Hari ini ada pukulan telak yang menghantam kepala daku. Menggoncang, menginjak-injak, lalu mendamparkannya ke masa lalu. Ya.., otak daku terasa seperti dipukul palu saat ada teman yang berkata : "Gie, sekarang aku jarang baca tulisanmu, sebab kata-katanya kasar"
Duarr..., Jelegaarr.., DRRTTTTT...!!!
(Terjemahan : Suara mercon, ledakan bom, disusul oleh sengatan listrik sebesar 20.000 volt)
Anehnya, saat itu daku gak marah. Kenapa..? Karena daku memang sengaja berkata kasar, daku sengaja menulis apa adanya, sesuai kenyataan. Biar klop dengan apa yang daku alami, yang daku rasakan.
Lho.., alasannya..?
Begini. Ada yang bilang bahwa apa yang kita tulis merupakan cermin dari kepribadian yang kita miliki. Hal ini ada benarnya. Namun sayang, tidak selalu se-benar itu.
Dulu, daku ingin menulis dengan sok agamis, sok moralis, agar tulisan daku dapat mencerahkan orang lain. Tapi akibatnya, banyak orang yang salah paham.
Daku pernah diprotes. Katanya sifat daku tidak sesuai dengan kesan yang ditangkap lewat apa yang daku tulis. Dan itu berarti, tulisan tersebut telah mengakibatkan orang lain salah menilai. Dan berhubung daku menulis dengan disengaja, maka bisa diartikan bahwa daku telah menimbulkan kesalahpahaman secara disengaja pula. Dengan kata lain, lewat kesengajaan itu, daku telah berbohong lewat tulisan.
Terlepas dari dunia tulis menulis, dengan modus operandi yang hampir sama, daku pernah berbohong pula. Saat KKN di desa lemahjaya, daku pernah disangka sebagai ikhwan karena ikut Unit Kerohanian Islam, berjenggot (walau masih tipis), serta malu-malu jika bersalaman dengan lawan jenis. Padahal asal tahu saja, memang daku salamannya cuma menempelkan ujung jari, tapi itu lebih disebabkan karena daku mudah grogi. Jangankan bersalaman dengan wanita cantik, lha wong bersalaman dengan wanita genit berpakaian seksi yang walaupun wajahnya biasa saja tapi sukanya tonjol-sana-tonjol-sini pun daku tetep grogi kok. Pernah pula daku disangka sebagai orang kaya yang punya dua villa mewah karena sikap daku yang sok borjuis. Bahkan sialnya, daku pernah dikira sudah menyandang predikat sebagai haji.
Sejak saat itu, secara drastis, daku merubah pola tulisan. Tiap kali menulis, daku gak pernah lagi ingin dianggap sok agamis atau moralis. Pokoknya, sebisa mungkin, daku ingin membuat tulisan yang apa adanya, agar tidak lagi menimbulkan salah sangka. Kalau daku lagi marah, tulisan daku ya bernada marah. Kalau lagi sedih ya terkesan sedih. Bahkan kalau misalnya daku menulis yang rada baik tapi daku belum bisa melakukan kebaikan tersebut, daku usahakan untuk menambah kata-kata yang mencerminkan bahwa : "Daku belum bisa melakukannya"
Karena itulah, kali ini, daku mohon maaf kalo sering kasar. Karena dalam kehidupan sehari-hari terkadang daku memang bersikap kasar (kalau gak percaya silahkan tanya pipin). Walaupun kadang pula daku bisa bersikap baik. Sebab daku masih manusia normal, bukan nabi, bukan wali, masih punya sisi baik dan sisi buruk. Dan satu-satunya cara yang bisa daku lakukan untuk menggambarkan diri daku dengan apa adanya, ya dengan membuat tulisan dengan gaya seperti ini. Agar hanya dengan membaca, seolah-olah anda dapat melihat sikap daku dalam kehidupan sehari-hari. Sama seperti ketika pipin takjub dengan omongan daku yang sok terpuji, ataupun kejengkelan dia saat daku omeli.
Sedangkan kalau ada yang berkata bahwa kesalahpahaman itu bukanlah apa-apa sebab toh banyak orang yang menulis tentang kebaikan saja, maka hanya ada satu tanggapan yang dapat daku berikan. "Daku dan mereka amatlah berbeda". Mungkin dalam kehidupan sehari-hari mereka memang selalu dipenuhi kebaikan. Mungkin mereka memang sudah bisa melakukan segala nasehat dan kata-kata indah yang terlanjur mereka tulis. Sedangkan daku..? Bah...!!!
Terakhir.., semoga gak ada lagi yang salah paham terhadap daku. Semoga semua bisa tahu bahwa daku bukanlah ikhwan yang rajin mengaji, bukan orang kaya, juga bukan haji. Semoga semua dapat memahami bahwa daku tidak ingin berbohong, jangan sampai daku masuk neraka gara-gara berbohong lewat ngempi. Sebab tanpa berbohong pun dosa daku sudah banyak.
Ck, jangan sampai deh.
Duarr..., Jelegaarr.., DRRTTTTT...!!!
(Terjemahan : Suara mercon, ledakan bom, disusul oleh sengatan listrik sebesar 20.000 volt)
Anehnya, saat itu daku gak marah. Kenapa..? Karena daku memang sengaja berkata kasar, daku sengaja menulis apa adanya, sesuai kenyataan. Biar klop dengan apa yang daku alami, yang daku rasakan.
Lho.., alasannya..?
Begini. Ada yang bilang bahwa apa yang kita tulis merupakan cermin dari kepribadian yang kita miliki. Hal ini ada benarnya. Namun sayang, tidak selalu se-benar itu.
Dulu, daku ingin menulis dengan sok agamis, sok moralis, agar tulisan daku dapat mencerahkan orang lain. Tapi akibatnya, banyak orang yang salah paham.
Daku pernah diprotes. Katanya sifat daku tidak sesuai dengan kesan yang ditangkap lewat apa yang daku tulis. Dan itu berarti, tulisan tersebut telah mengakibatkan orang lain salah menilai. Dan berhubung daku menulis dengan disengaja, maka bisa diartikan bahwa daku telah menimbulkan kesalahpahaman secara disengaja pula. Dengan kata lain, lewat kesengajaan itu, daku telah berbohong lewat tulisan.
Terlepas dari dunia tulis menulis, dengan modus operandi yang hampir sama, daku pernah berbohong pula. Saat KKN di desa lemahjaya, daku pernah disangka sebagai ikhwan karena ikut Unit Kerohanian Islam, berjenggot (walau masih tipis), serta malu-malu jika bersalaman dengan lawan jenis. Padahal asal tahu saja, memang daku salamannya cuma menempelkan ujung jari, tapi itu lebih disebabkan karena daku mudah grogi. Jangankan bersalaman dengan wanita cantik, lha wong bersalaman dengan wanita genit berpakaian seksi yang walaupun wajahnya biasa saja tapi sukanya tonjol-sana-tonjol-sini pun daku tetep grogi kok. Pernah pula daku disangka sebagai orang kaya yang punya dua villa mewah karena sikap daku yang sok borjuis. Bahkan sialnya, daku pernah dikira sudah menyandang predikat sebagai haji.
Sejak saat itu, secara drastis, daku merubah pola tulisan. Tiap kali menulis, daku gak pernah lagi ingin dianggap sok agamis atau moralis. Pokoknya, sebisa mungkin, daku ingin membuat tulisan yang apa adanya, agar tidak lagi menimbulkan salah sangka. Kalau daku lagi marah, tulisan daku ya bernada marah. Kalau lagi sedih ya terkesan sedih. Bahkan kalau misalnya daku menulis yang rada baik tapi daku belum bisa melakukan kebaikan tersebut, daku usahakan untuk menambah kata-kata yang mencerminkan bahwa : "Daku belum bisa melakukannya"
Karena itulah, kali ini, daku mohon maaf kalo sering kasar. Karena dalam kehidupan sehari-hari terkadang daku memang bersikap kasar (kalau gak percaya silahkan tanya pipin). Walaupun kadang pula daku bisa bersikap baik. Sebab daku masih manusia normal, bukan nabi, bukan wali, masih punya sisi baik dan sisi buruk. Dan satu-satunya cara yang bisa daku lakukan untuk menggambarkan diri daku dengan apa adanya, ya dengan membuat tulisan dengan gaya seperti ini. Agar hanya dengan membaca, seolah-olah anda dapat melihat sikap daku dalam kehidupan sehari-hari. Sama seperti ketika pipin takjub dengan omongan daku yang sok terpuji, ataupun kejengkelan dia saat daku omeli.
Sedangkan kalau ada yang berkata bahwa kesalahpahaman itu bukanlah apa-apa sebab toh banyak orang yang menulis tentang kebaikan saja, maka hanya ada satu tanggapan yang dapat daku berikan. "Daku dan mereka amatlah berbeda". Mungkin dalam kehidupan sehari-hari mereka memang selalu dipenuhi kebaikan. Mungkin mereka memang sudah bisa melakukan segala nasehat dan kata-kata indah yang terlanjur mereka tulis. Sedangkan daku..? Bah...!!!
Terakhir.., semoga gak ada lagi yang salah paham terhadap daku. Semoga semua bisa tahu bahwa daku bukanlah ikhwan yang rajin mengaji, bukan orang kaya, juga bukan haji. Semoga semua dapat memahami bahwa daku tidak ingin berbohong, jangan sampai daku masuk neraka gara-gara berbohong lewat ngempi. Sebab tanpa berbohong pun dosa daku sudah banyak.
Ck, jangan sampai deh.
gie..justru elo itu mulei t'pengaruh yang mengkritik klu togei itu "sok agamis, sok moralis"...yakni dengan men-degradasi tulisan n' style togie, jadi diri sendiri aja, klu lgih pengen agamis ya agamis..klu lgih pengen slenge'an ya..slenge'an..klu lgih pengen moralis ya moralis, gue sendiri gag suka mengkotak-kotakkan manusia..karena gue jugak bukan kotak atau...so be ur self n' let ur rainbow say who r u..ganbatte..klu gue sih yang penting Allah SWT n' Rasulullah SAW..manusia kaya' gue masih banyak room of errornya..yang penting b'juang lebih baik ajah hi hi..^^
BalasHapuscie cie cie.................
BalasHapuskontak baruku curhat nehhhh
tentang tulisan yg ana blok emang jadi wacana im juga mas, tentang pikiran/ tulisan/ khayalan/ cita2/harapan dan......kenyataan/pekerjaan/kelakuan....
singkatnya tentang lahir dan batin kan?
nggak usah termakan dengnahasutan yang kayak gituan....mungkin ada yang bilang "ih Togi munafik, masak dia nulis tentang gak mau salaman ma cewek, eh ternyata dia tadi meluk gua" [contoh aja mas, jgn ngambek yah....]
klw emang kita punya prinsip batin untuk berbuat yang benar menurut kita yah ungkapkan aja!, dan kita terusterangkan aja ke orang lain, masalah lahir kita nanti kurang sesuai dengan batin mungkin itu adalah kelalaian yang justru ketika orang lain tahu tentang kita maka dia akan mengingatkan kita...
bisa jadi ketika mas Togi meluk cewek [misal aja seeeh] karena mas Togi lupa, dan ketika itu ceweknya ngingetin....
inti yg im sampaikan yaaa........ jangan gara2 takut dicap "munafik" sama2 orang2 ga bertanggung jawab terus mas Togi gak nulis atau mengungkapkan sesuai yang di benak mas Togin...eh Togi.
met jujur dan selamat mencoba untuk tidak bohong......
Ya.., intinya memang seperti itu mbak..
BalasHapusSebenarnya, kronologisnya begini
Pertama, waktu terkapar di rumahsakit gara-gara tiphus, daku terbayang terus pada kematian
Lalu berpikir bahwa daku gak siap mati, coz amal belum cukup
Terus jadi pingin nulis-nulis yang mencerahkan, buat nambah amal
Nah, sampai disini sih masih OK-OK saja mbak, tapi masalahnya, pas sudah dijalani, lama-lama niat daku dalam menulis disisipi oleh niat lain
Yaitu biar daku dianggap pinter, alim, baik hati atau apalah
Makanya pas teman daku ngasih kritik, ya langsung daku terima
Sebab kenyataannya memang seperti itu
Dan selanjutnya.., ya...
Jawaban togie : "Anu.., memang salju itu putih, memang darah itu merah, memang senja itu indah, memang dikau cantik, baik, menarik. Tapi.., gini ya.., biarpun begitu, berpenampilan model apapun, secara kodrat dikau adalah pria. Nama dikau "Doni" bukan "dona". Jadi, sebagai sesama laki-laki, gak papa dong kalau saling peluuk..!!"
BalasHapusHabis perkara
Btw, makasih untuk masukannya
??
BalasHapusKok Kosong..?
kadang kita harus berbohong gie? demi sesuatu?
BalasHapusContohnya..?
BalasHapus