Selasa, 01 April 2008

Orang gila, orang sakti, dan motor vespa

 

 

Semalam, pertigaan di samping rumah penuh sesak oleh bermacam orang. Pria, wanita, tua, muda, jomblo, maupun yang sudah menikah. Hanya sedikit yang bisa membuat mereka berkumpul di satu tempat dalam waktu yang sama. Dan seringnya, hal tersebut amat tidak biasa. Entah gara-gara ada yang berkelahi, ditinggal minggat oleh suami, tabrakan sepeda motor, atau orang mati. Itulah sebabnya seorang mahasiswa kurus ikut mengeluarkan tubuhnya dan menggabungkan diri. Dia ingin tahu apa yang telah terjadi

 

"Tadi ada orang naik motor"

 

Seorang jomblo memberi laporan

 

"Tapi motornya gak nyala."

 

Dia melanjutkan laporannya.

 

"Orangnya stess Gie, belum lama keluar dari rumah sakit jiwa. Dulu dia orang sakti. Jadi gila gara-gara kebanyakan ilmu. Dia pernah memakan gelas dan gelas tersebut, walau tadinya sudah dipecah-pecah, tapi bisa dikeluarkan lagi dalam bentuk utuh. Gak ada bekas pecahnya. Seolah-olah didalam perutnya ada lem. Artinya, biarpun gila, dia tetap sakti."

 

"Seharusnya orang seperti itu dirawat di rumah sakit jiwa. Tapi disana dia cuma disetrum, gak diobati. Dia pernah ngamuk dan menggoncang-goncangkan teralis besi, teralisnya sampai bengkok. Para perawat menyetrum teralis itu. Dia mental. Jatuh terkapar. Lalu diikat agar tidak menggoncang-goncangkan teralis lagi. Ternyata orang sakti pun masih kalah oleh setrum. Buktinya, akibat terlalu sering disetrum, sekarang rambutnya jadi botak. Untung dah tumbuh lagi, ada beberapa helai."

 

"Pernah pula dipanggilkan orang pintar sampai tiga kali. Orang pintarnya diajak adu sakti. Orang pintarnya kalah. Katanya, hanya satu orang yang berani menghadapi dia. Tapi orang itu gak bisa mengobati. Makanya dia gak sembuh-sembuh."

 

"Kemaren dia juga kambuh. Sepuluh orang berusaha menenangkan amukannya, semua dimentalkan dengan mudah. Jari telunjuk ibunya digigit sampai putus, pundak istrinya digigit sampai krowak. Untung di hari biasa gilanya gak kebangetan. Paling-paling ngambek sehabis makan. Gelas, piring dan sendok yang selesai digunakan selalu dibanting dan diinjak-injak. Dianggap barang najis yang harus dilenyapkan dari muka bumi. Tapi terkadang kambuhnya bikin rugi. Gara-gara sudah tidak bisa mengguncang-guncangkan teralis besi rumah sakit, dia jadi hobi mengguncang-guncang kulkas. Sekarang kulkasnya rusak, mati, gak mau nyala. Dia terlalu kuat Gie. Makanya kalau lewat sini lagi, lebih baik kita langsung sembunyi, mbok dia marah lalu mengamuk."

 

“Ck, kasihan. Padahal dulu dia alim. Rajin shalat dan puasa, pintar mengaji.”

 

Si Jomblo menceritakan semuanya sambil menatap kosong pada ujung jalan yang dipenuhi gelap. Mahasiswa kurus mengikuti arah tatap mata Si Jomblo.

 

"Pssstt"

 

Tiba-tiba dia menaruh telunjuknya di ujung hidung, telunjuk satunya terarah pada sesosok manusia yang sedang menuntun motor

 

"Itu orangnya Gie. Kita ngumpet yuk..!!"

 

Si Jomblo bergegas menuju warung, orang-orang menyingkir menyembunyikan diri. Ibu-ibu masuk kedalam rumah lalu mengintip dari balik jendela. Seorang suami bergegas pulang untuk memperingatkan istrinya. Para jomblo berpencar. Ada yang ngumpet di balik pohon, dibalik pagar, dimana saja. Tiga orang bapak masih duduk tenang. Mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap si orang gila. Hanya sang mahasiswa yang konsisten menempatkan tubuh ringkihnya di pinggir jalan, menatap sesosok manusia yang menuntun motor sambil menundukkan kepala. Bukannya meremehkan, menganggap rendah atau menghina. Mahasiswa itu cuma ingin tahu wajah si orang gila. Agar di kemudian hari, saat bertemu orang tersebut, dia bisa menempatkan diri dengan baik. Tidak berbuat sesuatu yang bisa membuat orang sakti itu tersinggung. Bisa bahaya.

 

"Gie.."

 

Si Jomblo menganggap sang mahasiswa sok berani, padahal pada kenyataannya tidak seperti itu. Sang mahasiswa memang betul-betul berani, tidak sok. Kalau toh nanti orang gila itu mengamuk, sang mahasiswa tinggal menggunakan ilmu tertinggi yang berhasil dia capai saat belajar bela diri, yaitu Ilmu Kabur. Belasan tahun berteman dengan Tarmo berarti belasan tahun pula dia berlatih untuk kabur. Dia berlatih kabur dari segalanya. Terutama kabur dari masalah, dari kewajiban dan tanggung-jawab. Dia sukses besar dalam latihannya. Karena itu dia yakin bahwa kali ini dia bisa kabur juga. Sebab lari dari tanggung jawab jauh lebih sulit daripada kabur dari amukan orang gila, yang sakti sekalipun.

 

Orang gila itu melewati kerumunan, mengacuhkan segalanya. Dia tetap menuntun motor sambil menundukkan kepala. Dia berjalan pelan. Amat pelan. Hingga lama-lama jauh meninggalkan kerumunan.

 

“Bro, dia orang mana..?”

 

Sang mahasiswa bertanya pada si jomblo yang sudah keluar dari tempat persembunyiannya.

 

“Kampung sini juga. Tapi rumahnya jauh di pedalaman sana. Dilihat dari interval waktu, berarti dia telah menuntun motor sampai sebelahnya kampung sebelah. Entah berapa belas kilometer. Memang kenapa Gie..?”

 

“Gak papa”. Jawab sang mahasiswa. Padahal ketika itu ada selubung gelap melapisi hatinya. Dia teringat pada kejadian beberapa malam sebelumnya. Ketika nyaris pingsan setelah menuntun motor vespa dari terminal Purwokerto sampai rumah. Saat seluruh keluarga menyarankan untuk menjual vespa kesayangannya. Saat dia harus memohon penuh adegan dramatis agar vespa itu tidak jadi dijual. Hingga akhirnya, sebagai penutup cerita ini, sang mahasiswa bergumam :

 

“Ah, andai yang dituntun adalah motor vespa, tentu dia takkan bisa melangkah jauh sampai kemari. Tentu dia sudah pingsan duluan saat melintasi tanjakan. Bukankah bagi orang sakti, menuntun vespa tetap merupakan siksaan..?”

 

 

Purwokerto, maret 08

Setelah hampir pingsan kecapekan gara-gara menuntun vespa

12 komentar:

  1. dijual aja vespanya gie... biar ngga tersiksa... ahahahahag... kan jadi ringan... jalan kaki... :D

    BalasHapus
  2. tulisan bagus lagi dari Togie! wekeekkeke...
    knapa vespanya nda bole dijual si? ada kenangan ya ma vespanya?

    BalasHapus
  3. Yah, jangan dijual dong bang
    soalnya kan vespanya kan mogoknya gara2 kehabisan bensin. bukan karena kerewelan mesin.
    jadi masih bisa dipake dong

    BalasHapus
  4. Iya mbak. Sebab vespa adalah cinta

    BalasHapus
  5. hehehe...orang sakti nuntun vespa, tetep kepayahan yaaa :D

    BalasHapus
  6. dibagian ini gw ngakak...... mahasiswa yg berani tapi tidak sok itu ternyata tetep takut juga sama orang gila ngamuk.....waaakkakakk. tetep gie, gw suka tulisan kamu.

    BalasHapus
  7. ya udah, gini aja Gie...
    Vespanya dijual, buat beli bensin.
    :P

    BalasHapus
  8. @Mbak Mona

    Sepertinya iya mbak
    Coz menurut daku, menuntun vespa itu..

    Ugghh..!!

    BalasHapus
  9. @mbak Ella

    Bukannya takut mbak, tapi menghindar
    Seorang jenderal perang sekalipun harus tahu kapan waktunya menyerang
    Kapan bertahan
    Dan kapan harus mundur

    BalasHapus
  10. @Sendu

    Yaah, itu sama juga bohong ndu
    Daku tetap kehilangan vespa kesayangan daku
    Gak mau ndu
    Gak mau

    NB : Kmrn dateng ke walimahnya indah?

    BalasHapus