Kamis, 15 Mei 2008

3 - Fighting tragedy - Asal muasal

 

Belakangan ini, para jomblo bisa bernafas lega. Warung tempat mereka berkumpul sudah bebas dari judi. Sikap tegas polisi ternyata bikin ciut nyali. Para penjudi, yang dulu berkata “jangan takut pada polisi” sekarang hanya bisa gigit jari. Sebab polisi sudah menggunakan sistem baru yaitu sistem paket. Artinya, bila ada penjudi yang tertangkap, tak bisa lagi ditebus secara perorangan, harus seluruhnya. Dan itu berarti, bila satu orangnya dikenai biaya dua juta, maka bila ada sepuluh penjudi, butuh duit duapuluh juta untuk menebusnya. Jumlah yang amat besar.

Begitulah, tak ada lagi perjudian. Tak ada mabok-mabokan. Yang ada paling-paling hanyalah men"suit-suit" gadis manis yang lewat di pinggir jalan. Tapi tak apa. Sebab hal itu memang mengasyikkan. Lagipula, terkadang, akupun suka ikut-ikutan. Tak baik bila mengkritik suatu perbuatan dimana aku sendiri ikut terlibat didalamnya.

Namun seperti kata pepatah : "Selesainya satu masalah, selalu disusul datangnya masalah baru". Belum lama kami menikmati masa kebebasan, segerombol pemabuk dari wilayah sebelah menjajah warung kami. Mereka, dalam setiap kedatangannya, hampir selalu meminta uang pada para jomblo. "Tambahan buat beli minuman" katanya. Dan bila ditolak, mereka tak segan-segan mengancam, menampar, memukul, serta menendang. Akibatnya, para jomblo (yang kondisi keuangannya sering minus itu) makin bertambah minus.

Solusi. Suatu cobaan biasanya sudah satu paket dengan solusinya. Sebagai manusia, kita bertugas untuk mencari, menemukan, dan mengaplikasikan solusi itu. Biasanya, Allah juga menyediakan solusi alternatif bila kita belum dapat menemukan solusi utamanya. Dan karena kami dikaruniai anugerah untuk tak bisa berpikir panjang, maka kami hanya bisa mencoba solusi alternatif yang paling mudah.

Awalnya kami berpindah markas ke pedalaman hutan bambu. Disana, berhubung tak bisa melakukan banyak hal, kami hanya mengisi waktu dengan mengobrol dan berdiskusi. Tapi disitulah untungnya. Gelapnya malam di hutan bambu membuat pikiran kami tertuju kepada alam kubur. Lolongan anjing liar yang memberdirikan bulukuduk membuat kami teringat pada Allah Yang Maha Melindungi. Sosok hantu yang sering muncul menyadarkan kami bahwa ada alam lain dibalik sana, alam para jin dan malaikat yang sering luput dari perhatian. Kepakan sayap kampret membuat kami merasa khusyuk saat berbagi cerita tentang berbagai hal dalam hidup.

Nikmat…

Sungguh, kami merasakan kenikmatan yang amat sangat sampai-sampai tidak teringat lagi pada tipisnya dompet ataupun status yang masih juga menjomblo.

Sayang kenikmatan itu tak berlangsung lama. Para pemabuk menemukan keberadaan kami. Kembali menyatroni kami. Menyuruh-nyuruh kami. Meminta uang kepada kami.

Memang, mereka tak pernah meminta uang padaku. Pernah sih, sekali. Tapi saat tak kuberi, mereka tak berani meminta lagi. Namun tak baik tunduk pada ego. Islam mengajarkan bahwa umat muslim itu bersaudara. Jika sesama muslim disakiti, maka kita merasakan sakit yang serupa. Itulah sebabnya kuajak para jomblo duduk-duduk diteras atas yang lampunya mati. Berpindah markas. Bisa dibilang, sebagai solusi sementara untuk menghindarkan mereka dari jangkauan para pemabuk.

Walau tidak lagi dibuai syahdunya hutan bambu, tapi teras ini bisa memberi suasana yang hampir serupa. Kota baturaden terlihat jelas dari sini. Kerlip lampu disana tampak indah. Belum lagi bila bulan purnama, kami bisa melihat agungnya gunung slamet yang berwarna hitam-kelabu. Kami juga masih bisa menikmati cericit kampret yang terbang bebas lalu berbelok saat hampir membentur tembok. Plus gelapnya rimbun bambu tak jauh diujung sana.

Mengobrol dinaungi malam, saling mencurahkan isi hati.

Gelap, sepi, dan secangkir kopi mengantarkan obrolan kami pada apa yang selama ini hanya menjadi milik rahasia. Topik yang kami bahas bertambah luas. Tak lagi dibatasi oleh zona yang disebut sebagai hitam, putih atau kelabu. Sebab sebagai manusia biasa, kami memang hidup dalam zona-zona itu. Tak ada salahnya saling membuka diri, seperti apa adanya diri kami.

Keamanan…

Bapak (yang galak) dan ibu (yang lebih galak lagi) membuat para pemabuk harus berpikir seribu kali bila ingin mencari gara-gara disini. Itulah yang kumanfaatkan, walau tak bisa berlangsung terus-menerus.

Suatu saat, ibu pasti mengeluhkan keberadaan para jomblo di rumah kami. Bapak (walau sebagai sesama laki-laki pasti bisa memaklumi) pun akan ikut mengeluh agar tidak diomeli ibu. Aku, sebagai anak, tentu harus menanggapi keluhan mereka. Sebab bila tidak, aku bakal diomeli. Dan mendengarkan omelan ibu, rasanya lebih menyiksa daripada dipalak oleh pemabuk manapun di muka bumi. Lagipula, para pemabuk juga pasti takkan berdiam diri. Mereka akan bertindak suatu saat nanti. Entah kapan. Itulah sebabnya aku harus menemukan solusi lain. Secepatnya.

Seperti yang telah diduga, beberapa hari kemudian para pemabuk merasa marah. Mereka berteriak dari pinggir jalan tanpa berani mendekat. Mereka mengirim seseorang (entah siapa) dan mengajak salah satu dari kami untuk turun. Yang dengan tenangnya kami jawab dengan : "kalau ada perlu, suruh mereka kesini". Dan orang itupun pergi.

Yah, seperti itulah. Aku tak bisa berbuat banyak. Disini, di teras ini, di rumah ini, para jomblo aman. Tapi pemerasan, pemaksaan, masih terus mengintai. Hingga akhirnya aku berpikir "Tak bisa terus seperti ini, mereka harus bisa melindungi diri. Berani berkata TIDAK"

Tunggu..,

Ah, nadzar itu…

Nadzar yang lama tertunda akibat kemalasanku…



pic : teras atas yg sampai sekarang lampunya masih mati

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar