Jumat, 27 April 2007

Tentang Sikap - Valentine

Valentine, betapa umat muslim mulai ribut jika tanggal 14 Februari menjelang. Ada yang mengecam, ada yang membolehkan, bahkan ada yang mencibir sikap keduanya. Valentine, seakan-akan menjadi ajang adu argumen yang rutin diadakan setiap tahun.

 

Sejarah

Alkisah, dahulu kala kaisar Claudius II mewajibkan setiap lelaki romawi untuk mengikuti wajib militer lalu dikirim ke medan perang. Mereka dilarang menikah karena pernikahan hanya membuat mereka lemah. Prajurit tidak akan bisa berkonsentrasi memenangkan peperangan jika masih memikirkan istri dan anak di kampung halaman.

 

Akan tetapi terdapatlah seseorang yang bernama Saint Valentine. Beliau seorang penganut katholik yang tetap konsisten untuk menikahkan pasangan romawi. Menurut beliau cinta adalah anugerah dari tuhan dan menikah adalah satu-satunya jalan untuk men-sah-kan anugerah tersebut. Hukum manusia tak bisa membatasi berlakunya hukum Tuhan. Karena sikapnya inilah sang pendeta akhirnya harus meregang nyawa, dihukum mati oleh sang penguasa.

 

Realita

Sayangnya, pola pikir masyarakat kita terkadang begitu ngawur, benar-benar amburadul. Mereka menetapkan hari kematian sang santo sebagai hari kasih sayang, artinya hari mengekspresikan rasa cinta. Untuk ini, diperlukan berbatang-batang coklat, bunga, sentuhan, rabaan, bahkan kegadisan. Akibatnya tidak sedikit yang menganggap bahwa hari valentine adalah saat yang tepat untuk melepas keperawanan. Konon katanya demi cinta.

 

Para ulama pun terkadang kurang berpikir panjang. Mereka membuat statement bahwa memperingati hari valentine adalah bid’ah. Sebenarnya saya setuju dengan pendapat ini. Tapi sayang, mereka kemudian berkata bahwa "Memperingati hari valentine sama saja dengan menuhankan yesus”. Yang sebenarnya kalau dirunut-runut statement ini sangat tidak nyambung.

 

Ok, yang pertama kali menetapkan perayaan ini memang Paus Gelasius I, seorang penganut kristiani. Tapi peringatan tersebut hanyalah sebatas peringatan saja, seperti peringatan hari kemerdekaan Negara kita. Coba anda buka bible, tolong tunjukkan ayat mana yang memerintahkan umat kristiani untuk merayakan valentine..!! Saya rasa tidak ada. Dan parahnya lagi, ada beberapa kasus dimana yang disalahkan bukanlah perayaan valentine-nya, tapi sang Saint Valentine sendiri, yang mungkin tidak tahu menahu bahwa kelak hari kematiannya akan dirayakan secara besar-besaran.

 

Lalu, mari kembali ke masa kini. Mari buka mata, amati realita. Lihatlah para ulama kita, banyak dari mereka yang masih tunduk dan patuh pada hukum yang dibuat penguasa walaupun hukum tersebut jelas-jelas bertentangan dengan syariat agama. Dan menurut saya, sikap Saint Valentine sangat pantas untuk diteladani oleh para ulama kita. Bukan malah dijelek-jelekkan padahal dirinya sendiri gemetar jika berhadapan dengan penguasa. Tanpa berani melawan.

 

Karena itu, marilah kita berusaha untuk lebih bersikap terbuka. Sebelum membuat pernyataan tentang valentine, lebih baik kita teliti dulu tentang apa valentine itu, tentang siapa saint valentine sebenarnya. Mari kita belajar betapa berartinya sebuah perjuangan, bahwa sikap konsisten terhadap hukum agama terkadang diikuti resiko mengorbankan nyawa. Bukan malah bermesraan, berpelukan, berduaan bahkan sampai mengorbankan keperawanan.

 

Itulah pendapat saya, yang setuju dengan sikap Saint Valentine namun menentang keras perayaan Valentine. Lha wong maknanya saja sudah beda kok. Yang satu bertema perjuangan, yang satunya lagi diisi dengan mesra-mesraan. Gak ada hubungannya.

 


KKN LemahJaya,
Februari 2007



link :

valentine wiki

Valentine - Menuhankan yesus

10 komentar:

  1. buat ane pribadi nih ye bro :)
    yang penting ga ikutan merayakan, apalagi memperingati :)
    karna isi perayaan kebanyakan eh yang ane tau 100% Ga cocok ama saya.

    Yang gwe liat semua kegiatan perayaan valentine itu NEGATIF dari sisi mata hati gwe.

    Need axampel?
    Ga usah dah, kayaknya udah ada tahu dan gerti :))

    thanks tulisannya diatas :)

    dc

    BalasHapus
  2. berkorban demi kebenaran sangat lah tepat
    asal jangan berkorban demi golongan ato agama..
    buka pikiran dan jangan pernah untuk membatasinya ..
    thanks 4 sharing......

    BalasHapus
  3. :) bukannya GAMA itu yang paling benar?

    BalasHapus
  4. Ya mungkin pak Valentine ini saking kasih sayangnya atau saking mesranya kepada umat maka dia membela umat alias memperjuangkannya.


    Nah kalo soal menyerahkan "kehormatan"-nya pada seseorang yg bukan suaminya, ya itu sih mesra yang rugi dong. Ibarat kerja tanpa kontrak kerja, bisa-bisa ga dibayar, kan tidak terikat. Bahkan, katanya temennya temen, justru kalo si cowok sangat suka/sayang kepada si cewek maka kecil kemungkinan untuk mengambil kehormatannya, bahkan jika si cowok itu pun free-man

    BalasHapus
  5. Makanya di malam valentine daku ngadain "perayaan" sendiri
    "Makan duren banyak-banyak"
    "Perayaan" yang sesuai dg hobi dan selera daku

    Walaupun saat itu bukan bermaksud ngerayain valentine sih, cuma kebetulan ada yg jual duren lumayan murah pas tanggal 14 siang.

    BalasHapus
  6. Sayangnya, kebenaran itu terkadang bersifat relatif
    Tergantung benar menurut apa dan siapa
    Dan bagi daku, yang namanya kebenaran adalah apa yang sesuai dengan agama yang daku anut. Dan kalau bertentangan, maka kebenaran tersebut patut untuk dipertanyakan

    Makanya, daku gak setuju dengan perayaan valentine karena para ulama telah bersepakat bahwa kami (umat muslim) tidak diijinkan untuk ikut merayakannya. Ditambah lagi, daku memang gak punya duit untuk dihambur-hamburkan buat beli cokelat. Mending duitnya dipake buat online dari warnet teknik yang tarifnya seribu perak per jam

    Tapi, daku sepakat dengan sikap Saint Valentine, karena beliau rela berkorban demi "kebenaran" yang beliau anut. Walaupun ada sebagian ulama yang secara gegabah menyalahkan saint valentine atas terjadinya perayaan valentine yang nyata-nyata rada gak nyambung dengan sikap sang Saint Valentine sendiri

    BalasHapus
  7. Bagi daku memang seperti itu
    Walaupun menurut "PANCASILA" terkadang berbeda
    Tapi bukan berarti daku tidak setuju dengan azaz tunggal pancasila lho

    *Soalnya mbok nanti dipenjara

    BalasHapus
  8. Yaah, memang sih
    Walaupun menurut ilmu ekonomi hal tersebut bisa dikatakan untung
    Teorinya gini

    Sebelum bermesra-mesraan --> Tidak hamil, tidak punya anak
    Setelah mesra --> Hamil, bisa punya anak

    Jadi kesimpulannya, mereka ya untung juga. Sama seperti mereka yang sebelumnya tidak punya mobil tapi tiba-tiba bisa dapet mobil. Apalagi kalo beli mobil butuh duit, tapi dalam memproduksi anak, gak butuh duit

    *ini reply ngawur

    BalasHapus
  9. well permulaan yg bagus untuk bisa menerima sesuatu
    yg d luar dari kebenaran yg kita anut kan ..
    heheh........kebenaran yg mutlak adalah adanya TUHAN
    tapi agama hanyalah jalan untuk mencapainya ......

    BalasHapus
  10. Karena itulah, jika motivasi kita adalah mendekat pada Tuhan, maka jalan yang kita tempuh, harus disandarkan pada tuntunan agama

    Sangatlah aneh jika seseorang ingin pergi ke jakarta, kok lewat jalan yang menuju pulau bali

    Dan aneh pula jika seseorang ingin "menuju" tuhan, jalan yang ditempuh kok berlawanan dengan yang Dia tunjukkan

    BalasHapus