Selasa, 03 April 2007

Keluhan ttg RasKin & Jawabannya





Masih ada saja warga, mahasiswa, sarjana, dan lulusan S2 atau s3 yang mengeluh tentang RasKin (beRas misKin). Menyangkut kualitasnya, rendahnya mutu pelayanan, sempitnya wilayah pemasaran, juga sedikitnya stok yang tersedia. Padahal menurut saya, keluhan ini malah menunjukkan betapa rendahnya daya nalar mereka dalam hal bahasa.

Begini, Raskin adalah singkatan dari beras miskin. Artinya, beras yang disediakan untuk rakyat miskin. Jadi beras tersebut haruslah benar-benar layak untuk dikonsumsi oleh orang miskin. Hm.., lalu beras seperti apakah itu..? Nah, disinilah daya nalar kita harus difungsikan.

Yang namanya orang miskin, biasa mengkonsumsi beras seadanya. Tidak perlu bagus, yang penting masih bisa dimakan. Beras seperti apa..? Tentu saja yang harganya murah, yang rasanya sedikit kurang enak, yang terkadang sudah apek dan penuh kutu. Biasanya beras seperti ini sudah tidak laku dijual. Makanya agar tidak mubazir, pedagang rela melepas dengan harga miring. Tapi walaupun begitu, untuk membeli beras tersebut orang miskin tetap harus antri, dan dilayani dengan kurang mengenakkan.

Kenapa..? Karena pelayanan yang baik hanya boleh disediakan bagi mereka yang ingin membeli beras berkualitas baik. Tidak boleh disamaratakan. Itulah yang namanya bisnis profesional. Apa hal itu bisa dikeluhkan..? Tentu tidak. Karena sebagai orang miskin mereka tidak bisa membeli beras yang lebih bagus, jadi mau tidak mau mereka harus menerima dengan apa adanya. Dan orang yang bisa mendapat beras bagus, dengan pelayanan yang bagus pula, tidak layak digolongkan sebagai orang miskin.

Sebenarnya kita harus berterimakasih pada pemerintah yang telah bersusah payah menyediakan beras macam ini. Pemerintah telah berpetualang keseluruh negeri untuk mencari beras yang paling jelek untuk orang miskin. Yang tidak jelek, tidak layak dibeli. Bahkan terkadang, saat beras jelek yang tersisa tinggal sedikit, pemerintah rela mengimpor beras dari luar negeri secara besar-besaran. Kenapa..? karena siapa tahu saja diantara beras yang diimpor ada yang jelek juga, lalu disimpan, agar stok raskin tetap stabil.

Kesimpulannya : Jangan lagi mengeluhkan RasKin, karena kalau dinalar memang seharusnya seperti itulah beras untuk orang miskin. Kalau ingin yang lebih bagus maka bukan RasKin lagi namanya, tapi RasMeng (Beras Kelas Menengah), atau RasYa (Beras untuk orang kaya).

22 komentar:

  1. tumben tulisannya 'agak' ilmiah...

    BalasHapus
  2. iya mbak.., kalo bikin yang murni ilmiah
    mbok malah mumet
    yang nulis mumet, yang baca mumet, yang nggak ngapa2in juga mumet

    btw, sekarang kok jadi sering ganti headshot mbak..?

    BalasHapus
  3. kamu juga Gie, kenapa saat ini berselimut pekat?
    :)

    BalasHapus
  4. soalnya lagi kurang bisa becanda ndu...
    bawaannya sedih terus
    makanya ganti headshot pun, pilih yang warnanya suram
    hiks..

    BalasHapus
  5. he...he...
    ini gak gara2 ketularan sendu kan??

    BalasHapus
  6. ke-sendu-an bukanlah penyakit menular, bukan pula penyakit turunan.
    Kalo gitu, kenapa daku bisa ketularan.,.?
    ARRGGhHH...

    BalasHapus
  7. kalau ingin tahu
    tanyakan pada hatimu
    :D

    BalasHapus
  8. Sudah, terus dijawab :

    "Jangan tanya padaku, bukan karena amarah, bukan pula benci"

    Hi..hi..

    BalasHapus
  9. xixixixixix....
    sepertinya tuh hati dah terbayang-bayang banget sama hanyasendu deh

    BalasHapus
  10. rasanya bukan ndu.., sudah ada pihak lain yang bersemayam dihati ini
    membuatku merasakan senang atau sedih tak terperi..
    ya.., dia.., hanya dia...
    harta, uang dan tahta

    BalasHapus
  11. dan sebilah pisau telah menancap.., tepat dijantungku

    BalasHapus
  12. ngikutin tren...^_^
    togie ganti...
    sendu ganti...(meski balik lagi ke masa lampau)
    ya...
    saya ganti juga jadinya.

    BalasHapus
  13. xixixi.....
    dan togie lupa mengingatkan sipemiliknya
    bahwa pisau itu telah meninggalkan luka

    BalasHapus
  14. Anehnya, warna HS mbak Lis ya suram juga
    Kompakan...
    Mungkin MP nya sendu telah meninggalkan bekas yang begitu dalam di hati kita berdua mbak
    Jadi secara tidak sadar, MP kita pun secara perlahan-lahan menyerupai punya dia

    BalasHapus
  15. Terkadang, beberapa luka memang harus dilupakan
    Tanpa perlu diingat lagi oleh si penderita
    Maupun pelaku

    *Biarkan ingatan ini terkelupas, terkikis, dan terisi hal baru

    BalasHapus
  16. ssttt.. jangan bilang-bilang.... ntar seNdu GEER Gie...

    *sendu mana ya...?

    BalasHapus
  17. siipppp... betul...
    dengan luka itu justru ada pelajaran berharga dan saya betul-betul merasakannya...

    BalasHapus
  18. Lagi senyum-senyum sendiri mbak
    Bentar lagi dia juga reply
    Pura-puranya nulis kata-kata bijak
    Padahal dalam hati berteriak :

    CIHUUIII.., ASYYIIKKK..., HOORRREEE...

    BalasHapus
  19. Hmm, right...
    Pelajaran yang sangat berharga, walau mungkin pahit
    Sepahit teori Matematika Teknik II
    Digabung dengan Analisa Rangkaian Elektronika
    Plus sedikit Teori Robotika
    Yang dirangkum dalam Aplikasi Rekayasa Perangkat Lunak

    Tapi kalau teori tersebut bisa dipahami, baru kita sadar bahwa
    "Ilmu yang kita dapat sudah lebih banyak dari sebelumnya"

    *tapi.., sedihnya masih tetap ada ya...

    BalasHapus