Sabtu, 07 Juni 2008

Maaf, dia bukan almarhum

 

Beberapa bulan kemarin, seorang teman dipanggil menghadap sang pencipta. Meninggalkan riuh dan busuknya alam nyata, pergi ke alam kubur yang dipenuhi sepi. Dimakan ulat, dikerubuti cacing, membusuk dan menjadi pupuk bumi.

Mungkin kita menganggap bahwa dia telah mati, tapi sebenarnya bukan. Di alam kubur sana, dia masih hidup. Ditanya oleh malaikat lalu selanjutnya entah diapakan. Jangan-jangan gara-gara tidak bisa menjawab pertanyaan akhirnya dia mengalami siksa kubur..? Ataukah dia bisa menjawab lalu disuguhi indahnya bayangan sorga..? Tak seorangpun tahu. Tabir antara alam nyata dan alam barzakh terlalu tebal untuk ditembus. Dia sudah tak bisa lagi berkomunikasi dengan kita, bercanda, tertawa, ataupun sekedar berbagi kabar. Dia terkurung di zona yang tak terjangkau oleh sinyal HP maupun wireless. Itulah sebabnya kenapa daku (juga yang lain) hanya bisa berdoa. Semoga keluarga yang ditinggalkan bisa bersabar. Ikhlas melepaskan kepergiannya. Semoga kesedihan mereka berangsur mereda. Agar bisa kembali menjalani hidup sebagaimana hari biasa. Amiin.

Sayang, ada beberapa orang yang hatinya dipenuhi rasa tega. Entah karena mencari sensasi atau apa, mereka menyebarkan isu bahwa almarhum bisa kabur dari alam kubur lalu bergentayangan menjadi hantu. Meneror dan menakut-nakuti para penduduk lalu ingin menuntut balas atas ketidak-adilan yang dialami. Daku tak tahu apa yang dimaksud dengan tidak-adil itu, yang jelas, bagi daku, kabar-kabur yang tersiar mirip dengan film-film horror indonesia yang jalan ceritanya sering membuat akal sehat kita menangis, saking amburadulnya.

Daku tak habis pikir, apa hati mereka tidak bergetar saat melihat bapak almarhum menangis dan meneteskan air mata..? Ketika ibu dan nenek almarhum menjerit lalu pingsan..? Ketika adik almarhum kehilangan seorang kakak yang menjadi tempat curhat..? Apa mereka tidak bisa membayangkan betapa sedih hati keluarga almarhum jika mendengar isu bahwa dia telah berubah menjadi sesosok hantu yang ditakuti..?

Entahlah. Selama masih hidup, almarhum selalu bersikap baik pada warga. Dia sering membelikan kami rokok, mewakili kampung kami dalam pertandingan badminton, rajin ikut serta dalam kerja bakti, murah senyum, suka menolong, dan lain sebagainya. Sungguh tidak logis kalau hanya gara-gara mati lalu dia berubah sifat, jadi hobi menakut-nakuti warga sambil berteriak "akan kubunuh kaliaaaannn.., ha.. ha.. ha..!!"

Aneh. Padahal daku dan para jomblo selalu standby di rumah almarhum semenjak dia sakit hingga seminggu setelah dia dikuburkan. Menemani keluarganya, tidur diemperan rumahnya, berjaga-jaga kalau-kalau ibu almarhum kumat lagi histerisnya lalu berteriak dan akhirnya pingsan. Sungguh, selama itu, kami tak mengalami gangguan apa-apa. Paling-paling hanyalah beberapa lusin nyamuk yang selalu bernguing-nguing diatas kepala, atau beberapa jomblo yang tiba-tiba terbangun lalu bertanya : "Mas, besok kuliah jam berapa..?".

Ya, hanya itu. Makanya sungguh aneh kalau warga yang entah siapa dan rumahnya entah dimana kok tiba-tiba mengaku dihantui oleh almarhum.


Namun, cerita belumlah berakhir.


Almarhum bersahabat karib dengan sepasang bapak-ibu yang menjadi tetangganya. Dia sering menginap disana, makan disana, curhat pada mereka, bermain dengan anak-anak mereka. Beberapa hari sebelum meninggal, almarhum tidur di rumah mereka, di kamar depan. Dia bilang ingin tidur sampai sore, istirahat total. Itulah saat terakhir dia menginap.

Alkisah, di hari ke seratus setelah dia meninggal, dia menampakkan diri di kamar depan, menemui suami istri tersebut. Dia mengenakan pakaian yang sama seperti yang dikenakan saat meninggal. Beberapa tetes darah masih mengalir dari mulutnya. Luka bekas operasi masih menyisa di batok kepalanya. Dia datang dengan raut muka sedih. Dia bilang, di alam sana, dia belum nemu tempat tinggal. Dia minta dibuatkan rumah. Dia juga mengeluhkan berbagai hal yang tidak bisa daku ceritakan disini. Suami istri tersebut hanya manggut-manggut dengan diselimuti rasa takut. Lalu besok paginya, lari menemui orangtua almarhum dan menceritakan semuanya.

Nah, disinilah masalahnya. Setelah itu, mereka juga menemui daku. Mereka bilang begini :"Gie, kemaren almarhum datang. Dia minta dibuatkan papan panggonan"

Lha, bukankah kamu cukup diam saja Gie..?

Pinginnya sih. Tapi coba tebak, siapa yang dia minta untuk membuat papan panggonan itu..?


Daku...!!!


GUBRAK..!!


Yah, tapi dihadapi sajalah. Akhirnya daku bilang bahwa roh orang mati itu sudah dikirim ke alam barzakh, tak bisa lagi nongol di dunia fana. Kalau toh ada penongolan, berarti itu mahluk lain, bukan almarhum. Dan mahluk yang bisa nongol-nongol sesukanya adalah jin. Jadi kesimpulannya, daku gak harus berbuat apa-apa. Toh bagi daku, mending membuatkan papan panggonan buat manusia saja, yang ada bayarannya. Bukan buat mahluk semacam jin. Lagipula, semasa masih hidup, almarhum juga sudah tahu bahwa daku gak mudeng masalah klenik. Jadi tidak mungkin dia minta tolong kepada daku.

Pertamanya sih, saat mendengar tanggapan seperti ini, mereka terlihat marah. Tapi mau gimana lagi. Lha wong menurut daku, yang benar ya seperti ini. Lagipula, kalau toh mau mbikinin rumah, mo dibikin pake apa..? Semen..? Kayu..? Pasir..? Batu..? Darimana daku punya duit buat mbeli semua itu..?

Rabu, 04 Juni 2008

Untuk Seorang Sahabat



Persahabatan
Seringnya, sulit dimengerti
Dipahami
Dipelajari

Persahabatan
Adalah masalah hati
Keterkaitan rasa
Serta emosi

Persahabatan
Tak harus baik atau terpuji
Keburukan pun bisa
Diaransemen menjadi simphoni indah
Yang mengiringi jalinan nasib kita
Bersama sahabat

 

*Hari H

"Mo.."

Dibawah sinar bohlam, seorang pria kurus menyapa sohibnya yang sedang duduk sambil menyalakan rokok. Angin malam berhembus menembus tebalnya jaket, kerlip bintang tertutup kelamnya mendung, hujan rintik-rintik mulai turun membasahi tanah.

"Kenapa tak kau balas..?" Lanjutnya.

Si kurus menatap jari tangan Tarmo yang bergetar hebat layaknya sedang menggigil. Bukan.., bukan karena udara dingin. Tarmo terlalu tangguh untuk ditakhlukkan oleh panasnya gurun maupun dinginnya badai salju.

"Tak seharusnya dia berbuat seperti itu..!!"

Persahabatan kedua orang itu sudah terdengar sampai ke pelosok hutan bambu. Mereka selalu bersama, tak terpisahkan. Saling mengisi, saling melengkapi. Bila sedang duduk mengobrol dengan mata menatap langit, tak satu warga pun yang berani mengganggu. Sebab saat itu mereka sedang menjalin komunikasi dengan alam semesta. Merenungi hidup dan kehidupan, menghayati, memikirkan, lalu menuangkan pemikiran tersebut menjadi untaian kata.

"Keterlaluan..!!"

Namun seorang pemuda berani mengganggu. Bukan hanya mengganggu, dia sudah kurang ajar. Tanpa memberi aba-aba, dia mendekati dua sahabat yang sedang merenung, membekap Tarmo dari belakang, menyeretnya ke jalan aspal, lalu membantingnya. Dia memelintir tangan Tarmo hingga terluka dan meringis kesakitan. Membuat sendi pinggangnya seakan lepas, membuat tulang rusuknya terasa patah. Bukannya menyesal atau merasa bersalah, dia malah tertawa terbahak-bahak lalu pergi meninggalkan Tarmo yang masih termangu ditengah jalan. Berdiri dengan muka tertunduk. Berusaha menetralkan rasa marah yang menggelegak didalam dada. Usaha yang amat sulit dan butuh waktu lama. Sebab ketika mendudukkan tubuhnya kembali disamping si kurus, rasa marah itu masih bersisa.

"Dia harus diberi peringatan Mo, biar insyaf. Lampiaskan kemarahanmu. Beritahu dia makna dari rasa takut"

Benar. Ketakutan, tirani, intimidasi, terkadang bisa menjadi membuat orang lain menurut pada kita. Kekerasan adalah obat mujarab untuk mengatasi kekerasan serupa. Apalagi bila yang menjadi tokoh utamanya adalah seorang Tarmo.

"Nggak" Tapi Tarmo menggelengkan kepalanya.
"Biar Gie, diamkan saja." Tarmo melanjutkan kata-katanya

"Apa..? Didiamkan..?" Semoga dia salah bicara.
Tapi sayang, selanjutnya, dengan jari tangan yang masih bergetar Tarmo menjawab : "Ya..!!"

Seketika, gerimis berubah menjadi hujan lebat. Kilatan petir menghantui langit. Suara gemuruh menerpa telinga. Kedua sahabat itu saling berpandangan, berjuta kisah yang telah belasan tahun terekam dalam memori mereka tumpah dalam sekejap.


The Memories

Si kurus, yang sekarang bertubuh kurus, dari dulupun sebenarnya sudah kurus. Berbekal kekurusan itu dia mengikhlaskan diri untuk dijahili oleh teman sekelas maupun sesekolahan. Entah oleh siswa-preman paling ditakuti maupun siswa bukan preman yang karena tubuhnya lebih besar maka tetap harus ditakuti. Tapi apa dinyana, dia tak perlu repot-repot mengikhlaskan diri sebab ternyata, Tarmo lebih ditakuti oleh siswa paling preman sekalipun.

Tunggu, jangan salah paham. Tarmo bukan siswa badung, bengal, atau semacamnya. Dia hanya siswa biasa yang sayangnya, sedikit gila. Dia tidak punya rasa takut. Omelan guru dianggapnya nasehat, hukuman dianggap sebagai sebentuk kasih sayang, bahkan penolakan para gadis diartikan bahwa dia lebih cocok berperan sebagai sahabat serta pelindung kaum hawa dibanding sebagai pacar. Itulah Tarmo. Dia tidak suka cari ribut apalagi sampai berkelahi. Dia hanya terobsesi untuk menggilakan diri. Dan kegilaan itu membuat siswa lain tak berani membuat masalah dengannya.

Sedangkan si kurus..? Dia hanya sesosok manusia yang kisah hidupnya tak mungkin tertuang dalam buku sejarah. Dia tokoh tidak penting yang pantas untuk diacuhkan. Tapi entah kenapa Tarmo begitu melindunginya. Walau Tarmo lebih suka mengejar-ngejar para siswi dan membuat mereka berlari ketakutan daripada menolong siswa lain yang sedang dipalak, tapi bila yang dipalak adalah si kurus niscaya dia langsung menghentikan kejarannya dan ganti mengejar-ngejar si pemalak.

Bukan hanya itu. Biarpun Tarmo (maaf) miskin dan jarang diberi uang saku namun dia hobi mentraktir si kurus tanpa pernah mau balas ditraktir. Dia sering membeli makanan untuk si kurus walau dia sendiri sedang kelaparan. Bahkan saat membeli es serut tapi hanya punya duit seratus perak, dia lebih suka membeli es separoh harga lalu membaginya dengan si kurus daripada mengajak patungan.

Dia selalu melakukan apapun untuk si kurus. Bila hujan turun, dia meminjamkan mantelnya sedangkan dia rela hujan-hujanan. Bila si kurus dinakali, dialah yang babak belur akibat berkelahi sedangkan si kurus disuruh lari. Bila si kurus main sampai sore dan diomeli ibunya, dia menawarkan diri untuk menjadi pihak yang patut disalahkan. Saat nyolong tebu dan dikejar-kejar pak mandor, dia lari ke arah yang berbeda dengan si kurus agar dialah yang dikejar. Dan itu semua dilakukan tanpa mengharap balasan. Satu-satunya permohonan yang pernah dia ucapkan adalah ketika minta diajari pelajaran matematika di hari-hari terakhir menjelang ebtanas. Itupun percuma sebab gara-gara terlalu sering membolos maka sepulang sekolah dia selalu dihukum untuk belajar sendiri di ruang guru.

Alur yang sama terus berlanjut sampai mereka dewasa dan berumur duapuluh tahun lebih. Tak ada yang berani mengganggu si kurus karena itu berarti juga mengganggu Tarmo. Bahkan ketika kembali dari pekerjaannya sebagai TKI dan duit yang dikumpulkan dengan susah payah sudah habis, dia tetap tidak mau ditraktir. Dia malah mendaftar jadi TKI lagi agar bisa membeli ginseng biar si kurus jadi sehat dan tidak kurus lagi. Membelikan laptop agar si kurus bisa melek IT. Mengumpulkan modal untuk me...


Ah.., cukup..!!


Tarmo sudah melakukan segalanya untuk si kurus. Sekarang saatnya dia melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri

"Mo, kau tahu..?"

Si kurus mengeluarkan jurus terakhir. Tarmo harus diberitahu detail kedzaliman yang selama ini terjadi. Tentang penderitaan para korban.

"Kemarin ada gadis dari RT sebelah yang main kesini. Dia memakai rok dan rok itu, dengan semena-mena ditarik keatas hingga celana dalamnya kelihatan. Tak cukup sampai disitu, bahkan (maaf) pantatnya pun ditendang dari belakang. Hal itu dilakukan berulangkali hingga kemudian, sejak beberapa hari ini, gadis itu tidak pernah kesini lagi."

"Lalu si X yang bertubuh kecil. Dia diangkat tinggi-tinggi lalu tulang ekornya dihantamkan ke tegel"

"Juga si Y yang perutnya dipukul sampai hampir muntah, si Z yang ditindih hingga sesak nafas, bahkan pacarnya sendiri juga sering ditampar. Dan semua itu dia anggap sebagai bahan bercanda yang menyenangkan..? Sadarlah Mo. Dimana rasa kesetiakawananmu..?Asal tahu saja. Mereka marah, mereka ingin melawan tapi tidak berani. Mereka kalah bodi. Seharusnya kamu mewakili aspirasi mereka. Mengungkapkan suara hati mereka. Jangan hanya diam."

Mendengar hal itu, tangan Tarmo yang tadinya berangsur tenang kini menggigil kembali. Bahkan lebih hebat. Dia menyelipkan rokok ke sela bibirnya, menghisap lalu menghembuskannya. Asap putih mengepul acak dari sela bibir yang bergetar. Emosinya campur aduk. Hal itu berlangsung lama hingga getaran tangannya berhenti.

"Diam..?" Akhirnya Tarmo kembali bersuara.

"Jujur kuakui. Dibekap dan dibanting-banting seperti tadi, rasanya memang sakit. Namun sesakit apapun tubuh ini, hatiku terasa jauh lebih sakit lagi. Aku jadi ingin membalas."

"Lalu ke…"

Si kurus tak bisa melanjutkan kata-katanya. Mulutnya terasa terkunci ketika melihat Tarmo menghisap rokoknya tuk terakhir kali, menghirupnya dalam-dalam, meracuni paru-paru, lalu menghembuskan asapnya dalam hitam malam. Sinar matanya sudah kembali seperti semula. Seperti masa kecil dulu. Dengan mata itu dia balas menatap si kurus. Dengan mata seperti itu pula kemudian dia berucap :

"Tapi tak apa bila aku diam. Tak apa bila aku harus menahan marah. Asal yang diperlakukan seperti itu bukan kamu.., Gie..!!"

Selanjutnya hanya ada bisu. Hujan sudah mereda. Bulan menyembul dari balik awan. Segerombol kampret kembali beterbangan. Beberapa bintang tampak seperti jerawat di wajah langit. Si kurus melihat punggung tegap Tarmo dari belakang ketika Tarmo kembali ke rumahnya di pedalaman hutan bambu. Selama ini manusia aneh itu telah melakukan banyak hal untuk si kurus. Dan sekaranglah saat untuk membalasnya.

 

*Dua minggu setelah hari H

  • Mata pencaharian si pemuda hampir bangkrut karena si kurus mengajak teman-teman (yang pernah menjadi korban) untuk melakukan aksi boikot
  • Si pemuda hampir putus dengan pacar gara-gara ada pihak ketiga dimana pihak ketiga tersebut didukung habis-habisan
  • Si pemuda dijauhi oleh warga karena si kurus mengajak mereka bersikap tegas dalam menentukan mana yang benar dan mana yang salah
  • Oleh penduduk hutan bambu, pemuda itu dianggap sebagai manusia durhaka
  • Akibat membuat resah warga, si pemuda dibenci oleh keluarganya sendiri
  • Ditambah dengan berbagai masalah lain, sekarang si pemuda menjadi perokok berat dengan muka depresi. Yang sering mondar-mandir sendirian keliling kampung walau jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga dinihari. Yang entah kenapa, sering tiba-tiba berteriak "HUWAAAA..!!!", lalu tiba-tiba pula tertawa : "HAHAHAHA…!!!"

Tapi itu belum cukup. Si kurus takkan berhenti sebelum pemuda itu merasakan apa yang Tarmo rasa. Sebelum melihat jari tanggannya bergetar hebat seperti yang Tarmo alami. Sebelum meminta maaf pada semua orang yang pernah dianiaya terutama pada beberapa gadis yang sering disingkap rok-nya. Sebelum putus dengan pacarnya agar pacar tersebut bisa berpacaran dengan pria lain yang tidak suka menempeleng. Sebelum merubah sifat dan sikapnya. Sebelum si kurus merasa bahwa dia telah melakukan sesuatu untuk Tarmo.

Senin, 19 Mei 2008

#4 Fighting Tragedy - Fall of the Jomblo's

 

“Gie, cepat pulang. Sebentar lagi, gerombolan tukang mabok mo pada kesitu..!!”

 

Sms itu masuk ke HP ku ketika sedang mengajari para jomblo. Membayar nadzar yang dulu pernah kuucapkan kala tergeletak tak berdaya diserang penyakit.

 

Di lapangan ini, mereka berbaris rapi. Memasang sikap kuda-kuda sambil mengatur nafas. Keringat membanjiri tubuh dan muka. Dada kembang-kempis tak beraturan. Bahkan ada yang sudah menyerah. Mengacungkan tangan sambil berkata : “Mas, pusing. Gak kuat..!!”

 

Lemah…

 

Padahal akupun melakukan semua yang mereka lakukan. Memberi contoh. Sama-sama berlatih. Tapi keringatku belum banyak menetes. Nafasku masih teratur.

 

Dari jauh, kulihat ada sepeda motor memasuki lapangan. Tukang mabok itu..? Ternyata bukan. Dua jomblo yang tadi ditinggal di warung datang menyusul.

 

“Gie, mereka mau kesini. Mereka marah. Katanya, mereka mau bikin kita babak belur..!!”

 

Yah, rasa setiakawanlah yang selama ini menyatukan hati kami. Bukannya menyelamatkan diri, Edi dan Kebo malah mendatangi kami, memperingatkan kami. Padahal kalau gerombolan ngaco itu muncul, mereka berdua bisa ikut kena akibatnya.

 

“Gak papa. Mending ditunggu aja.”

 

Benar. Tak ada hal yang bisa dilakukan selain menunggu. Selama ini kami terus lari. Menghindar. Bersembunyi. Mengalah. Itulah yang menyebabkan kami terus ditindas.

 

“Tenang aja. Yang ngajak kalian kesini kan daku. Jadi kalau ada apa-apa, kalian gak usah ikut campur.”

 

Banyak yang melibatkan orang lain kedalam masalah. Hal itu menyebabkan makin banyak pula orang yang terkena masalah. Itulah kenapa lebih baik segala sesuatunya diselesaikan sendiri. Dihadapi sendiri.

 

“Sekarang, ikut latihan dulu. Daripada bengong”

 

Dua orang itu tampak istimewa. Kebo “yang artinya kerbau” tubuhnya memang benar-benar mirip kerbau. Besar, hitam, penuh otot. Sedangkan Edi, walau tak begitu besar, tapi setiap harinya terbiasa mengangkat berton-ton ayam, dari pagi sampai malam. Tenaga dan ototnya telah terlatih. Kuharap mereka lebih kuat dari jomblo lain. Tapi apa mau dikata. Ternyata mereka malah lebih mengenaskan. Mereka hanya bertahan sebentar sebelum akhirnya berkata : “Hosh.., hosh.., istirahat dululah. Hosh.., hosh..!!”

 

Sial.

 

Jadilah kami beristirahat. Menatap beribu bintang di langit. Berdebat mengenai berbagai rasi bintang.

 

“Jit, itu yang namanya rasi Gemini. Rasi-nya orang romantis. Bentuknya mirip dua manusia yang sedang beradu punggung”

 

Itu kataku pada Ujit. Aku yang lahir dibawah rasi Gemini, harus dikenal sebagai orang romantis. Tak peduli bahwa sikapku sehari-hari jauh dari apa disebut romantis.

 

“Tapi mas, kok gak mirip manusia yah, malah lebih mirip layangan..?”

 

“Kalau daku bilang manusianya lagi main layang-layang, kamu mau apa..? Pokoknya itu rasi Gemini. Kalau toh bukan, anggep aja Gemini. Titik.”

 

Dan karena tidak berani membantah, mulailah mereka menciptakan berbagai rasi lain. Ada rasi belut, rasi undur-undur, rasi ikan gurameh, dan entah rasi apalagi. Yang jelas, tak satupun pernah disebut dalam ilmu astronomi.

 

Tak cukup sampai disitu. Lapangan di waktu malam, hembusan angin yang menggoyangkan pucuk-pucuk tanaman padi, suara katak yang meriuhkan telinga, peluh dan lumpur yang menempel di baju dan celana, mengingatkan kami pada memori masa kecil. Pada berbagai permainan dan kenakalan yang dulu kami lakukan. Yang sekarang, kami ingin kembali melakukannya. Ya, main pendekar-pendekaran.

 

Setelah tenaga terkumpul kembali, dimulailah apa yang bisa disebut sebagai tragedi. Sumber masalahnya adalah Edi, kuli ayam itu. Dia mendekati Narto yang sedang duduk termenung. Saat jarak mereka mencapai beberapa meter, dia mengambil ancang-ancang lalu meluncur dan menendang, tepat mengenai dada Narto hingga terjungkal ke belakang.

 

Yeeaahh…!! Begitu teriaknya. Dan Edi tertawa sambil mengacungkan dua kepalan tangannya ke udara.

 

Selanjutnya Alip yang sedang berdiri mematung (sejak patah hati dia jadi hobi mematung). Edi merangkak, mengendap-endap, menyembunyikan tubuhnya diantara rimbun rumput. Dia kembali mengambil ancang-ancang. Melompat dan menendang dagu Alip. Membuatnya jatuh terjungkal.

 

Yeeaahh…!! Dua tangan diacungkan ke udara.

 

Cimang dan kebo, yang bertubuh besar. Merekapun tak luput dari penganiayaan Edi. Kedua raksasa itu dibikin tumbang membentur permukaan bumi.

 

Yeeaahh…!! Dua tangan diacungkan ke udara.

 

Lagi-lagi alip. Saat dia sedang sparring dengan Tarso, Edi mendekati kedua orang itu. Dia merangkak bak singa betina yang sedang mengincar mangsanya. Menyembunyikan diri dengan sempurna sambil bergerak mendekat. Hingga sebelum Alip (sebagai mangsa) menyadari adanya bahaya, dua kaki yang terbang di udara sudah membentur dadanya dengan telak.

 

Yeeaahh…!!

 

Tarso tertawa. Tapi tawa itu tak berlangsung lama. Baru saja mau menutup mulutnya, Edi sudah mengejar. Tarso lari percuma sebab dalam waktu singkat ada dua kaki menghantam punggungnya. Dan seorang lagi, ambruk membentur bumi.

 

 

Hh..,

 

Penganiayaan..?

 

Kupikir, itulah yang sedang terjadi. Berbeda dengan dulu ketika bermain pendekar-pendekaran. Dimana kami berteriak : “Aku Wiro Sableng..!!”, “Aku Batman”, “Superman”, “Si buta dari Goa Hantu”, dan langsung memukul membabi buta. Saat itu kami hanya pura-pura memukul atau menendang. Bukan menendang beneran seperti sekarang.

 

Aku ingin mengirim sms pada Tarmo dan menyuruhnya kesini. Edi sudah menggila. Orang segila itu tak bisa disuruh berhenti. Para jomblo sedang berlatih agar bisa membela diri terhadap kesewenang-wenangan tukang mabok. Tapi kenapa disini mereka malah disewenang-wenangi Edi..?

 

Tarmo…

 

Orang gila hanya bisa dihentikan oleh orang yang lebih gila lagi. Dan di kampung, tak ada yang lebih gila dari Tarmo. Itulah sebabnya dia harus dipanggil untuk menghentikan kegilaan Edi. Walaupun mungkin setelah itu, dia ganti menganiaya para jomblo.

 

Tapi tunggu, ada yang aneh. Jika diperhatikan, ternyata mereka, yang menganiaya dan yang dianiaya, sama-sama tertawa. Tak tampak sedikitpun bahwa mereka marah. Bahkan terkadang, saat tubuhnya terkapar tak berdaya dan hanya bisa tergeletak menatap langit, mereka tertawa lepas. Melepaskan segala beban dan penat yang menumpuk di kepala. Meneriakkannya dari mulut yang terbuka, lalu membiarkan beban itu terbawa angin terbang entah kemana.

 

Benar. Ternyata, para jomblo tak selemah yang kukira. Mereka kuat. Mereka bisa bertahan menghadapi tendangan bak torpedo yang diluncurkan dari pantat kerbau. Memang mereka tak benar-benar bertahan. Ada yang selanjutnya berjalan dengan kaki setengah pincang. Ada yang bangkit sambil memegang perut. Ada yang tangannya keseleo. Tapi biar bagaimanapun, mereka kuat. Mereka tidak mengeluh. Mereka malah tertawa.

 

Ah, tapi peduli amat. Kalau memang harus ngawur, ya dingawurkan sajalah. Jangan tanggung-tanggung.

 

Di tengah sana, Ujit sudah terjerembab. Ditindih oleh Edi, Alip, Tarso, dan Kebo. Togie melepas kaos dan lari ketengah lapangan. Melompatkan tubuhnya, melayang di udara, lalu menindih mereka yang posisinya bak hamburger di meja restoran.

 

Huek…!!

 

Suara itu keluar dari mulut Ujit.

 

Yeeaahh…!! Dan dua tangan diacungkan ke udara.

 

 

 

Kamis, 15 Mei 2008

3 - Fighting tragedy - Asal muasal

 

Belakangan ini, para jomblo bisa bernafas lega. Warung tempat mereka berkumpul sudah bebas dari judi. Sikap tegas polisi ternyata bikin ciut nyali. Para penjudi, yang dulu berkata “jangan takut pada polisi” sekarang hanya bisa gigit jari. Sebab polisi sudah menggunakan sistem baru yaitu sistem paket. Artinya, bila ada penjudi yang tertangkap, tak bisa lagi ditebus secara perorangan, harus seluruhnya. Dan itu berarti, bila satu orangnya dikenai biaya dua juta, maka bila ada sepuluh penjudi, butuh duit duapuluh juta untuk menebusnya. Jumlah yang amat besar.

Begitulah, tak ada lagi perjudian. Tak ada mabok-mabokan. Yang ada paling-paling hanyalah men"suit-suit" gadis manis yang lewat di pinggir jalan. Tapi tak apa. Sebab hal itu memang mengasyikkan. Lagipula, terkadang, akupun suka ikut-ikutan. Tak baik bila mengkritik suatu perbuatan dimana aku sendiri ikut terlibat didalamnya.

Namun seperti kata pepatah : "Selesainya satu masalah, selalu disusul datangnya masalah baru". Belum lama kami menikmati masa kebebasan, segerombol pemabuk dari wilayah sebelah menjajah warung kami. Mereka, dalam setiap kedatangannya, hampir selalu meminta uang pada para jomblo. "Tambahan buat beli minuman" katanya. Dan bila ditolak, mereka tak segan-segan mengancam, menampar, memukul, serta menendang. Akibatnya, para jomblo (yang kondisi keuangannya sering minus itu) makin bertambah minus.

Solusi. Suatu cobaan biasanya sudah satu paket dengan solusinya. Sebagai manusia, kita bertugas untuk mencari, menemukan, dan mengaplikasikan solusi itu. Biasanya, Allah juga menyediakan solusi alternatif bila kita belum dapat menemukan solusi utamanya. Dan karena kami dikaruniai anugerah untuk tak bisa berpikir panjang, maka kami hanya bisa mencoba solusi alternatif yang paling mudah.

Awalnya kami berpindah markas ke pedalaman hutan bambu. Disana, berhubung tak bisa melakukan banyak hal, kami hanya mengisi waktu dengan mengobrol dan berdiskusi. Tapi disitulah untungnya. Gelapnya malam di hutan bambu membuat pikiran kami tertuju kepada alam kubur. Lolongan anjing liar yang memberdirikan bulukuduk membuat kami teringat pada Allah Yang Maha Melindungi. Sosok hantu yang sering muncul menyadarkan kami bahwa ada alam lain dibalik sana, alam para jin dan malaikat yang sering luput dari perhatian. Kepakan sayap kampret membuat kami merasa khusyuk saat berbagi cerita tentang berbagai hal dalam hidup.

Nikmat…

Sungguh, kami merasakan kenikmatan yang amat sangat sampai-sampai tidak teringat lagi pada tipisnya dompet ataupun status yang masih juga menjomblo.

Sayang kenikmatan itu tak berlangsung lama. Para pemabuk menemukan keberadaan kami. Kembali menyatroni kami. Menyuruh-nyuruh kami. Meminta uang kepada kami.

Memang, mereka tak pernah meminta uang padaku. Pernah sih, sekali. Tapi saat tak kuberi, mereka tak berani meminta lagi. Namun tak baik tunduk pada ego. Islam mengajarkan bahwa umat muslim itu bersaudara. Jika sesama muslim disakiti, maka kita merasakan sakit yang serupa. Itulah sebabnya kuajak para jomblo duduk-duduk diteras atas yang lampunya mati. Berpindah markas. Bisa dibilang, sebagai solusi sementara untuk menghindarkan mereka dari jangkauan para pemabuk.

Walau tidak lagi dibuai syahdunya hutan bambu, tapi teras ini bisa memberi suasana yang hampir serupa. Kota baturaden terlihat jelas dari sini. Kerlip lampu disana tampak indah. Belum lagi bila bulan purnama, kami bisa melihat agungnya gunung slamet yang berwarna hitam-kelabu. Kami juga masih bisa menikmati cericit kampret yang terbang bebas lalu berbelok saat hampir membentur tembok. Plus gelapnya rimbun bambu tak jauh diujung sana.

Mengobrol dinaungi malam, saling mencurahkan isi hati.

Gelap, sepi, dan secangkir kopi mengantarkan obrolan kami pada apa yang selama ini hanya menjadi milik rahasia. Topik yang kami bahas bertambah luas. Tak lagi dibatasi oleh zona yang disebut sebagai hitam, putih atau kelabu. Sebab sebagai manusia biasa, kami memang hidup dalam zona-zona itu. Tak ada salahnya saling membuka diri, seperti apa adanya diri kami.

Keamanan…

Bapak (yang galak) dan ibu (yang lebih galak lagi) membuat para pemabuk harus berpikir seribu kali bila ingin mencari gara-gara disini. Itulah yang kumanfaatkan, walau tak bisa berlangsung terus-menerus.

Suatu saat, ibu pasti mengeluhkan keberadaan para jomblo di rumah kami. Bapak (walau sebagai sesama laki-laki pasti bisa memaklumi) pun akan ikut mengeluh agar tidak diomeli ibu. Aku, sebagai anak, tentu harus menanggapi keluhan mereka. Sebab bila tidak, aku bakal diomeli. Dan mendengarkan omelan ibu, rasanya lebih menyiksa daripada dipalak oleh pemabuk manapun di muka bumi. Lagipula, para pemabuk juga pasti takkan berdiam diri. Mereka akan bertindak suatu saat nanti. Entah kapan. Itulah sebabnya aku harus menemukan solusi lain. Secepatnya.

Seperti yang telah diduga, beberapa hari kemudian para pemabuk merasa marah. Mereka berteriak dari pinggir jalan tanpa berani mendekat. Mereka mengirim seseorang (entah siapa) dan mengajak salah satu dari kami untuk turun. Yang dengan tenangnya kami jawab dengan : "kalau ada perlu, suruh mereka kesini". Dan orang itupun pergi.

Yah, seperti itulah. Aku tak bisa berbuat banyak. Disini, di teras ini, di rumah ini, para jomblo aman. Tapi pemerasan, pemaksaan, masih terus mengintai. Hingga akhirnya aku berpikir "Tak bisa terus seperti ini, mereka harus bisa melindungi diri. Berani berkata TIDAK"

Tunggu..,

Ah, nadzar itu…

Nadzar yang lama tertunda akibat kemalasanku…



pic : teras atas yg sampai sekarang lampunya masih mati

 

Rabu, 14 Mei 2008

#2 Road to nadzar - mereka yang diremehkan

 

 

Jujur, daku kecewa pada ulama hutan bambu. Mereka, yang dulu berjanji membantu renovasi mushalla, ternyata hanya memberi janji tanpa bukti. Padahal mereka adalah tulang-punggung kami. Merekalah yang punya koneksi ke banyak pejabat dan calon donatur. Tanpa mereka, kami tak bisa mencari link untuk meminta sumbangan. Kami tak bisa mengumpulkan dana untuk membeli material dan mengupah para tukang.

Daku ingin bersikap seperti penduduk kampung sebelah yang berjiwa pemberani. Bila ada warga yang hobi menceramahi orang padahal dia-nya jarang ke masjid, niscaya dia langsung diseret menuju masjid dan disuruh berceramah disana. Bila ada yang menggembar-gemborkan kata-kata indah (misal : sebagai muslim kita harus memberikan harta dan jiwa kita, seluruhnya untuk islam) maka besoknya dikirimi proposal permohonan bantuan dana, infak, atau semacamnya. Itulah sebabnya warga kampung sebelah tak banyak bicara, terutama para ulamanya. Sebab apa yang mereka katakan, nasehatkan, atau ceramahkan, biasanya harus diikuti oleh bukti nyata.

Berbeda dengan ulama hutan bambu. Mereka menyuruh kami meminta bantuan kesana-kemari tapi saat diminta ikut turun tidak ada yang mau. Katanya sih.., malu.

Berkali-kali kami mengeluh. Bahwa banyak calon donatur yang tidak percaya pada kami. Banyak yang curiga. Padahal hampir setiap minggu para calon donatur itu bertemu dengan para ulama. Kami ingin, agar saat bertemu itulah para ulama menyodorkan proposal, atau datang langsung ke rumahnya. Kalau toh malas datang sendiri, bolehlah kami temani. Kami jemput, kami antar kembali sampai rumah. Tapi mereka tidak mau. Katanya sih.., malu.

Ingin kami protes. Tapi rasanya tak pantas. Kami hanya manusia biasa. Tak layak memprotes ulama. Akibatnya, nasib mushalla hanya bergantung pada pak ustadz dan keluarganya (yang bekerja sebagai kuli merangkap petani miskin-tak punya koneksi), serta kuli sukarela (seorang mahasiswa tampan dan tiga remaja putus sekolah yang tak tahu apa-apa). Wajar kalau akhirnya renovasi berjalan tersendat. Tak mengalami kemajuan berarti. Tak punya dana untuk melanjutkan renovasi.

Ditengah segala kesulitan itu, bukannya memberi semangat atau membantu, para ulama malah memprotes lambatnya kerja kami. Menyalahkan kami. Bahkan kerap menghina kami. Sungguh, mungkin kondisi takkan separah ini bila mereka mau membantu kami. Memanfaatkan link yang mereka punya, ikut turun mencari bantuan dana. Tapi apa mau dikata.., mereka malu.

Untunglah, ternyata hidayah tidak dibatasi oleh status. Ketika renovasi benar-benar mandeg, ada beberapa warga yang walaupun jarang (dan tidak pernah) ke mushalla tapi mendadak hatinya tersentuh. Membuat kami (panitia renovasi) merasa salut dan terharu sampai ingin menangis..

  • Mas Budi, supir truk ayam. Beliau dekat dengan orang-orang partai. Beliau memanfaatkan kedekatannya untuk mencari sumbangan dana. Mengirimkan banyak proposal yang alhamdulillah di ACC sehingga uang kas perlahan mulai terkumpul.
  • Pak Darsiman, satpam RRI. Beliau meminta sumbangan kepada bosnya serta pada ulama atau da’i yang berceramah di RRI. 
  • Pak sahlan, penjual ketupat. Walau tak pernah menongolkan diri di mushalla, tapi entah kenapa tiba-tiba beliau datang meminta proposal dan pergi berjalan kaki menyusuri jalan setapak di kampung sebelah. Meminta sumbangan pada sanak-saudaranya.
  • Bethik, kernet truk. Beliau sering mengajak daku (serta Tarmo) berputar-putar meminta sumbangan kepada para bos batu-bata.

Anda ingin tahu status mereka dimata masyarakat..? mereka hanyalah sosok tidak penting. Orang-orang seperti mereka sering diremehkan. Mereka bukan alim-ulama. Baca buku iqro saja mungkin tak bisa. Mereka tak pantas disejajarkan dengan para ustadz, da’i, kyai, atau semacamnya. Tapi sungguh, bagi pak ustadz dan bagi kami, mereka adalah pahlawan. Mereka patut dijadikan teladan. Mereka berdakwah (atau beramal) bukan dengan kata, tapi tindakan nyata. Mereka jauh lebih menolong kami daripada para ulama yang hobi bercuap-cuap tanpa mau memberi bukti. Sebab sungguh, tak semua masalah bisa diselesaikan hanya dari balik meja atau mimbar.

Daku pernah bertanya kenapa mereka tiba-tiba memperhatikan nasib mushalla. Dan ternyata, biarpun jawabannya berbeda, tapi sama-sama sederhananya.

  • Sebab saya jarang beribadah. Makanya sekarang lagi mulai ngumpulin bekal biar kalau nanti mati, bekalnya sudah cukup”
  • Saya prihatin dengan nasib mushalla. Kalau diurus orang macam kamu, bisa-bisa sampai kiamatpun gak bakal rampung”
  •  “Dulu anak saya sering mengaji, sekarang sudah berhenti. Makanya saya ingin agar mushalanya cepat jadi, nanti anak itu tak suruh mengaji lagi"
  • Lha wong minta duit buat mabok aja aku berani, masak minta sumbangan buat renovasi mushalla yang imbalannya adalah pahala, kok aku gak berani..?”

Gara-gara itulah, sekarang daku tak lagi memperhatikan status. Bila mengunjungi berbagai forum dan bertemu dengan mereka yang hobi mengobral kata, daku sudah berani bersikap seperti penduduk kampung sebelah (walau masih belum berani berhadapan dengan ulama hutan bambu). Apalagi kalau orangnya suka menyalah-nyalahkan, menyesatkan, dan mengkafirkan atas nama islam. Daku berani meminta mereka menunjukkan bukti. Bila orangnya mampu secara materi, maka tanpa babibu langsung daku minta untuk menyumbang renovasi mushalla. Dan biasanya mereka gak mau. Entah kenapa.

Berbuat, berusaha, jangan banyak bicara. Belakangan ini, para jomblo mulai tertular pola pikir itu. Bila punya keinginan, mereka langsung berusaha meraih keinginannya itu. Tak lagi cuma bilang : “Ingin tobat, pintar, kaya, punya pacar” atau semacamnya Yang biasa bicara kotor, seolah mengunci mulutnya. Yang hobi mabok, tak lagi berjiwa botol. Yang suka berantem, sekarang lebih pemaaf. Mereka jadi lebih irit, murah senyum, ramah pada wanita, bahkan ada yang tumben-tumbennya kepergok lagi belajar..

Dengan prinsip itulah, akhirnya ada beberapa diantara mereka yang sudi ikut kerja bakti di mushalla. Juga ikut berusaha mencari sumbangan dana. Keterlibatan mereka merupakan anugerah tak terkira bagi kami, para kuli sukarela yang ditelantarkan oleh para ulama dan hampir kehabisan tenaga.

Yah, memang saat ini mushalla kami masih hancur tak berbentuk. Tapi biar bagaimanapun, bagi kami, mushalla itu tampak seelok istana. Sebab kami bangun menggunakan tetesan keringat, darah, dan airmata. Bukan dengan kata.

#1 Road to nadzar - untuk para kuli

 

Saat ini, mumpung tidak ada yang melihat, maka biarkan aku menangis. Bukan karena sedih, patah hati, ingin bunuh diri, atau hal remeh lainnya. Tapi karena haru. Ketika mengenang kembali apa yang pernah kita lalui, bersama.

Indah. Kata paling tepat untuk menggambarkan seluruh penderitaan kita. Bekerja dan berpikir keras dibawah bayang-bayang minimnya dana, ketidak-tahuan tentang teknik renovasi mushalla, laparnya perut dan keringnya dahaga, serta lusinan celaan, kritikan, dan sindiran dari para ulama.

Sebelum kalian datang, hanya satu hal yang membuatku bertahan menghadapi semua itu. Sebab ketika tergolek lemah diserang penyakit, aku telah bernadzar : Bahwa “Bila Allah menyembuhkanku, akan kurenovasi mushalla sampai dapat dihuni kembali. Juga mengajak para remaja untuk berlatih beladiri. Agar mereka bisa berkata : “TIDAK” ketika dimintai duit oleh para pemabuk.”

Alhamdulillah, ditengah kesulitan itu aku bertemu kalian. Para remaja putus sekolah yang sering dianggap sebagai sampah. Terus terang, awalnya akupun menganggap kalian hanya sekedar sampah. Yang hobi berseliweran sambil garuk-garuk kepala, seringnya menganggur tak mau kerja, bahkan sesekali kulihat mabok terkapar di pinggir jalan.

Memang di bulan ramadhan, kalian sering nongol di mushalla. Tapi apa pengaruhnya..? bagiku dan bagi orang lain, kalian tetaplah manusia tak berguna. Kalian datang hanya untuk sementara. Bila bulan suci tlah lewat, kalian kan kembali kabur entah kemana. Yah, walau akupun mungkin bernasib sama. Ikut kabur juga.

Panggok mushalla adalah tempat yang merubah persepsi itu. Kalian, yang tadinya sekedar bertanya kenapa aku tak mau dibayar, entah kenapa tiba-tiba mau ikut bekerja-bakti tanpa mempedulikan bayaran. Bukan hanya itu, selanjutnya kalian juga menemaniku berkeliling meminta sumbangan, begadang bareng pak ustadz membahas masalah dana, bahkan rela membelaku didepan para ulama yang tak mau membantu dan hanya bisa mencela.

Namun kalian hanya manusia biasa, sama sepertiku. Wajar bila lama-lama kalian mengeluh. Tentang renovasi yang mandeg berkali-kali, ulama yang makin lama makin menjauhi, minimnya dana, juga tentang fakta bahwa kita gak mudeng babar blas soal ilmu bangunan. Kuakui, sebenarnya akupun menyimpan keluhan yang sama. Dimana kemudian, kupaparkan beberapa hal kecil untuk mengesampingkan keluhan itu :

  • Acuhkan sikap ulama yang tak mau membantu renovasi mushalla. Sebab tugas mereka hanyalah mengobral kata, menasehati, mengkritik, menyindir. Biarkan mereka melakukan tugasnya. Agar mereka membiarkan kita yang tugasnya bekerja. Mari mencontoh pak ustadz saja. Yang terkadang rela bolos demi bekerja bakti di mushalla.
  • Usah pedulikan tak tersedianya makanan. Sebab kan kuhibahkan seluruh uang sakuku untuk konsumsi kalian. Berhenti ke warnet, rehat dari ngempi, ngirit uang bensin, stop beli rokok (sebab sudah dijatah mushalla). Kalau toh duitku habis, bisa kita petik rambutan di kebun Tarmo, panjat pohon kelapa milik juragan truk, jambu biji di samping mushalla, minta snack pada pak ustadz, atau utang cimol pada si mame (dia orang baik, insya Allah diberi).

  • Masa-bodo dengan ketidak-tahuan kita. Salahpun tak apa, yang penting kerja.

Begitulah. Kalian belajar kepadaku. Menganggapku lebih pintar, lebih tahu, lebih bersemangat, dan lebih dalam segalanya. Tapi itu salah. Pada kenyataannya: “Aku yang harus belajar pada kalian”.

Sering kalian berkumpul menungguku diluar rumah demi berangkat bersama menuju mushalla padahal rumah kalian lebih dekat. Rela datang menjemputku ketika mengecat kayu dan harplek. Membangunkanku kala bangun kesiangan.

Saat mengangkat batu, genteng, kapur, semen, mengaduk pasir, kalianlah yang bekerja sedangkan aku hanya bisa melihat sebab tenagaku tak kuat. Saat harus membeli material, membuat kopi, beli jajan, manjat pohon kelapa dan rambutan, metik jambu, nyuci piring, kalian jugalah yang kusuruh. Dan kalian tak pernah protes. Bahkan saat kubilang bahwa “mungkin tak ada bayaran”, kalian menjawab : “Tak apa, mas togie juga gak mau dibayar kok..!!”

Ketahuilah, aku sudah terikat nadzar. Seberat apapun rintangannya, harus kupenuhi nadzar itu. Berbeda dengan kalian. Menurutku, tak seharusnya kalian bekerja disini : yang sukarela, sering tak dapat makan, hanya dijatah sebungkus rokok murahan (itupun dibagi empat), malamnya keliling kampung meminta sumbangan, belum lagi harus memikirkan cara untuk meminimalisir pengeluaran. Tapi, dalam kondisi seperti itu, saat ditawari pekerjaan lain, kalian malah berkata : “Maaf tidak bisa, kami lagi sibuk ngurus mushalla..!!”

Sungguh, biarpun tidak pantas menjadi kuli teladan (banyak pekerjaan yang ngawur, banyak bermalas-malasan, sehabis bekerja bakti sering kompakan mensuit-suit gadis manis yang lewat di pinggir jalan) tapi tetap kuberi seluruh hormatku. Sebab biasanya, yang mengajak untuk melakukan semua kengawuran itu adalah aku.

Kini, biarpun masih mirip gudang, tapi mushalla sudah ada atapnya, sudah bisa dihuni. Dan berarti, satu nadzarku telah terpenuhi. Sekarang tinggal satu nadzar lagi. Aku ingin melunasi seluruh nadzarku mbok keburu mati. Jadi maaf bila aku harus pergi.

Aku pamit. Semoga Allah membalas ketulusan kalian.

Amiin..

 

Kutitipkan kata-kata ini di multiply. Untuk berbagi, untuk menghargai mereka - para kuli sukarela yang bekerja membanting tulang demi renovasi mushalla.

Minggu, 11 Mei 2008

Kuli Renovasi Mushalla - The Team


Gak tau ambil dimana
Pas MP5 player dipinjem Narto, pulangnya dah ada foto ini

Para kuli Sukarela
Yang bekerja tanpa mengharap bayaran
Plus beberapa foto tambahan