Jumat, 02 Mei 2008

kunang-kunang di kepala

 

Entah kenapa, pengalaman pagi ini terasa berbeda. Padahal pengalaman-pengalaman itu terbilang biasa, tak bisa disebut istimewa.

 

Mungkin sakitlah yang jadi penyebabnya. Sejak bangun tidur, mata ini seolah melihat beribu kunang-kunang beterbangan di udara. Ribuan kunang-kunang berwarna putih perak yang muncul silih-berganti. Saat melotot didepan layar monitor, warna perak tersebut berbaur dengan beragam warna lain. Membuat monitor warnet dipenuhi oleh warna-warna baru yang sepertinya baru saja diciptakan Tuhan. Untung warna campur-aduk itu tidak mengaburkan tulisan yang sedang daku baca. Sehingga daku tetap bisa berinternet ria.

 

Perasaan. Seolah kesadaran daku melayang, mengambang di awang-awang. Daku berada dalam kondisi setengah sadar. Bila saat ini daku ditanya : "Kamu siapa..?" Mungkin pertama kalinya bisa daku jawab : "Togie..!!". Namun jika terus-terusan ditanya, lama-lama kesadaran yang tinggal separuh ini bisa hilang. Hingga tanpa rasa malu lagi daku menjawab : "Ah, ganteng setengah mati"

 

Anda boleh menganggapnya bercanda tapi daku sungguh serius. Daku menyadari hal ini ketika tadi mampir ke perpustakaan komik. Ketika mbak-mbak yang jaga disitu bertanya : "Mas togie, kok mukanya pucat banget..? Lagi sakit ya..? Ingat lho mas, wajah nggak bisa berbohong..?". Saat itulah daku baru mengerti sebab-musabab dari munculnya beribu kunang-kunang yang daku lihat sejak pagi. Sebab saat berkaca di kaca spion motor vespa, daku sendiri sampai kaget. Sampai hampir berteriak  "Astaga.., mukaku pucat sekalii..!!"

 

Sayang, nama daku togie. Bagi daku, tak perlu mengeluh. Nikmati saja semuanya. Termasuk penyakit yang sedang bersarang di tubuh kita. Lagipula, daku merasa sehat-sehat saja. Tak ada rasa pusing, masuk angin, mual, atau semacamnya. Daku malah kok jadi senang, bahagia. Sebab walaupun sakit, tapi tubuh daku terasa seperti terbang, melayang. Lebih ngefly dari perasaan orang mabok atau yang habis menghisap ganja. Kayaknya sih.

 

Oh iya, belakangan ini daku hobi mengamati ekspresi manusia. Daku mempelajari perubahan mimik muka mereka lalu mengaitkannya dengan kondisi psikologis yang mereka punya. Setelah berlangsung sekian lama, ternyata hal itu membuahkan hasil. Saat ini, daku cukup bisa membedakan mana orang yang sedang dilanda masalah dan mana yang bergembira. Bahkan daku bisa menebak masalah apa yang menimpa mereka. Entah itu soal asmara, ekonomi, sekolah, kuliah, atau semacamnya. Berbekal hal itu, satu bulan belakangan ini, daku diangkat menjadi konsultan para jomblo. Daku kerap ditanya berbagai hal berkaitan dengan bagaimana caranya untuk memperoleh pacar. Menggunakan kemampuan daku untuk menilai sifat dan karakteristik gadis yang mereka incar lalu menyusun taktik dan strategi untuk melumpuhkan hati gadis tersebut.

 

Naas. Walau begitu, mereka tetap tidak laku-laku. Bukan karena analisa daku yang salah sebab setelah di crosschek, yang daku katakan pada mereka memang benar. Mungkin penyebabnya adalah karena mereka dikutuk oleh wanita sedunia agar lebih lama menjomblo. Atau pula karena daku tidak rela bila mereka meninggalkan status jomblonya dan meninggalkan daku hidup sendiri dalam kejombloan, tanpa teman seperjuangan.

 

Ah, sudahlah. Sebelum tulisan ini berubah menjadi lebih ngawur lagi, daku ingin bercerita tentang satu hal aneh yang ada kaitannya dengan menilai rona muka manusia.

 

Tadi, setelah menyalakan mesin vespa dan hampir beranjak pergi dari perpustakaan komik, daku melihat seorang gadis berjilbab. Dalam sekali lihat, hati daku sudah berkata : "Ada yang tidak beres". Dan ternyata benar. Dalam sekejap, gadis berjilbab itu mendekati motor daku dan tanpa babibu langsung memohon : "Mas, mau kemana..? Tolong anterin ke jalan besar dong. Biar bisa nunggu angkot ke terminal. Saya capek".

 

Seperti yang daku bilang, daku diangkat menjadi konsultan para jomblo karena persentase yang cukup tinggi dalam menilai manusia. Entah itu pria atau wanita. Dan saat itu pula, ketika gadis berjilbab itu memboncengkan tubuhnya di jok belakang motor vespa (tanpa permisi atau menunggu jawaban "Ya" dari daku), seketika itu pula daku menyimpulkan : "Dia gila". Kesimpulan itu diperkuat ketika gadis itu terus-terusan berkata bahwa dia kuliah di fakultas hukum. Diperkuat lagi oleh fakta bahwa setelah daku antar sampai ketempat yang dituju tiba-tiba dia berkata : "Mas, dirumah punya pembantu gak..? Saya mau dong, ngelamar jadi pembantunya mas. Saya ini kuliah di fakultas hukum lho..!!" GUBRAK..!!!

 

Entahlah, bukannya berprasangka buruk atau apa. Sebab tanpa perlu analisa pun, dengan mudah bisa dibedakan mana orang gila dan orang biasa. Yah, tapi tak masalah. Bukankah sebagai manusia kita memang harus menolong sesama..? Baik yang waras ataupun mereka yang divonis sebagai gila..?. Tapi semoga tebakan daku salah. Semoga dia hanya mahasiswi biasa, gadis biasa, yang tidak gila. Amin

 

Sayang, bantuan yang bisa daku beri hanya sekedar tumpangan diatas motor. Itupun gara-gara terpaksa sebab tanpa menunggu ijin dia sudah menempatkan tubuhnya di jok belakang motor vespa. Lagipula, daku sendiripun, mahasiswa teknik elektro yang entah kenapa bercita-cita jadi petani ini, sedang dilanda kesulitan ekonomi. Daku ingin memelihara lele di tanah samping rumah tapi tidak diijinkan orang tua. Setelah diijinkanpun masih terbentur masalah dana. Jangankan beternak lele, lha wong duit untuk bikin kolam pun tidak ada apalagi kalau harus menggaji pembantu, duit darimana coba..?

 

Yang jelas, selanjutnya, daku beranjak pulang menaiki motor vespa. Sambil menikmati indahnya kunang-kunang yang beterbangan di udara. Yang warna peraknya tak bisa dibedakan dengan pantulan sinar mentari di kaca mobil. Sembari berdoa agar kesadaran daku tetap tersisa sampai nanti tiba dirumah. Berusaha menerima fakta bahwa "DAKU SEDANG SAKIT..!!". Gak tau sakit apa.

Goresan Patah Hati

 

Kuakui, rasa ini memang menyakitkan. Tapi tak apa. Sebab rasa sakit adalah resiko yang harus dihadapi oleh para pecinta.

 

Bukan kamu yang salah, tetapi aku. Tak seharusnya kugantungkan angan setinggi langit. Bahkan sebatas atap pun tak pantas.

 

Kita memang berbeda, terlalu berbeda. Hanya keajaiban yang bisa membuat kita bersama, dan keajaiban itu tak sudi datang.

 

Sudahlah, percuma berkeluh kesah. Yang pasti, biarkan aku menikmati rasa sakit. Sebab memang itu yang harus kudapatkan.

 

goresan patah hati

togie     

Senin, 21 April 2008

Benda-benda Mati Itu..

 

Pria kurus itu terkapar diatas kasur. Matanya menatap langit-langit kamar berwarna putih. Dia menarik nafas panjang, menghirup udara malam yang bertiup masuk lewat lubang jendela.

Sepi..,

Di dinding kamar, tertempel jam warna merah yang didapat saat arisan keluarga. Jam itu mati kehabisan baterai.

Kesunyian terus berlanjut. Kali ini matanya menatap selembar sterofoam biru tua. Tepat dibawah jam dinding. Disana tertempel foto wisudanya jutek, foto anak-anak teknik, kartu ucapan ulang tahun, karcis bioskop, sticker Warung Ndeso, sesobek kertas berisi hadits nabi, serta dua lembar surat penuh kata-kata cinta. Kertas-kertas mati itu seolah mengajak si pria berdialog. Dengan mereka, dengan diri sendiri.

"Kenapa kau tempel kami disini..?"

Benda-benda mati itu bersuara

"Sebab kalian tidak bisa kutempel di hatiku."

Pria itu menanggapi perkataan mereka

"Pada tubuh kalian, aku bisa melihat kilasan peristiwa yang pernah kulalui dalam hidup. Aku ingin mengabadikan peristiwa itu."

"Kau.., foto wisudanya Jutek. Dulu aku mengambil gambarmu pada saat kau membunuh statusmu sebagai mahasiswi. Kau adalah pertanda bahwa terkadang nasib tidak bisa ditebak. Bahwa orang yang saat kuliah pernah berdoa agar setelah lulus tidak bekerja menjadi guru, sekarang malah dibelelenggu kewajiban untuk mengajar di sebuah SMP swasta."

"Kau tiket bioskop. Kamu mengajariku tentang arti penting perjuangan. Sejak bumi ini diciptakan, tak seorang pria pun bisa mengajak si Jutek nonton film di bioskop. Tapi aku.., sekali lagi, aku.., berhasil mengajaknya. Walau untuk itu aku harus bekerja keras mengumpulkan uang sebab dia ingin aku membeli tiket dengan uang yang kudapat sendiri, dari tetes keringat sendiri, bukan minta orang tua. Sama seperti dirinya yang bekerja membanting tulang mencari nafkah. Dan lihat, aku berhasil mengumpulkannya. Kaulah bukti kerja-kerasku saat itu."

Kartu ulang tahun yang kubuat sendiri. Kau membuatku melupakan cita-citaku menjadi pelukis. Kau adalah bukti nyata bahwa aku seorang perusak dunia seni rupa. Akulah sang manusia buta warna, buta keindahan, buta rasa estetika. Kau kartu ulang tahun yang gagal produksi. Kau kutempel disana sebab terlalu jelek untuk diberikan kepada mahluk manapun.”

"Foto anak-anak teknik. Kau simbol dari rasa persahabatan kami. Mereka pernah menginap di villa untuk merayakan ulang tahunku. Hingga kami (yang terdiri dari 11 orang ini) bisa menghabiskan malam bersama, penuh rasa kebersamaan. Bahkan saking bersamanya, saat pergi ke lokawisata Baturaden, tiket masuknya dibeli secara patungan."

"Lalu Sticker Warung Ndeso. Kau menandakan bahwa orang miskin pun bisa bersenang-senang di tempat mewah. Aku pernah mengajak teman-teman merayakan ulang tahun. Aku mengajak mereka makan di Warung Ndeso yang terkenal itu. Padahal duitku tak seberapa. Haha, tak aneh bila akhirnya, saat membayar, teman-teman rela menombok kekurangannya. Duaratus ribu lebih."

"Dan surat cinta..? Sebenarnya aku tak tahu harus menamaimu apa. Tapi kata si penulis, berhubung aku memberinya tulisanku tentang vespa (yang kusebut sebagai surat cinta), dia pun membalas tulisanku. Dia namai sebagai balasan surat cinta. Aneh, tapi isinya bagus. Kau kutempel disini sebab dalam dirimu terkandung makna tentang cinta. Sebab vespa adalah cinta"

"Terakhir, hadits nabi. Allah mengangkat orang berilmu lebih tinggi satu derajat. Aku jadi teringat pada tulisan-tulisanku. Hampir tak ada ilmu di dalamnya."

"Itulah sebabnya kenapa aku menempel tubuh kalian. Sebagai bentuk penghargaan atas budi baik teman-temanku. Sebagai ungkapan rasa terimakasihku kepada mereka. Agar aku selalu ingat pada mereka, mendoakan mereka, membalas segala kebaikan mereka."



Pria itu masih memandangi sobekan kertas yang tertempel di sterofoam. Entah tuk berapa lama

Sepotong Surat Cinta

 

Dik, apa kabar..? Dari seorang informan yang tidak jelas asal-usulnya, kudengar keadaanmu baik-baik saja. Dia bilang, sekarang kau sudah lulus kuliah dan bekerja diluar kota. Alhamdulillah. Aku harap informasi tersebut benar adanya. Amiin.

Dik, saat rasa lapar membuat perutku menderita, aku kok jadi ingin bertanya : “Masih ingatkah kau pada peristiwa bertahun lalu..? Saat udara dingin menusuk kulit kita sampai ke tulang..? Saat kita berkemah dan duduk berkumpul mengelilingi api unggun..?”. Aku tak tahu bagaimana denganmu tapi aku masih ingat dik. Itulah saat pertama kita bertemu. Pertama kali kau tersenyum kepadaku. Membuatku cengar-cengir terhadapmu. Hingga sampai saat ini semua kenangan itu masih tersimpan kuat di sel-sel otakku. Tak luput satu keping pun.

Dik, aku selalu heran pada peristiwa itu. Tak ada cerpen ataupun novel  pernah bercerita tentang seorang gadis yang minta diantar ke kamar kecil pada seorang pria tak dikenal. Dimana pria tersebut berusaha tampil berani dengan berjalan menembus rimbun dan gelap pepohonan sejauh belasan meter demi mengantar si gadis ke toilet. Dimana sesampainya disana dia menunggu diluar pintu dengan tubuh gemetar karena takut dimakan hantu. Asal tahu saja dik. Sebenarnya, saat itu, aku jauh lebih takut darimu. Aku sendiripun sudah puluhan menit menahan pipis. Kau tahu alasannya..? Karena aku takut hantu. Takut pada sosok menyeramkan yang senantiasa bersembunyi di balik malam.

Sayang ketakutanku terus berlanjut. Sejak saat itu aku selalu takut mengungkapkan rasa dihatiku. Rasa yang selanjutnya terus menyiksaku dalam penyesalan.

Sejak dulu aku ingin berkata, sekali saja, bahwa kau meninggalkan torehan indah dalam hidupku. Kenangan bersamamu selalu datang dalam mimpi-mimpiku. Tak bisa kuhapus bayangmu dari sel-sel otakku. Tapi kata-kata itu tak pernah meluncur dari mulutku. Tak tahu kenapa aku selalu bisu didepanmu. Aku berubah menjadi seorang pengecut. Yang takut terhadapmu, pada rasa ini, pada diri sendiri.

Maaf dik, mungkin kau merasa terganggu dengan tulisanku. Menganggapku sok berani di multiply. Menganggapku masih sepengecut dulu. Tapi ketahuilah dik : “SEKARANG AKU SUDAH BERBEDA”.

Demi menghapus bayangmu, aku telah melakukan berbagai hal gila. Mungkin tak terpikir di otakmu bahwa aku yang lugu ini dengan nekatnya berkata cinta pada gadis yang entah siapa namanya. Tak pernah mengira aku nekat berpacaran. Tak menyangka bahwa dengan ngawurnya aku menggombali tiga mahasiswi STAIN. Dimana ketiganya kuliah di kampus yang sama, jurusan yang sama, kelas yang sama, kost ditempat yang sama, dan kamarnya berdempetan. Serta entah berapa banyak lagi kengawuran serupa. Kau tak berkhayal sampai kesitu sebab kau tak pernah tahu betapa inginnya kuhapus lukisan wajahmu dari kanvas hatiku. Agar orang lain dapat menggantikanmu. Aku ingin sekali dik.

Sayang keinginanku sia-sia. Tak satupun dari mereka yang bisa menggantikanmu. Walaupun sedang bersama, walau seharusnya bahagia dan penuh warna-warni bunga, tapi aku tetap merasa hampa.

Sunyi...,

Kesunyian yang menuntunku pada sebuah keputusan sulit. Bahwa kalau toh tak bisa kuusir kau dari hati ini, maka biarlah aku terus hidup sendiri. Entah sampai kapan. Aku takkan pernah mengawur-ngawuri orang lagi. Takkan pernah nekat lagi. Takkan error lagi. Biarlah aku menunggu. Sampai tuhan mengirim seseorang yang bisa menggantikanmu. Syukur-syukur Tuhan sudi menuntunmu datang kembali kepadaku, atau membawaku kepadamu. Amiin.

Dik, aku pamit. Silahkan kau lalui hari-harimu seperti biasa dan kulalui hariku dengan biasa pula. Yah, walaupun mungkin tidak biasa-biasa amat sih. Setelah bersusah payah selama bertahun-tahun sehingga bisa kuperoleh nomor HP mu, kau amat jarang membalas SMS dariku. Itu membuat hidupku tambah berbeda dik. Aku jadi kehilangan minat untuk cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Sekarang aku lebih sering termenung sambil menundukkan muka. Ck, suatu hal yang amat sangat tidak biasa.

Cukup sekian dulu. Aku tak tahu harus menulis apa lagi. Sebenarnya aku ingin menambahkan beberapa potong kisah yang terjadi belakangan ini tapi aku tak bisa. Yaah, kisahnya saja tak ada jadi apa yang musti ditambahkan..?

Semoga kau tetap dalam keadaan baik. Dan terus bertambah baik. Amiin.


NB : Sekarang aku sudah punya motor vespa. Warna biru tua.

Selasa, 08 April 2008

Zona Sunyi



Baru saja, aku melihatmu termenung menatap langit. Bola matamu kosong tanpa ekspresi. Senyummu hilang, lesung pipimu bersembunyi. Satu teka-teki terbit di otakku. Tentang apa yang sedang kau pikirkan, yang membuatmu gelisah.

Kucoba untuk menerka, mereka-reka, tapi anganku hampa. Dari dulu, yang kutahu hanya senyummu, sikapmu, sifatmu. Aku tak tahu apa saja yang kau alami hari ini, hari kemarin, atau kemarinnya lagi. Kita hanya bicara lewat mata. Padahal terkadang, mata tak sanggup menceritakan segalanya. Karena itu aku sama sekali tak sanggup berkhayal tentang masalah yang sedang kau hadapi.

Bicara, ngobrol, diskusi. Tadinya kupikir itu tak perlu. Tadinya kupikir, cukuplah bila aku mencintaimu. Tapi perkiraanku salah. Cinta tidak bisa berjalan satu arah. Cinta adalah hubungan timbal balik. Saling memberi, saling menerima. Cinta adalah dimana kita saling berbagi. Sedih, duka, tangis atau tawa.

Aku ingin melangkah menghampirimu, tanyakan alasanmu merenung, lalu berusaha untuk menghibur. Membuatmu kembali tersenyum, bahkan tertawa. Tapi aku tak bisa. Ada banyak hal yang memaksaku untuk tetap mematung, membisu, mengunci mulut rapat-rapat.

Ah, sudahlah. Biar saja cinta ini terselimut kabut. Aku tak takut pada misteri, biar kupecahkan sendiri teka-teki ini. Sedangkan kau, tetaplah merenung. Adukan keluh-kesahmu pada biru langit. Berpikir akan membuatmu bertambah dewasa. Masalah rumit bisa mempermatang kemampuan kita.


***


“Mas..”

“Yup, ada apa..?” Narto membuyarkan lamunanku. Dari seluruh kuli renovasi mushalla, dialah yang paling sering membuatku tak bisa sepenuhnya menikmati sepi.

“Harpleknya sudah selesai di cat. Semuanya, tanpa sisa”

“Yah, baguslah” Jawabku. Di susunan kepanitiaan sebenarnya aku adalah sekretaris. Di kampus, aku mahasiswa teknik. Tapi disini, aku malah ditempatkan menjadi mandor. Mengawasi tiga remaja error yang biarpun rajin tapi ya itu tadi, sering error.

“Catnya masih sisa kan..? Mo tak pake buat mempertebal cat yang kemaren. Coz warnanya gak rata”

“Masih mas, tapi sudah tak habisin buat ngecat pohon jambu”

Tuh, apa kubilang. Error kan..?

“Lho, bukannya kemaren udah tak ultimatum agar catnya diirit-irit..? Bukannya dah tak kasih instruksi bahwa harpleknya harus di cat lagi..? Kok catnya malah dihabisin..?”

“Ah, gampanglah mas. Nanti beli lagi”


“Beli..? Pake apa..? Duit darimana..? Minta moyang kamu..?”

“Iya kali”



GGRRHHH…!!! Andai seorang mandor diijinkan mengiris kuping anak buahnya.


Rumah kosong
Saat mengecat harplek untuk atap mushalla


Jomblozone - Manusia Kambing



Tumben. Malam minggu, warung sebelah yang biasanya dijejali berlusin jomblo tidak laku kali ini kedatangan tamu penting - seorang pria mesum yang baru saja mendapatkan pacar. Saya tidak tahu dia nemu pacar dimana tapi menurut analisa saya, mungkin dia menemukannya di dalam kandang. Sedang memakan rumput dan menyundul-nyundulkan tanduknya pada tiang kayu sambil mengembik : “Mbeeekk…!!!”

Kalau sebelumnya warung ini biasa diisi adegan mengenaskan (contoh : Upacara penyematan medali kehormatan kepada seorang jomblo yang berhasil mencapai prestasi tertinggi - ditolak cintanya untuk kesekian ribu kali maka saat tamu tersebut datang, adegan yang terjadi mirip seperti sandiwara Babad Tanah Leluhur. Penuh dengan petuah tiada nyambung yang bisa membuat kita geleng-geleng kepala.

“Hai.., dengar..!!” Dia memulai petuahnya

“Kalian ini laki-laki. Sudah dewasa, sudah waktunya berpacaran. Tapi kenapa kalian malah berkumpul di warung..? Kenapa gak ngapel ke rumah pacar masing-masing..? Apa kalian sebegitu tidak lakunya sehingga tak juga berhasil mendapat pacar..? Benar-benar tidak laku biarpun sudah diobral..?”

“Contohlah saya. Sempat ngapel dulu sebelum mampir kesini. Saya sudah berkali-kali berpacaran, berkali-kali putus. Tapi saya puas. Sebab mereka, mantan pacar saya itu, sudah pada tak renggut kehormatannya. Sebagai laki-laki, saya bangga karena bisa merenggut kehormatan banyak wanita”


“Hm, ternyata ada Togie juga toh..?” Akhirnya dia menyadari kehadiranku

“Kapan kamu punya pacar Gie..? Kapan mau mencari..? Jangan menyia-nyiakan barang berharga yang bergelantungan dibalik celana kamu. Dia pingin hiburan, pingin kesenangan. Percuma kamu disunat kalau yang disunat itu tidak pernah dipake. Mubazir”

“Ok.., ok..!! Gara-gara kamu saya harus berkata jujur. Sebenarnya saya hanya pernah merenggut kegadisan orang sebanyak satu kali. Sisanya sudah tidak gadis lagi. Sebab mereka adalah penghuni gang sadar sana, cuma tak jadikan pacar sementara, cuma beberapa menit. Tapi tak apa. Yang penting saya sudah pernah mereguk surganya dunia. Tak seperti kamu”

“Haha, Togiee.., Togie..!! Betapa mengenaskan nasib yang kau alami. Jadi, biar semangat, sini tak kasih tau”


Dia mendekatkan mulutnya ke telingaku. Membisikkan kata-kata yang membuatku mual :

“Kalau begituan pertamanya emang pegel. Tapi pegel-pegel enak. Nah, saat keluar rasanya rada linu, tapi juga enak. Jadi, biar enaknya maksimal, kamu harus bla.. bla.. bla… (sensored)”

Hh, begitulah ucap si mesum. Dia bukan tokoh di bulshitt of love, dia orang lain, jadi berani keterlaluan. Mungkin gara-gara dia belum kenal Tarmo. Mungkin gara-gara dia tinggal di kampung yang tidak ada Tarmonya. Tapi tak apa. Aku tak boleh terus bergantung pada Tarmo. Aku harus berani. Aku tak mau para jomblo menuruti kata-katanya.

Samar-samar bisa kuendus aroma alkohol dari mulutnya. Mungkin dia mabok. Orang mabok tak mempan dinasehati. Harus dihina, dicaci-maki, dikasar-kasari.

“Gini bung..!!” Ujarku sambil mencari tempat strategis biar mudah kalau nanti harus kabur

“Daku bukannya tidak bisa, tapi belum kepingin. Daku ini manusia. Dibatasi oleh aturan, etika dan tatakrama. Daku bukan hewan yang bisa bertindak semaunya, yang bisa membuang sperma dimana saja. Terus terang, daku gak begitu mengenal kamu. Gak tau apakah kamu benar-benar manusia atau kambing yang sedang memakai baju.”

“Daku gak mencari pacar, tapi calon istri. Yang namanya istri harus bisa diajak hidup bersama, melewati suka dan duka, tangis serta tawa. Daku belum menemukan wanita yang memenuhi syarat untuk itu. Dan kalau belum nemu, daku tidak perlu bingung. Yang jelas, lebih baik waktuku digunakan untuk hal yang lebih terhormat dibanding membuang-buang sperma.”

“Kalau memang daku pingin begituan, sebenernya gampang saja. Daku cukup pergi ke “gang sadar” lalu menikmati pelacur paling cantik disana. Soal biaya..? Tak usah kuatir. Asal berhenti merokok, daku bisa mengumpulkan banyak duit. Uang saku daku selama seminggu jauh lebih besar dibanding gaji kamu dalam sebulan. Jadi kalo dibanding-bandingkan, andai duit daku cukup buat menyewa pelacur berwajah jelita, mungkin duit kamu cuma cukup untuk nyewa kambing berjenis kelamin betina.”

“Sadarlah bung, jangan membuat daku geleng-geleng kepala. Jangan ada manusia yang sedemikian gobloknya memamerkan sesuatu yang kualitasnya jauh dibawah daku. Lagipula, kalo pamer harusnya ya mikir dulu. Apa hal itu patut dipamerkan..? apa merusak anak gadis orang lain bisa disebut sebagai sebuah prestasi..?”

“Jika seseorang merasa takjub ketika berhasil memperoleh sesuatu yang sedikit, itu berarti dia sama sekali belum pernah mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Dengan kata lain, sebenarnya kamu patut dikasihani. Sebab menurut daku, mungkin prestasi tertinggi yang berhasil kamu capai hanyalah merusak kegadisan orang. Tidak lebih.”

“Entahlah. Bila sedang berkaca didepan cermin, daku bisa melihat kharisma kedewasaan dibalik usia muda. Sedangkan bila melihat kamu..? Ah, mirip kambing bermuka manusia.”

Seketika, muncul setumpuk amarah di wajah pemuda kambing. Aku berpikir bahwa sekarang sudah saatnya untuk kabur, melarikan diri, masuk kedalam rumah lalu mengunci pintu. Tapi tampaknya itu tak perlu. Dia hanya marah tanpa berani melampiaskan kemarahannya. Dia hanya menatapku, ragu untuk berbuat macam-macam kepadaku.

Bukan, aku salah. Ternyata dia sedang menatap para jomblo yang sedang berdiri di belakangku. Mereka terlihat jauh lebih marah dibanding si pemuda. Aku tahu alasan dibalik rasa marah tersebut. Yaitu karena kredibilitas dan harga diri mereka sebagai seorang jomblo telah direndahkan dan dihina sehina-hinanya.

Yah, si kambing yang salah. Sejak dulu aku tak pernah memprotes kejombloan mereka. Aku selalu mendukung mereka, membuat mereka bisa menikmati hidup dalam kesendirian. Sembari menunggu waktu dimana Tuhan mempertemukan mereka dengan belahan jiwa masing-masing. Bukan malah menghina mereka, membuat mereka putus asa saat digelayuti pertanyaan : “Apakah kami memang sebegitu tidak lakunya..?”

Mungkin itulah sebabnya mereka berada di pihakku, membuatku berani biarpun tanpa kehadiran Tarmo. Ah, Tarmo. Dia sedang asyik menjajah negeri atas kasur, jarang keluar rumah.

Selasa, 01 April 2008

Mawar - Waktu yang melindas kisah kita

 

Angin bertiup kencang tatkala aku melangkah menuju warung. Debu-debu coklat beterbangan mengotori udara, rimbun bambu meliuk-liuk sambil menggugurkan daun keatas tanah. Mentari sore mulai berangkat ke peraduan. Memancarkan sinar merah yang menerangi jalan. Suasana terasa indah, teramat indah. Membuatku ingin bersenandung lagu cinta. Dubidam didada syalalala.

 

"Ma.. asss.., t.. t.. tttoo.. longg.."

 

Tiba-tiba sebuah suara menghentikan senandungku. Menahan langkahku. Membuatku memalingkan muka. Menujukan mata pada sesosok wanita yang duduk dibawah tiang listrik. Bajunya kumal, rambut acak-acakan, tubuh kurus kering, wajahnya dikotori debu.

 

"Mass.., sa.. kitt.."

 

Wanita itu menangis. Kutatap dia. Kulihat tetes-tetes air turun dari sudut matanya. Mengalir kebawah, membasahi tepi hidung, menyapu lapisan debu yang menempel di wajah, bergelantungan sebentar di dagu, sebelum akhirnya menitik jatuh. Tampaknya dia sudah tak sanggup menahan sakit. Bibirnya meringis pedih, kepalanya menunduk, matanya separuh terpejam. Baru kusadari bahwa dari tadi kedua tangannya menekan perut dengan erat. Tunggu, bukan perut. Tapi lebih tepatnya, rahim.

 

Pembantu yang diperkosa majikan atau gelandangan yang ingin menipu. Akibat terlalu banyak menonton sinetron, kestabilan otakku jadi terganggu. Entah setan mana yang berhasil membisikkan kata-kata itu ke telingaku. Dan kata-kata itu aku percayai. Aku tak ingin melibatkan diri dalam masalah. Kampus teknik, para jomblo penghuni warung, renovasi mushalla, serta Tarmo yang selalu mengacaukan segalanya sudah cukup membuatku bingung. Aku tak mau menambahnya dengan satu kebingungan lagi. Karena itu kuputuskan untuk melanjutkan langkah, meninggalkan wanita itu.

 

PLUK..!!

 

Dia pingsan. Ternyata dia benar-benar butuh bantuan. Sialan. Aku menyesal telah mempercayai bisikan setan. Kemarin aku baru menasehati Narto, Tarso dan Koneng (remaja yang jadi kuli di mushalla) bahwa sebagai muslim kita harus saling membantu. Lalu mengkritik Tarmo yang lebih suka melakukan hibernasi daripada ikut jadi kuli di mushalla. Aku harus konsisten pada nasehat yang telah kuucapkan. Aku tak mau Tarmo balik mengkritikku. Aku harus menolong wanita itu. Tapi aku tidak tahu cara menghadapi orang pingsan. Untung kulihat dua sosok manusia sedang duduk di teras warung.

 

"Gus.., Bo.., ada yang pingsan."

 

Bagus (adikku) dan Kebo (pemilik warung) tidak mendengar kata-kataku dengan jelas. Mereka menghampiriku dengan malas. Tapi melonjak penuh panik saat melihat tubuh kumal tergeletak dibawah tiang listrik. Mereka saling tatap sambil garuk-garuk kepala. Tampaknya ikut bingung juga. Kusuruh mereka mengangkat wanita itu ke teras warung sedangkan aku kembali ke rumah.

 

"Gie, mau kemana..?" Bagus bertanya

"Manggil bapak." Dia mendapat jawabannya.

 

***

 

Saat aku dan bapak tiba, warung sudah dijejali oleh lusinan manusia. Pria, wanita, anak kecil, orang dewasa, tukang becak, guru, tukang ojek, dan entah apalagi. Bapak menyibak kerumunan. Menyuruh mereka memberi ruang agar wanita itu bisa menghirup udara segar. Beliau terbiasa menghadapi orang pingsan. Tahu apa yang harus dilakukan.

 

“Namanya mawar”

Seorang ibu memberitahuku.

 

“Sejak ibunya kembali dari Jakarta, dia selalu diomeli. Sering ditampar atau dipukul. Dengar-dengar dia kena kanker rahim. Penyakit itu membuat tubuhnya bertambah kurus. Kata si Kebo yang tadi mengangatnya kesini, berat badan mawar mungkin sekitar tigapuluh kilo atau kurang. Gara-gara depresi dia jadi sering minggat.”

 

“Oo, pantes.” Gumamku mendengar penjelasan si ibu, sambil menatap wanita pingsan di hadapanku.

 

Tapi tunggu, Mawar..? Kok rasanya, ditelingaku, nama itu terdengar familiar..?

 

“Aaahh…!!”

 

Tiba-tiba segerombol angan muncul memukuli otakku. Aku kenal dia. Mawar adalah teman masakecilku. Dulu.., duluuu sekali (sebelum mengenal Tarmo), aku, mawar, dan belasan anak lain sering mandi bareng dikali. Manjat pohon rambutan, nyolong mangga, mengejar anjing nyasar, nyari ikan, atau ngaji di mesjid gede. Tapi dulu mawar bertubuh gemuk, kulitnya bersih. Tidak sekucel ini.

 

“Saa.. Kiitt..”

“Sing sabar nduuk.., sing sabaarr..”

 

Mawar siuman. Beberapa ibu mencoba menenangkan hatinya. Aku mengenang yang telah terjadi belasan tahun lalu. Saat kuputuskan untuk memisahkan diri dari mawar dan teman-temannya lalu memilih bermain dengan anak-anak dari hutan bambu.

 

Dulu mawar takhluk pada modernisasi. Dia mengganti kaos kumalnya (yang menjadi identitas kami sebagai anak kampung) dengan baju-baju seksi. Logat bicaranya berubah dari enyong-kowe menjadi elu-guwe. Dia lebih suka bergaul dengan anak-anak kota yang sok gaya. Tapi aku suka jadi anak kampung. Aku tak ingin meniru orang kota. Itulah sebabnya aku mengikatkan diri pada Tarmo dan balatentaranya. Yang seratus persen ngampung, tak punya duit buat sok gaya.

 

“Andai suaminya tidak pergi, mungkin dia tidak jadi seperti ini. Kasihan ya Gie..”

 

Suami..? Ibu itu bilang suami..? Ah, aku ingat. Setelah lulus SMA, aku menerima undangan dari dia. Dan seperti yang telah aku duga, dia menikah dengan orang kota. Aku tak datang. Tapi kudengar pernikahan itu tak bertahan lama. Tanpa alasan yang jelas, suaminya minggat entah kemana.

 

“Aku gak mau pulaaangg.., sakiitt.., hiks..”

“Wis. Mulai siki, kowe nginep neng umahku bae.”

 

Seorang ibu menawari untuk menginap di rumahnya, mawar mengangguk pelan.

 

Ternyata, waktu bisa menorehkan bekas mendalam di hati kita. Waktu bisa menggilas segalanya.

 

 

*Mawar – bukan nama sebenarnya