pula. Saat KKN di desa lemahjaya, daku pernah disangka sebagai ikhwan karena ikut Unit Kerohanian Islam, berjenggot (walau masih tipis), serta malu-malu jika bersalaman dengan lawan jenis. Padahal asal tahu saja, memang daku salamannya cuma menempelkan ujung jari, tapi itu lebih disebabkan karena daku mudah grogi. Jangankan bersalaman dengan wanita cantik, lha wong bersalaman dengan wanita genit berpakaian seksi yang walaupun wajahnya biasa saja tapi sukanya tonjol-sana-tonjol-sini pun daku tetep grogi kok. Pernah pula daku disangka sebagai orang kaya yang punya dua villa mewah karena sikap daku yang sok borjuis. Bahkan sialnya, daku pernah dikira sudah menyandang predikat sebagai haji.

Sejak saat itu, secara drastis, daku merubah pola tulisan. Tiap kali menulis, daku gak pernah lagi ingin dianggap sok agamis atau moralis. Pokoknya, sebisa mungkin, daku ingin membuat tulisan yang apa adanya, agar tidak lagi menimbulkan salah sangka. Kalau daku lagi marah, tulisan daku ya bernada marah. Kalau lagi sedih ya terkesan sedih. Bahkan kalau misalnya daku menulis yang rada baik tapi daku belum bisa melakukan kebaikan tersebut, daku usahakan untuk menambah kata-kata yang mencerminkan bahwa : "Daku belum bisa melakukannya"

Karena itulah, kali ini, daku mohon maaf kalo sering kasar. Karena dalam kehidupan sehari-hari terkadang daku memang bersikap kasar (kalau gak percaya silahkan tanya pipin). Walaupun kadang pula daku bisa bersikap baik. Sebab daku masih manusia normal, bukan nabi, bukan wali, masih punya sisi baik dan sisi buruk. Dan satu-satunya cara yang bisa daku lakukan untuk menggambarkan diri daku dengan apa adanya, ya dengan membuat tulisan dengan gaya seperti ini. Agar hanya dengan membaca, seolah-olah anda dapat melihat sikap daku dalam kehidupan sehari-hari. Sama seperti ketika pipin takjub dengan omongan daku yang sok terpuji, ataupun kejengkelan dia saat daku omeli.

Sedangkan kalau ada yang berkata bahwa kesalahpahaman itu bukanlah apa-apa sebab toh banyak orang yang menulis tentang kebaikan saja, maka hanya ada satu tanggapan yang dapat daku berikan. "Daku dan mereka amatlah berbeda". Mungkin dalam kehidupan sehari-hari mereka memang selalu dipenuhi kebaikan. Mungkin mereka memang sudah bisa melakukan segala nasehat dan kata-kata indah yang terlanjur mereka tulis. Sedangkan daku..? Bah...!!!

Terakhir.., semoga gak ada lagi yang salah paham terhadap daku. Semoga semua bisa tahu bahwa daku bukanlah ikhwan yang rajin mengaji, bukan orang kaya, juga bukan haji. Semoga semua dapat memahami bahwa daku tidak ingin berbohong, jangan sampai daku masuk neraka gara-gara berbohong lewat ngempi. Sebab tanpa berbohong pun dosa daku sudah banyak.

Ck, jangan sampai deh.

Bukan orangnya.., tapi pola pikir yang dia punya

Daku sering berpikir bahwa daku telah berbuat dosa menggunakan multiply. Yaitu dengan melakukan ghibah. Menceritakan berbagai kejelekan, ketidakwajaran, dan kengawuran yang daku temui. Yang menghinggapi berbagai macam orang. Baik saudara, teman, tetangga, atau mereka yang entah siapa namanya.

Ghibah sendiri, menurut islam, berarti menceritakan kejelekan orang lain. Merupakan salah satu perbuatan buruk yang berujung dosa. Hampir sama berdosanya seperti melakukan fitnah. Bahkan, orang yang melakukan ghibah diumpamakan seperti memakan daging/bangkai saudara sendiri.

Lalu, apakah sekarang ini daku telah berubah menjadi sesosok kanibal menyeramkan yang mempunyai gigi taring, mulutnya berleleran darah dan tubuhnya menyebarkan aroma bangkai..? Ternyata, setelah daku pikirkan dengan matang, jawabannya adalah TIDAK.

Begini, kerapkali, yang daku ceritakan di multiply diambil dari obrolan dengan berbagai macam orang yang pola pikirnya telah terkontaminasi nafsu duniawi dan libidoni. Obrolan tersebut, tentu saja, didasarkan atas asas saling percaya. Agar yang tahu obrolan kami hanyalah segerombol jin kebetulan sedang nongkrong disitu, malaikat yang selalu rajin mencatat tingkah laku kami berdua, serta Gusti Allah yang memang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Oleh karena itu, daku menceritakan isi obrolan tersebut dalam bentuk yang berbeda. Tanpa menyebut nama si pelaku. Daku harap, dengan begitu, walau sudah dituangkan dalam bentuk tulisan dan diceritakan ke orang lain, tetap tidak ada yang mengetahui bahwa daku punya sisi jelek begini, dia begitu, si anu jeleknya suka menganu-anu. Intinya, daku berusaha memfokuskan diri pada kejelekan tersebut, bukan pada si empunya kejelekan.

Selanjutnya, dan yang paling penting, daku tidak menyebut nama. Daku hanya menyebut : "Manusia ngawur, error, atau semacamnya". Hal itu tidak bisa digunakan untuk melacak identitas pelaku yang sebenarnya. Karena daku punya banyak teman yang terkadang error pula. Kalau nekat mencari, sama seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Alangkah mengenaskannya bila kita tidak boleh mengungkapkan ketidak-setujuan kita karena takut dianggap ghibah. Lagipula, bukankah segala sesuatu dinilai oleh Allah berdasarkan niatnya..? Daku tidak berniat untuk menjelek-jelekkan dia. Daku hanya menjelek-jelekkan pola pikirnya. Daku tidak pernah menikmati hal ini. Karena terus terang saja, tidak ada nikmat-nikmatnya sama sekali. Tiap kali memencet keyboard untuk menulis, perut daku langsung mual. Dan dalam setiap kata yang daku tulis, terkandung kelamnya aura mual. Belum lagi kalau harus meneruskan rasa mual itu sampai menjadi paragraf, alinea, lalu berlanjut terus hingga titik terakhir.

Ingat, hukum alam mengajarkan bahwa jika suatu perbuatan nyleneh dibiarkan berlangsung terus tanpa ada yang mencegah, tanpa ada yang mengkritik, maka lama-lama perbuatan tersebut akan dianggap sebagai sebuah kewajaran. Yang tidak perlu dirisaukan. Akibatnya, berhubung sudah dianggap wajar, akan ada yang mencoba menirunya. Dan bila menyenangkan, diceritakan kepada orang lain. Ditiru lagi. Kesenangan lagi. Diceritakan lagi. Ditiru lagi. Begitu seterusnya sedemikian hingga perbuatan tersebut menjadi trend umum. Ramai-ramai dinikmati. Digilai.

Nah, begitu. Makanya daku nekat menuliskan kisah-kisah yang terjadi disekitar daku. Walaupun tentu dengan menyamarkan identitas si pelaku. Sebab di tempat lain mungkin sedang terjadi kisah yang sama, keanehan serupa. Semoga kisah tersebut dianggap aneh pula. Agar kita menyadari mana yang boleh, mana yang tidak boleh. Mana yang dilarang atau dianjurkan. Mana pahala, mana dosa. Mana orang biasa dan mana mahasiswa yang sudah terkenal ketampanannya.

Semoga alasan ini bisa diterima.


Mau Sakti..? Gak ah..

“Gie, ikut belajar beladiri yuk..?”

"Mm, beladiri macam apa..?"

“Tenaga dalam Gie. Yang nglatih keren. Bisa ilmu gelap ngampar”

"Buat apa..?"

“Buat mukul orang. Kalo kena pukul, orangnya bisa hangus”

"Apa nanti orangnya gak mati..?"

“Kemungkinan sih mati”

"Kalo gitu daku gak mau ah. Daku gak mau membunuh. Daku kan cinta damai"

“Gimana kalo belajar ilmu lain Gie, biar tahan pukul..?”

"Belajarnya gimana..?"

“Pake nafas..”

"Emang ada belajar yang gak pake nafas..?"

“Nggak ada lah. Emangnya belajar mati..?”

"Terus cuma nafas-nafas doang..?"

“Nggak. Ada doa, wirid, rapalan dan puasanya segala”

"Puasa buat apa..?"

“Ya biar sakti Giiieee....!!!!”

"Ck, ogah ah"

“Lho, kenapa..?”

"Sebab menurut daku, puasa tuh hanya ditujukan buat Allah Ta'ala. Niatnya tulus ikhlas, bukan pingin sakti"

“Emangnya nggak boleh..?”

"Daku gak tau. Tapi pinginnya sih, kalo soal puasa, shalat, dzikir, dan semacamnya, daku niatkan buat Allah saja. Jangan diembel-embeli pingin sakti segala. Tapi tunggu bentar. Kamu bilang ada wiridnya..?"

“Iya. Nyebut nama Allah, malaikat jibril, mikail, isroil, terus syeh siapaaaa gitu”

"Kok harus nyebut nama mereka..?"

“Sebab aturannya gitu Gie..”

"Aturan darimana..?"

“Dari guru”

"Kok kayaknya di Alquran ato hadits gak disebutin yang kayak gitu..? Padahal, soal agama, mending nurutin syariat aja. Gak bikin aturan macem-macem"

“Tapi kan kita bisa sakti”

"Apa untungnya jadi orang sakti..? Toh sesakti-saktinya orang, masih lebih sakti orang kaya. Sebab biarpun gak sakti, kalo pingin begini-begitu, mereka bisa mbayar orang-orang sakti. Jadi, kalo ingin melebihi orang sakti, cara paling gampang ya jadi orang kaya saja. Asal kaya nya bukan dengan cara yang melanggar aturan agama. Lagipula, misal udah puasa trus kita jadi tahan pukul trus nanti berantem, kayaknya malah gak seru. Sebab kalo gak mempan dipukul, berantemnya jadi tidak punya nilai seni. Yang namanya berantem itu, lebih nikmat kalo dibonusi dengan rasa sakit sebagai bumbu. Biar nikmat"

“Ck, omong-kosong. Orang penyakitan macam kamu sih, paling-paling sekali dipukul juga langsung pingsan. Gak sempat ngerasain sakit”

"Lho.., kok ngomong gitu..?"

“Emang bener kan..? Mau bukti..?”

"Haha.., maaf ya..!! Daku ini orangnya cinta damai. Gak suka berantem"

“Bah, alasan”

"Ya udah. Kalo emang gak percaya, ayo berantem...!! Tapi tahu sendiri kan, kalo misal daku kena pukul sekaliiii aja, Tarmo yang sejak pulang dari korea kok jadi hobi melakukan hibernasi itu gak bakal tinggal diam..? Kalo nanti dia marah, kamu berani nanggung resikonya..?"

“Jangan bawa-bawa Tarmo dong Gie..”

"Dia gak tak bawa kok. Dari kemaren dia tak taruh di hutan bambu. Sapa tau bisa dijadiin sesajen"

"Cih.., ngeyel..!!"

"Daku gak ngeyel. Daku cuma bicara fakta. Daku gak pingin jadi orang sakti kalo caranya gak sesuai aturan agama. Mending daku jadi orang biasa aja. Yang penting ibadahnya tulus buat Allah ta'ala. Bukan buat mencari kesaktian. Tapi kalo kamu gak setuju dengan prinsip daku ya udah. Jangan marah. Kalo pun tetep marah ya silahkan. Toh nanti daku bisa cerita ke Tarmo. Dia kan bukan pecinta damai. Jadi biarpun nanti tiba-tiba tangan kamu dibikin pindah ke kaki terus kakinya nyungsep ke hidung terus hidungnya jadi tambah pesek ya gak papa. Gimana..? Masih mau diteruskan..?"

"Ck.., kok gitu..?"

"Dari dulu daku emang begini. Tapi kalo kamu gak berani berarti kesimpulannya harus ditambah satu lagi. Bahwa orang sakti pun, seperti kamu ini, yang katanya nanti bisa ilmu gelap ngampar dan tahan pukul ini, masih tetep kalah sakti dibanding Tarmo yang cuma bermodal nekat."