Seperti biasa, si penceramah (seorang petinggi muhammadiyah) memulai dengan ucapan salam. Lalu basmallah, lalu alhamdulillah. Setelah itu menjelaskan berbagai hal tentang ibadah dan bid'ah. Dari sini, kami, para penghuni teras bisa menebak bahwa beliau pasti melanjutkan ceramahnya dengan salah-salahan. Menyalahkan organisasi lain.
"Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah. Dzikir HARUS diucapkan dengan lirih. Rasulullah SELALU menangis bila menyebut nama Allah. Jangan berdzikir keras-keras seperti yang ditayangkan televisi”
“Muhammadiyah memutuskan bahwa tanggal satu syawal jatuh lebih awal dari NU. Sebab kami menggunakan perhitungan yang teliti. Sekarang adalah jaman modern dimana rukyat sudah tidak relevan lagi. Untuk apa melakukan rukyat kalau bisa menghitung peredaran bulan secara tepat.”
“Warga NU terpatok pada kyai, melakukan taqlid buta, tidak mau mengkritisi kyainya. Padahal kyai bukanlah nabi, mereka hanya orang biasa yang suatu saat bisa salah. Dan jika pendapat mereka salah maka kesalahan tersebut akan menimpa seluruh umat NU.”
“Ingat, para zionis berusaha untuk memecah belah kita. Runtuhnya menara kembar WTC adalah awal dari rencana jahat mereka. Sekarang masjidil aqsa sedang digali, sebuah terowongan dibuat dibawahnya. Kelak terowongan tersebut akan membuat masjidil aqsa runtuh. Rakyat palestina tidak diperbolehkan melaksanakan shalat jum’at. Tapi Negara-negara arab tidak mau membela mereka. Tidak mau mencegah perbuatan para zionis yang ingin meruntuhkan masjidil aqsa. Itu adalah tanda bahwa Negara arab sudah berada dibawah kontrol zionis. Mereka berhasil dipecah-belah. Jangan sampai hal itu juga menimpa kita.”
Entah apalagi yang beliau katakan. Aku tak berminat mendengarnya. Aku lebih suka mendengar obrolan para bapak. Sebab mereka membahas hal yang lebih bermakna. Tentang pekerjaan, sulitnya ekonomi, iuran sekolah anak yang melambung tinggi, irigasi sawah yang dimonopoli petani kaya, atau apapun. Ingin rasanya aku menyanggah si penceramah. Meminta beliau berhenti menyalah-nyalahkan. Apalagi, menurutku, beliau menyalahkan pihak lain padahal beliaunya sendiri juga salah.
Begini, dzikir tidak WAJIB dilakukan dengan lirih. Dzikir artinya mengingat Allah. Dalam hati atau lewat ucapan. Lirih atau keras. Pekikan Allahu Akbar ketika berperang bisa disebut sebagai dzikir. Rasulullah TIDAK SELALU menangis bila menyebut nama Allah. Coba sebutkan dalilnya. Silahkan menyalahkan dzikir yang dilakukan oleh ustadz arifin ilham atau umat NU asalkan dalilnya kuat.
Yang menentukan benar-tidaknya hisab adalah munculnya bulan. Bila setelah dihitung (seteliti apapun perhitungan tersebut) tapi ternyata hilal belum muncul, maka perhitungan tersebut tidaklah tepat. Sudah ada teropong super canggih yang bisa digunakan untuk melihat bulan. Jauh lebih modern daripada hitung-hitungan.
Aku sering bertanya pada pak ustadz, pengurus muhammadiyah, atau siapapun tentang tanggal satu syawal lalu mereka menjawab bahwa itu hasil hisab. Tapi saat ditanya lebih jauh tentang metodologi hisab, mereka tidak tahu. Akhirnya, saat sudah tidak bisa memberi jawaban lagi, mereka berkata bahwa : “Itulah yang diputuskan oleh organisasi”. Lihat, bukankah ini bisa disebut sebagai taqlid juga..? Kenapa mereka melarang kita bertaqlid pada kyai tapi menganjurkan bertaqlid pada organisasi..?
Satu lagi. Mari setuju bahwa aktivitas ngaco para zionis harus dihentikan. Tapi aku heran terhadap si penceramah. Beliau menganjurkan agar jangan mau di adu-domba tetapi beliau sendiri mengadu-domba kita.
Itulah sebabnya kami lebih suka menempati teras mushalla. Sebab dari luar, kami masih bisa mendengarkan isi ceramah, bisa merokok, mengobrol dengan berbisik-bisik. Dan yang paling penting, bila kebetulan tidak setuju dengan isi ceramah, kami bisa mengacuhkannya. Menggunakan mulut dan telinga kami untuk membahas hal yang lebih berguna. Entah tentang pekerjaan, keluarga, anak, istri, maupun rencana merenovasi mushalla.
Menurutku tindakan si penceramah tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku takut para jamaah bertaqlid pada beliau. Aku harus meminta penjelasan disertai dalil-dalilnya. Agar diketahui siapa yang salah diantara kami. Sayang, begitu ceramah usai, sebelum aku sempat beranjak dari duduk, beliau sudah berpamitan lalu memacu sepeda motornya. Membuatku harus meminta jawaban pada pak ustadz dimana beliau bilang tidak tahu. Lalu bertanya pada Tarmo yang mana.., dia.., seperti biasa.., membela mati-matian apa yang difatwakan muhammadiyah. Tak peduli fatwa tersebut benar atau salah.
Beberapa menit kemudian.., di depan rumah..
Tarmo sudah pulang, dia ingin melanjutan tidurnya sampai siang. Dia tidak mau menjawab pertanyaanku sebab menurutnya, pertanyaan apapun, selama tidak sejalan dengan prinsip oganisasi adalah pertanyaan yang salah. Tidak perlu dijawab.
Gelap mulai memudar seiring terangnya sinar mentari. Aku masih duduk di sebongkah batu di depan rumah. Aku tidak puas. Aku bosan mendengar prosesi salah-salahan. Aku tak bisa berhenti nggerundel bila belum mendapat penjelasan. Tapi.., harus meminta penjelasan kepada siapa..?
Setelah itu
“Lho.., mas..? Kok sendirian..? Tarmo mana..? Daripada bengong, kita jalan-jalan yuk..!! Bareng sama temen-temen”
Tiba-tiba si gadis manis dari RT sebelah muncul. Seperti biasa, dia menyapaku sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya, dia mengucapkan kalimat panjang, bukan sekedar “Hai..” Untung Tarmo pulang, untung aku ditinggal sendiri, untung aku merenung di depan rumah.
“Hehe.., ayuk. Tapi aku ambil mercon dulu ya..”
“Tidak perlu mas. Kemaren aku dah beli banyak banget. Nih..!!”
Bagai embun di pagi hari, pelita di malam hari, teh manis dikala sore. Gerundelanku hilang, berganti dengan kesejukan hati. Tadi aku tidak puas terhadap apa..? Siapa menyalahkan siapa..? Organisasi yang mana..? Entahlah. Peduli amat.
Hanyut di jalan aspal, nyangkut di tegalan sawah
Lalu terdampar di negeri sunyi
Lusinan kata terangkai jadi sebait mimpi
Merah mentari tersiram di kanvas imaji
Desir angin kita tampung dalam botol waktu
Dan celoteh burung kita rekam di sekeping angan
Pada prasasti pagi, kita tulis kisah ini
Antara aku, kau, mentari, dan belasan mercon
Ramadhan, 2007