Rabu, 27 Februari 2008

Prasasti Pagi : NU VS Muhammadiyah VS Gadis Manis dari RT Sebelah

Usai subuh kami terduduk di teras mushalla. Pak ustadz menyuruh kami masuk mendengarkan ceramah, tapi aku (beserta tiga orang bapak) memilih untuk tetap di teras saja. Sebab kami tidak tahan panas. Mudah berkeringat. Lagipula disini kami jadi bisa mengobrol. Biarpun dengan berbisik-bisik.

Seperti biasa, si penceramah (seorang petinggi muhammadiyah) memulai dengan ucapan salam. Lalu basmallah, lalu alhamdulillah. Setelah itu menjelaskan berbagai hal tentang ibadah dan bid'ah. Dari sini, kami, para penghuni teras bisa menebak bahwa beliau pasti melanjutkan ceramahnya dengan salah-salahan. Menyalahkan organisasi lain.

"Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah. Dzikir HARUS diucapkan dengan lirih. Rasulullah SELALU menangis bila menyebut nama Allah. Jangan berdzikir keras-keras seperti yang ditayangkan televisi”

“Muhammadiyah memutuskan bahwa tanggal satu syawal jatuh lebih awal dari NU. Sebab kami menggunakan perhitungan yang teliti. Sekarang adalah jaman modern dimana rukyat sudah tidak relevan lagi. Untuk apa melakukan rukyat kalau bisa menghitung peredaran bulan secara tepat.”

“Warga NU terpatok pada kyai, melakukan taqlid buta, tidak mau mengkritisi kyainya. Padahal kyai bukanlah nabi, mereka hanya orang biasa yang suatu saat bisa salah. Dan jika pendapat mereka salah maka kesalahan tersebut akan menimpa seluruh umat NU.”

“Ingat, para zionis berusaha untuk memecah belah kita. Runtuhnya menara kembar WTC adalah awal dari rencana jahat mereka. Sekarang masjidil aqsa sedang digali, sebuah terowongan dibuat dibawahnya. Kelak terowongan tersebut akan membuat masjidil aqsa runtuh. Rakyat palestina tidak diperbolehkan melaksanakan shalat jum’at. Tapi Negara-negara arab tidak mau membela mereka. Tidak mau mencegah perbuatan para zionis yang ingin meruntuhkan masjidil aqsa. Itu adalah tanda bahwa Negara arab sudah berada dibawah kontrol zionis. Mereka berhasil dipecah-belah. Jangan sampai hal itu juga menimpa kita.”

Entah apalagi yang beliau katakan. Aku tak berminat mendengarnya. Aku lebih suka mendengar obrolan para bapak. Sebab mereka membahas hal yang lebih bermakna. Tentang pekerjaan, sulitnya ekonomi, iuran sekolah anak yang melambung tinggi, irigasi sawah yang dimonopoli petani kaya, atau apapun. Ingin rasanya aku menyanggah si penceramah. Meminta beliau berhenti menyalah-nyalahkan. Apalagi, menurutku, beliau menyalahkan pihak lain padahal beliaunya sendiri juga salah.

Begini, dzikir tidak WAJIB dilakukan dengan lirih. Dzikir artinya mengingat Allah. Dalam hati atau lewat ucapan. Lirih atau keras. Pekikan Allahu Akbar ketika berperang bisa disebut sebagai dzikir. Rasulullah TIDAK SELALU menangis bila menyebut nama Allah. Coba sebutkan dalilnya. Silahkan menyalahkan dzikir yang dilakukan oleh ustadz arifin ilham atau umat NU asalkan dalilnya kuat.

Yang menentukan benar-tidaknya hisab adalah munculnya bulan. Bila setelah dihitung (seteliti apapun perhitungan tersebut) tapi ternyata hilal belum muncul, maka perhitungan tersebut tidaklah tepat. Sudah ada teropong super canggih yang bisa digunakan untuk melihat bulan. Jauh lebih modern daripada hitung-hitungan.

Aku sering bertanya pada pak ustadz, pengurus muhammadiyah, atau siapapun tentang tanggal satu syawal lalu mereka menjawab bahwa itu hasil hisab. Tapi saat ditanya lebih jauh tentang metodologi hisab, mereka tidak tahu. Akhirnya, saat sudah tidak bisa memberi jawaban lagi, mereka berkata bahwa : “Itulah yang diputuskan oleh organisasi”. Lihat, bukankah ini bisa disebut sebagai taqlid juga..? Kenapa mereka melarang kita bertaqlid pada kyai tapi menganjurkan bertaqlid pada organisasi..?

Satu lagi. Mari setuju bahwa aktivitas ngaco para zionis harus dihentikan. Tapi aku heran terhadap si penceramah. Beliau menganjurkan agar jangan mau di adu-domba tetapi beliau sendiri mengadu-domba kita.

Itulah sebabnya kami lebih suka menempati teras mushalla. Sebab dari luar, kami masih bisa mendengarkan isi ceramah, bisa merokok, mengobrol dengan berbisik-bisik. Dan yang paling penting, bila kebetulan tidak setuju dengan isi ceramah, kami bisa mengacuhkannya. Menggunakan mulut dan telinga kami untuk membahas hal yang lebih berguna. Entah tentang pekerjaan, keluarga, anak, istri, maupun rencana merenovasi mushalla.

Menurutku tindakan si penceramah tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku takut para jamaah bertaqlid pada beliau. Aku harus meminta penjelasan disertai dalil-dalilnya. Agar diketahui siapa yang salah diantara kami. Sayang, begitu ceramah usai, sebelum aku sempat beranjak dari duduk, beliau sudah berpamitan lalu memacu sepeda motornya. Membuatku harus meminta jawaban pada pak ustadz dimana beliau bilang tidak tahu. Lalu bertanya pada Tarmo yang mana.., dia.., seperti biasa.., membela mati-matian apa yang difatwakan muhammadiyah. Tak peduli fatwa tersebut benar atau salah.



Beberapa menit kemudian.., di depan rumah..
Tarmo sudah pulang, dia ingin melanjutan tidurnya sampai siang. Dia tidak mau menjawab pertanyaanku sebab menurutnya, pertanyaan apapun, selama tidak sejalan dengan prinsip oganisasi adalah pertanyaan yang salah. Tidak perlu dijawab.

Gelap mulai memudar seiring terangnya sinar mentari. Aku masih duduk di sebongkah batu di depan rumah. Aku tidak puas. Aku bosan mendengar prosesi salah-salahan. Aku tak bisa berhenti nggerundel bila belum mendapat penjelasan. Tapi.., harus meminta penjelasan kepada siapa..?



Setelah itu

“Lho.., mas..? Kok sendirian..? Tarmo mana..? Daripada bengong, kita jalan-jalan yuk..!! Bareng sama temen-temen”

Tiba-tiba si gadis manis dari RT sebelah muncul. Seperti biasa, dia menyapaku sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya, dia mengucapkan kalimat panjang, bukan sekedar “Hai..” Untung Tarmo pulang, untung aku ditinggal sendiri, untung aku merenung di depan rumah.

“Hehe.., ayuk. Tapi aku ambil mercon dulu ya..”

“Tidak perlu mas. Kemaren aku dah beli banyak banget. Nih..!!”


Bagai embun di pagi hari, pelita di malam hari, teh manis dikala sore. Gerundelanku hilang, berganti dengan kesejukan hati. Tadi aku tidak puas terhadap apa..? Siapa menyalahkan siapa..? Organisasi yang mana..? Entahlah. Peduli amat.



Usai subuh, kita berjalan meniti pagi
Hanyut di jalan aspal, nyangkut di tegalan sawah
Lalu terdampar di negeri sunyi

Lusinan kata terangkai jadi sebait mimpi
Merah mentari tersiram di kanvas imaji
Desir angin kita tampung dalam botol waktu
Dan celoteh burung kita rekam di sekeping angan

Pada prasasti pagi, kita tulis kisah ini
Antara aku, kau, mentari, dan belasan mercon

Ramadhan, 2007


21 komentar:

  1. Klw saya merasa teradu domba dengan adanya tulisan ini gimana.....:)

    Cos ini kurang konkrit brow......:)

    BalasHapus
  2. Maksudnya mengadu domba kita dengan si penceramah..?
    Biar konkrit harus gmn?

    BalasHapus
  3. Nggak segitunya seh yg diriku maksud, tapi yaa....klw posting masalah ormas mbok yao seadil mingkin dari seluruh sudut pandang, ok lah cerita mas Togi bukan karangan fiktif dan banyak juga orang2 MU yg kayak gitu. Tapi......klw yg sampean gambarkan sekedar cerita diatas kan bisa jadi menyakiti hati2 makhluk2-Nya yg berormas MU atau sebaliknya.........peace.......!

    BalasHapus
  4. Assalamu 'alaikum
    Penceramah seperti yang bung Togie bilang juga ada di Nahdliyin (NU), sama saja. Saya sendiri yang ikut Nahdliyin, sering kali pula jengkel dengan statemen penceramah tersebut. Tapi ya sudahlah, yang penting kita ndak usah ikut-ikut memecah belah umat seperti yang para penceramah itu lakukan.

    BalasHapus
  5. Soalnya daku kl shalat atawa ngaji di mushalla muhammadiyah yang saat ini lagi gak bisa digunakan gara-gara direnovasi tapi belum jadi-jadi akibat alasan klasik, kurang dana. Jadi info, pengalaman, atau peristiwa yang bisa daku tulis ya cuma yang daku dapet di mushalla itu

    Pernah juga di mushalla (bahkan masjid) NU. Tapi daku gak pernah denger kyai atau khatibnya menyalah-nyalahkan pihak muhammadiyah. Paling kalau pernah juga sekali, waktu beliau bilang kuburan muhammadiyah tidak terawat. Tapi itu memang bener, soalnya disana tidak ada pengurus makamnya.

    Mungkin nanti, kl daku gabung2 lagi di masjid NU dan nemuin salah-salahan juga, akan daku tulis disini. Walau mungkin pula, pak kyainya gak bisa ngotot. Sebab beliau adalah teman kakek daku sejak kecil dimana, dulu, bahkan waktu daku nebangin pohon pisang punya pak kyai atau nyabutin ubi yang beliau tanam, beliau gak berani memarahi.

    BalasHapus
  6. Iya juga sih. Daku juga niatnya cuma klarifikasi, bukan memecah belah
    Sebab sejak saat itu si penceramah gak pernah dateng lagi ke mushalla. Kalaupun dateng paling ya nanti, kl mushallanya dah jadi dan bisa dipake. Jadi daku gak bisa nanya atau minta penjelasan kepada beliau

    Untuk NU VS MUHAMMADIYAH

    Daku tidak setuju dengan tahlilannya NU tapi juga tidak berpatok pada hisab muhammadiyah. Jadi, termasuknya masuk mana ya...?

    Entah. Yang jelas daku muslim

    BalasHapus
  7. Setujuh..
    Bang nadzir emang keren euy..

    BalasHapus
  8. Kok sementara.......jadi tidak menutup kemungkinan nanti ada permasalahan yang kita tidak bisa lari secara pragmatis dan tidak bisa tidak peduli dengan lembaga2 dakwah kan..............

    BalasHapus
  9. Yah.........moga2 aja MU/NU/PS [Persis] dan ormas2 lain bukanlah termasuk yang disindir nabi sebagai sekian tujuh puluh golongan yang NDOLALLLLL....................

    BalasHapus
  10. Mas Togi yang baik, kebenaran itu bisa dilacak. mas coba cari di al Quran, terus coba cari di as Sunnah, baru cari di pendapatnya para salaf (sahabat, tabiin, tabiut tabiin). Begitulah metode memahami islam yang haq.

    yang penting nggak taklid.

    imam ahmad bin hambal itu muridnya imam syafi'i tapi banyak banget pendapat imam ahmad yang berseberangan dengan imam syafi'i. Ah, saya kagum dengan ulama-ulama salaf itu semoga mereka dirahmati Allah.

    BalasHapus
  11. hahaha saya kok setuju sama harapan ini. yeah hati-hati dengan ashobiyah. dunia ini hanya sarana untuk menggapai ridonya dengan harapan bisa jadi salah satu penghuni surga, semestinya kita menempatkan NU, MU, Persis, PKS, HT, dll hanya sebagai kendaraan bukan tujuan.

    BalasHapus
  12. Golongan, lembaga, organisasi, atau partai itu sih sama nggak..?

    BalasHapus
  13. Insya Allah bang..
    Soal tahlilan, daku udah melacak dalilnya.
    Soal hisab, dah pernah dapet selebaran dari PP Muhammadiyah. Tapi, menurut daku, masih lebih kuat dalil ttg rukyat

    BalasHapus
  14. Siip...
    Sebab setahu daku, ada yg seolah-olah menempatkannya sebagai tujuan. Bukan sekedar kendaraan

    BalasHapus
  15. ha..ha... dari dulu ga abis2 ni NU vs Muhammadiyah! Seperti ucapan seorang saudaraku "kok kamu ikutnya NU? Muhammadiyah dong!" Padahal saya ga pernah minta ke dia untuk ikut ke NU! Pernah juga temen bilang "kok kamu pilih partai itu si? PKS dong (loh kok anak PKS maksa si)!" he..he.. setidaknya biar saya di NU tapi tidak taqlid buta sahaja! karena kita dianugerahi pikiran dan logika... :)

    BalasHapus
  16. siip..
    intinya, jangan bertaklid
    intinya, klarifikasi

    BalasHapus
  17. nu p muhamadiah puuziing neah, mana dapet calon suami muhamadyah neah ehhmmmm

    BalasHapus
  18. yaa, kalo perbedaan gak bisa disatukan, lebih baik dicari persamaannya saja...

    BalasHapus