Selasa, 08 April 2008

Zona Sunyi



Baru saja, aku melihatmu termenung menatap langit. Bola matamu kosong tanpa ekspresi. Senyummu hilang, lesung pipimu bersembunyi. Satu teka-teki terbit di otakku. Tentang apa yang sedang kau pikirkan, yang membuatmu gelisah.

Kucoba untuk menerka, mereka-reka, tapi anganku hampa. Dari dulu, yang kutahu hanya senyummu, sikapmu, sifatmu. Aku tak tahu apa saja yang kau alami hari ini, hari kemarin, atau kemarinnya lagi. Kita hanya bicara lewat mata. Padahal terkadang, mata tak sanggup menceritakan segalanya. Karena itu aku sama sekali tak sanggup berkhayal tentang masalah yang sedang kau hadapi.

Bicara, ngobrol, diskusi. Tadinya kupikir itu tak perlu. Tadinya kupikir, cukuplah bila aku mencintaimu. Tapi perkiraanku salah. Cinta tidak bisa berjalan satu arah. Cinta adalah hubungan timbal balik. Saling memberi, saling menerima. Cinta adalah dimana kita saling berbagi. Sedih, duka, tangis atau tawa.

Aku ingin melangkah menghampirimu, tanyakan alasanmu merenung, lalu berusaha untuk menghibur. Membuatmu kembali tersenyum, bahkan tertawa. Tapi aku tak bisa. Ada banyak hal yang memaksaku untuk tetap mematung, membisu, mengunci mulut rapat-rapat.

Ah, sudahlah. Biar saja cinta ini terselimut kabut. Aku tak takut pada misteri, biar kupecahkan sendiri teka-teki ini. Sedangkan kau, tetaplah merenung. Adukan keluh-kesahmu pada biru langit. Berpikir akan membuatmu bertambah dewasa. Masalah rumit bisa mempermatang kemampuan kita.


***


“Mas..”

“Yup, ada apa..?” Narto membuyarkan lamunanku. Dari seluruh kuli renovasi mushalla, dialah yang paling sering membuatku tak bisa sepenuhnya menikmati sepi.

“Harpleknya sudah selesai di cat. Semuanya, tanpa sisa”

“Yah, baguslah” Jawabku. Di susunan kepanitiaan sebenarnya aku adalah sekretaris. Di kampus, aku mahasiswa teknik. Tapi disini, aku malah ditempatkan menjadi mandor. Mengawasi tiga remaja error yang biarpun rajin tapi ya itu tadi, sering error.

“Catnya masih sisa kan..? Mo tak pake buat mempertebal cat yang kemaren. Coz warnanya gak rata”

“Masih mas, tapi sudah tak habisin buat ngecat pohon jambu”

Tuh, apa kubilang. Error kan..?

“Lho, bukannya kemaren udah tak ultimatum agar catnya diirit-irit..? Bukannya dah tak kasih instruksi bahwa harpleknya harus di cat lagi..? Kok catnya malah dihabisin..?”

“Ah, gampanglah mas. Nanti beli lagi”


“Beli..? Pake apa..? Duit darimana..? Minta moyang kamu..?”

“Iya kali”



GGRRHHH…!!! Andai seorang mandor diijinkan mengiris kuping anak buahnya.


Rumah kosong
Saat mengecat harplek untuk atap mushalla


Jomblozone - Manusia Kambing



Tumben. Malam minggu, warung sebelah yang biasanya dijejali berlusin jomblo tidak laku kali ini kedatangan tamu penting - seorang pria mesum yang baru saja mendapatkan pacar. Saya tidak tahu dia nemu pacar dimana tapi menurut analisa saya, mungkin dia menemukannya di dalam kandang. Sedang memakan rumput dan menyundul-nyundulkan tanduknya pada tiang kayu sambil mengembik : “Mbeeekk…!!!”

Kalau sebelumnya warung ini biasa diisi adegan mengenaskan (contoh : Upacara penyematan medali kehormatan kepada seorang jomblo yang berhasil mencapai prestasi tertinggi - ditolak cintanya untuk kesekian ribu kali maka saat tamu tersebut datang, adegan yang terjadi mirip seperti sandiwara Babad Tanah Leluhur. Penuh dengan petuah tiada nyambung yang bisa membuat kita geleng-geleng kepala.

“Hai.., dengar..!!” Dia memulai petuahnya

“Kalian ini laki-laki. Sudah dewasa, sudah waktunya berpacaran. Tapi kenapa kalian malah berkumpul di warung..? Kenapa gak ngapel ke rumah pacar masing-masing..? Apa kalian sebegitu tidak lakunya sehingga tak juga berhasil mendapat pacar..? Benar-benar tidak laku biarpun sudah diobral..?”

“Contohlah saya. Sempat ngapel dulu sebelum mampir kesini. Saya sudah berkali-kali berpacaran, berkali-kali putus. Tapi saya puas. Sebab mereka, mantan pacar saya itu, sudah pada tak renggut kehormatannya. Sebagai laki-laki, saya bangga karena bisa merenggut kehormatan banyak wanita”


“Hm, ternyata ada Togie juga toh..?” Akhirnya dia menyadari kehadiranku

“Kapan kamu punya pacar Gie..? Kapan mau mencari..? Jangan menyia-nyiakan barang berharga yang bergelantungan dibalik celana kamu. Dia pingin hiburan, pingin kesenangan. Percuma kamu disunat kalau yang disunat itu tidak pernah dipake. Mubazir”

“Ok.., ok..!! Gara-gara kamu saya harus berkata jujur. Sebenarnya saya hanya pernah merenggut kegadisan orang sebanyak satu kali. Sisanya sudah tidak gadis lagi. Sebab mereka adalah penghuni gang sadar sana, cuma tak jadikan pacar sementara, cuma beberapa menit. Tapi tak apa. Yang penting saya sudah pernah mereguk surganya dunia. Tak seperti kamu”

“Haha, Togiee.., Togie..!! Betapa mengenaskan nasib yang kau alami. Jadi, biar semangat, sini tak kasih tau”


Dia mendekatkan mulutnya ke telingaku. Membisikkan kata-kata yang membuatku mual :

“Kalau begituan pertamanya emang pegel. Tapi pegel-pegel enak. Nah, saat keluar rasanya rada linu, tapi juga enak. Jadi, biar enaknya maksimal, kamu harus bla.. bla.. bla… (sensored)”

Hh, begitulah ucap si mesum. Dia bukan tokoh di bulshitt of love, dia orang lain, jadi berani keterlaluan. Mungkin gara-gara dia belum kenal Tarmo. Mungkin gara-gara dia tinggal di kampung yang tidak ada Tarmonya. Tapi tak apa. Aku tak boleh terus bergantung pada Tarmo. Aku harus berani. Aku tak mau para jomblo menuruti kata-katanya.

Samar-samar bisa kuendus aroma alkohol dari mulutnya. Mungkin dia mabok. Orang mabok tak mempan dinasehati. Harus dihina, dicaci-maki, dikasar-kasari.

“Gini bung..!!” Ujarku sambil mencari tempat strategis biar mudah kalau nanti harus kabur

“Daku bukannya tidak bisa, tapi belum kepingin. Daku ini manusia. Dibatasi oleh aturan, etika dan tatakrama. Daku bukan hewan yang bisa bertindak semaunya, yang bisa membuang sperma dimana saja. Terus terang, daku gak begitu mengenal kamu. Gak tau apakah kamu benar-benar manusia atau kambing yang sedang memakai baju.”

“Daku gak mencari pacar, tapi calon istri. Yang namanya istri harus bisa diajak hidup bersama, melewati suka dan duka, tangis serta tawa. Daku belum menemukan wanita yang memenuhi syarat untuk itu. Dan kalau belum nemu, daku tidak perlu bingung. Yang jelas, lebih baik waktuku digunakan untuk hal yang lebih terhormat dibanding membuang-buang sperma.”

“Kalau memang daku pingin begituan, sebenernya gampang saja. Daku cukup pergi ke “gang sadar” lalu menikmati pelacur paling cantik disana. Soal biaya..? Tak usah kuatir. Asal berhenti merokok, daku bisa mengumpulkan banyak duit. Uang saku daku selama seminggu jauh lebih besar dibanding gaji kamu dalam sebulan. Jadi kalo dibanding-bandingkan, andai duit daku cukup buat menyewa pelacur berwajah jelita, mungkin duit kamu cuma cukup untuk nyewa kambing berjenis kelamin betina.”

“Sadarlah bung, jangan membuat daku geleng-geleng kepala. Jangan ada manusia yang sedemikian gobloknya memamerkan sesuatu yang kualitasnya jauh dibawah daku. Lagipula, kalo pamer harusnya ya mikir dulu. Apa hal itu patut dipamerkan..? apa merusak anak gadis orang lain bisa disebut sebagai sebuah prestasi..?”

“Jika seseorang merasa takjub ketika berhasil memperoleh sesuatu yang sedikit, itu berarti dia sama sekali belum pernah mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Dengan kata lain, sebenarnya kamu patut dikasihani. Sebab menurut daku, mungkin prestasi tertinggi yang berhasil kamu capai hanyalah merusak kegadisan orang. Tidak lebih.”

“Entahlah. Bila sedang berkaca didepan cermin, daku bisa melihat kharisma kedewasaan dibalik usia muda. Sedangkan bila melihat kamu..? Ah, mirip kambing bermuka manusia.”

Seketika, muncul setumpuk amarah di wajah pemuda kambing. Aku berpikir bahwa sekarang sudah saatnya untuk kabur, melarikan diri, masuk kedalam rumah lalu mengunci pintu. Tapi tampaknya itu tak perlu. Dia hanya marah tanpa berani melampiaskan kemarahannya. Dia hanya menatapku, ragu untuk berbuat macam-macam kepadaku.

Bukan, aku salah. Ternyata dia sedang menatap para jomblo yang sedang berdiri di belakangku. Mereka terlihat jauh lebih marah dibanding si pemuda. Aku tahu alasan dibalik rasa marah tersebut. Yaitu karena kredibilitas dan harga diri mereka sebagai seorang jomblo telah direndahkan dan dihina sehina-hinanya.

Yah, si kambing yang salah. Sejak dulu aku tak pernah memprotes kejombloan mereka. Aku selalu mendukung mereka, membuat mereka bisa menikmati hidup dalam kesendirian. Sembari menunggu waktu dimana Tuhan mempertemukan mereka dengan belahan jiwa masing-masing. Bukan malah menghina mereka, membuat mereka putus asa saat digelayuti pertanyaan : “Apakah kami memang sebegitu tidak lakunya..?”

Mungkin itulah sebabnya mereka berada di pihakku, membuatku berani biarpun tanpa kehadiran Tarmo. Ah, Tarmo. Dia sedang asyik menjajah negeri atas kasur, jarang keluar rumah.

Selasa, 01 April 2008

Mawar - Waktu yang melindas kisah kita

 

Angin bertiup kencang tatkala aku melangkah menuju warung. Debu-debu coklat beterbangan mengotori udara, rimbun bambu meliuk-liuk sambil menggugurkan daun keatas tanah. Mentari sore mulai berangkat ke peraduan. Memancarkan sinar merah yang menerangi jalan. Suasana terasa indah, teramat indah. Membuatku ingin bersenandung lagu cinta. Dubidam didada syalalala.

 

"Ma.. asss.., t.. t.. tttoo.. longg.."

 

Tiba-tiba sebuah suara menghentikan senandungku. Menahan langkahku. Membuatku memalingkan muka. Menujukan mata pada sesosok wanita yang duduk dibawah tiang listrik. Bajunya kumal, rambut acak-acakan, tubuh kurus kering, wajahnya dikotori debu.

 

"Mass.., sa.. kitt.."

 

Wanita itu menangis. Kutatap dia. Kulihat tetes-tetes air turun dari sudut matanya. Mengalir kebawah, membasahi tepi hidung, menyapu lapisan debu yang menempel di wajah, bergelantungan sebentar di dagu, sebelum akhirnya menitik jatuh. Tampaknya dia sudah tak sanggup menahan sakit. Bibirnya meringis pedih, kepalanya menunduk, matanya separuh terpejam. Baru kusadari bahwa dari tadi kedua tangannya menekan perut dengan erat. Tunggu, bukan perut. Tapi lebih tepatnya, rahim.

 

Pembantu yang diperkosa majikan atau gelandangan yang ingin menipu. Akibat terlalu banyak menonton sinetron, kestabilan otakku jadi terganggu. Entah setan mana yang berhasil membisikkan kata-kata itu ke telingaku. Dan kata-kata itu aku percayai. Aku tak ingin melibatkan diri dalam masalah. Kampus teknik, para jomblo penghuni warung, renovasi mushalla, serta Tarmo yang selalu mengacaukan segalanya sudah cukup membuatku bingung. Aku tak mau menambahnya dengan satu kebingungan lagi. Karena itu kuputuskan untuk melanjutkan langkah, meninggalkan wanita itu.

 

PLUK..!!

 

Dia pingsan. Ternyata dia benar-benar butuh bantuan. Sialan. Aku menyesal telah mempercayai bisikan setan. Kemarin aku baru menasehati Narto, Tarso dan Koneng (remaja yang jadi kuli di mushalla) bahwa sebagai muslim kita harus saling membantu. Lalu mengkritik Tarmo yang lebih suka melakukan hibernasi daripada ikut jadi kuli di mushalla. Aku harus konsisten pada nasehat yang telah kuucapkan. Aku tak mau Tarmo balik mengkritikku. Aku harus menolong wanita itu. Tapi aku tidak tahu cara menghadapi orang pingsan. Untung kulihat dua sosok manusia sedang duduk di teras warung.

 

"Gus.., Bo.., ada yang pingsan."

 

Bagus (adikku) dan Kebo (pemilik warung) tidak mendengar kata-kataku dengan jelas. Mereka menghampiriku dengan malas. Tapi melonjak penuh panik saat melihat tubuh kumal tergeletak dibawah tiang listrik. Mereka saling tatap sambil garuk-garuk kepala. Tampaknya ikut bingung juga. Kusuruh mereka mengangkat wanita itu ke teras warung sedangkan aku kembali ke rumah.

 

"Gie, mau kemana..?" Bagus bertanya

"Manggil bapak." Dia mendapat jawabannya.

 

***

 

Saat aku dan bapak tiba, warung sudah dijejali oleh lusinan manusia. Pria, wanita, anak kecil, orang dewasa, tukang becak, guru, tukang ojek, dan entah apalagi. Bapak menyibak kerumunan. Menyuruh mereka memberi ruang agar wanita itu bisa menghirup udara segar. Beliau terbiasa menghadapi orang pingsan. Tahu apa yang harus dilakukan.

 

“Namanya mawar”

Seorang ibu memberitahuku.

 

“Sejak ibunya kembali dari Jakarta, dia selalu diomeli. Sering ditampar atau dipukul. Dengar-dengar dia kena kanker rahim. Penyakit itu membuat tubuhnya bertambah kurus. Kata si Kebo yang tadi mengangatnya kesini, berat badan mawar mungkin sekitar tigapuluh kilo atau kurang. Gara-gara depresi dia jadi sering minggat.”

 

“Oo, pantes.” Gumamku mendengar penjelasan si ibu, sambil menatap wanita pingsan di hadapanku.

 

Tapi tunggu, Mawar..? Kok rasanya, ditelingaku, nama itu terdengar familiar..?

 

“Aaahh…!!”

 

Tiba-tiba segerombol angan muncul memukuli otakku. Aku kenal dia. Mawar adalah teman masakecilku. Dulu.., duluuu sekali (sebelum mengenal Tarmo), aku, mawar, dan belasan anak lain sering mandi bareng dikali. Manjat pohon rambutan, nyolong mangga, mengejar anjing nyasar, nyari ikan, atau ngaji di mesjid gede. Tapi dulu mawar bertubuh gemuk, kulitnya bersih. Tidak sekucel ini.

 

“Saa.. Kiitt..”

“Sing sabar nduuk.., sing sabaarr..”

 

Mawar siuman. Beberapa ibu mencoba menenangkan hatinya. Aku mengenang yang telah terjadi belasan tahun lalu. Saat kuputuskan untuk memisahkan diri dari mawar dan teman-temannya lalu memilih bermain dengan anak-anak dari hutan bambu.

 

Dulu mawar takhluk pada modernisasi. Dia mengganti kaos kumalnya (yang menjadi identitas kami sebagai anak kampung) dengan baju-baju seksi. Logat bicaranya berubah dari enyong-kowe menjadi elu-guwe. Dia lebih suka bergaul dengan anak-anak kota yang sok gaya. Tapi aku suka jadi anak kampung. Aku tak ingin meniru orang kota. Itulah sebabnya aku mengikatkan diri pada Tarmo dan balatentaranya. Yang seratus persen ngampung, tak punya duit buat sok gaya.

 

“Andai suaminya tidak pergi, mungkin dia tidak jadi seperti ini. Kasihan ya Gie..”

 

Suami..? Ibu itu bilang suami..? Ah, aku ingat. Setelah lulus SMA, aku menerima undangan dari dia. Dan seperti yang telah aku duga, dia menikah dengan orang kota. Aku tak datang. Tapi kudengar pernikahan itu tak bertahan lama. Tanpa alasan yang jelas, suaminya minggat entah kemana.

 

“Aku gak mau pulaaangg.., sakiitt.., hiks..”

“Wis. Mulai siki, kowe nginep neng umahku bae.”

 

Seorang ibu menawari untuk menginap di rumahnya, mawar mengangguk pelan.

 

Ternyata, waktu bisa menorehkan bekas mendalam di hati kita. Waktu bisa menggilas segalanya.

 

 

*Mawar – bukan nama sebenarnya

Orang gila, orang sakti, dan motor vespa

 

 

Semalam, pertigaan di samping rumah penuh sesak oleh bermacam orang. Pria, wanita, tua, muda, jomblo, maupun yang sudah menikah. Hanya sedikit yang bisa membuat mereka berkumpul di satu tempat dalam waktu yang sama. Dan seringnya, hal tersebut amat tidak biasa. Entah gara-gara ada yang berkelahi, ditinggal minggat oleh suami, tabrakan sepeda motor, atau orang mati. Itulah sebabnya seorang mahasiswa kurus ikut mengeluarkan tubuhnya dan menggabungkan diri. Dia ingin tahu apa yang telah terjadi

 

"Tadi ada orang naik motor"

 

Seorang jomblo memberi laporan

 

"Tapi motornya gak nyala."

 

Dia melanjutkan laporannya.

 

"Orangnya stess Gie, belum lama keluar dari rumah sakit jiwa. Dulu dia orang sakti. Jadi gila gara-gara kebanyakan ilmu. Dia pernah memakan gelas dan gelas tersebut, walau tadinya sudah dipecah-pecah, tapi bisa dikeluarkan lagi dalam bentuk utuh. Gak ada bekas pecahnya. Seolah-olah didalam perutnya ada lem. Artinya, biarpun gila, dia tetap sakti."

 

"Seharusnya orang seperti itu dirawat di rumah sakit jiwa. Tapi disana dia cuma disetrum, gak diobati. Dia pernah ngamuk dan menggoncang-goncangkan teralis besi, teralisnya sampai bengkok. Para perawat menyetrum teralis itu. Dia mental. Jatuh terkapar. Lalu diikat agar tidak menggoncang-goncangkan teralis lagi. Ternyata orang sakti pun masih kalah oleh setrum. Buktinya, akibat terlalu sering disetrum, sekarang rambutnya jadi botak. Untung dah tumbuh lagi, ada beberapa helai."

 

"Pernah pula dipanggilkan orang pintar sampai tiga kali. Orang pintarnya diajak adu sakti. Orang pintarnya kalah. Katanya, hanya satu orang yang berani menghadapi dia. Tapi orang itu gak bisa mengobati. Makanya dia gak sembuh-sembuh."

 

"Kemaren dia juga kambuh. Sepuluh orang berusaha menenangkan amukannya, semua dimentalkan dengan mudah. Jari telunjuk ibunya digigit sampai putus, pundak istrinya digigit sampai krowak. Untung di hari biasa gilanya gak kebangetan. Paling-paling ngambek sehabis makan. Gelas, piring dan sendok yang selesai digunakan selalu dibanting dan diinjak-injak. Dianggap barang najis yang harus dilenyapkan dari muka bumi. Tapi terkadang kambuhnya bikin rugi. Gara-gara sudah tidak bisa mengguncang-guncangkan teralis besi rumah sakit, dia jadi hobi mengguncang-guncang kulkas. Sekarang kulkasnya rusak, mati, gak mau nyala. Dia terlalu kuat Gie. Makanya kalau lewat sini lagi, lebih baik kita langsung sembunyi, mbok dia marah lalu mengamuk."

 

“Ck, kasihan. Padahal dulu dia alim. Rajin shalat dan puasa, pintar mengaji.”

 

Si Jomblo menceritakan semuanya sambil menatap kosong pada ujung jalan yang dipenuhi gelap. Mahasiswa kurus mengikuti arah tatap mata Si Jomblo.

 

"Pssstt"

 

Tiba-tiba dia menaruh telunjuknya di ujung hidung, telunjuk satunya terarah pada sesosok manusia yang sedang menuntun motor

 

"Itu orangnya Gie. Kita ngumpet yuk..!!"

 

Si Jomblo bergegas menuju warung, orang-orang menyingkir menyembunyikan diri. Ibu-ibu masuk kedalam rumah lalu mengintip dari balik jendela. Seorang suami bergegas pulang untuk memperingatkan istrinya. Para jomblo berpencar. Ada yang ngumpet di balik pohon, dibalik pagar, dimana saja. Tiga orang bapak masih duduk tenang. Mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap si orang gila. Hanya sang mahasiswa yang konsisten menempatkan tubuh ringkihnya di pinggir jalan, menatap sesosok manusia yang menuntun motor sambil menundukkan kepala. Bukannya meremehkan, menganggap rendah atau menghina. Mahasiswa itu cuma ingin tahu wajah si orang gila. Agar di kemudian hari, saat bertemu orang tersebut, dia bisa menempatkan diri dengan baik. Tidak berbuat sesuatu yang bisa membuat orang sakti itu tersinggung. Bisa bahaya.

 

"Gie.."

 

Si Jomblo menganggap sang mahasiswa sok berani, padahal pada kenyataannya tidak seperti itu. Sang mahasiswa memang betul-betul berani, tidak sok. Kalau toh nanti orang gila itu mengamuk, sang mahasiswa tinggal menggunakan ilmu tertinggi yang berhasil dia capai saat belajar bela diri, yaitu Ilmu Kabur. Belasan tahun berteman dengan Tarmo berarti belasan tahun pula dia berlatih untuk kabur. Dia berlatih kabur dari segalanya. Terutama kabur dari masalah, dari kewajiban dan tanggung-jawab. Dia sukses besar dalam latihannya. Karena itu dia yakin bahwa kali ini dia bisa kabur juga. Sebab lari dari tanggung jawab jauh lebih sulit daripada kabur dari amukan orang gila, yang sakti sekalipun.

 

Orang gila itu melewati kerumunan, mengacuhkan segalanya. Dia tetap menuntun motor sambil menundukkan kepala. Dia berjalan pelan. Amat pelan. Hingga lama-lama jauh meninggalkan kerumunan.

 

“Bro, dia orang mana..?”

 

Sang mahasiswa bertanya pada si jomblo yang sudah keluar dari tempat persembunyiannya.

 

“Kampung sini juga. Tapi rumahnya jauh di pedalaman sana. Dilihat dari interval waktu, berarti dia telah menuntun motor sampai sebelahnya kampung sebelah. Entah berapa belas kilometer. Memang kenapa Gie..?”

 

“Gak papa”. Jawab sang mahasiswa. Padahal ketika itu ada selubung gelap melapisi hatinya. Dia teringat pada kejadian beberapa malam sebelumnya. Ketika nyaris pingsan setelah menuntun motor vespa dari terminal Purwokerto sampai rumah. Saat seluruh keluarga menyarankan untuk menjual vespa kesayangannya. Saat dia harus memohon penuh adegan dramatis agar vespa itu tidak jadi dijual. Hingga akhirnya, sebagai penutup cerita ini, sang mahasiswa bergumam :

 

“Ah, andai yang dituntun adalah motor vespa, tentu dia takkan bisa melangkah jauh sampai kemari. Tentu dia sudah pingsan duluan saat melintasi tanjakan. Bukankah bagi orang sakti, menuntun vespa tetap merupakan siksaan..?”

 

 

Purwokerto, maret 08

Setelah hampir pingsan kecapekan gara-gara menuntun vespa

Jumat, 07 Maret 2008

Tips menghilangkan duka

Mungkin anda merasa tertekan saat harus membuat alasan. Terutama ketika ditanya tentang kekurangan yang anda miliki. Misalnya saat tidak punya uang sehingga harus makan singkong yang didapat dari kebun tetangga tetapi tiba-tiba ada teman bertanya "Kok makan siangnya cuma singkong..?". Atau saat putus dengan pacar dan malam minggu anda ditanya "Kok nggak ngapel mas..?". Mungkin anda merasa sedih, mangkel, bahkan marah. Tapi jangan khawatir, ada cara efektif untuk mengatasi hal ini.

Jika anda tidak ingin atau tidak bisa mengungkapkan alasan yang logis, salah satu solusinya adalah dengan memberikan alasan yang tidak masuk akal. Dengan begini, biasanya si penanya akan bertekuk lutut dan tidak berani bertanya-tanya lagi.

Dulu, saat baru datang ke warnet teknik setelah melewati guyuran hujan, dinginnya malam, dan basahnya baju yang bikin gatal, saya ditanya oleh operator warnet : "Mas, darimana..? Kok hujan-hujanan..?". Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada beratnya perjalanan yang baru di tempuh. Maka agar tidak sedih saya jawab :"Baru muter-muter keliling kota. Siapa tahu ketemu dengan mereka yang butuh bantuan. Bukankah kita harus saling membantu..?". Dan operator warnet langsung diam.

Saat duit di kantong tinggal beberapa ratus perak sedangkan saya harus mencari materi kuliah di warnet teknik yang tarifnya seribu perak per jam, saya ditanya: "Ck, mahasiswa kok hobinya ke warnet, apa tidak ada kegiatan lain..?". Padahal sebenarnya saat itu saya pergi ke warnet dengan terpaksa karena tidak rela kehilangan uang receh tercinta di kantong celana. Sedih. Makanya, dengan pura-pura bangga saya tanggapi dengan : "Daku mau ngabisin receh di kantong celana. Daku alergi receh. Kalo pegang receh sebentar saja, badan daku bisa gatal. Makanya, kalau nanti sampai rumah, celana yang daku pakai harus segera dicuci biar alerginya hilang. Kalau tidak, pantat daku bisa bengkak kemerah-merahan"

Atau saat operator warnet tiba-tiba mampir ke komputer yang saya tempati. Saat itu diatas meja ada uang receh seribu perak dan di kantong celana seribu limaratus. Dengan spontan dia berkata : "Wuih, mas Togie keren, lagi banyak duit ya..?". Dan sebagai bentuk pelampiasan, saat selesai online, sambil mengeluarkan uang receh saya berkata : " Yo'i, daku emang lagi banyak duit. Nih ada lima belas keping (pecahan seratus perak, dua ratus dan lima ratusan). Sebenarnya kalo ditukar dengan uang limapuluhan bisa lebih banyak lagi. Ada tiga puluh keping lebih. Tapi ah, daku lagi pingin hidup sederhana. Yang duitnya pas-pasan saja”.

Saat zuni menghina buruknya jalan di kampung saya. Yang aspalnya sudah bolong-bolong dan susah dilewati, yang warganya tidak mau patungan untuk memperbaiki jalan, yang saya tidak bisa memacu motor kalau bangun kesiangan, dan saya tidak punya alasan logis apapun sebagai jawaban dimana saya tidak kehilangan muka oleh jawaban tersebut, tiba-tiba muncul jawaban jenius di otak saya : "Jalan disini memang sengaja dibuat berlubang zun, biar kendaraan yang lewat gak bisa ngebut. Kamu tau sendiri kalau disini banyak anak kecil, bisa bahaya kalau para pengendara memacu motor semaunya. Karena itulah, andai pun pemerintah memberi bantuan untuk pengaspalan jalan, mungkin warga tidak pada mau. Sebab mereka lebih mementingkan keselamatan anak-anaknya dibanding kelancaran transportasi".

Terakhir, saat si jutek dengan kejamnya menghina status saya sebagai mahasiswa teknik yang belum bekerja. Yang walaupun kadang mendapat uang alakadarnya dari kerja sambilan tapi dia dengan kukuhnya tetap menganggap bahwa saya belum bekerja. Tidak bisa dibandingkan dengan dia yang sudah berstatus sebagai seorang guru honorer di sebuah SMP swasta. Dan sialnya, kakaknya (yang sama-sama guru) ikut-ikutan memojokkan saya. Akhirnya saya pun harus mengeluarkan jurus terakhir yang tersisa : "Daku belum bekerja karena bingung. Terlalu banyak yang menawari pekerjaan, padahal daku tidak bisa menerima semuanya. Bila daku menerima salah satu dan menolak yang lain, pasti yang daku tolak merasa sedih. Daku tidak mau membuat orang lain sedih. Makanya untuk menghindari hal tersebut, daku tolak semuanya saja. Daku hebat ya..? Hahaha" Dan sang kakak pun ngeloyor pergi meninggalkan ruang tamu.

Begitulah, bahkan si pipin yang cuek itupun kerapkali harus geleng-geleng kepala demi mendengarkan jawaban saya. Apalagi si Tarmo. Dia tergolek lemas tak berdaya.


Antara aku, kau, kenthong, dan maling


“Gie, aku pulang dulu”

“Ya, hati-hati”

Ah, Tarmo. Lagi-lagi, kali ini, aku bisa nonton kentong dengan aman berkat dia. Tadi, beberapa pemabuk memalak para penonton, bergiliran, satu persatu. Mirip kondektur  meminta karcis pada penumpang kereta api. Untunglah, ketika tiba giliranku, mereka melihat tatap sangarnya Tarmo dulu. Untungnya pula, entah karena takut atau apa, mereka tersenyum aneh pada kami, melewati kami, lalu kembali meminta uang pada orang yang duduk disebelah kami. Alhamdulillah, uangku utuh. Hingga akhirnya, setelah mengantar tarmo sampai pertigaan, uang itu bisa kugunakan untuk ke warnet.

“Gie..”
Beberapa hari kemudian, di hutan bambu, Tarmo bercerita

“Kemaren, dari pertigaan, aku langsung pulang kerumah. Saat itu gelap, ada hujan rintik-rintik.”
 
Ah, prolog yang puitis. Bila ada prolog seperti ini, pasti dia akan bercerita tentang hal yang tidak biasa.

“Anehnya warung sayur punyaku juga ikut gelap. Padahal setiap malam lampunya pasti kunyalakan. Kamu kan tahu sendiri, kalau aku mengetuk pintu rumah jam segitu, ibuku bisa marah. Makanya aku lebih suka tidur di warung, sekalian nungguin sayur atau ikan asin.”

Yup, benar dugaanku. Ceritanya tidak biasa

“Tapi biarpun gelap, samar-samar aku bisa melihat ada tiga orang di depan warung. Yang satu berjaga-jaga sambil tengok kiri-kanan, yang dua lagi sedang mencongkel pintu. Aku yakin bahwa mereka maling. Mereka mematikan lampu agar bisa beraksi dalam gelap.”

Tuh.., tidak biasa kan..?

“Aku takut Gie. Aku gak bawa senjata apa-apa. Tapi aku memberanikan diri. Kudekati mereka, selangkah demi selangkah, makin lama makin dekat hingga bisa kulihat mereka dengan lebih jelas. Mereka pun bisa melihatku. Mereka kaget Gie. Makanya mereka langsung aku bentak : Hei, lagi apa ya..?”

Wah, keberanian yang patut dipuji

“Sayangnya, mereka hanya kaget sebentar. Sesaat setelah itu, orang yang tadi berjaga langsung mengeluarkan golok. Goloknya bisa kulihat jelas Gie, sebab jarak antara kami hanya beberapa meter. Dua orang sisanya ikut mengeluarkan golok. Aku takut. Bulu kudukku merinding. Aku berani berkelahi tangan kosong, dengan siapapun, dengan musuh sebanyak apapun. Tapi lain halnya kalau melawan orang bersenjata. Resikonya fatal”

Lho.., kok..?

“Saking takutnya, aku tak bisa lagi berpikir. Aku tak tahu harus berbuat apa. Sedangkan tampaknya mereka sudah nekat, kepalang tanggung, tak ingin ada saksi. Mereka mengejarku sambil mengacung-acungkan golok. Aku langsung lari. Aku gak ingat kalau saat itu aku bisa berteriak minta tolong. Aku tak ingat apa-apa. Yang ada dikepalaku cuma satu hal : Lari secepatnya, mbok mati dibacok”

Lalu..?

“Seharusnya aku lari ke pos ronda sebab disana pasti banyak orang, disana aku bisa minta tolong. Tapi aku sedang tidak bisa berpikir. Aku tak tahu sedang lari kemana. Pokoknya, aku lari secepat-cepatnya, tak mempedulikan arah. Aku tak sempat menengok kebelakang. Tahu-tahu, aku sudah sampai di depan rumahmu, dan mereka tidak lagi mengejarku.”

Terus..?

“Aku gak berani pulang Gie. Sampai pagi.”

“Bentar Mo.., tunggu sebentar”
Akhirnya aku angkat bicara

“Kenapa larinya kerumahku..? Kenapa gak ketempat lain..? Lagipula aku udah bilang mau pergi kewarnet, jadi aku jelas gak ada dirumah. Kalau toh ada, memangnya aku bisa apa..? Kalau sempet berteriak sih aku bisa membantu kamu teriakan kamu. Tapi coba pikir, gimana kalo seandainya sebelum berteriak mereka sudah main bacok duluan..? Apa gak repot..? Apa kamu mau ngajak aku mati bareng..? Gitu Mo..?”

Aneh, pikirku. Tapi kemudian aku berpikir lebih jauh lagi
“Kalau jarak kalian hanya beberapa meter, kalau kamu bisa melihat senjata mereka, berarti kamu bisa melihat wajah mereka juga. Kamu gak bilang kalau mereka pake topeng kan..? Mereka siapa Mo..? Anak mana..?”

Tarmo langsung diam. Tak mau memberitahuku. Yah, bisa aku maklumi. Tetangganya Tarmo juga ada yang pernah memergoki maling tapi malingnya bukannya takut, malah menghampiri si pemergok. Dia diancam akan dibunuh bila membocorkan identitas si maling. Dia pernah bercerita kepada kami. Dan ekspresi yang dia tunjukkan saat itu sama persis seperti ekspresinya Tarmo saat ini.

“Gie”

Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi berusaha untuk memendamnya. Aku tahu, bila ada orang yang Tarmo takuti, berarti orang itu memang pantas ditakuti, bukan orang biasa.

“Sudahlah Mo, sabar aja. Yang penting kamu selamat, tidak kenapa-napa”

Benar, tak apa. Aku tak ingin Tarmo membahayakan diri. Aku tak ingin kehilangan Tarmo. Seperti yang aku bilang, malingnya pasti bukan maling biasa. Di kampung ini, tak ada seorangpun yang Tarmo takuti. Berarti malingnya orang kampung mana..? Siapa yang bisa membuat Tarmo setakut itu..? Entahlah. Yang penting dia selamat. Sementara itu, cukup.


Pic : Togie & Tarmo

Rabu, 05 Maret 2008

Sabar, Pasrah, ikhlas didzalimi. Itulah kami


Sekedar unek-unek
Untuk meringankan beban emosi
Yang menumpuk di kepala


Hutan Bambu, jam 12 Siang
Daku datang di acara pernikahan teman, Tarmo juga disitu. Daku diminta menjadi manggoloyudo (atau apalah namanya), didandani bak pangeran keraton. Dikasih bedak, lipstik & pemerah pipi. Daku menolak. Entah apa alasannya tapi seolah ada suara yang menyuruh untuk menolak tawaran tersebut.
Adzan berkumandang, Tarmo pamit pulang, begitu pula daku

Kamar Sunyi, 12.45
Hp berbunyi, seorang teman menelpon dari kampus. Katanya hari ini KRS harus sudah dikumpulkan. Daku kaget, minta uang ke mama, mengambil KRS kosong lalu ngeloyor menuju kampus.

Kampus Teknik 13.00
Benar juga, kampus sudah dipenuhi ratusan mahasiswa. Wajah mereka seperti kambing dicium gorila, kulit wajah memerah, raut muka cemas, duduk pun tak tenang. Daku mahfum sebab kondisi daku juga sama.

Sejarah
Sejak libur akademik, loket BAPENDIK tak pernah dibuka. Kami tak bisa mengambil KRS, mengumpulkan KHS, atau bertanya apapun. Kemarin, pipin dari kampus, KHS juga belum keluar. Akhirnya daku berpikir, mungkin KHS baru keluar hari sabtu atau senin. Dan KRS dikumpulkan hari selanjutnya. Karena itu daku memberanikan diri datang di resepsi pernikahan teman. Mungkin mahasiswa lain pun punya rencana selain menanti ketidak-jelasan bapendik. Itu juga sebabnya kenapa kami panik begitu mendengar pengumuman bahwa semua administrasi akademik harus dituntaskan hari ini. Dalam waktu beberapa jam ini.

Permasalahan
Lalu daku berpikir, untung tadi ada teman baik hati yang mengabari lewat HP. Tapi bagaimana dengan mahasiswa yang tidak dikabari..? Padahal kata bapendik, bila hari ini KRS belum di clearkan, maka mahasiswa tersebut dianggap tidak mengikuti semua mata kuliah.

Penyebab
Selalu, dari dulu sampai sekarang, penyebabnya adalah kelalaian mahasiswa. Walaupun sejak minggu kemarin kami rajin ke kampus, menunggu loket buka, menunggu adanya staf bapendik yang bisa kami tanyai, lalu harus menghadapi fakta bahwa loket mereka selalu ditutup, tetap kami yang salah. Biarpun ketidak-tahuan ini disebabkan oleh ketidak-becusan kerja mereka, harus kami yang salah

Benar begitu..?
Ya, banyak mahasiswa yang beradu mulut dengan bapendik (untung bukan adu bibir). Perkaranya biasa, masalah jadwal yang bentrok, mata kuliah yang ada di jadwal tapi tidak ada di KRS online, website akademik yang tidak bisa diakses, nilai yang tidak keluar, KHS yang salah, dan beribu kesemrawutan lain. Tapi, sehebat apapun mahasiswa memaparkan argumennya, mahasiswa tetap salah, bapendik benar

Lalu..?
Akhirnya beginilah, kami hanya bisa menggerutu. Sedari dulu, sejak kampus ini didirikan, masalah yang kami hadapi selalu sama, bahkan makin bertambah. Kami sudah protes, mengajukan keluhan, memberikan solusi dan saran, tapi tak pernah ditanggapi. Bapendik tetap hanyut dalam ketidak-becusannya sendiri.

Kata Penutup
Sabar, Pasrah, harus ikhlas didzalimi. Itulah kami