Pada dasarnya, apabila menemui suatu masalah, kita harus mencari penyebab masalah tersebut lalu menemukan solusinya. Namun sayangnya, kita terbiasa (atau lebih suka) untuk mencari siapa pelakunya. Dan terkadang (lebih tepat bila disebut "sering"), yang salah bukan kita, tapi orang lain. Atau biarpun bisa diketahui dengan jelas bahwa yang salah adalah kita, orang lain harus tetap dianggap salah pula. Kalau bisa, orang tersebut malah HARUS lebih salah dari kita. Hobi menyalah-nyalahkan inilah yang kerap menimbulkan kejadian tidak sedap pada diri saya.
Begini. Dulu ada orang yang memberi vonis bahwa saya adalah PECANDU NARKOBA. Alasannya gara-gara tubuh saya kurus kering, sering melamun, lalu cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Kata dia, para PECANDU biasanya bertubuh kurus. Lalu, karena pengaruh zat psikotropika, saya jadi sering melamun. Konon katanya saat melamun itu saya sedang "nge-fly". Setelah puas menjelajah alam langit dan kembali ke alam nyata, saya langsung cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Alangkah tidak nyambungnya.
Padahal dalam kasus ini, alur logika yang kita gunakan seharusnya sebagai berikut :
Kasus lain terjadi ketika bapaknya si gadis manis dari RT sebelah meninggal. Saat melayat, ada remaja putri yang melihat saya dengan penuh rasa takut. Dia bilang tatap mata saya mennyeramkan, seperti ngajak berantem. Lalu dia menyimpulkan bahwa saya sudah beralih profesi dari mahasiswa tampan menjadi PREMAN.
Disinipun terjadi alur pikir yang salah pula. Seharusnya logikanya begini :
So, silahkan anda cari dimana salahnya. Padahal bila mau berpikir lebih bijak, mungkin dia tidak akan mengambil kesimpulan seperti itu. Misal seperti kasus di yogya.
Di tulisan yang ini, tergambar dengan jelas betapa berat tingkat depresi yang saya alami ketika nyasar. Belum lagi bila ditambah fakta bahwa sejak sehari sebelumnya saya sudah dilanda sakit kepala yang amat menyiksa. Sulit tidur semalaman. Saat bangun pun, badan ini tidak bisa digerakkan. Saking pusingnya, kepala saya tidak bisa diangkat dari nyamannya bantal. Dengan kondisi seperti itu, maka wajar bila di warung kebab, saya menunggu mbak mona dengan raut muka abstak, dihorrorkan asap rokok djarum black yang mengepul tiada henti. Tak terbayangkan betapa semrawutnya wajah ini. Mungkin hampir se-seram saat melayat di RT sebelah.
Namun untungnya, mbak mona ternyata bersikap berbeda dengan orang-orang yang tadi saya sebut. Saat datang, tanpa BA BI BU beliau langsung tersenyum sambil menyapa : "Togie ya..?". Lalu mengajak ngobrol dalam suasana yang menyenangkan. Hingga wajah saya yang tadinya horror pun jadi normal kembali gara-gara ikut tersenyum. Bahkan karena senyam-senyum dengan senang, sakit kepala saya pun jadi hilang, tidak kerasa. Bahkan saat itu tak sebatangpun rokok djarum black yang saya sulut. Menakjubkan.
Nah, dari sini bisa kita simpulkan bahwa bila menghadapi sesuatu yang dianggap "bermasalah", maka terlebih dahulu, kita harus mengumpulkan informasi yang cukup untuk mencari penyebabnya. Kalau toh tidak bisa, maka lebih baik jangan menyimpulkan atau menyalahkan siapa-siapa. Mending senyam-senyum saja. Sebab ternyata, senyum itu bisa menghilangkan sakit kepala.
Note : Tapi sesampainya di rumah pakde, sakit kepalanya kambuh lagi. Sulit tidur lagi. Baru bisa pergi ke alam mimpi kira-kira jam setengah satu dinihari.
Begini. Dulu ada orang yang memberi vonis bahwa saya adalah PECANDU NARKOBA. Alasannya gara-gara tubuh saya kurus kering, sering melamun, lalu cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Kata dia, para PECANDU biasanya bertubuh kurus. Lalu, karena pengaruh zat psikotropika, saya jadi sering melamun. Konon katanya saat melamun itu saya sedang "nge-fly". Setelah puas menjelajah alam langit dan kembali ke alam nyata, saya langsung cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Alangkah tidak nyambungnya.
Padahal dalam kasus ini, alur logika yang kita gunakan seharusnya sebagai berikut :
- Permasalahan : Badan saya kurus, hobi melamun, suka cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala
- Penyebab : Macam-macam. Bisa Narkoba, kurang gizi, kurang makan, badan tidak sehat, atau semacamnya
- Fakta :
- Pola makan saya tidak teratur. Kadang dua kali sehari, kadang sekali, kadang seharian gak makan nasi.
- Kalau kurang makan, seseorang (atau saya) jadi sering melamun
- Dulu rambut saya gondrong. Kalau jarang keramas sering gatal
- Saya mudah grogi. Manusia peng-grogi suka cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala
- Saya jarang punya uang. Gak mungkin bisa beli NARKOBA
Kasus lain terjadi ketika bapaknya si gadis manis dari RT sebelah meninggal. Saat melayat, ada remaja putri yang melihat saya dengan penuh rasa takut. Dia bilang tatap mata saya mennyeramkan, seperti ngajak berantem. Lalu dia menyimpulkan bahwa saya sudah beralih profesi dari mahasiswa tampan menjadi PREMAN.
Disinipun terjadi alur pikir yang salah pula. Seharusnya logikanya begini :
- Permasalahan : Saya disangka preman
- Penyebab : Ada yang meninggal
- Fakta :
- Dulu almarhum pernah menolong saya waktu dikejar-kejar sapi gara-gara sapinya tak kasih makan lombok sampai kesetanan
- Saya merasa berhutang budi
- Beliau juga pernah mengajak saya menggembala bebek dimana menggembala bebek itu ternyata amat menyenangkan
- Saya tidak menjenguk beliau saat sakit
- Saat meninggalpun, saya hanya bisa berbuat dua hal. Ikut mengambil keranda mayat di kuburan lalu mendoakan beliau
- Hal itu menyebabkan saya merasa menjadi manusia tidak berguna
- Saya jadi marah campur sedih. Dan pas diwaktu marah itu ada remaja putri yang senyam-senyum tapi saat saya meminjam HP untuk nitip absen ke teman kampus agar besok bisa mbolos kuliah dan ikut ke kuburan lalu tidak dikasih padahal pulsa yang nanti dipakai adalah pulsa milik saya dimana hal tersebut menyebabkan saya bertambah marah
- Sebagian orang, kalau marah, tatap matanya jadi tidak ramah
- Almarhum adalah orang tua si gadis manis dari RT sebelah
So, silahkan anda cari dimana salahnya. Padahal bila mau berpikir lebih bijak, mungkin dia tidak akan mengambil kesimpulan seperti itu. Misal seperti kasus di yogya.
Di tulisan yang ini, tergambar dengan jelas betapa berat tingkat depresi yang saya alami ketika nyasar. Belum lagi bila ditambah fakta bahwa sejak sehari sebelumnya saya sudah dilanda sakit kepala yang amat menyiksa. Sulit tidur semalaman. Saat bangun pun, badan ini tidak bisa digerakkan. Saking pusingnya, kepala saya tidak bisa diangkat dari nyamannya bantal. Dengan kondisi seperti itu, maka wajar bila di warung kebab, saya menunggu mbak mona dengan raut muka abstak, dihorrorkan asap rokok djarum black yang mengepul tiada henti. Tak terbayangkan betapa semrawutnya wajah ini. Mungkin hampir se-seram saat melayat di RT sebelah.
Namun untungnya, mbak mona ternyata bersikap berbeda dengan orang-orang yang tadi saya sebut. Saat datang, tanpa BA BI BU beliau langsung tersenyum sambil menyapa : "Togie ya..?". Lalu mengajak ngobrol dalam suasana yang menyenangkan. Hingga wajah saya yang tadinya horror pun jadi normal kembali gara-gara ikut tersenyum. Bahkan karena senyam-senyum dengan senang, sakit kepala saya pun jadi hilang, tidak kerasa. Bahkan saat itu tak sebatangpun rokok djarum black yang saya sulut. Menakjubkan.
Nah, dari sini bisa kita simpulkan bahwa bila menghadapi sesuatu yang dianggap "bermasalah", maka terlebih dahulu, kita harus mengumpulkan informasi yang cukup untuk mencari penyebabnya. Kalau toh tidak bisa, maka lebih baik jangan menyimpulkan atau menyalahkan siapa-siapa. Mending senyam-senyum saja. Sebab ternyata, senyum itu bisa menghilangkan sakit kepala.
Note : Tapi sesampainya di rumah pakde, sakit kepalanya kambuh lagi. Sulit tidur lagi. Baru bisa pergi ke alam mimpi kira-kira jam setengah satu dinihari.
plus...potong rambut...mandi teratur...makan teratur...biar dirimu kelihatan sehat juga Gie!! hehehehehe
BalasHapusIya mbak., sedang diusahakan
BalasHapusDaku dah potong rambut, hampir gundul
Mandi lumayan teratur
Tapi makan teraturnya belum bisa. Susah
*mohon doanya
itu namanya penyakit "P dan K" aliyas primitif dan kekanak-kanakan, primitif = karena cuma orang primitif klu ada penyakit atau musibah langsung cari siapa yang bersalah?
BalasHapuskekanak-kanakan=karena cuman anak kecil yang suka nyalahin orang lain, sementara dirinya sendiri tetep ajah bener he he he...^^
Hahaha...
BalasHapusMirip sama kasus banjir jakarta
Salah-salahan terus
Mesak-ke tenan dikau, mas.
BalasHapusKurus, gundul, cengar-cengir sendiri, tatapan anak tiri eh itu ratapan ya? maksutnya tatapan matanya galak, suka pusing.
Hueemm..
Ke Jakarta aja yook.. Liat banjir :D
Sebab daku terlalu sering nulis tentang kegantengan mbak
BalasHapusMakanya, ini sedang nulis-nulis yang sebaliknya
Biar bobotnya seimbang
*Di jakarta ada banjir, disini angin puting beliung. Rumah pembantu daku sampai hampir ambruk. Kasihan