Selasa, 01 April 2008

Orang gila, orang sakti, dan motor vespa

 

 

Semalam, pertigaan di samping rumah penuh sesak oleh bermacam orang. Pria, wanita, tua, muda, jomblo, maupun yang sudah menikah. Hanya sedikit yang bisa membuat mereka berkumpul di satu tempat dalam waktu yang sama. Dan seringnya, hal tersebut amat tidak biasa. Entah gara-gara ada yang berkelahi, ditinggal minggat oleh suami, tabrakan sepeda motor, atau orang mati. Itulah sebabnya seorang mahasiswa kurus ikut mengeluarkan tubuhnya dan menggabungkan diri. Dia ingin tahu apa yang telah terjadi

 

"Tadi ada orang naik motor"

 

Seorang jomblo memberi laporan

 

"Tapi motornya gak nyala."

 

Dia melanjutkan laporannya.

 

"Orangnya stess Gie, belum lama keluar dari rumah sakit jiwa. Dulu dia orang sakti. Jadi gila gara-gara kebanyakan ilmu. Dia pernah memakan gelas dan gelas tersebut, walau tadinya sudah dipecah-pecah, tapi bisa dikeluarkan lagi dalam bentuk utuh. Gak ada bekas pecahnya. Seolah-olah didalam perutnya ada lem. Artinya, biarpun gila, dia tetap sakti."

 

"Seharusnya orang seperti itu dirawat di rumah sakit jiwa. Tapi disana dia cuma disetrum, gak diobati. Dia pernah ngamuk dan menggoncang-goncangkan teralis besi, teralisnya sampai bengkok. Para perawat menyetrum teralis itu. Dia mental. Jatuh terkapar. Lalu diikat agar tidak menggoncang-goncangkan teralis lagi. Ternyata orang sakti pun masih kalah oleh setrum. Buktinya, akibat terlalu sering disetrum, sekarang rambutnya jadi botak. Untung dah tumbuh lagi, ada beberapa helai."

 

"Pernah pula dipanggilkan orang pintar sampai tiga kali. Orang pintarnya diajak adu sakti. Orang pintarnya kalah. Katanya, hanya satu orang yang berani menghadapi dia. Tapi orang itu gak bisa mengobati. Makanya dia gak sembuh-sembuh."

 

"Kemaren dia juga kambuh. Sepuluh orang berusaha menenangkan amukannya, semua dimentalkan dengan mudah. Jari telunjuk ibunya digigit sampai putus, pundak istrinya digigit sampai krowak. Untung di hari biasa gilanya gak kebangetan. Paling-paling ngambek sehabis makan. Gelas, piring dan sendok yang selesai digunakan selalu dibanting dan diinjak-injak. Dianggap barang najis yang harus dilenyapkan dari muka bumi. Tapi terkadang kambuhnya bikin rugi. Gara-gara sudah tidak bisa mengguncang-guncangkan teralis besi rumah sakit, dia jadi hobi mengguncang-guncang kulkas. Sekarang kulkasnya rusak, mati, gak mau nyala. Dia terlalu kuat Gie. Makanya kalau lewat sini lagi, lebih baik kita langsung sembunyi, mbok dia marah lalu mengamuk."

 

“Ck, kasihan. Padahal dulu dia alim. Rajin shalat dan puasa, pintar mengaji.”

 

Si Jomblo menceritakan semuanya sambil menatap kosong pada ujung jalan yang dipenuhi gelap. Mahasiswa kurus mengikuti arah tatap mata Si Jomblo.

 

"Pssstt"

 

Tiba-tiba dia menaruh telunjuknya di ujung hidung, telunjuk satunya terarah pada sesosok manusia yang sedang menuntun motor

 

"Itu orangnya Gie. Kita ngumpet yuk..!!"

 

Si Jomblo bergegas menuju warung, orang-orang menyingkir menyembunyikan diri. Ibu-ibu masuk kedalam rumah lalu mengintip dari balik jendela. Seorang suami bergegas pulang untuk memperingatkan istrinya. Para jomblo berpencar. Ada yang ngumpet di balik pohon, dibalik pagar, dimana saja. Tiga orang bapak masih duduk tenang. Mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap si orang gila. Hanya sang mahasiswa yang konsisten menempatkan tubuh ringkihnya di pinggir jalan, menatap sesosok manusia yang menuntun motor sambil menundukkan kepala. Bukannya meremehkan, menganggap rendah atau menghina. Mahasiswa itu cuma ingin tahu wajah si orang gila. Agar di kemudian hari, saat bertemu orang tersebut, dia bisa menempatkan diri dengan baik. Tidak berbuat sesuatu yang bisa membuat orang sakti itu tersinggung. Bisa bahaya.

 

"Gie.."

 

Si Jomblo menganggap sang mahasiswa sok berani, padahal pada kenyataannya tidak seperti itu. Sang mahasiswa memang betul-betul berani, tidak sok. Kalau toh nanti orang gila itu mengamuk, sang mahasiswa tinggal menggunakan ilmu tertinggi yang berhasil dia capai saat belajar bela diri, yaitu Ilmu Kabur. Belasan tahun berteman dengan Tarmo berarti belasan tahun pula dia berlatih untuk kabur. Dia berlatih kabur dari segalanya. Terutama kabur dari masalah, dari kewajiban dan tanggung-jawab. Dia sukses besar dalam latihannya. Karena itu dia yakin bahwa kali ini dia bisa kabur juga. Sebab lari dari tanggung jawab jauh lebih sulit daripada kabur dari amukan orang gila, yang sakti sekalipun.

 

Orang gila itu melewati kerumunan, mengacuhkan segalanya. Dia tetap menuntun motor sambil menundukkan kepala. Dia berjalan pelan. Amat pelan. Hingga lama-lama jauh meninggalkan kerumunan.

 

“Bro, dia orang mana..?”

 

Sang mahasiswa bertanya pada si jomblo yang sudah keluar dari tempat persembunyiannya.

 

“Kampung sini juga. Tapi rumahnya jauh di pedalaman sana. Dilihat dari interval waktu, berarti dia telah menuntun motor sampai sebelahnya kampung sebelah. Entah berapa belas kilometer. Memang kenapa Gie..?”

 

“Gak papa”. Jawab sang mahasiswa. Padahal ketika itu ada selubung gelap melapisi hatinya. Dia teringat pada kejadian beberapa malam sebelumnya. Ketika nyaris pingsan setelah menuntun motor vespa dari terminal Purwokerto sampai rumah. Saat seluruh keluarga menyarankan untuk menjual vespa kesayangannya. Saat dia harus memohon penuh adegan dramatis agar vespa itu tidak jadi dijual. Hingga akhirnya, sebagai penutup cerita ini, sang mahasiswa bergumam :

 

“Ah, andai yang dituntun adalah motor vespa, tentu dia takkan bisa melangkah jauh sampai kemari. Tentu dia sudah pingsan duluan saat melintasi tanjakan. Bukankah bagi orang sakti, menuntun vespa tetap merupakan siksaan..?”

 

 

Purwokerto, maret 08

Setelah hampir pingsan kecapekan gara-gara menuntun vespa

Jumat, 07 Maret 2008

Tips menghilangkan duka

Mungkin anda merasa tertekan saat harus membuat alasan. Terutama ketika ditanya tentang kekurangan yang anda miliki. Misalnya saat tidak punya uang sehingga harus makan singkong yang didapat dari kebun tetangga tetapi tiba-tiba ada teman bertanya "Kok makan siangnya cuma singkong..?". Atau saat putus dengan pacar dan malam minggu anda ditanya "Kok nggak ngapel mas..?". Mungkin anda merasa sedih, mangkel, bahkan marah. Tapi jangan khawatir, ada cara efektif untuk mengatasi hal ini.

Jika anda tidak ingin atau tidak bisa mengungkapkan alasan yang logis, salah satu solusinya adalah dengan memberikan alasan yang tidak masuk akal. Dengan begini, biasanya si penanya akan bertekuk lutut dan tidak berani bertanya-tanya lagi.

Dulu, saat baru datang ke warnet teknik setelah melewati guyuran hujan, dinginnya malam, dan basahnya baju yang bikin gatal, saya ditanya oleh operator warnet : "Mas, darimana..? Kok hujan-hujanan..?". Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada beratnya perjalanan yang baru di tempuh. Maka agar tidak sedih saya jawab :"Baru muter-muter keliling kota. Siapa tahu ketemu dengan mereka yang butuh bantuan. Bukankah kita harus saling membantu..?". Dan operator warnet langsung diam.

Saat duit di kantong tinggal beberapa ratus perak sedangkan saya harus mencari materi kuliah di warnet teknik yang tarifnya seribu perak per jam, saya ditanya: "Ck, mahasiswa kok hobinya ke warnet, apa tidak ada kegiatan lain..?". Padahal sebenarnya saat itu saya pergi ke warnet dengan terpaksa karena tidak rela kehilangan uang receh tercinta di kantong celana. Sedih. Makanya, dengan pura-pura bangga saya tanggapi dengan : "Daku mau ngabisin receh di kantong celana. Daku alergi receh. Kalo pegang receh sebentar saja, badan daku bisa gatal. Makanya, kalau nanti sampai rumah, celana yang daku pakai harus segera dicuci biar alerginya hilang. Kalau tidak, pantat daku bisa bengkak kemerah-merahan"

Atau saat operator warnet tiba-tiba mampir ke komputer yang saya tempati. Saat itu diatas meja ada uang receh seribu perak dan di kantong celana seribu limaratus. Dengan spontan dia berkata : "Wuih, mas Togie keren, lagi banyak duit ya..?". Dan sebagai bentuk pelampiasan, saat selesai online, sambil mengeluarkan uang receh saya berkata : " Yo'i, daku emang lagi banyak duit. Nih ada lima belas keping (pecahan seratus perak, dua ratus dan lima ratusan). Sebenarnya kalo ditukar dengan uang limapuluhan bisa lebih banyak lagi. Ada tiga puluh keping lebih. Tapi ah, daku lagi pingin hidup sederhana. Yang duitnya pas-pasan saja”.

Saat zuni menghina buruknya jalan di kampung saya. Yang aspalnya sudah bolong-bolong dan susah dilewati, yang warganya tidak mau patungan untuk memperbaiki jalan, yang saya tidak bisa memacu motor kalau bangun kesiangan, dan saya tidak punya alasan logis apapun sebagai jawaban dimana saya tidak kehilangan muka oleh jawaban tersebut, tiba-tiba muncul jawaban jenius di otak saya : "Jalan disini memang sengaja dibuat berlubang zun, biar kendaraan yang lewat gak bisa ngebut. Kamu tau sendiri kalau disini banyak anak kecil, bisa bahaya kalau para pengendara memacu motor semaunya. Karena itulah, andai pun pemerintah memberi bantuan untuk pengaspalan jalan, mungkin warga tidak pada mau. Sebab mereka lebih mementingkan keselamatan anak-anaknya dibanding kelancaran transportasi".

Terakhir, saat si jutek dengan kejamnya menghina status saya sebagai mahasiswa teknik yang belum bekerja. Yang walaupun kadang mendapat uang alakadarnya dari kerja sambilan tapi dia dengan kukuhnya tetap menganggap bahwa saya belum bekerja. Tidak bisa dibandingkan dengan dia yang sudah berstatus sebagai seorang guru honorer di sebuah SMP swasta. Dan sialnya, kakaknya (yang sama-sama guru) ikut-ikutan memojokkan saya. Akhirnya saya pun harus mengeluarkan jurus terakhir yang tersisa : "Daku belum bekerja karena bingung. Terlalu banyak yang menawari pekerjaan, padahal daku tidak bisa menerima semuanya. Bila daku menerima salah satu dan menolak yang lain, pasti yang daku tolak merasa sedih. Daku tidak mau membuat orang lain sedih. Makanya untuk menghindari hal tersebut, daku tolak semuanya saja. Daku hebat ya..? Hahaha" Dan sang kakak pun ngeloyor pergi meninggalkan ruang tamu.

Begitulah, bahkan si pipin yang cuek itupun kerapkali harus geleng-geleng kepala demi mendengarkan jawaban saya. Apalagi si Tarmo. Dia tergolek lemas tak berdaya.


Antara aku, kau, kenthong, dan maling


“Gie, aku pulang dulu”

“Ya, hati-hati”

Ah, Tarmo. Lagi-lagi, kali ini, aku bisa nonton kentong dengan aman berkat dia. Tadi, beberapa pemabuk memalak para penonton, bergiliran, satu persatu. Mirip kondektur  meminta karcis pada penumpang kereta api. Untunglah, ketika tiba giliranku, mereka melihat tatap sangarnya Tarmo dulu. Untungnya pula, entah karena takut atau apa, mereka tersenyum aneh pada kami, melewati kami, lalu kembali meminta uang pada orang yang duduk disebelah kami. Alhamdulillah, uangku utuh. Hingga akhirnya, setelah mengantar tarmo sampai pertigaan, uang itu bisa kugunakan untuk ke warnet.

“Gie..”
Beberapa hari kemudian, di hutan bambu, Tarmo bercerita

“Kemaren, dari pertigaan, aku langsung pulang kerumah. Saat itu gelap, ada hujan rintik-rintik.”
 
Ah, prolog yang puitis. Bila ada prolog seperti ini, pasti dia akan bercerita tentang hal yang tidak biasa.

“Anehnya warung sayur punyaku juga ikut gelap. Padahal setiap malam lampunya pasti kunyalakan. Kamu kan tahu sendiri, kalau aku mengetuk pintu rumah jam segitu, ibuku bisa marah. Makanya aku lebih suka tidur di warung, sekalian nungguin sayur atau ikan asin.”

Yup, benar dugaanku. Ceritanya tidak biasa

“Tapi biarpun gelap, samar-samar aku bisa melihat ada tiga orang di depan warung. Yang satu berjaga-jaga sambil tengok kiri-kanan, yang dua lagi sedang mencongkel pintu. Aku yakin bahwa mereka maling. Mereka mematikan lampu agar bisa beraksi dalam gelap.”

Tuh.., tidak biasa kan..?

“Aku takut Gie. Aku gak bawa senjata apa-apa. Tapi aku memberanikan diri. Kudekati mereka, selangkah demi selangkah, makin lama makin dekat hingga bisa kulihat mereka dengan lebih jelas. Mereka pun bisa melihatku. Mereka kaget Gie. Makanya mereka langsung aku bentak : Hei, lagi apa ya..?”

Wah, keberanian yang patut dipuji

“Sayangnya, mereka hanya kaget sebentar. Sesaat setelah itu, orang yang tadi berjaga langsung mengeluarkan golok. Goloknya bisa kulihat jelas Gie, sebab jarak antara kami hanya beberapa meter. Dua orang sisanya ikut mengeluarkan golok. Aku takut. Bulu kudukku merinding. Aku berani berkelahi tangan kosong, dengan siapapun, dengan musuh sebanyak apapun. Tapi lain halnya kalau melawan orang bersenjata. Resikonya fatal”

Lho.., kok..?

“Saking takutnya, aku tak bisa lagi berpikir. Aku tak tahu harus berbuat apa. Sedangkan tampaknya mereka sudah nekat, kepalang tanggung, tak ingin ada saksi. Mereka mengejarku sambil mengacung-acungkan golok. Aku langsung lari. Aku gak ingat kalau saat itu aku bisa berteriak minta tolong. Aku tak ingat apa-apa. Yang ada dikepalaku cuma satu hal : Lari secepatnya, mbok mati dibacok”

Lalu..?

“Seharusnya aku lari ke pos ronda sebab disana pasti banyak orang, disana aku bisa minta tolong. Tapi aku sedang tidak bisa berpikir. Aku tak tahu sedang lari kemana. Pokoknya, aku lari secepat-cepatnya, tak mempedulikan arah. Aku tak sempat menengok kebelakang. Tahu-tahu, aku sudah sampai di depan rumahmu, dan mereka tidak lagi mengejarku.”

Terus..?

“Aku gak berani pulang Gie. Sampai pagi.”

“Bentar Mo.., tunggu sebentar”
Akhirnya aku angkat bicara

“Kenapa larinya kerumahku..? Kenapa gak ketempat lain..? Lagipula aku udah bilang mau pergi kewarnet, jadi aku jelas gak ada dirumah. Kalau toh ada, memangnya aku bisa apa..? Kalau sempet berteriak sih aku bisa membantu kamu teriakan kamu. Tapi coba pikir, gimana kalo seandainya sebelum berteriak mereka sudah main bacok duluan..? Apa gak repot..? Apa kamu mau ngajak aku mati bareng..? Gitu Mo..?”

Aneh, pikirku. Tapi kemudian aku berpikir lebih jauh lagi
“Kalau jarak kalian hanya beberapa meter, kalau kamu bisa melihat senjata mereka, berarti kamu bisa melihat wajah mereka juga. Kamu gak bilang kalau mereka pake topeng kan..? Mereka siapa Mo..? Anak mana..?”

Tarmo langsung diam. Tak mau memberitahuku. Yah, bisa aku maklumi. Tetangganya Tarmo juga ada yang pernah memergoki maling tapi malingnya bukannya takut, malah menghampiri si pemergok. Dia diancam akan dibunuh bila membocorkan identitas si maling. Dia pernah bercerita kepada kami. Dan ekspresi yang dia tunjukkan saat itu sama persis seperti ekspresinya Tarmo saat ini.

“Gie”

Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi berusaha untuk memendamnya. Aku tahu, bila ada orang yang Tarmo takuti, berarti orang itu memang pantas ditakuti, bukan orang biasa.

“Sudahlah Mo, sabar aja. Yang penting kamu selamat, tidak kenapa-napa”

Benar, tak apa. Aku tak ingin Tarmo membahayakan diri. Aku tak ingin kehilangan Tarmo. Seperti yang aku bilang, malingnya pasti bukan maling biasa. Di kampung ini, tak ada seorangpun yang Tarmo takuti. Berarti malingnya orang kampung mana..? Siapa yang bisa membuat Tarmo setakut itu..? Entahlah. Yang penting dia selamat. Sementara itu, cukup.


Pic : Togie & Tarmo

Rabu, 05 Maret 2008

Sabar, Pasrah, ikhlas didzalimi. Itulah kami


Sekedar unek-unek
Untuk meringankan beban emosi
Yang menumpuk di kepala


Hutan Bambu, jam 12 Siang
Daku datang di acara pernikahan teman, Tarmo juga disitu. Daku diminta menjadi manggoloyudo (atau apalah namanya), didandani bak pangeran keraton. Dikasih bedak, lipstik & pemerah pipi. Daku menolak. Entah apa alasannya tapi seolah ada suara yang menyuruh untuk menolak tawaran tersebut.
Adzan berkumandang, Tarmo pamit pulang, begitu pula daku

Kamar Sunyi, 12.45
Hp berbunyi, seorang teman menelpon dari kampus. Katanya hari ini KRS harus sudah dikumpulkan. Daku kaget, minta uang ke mama, mengambil KRS kosong lalu ngeloyor menuju kampus.

Kampus Teknik 13.00
Benar juga, kampus sudah dipenuhi ratusan mahasiswa. Wajah mereka seperti kambing dicium gorila, kulit wajah memerah, raut muka cemas, duduk pun tak tenang. Daku mahfum sebab kondisi daku juga sama.

Sejarah
Sejak libur akademik, loket BAPENDIK tak pernah dibuka. Kami tak bisa mengambil KRS, mengumpulkan KHS, atau bertanya apapun. Kemarin, pipin dari kampus, KHS juga belum keluar. Akhirnya daku berpikir, mungkin KHS baru keluar hari sabtu atau senin. Dan KRS dikumpulkan hari selanjutnya. Karena itu daku memberanikan diri datang di resepsi pernikahan teman. Mungkin mahasiswa lain pun punya rencana selain menanti ketidak-jelasan bapendik. Itu juga sebabnya kenapa kami panik begitu mendengar pengumuman bahwa semua administrasi akademik harus dituntaskan hari ini. Dalam waktu beberapa jam ini.

Permasalahan
Lalu daku berpikir, untung tadi ada teman baik hati yang mengabari lewat HP. Tapi bagaimana dengan mahasiswa yang tidak dikabari..? Padahal kata bapendik, bila hari ini KRS belum di clearkan, maka mahasiswa tersebut dianggap tidak mengikuti semua mata kuliah.

Penyebab
Selalu, dari dulu sampai sekarang, penyebabnya adalah kelalaian mahasiswa. Walaupun sejak minggu kemarin kami rajin ke kampus, menunggu loket buka, menunggu adanya staf bapendik yang bisa kami tanyai, lalu harus menghadapi fakta bahwa loket mereka selalu ditutup, tetap kami yang salah. Biarpun ketidak-tahuan ini disebabkan oleh ketidak-becusan kerja mereka, harus kami yang salah

Benar begitu..?
Ya, banyak mahasiswa yang beradu mulut dengan bapendik (untung bukan adu bibir). Perkaranya biasa, masalah jadwal yang bentrok, mata kuliah yang ada di jadwal tapi tidak ada di KRS online, website akademik yang tidak bisa diakses, nilai yang tidak keluar, KHS yang salah, dan beribu kesemrawutan lain. Tapi, sehebat apapun mahasiswa memaparkan argumennya, mahasiswa tetap salah, bapendik benar

Lalu..?
Akhirnya beginilah, kami hanya bisa menggerutu. Sedari dulu, sejak kampus ini didirikan, masalah yang kami hadapi selalu sama, bahkan makin bertambah. Kami sudah protes, mengajukan keluhan, memberikan solusi dan saran, tapi tak pernah ditanggapi. Bapendik tetap hanyut dalam ketidak-becusannya sendiri.

Kata Penutup
Sabar, Pasrah, harus ikhlas didzalimi. Itulah kami

Rabu, 27 Februari 2008

Prasasti Pagi : NU VS Muhammadiyah VS Gadis Manis dari RT Sebelah

Usai subuh kami terduduk di teras mushalla. Pak ustadz menyuruh kami masuk mendengarkan ceramah, tapi aku (beserta tiga orang bapak) memilih untuk tetap di teras saja. Sebab kami tidak tahan panas. Mudah berkeringat. Lagipula disini kami jadi bisa mengobrol. Biarpun dengan berbisik-bisik.

Seperti biasa, si penceramah (seorang petinggi muhammadiyah) memulai dengan ucapan salam. Lalu basmallah, lalu alhamdulillah. Setelah itu menjelaskan berbagai hal tentang ibadah dan bid'ah. Dari sini, kami, para penghuni teras bisa menebak bahwa beliau pasti melanjutkan ceramahnya dengan salah-salahan. Menyalahkan organisasi lain.

"Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah. Dzikir HARUS diucapkan dengan lirih. Rasulullah SELALU menangis bila menyebut nama Allah. Jangan berdzikir keras-keras seperti yang ditayangkan televisi”

“Muhammadiyah memutuskan bahwa tanggal satu syawal jatuh lebih awal dari NU. Sebab kami menggunakan perhitungan yang teliti. Sekarang adalah jaman modern dimana rukyat sudah tidak relevan lagi. Untuk apa melakukan rukyat kalau bisa menghitung peredaran bulan secara tepat.”

“Warga NU terpatok pada kyai, melakukan taqlid buta, tidak mau mengkritisi kyainya. Padahal kyai bukanlah nabi, mereka hanya orang biasa yang suatu saat bisa salah. Dan jika pendapat mereka salah maka kesalahan tersebut akan menimpa seluruh umat NU.”

“Ingat, para zionis berusaha untuk memecah belah kita. Runtuhnya menara kembar WTC adalah awal dari rencana jahat mereka. Sekarang masjidil aqsa sedang digali, sebuah terowongan dibuat dibawahnya. Kelak terowongan tersebut akan membuat masjidil aqsa runtuh. Rakyat palestina tidak diperbolehkan melaksanakan shalat jum’at. Tapi Negara-negara arab tidak mau membela mereka. Tidak mau mencegah perbuatan para zionis yang ingin meruntuhkan masjidil aqsa. Itu adalah tanda bahwa Negara arab sudah berada dibawah kontrol zionis. Mereka berhasil dipecah-belah. Jangan sampai hal itu juga menimpa kita.”

Entah apalagi yang beliau katakan. Aku tak berminat mendengarnya. Aku lebih suka mendengar obrolan para bapak. Sebab mereka membahas hal yang lebih bermakna. Tentang pekerjaan, sulitnya ekonomi, iuran sekolah anak yang melambung tinggi, irigasi sawah yang dimonopoli petani kaya, atau apapun. Ingin rasanya aku menyanggah si penceramah. Meminta beliau berhenti menyalah-nyalahkan. Apalagi, menurutku, beliau menyalahkan pihak lain padahal beliaunya sendiri juga salah.

Begini, dzikir tidak WAJIB dilakukan dengan lirih. Dzikir artinya mengingat Allah. Dalam hati atau lewat ucapan. Lirih atau keras. Pekikan Allahu Akbar ketika berperang bisa disebut sebagai dzikir. Rasulullah TIDAK SELALU menangis bila menyebut nama Allah. Coba sebutkan dalilnya. Silahkan menyalahkan dzikir yang dilakukan oleh ustadz arifin ilham atau umat NU asalkan dalilnya kuat.

Yang menentukan benar-tidaknya hisab adalah munculnya bulan. Bila setelah dihitung (seteliti apapun perhitungan tersebut) tapi ternyata hilal belum muncul, maka perhitungan tersebut tidaklah tepat. Sudah ada teropong super canggih yang bisa digunakan untuk melihat bulan. Jauh lebih modern daripada hitung-hitungan.

Aku sering bertanya pada pak ustadz, pengurus muhammadiyah, atau siapapun tentang tanggal satu syawal lalu mereka menjawab bahwa itu hasil hisab. Tapi saat ditanya lebih jauh tentang metodologi hisab, mereka tidak tahu. Akhirnya, saat sudah tidak bisa memberi jawaban lagi, mereka berkata bahwa : “Itulah yang diputuskan oleh organisasi”. Lihat, bukankah ini bisa disebut sebagai taqlid juga..? Kenapa mereka melarang kita bertaqlid pada kyai tapi menganjurkan bertaqlid pada organisasi..?

Satu lagi. Mari setuju bahwa aktivitas ngaco para zionis harus dihentikan. Tapi aku heran terhadap si penceramah. Beliau menganjurkan agar jangan mau di adu-domba tetapi beliau sendiri mengadu-domba kita.

Itulah sebabnya kami lebih suka menempati teras mushalla. Sebab dari luar, kami masih bisa mendengarkan isi ceramah, bisa merokok, mengobrol dengan berbisik-bisik. Dan yang paling penting, bila kebetulan tidak setuju dengan isi ceramah, kami bisa mengacuhkannya. Menggunakan mulut dan telinga kami untuk membahas hal yang lebih berguna. Entah tentang pekerjaan, keluarga, anak, istri, maupun rencana merenovasi mushalla.

Menurutku tindakan si penceramah tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku takut para jamaah bertaqlid pada beliau. Aku harus meminta penjelasan disertai dalil-dalilnya. Agar diketahui siapa yang salah diantara kami. Sayang, begitu ceramah usai, sebelum aku sempat beranjak dari duduk, beliau sudah berpamitan lalu memacu sepeda motornya. Membuatku harus meminta jawaban pada pak ustadz dimana beliau bilang tidak tahu. Lalu bertanya pada Tarmo yang mana.., dia.., seperti biasa.., membela mati-matian apa yang difatwakan muhammadiyah. Tak peduli fatwa tersebut benar atau salah.



Beberapa menit kemudian.., di depan rumah..
Tarmo sudah pulang, dia ingin melanjutan tidurnya sampai siang. Dia tidak mau menjawab pertanyaanku sebab menurutnya, pertanyaan apapun, selama tidak sejalan dengan prinsip oganisasi adalah pertanyaan yang salah. Tidak perlu dijawab.

Gelap mulai memudar seiring terangnya sinar mentari. Aku masih duduk di sebongkah batu di depan rumah. Aku tidak puas. Aku bosan mendengar prosesi salah-salahan. Aku tak bisa berhenti nggerundel bila belum mendapat penjelasan. Tapi.., harus meminta penjelasan kepada siapa..?



Setelah itu

“Lho.., mas..? Kok sendirian..? Tarmo mana..? Daripada bengong, kita jalan-jalan yuk..!! Bareng sama temen-temen”

Tiba-tiba si gadis manis dari RT sebelah muncul. Seperti biasa, dia menyapaku sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya, dia mengucapkan kalimat panjang, bukan sekedar “Hai..” Untung Tarmo pulang, untung aku ditinggal sendiri, untung aku merenung di depan rumah.

“Hehe.., ayuk. Tapi aku ambil mercon dulu ya..”

“Tidak perlu mas. Kemaren aku dah beli banyak banget. Nih..!!”


Bagai embun di pagi hari, pelita di malam hari, teh manis dikala sore. Gerundelanku hilang, berganti dengan kesejukan hati. Tadi aku tidak puas terhadap apa..? Siapa menyalahkan siapa..? Organisasi yang mana..? Entahlah. Peduli amat.



Usai subuh, kita berjalan meniti pagi
Hanyut di jalan aspal, nyangkut di tegalan sawah
Lalu terdampar di negeri sunyi

Lusinan kata terangkai jadi sebait mimpi
Merah mentari tersiram di kanvas imaji
Desir angin kita tampung dalam botol waktu
Dan celoteh burung kita rekam di sekeping angan

Pada prasasti pagi, kita tulis kisah ini
Antara aku, kau, mentari, dan belasan mercon

Ramadhan, 2007


Selasa, 26 Februari 2008

Jin yang aneh

 

Malam ini daku duduk ditengah ruangan, dikelilingi oleh empat pemuda berusia dua puluhan plus adik daku (masih 17 tahun). Para pemuda itu ingin menjajal kesaktian batu bertuah yang konon bisa membuat kita tidak mempan ditembak.

Sebenarnya, batu tersebut hanya batu biasa, bukan terbuat dari bahan istimewa. Namun konon, batu tersebut sakti karena ada Jin yang menghuni di dalamnya. Itulah alasan kenapa saat ini, detik ini, daku duduk ditengah-tengah mereka. Daku ingin adu ngeyel dengan sang jin penunggu batu.

Islam mengajarkan bahwa kita harus membatasi interaksi dengan Jin sebab kita tidak bisa memastikan benar-tidaknya kata-kata si Jin. Banyak yang mengaku sebagai arwah orang mati, roh ini, penguasa itu, tapi setelah diminta memberikan bukti, mereka tidak mampu. Banyak pula yang mengaku beragama islam akan tetapi setelah diberi penjelasan bahwa mereka tidak boleh merasuki manusia, mereka marah lalu main ancam. Kehilangan nuansa islamnya.

Daku geram dengan Jin-jin semacam itu. Yang sukanya mengaku-aku, membual, mengobral kata, membohongi umat manusia. Daku menunggu saat dimana bisa melabrak mereka. Mematahkan argumen ngaco mereka, lalu membuktikan bahwa kata-kata Jin tidak boleh langsung dipercaya. Banyak yang mengagung-agungkan kaum Jin. Menganggap Jin lebih hebat dari manusia. Orang semacam itu biasanya tetap ngeyel biarpun diberi penjelasan berupa dalil. Mereka hanya bisa ditakhlukkan oleh bukti. Menurut daku, ini adalah saat yang tepat untuk memberi mereka bukti.

Oleh para pemuda, si jin diminta merasuki seseorang diantara kami. Dan dari wangsit yang mereka terima, hanya satu orang yang diinginkan oleh si jin. Orang tersebut berwajah purnama, bermata kaca, bertubuh penuh cahaya, namun dompetnya tipis. Ya benar, tidak salah lagi, orang itu adalah daku. Mereka meminta kesediaan daku yang sedang teringat pada surat An Nas.

  1. Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia
  2. Raja manusia
  3. Sembahan manusia
  4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi
  5. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia
  6. Dari (golongan) jin dan manusia.

Berhubung yang dikatakan oleh Alquran pasti benar maka daku mengiyakan permintaan tersebut. Sebab daku yakin, bila berlindung sepenuhnya kepada Allah, pasrah kepada sang pemelihara dan penguasa kita, raja kita, sesembahan kita, si Jin tidak bisa merasuki tubuh kita. Karena islam melarang kita (jin dan manusia ini) saling rasuk-merasuki.

Singkat cerita, daku duduk di tengah dan salah seorang pemuda berkomat-kamit sambil konsentrasi memanggil jin penunggu batu. Perlahan tangannya mengejang, mengejang, semakin mengejang, hingga lama-lama tubuhnya bergetar hebat. Daku tetap duduk diam. Hati daku berkata : “Peduli amat”

Disinilah masalahnya. Saat itu, melihat tubuh temannya bergetar makin hebat, salah seorang pemuda berteriak

"Lepas mas.., lepas..!!"

Daku bingung, apa yang harus dilepas..? Baju..? Celana..?

Lalu

Duaarr...!!!

Si pemuda jatuh ke belakang, lalu bangkit. Ada yang aneh, dia seperti bukan pemuda yang tadi. Sebab tangannya tiba-tiba bergerak-gerak seperti sedang menari, mirip wayang orang.

"Ono Opo..??"
(Ada apa..?)

Dia bertanya dengan suara serak berwibawa. Seperti kata daku, mirip wayang orang.

"Assalamu'alaikum mbah" Sapa salah seorang pemuda

"Wa'alaikum salam. Sopo iku..? Sopo..? GRRRHHH..!!"
(Wa’alaikum salam. Siapa itu..? Siapa..? GRRRHHH..!!).

Si mbah marah. Telunjuk kanannya menuding-nuding daku.

"Aku ora sudi. Ora sudi. Wong iku kotor, nganggo anggon-anggon. Kotooorrrr..!! Uculi.., cepet uculi...!!"
(Aku tidak sudi. Tidak sudi. Orang itu kotor, memakai anggon-anggon/pegangan. Kotorrrr..!! Lepas. Cepat lepas…!!)

Glek..!!

Daku tambah bingung. Nganggo anggon-anggon..? Memangnya daku memakai apa..? Apa salahnya memakai baju dan celana..? Bukankah manusia memang harus berpakaian..? Kenapa disuruh melepasnya..? Aneh benar si mbah ini..?

"Mas.., cepat dilepas. Mas pake jimat kan..? Si mbah marah. Sebab jin yang menguni jimatnya berjiwa kotor"

Nah.., kan..? Tambah aneh kan..? Jimat apanya..? Daku gak punya jimat kok..?

"Grrrhh..., Grrhh..!!"

Si mbah menunjuk-nunjuk pinggang daku. Si pemuda mudheng dengan maksud mbah, beda dengan daku yang tetep bingung. Ingin rasanya bertanya pada si mbah, tapi daku takut mbok si mbah marah. Bukan mbah nya yang ditakuti, tapi keributan yang nanti bisa terjadi. Bila marahnya sambil berteriak-teriak, seisi rumah bisa geger. Bahkan para tetangga bisa ikut geger. Berdatangan. Lalu daku disalah-salahkan. Dianggap telah membuat si mbah marah, membuatnya berteriak-teriak dan mengganggu ketenangan warga. Padahal daku bukan orang situ. Ah, andai tadi main rasuk-rasukannya di lapangan saja.

"Mas.., sabuknya dilepas. Itu jimat mas"

What..??

Rona wajah daku berubah, daku melongo. Sabuk..? Jimat..? Kok bisa..?

"Gus.."

Tanya daku pada si bagus sambil melepas sabuk. Dia juga bingung.

"Sabuk ini kamu yang beli kan..? Bukan jimat kan..?"

Bagus menggelengkan kepalanya

"Bukan Gie. Lha wong belinya di toko kok, tujuh ribu limaratusan."

What..??

Rona wajah daku tambah berubah. Tujuh ribu limaratus..? Seorang mahasiswa tampan memakai sabuk yang harganya tujuh ribu limaratus..? Berani-beraninya adik daku membelikan sabuk yang harganya segitu..? Padahal sabuk dia dua kali lebih mahal. Pikirnya dia lebih tampan dari daku apa..?

"Nih mas.."

Daku serahkan sabuk pada si pemuda. Si pemuda menyerahkan pada si mbah. Si mbah memegang sabuk sambil memerankan tokoh wayang orang.

"Hmmm, hmmm.."

Beliau (Akhirnya daku tahu bahwa nama si mbah adalah patih Projosekti yang berhubung berstatus sebagai pejabat maka sesuai etika harus dipanggil dengan sebutan "beliau") menjampi-jampi sabuk daku.

"Iki sabuk wis tak bersihno. Sabuk iki elek, duwe kharisma nggo narik jin-jin sing wateke elek. Mriki, nek purun, sabuk iki arep tak isi kekuatan putih. Sing bersih, sing apik. Nek ora, lewih becik dibuang wae. Hmm.., hmm.."
(Sabuk ini sudah aku bersihkan. Ini sabuk jelek, punya kharisma untuk menarik jin-jin berwatak jelek. Sini, kalau mau, sabuknya aku isi dengan kekuatan putih. Yang bersih, yang baik. Kalau tidak, lebih baik dibuang saja)

"Maksudnya apa mas..?"

Tanya daku pada si pemuda yang tadi menyerahkan sabuk pada si "beliau"

"Sabuk kamu mau diisi dengan kekuatan putih"

"Jin..?" Daku bertanya lagi

"Iya, boleh..?" sambungnya

"Ogah..!!"

Lho..??

Begini. Bukan sok alim, sok pamer atau sok sakti sehingga merasa tidak butuh kekuatan jin. Tapi tanpa harus sakti pun daku memang tidak membutuhkannya. Daku ini manusia, hidup sebagai manusia, mati pun tetep manusia. Sebagai manusia, daku dilarang meminta pertolongan kepada Jin. Dibatasi agar tidak terlalu berinteraksi dengan Jin (kecuali kalau Jinnya mengganggu, harus dihajar, digebuk, dipukuli). Makanya dengan keyakinan penuh, daku menolak tawaran tersebut.

"Kalau begitu sabuknya dibuang saja mas. Mbok nanti dihuni oleh jin jahat"

Tunggu sebentar. Dibuang..? Maksudnya, sabuk yang dibeli oleh adik daku dengan harga tujuh ribu limaratus ini harus dibuang..? Gila apa..? Emang belinya pake daun..? Emang nyari duit itu gampang..? Emang si "beliau" gak tahu betapa susahnya mencari uang..? Kok seenaknya nyuruh sabuk ini dibuang..? Gak bisa. Pokoknya gak bisa. Daku gak rela.

"Nggak papa mas. Lebih baik sabuknya dibiarkan seperti apa adanya. Jangan diisi jin apa-apa, juga jangan dibuang"

"Bener nih..?"

"Bener"

Ya, benar. Tidak apa-apa. Toh selama ini, sabuk itu tidak pernah mengganggu daku. Tapi malah membantu. Disaat daku jarang makan sehingga tubuh makin kurus yang membuat celana daku kedodoran, sabuk itulah yang mengikat erat pinggang daku. Membuat celana daku tetep pas. Jadi menurut logika, si sabuk tidak salah apa-apa.

"Ya sudah.."

Akhirnya, setelah para pemuda mengobrol panjang lebar dengan si "beliau" berkaitan dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi biar batunya bisa bertambah sakti, si "beliau" pun pergi. Tapi terlebih dahulu, dia menyembah cincin yang tergeletak di tanah, milik salah seorang pemuda.

"Putri rengganis, kulo nyuwun pamit. Menawi kulo sempet lepat, kulo nyuwun pangapuraning kanjeng putri"
(Putri Rengganis, aku mohon pamit. Kalau tadi aku salah, mohon kanjeng putrid sudi memaafkan)

Bussshh..!! Pemuda yang tadi dirasuki tersadar kembali. Tubuhnya kecapekan. Nafasnya ngos-ngosan. Lelah, berkeringat.

Di pihak lain, mahasiswa tampan melilitkan sabuk ke pinggang kurusnya. Dia marah, mangkel. Hatinya nggerundel.

Nyuruh mbuang sabuk..? Enak aja. Jin sialan. Gak tahu kondisi perekonomian manusia. Disaat banyak orang kelaparan, dia malah nyuruh daku membuang sabuk..? Awas, nanti kalau ada rasuk-rasukan lagi, daku mau protes pada si "beliau". Daku mau bilang bahwa sabuknya rela tak buang asal "beliau" bisa ngasih ganti rugi. Entah tujuh ribu limaratus atau berapalah. Pake mata uang negeri jin juga gak papa. Nanti tinggal di kurs kan ke rupiah. Biar daku bisa beli sabuk lagi, yang baru.

"Gie.., kenapa..?" Tanya bagus

"Hehe, gak kenapa-napa"

Tiba-tiba daku jadi ragu. Bolehlah nanti para pemuda main rasuk-rasukan lagi. Bolehlah yang diundang si "beliau" lagi. Bolehlah daku diajak ikut nonton permainan mereka lagi. Bolehlah si "beliau" memilih tubuh daku lagi. Boleh pula, agar bisa dirasuki, sabuk ini daku lepas dulu. Tapi masalahnya, kalau saat itu daku tetep yakin pada surat An-Nas, bahwa kita harus berlindung kepada Allah, bahwa main rasuk-rasukan itu tidak boleh, bahwa mengharap bantuan jin itu tidak ada gunanya sebab merasuki tubuh daku saja tidak bisa apalagi kok membuat kita kebal peluru, si jin malah mencari alasan lain.

Bisa saja dia berkata bahwa biarpun tidak menggunakan sabuk tetapi daku masih pake jimat. Lalu dia bilang bahwa celana jeans daku adalah jimat. Baju daku adalah jimat. Jaket daku adalah jimat. Bahkan celana dalam juga jimat. Takutnya, jangan-jangan, nanti si jin berkata :

"Pokoknya mahasiswa tampan ini dikelilingi jimat. Jadi agar bisa kesurupan dia harus telanjang bulat."


Nah, loch..!!!


Minggu, 24 Februari 2008

Hantu, Rumah Kosong dan Judi


Tengah malam

Warung diramaikan oleh segerombol pria. Beberapa orang diantaranya mengoceh riuh sehabis menenggak anggur kolesom. Sisanya, yang menganggap bahwa mabok itu dosa, memilih untuk berjudi saja. Tak berpikir bahwa judi pun sama berdosanya.

Warung tersebut terletak di rumah kosong yang sekian tahun tak dihuni. Ada orang yang menyewa satu ruangan, ruang lain dibiarkan terbengkalai. Bila waktu menginjak pukul dua dinihari, si pemilik warung pulang kerumahnya di hutan bambu, membiarkan para pemabuk dan penjudi beraktifitas di teras rumah. Katanya sekalian untuk menjaga benda-benda berharga di dalamnya.

Seiring detak jarum jam, mereka terhanyut dalam buaian kartu. Mengamati, menghitung, dan memikirkan cara untuk menang agar bisa mengantongi rokok dji-sam-soe yang dijadikan taruhan. Sebab lagi-lagi, kata mereka, berjudi dengan taruhan uang itu dosa, jadi lebih baik taruhannya rokok saja.

Tiba-tiba mereka dirundung sunyi. Mulanya, seseorang mendengar suara tawa wanita, disusul oleh ngikik bayi. Dia menajamkan telinganya, lalu menengok ke ruang kosong yang gelap gulita. Setelah itu, ada lagi yang mendengar dan menengok. Lalu lagi, lagi dan lagi hingga semua orang ikut memalingkan muka. Akhirnya, setelah meyakinkan diri bahwa memang ada suara dari dalam situ maka secara serempak, cepat dan tanpa di komando, mereka lari ketakutan.


Dua jam setelahnya
Seorang bapak (yang tadi ikut berjudi) dan seorang pemuda berwajah purnama, berhati permata, namun berkantong tipis, duduk di tempat yang tadi ditinggalkan. *Si bapak mengeluarkan sebungkus rokok dji-sam-soe. Mereka menyulut dan menghisapnya, lalu mendiskusikan rasa bebek goreng yang baru mereka santap di warung dekat terminal purwokerto. Si bapak berkata bahwa bebek gorengnya empuk dan enak, si pemuda tampan menjawab bahwa biarpun enak tapi sayang, rada berminyak.

Setelah mengambil kata sepakat bahwa apapun rasanya, bebek goreng tetap mahal bagi kantong mereka, obrolan pun beralih pada peristiwa yang tadi terjadi. Si bapak bercerita tentang suara tawa wanita dan ngikik bayi, tentang lingkang-pukangnya para pemabuk dan penjudi (termasuk dia yang ikut-ikutan lari).

Mendengar hal itu, seharusnya si pemuda bersyukur. Sebab secara langsung atau tidak langsung, sengaja atau tidak sengaja, suara tersebut berhasil membubarkan aktifitas manusia kurang kerjaan yang hobi mengisi waktu dengan kegiatan tak berguna. Namun berhubung saat itu otak sang pemuda sedang terganggu gara-gara makan bebek goreng, dia jadi emosi. Kurang lebih, si pemuda berpikir seperti ini :

  • Pertama : Para pemabuk dan penjudi itu salah.
  • Kedua : Namun mereka adalah pria-pria pemberani. Sebab TUHAN pun tidak mereka takuti. Biarpun mabok dan judi adalah perbuatan dosa, kalau dilakukan bisa masuk neraka, tapi mereka tak ambil peduli.
  • Ketiga : Pak RT sudah berkali-kali memberi nasehat tapi tidak diindahkan. Buat apa takut pada pak RT..? Pada Tuhan saja mereka tidak takut..?
  • Keempat : Akhirnya mereka lari saat mendengar suara hantu.
  • Terakhir : Kita boleh bersyukur sebab mereka menghentikan aktifitasnya. Tapi yang tidak bisa diterima adalah, bila Tuhan pun tidak mereka takuti, lalu kenapa harus takut pada hantu..?

Berdasar pemikiran tersebut maka si tampan langsung bangkit dari duduk, maju menghampiri pintu rumah lalu menggebraknya : BRAAK..!!!

Terang saja dia marah. Sebab walau manusia-manusia itu salah, tapi kenapa si hantu, yang biarpun berhasil menghentikan kesalahan tersebut, malah menjerumuskan pelakunya pada hal yang lebih salah lagi. Yaitu membuat mereka takut. Padahal jujur saja, takut pada hantu (atau jin) terkadang menjadi pintu gerbang menuju musyrik.

Lagipula, bisa saja suatu saat nanti, mereka itu, manusia ngawur itu, mabok dan berjudi di tempat lain yang bebas hantu. Tapi mungkin, ketakutan mereka tetap ada. Dan berarti, kesalahan mereka bertambah. Sudah mabok, berjudi, eh takut hantu pula.

Itulah akhirnya yang membuat si tampan menyimpulkan bahwa biarpun tidak bisa membuat mereka berhenti mabok dan berjudi, maka tak apalah bila bisa membuat si hantu berhenti mengganggu. Itu pula sebabnya dia menggebrak pintu lalu dengan nekat berteriak :

“Wooii, cepat keluaaaarr…!!! Ayo nongol kalo berani..!!!”
“Woooiiii….!!!”

Tapi sia-sia saja. Jangankan menongolkan diri, sekedar tawa ngikik pun tidak ada. Padahal, bila berkenan, si pemuda ingin mengajak berdiskusi. Tentang bagaimana cara membebaskan warung dari kegiatan judi tanpa harus membuat pelakunya ketakutan. Siapa tahu si hantu punya ide cemerlang untuk menyelesaikan masalah ini.

Kalau toh ternyata si hantu hanya berniat mengganggu, si tampan sudah memikirkan langkah selanjutnya. Menyuruhnya berhenti menakuti manusia. Dan andai dia tidak mau, maka tak ada jalan lain. Mending si hantu dipukuli saja. Toh konon katanya dia berjenis kelamin wanita, jadi mungkin tidak sekuat hantu pria. Siapa tau dia kalah lalu kapok.

Jam setengah lima.
Sebentar lagi adzan subuh. Untuk terakhir kalinya, si tampan berteriak :

“Woooiii….”


*Berhubung rokoknya tidak jadi dijadikan taruhan, maka menurut si tampan, rokoknya masih halal