Rabu, 27 Februari 2008

Prasasti Pagi : NU VS Muhammadiyah VS Gadis Manis dari RT Sebelah

Usai subuh kami terduduk di teras mushalla. Pak ustadz menyuruh kami masuk mendengarkan ceramah, tapi aku (beserta tiga orang bapak) memilih untuk tetap di teras saja. Sebab kami tidak tahan panas. Mudah berkeringat. Lagipula disini kami jadi bisa mengobrol. Biarpun dengan berbisik-bisik.

Seperti biasa, si penceramah (seorang petinggi muhammadiyah) memulai dengan ucapan salam. Lalu basmallah, lalu alhamdulillah. Setelah itu menjelaskan berbagai hal tentang ibadah dan bid'ah. Dari sini, kami, para penghuni teras bisa menebak bahwa beliau pasti melanjutkan ceramahnya dengan salah-salahan. Menyalahkan organisasi lain.

"Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah. Dzikir HARUS diucapkan dengan lirih. Rasulullah SELALU menangis bila menyebut nama Allah. Jangan berdzikir keras-keras seperti yang ditayangkan televisi”

“Muhammadiyah memutuskan bahwa tanggal satu syawal jatuh lebih awal dari NU. Sebab kami menggunakan perhitungan yang teliti. Sekarang adalah jaman modern dimana rukyat sudah tidak relevan lagi. Untuk apa melakukan rukyat kalau bisa menghitung peredaran bulan secara tepat.”

“Warga NU terpatok pada kyai, melakukan taqlid buta, tidak mau mengkritisi kyainya. Padahal kyai bukanlah nabi, mereka hanya orang biasa yang suatu saat bisa salah. Dan jika pendapat mereka salah maka kesalahan tersebut akan menimpa seluruh umat NU.”

“Ingat, para zionis berusaha untuk memecah belah kita. Runtuhnya menara kembar WTC adalah awal dari rencana jahat mereka. Sekarang masjidil aqsa sedang digali, sebuah terowongan dibuat dibawahnya. Kelak terowongan tersebut akan membuat masjidil aqsa runtuh. Rakyat palestina tidak diperbolehkan melaksanakan shalat jum’at. Tapi Negara-negara arab tidak mau membela mereka. Tidak mau mencegah perbuatan para zionis yang ingin meruntuhkan masjidil aqsa. Itu adalah tanda bahwa Negara arab sudah berada dibawah kontrol zionis. Mereka berhasil dipecah-belah. Jangan sampai hal itu juga menimpa kita.”

Entah apalagi yang beliau katakan. Aku tak berminat mendengarnya. Aku lebih suka mendengar obrolan para bapak. Sebab mereka membahas hal yang lebih bermakna. Tentang pekerjaan, sulitnya ekonomi, iuran sekolah anak yang melambung tinggi, irigasi sawah yang dimonopoli petani kaya, atau apapun. Ingin rasanya aku menyanggah si penceramah. Meminta beliau berhenti menyalah-nyalahkan. Apalagi, menurutku, beliau menyalahkan pihak lain padahal beliaunya sendiri juga salah.

Begini, dzikir tidak WAJIB dilakukan dengan lirih. Dzikir artinya mengingat Allah. Dalam hati atau lewat ucapan. Lirih atau keras. Pekikan Allahu Akbar ketika berperang bisa disebut sebagai dzikir. Rasulullah TIDAK SELALU menangis bila menyebut nama Allah. Coba sebutkan dalilnya. Silahkan menyalahkan dzikir yang dilakukan oleh ustadz arifin ilham atau umat NU asalkan dalilnya kuat.

Yang menentukan benar-tidaknya hisab adalah munculnya bulan. Bila setelah dihitung (seteliti apapun perhitungan tersebut) tapi ternyata hilal belum muncul, maka perhitungan tersebut tidaklah tepat. Sudah ada teropong super canggih yang bisa digunakan untuk melihat bulan. Jauh lebih modern daripada hitung-hitungan.

Aku sering bertanya pada pak ustadz, pengurus muhammadiyah, atau siapapun tentang tanggal satu syawal lalu mereka menjawab bahwa itu hasil hisab. Tapi saat ditanya lebih jauh tentang metodologi hisab, mereka tidak tahu. Akhirnya, saat sudah tidak bisa memberi jawaban lagi, mereka berkata bahwa : “Itulah yang diputuskan oleh organisasi”. Lihat, bukankah ini bisa disebut sebagai taqlid juga..? Kenapa mereka melarang kita bertaqlid pada kyai tapi menganjurkan bertaqlid pada organisasi..?

Satu lagi. Mari setuju bahwa aktivitas ngaco para zionis harus dihentikan. Tapi aku heran terhadap si penceramah. Beliau menganjurkan agar jangan mau di adu-domba tetapi beliau sendiri mengadu-domba kita.

Itulah sebabnya kami lebih suka menempati teras mushalla. Sebab dari luar, kami masih bisa mendengarkan isi ceramah, bisa merokok, mengobrol dengan berbisik-bisik. Dan yang paling penting, bila kebetulan tidak setuju dengan isi ceramah, kami bisa mengacuhkannya. Menggunakan mulut dan telinga kami untuk membahas hal yang lebih berguna. Entah tentang pekerjaan, keluarga, anak, istri, maupun rencana merenovasi mushalla.

Menurutku tindakan si penceramah tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku takut para jamaah bertaqlid pada beliau. Aku harus meminta penjelasan disertai dalil-dalilnya. Agar diketahui siapa yang salah diantara kami. Sayang, begitu ceramah usai, sebelum aku sempat beranjak dari duduk, beliau sudah berpamitan lalu memacu sepeda motornya. Membuatku harus meminta jawaban pada pak ustadz dimana beliau bilang tidak tahu. Lalu bertanya pada Tarmo yang mana.., dia.., seperti biasa.., membela mati-matian apa yang difatwakan muhammadiyah. Tak peduli fatwa tersebut benar atau salah.



Beberapa menit kemudian.., di depan rumah..
Tarmo sudah pulang, dia ingin melanjutan tidurnya sampai siang. Dia tidak mau menjawab pertanyaanku sebab menurutnya, pertanyaan apapun, selama tidak sejalan dengan prinsip oganisasi adalah pertanyaan yang salah. Tidak perlu dijawab.

Gelap mulai memudar seiring terangnya sinar mentari. Aku masih duduk di sebongkah batu di depan rumah. Aku tidak puas. Aku bosan mendengar prosesi salah-salahan. Aku tak bisa berhenti nggerundel bila belum mendapat penjelasan. Tapi.., harus meminta penjelasan kepada siapa..?



Setelah itu

“Lho.., mas..? Kok sendirian..? Tarmo mana..? Daripada bengong, kita jalan-jalan yuk..!! Bareng sama temen-temen”

Tiba-tiba si gadis manis dari RT sebelah muncul. Seperti biasa, dia menyapaku sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya, dia mengucapkan kalimat panjang, bukan sekedar “Hai..” Untung Tarmo pulang, untung aku ditinggal sendiri, untung aku merenung di depan rumah.

“Hehe.., ayuk. Tapi aku ambil mercon dulu ya..”

“Tidak perlu mas. Kemaren aku dah beli banyak banget. Nih..!!”


Bagai embun di pagi hari, pelita di malam hari, teh manis dikala sore. Gerundelanku hilang, berganti dengan kesejukan hati. Tadi aku tidak puas terhadap apa..? Siapa menyalahkan siapa..? Organisasi yang mana..? Entahlah. Peduli amat.



Usai subuh, kita berjalan meniti pagi
Hanyut di jalan aspal, nyangkut di tegalan sawah
Lalu terdampar di negeri sunyi

Lusinan kata terangkai jadi sebait mimpi
Merah mentari tersiram di kanvas imaji
Desir angin kita tampung dalam botol waktu
Dan celoteh burung kita rekam di sekeping angan

Pada prasasti pagi, kita tulis kisah ini
Antara aku, kau, mentari, dan belasan mercon

Ramadhan, 2007


Selasa, 26 Februari 2008

Jin yang aneh

 

Malam ini daku duduk ditengah ruangan, dikelilingi oleh empat pemuda berusia dua puluhan plus adik daku (masih 17 tahun). Para pemuda itu ingin menjajal kesaktian batu bertuah yang konon bisa membuat kita tidak mempan ditembak.

Sebenarnya, batu tersebut hanya batu biasa, bukan terbuat dari bahan istimewa. Namun konon, batu tersebut sakti karena ada Jin yang menghuni di dalamnya. Itulah alasan kenapa saat ini, detik ini, daku duduk ditengah-tengah mereka. Daku ingin adu ngeyel dengan sang jin penunggu batu.

Islam mengajarkan bahwa kita harus membatasi interaksi dengan Jin sebab kita tidak bisa memastikan benar-tidaknya kata-kata si Jin. Banyak yang mengaku sebagai arwah orang mati, roh ini, penguasa itu, tapi setelah diminta memberikan bukti, mereka tidak mampu. Banyak pula yang mengaku beragama islam akan tetapi setelah diberi penjelasan bahwa mereka tidak boleh merasuki manusia, mereka marah lalu main ancam. Kehilangan nuansa islamnya.

Daku geram dengan Jin-jin semacam itu. Yang sukanya mengaku-aku, membual, mengobral kata, membohongi umat manusia. Daku menunggu saat dimana bisa melabrak mereka. Mematahkan argumen ngaco mereka, lalu membuktikan bahwa kata-kata Jin tidak boleh langsung dipercaya. Banyak yang mengagung-agungkan kaum Jin. Menganggap Jin lebih hebat dari manusia. Orang semacam itu biasanya tetap ngeyel biarpun diberi penjelasan berupa dalil. Mereka hanya bisa ditakhlukkan oleh bukti. Menurut daku, ini adalah saat yang tepat untuk memberi mereka bukti.

Oleh para pemuda, si jin diminta merasuki seseorang diantara kami. Dan dari wangsit yang mereka terima, hanya satu orang yang diinginkan oleh si jin. Orang tersebut berwajah purnama, bermata kaca, bertubuh penuh cahaya, namun dompetnya tipis. Ya benar, tidak salah lagi, orang itu adalah daku. Mereka meminta kesediaan daku yang sedang teringat pada surat An Nas.

  1. Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia
  2. Raja manusia
  3. Sembahan manusia
  4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi
  5. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia
  6. Dari (golongan) jin dan manusia.

Berhubung yang dikatakan oleh Alquran pasti benar maka daku mengiyakan permintaan tersebut. Sebab daku yakin, bila berlindung sepenuhnya kepada Allah, pasrah kepada sang pemelihara dan penguasa kita, raja kita, sesembahan kita, si Jin tidak bisa merasuki tubuh kita. Karena islam melarang kita (jin dan manusia ini) saling rasuk-merasuki.

Singkat cerita, daku duduk di tengah dan salah seorang pemuda berkomat-kamit sambil konsentrasi memanggil jin penunggu batu. Perlahan tangannya mengejang, mengejang, semakin mengejang, hingga lama-lama tubuhnya bergetar hebat. Daku tetap duduk diam. Hati daku berkata : “Peduli amat”

Disinilah masalahnya. Saat itu, melihat tubuh temannya bergetar makin hebat, salah seorang pemuda berteriak

"Lepas mas.., lepas..!!"

Daku bingung, apa yang harus dilepas..? Baju..? Celana..?

Lalu

Duaarr...!!!

Si pemuda jatuh ke belakang, lalu bangkit. Ada yang aneh, dia seperti bukan pemuda yang tadi. Sebab tangannya tiba-tiba bergerak-gerak seperti sedang menari, mirip wayang orang.

"Ono Opo..??"
(Ada apa..?)

Dia bertanya dengan suara serak berwibawa. Seperti kata daku, mirip wayang orang.

"Assalamu'alaikum mbah" Sapa salah seorang pemuda

"Wa'alaikum salam. Sopo iku..? Sopo..? GRRRHHH..!!"
(Wa’alaikum salam. Siapa itu..? Siapa..? GRRRHHH..!!).

Si mbah marah. Telunjuk kanannya menuding-nuding daku.

"Aku ora sudi. Ora sudi. Wong iku kotor, nganggo anggon-anggon. Kotooorrrr..!! Uculi.., cepet uculi...!!"
(Aku tidak sudi. Tidak sudi. Orang itu kotor, memakai anggon-anggon/pegangan. Kotorrrr..!! Lepas. Cepat lepas…!!)

Glek..!!

Daku tambah bingung. Nganggo anggon-anggon..? Memangnya daku memakai apa..? Apa salahnya memakai baju dan celana..? Bukankah manusia memang harus berpakaian..? Kenapa disuruh melepasnya..? Aneh benar si mbah ini..?

"Mas.., cepat dilepas. Mas pake jimat kan..? Si mbah marah. Sebab jin yang menguni jimatnya berjiwa kotor"

Nah.., kan..? Tambah aneh kan..? Jimat apanya..? Daku gak punya jimat kok..?

"Grrrhh..., Grrhh..!!"

Si mbah menunjuk-nunjuk pinggang daku. Si pemuda mudheng dengan maksud mbah, beda dengan daku yang tetep bingung. Ingin rasanya bertanya pada si mbah, tapi daku takut mbok si mbah marah. Bukan mbah nya yang ditakuti, tapi keributan yang nanti bisa terjadi. Bila marahnya sambil berteriak-teriak, seisi rumah bisa geger. Bahkan para tetangga bisa ikut geger. Berdatangan. Lalu daku disalah-salahkan. Dianggap telah membuat si mbah marah, membuatnya berteriak-teriak dan mengganggu ketenangan warga. Padahal daku bukan orang situ. Ah, andai tadi main rasuk-rasukannya di lapangan saja.

"Mas.., sabuknya dilepas. Itu jimat mas"

What..??

Rona wajah daku berubah, daku melongo. Sabuk..? Jimat..? Kok bisa..?

"Gus.."

Tanya daku pada si bagus sambil melepas sabuk. Dia juga bingung.

"Sabuk ini kamu yang beli kan..? Bukan jimat kan..?"

Bagus menggelengkan kepalanya

"Bukan Gie. Lha wong belinya di toko kok, tujuh ribu limaratusan."

What..??

Rona wajah daku tambah berubah. Tujuh ribu limaratus..? Seorang mahasiswa tampan memakai sabuk yang harganya tujuh ribu limaratus..? Berani-beraninya adik daku membelikan sabuk yang harganya segitu..? Padahal sabuk dia dua kali lebih mahal. Pikirnya dia lebih tampan dari daku apa..?

"Nih mas.."

Daku serahkan sabuk pada si pemuda. Si pemuda menyerahkan pada si mbah. Si mbah memegang sabuk sambil memerankan tokoh wayang orang.

"Hmmm, hmmm.."

Beliau (Akhirnya daku tahu bahwa nama si mbah adalah patih Projosekti yang berhubung berstatus sebagai pejabat maka sesuai etika harus dipanggil dengan sebutan "beliau") menjampi-jampi sabuk daku.

"Iki sabuk wis tak bersihno. Sabuk iki elek, duwe kharisma nggo narik jin-jin sing wateke elek. Mriki, nek purun, sabuk iki arep tak isi kekuatan putih. Sing bersih, sing apik. Nek ora, lewih becik dibuang wae. Hmm.., hmm.."
(Sabuk ini sudah aku bersihkan. Ini sabuk jelek, punya kharisma untuk menarik jin-jin berwatak jelek. Sini, kalau mau, sabuknya aku isi dengan kekuatan putih. Yang bersih, yang baik. Kalau tidak, lebih baik dibuang saja)

"Maksudnya apa mas..?"

Tanya daku pada si pemuda yang tadi menyerahkan sabuk pada si "beliau"

"Sabuk kamu mau diisi dengan kekuatan putih"

"Jin..?" Daku bertanya lagi

"Iya, boleh..?" sambungnya

"Ogah..!!"

Lho..??

Begini. Bukan sok alim, sok pamer atau sok sakti sehingga merasa tidak butuh kekuatan jin. Tapi tanpa harus sakti pun daku memang tidak membutuhkannya. Daku ini manusia, hidup sebagai manusia, mati pun tetep manusia. Sebagai manusia, daku dilarang meminta pertolongan kepada Jin. Dibatasi agar tidak terlalu berinteraksi dengan Jin (kecuali kalau Jinnya mengganggu, harus dihajar, digebuk, dipukuli). Makanya dengan keyakinan penuh, daku menolak tawaran tersebut.

"Kalau begitu sabuknya dibuang saja mas. Mbok nanti dihuni oleh jin jahat"

Tunggu sebentar. Dibuang..? Maksudnya, sabuk yang dibeli oleh adik daku dengan harga tujuh ribu limaratus ini harus dibuang..? Gila apa..? Emang belinya pake daun..? Emang nyari duit itu gampang..? Emang si "beliau" gak tahu betapa susahnya mencari uang..? Kok seenaknya nyuruh sabuk ini dibuang..? Gak bisa. Pokoknya gak bisa. Daku gak rela.

"Nggak papa mas. Lebih baik sabuknya dibiarkan seperti apa adanya. Jangan diisi jin apa-apa, juga jangan dibuang"

"Bener nih..?"

"Bener"

Ya, benar. Tidak apa-apa. Toh selama ini, sabuk itu tidak pernah mengganggu daku. Tapi malah membantu. Disaat daku jarang makan sehingga tubuh makin kurus yang membuat celana daku kedodoran, sabuk itulah yang mengikat erat pinggang daku. Membuat celana daku tetep pas. Jadi menurut logika, si sabuk tidak salah apa-apa.

"Ya sudah.."

Akhirnya, setelah para pemuda mengobrol panjang lebar dengan si "beliau" berkaitan dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi biar batunya bisa bertambah sakti, si "beliau" pun pergi. Tapi terlebih dahulu, dia menyembah cincin yang tergeletak di tanah, milik salah seorang pemuda.

"Putri rengganis, kulo nyuwun pamit. Menawi kulo sempet lepat, kulo nyuwun pangapuraning kanjeng putri"
(Putri Rengganis, aku mohon pamit. Kalau tadi aku salah, mohon kanjeng putrid sudi memaafkan)

Bussshh..!! Pemuda yang tadi dirasuki tersadar kembali. Tubuhnya kecapekan. Nafasnya ngos-ngosan. Lelah, berkeringat.

Di pihak lain, mahasiswa tampan melilitkan sabuk ke pinggang kurusnya. Dia marah, mangkel. Hatinya nggerundel.

Nyuruh mbuang sabuk..? Enak aja. Jin sialan. Gak tahu kondisi perekonomian manusia. Disaat banyak orang kelaparan, dia malah nyuruh daku membuang sabuk..? Awas, nanti kalau ada rasuk-rasukan lagi, daku mau protes pada si "beliau". Daku mau bilang bahwa sabuknya rela tak buang asal "beliau" bisa ngasih ganti rugi. Entah tujuh ribu limaratus atau berapalah. Pake mata uang negeri jin juga gak papa. Nanti tinggal di kurs kan ke rupiah. Biar daku bisa beli sabuk lagi, yang baru.

"Gie.., kenapa..?" Tanya bagus

"Hehe, gak kenapa-napa"

Tiba-tiba daku jadi ragu. Bolehlah nanti para pemuda main rasuk-rasukan lagi. Bolehlah yang diundang si "beliau" lagi. Bolehlah daku diajak ikut nonton permainan mereka lagi. Bolehlah si "beliau" memilih tubuh daku lagi. Boleh pula, agar bisa dirasuki, sabuk ini daku lepas dulu. Tapi masalahnya, kalau saat itu daku tetep yakin pada surat An-Nas, bahwa kita harus berlindung kepada Allah, bahwa main rasuk-rasukan itu tidak boleh, bahwa mengharap bantuan jin itu tidak ada gunanya sebab merasuki tubuh daku saja tidak bisa apalagi kok membuat kita kebal peluru, si jin malah mencari alasan lain.

Bisa saja dia berkata bahwa biarpun tidak menggunakan sabuk tetapi daku masih pake jimat. Lalu dia bilang bahwa celana jeans daku adalah jimat. Baju daku adalah jimat. Jaket daku adalah jimat. Bahkan celana dalam juga jimat. Takutnya, jangan-jangan, nanti si jin berkata :

"Pokoknya mahasiswa tampan ini dikelilingi jimat. Jadi agar bisa kesurupan dia harus telanjang bulat."


Nah, loch..!!!


Minggu, 24 Februari 2008

Hantu, Rumah Kosong dan Judi


Tengah malam

Warung diramaikan oleh segerombol pria. Beberapa orang diantaranya mengoceh riuh sehabis menenggak anggur kolesom. Sisanya, yang menganggap bahwa mabok itu dosa, memilih untuk berjudi saja. Tak berpikir bahwa judi pun sama berdosanya.

Warung tersebut terletak di rumah kosong yang sekian tahun tak dihuni. Ada orang yang menyewa satu ruangan, ruang lain dibiarkan terbengkalai. Bila waktu menginjak pukul dua dinihari, si pemilik warung pulang kerumahnya di hutan bambu, membiarkan para pemabuk dan penjudi beraktifitas di teras rumah. Katanya sekalian untuk menjaga benda-benda berharga di dalamnya.

Seiring detak jarum jam, mereka terhanyut dalam buaian kartu. Mengamati, menghitung, dan memikirkan cara untuk menang agar bisa mengantongi rokok dji-sam-soe yang dijadikan taruhan. Sebab lagi-lagi, kata mereka, berjudi dengan taruhan uang itu dosa, jadi lebih baik taruhannya rokok saja.

Tiba-tiba mereka dirundung sunyi. Mulanya, seseorang mendengar suara tawa wanita, disusul oleh ngikik bayi. Dia menajamkan telinganya, lalu menengok ke ruang kosong yang gelap gulita. Setelah itu, ada lagi yang mendengar dan menengok. Lalu lagi, lagi dan lagi hingga semua orang ikut memalingkan muka. Akhirnya, setelah meyakinkan diri bahwa memang ada suara dari dalam situ maka secara serempak, cepat dan tanpa di komando, mereka lari ketakutan.


Dua jam setelahnya
Seorang bapak (yang tadi ikut berjudi) dan seorang pemuda berwajah purnama, berhati permata, namun berkantong tipis, duduk di tempat yang tadi ditinggalkan. *Si bapak mengeluarkan sebungkus rokok dji-sam-soe. Mereka menyulut dan menghisapnya, lalu mendiskusikan rasa bebek goreng yang baru mereka santap di warung dekat terminal purwokerto. Si bapak berkata bahwa bebek gorengnya empuk dan enak, si pemuda tampan menjawab bahwa biarpun enak tapi sayang, rada berminyak.

Setelah mengambil kata sepakat bahwa apapun rasanya, bebek goreng tetap mahal bagi kantong mereka, obrolan pun beralih pada peristiwa yang tadi terjadi. Si bapak bercerita tentang suara tawa wanita dan ngikik bayi, tentang lingkang-pukangnya para pemabuk dan penjudi (termasuk dia yang ikut-ikutan lari).

Mendengar hal itu, seharusnya si pemuda bersyukur. Sebab secara langsung atau tidak langsung, sengaja atau tidak sengaja, suara tersebut berhasil membubarkan aktifitas manusia kurang kerjaan yang hobi mengisi waktu dengan kegiatan tak berguna. Namun berhubung saat itu otak sang pemuda sedang terganggu gara-gara makan bebek goreng, dia jadi emosi. Kurang lebih, si pemuda berpikir seperti ini :

  • Pertama : Para pemabuk dan penjudi itu salah.
  • Kedua : Namun mereka adalah pria-pria pemberani. Sebab TUHAN pun tidak mereka takuti. Biarpun mabok dan judi adalah perbuatan dosa, kalau dilakukan bisa masuk neraka, tapi mereka tak ambil peduli.
  • Ketiga : Pak RT sudah berkali-kali memberi nasehat tapi tidak diindahkan. Buat apa takut pada pak RT..? Pada Tuhan saja mereka tidak takut..?
  • Keempat : Akhirnya mereka lari saat mendengar suara hantu.
  • Terakhir : Kita boleh bersyukur sebab mereka menghentikan aktifitasnya. Tapi yang tidak bisa diterima adalah, bila Tuhan pun tidak mereka takuti, lalu kenapa harus takut pada hantu..?

Berdasar pemikiran tersebut maka si tampan langsung bangkit dari duduk, maju menghampiri pintu rumah lalu menggebraknya : BRAAK..!!!

Terang saja dia marah. Sebab walau manusia-manusia itu salah, tapi kenapa si hantu, yang biarpun berhasil menghentikan kesalahan tersebut, malah menjerumuskan pelakunya pada hal yang lebih salah lagi. Yaitu membuat mereka takut. Padahal jujur saja, takut pada hantu (atau jin) terkadang menjadi pintu gerbang menuju musyrik.

Lagipula, bisa saja suatu saat nanti, mereka itu, manusia ngawur itu, mabok dan berjudi di tempat lain yang bebas hantu. Tapi mungkin, ketakutan mereka tetap ada. Dan berarti, kesalahan mereka bertambah. Sudah mabok, berjudi, eh takut hantu pula.

Itulah akhirnya yang membuat si tampan menyimpulkan bahwa biarpun tidak bisa membuat mereka berhenti mabok dan berjudi, maka tak apalah bila bisa membuat si hantu berhenti mengganggu. Itu pula sebabnya dia menggebrak pintu lalu dengan nekat berteriak :

“Wooii, cepat keluaaaarr…!!! Ayo nongol kalo berani..!!!”
“Woooiiii….!!!”

Tapi sia-sia saja. Jangankan menongolkan diri, sekedar tawa ngikik pun tidak ada. Padahal, bila berkenan, si pemuda ingin mengajak berdiskusi. Tentang bagaimana cara membebaskan warung dari kegiatan judi tanpa harus membuat pelakunya ketakutan. Siapa tahu si hantu punya ide cemerlang untuk menyelesaikan masalah ini.

Kalau toh ternyata si hantu hanya berniat mengganggu, si tampan sudah memikirkan langkah selanjutnya. Menyuruhnya berhenti menakuti manusia. Dan andai dia tidak mau, maka tak ada jalan lain. Mending si hantu dipukuli saja. Toh konon katanya dia berjenis kelamin wanita, jadi mungkin tidak sekuat hantu pria. Siapa tau dia kalah lalu kapok.

Jam setengah lima.
Sebentar lagi adzan subuh. Untuk terakhir kalinya, si tampan berteriak :

“Woooiii….”


*Berhubung rokoknya tidak jadi dijadikan taruhan, maka menurut si tampan, rokoknya masih halal


Sabtu, 23 Februari 2008

Once Upon A Time - Kuburan Gunungwangi

 
“Mas.., kemaren pergi kemana..?”

Kemaren..? kapan..?

“Waktu naik motor sama tarmo, si bagus, sama temennya juga”

Ke Kuburan Gunung Wangi.

“Lho..? Ngapain..?”

Nyari taneman puring, sapa tau ada yang bagus

“Memangnya nggak dosa..?”

Dosa kenapa..? Itu kan kuburan milik warga, daku ini kan warga, jadi kuburan itu ya punyaku juga. Jadi gak papa kalo daku ngambil taneman barang sebiji dua biji. Lagipula puringnya kan mau tak stek, tak potes, bukan tak cabut. Secara hukum, daku ini bukan nyuri, tapi ngambil apa yang memang jadi hak milik.

“Maksudnya bukan itu maas...!! Gini lho, apa pergi ke kuburan itu gak dosa..? Gak musyrik..?”

Dosa..? Kata siapa..?

“Lha, kan banyak yang pergi ke Gunung Wangi bawa kemenyan atau dupa. Katanya minta pesugihan, jimat atau apalah namanya. Itu kan hukumnya musyrik. Kita gak boleh minta-minta kepada kuburan”

Iya juga sih. Daku juga heran pas sampai disana. Bekas bakaran kemenyannya banyak banget. Bertumpuk-tumpuk. Bahkan mungkin gara-gara mangkel sebab gak dapet jimat, ada orang yang nekat mencopot atep makam. Terus hiasan anak panah di pucuknya diambil. Sekarang atepnya masih rusak, belum dipasang lagi. Tapi daku gak minta apa-apa kok. Daku cuma ngambil taneman. Kalau toh minta puring, bukan kepada kuburan. Tapi ke penjaga makam. Sekalian nanya-nanya tempat yang paling nyaman itu dimana. Siapa tahu tempatnya bisa dipesen. Biar kalau mati gak usah nyari tempat lagi.

“Mas togie gak bawa apa-apa..?”

Jelas bawa dong. Makanya daku ngajak Tarmo. Dia pasti punya rokok, biar daku gak usah beli. Daku cukup bawa korek aja. Nanti rokoknya tinggal minta. Lumayanlah, gratis.

“Memangnya gak takut mas..?”

Takut apa..?

“Hantu”

Kenapa harus takut hantu..?”

“Soalnya mbok mereka ngganggu”

Kalau memang mereka pingin nganggu ya gak papa. Asal setelah itu mereka bantu-bantu nyari puring. Soalnya harganya mahal je. Dulu pernah beli yang masih kecil, enam puluh ribu perak. Padahal puringnya gak bagus-bagus amat. Ck, makanya daku nekat nyari disana. Sekalian ziarah.

“Mas togie gak diganggu..?”

Nggak.

“Padahal waktu pergi kesana aku sampai merinding lho mas”

Kenapa merinding..?

“Soalnya takut”

Kenapa takut..?

“Mbok nanti diganggu”

Diganggu siapa..?

“Hantu”

Kenapa harus takut diganggu hantu..? Kenapa gak bales gangguin si hantu..? Kenapa puring yang bagus harganya mahal..? Kenapa matahari harus bulet bukan kotak..? Kenapa rambut kamu gak digundul saja..? Kenapa setelah pontang-panting nyari dana kok kita belum bisa mbenerin atep mushalla..? Kenapa harus beli kopi di warung..? Kenapa ayam gak bisa melahirkan kerbau..? Kenapa..? Kenapa coba..?


Depan mushalla, saat gak punya uang
Februari, 08


Mbingungi Love Story



Semalam aku bermimpi menelpon dia, tepat di hari ulang tahunnya. Kami mengobrol banyak, mendiskusikan berbagai hal yang kami alami. Aku ingin merealisasikan mimpi itu. Aku akan mengumpulkan duit untuk membeli pulsa. Lalu mengajaknya ngobrol, yang lama.

Ngobrol..? Lama..? Apa manfaatnya..? Hal itu tidak menjamin bahwa kamu bisa mendapatkan hatinya. Sebab mungkin saja, saat itu, di mimpi itu, dia juga ditelepon oleh orang lain yang mengucapkan hal serupa. Ngobrol tentang masalah yang sama. Bila tebakanku benar, maka rencanamu takkan menghasilkan apa-apa. Kamu rugi. Rugi waktu, rugi pulsa.

Salah. Dalam kasus ini tidak ada untung rugi. Bila bisa mendengar suaranya, sebanyak apapun pulsa yang kuhabiskan, sesingkat apapun kami bicara, aku tetap bisa disebut untung. Kalau toh dia tidak mau mengangkat teleponku, aku harus bersyukur. Sebab paling tidak dia tahu bahwa aku masih memperhatikan dia. Ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.

Jangan begitu. Kenapa tak kau gunakan pulsa, waktu dan energimu untuk hal yang lebih berguna

Lho, menurutku inilah hal paling bermakna dalam seutas kisah yang oleh manusia disebut sebagai cinta. Tentang pengorbanan, usaha, harapan. Manusia masih bisa disebut sebagai manusia bila dia masih punya semangat untuk berusaha, bila belum menyerah. Itulah yang menyebabkan kita tetap survive menghadapi seleksi alam yang ekstra kejam. Yang telah memusnahkan dinosaurus, Pithecantrophus erectus, serta burung Dodo

Tapi untuk apa berusaha bila hanya menghasilkan kesia-siaan..?

Siapa bilang sia-sia..? Dengan menelponnya, paling tidak, aku bisa menanamkan sebibit benih cinta. Bila disiram, dipupuk, dan dirawat dengan baik, mungkin benih tersebut akan tumbuh, berkembang, membentuk sebuah pohon cinta, berdahan asa, berdaun suka, berbuah bahagia. Kalau toh benihnya harus mati, maka kita tidak bisa langsung mengklaim bahwa dia mati. Bisa saja hanya mati suri.

Ck, aku kasihan kepadamu

Justru kamu yang patut dikasihani. Sebab manusia tanpa semangat juang seperti kamu, kelak akan musnah digilas seleksi alam. Kamu akan bernasib sama seperti manusia purba yang telah habis dari muka bumi. Menyisakan tulang-kerangka yang diteliti oleh para ahli.

OK, taruhlah kamu bisa menelpon, anggap dia mau mengangkat telepon, tapi apa yang nanti kalian bicarakan..?

Tentu aku akan mengucapkan selamat ulang tahun, lalu dia akan berterimakasih dan minta didoakan

Ya, padahal doamu sendiri jarang dikabulkan

Tak apa. Toh tidak ada salahnya kalau aku berdoa..? Mungkin Tuhan tidak mau mengabulkan doaku karena keinginanku, seperti kamu tahu, terkadang nganeh-anehi. Makanya kali ini aku akan berdoa secara baik, mengharap kebaikan.

Setelah itu..? Apa cuma itu..?

Pasti tidak, kami akan membicarakan hal lain. Tapi justru disitulah masalahnya. Dari tadi aku sudah lupa, dalam mimpiku kami bicara apa saja. Kamu yang salah. Seharusnya saat aku sedang merenung, mengingat apa yang baru saja kuimpikan, kamu jangan mengganggu permenunganku.

Sebab aku adalah sisi waras dari otakmu yang harus hadir untuk menuntunmu kembali ke jalan lurus. Akulah yang membimbingmu tatkala errormu kambuh. Akulah yang selalu menasehatimu, mengingatkanmu, menyadarkanmu. Mengembalikan dirimu kepada kenyataan.

Tapi kamu jugalah yang menggangguku. Membuatku lupa terhadap apa yang seharusnya kuingat. Kamu memang waras, sadar, normal. Tapi bukankah sebagai manusia terkadang kita harus mencari alternatif lain yang jauh dari batas kenormalan..? Manusia bukan mahluk statis, tapi dinamis. Punya dua sisi, kanan dan kiri. Yin dan Yang. Kita saling melengkapi. Aku tak bisa hidup tanpamu, kamu tak bisa hidup tanpaku. Itu sudah jadi hukum alam.

Terserahlah

Lho, jangan bilang terserah..!! Aku sedang merencanakan sesuatu yang amat berarti bagi hidup kita. Seharusnya kamu mendukung rencanaku ini. Jangan membiarkanku berjalan sendiri. Kita adalah dua jiwa dalam satu tubuh. Bila tubuh ini berkehendak, kita harus sama-sama mendukungnya.

Aku tak mau mendukung rencana yang tidak jelas asal muasal serta jluntrungnya

Siapa bilang tidak jelas..? Rencanaku sudah sempurna. Bahwa aku akan menelponnya dimalam dia berulang tahun. Aku akan mengucapkan selamat, mendoakannya, mengamini doanya. Aku akan mengajaknya merenungi masalalu.

Hm, sempurna ya..? Kalau begitu boleh aku bertanya..? Kapan dia berulang tahun..?

Tentu awal bulan depan. Tepat tanggal empat maret. Haha, bagaimana mungkin aku bisa lupa. Hahaha..!!! Hahaha..!!! Eh, bentar. Apa bukan tanggal empat belas ya..? Tapi kok, kayaknya tanggal dua empat deh. Yang pasti sih, belakangnya angka empat. Bentar, kalau empat ditambah empat itu berapa..? Delapan ya..? Bukan, bukan delapan. Pokoknya belakangnya empat. Hm, kalau empat kuadrat..? Bukan juga. Ah, tapi tak apa. Kamu pasti masih ingat kan..? Hei.., kamu masih ingat kan..? Wooi, tolong beritahu aku, ulangtahunnya tanggal berapa..? Aduh, jangan pergi dulu dong. Bantu aku..!! Wooii…, Wooii…



Togie
Setelah mimpi telpon-telponan


Minggu, 10 Februari 2008

Suatu ketika di rumah sakit - perang monster.3gp




Jalan Cerita :

Alkisah, sebuah rumahsakit di Purwokerto diserang oleh monster-kurang-tampan ber-jumper abu-abu. Ketika itu, para petugas keamanan berhasil dilumpuhkan oleh sang monster-kurang-tampan. Penghuni rumah sakit pun panik. Mereka berlarian hilir mudik. Namun setelah kelamaan berlari akhirnya mereka capek. Dan memilih untuk kembali ke kamar lalu tidur. Lari-larinya dilanjutkan besok lagi.

Namun ternyata, seorang suster berwajah cantik menggunakan ponselnya untuk memanggil sang-pahlawan-tampan ber-sweater ijo. Kenapa menghubungi dia..? Sebab sang suster inginnya ditolong oleh pahlawan berwajah tampan. Kalau tidak tampan, susternya tidak mau. Jadi, singkat cerita, tanpa perlu basa-basi, monster dan sang pahlawan pun berkelahi memperebutkan wilayah rumah sakit. Mereka adu pukul dengan kerasnya, lalu adu tendang. Hingga dalam waktu singkat, salah satu pihak merasa terdesak

Lalu, bagaimanakan akhir dari pertarungan ini..? Siapakah yang menang dan siapa pula yang kalah..?

Note :
*Sebenernya tak buat waktu nungguin temen yang opname di rumah sakit. Tapi berhubung gak ada kerjaan ya bikin film-filman ajah
*Yang di shoot cuman fightnya. Sebab kalo minta bantuan suster agar nyuruh pasien agar lari-lari kan gak mungkin.

Tips : Agar tidak berbohong lewat Ngempi

Berbeda dengan penulis profesional yang sudah bisa mengaduk-aduk isi otaknya dengan lancar. Bagi kita yang baru belajar, untuk mengeluarkan isi kepala saja terkadang perlu tenaga ekstra, apalagi kalau harus menuangkannya menjadi sebuah tulisan yang layak baca. Oleh karena itu, mau tidak mau, kita harus membuat cara tersendiri dalam menulis.

Terkadang isi kepala kita tidak selalu sehat. Kadang bener, kadang jujur, kadang ngawur, kadang amburadul. Bahkan karena sebagai manusia kita sering dihinggapi penyakit lupa, maka seringkali apa yang kita tulis sudah tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Harus dikoreksi.

Mari kita lihat drive D di komputer saya. Disana ada folder berjudul blog, yang dibagi menjadi empat sub folder lagi. Yaitu : Masih Revisi, Past, Togie Multiply, dan Friend.

1. Folder masih revisi dibagi menjadi tiga :
a. Folder awal : Berisi ide mentah yang dengan susah payah berhasil saya keluarkan dari semrawutnya otak. Jadi harap dimaklumi kalau tulisan disini begitu ngawur dan tak tersruktur. Intinya, apa yang ingin saya tulis, langsung saya tuliskan di notepad. Sesuai tips nya bang roni yang ini dan ini deh. Bedanya, disini belum ada edit-editan. Makanya, folder ini pun akhirnya dibagi menjadi dua. Yaitu folder ed : Kalau masih perlu diperbaiki, serta folder past : Sudah dikirim ke editted.

b. Folder editted : Untuk melakukan koreksi. Contohnya, Bila menulis bahwa kita baru melihat seorang nenek yang kelaparan sehingga harus memakan botol aqua lalu kita merasa sedih sampai air mata menetes membasahi pipi, Maka tulisan itu harus kita koreksi dulu.

“Apa benar saat itu kita merasa sedih..?”,
“Apa benar air mata kita betul-betul menetes..?”,
“Apa benar menetesnya membasahi pipi..?”
“Apa yang dimakan betul-betul botol Aqua, bukan botol Mizone..?”

Kenapa harus seperti itu..? Sebab berbohong adalah dosa, bisa masuk neraka. Jadi, biarpun dirasa sepele, kita harus berusaha agar tulisan kita bebas dari unsur kebohongan. Sekecil apapun.

c. Folder siap post : Berisi semua tulisan yang telah melalui berbagai revisi. Namun bukan berarti tulisan disini sudah final. Sebab bisa saja nanti kita mendapat ide baru untuk melengkapi tulisan kita. Jadi intinya, kalau anda merasa bahwa tulisan tersebut masih bisa direvisi, lebih baik didiamkan dulu. Namun kalau ternyata setelah menunggu sekian lama kok tidak ada tambahan ide yang muncul, silahkan ada copy tulisan tersebut ke flashdisk, berangkat ke warnet lalu post di multiply.

2. Folder past : Cuma tulisan yang berhasil kita post di MP. Masih dalam Microsoft Word. Kalau ingin, tulisan disini pun bisa anda edit lagi. Buat latihan.

3. Folder togie multiply : Adalah copian dari MP kita berikut semua reply nya. Yaah, siapa tahu diantara mereka yang memberi reply ada yang memberi kesan tersendiri. Misal :

"Lho, kok si dia ngasih reply nya rada beda ya..? Seperti ngasih harapan ke saya..? seperti punya rasa..?"

Atau

"Dari gaya tulisannya kok keliatan kalo dia masih jomblo ya..? Padahal headshotnya manis. Wah lumayan nih..!!"

4. Folder friend : Berisi artikel dari MP'ers lain yang ingin atau perlu kita save. Sebenarnya banyak tulisan MP'ers yang lebih bagus dan lebih bermutu dari artikel di surat kabar, majalah, buletin atau yang lainnya. Dan sayang kalau tulisan tersebut tidak kita simpan. Apalagi, dengan membaca dan mempelajari tulisan mereka, kita bisa belajar untuk memperbaiki tulisan kita.

Yup, kurang lebih itulah yang ingin saya bagi. Tapi sayang, biarpun seperti itu, entah kenapa, tulisan di blog saya dari dulu sampai sekarang masih begini-begini saja. Tetap amburadul juga. Gak pernah beres.

NB : Sebenarnya hanya ingin mengembangkan tips nya bang roni saja sih. Yang namanya tips kan untuk dipelajari dan dilakukan, bukan cuma dibaca. Kecuali kalau tips nya nganeh-anehi.

Daku Gak Ingin Berbohong, Daku Gak Mau Berbohong, Pokoknya Jangan Sampai Daku Berbohong, Titik

Hari ini ada pukulan telak yang menghantam kepala daku. Menggoncang, menginjak-injak, lalu mendamparkannya ke masa lalu. Ya.., otak daku terasa seperti dipukul palu saat ada teman yang berkata : "Gie, sekarang aku jarang baca tulisanmu, sebab kata-katanya kasar"

Duarr..., Jelegaarr.., DRRTTTTT...!!!
(Terjemahan : Suara mercon, ledakan bom, disusul oleh sengatan listrik sebesar 20.000 volt)

Anehnya, saat itu daku gak marah. Kenapa..? Karena daku memang sengaja berkata kasar, daku sengaja menulis apa adanya, sesuai kenyataan. Biar klop dengan apa yang daku alami, yang daku rasakan.

Lho.., alasannya..?

Begini. Ada yang bilang bahwa apa yang kita tulis merupakan cermin dari kepribadian yang kita miliki. Hal ini ada benarnya. Namun sayang, tidak selalu se-benar itu.

Dulu, daku ingin menulis dengan sok agamis, sok moralis, agar tulisan daku dapat mencerahkan orang lain. Tapi akibatnya, banyak orang yang salah paham.

Daku pernah diprotes. Katanya sifat daku tidak sesuai dengan kesan yang ditangkap lewat apa yang daku tulis. Dan itu berarti, tulisan tersebut telah mengakibatkan orang lain salah menilai. Dan berhubung daku menulis dengan disengaja, maka bisa diartikan bahwa daku telah menimbulkan kesalahpahaman secara disengaja pula. Dengan kata lain, lewat kesengajaan itu, daku telah berbohong lewat tulisan.

Terlepas dari dunia tulis menulis, dengan modus operandi yang hampir sama, daku pernah berbohong pula. Saat KKN di desa lemahjaya, daku pernah disangka sebagai ikhwan karena ikut Unit Kerohanian Islam, berjenggot (walau masih tipis), serta malu-malu jika bersalaman dengan lawan jenis. Padahal asal tahu saja, memang daku salamannya cuma menempelkan ujung jari, tapi itu lebih disebabkan karena daku mudah grogi. Jangankan bersalaman dengan wanita cantik, lha wong bersalaman dengan wanita genit berpakaian seksi yang walaupun wajahnya biasa saja tapi sukanya tonjol-sana-tonjol-sini pun daku tetep grogi kok. Pernah pula daku disangka sebagai orang kaya yang punya dua villa mewah karena sikap daku yang sok borjuis. Bahkan sialnya, daku pernah dikira sudah menyandang predikat sebagai haji.

Sejak saat itu, secara drastis, daku merubah pola tulisan. Tiap kali menulis, daku gak pernah lagi ingin dianggap sok agamis atau moralis. Pokoknya, sebisa mungkin, daku ingin membuat tulisan yang apa adanya, agar tidak lagi menimbulkan salah sangka. Kalau daku lagi marah, tulisan daku ya bernada marah. Kalau lagi sedih ya terkesan sedih. Bahkan kalau misalnya daku menulis yang rada baik tapi daku belum bisa melakukan kebaikan tersebut, daku usahakan untuk menambah kata-kata yang mencerminkan bahwa : "Daku belum bisa melakukannya"

Karena itulah, kali ini, daku mohon maaf kalo sering kasar. Karena dalam kehidupan sehari-hari terkadang daku memang bersikap kasar (kalau gak percaya silahkan tanya pipin). Walaupun kadang pula daku bisa bersikap baik. Sebab daku masih manusia normal, bukan nabi, bukan wali, masih punya sisi baik dan sisi buruk. Dan satu-satunya cara yang bisa daku lakukan untuk menggambarkan diri daku dengan apa adanya, ya dengan membuat tulisan dengan gaya seperti ini. Agar hanya dengan membaca, seolah-olah anda dapat melihat sikap daku dalam kehidupan sehari-hari. Sama seperti ketika pipin takjub dengan omongan daku yang sok terpuji, ataupun kejengkelan dia saat daku omeli.

Sedangkan kalau ada yang berkata bahwa kesalahpahaman itu bukanlah apa-apa sebab toh banyak orang yang menulis tentang kebaikan saja, maka hanya ada satu tanggapan yang dapat daku berikan. "Daku dan mereka amatlah berbeda". Mungkin dalam kehidupan sehari-hari mereka memang selalu dipenuhi kebaikan. Mungkin mereka memang sudah bisa melakukan segala nasehat dan kata-kata indah yang terlanjur mereka tulis. Sedangkan daku..? Bah...!!!

Terakhir.., semoga gak ada lagi yang salah paham terhadap daku. Semoga semua bisa tahu bahwa daku bukanlah ikhwan yang rajin mengaji, bukan orang kaya, juga bukan haji. Semoga semua dapat memahami bahwa daku tidak ingin berbohong, jangan sampai daku masuk neraka gara-gara berbohong lewat ngempi. Sebab tanpa berbohong pun dosa daku sudah banyak.

Ck, jangan sampai deh.

Bukan orangnya.., tapi pola pikir yang dia punya

Daku sering berpikir bahwa daku telah berbuat dosa menggunakan multiply. Yaitu dengan melakukan ghibah. Menceritakan berbagai kejelekan, ketidakwajaran, dan kengawuran yang daku temui. Yang menghinggapi berbagai macam orang. Baik saudara, teman, tetangga, atau mereka yang entah siapa namanya.

Ghibah sendiri, menurut islam, berarti menceritakan kejelekan orang lain. Merupakan salah satu perbuatan buruk yang berujung dosa. Hampir sama berdosanya seperti melakukan fitnah. Bahkan, orang yang melakukan ghibah diumpamakan seperti memakan daging/bangkai saudara sendiri.

Lalu, apakah sekarang ini daku telah berubah menjadi sesosok kanibal menyeramkan yang mempunyai gigi taring, mulutnya berleleran darah dan tubuhnya menyebarkan aroma bangkai..? Ternyata, setelah daku pikirkan dengan matang, jawabannya adalah TIDAK.

Begini, kerapkali, yang daku ceritakan di multiply diambil dari obrolan dengan berbagai macam orang yang pola pikirnya telah terkontaminasi nafsu duniawi dan libidoni. Obrolan tersebut, tentu saja, didasarkan atas asas saling percaya. Agar yang tahu obrolan kami hanyalah segerombol jin kebetulan sedang nongkrong disitu, malaikat yang selalu rajin mencatat tingkah laku kami berdua, serta Gusti Allah yang memang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Oleh karena itu, daku menceritakan isi obrolan tersebut dalam bentuk yang berbeda. Tanpa menyebut nama si pelaku. Daku harap, dengan begitu, walau sudah dituangkan dalam bentuk tulisan dan diceritakan ke orang lain, tetap tidak ada yang mengetahui bahwa daku punya sisi jelek begini, dia begitu, si anu jeleknya suka menganu-anu. Intinya, daku berusaha memfokuskan diri pada kejelekan tersebut, bukan pada si empunya kejelekan.

Selanjutnya, dan yang paling penting, daku tidak menyebut nama. Daku hanya menyebut : "Manusia ngawur, error, atau semacamnya". Hal itu tidak bisa digunakan untuk melacak identitas pelaku yang sebenarnya. Karena daku punya banyak teman yang terkadang error pula. Kalau nekat mencari, sama seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Alangkah mengenaskannya bila kita tidak boleh mengungkapkan ketidak-setujuan kita karena takut dianggap ghibah. Lagipula, bukankah segala sesuatu dinilai oleh Allah berdasarkan niatnya..? Daku tidak berniat untuk menjelek-jelekkan dia. Daku hanya menjelek-jelekkan pola pikirnya. Daku tidak pernah menikmati hal ini. Karena terus terang saja, tidak ada nikmat-nikmatnya sama sekali. Tiap kali memencet keyboard untuk menulis, perut daku langsung mual. Dan dalam setiap kata yang daku tulis, terkandung kelamnya aura mual. Belum lagi kalau harus meneruskan rasa mual itu sampai menjadi paragraf, alinea, lalu berlanjut terus hingga titik terakhir.

Ingat, hukum alam mengajarkan bahwa jika suatu perbuatan nyleneh dibiarkan berlangsung terus tanpa ada yang mencegah, tanpa ada yang mengkritik, maka lama-lama perbuatan tersebut akan dianggap sebagai sebuah kewajaran. Yang tidak perlu dirisaukan. Akibatnya, berhubung sudah dianggap wajar, akan ada yang mencoba menirunya. Dan bila menyenangkan, diceritakan kepada orang lain. Ditiru lagi. Kesenangan lagi. Diceritakan lagi. Ditiru lagi. Begitu seterusnya sedemikian hingga perbuatan tersebut menjadi trend umum. Ramai-ramai dinikmati. Digilai.

Nah, begitu. Makanya daku nekat menuliskan kisah-kisah yang terjadi disekitar daku. Walaupun tentu dengan menyamarkan identitas si pelaku. Sebab di tempat lain mungkin sedang terjadi kisah yang sama, keanehan serupa. Semoga kisah tersebut dianggap aneh pula. Agar kita menyadari mana yang boleh, mana yang tidak boleh. Mana yang dilarang atau dianjurkan. Mana pahala, mana dosa. Mana orang biasa dan mana mahasiswa yang sudah terkenal ketampanannya.

Semoga alasan ini bisa diterima.


Mau Sakti..? Gak ah..

“Gie, ikut belajar beladiri yuk..?”

"Mm, beladiri macam apa..?"

“Tenaga dalam Gie. Yang nglatih keren. Bisa ilmu gelap ngampar”

"Buat apa..?"

“Buat mukul orang. Kalo kena pukul, orangnya bisa hangus”

"Apa nanti orangnya gak mati..?"

“Kemungkinan sih mati”

"Kalo gitu daku gak mau ah. Daku gak mau membunuh. Daku kan cinta damai"

“Gimana kalo belajar ilmu lain Gie, biar tahan pukul..?”

"Belajarnya gimana..?"

“Pake nafas..”

"Emang ada belajar yang gak pake nafas..?"

“Nggak ada lah. Emangnya belajar mati..?”

"Terus cuma nafas-nafas doang..?"

“Nggak. Ada doa, wirid, rapalan dan puasanya segala”

"Puasa buat apa..?"

“Ya biar sakti Giiieee....!!!!”

"Ck, ogah ah"

“Lho, kenapa..?”

"Sebab menurut daku, puasa tuh hanya ditujukan buat Allah Ta'ala. Niatnya tulus ikhlas, bukan pingin sakti"

“Emangnya nggak boleh..?”

"Daku gak tau. Tapi pinginnya sih, kalo soal puasa, shalat, dzikir, dan semacamnya, daku niatkan buat Allah saja. Jangan diembel-embeli pingin sakti segala. Tapi tunggu bentar. Kamu bilang ada wiridnya..?"

“Iya. Nyebut nama Allah, malaikat jibril, mikail, isroil, terus syeh siapaaaa gitu”

"Kok harus nyebut nama mereka..?"

“Sebab aturannya gitu Gie..”

"Aturan darimana..?"

“Dari guru”

"Kok kayaknya di Alquran ato hadits gak disebutin yang kayak gitu..? Padahal, soal agama, mending nurutin syariat aja. Gak bikin aturan macem-macem"

“Tapi kan kita bisa sakti”

"Apa untungnya jadi orang sakti..? Toh sesakti-saktinya orang, masih lebih sakti orang kaya. Sebab biarpun gak sakti, kalo pingin begini-begitu, mereka bisa mbayar orang-orang sakti. Jadi, kalo ingin melebihi orang sakti, cara paling gampang ya jadi orang kaya saja. Asal kaya nya bukan dengan cara yang melanggar aturan agama. Lagipula, misal udah puasa trus kita jadi tahan pukul trus nanti berantem, kayaknya malah gak seru. Sebab kalo gak mempan dipukul, berantemnya jadi tidak punya nilai seni. Yang namanya berantem itu, lebih nikmat kalo dibonusi dengan rasa sakit sebagai bumbu. Biar nikmat"

“Ck, omong-kosong. Orang penyakitan macam kamu sih, paling-paling sekali dipukul juga langsung pingsan. Gak sempat ngerasain sakit”

"Lho.., kok ngomong gitu..?"

“Emang bener kan..? Mau bukti..?”

"Haha.., maaf ya..!! Daku ini orangnya cinta damai. Gak suka berantem"

“Bah, alasan”

"Ya udah. Kalo emang gak percaya, ayo berantem...!! Tapi tahu sendiri kan, kalo misal daku kena pukul sekaliiii aja, Tarmo yang sejak pulang dari korea kok jadi hobi melakukan hibernasi itu gak bakal tinggal diam..? Kalo nanti dia marah, kamu berani nanggung resikonya..?"

“Jangan bawa-bawa Tarmo dong Gie..”

"Dia gak tak bawa kok. Dari kemaren dia tak taruh di hutan bambu. Sapa tau bisa dijadiin sesajen"

"Cih.., ngeyel..!!"

"Daku gak ngeyel. Daku cuma bicara fakta. Daku gak pingin jadi orang sakti kalo caranya gak sesuai aturan agama. Mending daku jadi orang biasa aja. Yang penting ibadahnya tulus buat Allah ta'ala. Bukan buat mencari kesaktian. Tapi kalo kamu gak setuju dengan prinsip daku ya udah. Jangan marah. Kalo pun tetep marah ya silahkan. Toh nanti daku bisa cerita ke Tarmo. Dia kan bukan pecinta damai. Jadi biarpun nanti tiba-tiba tangan kamu dibikin pindah ke kaki terus kakinya nyungsep ke hidung terus hidungnya jadi tambah pesek ya gak papa. Gimana..? Masih mau diteruskan..?"

"Ck.., kok gitu..?"

"Dari dulu daku emang begini. Tapi kalo kamu gak berani berarti kesimpulannya harus ditambah satu lagi. Bahwa orang sakti pun, seperti kamu ini, yang katanya nanti bisa ilmu gelap ngampar dan tahan pukul ini, masih tetep kalah sakti dibanding Tarmo yang cuma bermodal nekat."

Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan

Pada dasarnya, apabila menemui suatu masalah, kita harus mencari penyebab masalah tersebut lalu menemukan solusinya. Namun sayangnya, kita terbiasa (atau lebih suka) untuk mencari siapa pelakunya. Dan terkadang (lebih tepat bila disebut "sering"), yang salah bukan kita, tapi orang lain. Atau biarpun bisa diketahui dengan jelas bahwa yang salah adalah kita, orang lain harus tetap dianggap salah pula. Kalau bisa, orang tersebut malah HARUS lebih salah dari kita. Hobi menyalah-nyalahkan inilah yang kerap menimbulkan kejadian tidak sedap pada diri saya.

Begini. Dulu ada orang yang memberi vonis bahwa saya adalah PECANDU NARKOBA. Alasannya gara-gara tubuh saya kurus kering, sering melamun, lalu cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Kata dia, para PECANDU biasanya bertubuh kurus. Lalu, karena pengaruh zat psikotropika, saya jadi sering melamun. Konon katanya saat melamun itu saya sedang "nge-fly". Setelah puas menjelajah alam langit dan kembali ke alam nyata, saya langsung cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Alangkah tidak nyambungnya.

Padahal dalam kasus ini, alur logika yang kita gunakan seharusnya sebagai berikut :
  • Permasalahan : Badan saya kurus, hobi melamun, suka cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala
  • Penyebab : Macam-macam. Bisa Narkoba, kurang gizi, kurang makan, badan tidak sehat, atau semacamnya
  • Fakta :
  1. Pola makan saya tidak teratur. Kadang dua kali sehari, kadang sekali, kadang seharian gak makan nasi.
  2. Kalau kurang makan, seseorang (atau saya) jadi sering melamun
  3. Dulu rambut saya gondrong. Kalau jarang keramas sering gatal
  4. Saya mudah grogi. Manusia peng-grogi suka cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala
  5. Saya jarang punya uang. Gak mungkin bisa beli NARKOBA
Nah, sekarang bisa anda lihat bahwa bila dia mau menggunakan otaknya dengan sedikit lebih bijak, seharusnya dia bisa menyimpulkan bahwa tubuh dan tingkah laku saya yang mengenaskan ini disebabkan oleh kurang makan, rambut gondrong, dan mudah grogi. Bukan oleh NARKOBA. Jadi bila mau mencari siapa yang salah, maka yang salah bukan saya. Tapi otak dia.

Kasus lain terjadi ketika bapaknya si gadis manis dari RT sebelah meninggal. Saat melayat, ada remaja putri yang melihat saya dengan penuh rasa takut. Dia bilang tatap mata saya mennyeramkan, seperti ngajak berantem. Lalu dia menyimpulkan bahwa saya sudah beralih profesi dari mahasiswa tampan menjadi PREMAN.

Disinipun terjadi alur pikir yang salah pula. Seharusnya logikanya begini :
  • Permasalahan : Saya disangka preman
  • Penyebab : Ada yang meninggal
  • Fakta :
  1. Dulu almarhum pernah menolong saya waktu dikejar-kejar sapi gara-gara sapinya tak kasih makan lombok sampai kesetanan
  2. Saya merasa berhutang budi
  3. Beliau juga pernah mengajak saya menggembala bebek dimana menggembala bebek itu ternyata amat menyenangkan
  4. Saya tidak menjenguk beliau saat sakit
  5. Saat meninggalpun, saya hanya bisa berbuat dua hal. Ikut mengambil keranda mayat di kuburan lalu mendoakan beliau
  6. Hal itu menyebabkan saya merasa menjadi manusia tidak berguna
  7. Saya jadi marah campur sedih. Dan pas diwaktu marah itu ada remaja putri yang senyam-senyum tapi saat saya meminjam HP untuk nitip absen ke teman kampus agar besok bisa mbolos kuliah dan ikut ke kuburan lalu tidak dikasih padahal pulsa yang nanti dipakai adalah pulsa milik saya dimana hal tersebut menyebabkan saya bertambah marah
  8. Sebagian orang, kalau marah, tatap matanya jadi tidak ramah
  9. Almarhum adalah orang tua si gadis manis dari RT sebelah

So, silahkan anda cari dimana salahnya. Padahal bila mau berpikir lebih bijak, mungkin dia tidak akan mengambil kesimpulan seperti itu. Misal seperti kasus di yogya.

Di tulisan yang ini, tergambar dengan jelas betapa berat tingkat depresi yang saya alami ketika nyasar. Belum lagi bila ditambah fakta bahwa sejak sehari sebelumnya saya sudah dilanda sakit kepala yang amat menyiksa. Sulit tidur semalaman. Saat bangun pun, badan ini tidak bisa digerakkan. Saking pusingnya, kepala saya tidak bisa diangkat dari nyamannya bantal. Dengan kondisi seperti itu, maka wajar bila di warung kebab, saya menunggu mbak mona dengan raut muka abstak, dihorrorkan asap rokok djarum black yang mengepul tiada henti. Tak terbayangkan betapa semrawutnya wajah ini. Mungkin hampir se-seram saat melayat di RT sebelah.

Namun untungnya, mbak mona ternyata bersikap berbeda dengan orang-orang yang tadi saya sebut. Saat datang, tanpa BA BI BU beliau langsung tersenyum sambil menyapa : "Togie ya..?". Lalu mengajak ngobrol dalam suasana yang menyenangkan. Hingga wajah saya yang tadinya horror pun jadi normal kembali gara-gara ikut tersenyum. Bahkan karena senyam-senyum dengan senang, sakit kepala saya pun jadi hilang, tidak kerasa. Bahkan saat itu tak sebatangpun rokok djarum black yang saya sulut. Menakjubkan.

Nah, dari sini bisa kita simpulkan bahwa bila menghadapi sesuatu yang dianggap "bermasalah", maka terlebih dahulu, kita harus mengumpulkan informasi yang cukup untuk mencari penyebabnya. Kalau toh tidak bisa, maka lebih baik jangan menyimpulkan atau menyalahkan siapa-siapa. Mending senyam-senyum saja. Sebab ternyata, senyum itu bisa menghilangkan sakit kepala.

Note : Tapi sesampainya di rumah pakde, sakit kepalanya kambuh lagi. Sulit tidur lagi. Baru bisa pergi ke alam mimpi kira-kira jam setengah satu dinihari.


Sabtu, 02 Februari 2008

Tingkah Laku Orang Jenius

 

Beda antara jenius dan normal terletak pada pola pikir. Manusia jenius selalu berpikir jauh melampaui apa yang terbersit oleh otak manusia biasa. Contoh mudahnya adalah dalam permainan petak umpet.

Dalam permainan ini, anak-anak sering mencari tempat persembunyian yang dianggap strategis. Misalnya dibalik tembok, diatas pohon, atau ditempat biasa lainnya. Itulah yang terlintas di benak orang biasa.

Namun belasan tahun lalu, di kota purwokerto, ada satu anak jenius yang sudah berpikir jauh melampaui anak-anak lain. Dia sudah mampu memahami makna dibalik permainan petak umpet. Yaitu, kita harus bersembunyi, jangan sampai tempat persembunyian kita diketahui. Dan berdasarkan pemikiran tersebut, disaat anak-anak lain sibuk mencari tempat persembunyian (entah itu dibalik tembok atau diatas pohon mangga), dia memilih untuk pulang ke rumah, masuk kamar, mengunci pintu, lalu tidur. Jadi biarpun siang sudah berganti malam dan malam berganti pagi, dia tidak kunjung diketemukan oleh anak-anak lain. Itulah sebabnya si jenius tersebut kemudian menjadi maestro dalam permainan petak umpet.

Contoh lain adalah saat membumihanguskan sarang tawon. Sebagai pemula dalam permainan memberantas sarang tawon, dia belum punya cukup ilmu, harus belajar dulu. Jadi, sebagai seorang jenius, dia tidak boleh bersikap gegabah. Harus membuat atau menciptakan situasi dimana dia bisa khusyuk mengamati dan mempelajari tingkah-laku tawon bila sarangnya diganggu. Oleh karena itulah, pada suatu ketika, dia mengajak beberapa orang kawan untuk mencoba menyerang satu sarang tawon yang berukuran besar. Dia menyuruh kawan-kawannya untuk memanjat pohon dan membakar sarang tawon menggunakan obor. Dia cukup melihat dari jauh lalu mengamati segala sesuatu yang bisa diamati, yang bisa dipelajari. Hingga akhirnya, saat teman-temannya lari pontang-panting karena disengat tawon, si jenius tinggal menyimpulkan bahwa berurusan dengan serangga semacam itu amat berbahaya. Sebab kita bisa terluka.

Atau kemarin, saat belanja di kompleks "shopping", yogyakarta. Setelah berputar-putar tak tentu arah, dia melihat seorang gadis berjilbab yang cukup manis sedang menunggui toko buku. Dia ingin mengunjungi toko tersebut namun disana sudah dijejali oleh calon pembeli yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Jadi, sebagai seorang jenius, dia pun membuat taktik yang amat mencengangkan.

Teknisnya begini. Dia mengajak temannya (yang bernama pipin) untuk berputar-putar lagi. Nanti, setelah tokonya sepi, baru dia datang dan bertanya macam-macam tentang segala jenis buku. Lalu, dia akan berkata bahwa buku yang dia cari tidak ada. Nah, setelah itu, dia tinggal bertanya nomor telepon toko tersebut, dengan alasan agar dia bisa mengkonfirmasi apakah buku yang dia cari sudah ada atau belum. Kalau bisa, jangan hanya nomor telepon tokonya saja, namun no hp si gadis sekalian. Biar nanti dia bisa mengirim sms, dan smsnya bukan hanya berkisar soal buku, tapi juga tentang hal lain. Misalnya, “Hallo mbak.., apa kabar..?” Hahaha..!!! Lihatlah, betapa jeniusnya.

Sayang, biarpun sudah berputar-putar cukup lama, entah kenapa toko tersebut selalu dijejali oleh calon pembeli. Dan lagi-lagi, entah kenapa, semua calon pembelinya berjenis kelamin laki-laki. Sehingga taktik yang super jenius itu tidak berhasil diterapkan. Ck, sial.

Itulah beberapa contoh yang niscaya terbersit di otak seorang jenius. Dan bila anda pun berpikir dan bertingkah laku seperti itu, maka kemungkinan besar, anda pun termasuk orang jenius pula.

Abang Tukang Becak : Pahlawan di Kala Nyasar

 

Tuhan telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna. Berbekal kesempurnaan itulah maka manusia diangkat sebagai khalifah di muka bumi. Sebab mereka bisa mengatur dan menguasai alam raya ini. Dengan hati, mereka bisa bertindak sesuai dengan apa yang Dia perintahkan. Dengan otak, mereka bisa menembus sampai dasar bumi, menyelami kedalaman laut, serta menjelajah angkasa raya. Sayang, tak semua manusia mampu (atau sedikitnya, berusaha agar mampu) memegang amanah yang super-berat itu. Dua orang diantaranya adalah saya dan pipin.

Telah dikatakan bahwa manusia sanggup menjelajahi seisi bumi atau terbang melintasi cakrawala. Namun jangankan melakukan semua itu, untuk mengetahui seluk-beluk jalanan kota jogja pun kami tak mampu. Seperti bukan khalifah, kami dihinggapi oleh kebingungan, melintasi berbagai kenyasaran, hingga secara terus-menerus tanpa henti dilanda ketersesatan.

Memang, kami tak menemui masalah saat berangkat dari Purwokerto menuju Jogja. Bahkan kami enjoy-enjoy saja saat mencari palang penunjuk arah menuju keraton. Agar dari situ kami tak mengalami kesulitan untuk pergi ke krapyak, rumah pakde saya. Namun, pagi harinya, saat kami harus pergi mencari komponen elektronik, belanja buku, main ke kost temannya pipin, serta ke warung kebab (buat ketemu sama mbak mona), barulah kami dilanda sindrom "mbingunginus nyasarensis" (penyakit bingung berakibat nyasar).

Ceritanya begini, Kami berangkat jam sepuluh menuju Jalan Mangkubumi (dekat malioboro) untuk membeli IC dan LCD-nya pipin, tapi nyasar dan baru sampai jam sebelas. Dari situ kami berangkat menuju Kota Gede (ke kost temennya pipin), nyasar lagi, tiba jam setengah satu. Pukul dua siang kami ke shopping (untuk beli buku), nyasar sebentar, tiba jam setengah tiga. Kemudian cabut ke warung kebab di perempatan kentungan (ringroad utara), nyasar selama hampir dua jam. Sebab yang kami cari adalah perempatan yang ditengahnya ada tulisan “INI KENTUNGAN”, betapa tololnya. Dan sepulangnya, lagi-lagi kami tersesat hingga baru tiba di kraprak pukul lima sore.

Sialnya, biarpun kami sudah puas tersesat, dikenyangkan oleh bingung, namun saat malamnya kembali menuju perempatan kentungan untuk makan kebab dan ketemuan sama mbak mona, lagi-lagi kami nyasar. Untung saja nyasarnya tidak lama, sebab sebentar kemudian kami sudah tiba disana. Berdiri, duduk menunggu, lalu makan kebab bersama.

Lalu, kalau memang nyasar, kenapa tidak bertanya pada orang lain..?

Lho, siapa bilang kami tidak nanya..? Tapi sebelumnya, alangkah baiknya saya bercerita tentang kejadian bertahun lalu, saat kami juga tersesat di jogja.

Dulu saat nyasar, kami pernah bertanya ke berbagai orang, dengan bermacam pekerjaannya masing-masing. Namun sebagian besar diantara mereka hanya membuat kami bertambah bingung. Ada pria kaya berpakaian necis yang walaupun belum sempat kami tanya namun sudah langsung ngeloyor pergi. Ada mahasiswa bertampang pintar yang merasa terganggu oleh ke-tersesat-an kami. Ada mbak-mbak cantik yang, walaupun memberitahu arah dengan tersenyum manis, namun ada rasa terpaksa dibalik senyumnya itu. Ada orang yang seenaknya menunjukkan arah hingga membuat kami tambah tersesat. Bahkan ada pengendara sepeda motor di perempatan kota-gede yang berlagak tahu jalan lalu berpikir dan ikut bingung hingga lampu merah berganti hijau, berganti merah, berganti hijau lagi, lalu masih tetap berpikir sampai akhirnya dia kami tinggal pergi. Saat itu hanya ada satu yang menjawab dengan memuaskan, yaitu para tukang becak.

Oleh sebab itu, kali ini, kami lebih suka bertanya pada abang tukang becak. Sebab mereka berbeda. Sebagai tukang becak yang bertugas mengantar penumpang, biasanya mereka lebih tahu jalan. Dan sebagai orang kecil dimana orang kecil biasanya ramah, mereka memberi tahu arah dengan ramah pula. Ibarat pelita dalam gelapnya malam, merekalah sang penunjuk jalan tatkala kami tersesat di ruwetnya jogja. Dengan jelas, tegas, dan lugas, mereka memberitahu arah mana yang harus kami tempuh untuk sampai ke tujuan. Dengan ramah dan penuh perhatian, mereka menatap mata kami, mengamati wajah bingung kami, dan terus memberi penjelasan sampai wajah kami tidak bingung lagi. Dengan itu, kami hampir tidak perlu takut tersesat lagi. Sebab bagi kami yang hobinya tersesat ini, nyasar kapanpun, atau dimanapun, selama masih ada tukang becak di muka bumi, kami masih punya harapan. Masih bisa bertanya pada abang tukang becak-sang penunjuk jalan.

Bentar Gie, kalau bisa bertanya pada abang tukang becak yang ramah dan tahu arah, kok masih tetep nyasar..?

Oo, itu ada sebabnya. Mereka adalah harapan terakhir kami. Ibarat senjata pamungkas yang hanya digunakan saat tidak ada lagi yang bisa digunakan. Oleh sebab itu, walaupun kami nyasar entah dimana sehingga seolah-olah tak ada bedanya kami berada di yogya, eropa, cina, afrika atau amerika sebab bagi kami, sama-sama sama-sama membingungkannya, namun selama belum patah harapan, kami belum akan bertanya pada abang tukang becak. Jadi wajar kalau akhirnya kami tetap nyasar, wajar pula kalau nyasarnya pun lama.