Rabu, 14 Mei 2008

#2 Road to nadzar - mereka yang diremehkan

 

 

Jujur, daku kecewa pada ulama hutan bambu. Mereka, yang dulu berjanji membantu renovasi mushalla, ternyata hanya memberi janji tanpa bukti. Padahal mereka adalah tulang-punggung kami. Merekalah yang punya koneksi ke banyak pejabat dan calon donatur. Tanpa mereka, kami tak bisa mencari link untuk meminta sumbangan. Kami tak bisa mengumpulkan dana untuk membeli material dan mengupah para tukang.

Daku ingin bersikap seperti penduduk kampung sebelah yang berjiwa pemberani. Bila ada warga yang hobi menceramahi orang padahal dia-nya jarang ke masjid, niscaya dia langsung diseret menuju masjid dan disuruh berceramah disana. Bila ada yang menggembar-gemborkan kata-kata indah (misal : sebagai muslim kita harus memberikan harta dan jiwa kita, seluruhnya untuk islam) maka besoknya dikirimi proposal permohonan bantuan dana, infak, atau semacamnya. Itulah sebabnya warga kampung sebelah tak banyak bicara, terutama para ulamanya. Sebab apa yang mereka katakan, nasehatkan, atau ceramahkan, biasanya harus diikuti oleh bukti nyata.

Berbeda dengan ulama hutan bambu. Mereka menyuruh kami meminta bantuan kesana-kemari tapi saat diminta ikut turun tidak ada yang mau. Katanya sih.., malu.

Berkali-kali kami mengeluh. Bahwa banyak calon donatur yang tidak percaya pada kami. Banyak yang curiga. Padahal hampir setiap minggu para calon donatur itu bertemu dengan para ulama. Kami ingin, agar saat bertemu itulah para ulama menyodorkan proposal, atau datang langsung ke rumahnya. Kalau toh malas datang sendiri, bolehlah kami temani. Kami jemput, kami antar kembali sampai rumah. Tapi mereka tidak mau. Katanya sih.., malu.

Ingin kami protes. Tapi rasanya tak pantas. Kami hanya manusia biasa. Tak layak memprotes ulama. Akibatnya, nasib mushalla hanya bergantung pada pak ustadz dan keluarganya (yang bekerja sebagai kuli merangkap petani miskin-tak punya koneksi), serta kuli sukarela (seorang mahasiswa tampan dan tiga remaja putus sekolah yang tak tahu apa-apa). Wajar kalau akhirnya renovasi berjalan tersendat. Tak mengalami kemajuan berarti. Tak punya dana untuk melanjutkan renovasi.

Ditengah segala kesulitan itu, bukannya memberi semangat atau membantu, para ulama malah memprotes lambatnya kerja kami. Menyalahkan kami. Bahkan kerap menghina kami. Sungguh, mungkin kondisi takkan separah ini bila mereka mau membantu kami. Memanfaatkan link yang mereka punya, ikut turun mencari bantuan dana. Tapi apa mau dikata.., mereka malu.

Untunglah, ternyata hidayah tidak dibatasi oleh status. Ketika renovasi benar-benar mandeg, ada beberapa warga yang walaupun jarang (dan tidak pernah) ke mushalla tapi mendadak hatinya tersentuh. Membuat kami (panitia renovasi) merasa salut dan terharu sampai ingin menangis..

  • Mas Budi, supir truk ayam. Beliau dekat dengan orang-orang partai. Beliau memanfaatkan kedekatannya untuk mencari sumbangan dana. Mengirimkan banyak proposal yang alhamdulillah di ACC sehingga uang kas perlahan mulai terkumpul.
  • Pak Darsiman, satpam RRI. Beliau meminta sumbangan kepada bosnya serta pada ulama atau da’i yang berceramah di RRI. 
  • Pak sahlan, penjual ketupat. Walau tak pernah menongolkan diri di mushalla, tapi entah kenapa tiba-tiba beliau datang meminta proposal dan pergi berjalan kaki menyusuri jalan setapak di kampung sebelah. Meminta sumbangan pada sanak-saudaranya.
  • Bethik, kernet truk. Beliau sering mengajak daku (serta Tarmo) berputar-putar meminta sumbangan kepada para bos batu-bata.

Anda ingin tahu status mereka dimata masyarakat..? mereka hanyalah sosok tidak penting. Orang-orang seperti mereka sering diremehkan. Mereka bukan alim-ulama. Baca buku iqro saja mungkin tak bisa. Mereka tak pantas disejajarkan dengan para ustadz, da’i, kyai, atau semacamnya. Tapi sungguh, bagi pak ustadz dan bagi kami, mereka adalah pahlawan. Mereka patut dijadikan teladan. Mereka berdakwah (atau beramal) bukan dengan kata, tapi tindakan nyata. Mereka jauh lebih menolong kami daripada para ulama yang hobi bercuap-cuap tanpa mau memberi bukti. Sebab sungguh, tak semua masalah bisa diselesaikan hanya dari balik meja atau mimbar.

Daku pernah bertanya kenapa mereka tiba-tiba memperhatikan nasib mushalla. Dan ternyata, biarpun jawabannya berbeda, tapi sama-sama sederhananya.

  • Sebab saya jarang beribadah. Makanya sekarang lagi mulai ngumpulin bekal biar kalau nanti mati, bekalnya sudah cukup”
  • Saya prihatin dengan nasib mushalla. Kalau diurus orang macam kamu, bisa-bisa sampai kiamatpun gak bakal rampung”
  •  “Dulu anak saya sering mengaji, sekarang sudah berhenti. Makanya saya ingin agar mushalanya cepat jadi, nanti anak itu tak suruh mengaji lagi"
  • Lha wong minta duit buat mabok aja aku berani, masak minta sumbangan buat renovasi mushalla yang imbalannya adalah pahala, kok aku gak berani..?”

Gara-gara itulah, sekarang daku tak lagi memperhatikan status. Bila mengunjungi berbagai forum dan bertemu dengan mereka yang hobi mengobral kata, daku sudah berani bersikap seperti penduduk kampung sebelah (walau masih belum berani berhadapan dengan ulama hutan bambu). Apalagi kalau orangnya suka menyalah-nyalahkan, menyesatkan, dan mengkafirkan atas nama islam. Daku berani meminta mereka menunjukkan bukti. Bila orangnya mampu secara materi, maka tanpa babibu langsung daku minta untuk menyumbang renovasi mushalla. Dan biasanya mereka gak mau. Entah kenapa.

Berbuat, berusaha, jangan banyak bicara. Belakangan ini, para jomblo mulai tertular pola pikir itu. Bila punya keinginan, mereka langsung berusaha meraih keinginannya itu. Tak lagi cuma bilang : “Ingin tobat, pintar, kaya, punya pacar” atau semacamnya Yang biasa bicara kotor, seolah mengunci mulutnya. Yang hobi mabok, tak lagi berjiwa botol. Yang suka berantem, sekarang lebih pemaaf. Mereka jadi lebih irit, murah senyum, ramah pada wanita, bahkan ada yang tumben-tumbennya kepergok lagi belajar..

Dengan prinsip itulah, akhirnya ada beberapa diantara mereka yang sudi ikut kerja bakti di mushalla. Juga ikut berusaha mencari sumbangan dana. Keterlibatan mereka merupakan anugerah tak terkira bagi kami, para kuli sukarela yang ditelantarkan oleh para ulama dan hampir kehabisan tenaga.

Yah, memang saat ini mushalla kami masih hancur tak berbentuk. Tapi biar bagaimanapun, bagi kami, mushalla itu tampak seelok istana. Sebab kami bangun menggunakan tetesan keringat, darah, dan airmata. Bukan dengan kata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar